FAN FICTION

DISCLAIMER:

MASASHI KISHIMOTO

AUTHOR:

SILENTPARK VINDYRA

TITLE:

MY HEART'S FLOWER

DON'T LIKE IT? NO PROBLEMO. JUST ENJOY IT.

HAPPY READING~


.

"Aku ingin melupakannya, tapi aku tidak bisa, sebelum Naruto meminta maaf padanya."

"Sebelum dia meminta maaf pada Shion atas segalanya."

.

.

.

.

.

.

Hinata's POV

"Ke-Kekasih Naruto-senpai... dulu?"

Aku hampir tak dapat mengeluarkan suara karena terkejut. Tidak, sebenarnya aku sudah menduga jika perempuan dalam foto itu adalah kekasihnya, atau mantannya. Tapi, tetap saja aku...

Merasa tidak bisa menerimanya.

Hei, jangan mengataiku gadis yang berlebihan! Tidak akan ada yang peduli apakah dirimu kekasih pertamanya atau bukan, tapi kau pasti akan bereaksi sama jika kekasihmu ternyata masih menyimpan foto tentang gadis di masa lalunya!

"Shion-san, aku masih sangat mengingatnya," Sakura menggumam pelan, "dia pernah kemari lagi bersama Naruto-senpai, sekitar dua tahun lalu."

"Maksudmu?"

"Naruto-senpai bukanlah orang yang tinggal di kota ini sebelum SMA. Sementara Shion-san saat tahun terakhirnya di SMP pindah ke kota sebelah, tempat Naruto-senpai dulu."

"Kau tahu darimana, mereka pernah menjalin hubungan?"

"Sewaktu Shion-san kembali ke kota ini untuk berkunjung, dia pergi ke SMP tempatku dulu. Aku adik kelasnya, dan kami cukup akrab karena dulu kami juga bertetangga. Jadi, saat itu dia menceritakannya padaku."

Aku hanya diam, mendengarkan penjelasan Sakura. Meski pertanyaan sebenarnya yang hinggap di kepalaku sampai saat ini hanya tertuju pada sesuatu.

Kenapa Naruto-senpai masih menyimpan fotonya? Karena ia masih menganggapnya teman lamakah? Atau... sebetulnya Naruto-senpai belum bisa menghapus kenangannya bersama Shion?

Tiba-tiba aku mengingat sesuatu.

Waktu itu, Moegi mengatakan sesuatu tentang gadis ini.

Gadis ini...

Bukankah, kata Moegi dia tunarungu?

"Sakura," aku kembali mengeluarkan suaraku, pelan.

"Hm?"

"Saat aku bertanya pada satu gadis yang ada di panti asuhan waktu itu..."

"Oh, panti asuhan waktu itu? Dia mengetahui sesuatu kah?"

Aku mengangguk dengan ragu, tidak yakin dengan jawaban yang akan diberikan Sakura nantinya karena pernyataan yang ingin kulontarkan.

"Dia bilang... Shion itu... tunarungu. Dan tidak bisa bicara."

Tuhkan, Sakura terdiam.

"Kalau begitu, bagaimana caranya dia menceritakannya padamu waktu itu?"

"Shion-san... tunarungu?" Sakura nampak sangat terkejut. "Aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Dia bukanlah orang tunarungu dan tunawicara, Sakura."

"Tapi... waktu itu Moegi berkata begitu."

"Apa gadis itu berbohong padamu?"

Kali ini, giliranku yang terdiam, kembali.

...Masa, sih?

Moegi berbohong padaku?

"Nggak mungkin, Sakura. Untuk apa juga ia berbohong..."

Sakura menatapku serius, "aku juga tidak tahu. Tapi, aku tahu tentang Shion-san. Dia tidak tunarungu, apalagi tunawicara. Dia gadis normal, seperti biasa."

"Kalau begitu, kenapa...?"

Aku semakin kebingungan dengan keadaan ini. Nggak mungkin Sakura berbohong padaku soal ini, tapi, aku juga nggak percaya jika Moegi membohongiku.

Kami-sama, keadaan kalut macam apa ini?

.

.

.

.

Neji menatap Sasuke dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Sementara Sasuke mengepalkan tangannya, emosi itu menggelegak lagi saat ia mengingat sebuah hal yang sebenarnya sangat ingin ia lupakan, sangat berharap dapat direlakan.

"Sasuke... aku tahu, bagaimana perasaanmu pada Shion, tapi..."

"Tapi apa?" sengit Sasuke dengan ketus. "Kau akan mengatakan lagi jika aku harus melupakannya? Aku sangat ingin melupakannya, Neji! Aku ingin melepas semua beban perasaan ini! Ingin merelakan segalanya! Tapi aku tidak bisa!"

Neji pun terdiam mendengarnya. Dalam hatinya, ia tak dapat menyangkal segala sesuatu yang dirasakan oleh Sasuke.

"Kau tahu, Sasuke, jika kau terus bersikap seperti ini, aku juga akan..."

Akhirnya, Sasuke dapat menyurutkan emosi perlahan setelah mendengar gumaman temannya itu. Ia menghembuskan nafas dengan cepat, seraya melonggarkan kepalan tangannya yang sudah mengeluarkan urat.

"Jangan jadi orang yang terus menerus sok suci, Neji," ujar Sasuke pelan seraya mengusap dahinya. "Aku tahu, dalam hatimu kau juga tidak dapat merelakannya, tidak dapat melupakan Shion."

Ya, aku tidak pernah melupakan dirinya, sedetik pun. Fikir Neji seraya menutup mata.

Menanyakan dalam hati, mengapa dia dan Sasuke harus memiliki perasaan khusus pada Shion.

Andai mereka berdua tidak menganggap Shion lebih dari sekedar sahabat, mungkin mereka tidak perlu sampai merasa terluka seperti ini.

Andai pula Shion tidak menyukai Naruto, semua tidak akan pernah terjadi.

Andai saja seperti itu... mungkin tidak akan jadi seperti waktu itu.

Dan Naruto tidak perlu dipersalahkan hingga ia menjadi seperti orang lain.

Karena merasa bersalah.

"Ya, aku pun tak dapat melupakannya, Sasuke," Neji kembali membuka suara. "Tapi aku tidak akan menyalahkan Naruto untuk apapun yang telah terjadi."

"Sudah kubilang jangan sok suci."

"Jangan egois dengan perasaanmu sendiri, Sasuke. Naruto juga memendam rasa bersalah yang sama, bahkan lebih besar daripada kita."

"Justru karena itu! Kenapa ia tidak pernah meminta maaf untuk segalanya?!"

Sasuke kembali emosi, meneriaki Neji secara spontan. Sementara Neji hanya bisa menghela nafasnya, mencoba untuk tidak membalasnya dengan emosi juga.

"Jangan seperti anak kecil, Sasuke."

Menatap dengan penuh kemarahan, Sasuke beranjak pergi dengan langkah berdebam keluar sekolah. Neji hanya bergeming di tempatnya, menatap Sasuke yang semakin jauh dari jangkauan pandangannya.

"Shion, andai kau tahu semua jadi begini... pasti kau akan menghajar kami satu per satu. Iya, 'kan? Atau kau malah akan menghukum dirimu sendiri lagi?" gumam Neji, matanya mulai memanas, memikirkan cinta pertamanya, memikirkan perasaan yang tidak akan terbalas, memikirkan konflik yang terjadi akibat semua yang terjadi.

"Shion..."

.

.

.

.

"Lho? Shikamaru-nii?"

Suara bahagia Moegi lah yang pertama menyambut kedatangan seorang pemuda dengan rambut bermodel nanas yang dipanggil Shikamaru.

"Halo, Moegi," Shikamaru segera bersandar pada dinding di teras panti asuhan, mengistirahatkan tubuhnya yang sebenarnya tidak begitu letih.

"Hah, langsung bermalas-malasan, deh," Moegi mengejek Shikamaru seraya diiringi tawa kecilnya yang manis, membuat sebuah lengkungan tipis di bibir Shikamaru.

"Ingin teh, Shikamaru-nii?"

"Boleh juga."

Tak beberapa lama setelah percakapan terakhir mereka, Moegi membawakan secangkir teh hangat, yang langsung diminum dengan seksama oleh Shikamaru. Padahal ia tidak begitu haus.

"Sudah berapa lama, ya, sejak kedatangan terakhirmu kesini?" tanya Moegi antusias, berusaha mengingat kedatangan terakhir pemuda disampingnya.

"Setahun yang lalu, kurasa. Setahun lebih."

"Iya! Kau pergi bersama Naruto-nii dan Hima-nee," Moegi menatap Shikamaru dengan tatapan bertanya. "Dimana Hima-nee?"

"Hima-nee? Maksudmu, Shion?"

"Hee? Shion?"

Shikamaru mengangguk dengan asal, "namanya Shion. Cuma panggilannya 'Hima'."

"Hee? Aku baru tahu itu!"

Shikamaru menggumamkan kata 'payah', yang dibalas dengan gembungan pipi oleh Moegi karena masih bisa ditangkap telinganya.

"Jadi..." mata Moegi mulai menyisir pada sekitar. "Dimana Hima—maksudku Shion-nee?" ia kembali bertanya.

Shikamaru melirik pada Moegi selama beberapa detik sebelum menjawab, "dia tidak bisa ikut."

"Hee? Kenapa?"

"Hmm... entahlah."

Moegi mengerutkan dahinya, "jawaban apa itu, Shikamaru-nii? Shion-nee memang sedang dimana?"

Shikamaru sempat terdiam sebelum menjawab kembali pertanyaan gadis ceria itu.

"Dia... sudah tidak disana."

"Oooh... jadi karena itu dia tidak datang kemari?"

"Begitulah."

"Tapi, bukankah kau bisa membuat janji dengannya?"

"Yah..."

Shikamaru menggantung kalimatnya, membuat Moegi begitu penasaran menantikan kelanjutan kalimatnya.

"Sudah tidak bisa. Keadaannya sudah berbeda."

Ternyata, kelanjutan kalimat yang membuat semakin penasaran.

"Aku tidak mengerti, Shikamaru-nii."

Shikamaru hanya bisa tersenyum, senyuman yang tak mampu difahami oleh Moegi.

.

.

.

.

Hinata's POV

Aku hanya ingin mengerti tentang semua ini. Tidakkah itu wajar?

Ya, niatku, sih, ingin menanyakan sekaligus menunjukkan foto gadis bernama Shion itu pada Naruto-senpai. Menanyakan hubungan mereka, menanyakan kenapa foto ini masih ia simpan? Juga apakah gadis ini sungguh tidak bisa mendengar?

Walaupun sebenarnya foto ini sudah cukup lama bersamaku...

Tapi, entah mengapa, ketika melihat wajah Naruto-senpai sekarang...

Niatku urung kembali.

Sesuatu dalam hatiku mengatakan, aku tidak boleh menanyakan apapun tentang gadis ini padanya.

Kurasa aku memang harus mencari tahu semuanya, sendirian.

"Hinata, hari ini aku kumpul Klub Basket. Kau mau lihat kami berlatih, tidak? Sekalian nanti kita pulang bersama," suara lembut Naruto-senpai membuyarkan lamunanku.

"Ah, ano... Naruto-senpai, sepertinya kita tidak bisa pulang bersama hari ini..." suaraku begitu lirih hari ini.

"Hee? Kenapa, ttebayo?"

"Eh... aku punya urusan, ne," aku sedikit bingung menjawab pertanyaan Naruto-senpai.

Lalu...

'Ttebayo'? Apa itu?

"Souka, dattebayo..." ah, dia mengulangnya lagi. Apa itu sebenarnya ciri khas yang sudah lama hilang darinya?

Aku meminta maaf padanya, memeluknya kemudian segera beranjak menuju satu tempat yang kini memenuhi fikiranku.

Panti asuhan itu. Menemui Moegi.

.

.

.

.

Hal pertama yang kutemui saat sampai di panti asuhan adalah Moegi sedang berbincang dengan seorang pemuda.

Apa ia juga penghuni panti asuhan ini? Tapi, masa', sih?

"P-Permisi..."

Ah, mereka menengok kearahku.

"Ooh, Hinata nee-san~" Moegi memekik riang seraya menghampiriku. "Apa kabar, nee-san?"

"Kabarku baik, ne. Bagaimana denganmu? Yang lainnya juga."

"Aku sangat baik! Apalagi saat kedatangan Shikamaru-nii! Aku sangat senang!"

"Shikamaru?"

Moegi segera menunjuk pada seorang pemuda yang tadi kufikir juga penghuni panti asuhan.

Aku bersama Moegi segera bergabung duduk disamping pemuda bernama Shikamaru itu.

"Ha-Halo," aku tidak tahu kenapa aku merasa gugup.

"Hai," dia membalas sapaanku. Aku tersenyum kaku.

"Nee-san, namanya Nara Shikamaru-nii," Moegi mulai mengenalkan pemuda itu padaku. "Dia juga sering berkunjung kemari dulu, bersama Naruto-nii dan Hima—Shion-nee."

DHEG!

Shion...?

Dia juga... mengenal Shion?

"Nah. Shikamaru-nii, ini Hinata nee-san! Dia kekasihnya Naruto-nii! Hihi!"

Kali ini, giliran dia yang terlihat terkejut.

"Kekasih Naruto?"

Aku mengangguk perlahan, ragu-ragu. Entah mengapa aku jadi semakin gugup.

"Begitu," dia menanggapi anggukanku, dengan pandangan menerawang ke depan setelah beralih dariku. "Syukurlah."

Eh? Apa maksudnya? Kenapa dia berkata 'syukurlah'?

"Apa dia masih seperti yang dibicarakan orang? Seseorang yang dingin?"

Aku hanya bisa menggidikkan bahuku. "Kurasa dia sudah mulai membuka diri. Umm, setidaknya mungkin padaku..."

Kulihat ia hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Kemudian kembali terdiam. Aku pun terdiam, seraya menunggu Moegi yang membuatkan teh untukku.

"A-Ano... Nara-san?"

"Ya?"

"Apa Nara-san... juga mengenal gadis bernama Shion?"

Ia sempat terdiam mendengarku menyebut nama gadis itu. "Apa kau punya hubungan dengan Shion?"

"Umm, tidak... tapi..."

"Kalau begitu, lebih baik tidak menanyakan lagi tentangnya. Kau tidak punya urusan dengannya, untuk apa menanyakannya?"

Aku terdiam seketika mendengarnya.

Apa, sih, tiba-tiba berkata ketus begitu?

"M-Mungkin aku memang tidak ada hubungannya, ataupun urusan dengannya, tapi—"

"Jangan menanyakan yang tidak ada hubungannya denganmu. Itu merepotkan."

Dadaku seperti ditusuk benda tumpul.

"Mungkin kau memang kekasih Naruto..." pemuda itu mulai beranjak berdiri, seraya aku mendengarkannya dalam diam. Dadaku terlalu sesak untuk bicara lagi padanya. Dan dia menggantung kalimatnya.

"Tapi, ada hal yang harus kau tanyakan, dan ada yang tidak perlu kau tanyakan tentangnya. Kau harus mengingatnya jika ingin hubunganmu tidak kandas di tengah jalan."

Kalimat itu sukses membuatku kembali menyahutinya.

"A=Apa maksudnya...?"

"Sudah kubilang, 'kan, jangan menanyakan yang tidak perlu kau tahu," dia menguap seraya merentangkan kedua tangannya. "Jangan mengungkit apapun soal Shion dihadapanku. Oh, satu lagi, kau mirip dengan Neji?"

"Y-Ya, dia sepupuku."

"Pantas. Kalau begitu, kau juga pasti mengenal Sasuke."

"Ya..."

"Kuperingatkan, jangan mengungkit apapun soal Shion dihadapan mereka. Dan, peringatan ini sangat berlaku untukmu terhadap Naruto."

Aku menahan nafasku. Sasuke-senpai... bahkan Neji-nii? Mereka mengenal Shion?

Sebenarnya... siapa Shion...?

Shikamaru memutar tubuhnya, menghadap kearahku, seraya mengatakan sesuatu dengan wajah datar... tapi dengan tatapan yang kumengerti seketika.

Tatapan yang sama dengan Naruto-senpai.

Membuatku semakin sesak.

Ini semakin menyesakkan.

Dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku beranjak pergi dari tempat tanpa berpamitan.

"Nama 'Shion' adalah kalimat terlarang bagi kami."

Aku tidak tahan.

Aku ingin mengetahuinya.

Tapi aku tidak boleh mengetahuinya.

Sebenarnya ada apa ini?

Sebenarnya... siapa Shion itu?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...


Holaaaaa~

Kita kembali dengan cerita My Heart's Flower~

Fuah! Rasanya puas bisa kembali melanjutkan cerita ini. Selama satu tahun lebih ngadet, akhirnya bisa lanjut.

Sekarang author dalam mode semangat karena cerita sedang beranjak menuju konflik utama.

Siapa Shion? Kenapa semua menanggapi Shion sampai sebegitunya? Kok Sasuke sama Neji sampai se-baper itu? Kok? Kok? Kok?

Pokoknya gitu #plak

Oiya, balasan review nya dirampung jadi satu ya~

Makin penasaran! Okeee! Ini sudah dilanjut yaa~

Kapan lanjutnya? Ini sudah dilanjut ya~ mohon maaf atas keterlambatan yang sangat sangat sangat mengecewakan.

UPDATE KILAT! Author semampunya akan terus update dibawah jangka waktu dua bahkan satu bulan :3 kalo lebih dari itu, silahkan flame author. Serius. #AuthorMasokis

Sampai jumpa di chapter 11 ya~