*ngintip* etto... maaf ane tiba-tiba gak ada kabar, yah, sesuai yang ane bilang di profil, sekarag ane persiapan PSG, jadi tugasnya gak tanggung-tanggung, apa lagi pas mau naik kelas ntar bakal ada tes kejuruan 1 siklus akuntansi. kuharap pembaca mengerti *bow* (lanjut ke A/N bawah)
Warning: typo, OOC dan segala tetek bengeknya. disclaimer: chara kecuali OC bukan milikku~
Ch 10
Sebulan setelahnya. Di sebuah bangunan seperti Colloseum, dengan bendera di setiap sisi, bangku penonton terisi penuh hingga ada yang berdiri, siswa B class sedang berlatih sihir di pertarungan yang sebenarnya melawan beberapa monster yang sekolah punya.
Di koridor menuju ruang tunggu...
Takuya membelalakkan matanya, mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan, dan bulir keringat dingin mengalir dari dahinya, dia menunjuk sesuatu di hadapannya.
"Ke...kenapa? bu-bukannya kalian akan kesini tahun depan?"tanyanya tergagap
"Ah... ini karena suatu kejadian dua hari yang lalu..." balas Tetsuya sambil melirik kakaknya (Seishirou) sambil menghela nafas. Seishirou tersenyum di paksakan.
"Dua hari lalu? Ada apa?" tanya Takuya lagi, penasaran
"Sebenarnya ini hal biasa, saat aku dan teman-temanku, juga teman-teman Shirou-nii sedang berkunjung ke museum..." Tetsuya mulai cerita.
'Sudah lama aku nggak ke museum' batin Takuya diam-diam.
"Karena teman-temanku sedang iseng mereka mengunciku di ruangan lukisan..." lanjut Tetsuya.
'Aah... kejahilan anak muda... aku mengerti itu' batin Takuya sambil mengangguk mengerti dan tersenyum geli.
"Shirou-nii tau dan mengira aku di bully... lalu dia menghajar mereka semua dengan sihirnya dan mereka pingsan... untung saat sadar mereka tak ingat apapun saat kakak menggunakan sihirnya" Tetsuya menghela nafas, tak biasanya dia bercerita dan bicara sebanyak ini.
Sekarang Takuya memandang Seishirou dengan tatapan yang sulit di artikan, benar-benar sulit diartikan tapi bukan dalam artian buruk, mungkin lebih seperti kagum(?)
"Maaf, aku bertindak terlalu berlebihan saat itu" kata Seishirou dengan muka bersalah
"Setelah meminta maaf dan pihak keluarga memaafkan, kami langsung dikirim kesini sesegera mungkin" kata Tetsuya mengakhiri ceritanya dengan baik, sopan, bermartabat dan barokah(eh)
Takuya facepalm 'Ah, entah apa yang harus kulakukan pada adik-adikku yang diluar dugaan ini...' batinnya nelangsa "Lalu? Kalian kesini bersama siapa?"
"Paman Kagami, bibi Himuro dan Sei-nii-sama" jawab Seishirou
"He? Sei juga?" . "Ooi! Takuya! Giliranmu nih!" teriak Koganei dari dalam ruang tunggu "Cepatlah ke gerbang!" katanya lagi.
"Oke! Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti, sampai jumpa" jawab Takuya sambil melangkah pergi.
"Ya, sampai nanti" . "Ganbatte kudasai" jawab kedua adiknya.
.
.
.
Takuya POV
Haleluyah!
Ah, maaf, hanya saja...
Sehebat apapun sebuah arena pertandingan, tak pernah kubayang kan akan sebegini... terbuka, padahal monsternya bukanlah jenis monster yang perlu di waspadai seperti, Chimera, Nemean Lion, Leak, Minotaur, Yamata no Orochi(yang ini lumayan kuat)... akh, pokoknya levelnya menengah... menurutku karena aku pernah melawan monster yang lebih mengerikan dan hebat dari ini. Dan arena ini, dengan penonton sebanyak ini... entah kenapa membuatku speechless, sedikit berdebar sih iya.
"Haha! Dia gemetaran tuh!"
"Ada apa nak?! Kau takut?!"
Ah, rupanya penonton disini kebanyakan dari golongan manusia BIASA dan... lumayan vulgar, masyarakat menengah keatas mungkin.
Aku melangkah menuju lawanku saat ini, seekor... seorang... salah satu dari Gorgon, monster berambut ular dan bertaring tajam yang terkena kutukan para dewa yang awalnya adalah tiga orang bersaudari manusia. Ironis sekali.
Tapi, apa benar hanya para dewa yang bisa mengutuk? Kurasa manusia juga bisa. Ini hanya pemikiranku sih.
Aku mengayunkan pedang yang kubeli di toko senjata minggu lalu (Dipilihkan Midorima) yang bisa menyalurkan energi sihir dan menampakkannya secara nyata.
Bwooosh
Dan kobaran api biru melapisi permukaan pedang yang sebelumnya mengkilat terkena sinar matahari.
Dan decak kagum dengan jelas terdengar di telingaku
'Api yang indah sekali' ha? Aku tak mengenal suara ini...
...
Gorgon ini berbicara padaku?
Mata kuningnya yang seperti mata reptil haus darah itu menatap intens padaku, tapi entah kenapa aku tak takut sama sekali.
Ia berhenti bergerak mendekatiku saat jarak kami 30 meter jauhnya
Dia hanya disana, diam, menatapku
'Sebenarnya aku bukanlah Gorgon seperti kelihatannya, aku bukanlah Gorgon yang asli' apa katanya? Sebentar, ini membuatku bingung sekaligus penasaran
"... Apa... maksudmu?"
'mereka yang melakukan ini padaku, membuatku-kami menjadi seperti ini... awalnya kami adalah manusia... sama sepertimu...' dan dia meneteskan air mata...
Setetes...
Dua tetes...
Dengan ekspresi dingin menusuk ulu hati
'Hanya karena aku dan saudariku yang sedang kelaparan mencuri beberapa buah di kebun, mereka menangkap kami dan meperlakukan kami dengan tidak manusiawi...' dia mendekat lagi padaku, tapi aku tidak mundur dan terus menatapnya, sekarang dia 10 meter di depanku.
"Hoi apa yang kau lakukan?!"
"Cepat bunuh dia!"
"Apa kau terlalu takut sampai tak bisa bergerak?!"
"Bunuh monster itu!"
"Bunuh!"
"Bunuh!"
"Bunuh!"
"... Bagaimana caranya agar kalian bisa sembuh?" tanyaku tanpa memperdulikan teriakan penonton
Raut mukanya berubah jadi sedih sekali 'kumohon, sembuhkanlah adik-adikku, sebagai gantinya, bunuhlah aku, katanya jika kami ingin kembali, kami harus membunuh salah satu dari kami dan meminum darahnya... kumohon...'
"Katanya?" sepertinya 'Dia'lah yang membuat gadis ini menjadi begini... yang bisa mengubah bentuk makhluk hidup menjadi monster seperti ini hanyalah... ilmu hitam. Sial, Tenebris ya? Sudah kuduga sekolah ini...
'Kumohon! Siapapun kau... selamatkanlah adik-adikku!'
"Oi, kalau kau mati, bagaimana dengan perasaan adik-adikmu? Apa kau tak memikirkannya?" oke, biar semuanya lebih jelas aku akan... "KELUARKAN SEMUA MAKHLUK GORGON YANG KALIAN PUNYA! AKU AKAN MEMUSNAHKAN MEREKA!"
WUOOOOOO
"Dia berani sekali!"
"Menarik! Keluarkan mereka semua!"
"Sepertinya ini akan menjadi pembantaian!"
Author POV
Dan seiring dengan sorakan para penonton yang tertantang, kedua gerbang lainnya terbuka, menampilkan dua Gorgon lainnya. Tubuh mereka lebih besar dari manusia biasa, rambut mereka yang terdiri dari ular mendesis ganas dan taring mereka keluar dari mulut mereka, ekspresi mereka dingin tapi tatapan mereka haus akan darah. Tampak dari luar seperti itu.
"Taku-nii..." Tetsuya tak bisa tenang di tempat duduknya dan sangat mengkhawatirkan kakaknya di arena setelah melihat penampilan mereka, tiga monster sedang mengelilingi tubuh kakaknya yg kecil di banding mereka bertiga.
"... tenanglah, dia pasti tidak apa-apa" ucap Seishirou menenangkan adiknya dengan menggenggam tangannya dan tersenyum lembut, sekilas dia bisa mendengar apa yang Gorgon pertama tadi katakan, hanya sekilas.. 'bunuhlah aku'... hanya itu. Dia kembali menatap arena dan mengrenyitkan alisnya, menatap intens pertarungan yang akan terjadi.
"... " dan Seijuurou hanya duduk diam sambil melipat tangannya di depan dadanya dan menyeringai, keadaan menjadi sangat menarik baginya
"Woeh... Taku berani sekali! Keren!" ucap Hayama kegirangan "Hajar mereka Takuya!"
"Kurasa dia terlalu terbawa suasana...kurasa?" ucap Koganei kebingungan juga sedikit khawatir
"Tch... si bodoh itu... apa yang dia lakukan-nanodayo?" Midorima menggerutu pelan
"Takuyacchi! Apa yang kau lakukan-ssu?!" teriak Kise sambil berdiri dan menggenggam pagar penonton, sangat, sangat khawatir, kabarnya sekali kau melihat mata Gorgon, kau akan berubah menjadi batu... yah, itu bukan hanya sekedar kabar. Tapi Gorgon memilih korbannya
Takuya menoleh ke arah bangku penonton, kearah orang-orang yang mengkhawatirkannya
"Aku akan baik-baik saja, kalian terlalu khawatir" walaupun dia mengucapkannya dengan biasa dan mungkin mereka tidak akan bisa mendengar, tapi semua itu tertulis di raut wajahnya yang begitu tenang dan yakin.
Lalu Takuya berbalik menghadap tiga Gorgon bersaudara dan mengelilingi arena dengan api miliknya, mencegah penonton untuk ikut campur, maupun menahan mereka untuk terlalu dekat dengan bangku penonton
"Jika kau ingin aku membunuhmu..." katanya sambil mengambil posisi kuda-kuda unik khas gaya berpedangnya "... setidaknya adik-adikmu harus tau dan merelakannya, aku tak ingin satupun dari mereka membenciku dan membalas dendam padaku, karena itu merepotkan" katanya dengan seringai
'membunuh... kak, apa yang dia katakan?! Apa itu benar?!'
'Tidak kak! Jika salah kita harus mati, kita harus mati bersama!'
'Tapi...-' . "Bertarunglah denganku! Kalian bisa memikirkan ini saat kita bertarung, penonton mulai ngamuk tuh" kata Takuya sedikit sweatdrop merasakan hawa membunuh dari penonton yang kesabarannya mulai menipis.
Salah satu gorgon melesat dengan cepat kearahnya dan bersiap menerkamnya dengan taring dan kukunya yang tajam tapi dengan cepat dia menghindar ke samping, lalu dari belakang gorgon lainnya mengayunkan kukunya ke punggungnya tapi Takuya melompat menjauhi dan mencondongkan badannya kedepan, lalu dari samping gorgon lainnya mengayunkan tombaknya dan ditahan oleh pedangnya di tangan kanannya, setelah itu mereka saling beradu senjata, dan dentingan logam terdengar nyaring hingga seluruh arena karena kekuatan di setiap ayunan.
Percikan bunga api berwarna merah menari di kobaran api biru, Takuya bertarung seakan menari dengan pedangnya, terlihat sekali bahwa ia berhadapan dengan banyak pertarungan sebelum ini.
Penonton mulai berteriak bersemangat dan keriuhan mulai terdengar hingga keluar Colloseum. Di kota, mereka yang tidak ke Colloseum juga bisa menonton lewat sebuah layar yang di sediakan. Jika bisa diumpamakan, keadaannya seperti menonton piala dunia saja.
Kembali ke arena, Takuya berhasil mendorong tombak itu dan menendang gorgon di belakangnya untuk menjauh, lalu dia berhasil menahan serangan kuku yang setajam pedang itu dengan pedangnya, wajah mereka sangat dekat dan itu membuat para penonton menelan ludah gugup dan penasaran apa yang selanjutnya terjadi dan selama beberapa saat itu terjadi.
'Bunuhlah kami semua!' salah satu dari adik gorgon yang pertama berbicara 'Aku tak mau jika salah satu dari kami harus mati! Kita harus hidup bersama, kita harus mati bersama! Karena kita hanya memiliki satu sama lain, bukankah itu janji kita dulu?!' teriakannya penuh emosi yang pasti akan menyentuh siapapun yang mendengarnya, dalam hal ini hanya Takuya dan yang punya kemampuan itu, Seishirou.
'nah, kak, apa yang akan kau lakukan?' batin Seishirou diam-diam sambil menegakkan punggungnya dan menumpukan tangannya ke lututnya.
'oi, oi, bukankah ini lebih sulit dari yang kuduga?' batin Takuya sweatdrop lalu mendorong Gorgon itu dan menendangnya hingga dia menjauh beberapa meter.
Lalu Gorgon lainnya menyelinap di belakangnya dan dengan cepat tanpa dia sadari, melukai lengannya dengan sayatan yang cukup dalam dan darah mengucur deras dari lukanya 'sepertinya aku terlalu keras menendangnya' batinnya sambil mendesis merasakan nyeri di tangannya.
"TAKUYA-CCHI! Beraninya mereka... Midorima-cchi! Kenapa kau bisa setenang itu-ssu?!" protes Kise dan Midorima yang duduk di sebelahnya mengrenyit kesal.
"Aku tenang bukan berarti aku tidak kesal-nanodayo, tapi ini adalah pertarungan Takuya... segala luka, serangan, kekalahan dan kemenangan hanya miliknya seorang, kita hanya bisa menonton-nanodayo" katanya dengan suara yang dalam, dia mengeratkan kepalannya yang bertumpu di pangkuannya, dia menajamkan pandangan matanya pada arena, dia menggertakkan giginya kesal.
Setelah mendengar itu Kise kembali menatap arena dan melihat tatapan Takuya yang tak gentar sedikitpun, lalu Kise menutup mulutnya hingga membentuk garis tipis dan melihat kebawah, menahan diri "Jangan kalah Takuyacchi" katanya seakan berdoa kepada bumi.
'Kurasa aku tak punya pilihan lain' Batin Takuya dan dia menancap kan pedangnya ke tanah, lalu Tanah arena bergejolak dan muncul beberapa tiang yang menahan pergerakan Ketiga gorgon tadi.
'Kutukan untuk bersaudara lebih gampang karena jika salah satu dari bersaudara itu terkena, yang lainnya juga ikut terkena, apalagi jika ikatan batin mereka kuat, dan yang menjadi pusat kutukan ini adalah...' dan langkahnya terhenti di hadapan anak tengah, Gorgon bersisik Hijau.
Yang menjadi fokus di matanya yang biru seperti langit itu adalah tanda ular di dahi gorgon itu, tanda itu melingkar dan kepala tanda itu menggigit ekornya, Takuya sedikit menurunkan tiang itu yang juga membungkukkan gorgon itu, saudaranya gusar tapi Takuya segera menenangkan mereka dengan senyumnya yang seakan mengatakan 'semua akan baik-baik saja'.
Pelepasan kutukan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, apalagi sekarang akan tiga kali lipatnya, Takuya menghela nafas karena dirinya sendiri heran karena menolong gadis yang bahkan tidak ia kenal. Tapi memang begitulah dia.
'Yah, mungkin karena mereka adalah seorang gadis' katanya sambil tersenyum geli dan mengendikkan bahu secara biasa.
Setelah sampai di hadapan gorgon itu, Takuya menangkupkan pipi gorgon itu dengan tangannya dan perlahan mendekatkan wajah mereka berdua.
"Apa yang akan anak itu lakukan?" para penonton bertanya-tanya, Midorima menaikkan kacamatanya dan kembali mengrenyitkan alisnya dan menutup matanya 'Ya ampun anak itu'
Takuya menempelkan dahinya pada gorgon itu dan lingkaran sihir muncul di bawah mereka "Mungkin ini akan sakit sedikit" gumamnya tapi gorgon itu bisa mendengar.
Lalu Takuya mulai membacakan mantra dan saat itu terjadi, ada rasa sakit seakan rambut mereka di tarik paksa dan kulit mereka tersayat ribuan jarum kecil, raungan kesakitan menggema ke seluruh arena dan mereka yang tidak tau mungkin akan mengira bahwa ia sedang menyiksa mereka.
Penonton semakin bersorak riuh, menenggelamkan raungan kesakitan para Gorgon yang sekarang tubuh mereka bersinar dan perlahan-lahan mengecil... berubah bentuk... hingga menyerupai manusia.
Mereka berhenti bersorak dan terbelalak menatap arena.
Disana sudah tidak ada Gorgon, hanya 3 gadis dan 1 pemuda.
Ketiga gadis itu kini di selimuti kain putih yang menutupi seluruh badan mereka, dan saat ini menangis bahagia dan berpelukan satu sama lain. "Kami mengaku kalah!" teriak mereka serempak dan pertandinganpun dengan resmi berakhir dengan keterkejutan penonton. Dan senyum penuh arti dari Seishirou.
Akhir yang mudah di tebak? Kurasa juga begitu karena yang kusuguhkan adalah sudut pandang orang ketiga yang serba tau
Midorima POV
Apa yang terjadi?
Mereka tadi bertarung begitu sengit dan bahkan Takuya terluka, dan para Gorgon itu terdorong jauh, pandangan mereka begitu fokus dan kekuatan di setiap ayunan dan serangan sudah terlihat jika ada kekuatan dan niat, aku bisa merasakan jika mereka serius saat bertarung...
Tapi sihir di akhir itu... apa dia sudah tau? Bagaimana bisa?
Takuya dan para gorgon tidak pernah bertemu sebelumnya karena mereka terkunci jauh di penjara bawah tanah...
Aku harus memintanya untuk menjelaskan
Karena keselamatannya adalah tanggung jawabku meskipun itu adalah pertarungannya
Seijuurou POV
Dia dan para Gorgon itu berkomunikasi, karena itu dia tau. Dia bahkan berniat menyelamatkan mereka dari awal, tapi sengaja mengulur waktu dan mengadakan pertandingan hanya untuk menghibur penonton dan mendapat nilai.
Selama pertandingan dia tidak melepaskan sihir kecuali saat pertama dan terakhir, mungkin karena musuhnya menggunakan fisik maka ia juga menggunakan fisik. Lagipula sihir melepas kutukan memakan banyak energi tergantung berapa orang yang akan di lepaskan, apalagi kali ini tiga kali lipatnya... jadi dia melakukannya di saat terakhir...
Dia benar-benar menikmati saatnya, orang yang menarik.
Author POV
Seusai pertandingan, di ruangan perawatan.
Midorima menjilat luka Takuya dan dalam hitungan detik luka itu mengecil dan tertutup sempurna. Sulit untuk dijelaskan, tapi Midorima benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh darah yang barusan ia rasakan.
"Wow" komentar Takuya sambil memegang dan melihati lengan bekas lukanya, tidak ada jejak luka di sana
"Jadi begitu, kau sedikit ceroboh tadi... hem... aku mengerti" kata Midorima dengan nada sarkastik
"Jangan begitu Shintarou, aku sudah minta maaf kan? Aku sudah lama tidak bertarung jadi... aku terbawa suasana" kata Takuya sambil menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum garing.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang melesat masuk dan menghampiri Takuya, memeluknya dan menciumnya tepat di bibir.
Midorima menjatuhkan kotak P3K.
Kise dan Kagami yang di ambang pintu menjatuhkan rahangnya.
Tetsuya membelalakkan matanya.
Seishirou membeku saking kagetnya.
Dan Seijuurou stay cool.
"Bi-Bibi Him-maksudku, Tatsuya?!" Teriak Takuya sambil menjauhkan 'bibi'-nya dan menutupi mulutnya, wajahnya memerah sekarang.
"Lama tak jumpa, Takuya!" kata Tatsuya sambil memeluk keponakannya erat "Aku mencemaskanmu! Lukamu bagaimana?!" lalu dia melihat Takuya dari atas kebawah untuk memeriksa luka keponakannya itu.
"A-aku tak apa, lukaku sudah sembuh... sedang apa kau di sini?" Tatsuya tidak suka dia panggil 'bibi', entah kenapa, tapi mereka berdua dekat sejak kecil. Maksudku-benar-benar dekat seakan tak terpisahkan.
"Kau tidak tau? Aku seorang guru di sini..." Tatsuya menaikkan alisnya.
"HAH?! Kenapa-maksudku... Bagaimana... Siapa?!" Takuya speechless.
"Mungkin kau tidak sadar, tapi selama kau disini aku selalu mengawasimu. Kelakuanmu disini tu benar-benar... dasar pembawa masalah" kata Tatsuya sambil menyundul-nyundulkan dahi Takuya, keponakannya yang saat ini sedang speechless dengan ekspresi yang sangat shock.
Lalu dia memeluk Takuya kembali "Tapi syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat, sangat khawatir tadi..." katanya, pipinya merasakan lembutnya rambut Takuya dan tercium wangi dari keponakannya itu, tubuh yang dulu kecil kini sudah memiliki otot dan perawakannya sudah lebih gagah dibanding dulu. Tapi tetap saja... dia tidak kehilangan 'kecantikan' yang sudah dari dulu dia dapat.
"... Tatsuya, kau sudah tau kalau aku tak suka dibilang cantik kan?" kata Takuya dengan nada tersinggung seakan membaca pikirannya.
"Eh? Tapi kau memang cantik kok" . "APA KAU BILANG?!"
"Aah... dia bahkan tidak bertindak seperti itu jika aku terluka, Takuya, kau membuatku iri" gumam Kagami.
"Ah, bahkan pamanpun bisa iri pada keponakannya?" goda Seijuurou.
"Berisik" Kagami memalingkan wajahnya yang sedikit merona.
Lalu dibalik bayang-bayang ada seseorang yang barusan pergi dengan tergesa dan raut muka yang penuh dengan nafsu, ketidak sabaran, dan kegelisahan. Seseorang yang akan memulai perjalanan hidup Takuya menjadi tidak terduga.
.
.
Setelah itu Takuya mengantar ketiga gadis yang sebelumnya jadi gorgon itu sampai gerbang depan sekolahnya, dia merekomendasikan mereka untuk ikut berlayar di kapal pedagang milik kenalannya karena tentu saja mereka sudah tak bisa tinggal disini lagi.
"Sudah kubilang pada Paman Edward kalau kalian akan bergabung dengannya dan kru-nya, sampaikan salamku padanya ya, dan jaga diri kalian baik-baik." Kata Takuya mengucapkan perpisahan.
Gadis berambut cokelat muda panjang medekat dan mencium pipi Takuya "Terima kasih, terima kasih banyak, entah bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu, kau adalah penyelamat hidup kami" katanya sambil menangis terharu.
Dan kedua adiknya juga ikut memeluk sambil menangis bahagia, penuh terima kasih.
Takuya balas memeluk mereka.
Dan mereka berpisah dengan senyum di wajah mereka.
.
.
.
Beberapa tahun yang lalu...
Seorang remaja berambut hitam dengan poni panjang sampai menutupi sebelah matanya berdiri berhadapan dengan anak berambut hitam yang lebih kecil darinya.
Remaja itu berkata dengan lantang dengan pipi yang sedikit memerah dan mengepalkan tangannya erat pada bocah lelaki yang lebih kecil darinya itu.
Aku... untukmu seorang...
Akan mengabdikan diriku, hidupku, karena...
.
.
.
Aku mencintaimu
WTF?! Himuro itu istri Kagami tapi?
Ah, itu pasti yg kalian pikirkan
Tapi Himuro adalah saudara jauh Takuya dari kakeknya, dan sesama saudara tak boleh menikah.
Semurahan apapun harem itu, tapi aku tetap ingin melakukannya! *guts*
Maksudku, ayolah! Pasti semua orang yg pernah lihat dia mengatakan dia ganteng kan? Meskipun bukan chara favorit juga, kan? Dia ganteng kan? Dan menurutku, harem di kurobas tak lengkap tanpa ikemen satu ini, Muahahaha.
dan tentang baju para tokoh... ah, aku akan menyerahkan itu pada imajinasi kalian saja. aku payah dalam mendesain.
cukup. sekarang ttg jalan cerita.
nanti aku akan menceritakan masa lalu kagami dan himuro, nanti.
dan kuharap kalian mempersiapkan diri untuk perubahan drastis dalam cerita. sangat drastis. aku tak akan menceritakan bagaimana sekolah mereka karena menurutku membosankan. genre incest dan homo ingin ku jadikan genre sampingan tapi jadinya seperti genre utama di beberapa chap awal ini. kokoro-san ane sedih.
ah, ane harap para pembaca tahan dengan sikap ane yang seenaknya, darah B ane terlalu kental ditambah sifat Aries yang juga tak kalah kental sampe ane eneg sendiri.
see you next chapie~
