.
.
.
Beautiful Witch
Chapter 10
Pair : Haehyuk
Rate: T
Warning: Genderswicth
Summary : Donghae akan melakukan apa saja agar kakaknya Donghwa lepas dari kutukan, bahkan jika ia harus memberikan jiwanya pada penyihir sekalipun.
.
.
.
Yesung menyilangkan tangannya di dada melihat sosok Pangeran yang kini berjalan menghampiri kudanya yang sudah di siapkan para pelayan. Ia mengamati bagaimana Donghae memasukkan perbekalannya ke dalam kantung yang disediakan di pelana kudanya.
"Untuk apa kau kembali ke Hutan Terlarang?"
Donghae menoleh, lalu berjalan mendekati Yesung dengan langkah santai setelah mengelus kepala kudanya sejenak.
"Hyukjae ingin memastikan sesuatu, karena itu kami perlu kembali kesana."
"Kau yakin pergi tanpa Kangin ataupun Prajurit?"
Pertannyaan itu membuat Donghae tersenyum.
"Aku pergi dengan seorang Penyihir yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana Hyung, tak usah khawatir."
Perhatian kedua orang itu teralih saat mereka melihat Hyukjae yang datang dengan Ryewook di belakangnya.
"Siapkan kuda!"Perintah Ryewook pada salah satu pelayan laki-laki di sana, namun hal itu di hentikan Donghae bahkan sebelum pelayan itu bisa beranjak dari tempatnya.
"Tak usah, satu kuda sudah cukup."Donghae meraih tangan Hyukjae, menuntun gadis itu menuju kudanya sebelum membantunya naik di atas pelana.
Pangeran itu tanpa ragu ikut bergabung dengan Hyukjae, menaiki kuda duduk tepat di belakang Hyukjae sambil meraih tali untuk mengendalikan laju kudanya nanti.
"Kami pergi Hyung."Pangeran itu lekas memberikan isyarat pada kudanya membuat kuda hitam itu mulai berlari dengan kakinya yang kuat keluar dari area istana meninggalkan beberapa pelayan perempuan beserta Ryewook tercengang menutup mulut mereka dengan tangan atas aksi Donghae tadi.
Berbeda dengan lainnya, Yesung justru menghela nafas. Ia tidak terkejut karena memang beberapa hari kebelakang ia merasa ada yang berubah antara Donghae dan Hyukjae. Cara interaksi mereka, entah itu berbicara ataupun saling menyentuh terasa, bagaimana mengatakannya…intim mungkin.
Dan Donghae entah sengaja atau tidak menegaskannya hari ini, tak berfikirkah Pangeran itu apa yang dikatakan Sang Ratu tentang hal ini. Meski sudah beredar isu tentangnya dan Hyukjae sejak awal tapi untuk yang satu ini lain cerita.
"Tu-Tuan, Pangeran…Pangeran Donghae.."Tidak menunggu gadis itu menyelesaikan perkataannya, Yesung memegang pundak Ryewook lalu mendorong gadis itu kembali ke istana, sedikit memaksa.
.
###
.
"Apa kau memiliki saudara?"
"Tidak, aku anak tunggal."
"Lalu sejak kapan kau tinggal disini?"
"Entahlah, 7 tahun mungkin."
"Apa yang kau lakukan selama itu?"
Hyukjae menghentikan langkahnya, melirik Donghae yang ada di belakannya sejenak sebelum tangannya terulur keatas. Dedaunan itu bergerak selaras dengan jemari Hyukjae, bahkan kuncup bunganya mekar begitu saja membuat senyum kecil terukir di bibir cerry itu.
"Belajar tentang mereka semua."Iris sehitam malam itu menatap luas hutan di sekitarnya, Croi adalah tipe penyihir yang menyatu dengan alam karenanya Hyukjae akan mudah masuk kedunianya sendiri jika di alam terbuka seperti ini, bahkan gadis itu tak sadar jika Donghae kini mulai berjalan mendekatinya. Hingga sentuhan lembut di rambutnya membuatnya tersadar jika sosok lain telah berada begitu dekat dengannya. Itu hanya sentuhan ringan, Donghae hanya meyelipkan beberapa helai rambut cokelat kemerahan itu ke belakang telinganya. Namun senyum Pangeran itu mampu membuat Hyukjae terdiam.
"Apa saja yang kau pelajari?"Pertanyaan yang terlontar dari Donghae menyadarkan Hyukjae, tanpa sadar ia membuat jarak aman dengan Donghae membuat ekspresi Pangeran itu berubah masam.
"Kau melakukannya lagi."
"Melakukan apa?"
"Kau menghidariku lagi."
"Aku tidak melakukannya."
"Ya kau lakukan!"Donghae ngotot sambil melotot padanya, meskipun itu tidak terlihat menakutkan.
"Kau menghindariku seperti aku memiliki penyakit menular, bukankah kau dulu suka sekali mendekatiku? Kenapa sekarang kau begitu pemalu?!"
Kata terakhir dari kalimat Donghae membuat Hyukjae terganggu, apa katanya tadi? Pemalu? Yang benar saja.
Donghae agak terkejut saat melihat Hyukjae menatap intens padanya, Penyihir itu mulai berjalan mendekatinya sekarang. Tubuhnya merinding saat jemari dingin itu menyentuh pundaknya, belum lagi paras cantik itu kini begitu dekat dengannya.
"Pemalu? Kurasa kau harus menarik kata-katamu lagi Pangeran."Bisikan lembut itu membuat darah Donghae mendesir. Jantungnya berdetak dengan ritme begitu cepat seperti akan melompat dari tempatnya.
Dengan melingkarkan tangannya di leher Donghae, Hyukjae mulai mendekatkan wajahnya pada Pangeran itu. Dapat ia lihat iris cokelat di depannya begitu focus menatap bibirnya. Saat ia cukup dekat Donghae mulai mencoba menutup jarak mendekatkan wajahnya, namun sebelum Pangeran itu dapat menangkap bibir lembut didepannya tubuh Hyukjae sudah terlepas darinya.
Apa?!
Donghae hanya dapat menatap Hyukjae yang kini tertawa kecil dengan tatapan tak percaya, gadis itu mempermainkannya.
"Ayolah Hae, kita harus sudah sampai sebelum malam."Ajakan lembut dari gadis di depannya mampu membuat Donghae lupa segalanya. Pangeran itu tersenyum lalu meraih jemari gadis itu di genggamannya.
"Sebenarnya kita akan ke mana? Ini bukan jalan menuju rumahmu."Donghae melihat lingkungan asing disekitarya, sangat berbeda dengan area yang pernah mereka lewati saat mencoba keluar dari hutan dalam rangka menuju Roran sebelum akhirnya bertemu Kangin.
"Tempat di mana pusat Hutan Terlarang berada, tempat dimana seluruh misteri hutan ini berada."
"Untuk apa kita di sana?"
"Kau akan tahu nanti."
Donghae tak bertanya lagi setelah itu, mereka hanya berjalan beriringan dengan tangan bertautan membelah hutan. Beberapa kali Donghae harus dikejutkan oleh mahkluk-mahkluk aneh di sana yang entah kenapa menjadi begitu jinak sekarang, namun saat melihat Hyukjae yang sudah terlapisi dengan kabut tipis berwarna biru Donghae mengerti.
Mereka berjalan cukup lama, bahkan mereka juga harus menyeberang sungai yang cukup deras sebelum kembali berjalan melewati hutan dengan pepohonan raksasa.
Pangeran itu tersentak kaget saat tiba-tiba saja Hyukjae melepaskan genggamannya pada tangannya, gadis itu berlari meninggalkan Donghae di belakang.
"Hyuk, tunggu!" Donghae ikut berlari, melihat gadis itu dengan cekatan melewati akar-akar raksasa. Sial, Donghae tidak tahu Hyukjae selincah itu. Tapi tidak, ia tidak akan membiarkan Hyukjae terlalu jauh darinya.
Ini sebenarnya menyebalkan bagi Donghae untuk menyukai seseorang hingga sedalam ini karena rasa cemas, khawatir dan takut akan mengrogoti hatinya saat gadis itu jauh darinya. Sungguh itu menyebalkan. Tapi Donghae bisa apa, ia mencintai Hyukjae.
Rasa cemasnya memudar saat melihat Hyukjae berhenti di depannya, baru ia ingin memarahi gadis itu untuk tidak meninggalkannya seperti itu lagi namun sesuatu didepannya membuat seluruh kaliamatnya tertelan kembali.
Itu adalah sebuah padang bunga dengan jutaan jenis bunga yang masing-masing memamerkan warna indah mereka yang berbeda-beda. Tepat di tengah padang bunga itu terdapat pohon yang begitu besar, mungkin pohor terbesar yang pernah Donghae lihat. Di depan pohon itu terdapat danau kecil yang begitu jernih. Siapa yang akan menyangka ada tempat seindah ini di tengah Hutan Terlarang.
"Ayo."
Hyukjae menarik Donghae mendekati pohon raksasa itu hingga mereka cukup dekat. Namun saat Donghae menangkap objek lain di dekat pohon raksasa itu ia lekas menarik Hyukjae agar berdiri di belakangnya.
Sekitar sepuluh meter di depan mereka, tepatnya di akar raksasa itu terlihat seekor serigala berbulu putih. Bulunya begitu bersih seperti salju di musim dingin. Mata biru serigala itu menatap mereka membuat Donghae siap akan menghunuskan pedangnya.
"Dia Spencer, dia tidak akan menyerang kita."
Perkataan Hyukjae membuat Donghae urung untuk mengeluarkan pedangnya. Ia melihat bagaimana Hyukjae mendekati serigala putih itu lalu mengelus kepala dan lehernya dengan sayang. Benar kata Hyukjae, serigala yang ia sebut sebagai Spencer itu begitu jinak seperti seekor anjing peliharaan.
"Dia yang menjaga tempat ini, sebenarnya seluruh serigala menjaga tempat ini. Tapi hanya dia yang selalu menjaga Eva."
"Eva?"
Hyukjae melihat pohon raksasa di depannya.
"Pohon ini disebut Eva. Pohon yang mengandung sihir paling alami di dunia ini."Jemari pucat itu menyentuh batang bohon itu.
"Hampir seluruh mahkluk di Hutan Terlarang bergantung pada pohon ini. Eva adalah pusat Hutan Terlarang, jantung dari Hutan Terlarang."Hyukjae menutup matanya sejenak merasakan melodi indah yang selalu dapat ia dengar saat bersentuhan sihir dengan Eva. Melodi yang begitu indah dan murni. Gadis itu kembali membuka matanya lalu melihat ke arah Donghae.
"Kemarilah."
Donghae mendekat, berdiri tepat di samping Hyukjae. Gadis itu memberikan isyarat agar ia melakukan apa yang gadis itu lakukan. Donghae mengulurkan tangannya lalu memegang batang pohon raksasa itu membuat Hyukjae tersenyum hangat padanya.
Mata Hyukjae kembali tertutup, gadis itu mulai merangkai mantra yang begitu panjang namun dengan ritme yang pelan. Seiring dengan matra yang mengalun terlihat tulisan-tulisan asing bercahaya biru mulai terukir di batang Eva, dimulai di sekitar tangan Hyukjae sebelum perlahan merambat naik ke seluruh bagaian batang pohon Eva yang begitu besar termasuk bagian yang Donghae pegang.
Donghae hanya dapat menatap betapa indah sihir di depannya, tulisan bercahaya itu kini menyelimuti seluruh Eva membuat bohon it bersinar dengan cahaya biru yang lembut.
Namun kekaguman itu tak bertahan lama sampai Donghae mulai merasakan sesuatu seperti diserap dari dalam tubuhnya, dadanya terasa diperas. Pangeran itu menunduk melihat ke bawah hanya untuk menemukan lambang bunga di balik bajunya bersinar. Saat merasa pandanganya mulai memutih Donghae melepaskan tangannya dari patang Eva dengan keras.
Hyukjae yang terkejut kehilangan kontak lekas membuka matanya, segala tulisan bercahaya itu menghilang begitu saja menampilkan Eva seperti sebelumnya. Ia melihat Donghae yang terengah di sampingnya.
"Donghae, kau-"Perkataannya terpotong saat tiba-tiba saja Pangeran itu mengenggam tangannya.
"Apa itu tadi?"
Tak ada sahutan dari lawan bicaranya, Donghae melihat kearah gadis di depannya.
"Apa yang coba kau lakukan Hyukjae?"
Iris cokelat itu sarat akan luka, kecewa, dan ketakutan. Hyukjae yang tidak tahan melihatnya memalingkan muka. Tak sabar, Donghae memegang kedua lengan Hyukjae menyentak gadis itu, memaksanya menatap kembali matanya.
"Katakan padaku apa tadi? Apa yang ingin kau lakkan padaku?!" Donghae sebenarnya sudah bisa menebak apa yang gadis itu ingin lakukan, dan ia hanya ingin sebuah penyangkalan dari Hyukjae sehingga apa yang ia takutkan tidak pernah akan terjadi tadi.
Hyukjae menunduk, tak berani menatap Donghae.
"Aku mencoba menyerap sihir hitam yang kutanam padamu."Jawaban itu terdengar pelan.
Donghae bungkam, seperti yang sudah diduganya ada sesuatu yang coba diambil dari tubuhnya tadi.
"Kau mencoba memindahkannya ke pohon ini?"Donghae bertanya kali ini dengan nada lembut.
Hyukjae menggeleng.
"Eva hanya perantara, tidak akan pernah bisa menampung sihir sebesar itu."
Mendengarnya nalar Donghae langsung memproses dengan cepat.
"Kau mencoba memindahkannya di tubuhmu?"Donghae melihat Hyukjae tak percaya, dan aksi diam gadis itu menjawab pertanyaannya.
"Ini bukan pertama kalinya aku coba memindahkannya, beberapa kali aku mencoba memindahkannya secara langsung namun sihirnya selalu menolak. Sihirku dan sihir hitam di tubuhmu tak selaras, mereka tak bisa bercampur menjadi satu sehingga jalan satu-satunga adalah mencari perantara. Perantara yang dapat menetralkan sihirnya sejenak lalu mengabungkannya mejadi satu dengan sihir dalam tubuhku."
Donghae tak tahu harus bekata apa sekarang, ini terlalu jauh. Tindakan Hyukjae terlalu jauh.
"Jika sihir ini berpindah padamu, apa yang akan terjadi padamu?"
Iris sehitam malam itu terlihat tak focus.
"Aku tak tahu."
Tapi Donghae tahu, kemungkinan besar Hyukjae akan termakan oleh sihirnya sendiri seperti para penyihir pengguna sihir hitam yang pernah ia hadapi.
"Tapi…"Hyukjae mendongak melihat tepat ke matannya.
"Tapi setidaknya kau selamat."
Kenapa Donghae merasa kesakitan saat mendengar kalimat itu, ia tak suka hal ini. Ia tak mau Hyukjae mengambil resiko nyawanya hanya demi dia.
"Harus berapa kali aku katakan padamu, aku tak keberatan dengan sihir hitam ini. Lakukan apa yang kau inginkan, Hyuk! Jiwaku adalah milikmu, ambil semua yang kau inginkan."
"Tidak."
"Apa?"
Hyukjae terdiam sejenak, ia tak tahu harus mengatakan apalagi pada Donghae.
"Perjanjian itu batal."Mata Donghae terbelalak mendengarnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku membatalkan perjanjiannya, aku tak jadi meminta jiwamu. Jiwamu adalah milikmu sekarang, kau bebas sekarang. Lupakan segala hal tentang perjanjian bodoh yang kita buat."
Pegangan tangan Donghae pada gadis itu melonggar sebelum terlepas begitu saja. Apa yang baru saja Hyukjae katakan? Bagaimana mungkin dengan mudahnya gadis itu melakukan hal ini.
"Karena perjanjian itu batal aku perlu mengambil apa yang kutanam padamu, aku perlu un-"
Hyukjae terkejut saat punggungnya membentur dahan pohon dan sepasang bibir tipis maraup bibirnya dan mulai menciumnya kasar. Ia mencoba mendorong tubuh Donghae menjauh tapi Donghae tak bergeming dari posisinya, namja itu justru mempersempit ruang geraknya.
Hanya masalah waktu sebelum Hyukjae berhenti berontak, gadis itu membiarkan Donghae melakukan apa yang ia inginkan. Ia membiarkan saat Donghae mulai melembutkan gerakan bibirnya dan lidah Pangeran itu menjilat bibir bawahnya. Hyukjae membuka mulutnya, membiarkan lidah asing memasuki mulutnya dan menyapa miliknya.
Donghae menarik diri memecah ciuman mereka setelah kebutuhan udara tak terelakan, keduanya terengah menghirup seluruh udara di sekitar mereka. Kedua iris itu saling bertubrukan, memperlihatkan luka yang sama, sakit yang sama, serta cinta yang sama. Donghae memeluk tubuh didepannya, memeluknya erat.
Ia takut, takut kehilangan sosok ini. Ia tak tahu bagaimana hidupnya jika Hyukjae menghilang. Donghae tidak akan membiarkan apapun merenggut gadis ini darinya, dia tak akan membiarkannya karena dia tidak bisa.
"Jangan pernah lakukan hal itu, jangan pernah memintaku melakukan hal itu. Dan jangan pernah menyihirku agar mau melakukan hal itu. Bukankah sudah kukatakan, biarkan seperti ini. Hanya biarkan seperti ini."Donghae terdiam sejenak sebelum melanjutkannya.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu tidakkah kau mengerti?!Kau sudah mengambil lebih dari jiwaku, Hyukjae."
Pelukan itu terasa semakin erat hingga Hyukjae merasa susah bernafas, tapi ia tak keberatan dan hanya membiarkannya karena dia sudah menyerah.
Hyukjae sudah kalah, ia tak akan pernah menang dari Donghae sampai kapanpun.
.
###
.
Ini sudah lama sejak luapan emosi yang terjadi diantara mereka. Keduanya masih duduk di sana, di bawah Eva. Bahkan masih memeluk satu sama lain meski hanya kesunyian yang mengelilingi mereka. Tidak dipedulikan sekitar mereka yang sudah berganti dengan kegelapan, dan matahari yang sudah berganti dengan bulan penuh yang memantulkan cahaya peraknya.
Hyukjae tersentak saat mendengar aungan srigala, ia lekas melihat Spencer yang berdiri dengan keempat kakinya dan membalas aungan yang memang ditujukan untuknya.
Merasakan pergerakan Hyukjae, Donghae melonggarkan pelukannya, menatap gadis itu.
"Ada apa?"
Hyukjae bangkit berdiri membuat Donghae mau tak mau mengikutinya.
"Apa aku sudah bilang jika Spencer adalah omega."
Donghae cukup terkejut, ia melihat serigala putih yang terus melonglong sebelum menggeleng pada Hyukjae. Siapa yang akan menyangka serigala yang berkarisma itu adalah omega.
"Spencer adalah omega yang sudah di klaim, dia omega yang di klaim oleh alpha terkuat di Hutan Terlarang."
Tepat saat Hyukjae menyelesaikan kalimatnya, suara gemerisik mengusik mereka. Mereka tahu sosok lain telah hadir di antara mereka. Donghae dan Hyukjae melihat kearah pepohonan besar, melihat bayangan hitam mulai muncul dari sana sebelum sinar bulan membuat sosok itu terlihat jelas di mata mereka.
Terlihat seekor serigala lain berdiri di depan pepohonan. Tubuhnya dua kali ukuran tubuh Spencer dengan bulu yang begitu hitam dan gelap. Auranya begitu kelam, seakan bisa menenggelamkanmu dalam kegelapan. Dia adalah sang alpha Hutan Terlarang, sang alpha terkuat.
"Aiden."
Tepat saat Hyukjae mengucapkan itu, serigala hitam itu berlari kearah mereka, melompat kearah Donghae menjatuhkan Pangeran itu di atas tanah. Keduanya berguling di tanah dengan Aiden yang berada di atas Donghae dan berhasil menggigit jubah Pangeran itu, sebelum mengoyaknya kasar.
"Donghae!"
Pergulatan antara manusia dan hewan itu tak terelakan. Donghae mencoba menghindari taring Aiden yang terus berusaha merobek wajahnya. Ia ingin bangkit tapi tenaga mahkluk di depannya berkali lipat lebih besar darinya. Donghae bahkan kesulitan menghunus pedangnya.
"Aiden hentikan!"Teriakan Hyukjae membuat serigala hitam itu menghentikan gerakan agresifnya, mata merahnya menatap Hyukjae tajam. Tubuh beratnya masih menahan tubuh Donghae di bawahnya.
"Lepaskan dia!" Geraman tak suka adalah jawaban Aiden untuk untuk permintaan itu.
Melihatnya membuat Hyukjae kehilangan kesabaran, Penyihir itu menyusun beberapa mantra membuat gelombang biru mulai terbentuk di tangannya.
"Aku bilang lepaskan dia, Aiden!"Sekarang perintah itu terdengar mengancam.
Aiden melihat kearah Donghae di bawahnya, mengeram padanya seakan mengancamnya jika ia berani macam-macam namun hal itu di hentikan Spencer yang mulai menyundul lehernya dengan moncong hudungnya. Mendapat ancaman dan bujukan secara bersamaan membuat Aiden akhirnya melepaskan Donghae. Aiden meninggalkan tubuh Pangeran itu dan mendekati omeganya, mereka lekas menjilati bulu satu sama lain.
"Kau tak apa?"Donghae mengangguk sambil bangkit berdiri dari tanah.
"Dia berbahaya."
"Ya, tapi hanya pada orang asing yang ditemuinya."
Keduannya hanya melihat kedua serigala itu saling meringkuk satu sama lain. Mengamati cara Aiden yang memastikan omegannya aman dan nyaman di dekapannya.
"Ayo kita pergi."Donghae meraih tangan Hyukjae, mengajaknya meninggalkan tempat itu.
Keduanya berjalan pelan menjauh dari Eva, namun aungan serigala lain di luar sana menghentikan langkah mereka. Aiden mendongak saat mendengarnya lalu bangkit berdiri menjawab dengan longlongan panjang sebelum berlari melewati Hyukjae dan Donghae masuk kembali kedalam hutan.
Hyukjae lekas mengikutinya dengan panic, namun lengannya lekas di cekal Donghae.
"Ada apa?"
"Aku tak tahu, tapi yang jelas sesuatu yang buruk terjadi. Kita perlu mengikuti Aiden untuk memastikannya."
Tanpa di perintah keduanya lekas mengikuti serigala hitam itu. Jelas mereka kehilangan jejak Aiden dengan mudah, tapi longlongan serigala yang saling bersautan cukup bagi mereka jadikan petunjuk jalan.
Mereka melangkah cepat seiring sumber suara serigala yang mengema melewati pelosok hutan dalam kegelapan. Itu cukup sulit sebelum mereka akhirnya menemukan sosok Aiden yang berdiri membelakangi mereka. Dengan cepat keduannya berjalan mendekati Aiden namun semakin mereka mendekat, langkah mereka semakin melambat. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.
Hutan itu rusak, hangus karena habis terbakar oleh api sebelumnya. Pemandangan yang seharusnya hijau dan begitu subur berubah menjadi lautan hitam yang begitu gersang.
Hyukjae ambruk terduduk ditanah, ia merasakan sesak di dadanya. Ia tak bisa bernafas, sungguh ia merasa seperti udara direnggut paksa darinya. Berbagai pertanyaan hinggap di kepala gadis itu.
Apa yang terjadi?
Kenapa hutan bisa rusak seperti ini?
Donghae mencoba mendapatkan perhatian Hyukjae saat gadis itu terlihat tak focus. Ia juga terkejut dengan apa yang ia lihat, terlebih saat melihat Hyukjae yang tiba-tiba berdiri dan berjalan menyusuri hutan hangus itu. Donghae berjalan mengejarnya sambal memangil-manggil nama gadis itu meski tak di perdulikan.
Mereka jauh masuk ke dalam hutan hangus itu hingga berakhir di sebuah tebing yang begitu tinggi. Dan seperti tak cukup dengan fakta hangusnya hutan tempat mereka pijak, mereka harus dikejutkan dengan pemandangan di bawah tebing itu, tepat di tanah luas di bawah sana.
"Apa-apaan ini…"Donghae hanya dapat mengatakan itu pelan karena ia terlalu terkejut.
Ia dapat melihat dibawahnya ratusan tentara monster bersenjata lengkap dan puluhan penyihir menjadi satu di sana. Puluhan Trol terlihat menarik senjata-senjata besar. Beberapa mahkluk terbang terlihat melayang di atas mereka semua, mengawasi sekitar. Mereka berjalan beriringan menuju ke satu arah yang begitu Donghae kenal.
Mereka menuju ke arah Roran.
.
###
.
Sang Raja begitu dikejutkan saat dimalam menjelang pagi itu ia dibangunkan karena Putra Keduanya, Pangeran Donghae meminta diadakan pertemuan kerajaan sesegera mungkin.
Apa yang membuat Putranya begitu panic seperti ini?
Pintu besar ruang pertemuan itu terbuka dan tepat di meja besar bundar itu seluruh pemimpin pasukan, seluruh menteri, dan kedua Putranya telah menunggunya. Sang Raja segera menempatkan diri di antara mereka lalu melihat kearah Donghae.
"Apa yang ingin kau sampaikan pada kami?"
Donghae terdiam sejenak, ia sendiri tak bisa percaya akan tiba saat dimana ia harus mengatakan hal ini. Pangeran itu lekas melihat seluruh orang yang ada disana.
"Segera persiapkan Roran karena akan ada penyerangan besar yang segera terjadi."
.
###
.
Ketiga penyihir itu terdiam saat Hyukjae selesai dengan hal yang perlu disampaikannya. Semua sudah dimulai seperti yang mereka perkirakan, dan Roran yang akan mejadi arena pertaruhannya.
Heechul berdiri dari posisinya.
"Buat lapisan pertahanan, pasang mantra jebakan, dan persiapkan kekuatan kalian untuk kemungkinan terburuk."
Sungmin memeluk Kyuhyun erat dan Hyukjae hanya mendengarkan sama halnya dengan Kyuhyun.
"Ini akan menjadi penentu segalannya dan pastikan 'Dia' tak mendapatkan apa yang dia inginkan."
.
###
.
Hari itu Roran melakukan persiapan perang besar-besaran. Mereka memasang pertahanan terkuat mereka, senjata mereka, serta prajurit mereka. Seluruh penduduk diungsikan di tempat yang aman. Puluhan strategi telah tersusun untuk situasi terburuk. Mereka perlu membuat segalannya siap segera karena tak ada waktu lagi yang tersisa.
Tepat saat matahari mulai tenggelam semua telah siap di posisinya. Mereka semua diam menunggu apapun yang datang kepada mereka.
Donghae berjalan menuju bagian atas benteng istana Roran, melihat benteng utama di depan kota yang jauh dari mereka. Benteng itu adalah awal pertahannan mereka sebelum musuh dapat masuk ke kota dan menuju ke benteng istana nantinya.
Iris cokelat itu melihat ke atas hanya untuk mendapati Hyukjae yang berdiri satu tingkat darinya di benteng istana. Keduannya hanya diam saling melihat hingga seorang prajurit bekuda menghadap Raja mereka menyampaikan informasi penting dari Benteng Utama di depan kota.
"Mereka sudah terlihat, Yang Mulia."
Mendengarnya semua orang langsung mulai waspada, mempersiapkan diri masing-masing secara tak sadar.
"Mulai persiapkan segalanya!"
"Baik, Yang Mulia."
Dimalam dengan bulan penuh itu akan menjadi malam paling mengerikan selama sejarah Roran. Akan menjadi malam terpanjang karena sebuah perang besar telah menunggu.
.
.
.
.
TBC
.
Sebenernya chapter ini udah mau aku pos sejak jum'at lalu, tapi karena atmosfer ELF lagi gak enak gegara yah kalian tahulah jadi aku tunda sampe suasana tenang dulu. Pesen aku untuk berita yang kemarin itu cuma satu, sikapilah dengan dewasa ya kawan :D
Oke, kembali ke ff. Aku gak tahu ini kabar baik ato buruk tapi ff ini akan tamat 2 chapter lagi. Klimaks, anti klimaks dan ending udah aku susun diotak tinggal di ketik aja. Aku gak mau buat panjang-panjang takut feelnya hilang kedepannya hehehe
Maaf untuk typo dan kesalahan penulisan lainnya, makasih yang udah review di chapter sebelumnya ya.
So silahkan kritik dan sarannya kawan
See you next chapter : )
Special thanks: nayLee, Hein-Zhouhee1015, Rere, Fine, aiyuelfishypinocchiosuju, haehyuk aegya, faridaanggra , mizukhy yank eny, haehyuk86, ahahyuk, dekdes, Reezuu608, nurulpputri, princess Ayu, Haebaragi86, rizka0419, hyukmilee, Guest, ranigaem1, Cho Jisun, tiwiepratiwierafdie, FN, chowlee794, azihaehyuk, Kei Tsukiyomi, HAEHYUK IS REAL, isroie106, nn, Myfishychovy, nurulsaputri26, Arum Junnie, kartikawaii, yehetmania
