My Heart
.
By :
Deer Luvian
.
Main Casts:
.
Lu Han as Wu Luhan (GS) – 24 y.o
Kim Jongin as Kim Jongin/Kai – 24 y.o
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun (GS) – 22 y.o
Oh Sehun as Oh Sehun – 24 y.o
.
Other Casts
.
Wu Yifan as Wu Yifan/ Kris Wu (Luhan's Father) – 50 y.o
Kim Junmyun as Kim/Byun Junmyun (Baekhyun's Mother and Luhan's stepmother) – 47 y.o
Huang Zitao as Huang Zitao (Baekhyun's friend) – 22 y.o
Kim Minseok as Kim Minseok (GS) (Luhan's Friend) – 24 y.o
Do Kyungsoo as Do Kyungsoo (GS) (Baekhyun's Friend) – 22 y.o
Kim Myungsoo as Kim Myungsoo/L (Kai's brother) – 26 y.o
Kim Jiyeon as Kim Jiyeon/Kei (Kai's sister) – 22 y.o
Kim Sungkyu as Kim Sungkyu (Kai's Father) – 55 y.o
Jung Eunji as Jung Eunji (Kai's Mother) – 48 y.o
Park Chanyeol as Park Chanyeol (Kai's friend) – 24 y.o
And Other will be mentioned.
.
Rated:
T-T+
.
Genre
.
Drama, Hurt/Comfort, Romance, Angst
.
Length
.
Multi Chapter
.
Disclaimmer
.
All Casts are not mine. They are Gods. The stories is mine. Mungkin inspirasi cerita berasal dari film Heart yang ditulis oleh Armantono. Ada beberapa yang mungkin sama tetapi jalan cerita tidak sama dan penokohan juga berbeda. Saya ucapkan terima kasih kepada Armantono sunbaenim yang telah menulis cerita bagus itu. Bisa dibilang plagiatkah? Tidak 'kan? Saya hanya terinspirasi. So, jangan plagiat ff yang telah susah payah saya kembangkan dari otak saya.
Don't plagiat, Don't bash and Don't blame.
This is genderswicth for some casts. So bagi kalian yg tidak suka GS ya jangan dibaca.
KaiLu/KaiHan, slight! Hunbaek, Hunhan, TaoBaek and other crack pair will be showed.
.
Summary:
.
Mengalah bukan berarti kalah 'kan? Aku memilih untuk bisa membuat semua bahagia dengan mengalah.. Tapi, apakah dengan mengalah aku bisa mencapai kebahagiaan? Dan apakah dia kejam jika harus menerima sikap mengalahku?
(Sorry for bad summary)
.
Happy Reading ^^,
.
Chapter Nine
.
.
Air mata yang ia miliki tak mau lagi menetes. Sudah lama ia membuangnya sejak pertama kali duduk di kursi ini. Ia bukan lelaki lemah. Namun bagaimana bisa ia menolak kuasa itu jika melihat keadaan seperti ini? Kai tak tahu. Yang jelas ia bagaikan kehilangan semangat hidup. Sebagian raganya melayang bersama dengan kesimpangsiuran kabar di dalam sana.
Di depan ruang ini, wajah Kai tak beraturan. Kusam dengan jejak air yang mengalir di kedua mata tajamnya. Diusap sekali, akan kembali tercetak setelahnya. Bibirnya sulit membuka, tangkupan tangan mengerat seiring do'a isakan yang tak lagi bersuara. Dalam hati ribuan do'a ia panjatkan demi sosok yang tengah berjuang di dalam sana. Harapannya hanya satu, semua terlewati dan ia bisa melihat senyum itu kembali.
Kejadian ini begitu menyakitkan hatinya. Ia tak pernah menyiapkan hati untuk menerima kabar ini. Siapa yang akan mengantisipasinya? Dan siapa yang menginginkannya? Kai menyender pasrah pada kursi depan ruang operasi.
Ruang operasi?
Luhan, wanita yang ia cintai mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai pulang. Kabar yang ia dengar, polisi mengatakan bahwa itu murni kesalahan Luhan dan Baekhyun. Mobil yang ia tumpangi oleng sehingga menabrak pembatas jalan dengan cukup parah. Ada indikasi bahwa keduanya tidak begitu baik dalam mengendari mobil atau mungkin ada kejadian lain yang tak begitu mereka mengerti. Keduanya sama-sama masuk meja operasi. Namun, di antara keduanya tubuh Luhan yang paling parah menerima luka. Setahu Kai, tubuh mungil itu mendekap Baekhyun seolah ia tengah melindungi adik tirinya.
Entahlah, Kai tak tahu bagaimana rupanya saat kejadian. Ia hanya sekedar mendengar dari pihak yang berwajib dan berakhir dengan wajah kusam juga air mata yang tak berhenti mengalir dalam diam.
Sesekali ia menegakkan tubuh lalu kembali merosot. Benar-benar, sosok berkemeja biru muda itu bagaikan kehilangan separuh nyawa yang melekat di dalam tubuhnya. Ia tak lagi bisa berpikir jernih dan ia sering menampilkan pandangan kosong. Bibir yang terkunci rapat dan nafas tercekat. Siapapun yang melihat bagaimana Kai saat ini akan berpikiran sama; menyedihkan.
"Luhan akan baik-baik saja."
Kalimat itu entah ditujukan kepada siapa Kai tak peduli. Sosok itu masih tak bergeming dalam pandangan kosong yang memaku pintu kaca. Sementara di sebelahnya ada sosok lain yang juga merasakan hal sama seperti Kai. Hatinya digodok dan diaduk begitu mendengar kabar ini.
Sehun, sosok yang duduk di sebelah Kai mendesah pelan lalu menunduk. Ia tak tahu harus bersikap apa. Jika Kai hanya merasa sakit karena keadaan Luhan, lalu ia? Dirinya harus menyiapkan mental lebih kuat lagi. Bukan hanya Luhan, tetapi juga Baekhyun yang berjuang di dalam sana dan masih dalam keadaan yang tak pasti. Sehun menyentuh punggung tangan Kai hingga membuat lelaki itu berjengit kaget.
"Kita sama-sama sedih dengan hal ini. Kuatkan hatimu Kai! Luhan adalah sosok yang kuat, pasti ia bisa melewati ini semua." Suara berat itu memaksa Kai menoleh. Tatapan datar tanpa jiwa menghujam kedua blackhole Sehun.
Kai tersenyum kikuk setelahnya. "Kau berbicara seolah hanya aku saja yang terluka.." Sahutnya pelan.
"Hahahaha.." Sehun masih bisa tertawa meski terdengar pilu. Ia mengulum senyumnya. "Aku terluka, tapi aku mencoba tegar. Seharusnya aku yang memiliki banyak rasa khawatir." Ia menjeda ucapannya untuk menarik nafas yang tiba-tiba menghilang. "Baekhyun."
Kai mengerutkan keningnya. "Baekhyun memiliki penyakit mematikan, aku khawatir dia yang tidak mampu bertahan." Lanjutnya dengan suara lirih nyaris hilang dibawa angin.
Kai terdiam, bungkam tak bersuara. Otaknya tengah mencerna ucapan Sehun. Ada puing ingatan yang terbuka cepat. Ah, Kai ingat jika Baekhyun tengah sakit kanker hati. Benar, disini yang jauh lebih mengawatirkan adalah Baekhyun. Reflek, lelaki itu menggenggam tangan Sehun lalu beralih pada pundaknya.
"Tabahkan hatimu Sehun.. Semua akan baik-baik saja."
"Yah, aku selalu berharap demikian. Baik Baekhyun maupun Luhan, aku masih ingin melihat mereka mengukir senyum yang cantik."
"Itu akan terjadi nanti.."
Sehun mengangguk. Sebenarnya ia merasa sedikit canggung dan tak nyaman saat berada di dekat Kai. Bagaimana mungkin kau merasa nyaman berada di sekitar orang yang telah menjadi pendamping hidup dari mantan kekasih yang kau sayang? Sehun tahu betul ada gejolak di hatinya yang seakan memanas. Mana kala ia mengingat ucapan Luhan yang akan menikah. Tapi mau bagaimanapun mereka harus saling menguatkan. Mereka berada dalam posisi yang sama.
Tak berbeda jauh dengan Kai yang masih bergulat dengan rasa khawatir untuk Luhan. Ia juga merasa aneh duduk berdua dengan Sehun dalam keadaan seperti ini. Tapi, semua seolah menghilang saat mereka sama-sama berada dalam keadaan yang menyakitkan.
.
.
.
.
.
Menunggu sekitar tiga jam selama operasi berjalan telah dilakukan oleh Kai. Saat ini ia bisa menatap tubuh Luhan yang lemah dengan beberapa alat bantu menempel di tubuhnya. Matanya kembali panas, sesak di dada ia rasakan. Bibirnya terkunci kuat tak sanggup berucap walau hanya sepatah. Wanita muda itu begitu memilukan untuk dilihat dan Kai nyaris tak sanggup bertahan dalam ruangan itu.
Namun, ia harus lebih kuat dari Luhan. Jika ia lemah, siapa yang akan menguatkan Luhan? Kekasih dan calon istri yang sangat ia cintai? Kai tak mau ketika Luhan sadar nanti, ia tak ada di dekatnya. Ia tak mau Luhan melihat sosok lain untuk pertama kalinya. Luhan harus melihatnya saat kelopak tipis itu terbuka. Hal itu menuntut Kai untuk duduk tenang di sebelah ranjang Luhan dan segera meraih tangannya.
"Luhan sayang.." Kai menempelkan punggung tangan Luhan pada pipinya. Ia mengecup lagi kemudian. "Apa kau akan tertidur seperti ini?"
Kai mendongak untuk sementara. Ada genang air yang mengintip di balik kelopak matanya. Ia ingin sekali melihat wajah ayu Luhan terukir senyum. Tidak seperti ini; tampak begitu lemah dan menyakitkan. Kai membenamkan wajahnya pada ranjang Luhan. Air mata yang mati-matian ia tahan harus kembali turun. Kai paling lemah melihat sosok yang ia cintai terbaring tak berdaya seperti ini. Kai paling tidak suka melihat adegan ini. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan. Kenapa Luhan harus seperti ini?
Untuk beberapa saat, Kai membiarkan air mata itu lolos lagi dan lagi. Kai merelakan wajahnya basah hanya demi menangis untuk Luhan. Baginya saat ini Luhan adalah sosok yang berharga jika harus meninggalkannya. Tidak! Kai tidak ingin berpikir yang macam-macam lebih dulu. Luhan pasti akan sadar. Pasti! Luhan adalah wanita yang tangguh dan kuat.
"Kau pasti bisa melawannya Luhan."
Divonis trauma pada otak dan menyebabkan Luhan harus koma mau tak mau memaksa Kai untuk bertahan lebih kuat. Harus ia siapkan sebidang hati untuk menahan gejolak yang tak mungkin saja akan menyulut emosinya. Kai benar-benar harus menyiapkan segalanya demi membantu Luhan lebih kuat lagi. Salah satunya adalah kasih sayang tulus yang harus ia bisikkan pada Luhan. Siapa tahu dengan bisikan itu Luhan akan segera membuka kelopak matanya.
"Luhaan.. Aku akan tetap di sampingmu! Aku akan tetap berada di sampingmu.." Kai mengecup puncak kepala Luhan. "Kau harus kuat dengan ini semua Lu.. Kau harus kuat.."
Jika Tuhan menghendaki apa yang ia inginkan, Kai rela bertukar tempat dengan Luhan. Terbaring dengan kedua mata tertutup rapat. Membeku dan hidup dengan bantuan alat-alat yang menyerang tubuhnya. Berada dalam kegamangan entah kapan akan kembali membuka mata. Kai rela, Kai mau. Tapi, itu adalah hal mustahil yang tak akan pernah terjadi. Hingga pada akhirnya, ia tetap harus menggenggam tangan Luhan membisikkan kata-kata yang bisa membangkitkan semangat dalam diri Luhan.
Tak berbeda jauh dengan Kai, Sehun pun sama. Berada dalam satu kamar dan hanya terhalang sekat kain mampu menghantarkan ucapan Kai padanya dengan baik. Telinga Sehun bergetar mana kala mendengar penuturan penuh kepedihan dari bibir Kai. Lelaki itu tahu betul bagaimana perasaan Kai saat ini; ia pun juga tengah merasakannya.
Baekhyun, gadis yang telah membutakannya akan cinta dari Luhan juga terbaring lemah di sebelah ranjang milik Luhan. Gadis itu masih belum membuka matanya. Jika dibandingkan Luhan, keadaan Baekhyun tidak terlalu parah. Mengingat tubuh Luhan yang melindungi Baekhyun saat kecelakaan. Hanya saja penyakit yang diderita Baekhyun sebelumnya yang menumbuhkan kekhawatiran lebih dan lebih.
"Apa kau akan terus menutup matamu? Tidak 'kan sayang? Ayo buka.. Aku merindukanmu.. Kapan terakhir kali aku melihatmu tersenyum? Itu beberapa hari yang lalu.. Ayo bangun lah.." Tutur Sehun ditemani air mata yang mengalir pelan.
Sehun menggenggam erat tangan Baekhyun dan mengusapnya lembut. Ia mengecup berulang tangan yang terkulai lemas bagaikan tak bernyawa. Air matanya tak sanggup lagi bertahan dalam kungkungan kelopak Sehun; ditambah dengan penuturan dari Kai membuat emosinya semakin beradu, bercampur baur.
"Apa kau dan Luhan sedang bertemu di alam sana? Di bawah kesadaranmu?" Entah darimana Sehun bisa mengatakan hal seperti itu. Sehun habis daya, ia menangis hingga berpikir yang tak masuk akal. "Apa kalian sedang tertawa di alam sana? Kembalilah Baek, kembalilah!"
Sehun menyeka air matanya dan menatap nanar sosok Baekhyun yang masih terpejam. Ia mengecup pipi Baekhyun dalam. "Ajak Luhan kembali!" Bisiknya pelan.
Ia melirik sejenak pada Kai yang tampak lelap di sebelah Luhan. Lelaki itu begitu terpukul melihat keadaan Luhan.
"Ajak Luhan pulang, kasihan Kai! Dia terlihat menyedihkan." Ungkapnya pilu.
Jika ditilik lebih dalam, dirinya juga sama. Ia juga dalam keadaan yang menyedihkan. Berada dalam satu ruang dimana kekasihnya tertidur pulas dan mantan kekasih di dekapan lelaki lain. Sungguh, jika dibandingkan dengan Kai, Sehun adalah sosok yang lebih menyedihkan lagi. Mau bagaimanapun rasa yang sempat ditanamkan untuk Luhan masih tersisa.
Hingga dalam beberapa menit kemudian, keadaan menghening. Baik Sehun maupun Kai sama-sama lelah menangis dan mereka berdua terlelap di samping ranjang masing-masing sang kekasih. Namun, Luhan dan Baekhyun masih belum memiliki keinginan untuk membuka kelopak indahnya. Keduanya tetap terlelap dalam paksaan koma yang menuntutnya.
.
.
.
.
.
Andai saja Luhan dan Baekhyun tidak mengalami hal itu. Mungkin keduanya sedang berada dalam tawa kebahagiaan yang menggelegar di penjuru ruangan; tipe keduanya yang sama-sama memiliki sifat periang. Masih ingat bukan jika hari ini adalah hari pernikahan L dan Soojung? Hari membahagiaan yang secara tidak sengaja sangat ditunggu oleh Luhan. Wanita itu menyukai hal-hal yang berbau pernikahan. Karena setiap pernikahan pasti melahirkan kebahagiaannya.
Namun sayang, Luhan dan Baekhyun tak bisa menghadirinya. Begitu juga Kai yang memilih bersama dengan Luhan di rumah sakit. Lelaki itu tak pernah mau beranjak dari samping Luhan. Ia ingin ketika Luhan membuka mata, sosoknya lah yang pertama kali ia lihat. Ia telah berjanji akan selalu ada untuk Luhan, menemani Luhan dan bersama Luhan dalam keadaan apapun.
Pagi ini pun sama, Kai menggenggam tangan Luhan yang tak kunjung sadar. Genggaman itu menguat seiring dengan emosi yang tertahan dalam hati.
"Luhaan." Lirih Kai lalu mengecupnya kilat. "Ini sudah pagi sayang, apa kau masih akan terus terlelap?"
Tak ada tanggapan, sang lawan bicara masih berada dalam keadaan yang sama.
"Kau sering memarahiku jika aku tidur terlalu lama. Lalu kenapa kau malah tidur sangat lama?"
Kai mengecup kening Luhan dalam.
"Bangunlah Lu.. Aku akan mengajakmu keliling dunia. Ah, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Manchester? Kau tidak ingin melihat tim kesayanganmu?"
Luhan tak tertarik dengan bujukan Kai. Kedua mata itu masih setia terpejam.
"Lu.."
"Kai!" Kai tersentak dengan panggilan yang ditujukan padanya. Ia segera menoleh pada sang pelaku. Sehun, Oh Sehun yang telah memanggilnya.
Lelaki itu duduk di dekat Kai dan memandang sejenak Luhan dengan senyum hangat terulas.
"Luhan begitu tenang dalam tidurnya. Seperti ia tidak pernah tidur sebelumnya."
Kai tersenyum lalu mengangguk. "Kau benar!"
"Baekhyun juga seperti itu." Sehun melirik sejenak Baekhyun yang sama seperti Luhan; terlelap tak bergerak sedikitpun.
Kai tersenyum lagi. "Mereka sama." Sahutnya pelan. "Sepertinya Luhan dan Baekhyun terikat satu sama lain."
Sehun tertawa kecil. Walau terdengar memilukan, namun ia berusaha mencairkan suasana yang sedikit berkabut. Mereka berdua tak boleh terus bersedih. Keduanya harus sama-sama kuat demi Baekhyun dan Luhan.
Dan waktu dibiarkan berlalu seiring dengan percakapan yang mengalir pelan. Lama kelamaan Sehun dan Kai menjadi sosok pribadi yang dekat satu sama lainnya. Berada dalam ruang yang sama dalam waktu yang sama mau tak mau membuat mereka saling dekat. Percakapan yang dibangunpun cukup mudah diteruskan. Tak ada kecanggungan, tak ada rasa sungkan dan bisa mencairkan suasana yang cukup memilukan.
Lama mereka berdua berbincang-bincang ringan, suara pintu digeser membuat keduanya menoleh bersamaan. Ada dua sosok yang masuk ke dalam kamar. Sontak, baik Kai maupun Sehun bangkit dan membungkukkan badan; memberi hormat pada sosok yang baru saja masuk. Mereka mempersilahkan kedua pasang suami istri itu untuk duduk.
"Kalian masih betah disini?" Adalah pertanyaan pertama yang terlontar dibarengi dengan senyum hangat mengembang. Sebuah tanda berisikan candaan yang sengaja diberikan demi menghilangkan ketegangan. "Pulanglah kalau kalian lelah."
"Tidak eomoni." Sahut Kai dengan senyum mengembang. "Saya tidak akan pulang sebelum Luhan sadar."
"Saya juga!" Tukas Sehun.
Kedua sosok yang baru saja masuk itu tersenyum senang. "Kalian.." Salah satu dari kedua orang itu duduk di dekat ranjang Luhan.
"Maafkan Luhan dan Baekhyun yang merepotkan kalian."
Kai menggeleng kecil. "Kenapa harus merepotkan? Saya mencintai Luhan, saya berjanji akan menjaga Luhan selamanya." Ucap Kai serius.
Kris –salah satu sosok yang datang- merasa hangat dengan jawaban dari Kai. Ia paham betul bagaimana perasaan yang dimiliki oleh Kai. "Beruntung sekali anakku mendapatkan lelaki sepertimu Kai." Tukasnya seraya mengusap pundak Kai. "Kau juga Sehun." Kali ini arah pandang Kris beralih pada Sehun.
Lelaki berwajah pucat itu menaikkan sebelah alisnya.
"Kau selalu ada untuk Baekhyun, dan Baekhyun bisa berubah karenamu." Kris mengulas senyum. "Maaf, abeoji baru mengatakan ini padamu. Terima kasih Sehun."
"Ah, itu-itu." Sehun mengusap tengkuknya. "Bukan apa-apa."
Jika boleh jujur, sebenarnya Sehun malah merasa canggung membahas hal ini. Benar yang dikatakan oleh Kris bahwa dirinya telah merubah Baekhyun menjadi sosok yang lebih baik. Tapi Luhan? Apakah Kris lupa dirinya lah yang telah melukai hati Luhan dan menghancurkan harapannya?
"Apa kalian sudah makan?" Kali ini Junmyun yang bertanya.
Kai dan Sehun menggeleng bersama.
"Ini, eomoni membawakan kalian makanan. Makanlah dulu!" Junmyun membuka bekal makanan yang ia bawa dan menata di atas meja.
Sehun dan Kai merasa sedikit tak enak hati melihat kebaikan ibu dari Baekhyun dan Luhan. Mereka menurut; tak ingin membuat kecewa Junmyun. Detik selanjutnya, makanan yang tersaji itu dinikmati oleh Kai dan Sehun. Keduanya begitu lahap memakan masakan Junmyun. Bukan hal aneh, mengingat mereka cukup kelaparan menjada Luhan dan Baekhyun.
Ketika keduanya menikmati makanan yang dibawa Junmyun, keadaan menghening. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring-piring itu. Selama keduanya makan, Kris dan Junmyun lebih terfokus pada Luhan dan Baekhyun. Kedua putri yang mereka sayangi harus berjuang dengan koma. Perasaan mereka campur aduk. Bayangkan saja bagaimana pilunya saat mengetahui dua anak kesayangan dalam keadaan yang sama; tidur dengan ketidakpastian.
Junmyun sempat menitikkan air matanya –lagi-. Kali ini –bahkan untuk kesekian kalinya- Junmyun tak sanggup menahan pedih yang menjerat. Ia ingin melihat kedua anaknya bangun dan tersenyum seperti sedia kala. Tangan halus Junmyun membelai wajah Luhan untuk sejenak dan mengecup keningnya. Lalu ia berpindah pada Baekhyun dan melakukan hal yang sama. Walaupun Luhan bukan anak kandung, tetap saja hati Junmyun merasa sesak melihatnya seperti ini.
Beberapa menit kemudian, keduanya selesai makan. Sehun segera meletakkan piringnya dan pamit keluar. Ada telepon yang ia terima. Selain itu, Sehun ingin memberikan waktu kepada Junmyun untuk menemani sang buah hati.
"Terima kasih Kai." Kris berujar lirih setelah Sehun keluar dari kamar.
Kai mengerut tak mengerti.
"Selama ini kau selalu ada untuk Luhan. Bagaimanapun dan dalam keadaan apapun."
Kai tersenyum hangat. Tangannya ia bawa memeluk tubuh lelaki paruh baya itu.
"Sepertinya Aboeji lupa dengan pernyataan saya." Kai melepaskan pelukannya dan kembali mengangkat kedua ujung bibirnya. "Saya mencintai Luhan, apapun akan saya lakukan untuk membahagiakan Luhan."
"Beruntung, Sungkyu mempunyai anak sepertimu Kai!"
Lelaki yang lebih muda hanya tersenyum.
"Aku akan sangat rela jika Luhan kau bawa. Nanti setelah Luhan sadar, segera saja kalian menikah. Aku tidak ingin melihat Luhan menderita lagi."
"Abeoji!"
"Apa kau keberatan?"
Kai menggeleng kepalanya cepat. Siapa yang merasa keberatan dengan penawaran ini? Bukankah sebelumnya juga telah mereka bicarakan bahwa Kai akan menikah dengan Luhan pada bulan depan? Kai tak akan menolak jika Kris memintanya segera menikahi Luhan.
"Baguslah!"
Lelaki yang lebih muda itu bangkit dan menatap Kris juga Junmyun bergantian. Ia mengambil ponsel setelahnya lalu menunduk memberikan hormat.
"Saya akan keluar sebentar. Kalian pasti ingin bersama dengan Luhan dan Baekhyun bukan?"
Baik Junmyun maupun Kris mengangguk pelan sebagai tanggapan.
Hingga akhirnya Kai keluar dari kamar Luhan. Bukan ia ingin pergi meninggalkan Luhan tidak, Kai hanya ingin memberikan waktu kepada kedua orang tua itu untuk bersama dengan anak-anaknya. Selama ini yang berada di samping keduanya adalah Kai dan Sehun. Kris dan Junmyun tak berada di sana. Jadi bukan hal yang salah 'kan?
.
.
.
.
.
Langit yang membentang telah berganti warna; dari warna semula biru laut cerah menjadi hitam pekat. Dingin angin yang ada mencoba menerobos masuk lewat celah jendela yang sengaja sedikit dibuka. Sinar bulan pun ikut menyertai angin itu dan memberikan cahaya hangat sendiri di antara benderang lampu yang menyala.
Kai, lelaki itu telah kembali pada sisi Luhan. Setelah kepergian kedua orang tua Luhan dan Baekhyun, Kai menjaga lagi Luhan. Sementara Sehun, lelaki itu masih ada keperluan kantor yang harus diselesaikan. Ada satu masalah yang sepertinya cukup sulit ditangani hingga membuat Sehun harus absen menjaga Baekhyun.
Rasanya memang sepi. Sendirian tanpa ada teman untuk mengobrol. Kai sedikit merasakan kebosanan yang melanda. Ia berulang kali membuang arah pandang pada pemandangan di luar. Membuka jendela dan memaku sorot mata pada jalanan yang bisa dibilang sepi. Tubuhnya ia biarkan menyender pada jendela dan memainkan jemari yang tengah bertaut di depan dada. Ada hembusan halus nafas yang terdengar mengiringi kesepian yang ada.
Kai masih mengamati jalanan, sesekali ia melirik pada Luhan dan Baekhyun yang terus terlihat tenang. Kai menengadah; bibirnya menggumam sebuah do'a untuk kesadaran mereka. Cukup kidmat, hingga setetes air muncul secara malu-malu dari balik kelopak matanya.
"Eung!"
Ada bunyi lenguhan. Reflek kepala Kai menoleh pada sumber suara. Ia terbelalak mengetahui salah satu dari mereka membuka mata dengan gelisah.
"Lu-luhan unni.." Lirihnya memaksa Kai mendekat dan menatap haru padanya.
"Baek! Baekhyun kau sadar? Baek! Tunggu!" Kai tak membuang waktu langsung memanggil dokter untuk memeriksa Baekhyun. Tak lupa Kai juga menelpon keluarganya tentang kabar dari Baekhyun.
Sang dokter datang dengan wajah senang dan segera memerika keadaan Baekhyun. Tak lama, hanya beberapa menit semua pengecekan dilakukan. Sang dokter tampak tersenyum setelah melihat keadaan Baekhyun.
"Baekhyun baik-baik saja. Tapi saya harus mempelajari beberapa hal disini. Apa kau sendirian menjaganya?" Tanya Dokter Hwang.
Kai mengangguk. "Syukurlah! Ya, kebetulan saya sendiri. Sehun dan kedua orangtuanya ada keperluan lain." Jawabnya.
"Baiklah. Masalah Baekhyun akan saya bicarakan dengan orangtuanya nanti."
Lelaki itu hanya mengangguk dan memberikan jalan pada dokter. Setelah kepergian sang dokter, Kai masuk ke dalam kamar kembali untuk melihat keadaan Baekhyun. Ada ukiran hangat dari bibirnya manakala manikan kelam miliknya menangkap sosok Baekhyun yang berusaha untuk bangkit. Kai tahu, pasti gadis itu ingin melihat Luhan.
"Jangan memaksa bangun dulu Baekhyun!" Tutur Kai lembut.
Baekhyun terkejut. "Ka-Kai Oppa..." lirihnya.
Kai membantu Baekhyun untuk bangkit dan menyenderkan tubuh Baekhyun pada dinding. "Luhan masih tertidur. Dia belum sadar setelah kecelakaan itu." Suara Kai melemah, seolah ia tengah memberitahu pada Baekhyun betapa sedih dirinya.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Hatinya menyesak mendengar penuturan Kai. Ini juga salah satu kesalahannya. Jika Baekhyun tak salah ingat, Luhan yang telah melindunginya. Baekhyun menyentuh pundak Kai lalu menatap penuh rasa bersalah pada kedua pasang iris kelam Kai.
"Maaf oppa."'
Kai menggeleng dengan senyum mengembang pilu. "Tidak! Ini bukan salahmu."
"Tapi, Luhan un-."
"Baekhyun-ah!"
Baik Baekhyun maupun Kai menoleh pada teriakan itu. Baekhyun terkesiap melihat siapa yang berteriak. Kedua mata sipitnya melebar seiring dengan gerak tubuh sosok itu yang semakin mendekat. Mengerti situasi ini, Kai memilih mundur dan memberikan ruang bagi Sehun. Sontak tanpa aba-aba Sehun memeluk tubuh Baekhyun dengan erat. Bahkan Baekhyun dan Kai tau jika Sehun tengah menangis dalam. Di kala tangan Sehun merengkuh tubuh mungil Baekhyun, tak berhenti gumaman terima kasih dan maaf terdengar. Juga ucapan syukur sesekali menggema. Jelas hal itu memancing emosi Baekhyun untuk ikut menangis.
Sementara Kai? Lelaki itu menatap miris bermandikan rasa cemburu. Dalam hati keinginan seperti itu begitu kuat mengakar. Lekas ia mendekat pada Luhan. Meraih pergelangan lemah Luhan dan mengecup punggung tangannya. Ada bisikan lirih yang dihantarkan Kai untuk Luhan. Sebuah pengharapan agar Luhan segera membuka mata dan mengulas senyum yang ia rindukan.
"Ayo bangun Luhan, aku sungguh merindukanmu." Kai mengecup kening Luhan. "Aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
Ini hari ketiga. Ya, hari ketiga setelah kecelakaan yang terjadi pada Luhan. Tetapi tanda-tanda akan kesadaran Luhan masih belum dirasakan. Kenapa begitu lama? Bukankah Luhan telah ditangani dengan baik dan benar? Bahkan Baekhyun yang notabene dalam keadaan lebih parah –memiliki kanker hati- itu saja telah lebih dulu kembali pada alam sadar. Lalu Luhan?
Mau menyalahkan Tuhan? Tidak, tidak. Mana mungkin Kai akan menyalahkan Tuhan tentang hal ini. Mungkin ini salah satu ujian yang harus dijalani oleh Kai dan Luhan. Hidup memang tak jauh dengan ujian bukan?
Di saat Sehun bercanda dengan Baekhyun, Kai hanya mendengar mereka dengan tersenyum pedih. Rasa iri dan cemburu itu masih ada. Tapi mau bagaimana lagi?
"Oppa!" Kai menoleh pada Baekhyun setelah ia membenarkan posisi selang infus milik Luhan. "Oppa! Apa oppa ingin makan ramen? Sehun oppa akan membelikan untukmu!"
Kai mengernyit bingung. Kenapa tiba-tiba ramen?
"Jangan memasang wajah seperti itu oppa!" Baekhyun mengerucut. "Aku ingin makan ramen dan Sehun oppa bersedia membelikan untukku."
"Kau makan ramen? Bukankah kau masih sakit? Itu tidak baik Baek!" Tutur Kai lembut. Ia tidak ingin melukai hati Baekhyun.
Sehun mengangguk setuju. "Aku sudah mengatakan hal itu juga. Tapi little princessku tidak mau mendengarkan oppa-nya." Timpal Sehun.
"Oppa!"
"Bukankah seperti itu?"
"Tapi!"
Kai bangkit dari duduknya dan mengusak puncak kepala Baekhyun kemudian. "Turuti kata kekasihmu! Dia tidak ingin terjadi apa-apa padamu!"
Walau bibir Baekhyun mengerucut hendak protes, ia mempertimbangkan perkataan Kai. Memang sepertinya ia harus menjaga kesehatan. Kenapa ia bisa lupa jika tubuhnya tak kuat seperti dulu –bahkan tidak pernah kuat sejak dulu-. Baekhyun akhirnya mengangguk pasrah, menimbulkan sudut bibir tertarik di wajah Sehun. Lelaki itu segera memeluk tubuh Baekhyun dan mengecup keningnya.
Tak lama kemudian, Junmyun tiba. Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Baekhyun dan mengusap pipinya. Sementara Sehun menggerakkan kepala bingung.
"Abeoji mana?" Tanya Sehun.
Baekhyun menoleh pada Sehun. "Iya, baba mana?"
"Dokter memanggil baba." Jawab Junmyun lirih dengan senyum hangat.
Sehun mengerutkan keningnya curiga. Dalam hati ada yang berbisik untuk menyusul Kris di ruang dokter. Sehun yakin jika yang memanggilnya adalah Yixing. Mengingat sebelum ia masuk ke dalam kamar Baekhyun dan Luhan, wanita itu sedikit memberikan tanda yang entah apa maksudnya.
Meninggalkan Baekhyun dan Jumnyun yang saling berbagi cerita, Sehun pamit untuk menyusul Kris. Junmyun memberikan ijin begitu juga Baekhyun. Tak menyiakan waktu, dengan cepat Sehun berlari ke ruangan Yixing. Kali ini perasaannya sungguh kalang kabut. Sesuatu membuatnya harus mengaktifkan mode awas.
.
.
.
.
.
"Jadi kita butuh donor hati dengan segera?" Sehun mengulangi lagi kata-kata Yixing. Lelaki itu menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Dadanya bergemuruh tak tentu. Rasanya sungguh menyakitkan. Bagaikan ada sebuah tombak runcing yang merajamnya saat ini. Ditambah hantaman batu karang yang sanggup menghancurkan seketika hatinya.
Yixing mengangguk. "Keadaan Baekhyun benar-benar tidak bisa ditolerir lebih lama lagi. Dokter Hwang mengatakan jika pertahanan Baekhyun memburuk setelah kecelakaan." Ia melepaskan kacamata yang menutup mata indahnya. "Kita tidak ingin sesuatu buruk terjadi padanya bukan?"
Sehun memejam, tak tahu harus bagaimana lagi. Begitu pula dengan Kris. Lelaki paruh baya itu syok dengan kabar yang baru saja ia dengar. Ini memang bukan kali pertama mendengar kabar ini. Tapi kenapa rasanya kali ini berbeda? Kris memijit keningnya yang terasa berdenyut lebih. Bagaimana mereka bisa mendapatkan donor hati?
Tatapan memelas dari Sehun dibalas gelengan oleh Yixing. Wanita itu cukup tahu bagaimana kondisi Baekhyun, dan hal ini tidak bisa ditolerir lagi. Baekhyun sudah semakin parah. Jika tidak segera mendapatkan donor hati maka...
"Darimana kita bisa mendapatkannya?" Lirih Sehun putus asa. Rajutan benang harapan itu seakan sedikit demi sedikit merenggang dan nyaris putus.
Yixing menghela nafasnya. "Aku akan mencoba menghubungi rumah sakit di luar Seoul, siapa tahu ada yang bisa membantu." Tukasnya.
"Kami berterima kasih padamu dok, kau selalu memberikan yang terbaik untuk Baekhyun."
Yixing tersenyum pada Kris. "Itu sudah tugas saya Tuan Wu. Saya rasa cukup sampai disini, nanti kalau ada perkembangan lagi akan saya kabari ke kalian." Tukas Yixing seraya menutup beberapa dokumen tentang Baekhyun.
Kris dan Sehun mengangguk paham. Keduanya lantas bangkit dan membungkuk pada Yixing; memberikan salam. Detik selanjutnya, mereka keluar dari ruang Yixing untuk kembali ke kamar Baekhyun. Selama perjalanan, Sehun bisa merasakan ada desah pasrah dari Kris. Sebuah beban yang tampak berat bertengger di kedua bahunya. Walaupun Baekhyun bukan anak kandung, tetap saja hal itu mampu mengambil sebagai besar pikirannya.
Dan di ruangan ini Sehun melihat gelak tawa Baekhyun. Gadis itu tampak bahagia dengan ibunya. Lalu bagaimana jika nanti tak ada donor hati yang diterima? Apa Baekhyun masih akan tertawa. Sejenak arah pandang Sehun mengalih pada Luhan. Gadis itu masih terlelap dalam koma. Kenapa hidup harus seperti ini? Luhan yang masih memiliki anggota tubuh lengkap harus berjuang dengan komanya, sedang Baekhyun yang telah kehilangan hatinya telah terjaga dan sanggup menguarkan tawa. Sehun meringis mengingat itu semua. Hatinya perih dan sesak sekali. Seolah ini memang sebuah pertanda yang entah apa artinya.
.
.
.
.
.
"Kenapa Luhan unni tidak bangun juga?" Baekhyun mengerucut sedih manakala tangan rampingnya mengusap lembut pipi Luhan.
Gadis itu baru saja membersihkan diri dan ingin duduk di sebelah Luhan. Ia merindukan sosok periang Luhan. Tanpa ada Luhan memang berbeda. Baekhyun telah terbiasa hidup berdampingan dengan Luhan. Walaupun tidak dua puluh empat jam, namun tanpa kehadiran Luhan sanggup memberikan efek yang terasa di hati.
Kai tersenyum lemah, lelaki itu juga memiliki pertanyaan yang sama. Ini sudah hari ke empat dan Luhan masih tertidur lelap. Kai mengusak surai cokelat Baekhyun.
"Do'akan saja unnimu cepat bangun."
"Pasti.."
Baekhyun memutar kepalanya, ada yang ingin ia cari namun sosok itu tak tampak di kedua mata cantiknya.
"Kemana Sehun oppa?" Cicitnya sedikit kecewa. Ia tidak melihat Sehun sejak kemarin malam. Terakhir kali sebelum kedua orangtuanya pulang.
Kai yang mengerti maksud Baekhyun mengendikkan bahunya. Lelaki itu memang tidak tahu kemana Sehun pergi. Sehun juga tak memberi kabar kemana ia. Atau mungkin ada dugaan Sehun tengah bekerja mengingat beberapa hari ini Sehun mangkir dari kerja demi menunggu Baekhyun. Ia mengusak surai cokelat Baekhyun; menenangkan sang calon adik ipar.
"Sehun akan datang. Mungkin ia masih ada keperluan lainnya."
Baekhyun mengangguk lemah. "Aku mengerti oppa." Ada lengkungan manis yang terulas dari bibirnya. "Oppa.."
Kai mengangkat sebelah alisnya.
"Jaga Luhan unni nanti kalau kalian menikah yaa!"
"Hei!" Kai mengusap pipi Baekhyun. "Pasti, aku pasti akan menjaga Luhan sepenuh hati."
Baekhyun tersenyum lebih lega. Kata syukur mungkin tak akan bisa mengganti semuanya. Menurut Baekhyun, Luhan begitu beruntung. Wanita yang telah menjadi keluarga Baekhyun itu dicintai dan disayangi oleh banyak pihak. Salah satunya Kai; juga dirinya. Mungkin karena sifat baik yang melekat padanya membuat Luhan begitu dicintai yang lain. Dan Baekhyun bersyukur ia cepat menyadari kebaikan hati Luhan; masih ingat bukan bagaimana dulu ia membenci Luhan?
Setelahnya, Kai pamit untuk membeli sarapan lebih dulu. Baekhyun sudah bisa ditinggal sendiri bersama dengan Luhan yang masih tertidur dalam koma. Sedikit merasa bosan, Baekhyun turun dari ranjang. Ia bersyukur, tubuhnya tak begitu lemah; begitu bangun dari koma, ia masih bisa bangkit sendiri. Ia hendak melangkah menuju jendela, tapi sesuatu menariknya begitu saja.
Sebuah kotak mesin yang menandakan detak jantung seseorang bergerak.
Atas rasa penasarannya, Baekhyun mendekat. Itu milik Luhan, gerakan tak teratur di layar kecil itu adalah detak jantung Luhan. Baekhyun mengulum bibirnya kasar, rasanya ada yang aneh dengan grafik yang ditampilkan. Lekas ia menoleh pada Luhan. Mata sipitnya melebar seketika.
"Lu-, unni... Unnii..." Jerit Baekhyun begitu mengetahui keadaan Luhan.
Baekhyun mendekati Luhan. "Unniii... unniii..."
"Lu..."
.
.
.
.
TBC
.
Kayaknya semakin aneh yaa? Maaf kalau feelnya ilang.
Saya sedang sibuk skripsi jadi nulisnya agak gimana gitu...
Maaf yaa, chapter depan saya usahakan untuk lebih baik lagi.
Mind to review?
.
.
Terima kasih.. ^^,
.
.
Best Regards
.
.
~Deer Luvian~
