Disclaimer:

-Masashi Kishimoto-

Hallo.. hehe saya balik lagi ^^ Maaf ya saya ga apdet2 . karena ada beberapa alasan, saya baru bisa buat habis selesai MOS dan tugas2 yang super duper menumpuk nih .

Thx buat yang review chapie kmrn yaaa! ^^ semua pertanyaan kalian mungkin akan bisa terjawab pelan-pelan tadi cerita di next-next chap hehe =)


" Sakura, aku lupa mengatakan ini padamu." lanjut Tsunade.

" Ada apa?" tanya Sakura penasaran dan mukanya terlihat serius.

" Selamat atas kehamilanmu ya, aku turut senang! Hahaha," jawab Tsunade santai disertai dengan tawa.

" A….apa!" tanya Sakura tak percaya. " Ta..tapi bagaimana bisa!"

Tsunade menghela nafas lalu memejamkan matanya sejenak.

" Bagaimana bisa apa maksudmu, heh? Kau dan Sasuke adalah manusia yang normal, bukan?" tanya Tsunade merasa heran dengan pertanyaan Sakura.

" Ta..tapi aku tidak merasakan apa-apa. Bagaimana Tsunade-sama bisa tahu?"

Tsunade tersenyum simpul lalu menegakkan badannya. " Tentu saja aku tahu. Aku bisa melihatnya melalui sikapmu, gejala-gejala aneh dan tentu saja yang paling membedakan dari semuanya adalah chakra 'mu.

" Begitukah?" lagi-lagi tanya Sakura yang belum percaya.

" Apa kau tidak mengetahuinya?" ucap Tsunade berbalik dengan pertanyaan.

Sakura menggelengkan kepalanya membuat rambut soft pink 'nya terayun ke kanan dan ke kiri. Tangannya mulai bergerak dan membelai pelan perutnya yang masih terlihat rata.

" Mau kita cek lagi?"

" Se...sepertinya iya," jawab Sakura ragu.

Terlukis jelas pada wajahnya tentang apa yang sedang ia rasanya. Perasaannya tercampur aduk, entah itu rasanya senang, kaget, tidak percaya, takut dan lainnya bergabung menjadi satu. Membuat kegelisahan pada hati wanita itu,

Tangannya bergemetar dan kakinya pun ikut bergetar. Rasanya hatinya terus gelisah menunggu hasil dari pemeriksaan kandungan yang baru saja ia lakukan setelah menemui Tsunade-sama, gurunya sejak masih kecil. Jantungnya serasa memberontak kecang membuat ia bisa merasakan setiap detakkannya dengan jelas.

Krieeeet...

Daun pintu pun mulai terbuka dan terlihatnya seorang wanita manis di balik pintu itu.

" Nona Sakura, hasilnya sudah ada." ucapnya dengan senyuman."

.

.

" I...ini?" Sakura menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

" Ya. Sekarang ini Nona Sakura sedang mengandung, usianya sudah hampir 4 bulan." jelas wanita itu tetap dengan senyumannya.

Emerald indah Sakura mulai berkaca-kaca dan kedua telapak tangannnya tetap masih melekat menutupi bibirnya.

" Be..benarkah? Aku tidak percaya ini,"

" Ya, tentu saja benar. Selamat ya," Wanita itu menyalami Sakura.

Sejenak Sakura terdiam lalu tangannya berpindah pada perutnya. Mengusapnya lembut, ya..lebih lembut dari sebelumnya.

" Tapi jika memang sudah 3 bulan dan bahkan hampir 4 bulan mengapa perutku tetap rata seperti ini? Apa ada yang tidak beres?" tanya Sakura menyadari kondisi tubuhnya itu.

" Ah itu, Nona Sakura kurang mengkomsumsi makanan-makanan yang mengandung zat-zat penting. Lagi pula sepertinya karena selalu bekerja Nona Sakura menjadi terfokus pada pekerjaan," kata wanita itu menjelaskan pada Sakura baik-baik yang berdiri di hadapannya. " Sayangilah calon bayimu, Nona Sakura. Jangan terlalu sibuk bekerja di Rumah Sakit ini," nasihat wanita itu.

" Ya, mungkin kau benar aku memang terlalu fokus pada pekerjaanku." kata Sakura mencoba mencerna kembali perkataan wanita itu.

" Nona Sakura tentu pernah merasakan gejala-gejala seperti mual-mual dan kaki serasa membengkak, bukan? Dan terkadang bahkan sampai tulang punggung terasa sakit dan ngilu," lanjut wanita itu.

Sakura terdiam lagi, mencerna lagi kata-kata wanita itu. " Ya, aku memang merasakannya." jawab Sakura sambil mengangguk pelan.

" Biasanya itu tanda-tanda kalau sudah 2 bulan ke atas. Jadi memang ini semua benar, selamat ya Nona Sakura. Anda bisa menjadi ibu dari seorang Uchiha sekarang ini," ucap wanita itu meledek.

Ya, bagaimana dia bisa tahu jika Sakura akan menjadi calon ibu dari seorang Uchiha? Tentu saja tahu! Ya, mungkin seluruh orang di Konoha sudah mengetahui itu. Mengetahui jika Sakura dari klan Haruno 'lah yang diakui Sasuke sebagai salah satu anggota klannya dan akan melahirkan anak-anak generasi baru berdarah Uchiha. Dasar Uchiha yang bisa dibilang hampir punah.

" Kalau begitu aku permisi dulu ya Nona Sakura. Jika anda berkenan, anda bisa beristirahat dulu di sini," ucap wanita itu membuyarkan lamunan Sakura.

" Iya, terima kasih." balas Sakura dengan senyumannya.

Sekarang hanya ada dia yang terdiam sendiri di ruangan pemeriksaan dan detak jarum jam yang bisa terdengar jelas. Terlihat air mata mulai mengumpul dan menggenang di mata emeraldnya. Bukan, sudah pasti ini bukan sebuah tangian kesedihan melainkan sebuah tangisan bahagia.

Senyuman kecil mengembang di wajahnya yang masih dengan ekspresi tidak percaya setelah mendengar segala penjelasan barusan. Selain bahagia, dirinya merasa bersalah karena tidak sedikit pun memberikan waktu untuk memperhatikan dirinya sendiri karena itu artinya sama saja tidak memperhatikan bayinya.

Sekilas Sasuke terlintas pada benak Sakura. Senyuman pun muncul kembali di wajahnya dan tangannya pun lagi-lagi mengusap perutnya lembut. " Semoga ayahmu senang,"

~oOo~

" Sasuke-kun," Sakura memanggil orang yang dicarinya itu begitu memasuki rumahnya yang bisa dibilang sederhana namun luas.

Kepalanya menoleh ke arah kiri dan kanan secara bergantian dan nama itu terus disebutnya. Namun hasilnya nihil.

" Kemana dia?" gumam Sakura sambil mencoba mencarinya di lantai 2.

Hasilnya sama saja, tetap nihil. Kini dirinya yakin jika orang yang dicarinya memang tidak ada di situ. Tiba-tiba hatinya terusik untuk memasuki kamar yang terletak di lantai 2 dan letaknya yang agak di pojok belakang. Ya itu adalah kamar Itachi Uchiha dulu dan sempat ditempati oleh Sakura. Kondisinya masih sama seperti beberapa saat yang lalu.

Meski tidak ada yang menempati kamar itu, kondisinya tetap bersih karena Sakura rajin mengontrol kebersihkan seluruh rumahnya.

Dia rebahkannya tubuhnya yang terasa sudah lelah dan ngilu di sekitar punggungnya di atas kasur berlapiskan sebuah seprei berwarna putih tulang. Matanya menerawang langit-langit yang ada di hadapannya. Pikirannya melayang dan sesekali senyuman-senyuman terlukis jelas di wajahnya.

Sebenarnya yang sedang ia pikirkan adalah memutar memorinya mengingat-ingat segala kejadian yang berhubungan dengannya dan Sasuke. Sejak pertama kali bertemu dengannya di akademi, lalu dengan beruntungnya bisa satu kelompok dengan Sasuke, rasanya terancam mati bersama Sasuke di tes Chunin, lalu mencoba merangkul Sasuke saat kerapuhan dan bisikkan sesat menyelimuti Sasuke, melihat Sasuke yang hampir mati saat menjalani misi, rasanya mengetahui penderitaan Sasuke, menyatakan perasaannya pada Sasuke untuk yang pertama kalinya, setelah itu mencoba berbagai cara dan memendam segala macam rasa sakit saat menunggu kepulangan Sasuke ke Konoha dengan segala macam harapan Sasuke bisa kembali dengan selamat dan hatinya yang berubah, lalu yang palig membuatnya tersenyum lebar adalah saat mengingat pada akhirnya ia sukses menikah dengan pria berdarah dingin itu.

" Aku beruntung. Terima kasih Tuhan."

Ya, hal ini sangat sangat sangat wajar dan pantas untuk diucapkan oleh Sakura. Saat semua orang ketakutan dan membenci Sasuke namun Sakura tidak pernah sekalipun berniat untuk meninggalkan Sasuke. Karena ia tahu Sasuke adalah korban dari rasa kesepiannya dan ia bersyukur kini dalam rahimnya akan ada anggota kelurga baru Uchiha yang sangat diharapkan Sasuke dan Sakura adalah ibunya. Tentu suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak terbatas.

Kini bisa ia rasakan matanya mulai meredup. Pandangannya mulai tidak jelas. Hah.. sebenarnya ingin rasanya berkeliling rumah dan membereskannya namun sejujurnya Sakura masih lelah dan tentu saja ia tidak bisa lupa jika dirinya sedang mengandung sekarang. Terlalu lelah adalah larangan.

.
.

Kleeek..

Daun pintu kamar pun bergeser. Yang tertangkap oleh sepasang onyx adalah seorang perempuan yang sedang tertidur pulas.

Tubuhnya meringkuh merasakan dinginnya udara yang menyelimuti ruangan itu. Angin malam merembes masuk melalui celah-celah jendela yang sengaja dibuka oleh Sakura saat dirinya baru memasuki ruangan itu dengan alasan ingin sekedar merasakan terlapaan lembut udara sepoi-sepoi saat itu.

Sasuke laki-laki yang memiliki sepasang mata onyx itu pelan-pelan mendekat ke arah Sakura yang tengah terlelap. Kasur yang ditiduri oleh Sakura terasa sedikit membal begitu Sasuke duduk di tepi kasur dan memperhatikan Sakura. Yah entah apa yang sedang dipikirkannya.

Selimut yang terlipat rapi di bagian bawah kasur pun diambilnya dan menyelimuti Sakura dengan hati-hati.

" Bisa tidur juga," ucap Sasuke pelan dengan senyuman kecil.

Tatapan onyx 'nya kini menuju pada jendela yang terbuka kecil. Angin-angin malam yang masuk membuat tirai biru muda bercorak kotak-kotak tertiup ke sana kemari. Sasuke terusik untuk menutup jendela yang dibuka oleh Sakura. Ya, karena ulahnya itu sekarang membuat dirinya sendiri kedinginan.

" Ng~ Sasuke," panggil Sakura sambil menarik pelan baju yang dikenakan Sasuke. Tangannya yang tertutupi di bawah selimut menyimbul keluar mengusap-usap pelan matanya yang setengah tertutup.

" Hn," jawab Sasuke singkat seperti biasanya.

" Sejak kapan di sini?"

" Sejak tadi." Sasuke menoleh dan membalas tatapan Sakura.

Entah mengapa Sakura menarik baju Sasuke lebih kuat, membuat Sasuke menatap Sakura lebih dalam seperti mengartikan meminta penjelasan.

" Sasuke aku.." Sakura menggantungkan perkataannya. Tubuh mungilnya yang merengkuh dalam selimut mencoba bangkit, membenarkan posisinya.

Kini Sakura tengah duduk diam dan selimut tebal itu tetap menutupi kakinya. Tangannya semakin lama semakin menjalar ke tubuh Sasuke, membuat Sasuke terduduk dipelukkannya.

Lagi-lagi Sasuke menoleh, melihat Sakura yang memeluknya dari arah belakang. Sasuke bisa merasakan kini kepala Sakura tengah bersandar padanya, pada punggung lebarnya.

" Ada apa?" tanya Sasuke yang mulai penasaran meski suaranya tetap datar.

" A..apa kau akan marah?" suara Sakura terdengar agak bergetar. Sakura mempererat pelukannya. Entahlah, rasanya Sakura membuat Sasuke sedikit khawatir.

Sasuke menghela nafas panjang. " Bagaimana aku tahu?"

" Sasuke, sebenarnya aku.. sebenarnya aku.. aku sedang.." lagi-lagi Sakura menggantung perkataannya. " Aku sedang mengandung," lanjut Sakura dan suaranya terdengar lebih seperti bisikkan.

Mata onyx Sasuke membulat sempurna. Badannya serasa membatu untuk beberapa saat dan menengok ke arah Sakura yang ada di belakangnya dengan sedikit ragu. Mukanya yang biasanya menunjukkan ekspresi datar kini telihat berbeda. Entahlah, kita tidak pernah bisa tahu apa yang sedang dirasakan oleh seorang Uchiha.

" Sasu...Sasuke-kun," Sakura lagi-lagi mempererat pelukkannya dan sedikit merenggut baju Sasuke.

" Apa maksudmu Sakura?" tanya Sasuke memastikan. Hm, ya sepertinya ia tidak begitu percaya atau ingin memastikan lagi perkataan Sakura barusan yang jujur saja membuatnya kaget.

Sakura menggembungkan pipinya. " Masa kau tidak mengerti?" Wajah Sakura yang terlihat 'sok ngambek' lagi-lagi berubah -menunjukan kegelisahannya lagi. " Aku sedang mengandung anakmu Sasuke," ucap Sakura sedikit berbisik.

Lidah Sasuke serasa kelu begitu lagi-lagi mendengar pernyataan Sakura yang membernarkan dugaannya itu. Tangan Sasuke yang besar kini aktiv memegang tangan Sakura yang melikari punggungnya dari samping belakang, lalu melepaskannya pelan-pelan.

" Sasuke-kun, ke..kenapa? Kau marah?" Sakura melontarkan kata-kata itu begitu disadarinya Sasuke mencoba melepaskan tangan mungilnya itu. Berbagai macam pikiran negatif yang pernah melintas di pikirannya lagi-lagi muncul. Tidak, Sakura tidak mau kalau kekhawatirannya seharian ini benar-benar terjadi.

Eh? Sakura merasakan beban yang lumayan berat tengah menimpa tubuhnya. Ya, beban itu berasal dari tubuh Sasuke yang besar. Sakura mulai merasa sesak mendapati sebuah pelukkan dari Sasuke.

" Terima kasih... Sakura," bisik Sasuke sambil terus memeluk Sakura dan tangannya mengusap pelan rambut Sakura dari belakang.

Sakura diam sejenak. Tidak, Sasuke tidak marah tapi malah berterima kasih padanya.

" Sasu... kau tidak marah?" tanya Sakura memberanikan diri.

" Haaah.. bodoh. Mana mungkin aku marah,"

" Be..benarkah?"

Sasuke tidak menjawab pertanyaan terakhir Sakura. Rasanya hatinya meledak-ledak. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan emosi sedasyat ini. Ya, senang, bangga, bahagia, tidak percaya ditambah rasa kaget -entah jadi apa rasa itu. Semuanya tercampur aduk dihatinya, pikirannya kosong. Memiliki anggota keluarga baru Uchiha rasa-rasanya masih mustahil.

Pelukkan yang cukup lama itu tersudahi. Sasuke menatap emerald Sakura yang terlihat ragu-ragu namun ada suatu ketegasan di dalamnya.

" Ke..kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan ragu tanpa memalingkan pandangannya yang terfokus pada mata hitam Sasuke yang sejajar dengan matanya.

Hm, spontan Sakura memenjamkan matanya. Bisa dirasakannya sesuatu yang lembut, hangat dan basah di bibirnya. Tentu ia tahu itu ciuman dari Sasuke untuk keberapa kalinya. Yah meski bisa dihitung dengan jari karena pasti kalian tahu sendiri betapa susahnya bagi Sasuke untuk melakukan hal seperti ini duluan.

" Sasu.." Sakura menatap onyx Sasuke mantap setelah melepas ciuman singkat itu. Lalu ditariknya lagi tubuh Sasuke dan membiarkan dirinya trus berada dalam dekapan Sasuke yang membalas pelukkan Sakura barusan.

.
.

Sepasang suami istri yang sedang dalam masa bahagianya kini telah beranjak dari sana dan tengah berada pada kamar pribadi mereka. Ya ingat bahwa tempat barusan adalah kamar Itachi, hm maksudnya almarhum Itachi.

" Sakura," Sasuke membuka mulutnya meski sepasang matanya masih tertuju pada layar televisi yang sejajar dengan letak kasur mereka.

" Hn," jawab Sakura meniru gaya bicara Sasuke.

" Dingin sekali. Aku ingin tanya sesuatu," balas Sasuke sambil meledek Sakura,

Sakura yang sudah meringkuk dalam selimut -bangun lalu menetap Sasuke menunggu pertanyaan.

" Berapa usia kehamilanmu?" tanya Sasuke yang tetap menatap layar televisi.

" Huh, kalau bicara tatap lawan bicaramu Sasuke-kun." tegur Sakura.

Sasuke menghelakan nafas lalu menoleh ke arah Sakura yang sudah duduk di sebelah kirinya.

" Hehehe penurut juga ya. Hm, aku tadi pagi mengeceknya di Rumah Sakit dan kata mereka usianya sudah 3 bulan dan hampir 4 bulan. Ada apa?" Sakura tertawa kecil selagi menjawab pertanyaan Sasuke.

" Tidak apa. Hm, tapi.." lanjut Sasuke ragu.

" Ta..tapi apa Sasuke-kun? Ada masalah?" Wajah Sakura yang sudah terlihat lelah dalam seketika menjadi segar kembali.

" Bisa jaga dirimu dan anak itu 'kan?" Sasuke menjawab pertanyaan Sakura dengan sebuah pertanyaan.

" Tentu aku bisa."

Tersirat sebuah keraguan pada wajah Sasuke yang meskipun bisa disembunyikan di wajah datarnya namun untuk kali ini bisa terlihat.

" Sasu..sasuke kenapa? Apa ada masalah?" Sakura mulai terlihat khawatir.

Sasuke mengunci mulutnya rapat-rapat dan terlihat dirinya sedang memikirkan sesuatu.

" Sasuke jawab aku," kata Sakura lalu meraih tangan Sasuke dan digenggamnya dengan erat,

" Tidak. Bukan hal besar. Tapi aku akan meninggalkanmu,"

Jujur saja, Sakura amat tersentak mendengar perkataan Sasuke barusan. Meninggalkan? apa maksudnya itu?

" Sasuke, apa maksudmu meninggalkanku, hah!" terlihat cairan bening mulai menggenang tipis ditempat sang emerald berada. " Sasuke ada apa?" lanjut Sakura memaksa.

" Bodoh! Jangan menangis!" Sasuke langsung menjadi salah tingkah melihat Sakura yang bersiap untuk mengeluarkan air matanya sambil sedikit berteriak seperti biasanya.

" Aku banyak misi, akan sering meninggalkanmu sendiri. Itu maksudku!" jelas Sasuke.

Sakura terdiam lalu tersenyum kecil. " Oh begitu ya rupanya. Kau mengkhawatirkanku ya? Sejak kapan jadi seperhatian ini padaku?" tanya Sakura dengan nada meledek.

" Bodoh! Lupakan itu," Sasuke mengendus kesal dan langsung membuang muka dengan pipinya yang sedikit memerah.

" Hehe aku mengerti Sasuke. Aku akan berhati-hati di sini, aku juga akan menjaga bayi Uchiha kita,"

" Uchiha kita? Dia anakku, keturunan Uchiha!" balas Sasuke sambil menatap Sakura yang tengah bersandar di bahunya.

" Apa! Tanpa aku kau tidak bisa 'kan melahirkan bayi Uchiha. Aku ini penolongmu Sasuke-kun," Sakura langsung menunjukkan ekspersi wajah kesal.

" Haaaah... tapi tanpa aku kau juga tidak bisa mengandung bayi Uchiha kan. Aku ini juga penolongmu," balas Sasuke yang entah sejak kapan jadi suka meladeni omongan Sakura yang seperti anak-anak itu.

" Kenapa?" tanya Sasuke yang melihat tingkah Sakura berbeda dari sebelumnya.

Sasuke lagi-lagi rasanya bisa jadi salah tingkah jika ditatap begitu oleh Sakura tanpa bicara satu patah katapun.

" Aku mencintaimu," ucap Sakura sambil tersenyum. Wajahnya terlihat begitu manis bagi Sasuke saat itu. Ya, hanya saja sayangnya Sasuke tidak bisa menyampaikan perasaannya yang sesungguhnya pada Sakura.

" Hn. Aku tahu,"

Hanya kalimat pendek itu yang bisa dilontarkan Sasuke tiap kali Sakura mengatakan kalau dia mencintai Sasuke.

" Sasuke-kun,"

" Hn,"

" Kapan kau berangkat misi?" Sakura mengingat kembali tentang misi Sasuke yang sebelumnya sudah ia dengar dari Kakashi.

Sasuke terdiam sejenak. " Besok," lanjutnya.

" Secepat itu!" tanya Sakura kaget.

" Hn. Hanya untuk mengecek keadaan,"

" Sasuke-kun..." Sakura menyenderkan kepalanya lagi pada bahu Sasuke yang tengah duduk di sebelahnya. " Pulanglah segera dengan selamat ya,"

- To be Continued-


AAAAAAAA selesai juga .

Sebelumnya maaf banget buat segala kegajean, typo(s), OOC dan lain-lainnya ya.

MAAF JUGA LAMA APDET! Aku buat ini sekilat mungkin malam ini. Ternyata jadi anak SMA itu berat ya .

Mungkin chap ini jelek dan pendek, maafkan saya yah! Tapi mudah2an bisa buat yang lebih bagus lagi dan bakal aku cek ulang penulisannya (mungkin besok).

REVIEW YA! Untuk saran di chap ini, biar aku bisa buat next chap lebih bagus..Oh ya, aku ada mau tanya sesuatu...

Saran yah! Dari readers sendiri mau cerita ini berlanjut truskah sampe baby Uchi muncul atau lebih baik kita akhiri saja? Aku rada bimbang takut pada readers dah boseeeeeeen :'(

Oke akhir kata TERIMA KASIH mau baca dan MAAF buat segala kekurangannya DAN! REVIEW YAH! ^_^