I'm Married a Nasty Guy
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU/OC/OOC/
Genre: Romance
Rate: T
.
Summary: Demi membujuk ibunya agar mau berobat, Sakura rela menikah diusia 18 tahun. Meskipun harus dengan pria aneh bermasker yang dikiranya maniak yang bahkan tidak ia kenal.
.
Don't like, don't read!
Not kakasaku fans, don't read!
Chapter 10 - Rin
.
.
Taksi dari airpot itu berhenti di sebuah rumah megah berlabelkan Hatake di pagarnya. Seorang wanita berambut coklat sebahu itu turun dari taksi. Setelah membayar, taksi itu meninggalkan si wanita.
"Waaah.. sudah lama sekali aku pergi, ya. Sudah banyak yang berubah dari mansion ini!" seru wanita itu yang memandang bangunan mansion Hatake. Si wanita melangkah masuk ke dalam mansion.
'TING….TONG….' suara bel rumah berbunyi dari dalam mansion. Seorang wanita muda berambut coklat panjang dengan seragam pelayan dating membukakan pintu.
"Hai, Ayame-san!" sapa wanita itu pada Ayame. Ayame terkejut dengan orang yang baru dilihatnya.
"R..Rin-sama?" Tanya Ayame tak percaya. Rin hanya meringis sambil membentuk tanda 'V' di kedua jarinya.
"Apa Kakashi ada?" Tanya Rin pada Ayame. Ayame terkejut dia bingung akan mengatakan apa pada Rin karena ia tahu sejarah Rin dan Kakashi barang sedikit. Sedangkan Sakumo yang hendak berangkat ke kantor mendapati Ayame tampak menerima tamu. Asuma mengikuti dari belakang Sakumo.
"Siapa yang datang, Ayame?" Tanya Sakumo menghampiri pintu depan. Ayame terkejut lalu sedikit membungkuk pada Sakumo.
"Sakumo-sama, Rin-sama datang." Kata Ayame. Sakumo yang sudah di depan pintu terkejut dengan kedatangan Rin. Ayame merasa tugasnya telah selesai dan kembali ke dalam rumah.
"Hai, paman!" sapa Rin dengan senang. Wajah Sakumo berubah dingin melihat Rin.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Sakumo dingin. Rin terkejut dengan respon Sakumo.
"Loh? Paman tak suka aku datang?" Tanya Rin sedikit heran.
"Bukan begitu, kedatanganmu ini tak terduga. Kau datang disaat yang tidak tepat." Rin terdiam dengan perkataan Sakumo.
"Aku hanya mencari Kakashi. Apa terjadi sesuatu padanya? Sejak kemarin aku SMS dan menelponnya tidak dibalas." Kata Rin menjelaskan. Sakumo menghela nafas karena ia tahu Kakashi sedang bersama Sakura saat itu.
"Kalau kau mencari Kakashi, ia tidak ada di Jepang." Kata Sakumo kemudian. Asuma terkejut karena ia tahu, Kakashi masih di Jepang.
"Benarkah? Kemana ia pergi? Dan lagi, kenapa aku tidak di beri tahu?" Tanya Rin kecewa.
"Dia pergi mengurus kantor cabang yang ada di Amerika. Lagipula, kau sudah tak ada hubungan dengan Kakashi lagi sejak kau meninggalkannya untuk Obito, kan? Jadi, untuk masalah apa kau kembali ke Jepang?" Tanya Sakumo sinis pada Rin. RIn merasa ia sedang disudutkan.
"Aku ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Kakashi."
"Apa? Kan bisa lewat telepon." Kata Sakumo. Sepertinya Sakumo berusaha menghindarkan Kakashi dari Rin.
"Aku harus mengatakan langsung padanya." Kata Rin kemudian. Sakumo menghela nafas. Ia berharap Rin segera pulang ke Kanada dan tidak bertemu dengan Kakashi.
"Kalau begitu, boleh aku menginap disini? Aku akan memakai kamar tamu saja." Usul Rin sambil melangkah kaki memasuki mansion, tapi dicegah oleh tangan Sakumo.
"Tidak boleh." Kata Sakumo tegas. Rin terkejut dengan penolakan Sakumo.
"Kenapa?"
"Ada Karin dan Sasori yang menempatinya." Kata Sakumo kemudian. Rin terkejut senang.
"Jadi, mereka datang?" Tanya Rin dan hanya dijawab dengan 'Hn' dari Sakumo.
"Kalau begitu, aku pakai kamar Kakashi saja." Kata Rin mencoba menembus penghalang tangan Sakumo. Tapi Sakumo tetap keukeuh mencegah Rin masuk.
Sasori keluar dari dalam. Ia mengenakan kaos hijau lengan pendek dan jins hitam panjang. Kunci mobil diputar-putarkan di telunjuknya. Ia hendak pergi menjemput Karin di Konoha Restaurant. Sasori terkejut dengan kedatangan Rin. Tentu saja ia terkejut marah.
"Untuk apa kau kesini?" Tanya Sasori ketus. Sakumo menoleh kebelakang dan melihat Sasori melipat kedua tangannya di dada.
"Ah, Saso-kun! Memang tidak boleh aku kembali ke Jepang?" Tanya Rin santai meskipun ia sedikit terkejut dengan respon negatif dari keluarga teman kecilnya.
"Tentu saja! Kau sudah menghancurkan perasaan Kakashi-nii, dan sekarang kau kembali untuk apa?" Tanya Sasori sinis. Rin merasa tersudut untuk kedua kalinya. Ia menunduk malu.
"Paling-paling mengharapkan Kakashi-nii kembali padanya karena kudengar, Obito-nii koma sejak setahun yang lalu karena kecelakaan." Penjelasan Sasori membuat Sakumo dan Asuma terkejut. Rin benar-benar tersudut sekarang.
"Obito koma?" tanya Sakumo terkejut. Tentu saja ia kenal dengan Obito yang adalah teman kecil anaknya sekaligus keluarga dari rekan bisnisnya.
"Ya! Dia koma. Tidak sadarkan diri selama setahun. Mungkin sekarang Rin putus asa karena Obito tak kunjung sadar dan meninggalkannya." Jawab Sasori ketus. Sakumo memandang Rin yang semakin menuduk.
"Pulang, sana ke Kanada! Kau tidak diharapkan di keluarga ini. Kau masih beruntung tidak bertemu Karin. Karena kalau kau bertemu dengannya, mungkin kau sudah pulang dalam keadaan tidak utuh!" seru Sasori ketus. Rin benar-benar merasa kehilangan muka sekarang. Ia pun membungkuk untuk berpamitan.
"Terima kasih sudah mau menyapaku. Aku akan menginap di hotel saja. Besok aku akan pulang ke Kanada." Kata Rin putus asa. Ia akhirnya meninggalkan mansion Hatake dengan wajah penuh malu. Sakumo dan Sasori hanya menghela nafas lega mendengar Rin akan segera pulang.
"Maafkan aku, Kakashi. Tapi, aku sudah benar-benar putus asa dengan keadaan Obito." Gumam Rin sedih.
.
.
.
Kakashi menjemput Sakura ke Konoha Restaurant. Sakura sudah menunggu dari dalam restaurant. Ino kembali bekerja sedangkan Sakura sudah diminta keluar dari restaurant oleh Sakumo. Dan Jiraiya setuju-setuju saja. Karin sudah pulang dari tadi. Katanya ia ingin mengunjungi rumah Sasuke. Setelah mendapatkan alamatnya dari Ino, ia diantar Sasori ke rumah Sasuke.
Ferrari merah Kakashi berhenti di tempat parkir restoran. Kakashi keluar dari mobilnya dan masuk kedalam restoran. Ia melihat Sakura duduk di meja nomor 15, tempat mereka bertemu pertama kali sebagai calon suami istri. Kakashi menghampiri Sakura.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Kakashi. Sakura yang sedang melamun memandang pemandangan luar dari jendela sedikit terkejut.
"Ah, tidak. Baru saja Ino mulai bekerja." Kata Sakura dengan tersenyum. Ia sedikit tertawa ketika melihat Kakashi mengenakan maskernya lagi.
"Sebenarnya apa resiko terbesar kalau aku menurunkan maskermu?" Tanya Sakura penasaran. Kakashi termangu mendengarnya. Ia lalu menyeringai.
"Tentu saja, memakanmu." Kata Kakashi bernada menggoda. Sakura sedikit blushing karena maksudnya 'memakan' adalah apa yang mereka lakukan tadi pagi dan kemarin malam.
"K..kkau b..bisa, saja, Kashi.." kata Sakura gugup. Kakashi tersenyum geli melihat istrinya memerah dan gugup saat bersamanya.
"Habis ini kemana?" Tanya Kakashi kemudian. Sakura teringat sesuatu dan memerah karenanya. Ia lalu menggenggam tangan Kakashi sambil menunduk mentupi wajah malunya.
"Kita pulang saja. Kau tak ke kantor, kan? Aku.. masih ingin bersamamu." Kata Sakura malu-malu. Kakashi menyeringai.
"Hmm… baiklah, sayang." Kata Kakashi sambil mengecup kening Sakura.
.
.
.
Rin's POV
Sepertinya keluarga Hatake tidak menerima kepulanganku ke Jepang. Mereka benar-benar berniat mengusirku dan menyuruhku kembali ke Kanada. Tapi ini aneh. Kalau Kakashi ke Amerika dan mengurus kantor cabang disana, kenapa Kakashi tak memberitahuku terlebih dulu? Dan lagi, sepertinya Sasori dan paman benar-benar ingin aku meninggalkan Jepang. Kenapa? Sepertinya ada yang disembunyikan disini.
Aku berhenti di trotoar dan menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau. Sekarang tujuanku adalah arah stasiun Shibuya untuk mencari motel. Saat sedang menunggu lampu berubah hijau, kukerlingkan mataku ke sebuah Ferrari merah yang kukenal. Ferrari itu mirip dengan milik Kakashi. Bahkan platnya-pun sama. Aku curiga dengan penumpang Ferrari itu.
Kuarahkan pandanganku ke dalam Ferrari itu. Pengemudinya memiliki rambut perak menjulang mirip dengan Kakashi. Dan ternyata itu memang Kakashi. Aku terkejut. Kakashi tidak sedang di Amerika. Ia bahkan masih di Jepang. Lalu, kenapa paman mengatakan Kakashi di Amerika?
Seorang wanita berambut pink sebahu duduk disampingnya. Kupikir dia rekan kerja Kakashi. Tapi aku terkejut. Tiba-tiba wanita itu mencium pipi kanan Kakashi. Mataku membulat sepenuhnya ketika Kakashi menurunkan maskernya dan mencium bibir wanita itu. Mereka berciuman saat lampu merah. Aku terpaku kaku melihat mereka. Sampai akhirnya klakson mobil mengisyaratkan mereka untuk segera melajukan mobilnya. Mereka tersadar, begitu juga denganku. Ferrari itu melaju entah kemana dengan membawa satu pertanyaan besar bagiku. Apa yang telah terjadi selagi aku pergi?
.
.
.
Aku pergi ke Shibuya. Karena lapar, kumasuki sebuah restoran bernama Konoha Restaurant. Aku tahu restoran tersebut karena pemiliknya adalah paman sahabat kecilku.
Aku duduk disebuah meja untuk dua orang. Seorang waitress berambut hitam sebahu memberikan daftar menu padaku. Setelah melihat-lihat sejenak, akhirnya kupilih moccachino vanilla dan steak ayam saus jeruk. Aku tertarik dengan menu ini karena seingatku tak pernah ku menemukan menu ini. Dulu aku, Kakashi, dan Obito sering makan disini. Makanya aku mudah mengenali mana makanan yang baru muncul atau makanan lama.
Setelah menunggu 15 menit, seorang pelayang berambut pirang pucat datang menghampiriku dengan membawa pesananku. Mata aquamarinenya tampak menyiratkan kegembiraan di wajahnya.
"Silahkan, nona. Moccachino Vanilla dan Chicken Steak with Orange Sauce." Katanya dengan riang.
"Kau terlihat senang sekali." Komentarku padanya. Ia tersenyum malu sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Iya. Hehe.. temanku menikah kemarin. Dan ia terlihat sangat senang. Memang sejak ayahnya meninggal, ia dan ibunya hidup susah. Sekarang ia sudah bahagia dengan suaminya." Kata pelayan itu kemudian. Terlihat sekali kegembiraannya keluar karena melihat temannya senang. Menikah memang harus bahagia. Tapi tidak denganku. Setelah aku menikah, Obito malah meninggalkanku koma. Aku jadi putus asa.
"Nona tidak apa-apa?" Tanya pelayan itu. Sepertinya ia melihat wajahku yang berubah sedih.
"Ooh.. tidak apa-apa. Baguslah, kalau temanmu punya kehidupan yang lebih baik, sekarang. Oh, ya. Steak ayam ini menu baru, kan?" tanyaku pada pelayan itu. Pelayan itu mengerutkan keningnya tanda heran.
"Tidak, ini sudah lama. Temanku yang menikah kemarin yang membuat resepnya." Jawabnya. Aku lupa kalau sudah 4 tahun aku meninggalkan Jepang.
"Oh, ya.. ya.. maaf. Dulu aku sering ke restoran ini. Dan sekarang aku kembali dari Kanada setelah 4 tahun tinggal disana." Kataku membuat pelayan itu tersenyum.
"Kalau begitu, selamat datang kembali dan selamat menikmati hidangan kami." Kata pelayan itu seraya membungkuk sopan.
"Ya, terima kasih." Kataku. Pelayan itu meninggalkanku untuk kembali ke dapur. Sedangkan aku mencicipi masakan dari menu baru ini.
"Hmm.. enak sekali. Rasanya seperti memakan masakan yang dibuat Chef Haruno." Gumamku. Chef Haruno adalah seorang chef hebat yang kukenal. Dulu ia bekerja direstoran ini sampai akhirnya ditugaskan ke restoran Italia. Seminggu sebelum aku ke Kanada, kudengar ia meninggal karena kecelakaan. Di pemakamannya, ku lihat seorang gadis SMP yang menangis. Sepertinya gadis itu anaknya.
Ah, masalalu membuat ku ingin selalu mengingatnya. Meskipun ada yang senang maupun sedih. Seperti masalaluku dengan Kakashi. Tak kusangkah pengaruhnya sampai membuatku ditolak habis-habisan oleh Paman dan Sasori. Aku sedikit curiga dengan gadis berambut pink dan keberadaan Kakashi di Jepang. Mungkin hanya salah lihat. Akhirnya masalah itu tak kupikirkan lagi dan aku melanjutkan makanku.
Setelah merampungkan makananku, segera saja kubayar semua pesananku. Setelah itu aku segera meninggalkan restoran yang penuh kenangan kami bertiga. Aku, Kakashi, dan Obito.
End of Rin's POV
Jiraiya memandang sosok Rin yang pergi meninggalkan restorannya.
"Rin? Kenapa ia disini?"
.
.
.
Sakura sedang belajar untuk menyiapkan pelajarannya besok di ruang keluarga rumahnya. Ia duduk di lantai ruang keluarga yang beralaskan karpet hitam yang hangat. Meja ruang keluarga yang bertinggi rendah itu dijadikannya meja belajar. Sakura sengaja belajar di ruang keluarga karena lampu ruang keluarga lebih terang daripada lampu kamarnya dan Kakashi. Kakashi yang melihat Sakura sedang giat belajar tampak kesal.
"Kau, giat sekali. Istirahatlah dulu, sudah 3 jam kau duduk di posisi seperti itu. Apa pantatmu tidak capek?" Tanya Kakashi sedikit merajuk. Ia ikut duduk di samping Sakura dan memegang pantatnya pelan.
Sakura tampak tidak peduli dengan yang dilakukan suaminya. Kakashi mengernyit kesal melihat dia diacuhkan. Kakashi pun menutup buku cetak Sakura. Sakura tidak peduli dan kembali membuka buku cetaknya.
Kakashi kesal dia benar-benar diacuhkan oleh Sakura. Kakashi menutup buku cetak itu dan mengambilnya. Sakura kaget dan merucutkan bibirnya tanda kesal.
"Kashi.. aku sedang belajar! Minggu depan ada UNAS. Kau mau aku tidak lulus?" Tanya Sakura kesal. Kakashi malah memandang wajahnya cemburu. Ia merasa Sakura lebih perhatian dengan UNAS nya daripada dengan dirinya.
"Salah sendiri mengacuhkanku saat aku dirumah." Sahut Kakashi. Sakura menghela nafas melihat tingkah pria perak yang telah menjadi suaminya ini.
"Terus kau mau aku ngapain, ha?" Tanya Sakura. Kakashi menyeringai senang. Ia segera menggendong Sakura ala bridal style dan berjalan ke kamarnya.
"Hei, Kashi! Turunkan aku! Aku harus belajar untuk besok!" Seru Sakura kesal sambil memukul-mukul dada bidang Kakashi. Bukannya mengendurkan gendongannya, malah semakin kuat dan erat.
"Belajarnya kalau aku tidak dirumah saja. Kau harus bersamaku kalau aku ada, oke?" kata Kakashi seraya menyeringai nakal. Sakura terkejut mendengar perkataan Kakashi. Karena ia tahu, Kakashi menginginkannya.
"Haaaah.. ya sudahlah.." sahut Sakura akhirnya menyerah. Kakashi menyeringai penuh kemenangan. Ia pun masuk ke kamar mereka membawa Sakura dan menutup pintunya.
.
.
.
Sepulang sekolah, Kakashi menjemput Sakura. Sebelum pulang, Sakura meminta Kakashi mengantarnya ke departemen store di Konoha. Sakura bilang ia ingin membuat masakan yang istimewa untuk Kakashi untuk merayakan Sakura yang masih menempati ranking pertama di sekolah. Kakashi menyanggupinya.
Rin's POV
Aku ke departemen store Konoha untuk membeli beberapa makanan yang akan ku makan di pesawat saat akan ke Kanada nanti malam. Sebenarnya bisa dibeli di bandara. Tapi melihat harga makanan ringan yang dijual di bandara membuatku mulas karena memang lumayan tinggi.
Aku berhenti di sebuah rak yang memamerkan kripik pedas. Aku bingung akan memilih yang rasa keju pedas atau barbeque pedas. Keduanya aku suka. Tiba-tiba suara seseorang yang kukenal masuk ke telingaku. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari dimana suara itu berasal.
"Bagian daging disebelah situ, Saku!" suara sang pria sambil menunjuk di depannya.
Berjarak 2 rak makanan ringan dari depanku, sosok pria yang ku kenal tampak lewat. Ia menggandeng seorang wanita berambut pink. Aku semakin yakin itu adalah Kakashi. Ternyata pandanganku saat melihat Kakashi berciuman di jalan itu tidak salah. Kakashi memang tidak ke Amerika. Paman dan Sasori sudah berbohong denganku.
Aku memutari rak untuk bisa sejalan dengan Kakashi. Tapi begitu aku akan mengikutinya, aku kehilangan jejak. Kakashi dan gadis berambut pink itu sudah hilang entah kemana. Aku berdecak kesal. Kenapa Paman dan Sasori berbohong padaku? Dan lagi, siapa gadis berambut pink itu?
Aku penasaran dengan semua yang terjadi. Rasanya aku sudah melewatkan hal terbesar dalam hidupku. Kuputuskan untuk membatalkan penerbanganku ke Kanada dan tetap di Jepang.
.
.
.
Aku kembali ke mansion Hatake. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku sudah yakin akan bertanya habis-habisan tentang Kakashi pada Paman atau Sasori. Tak peduli ada Karin di rumah atau tidak. Tak peduli Karin akan membunuhku, aku tetap akan bertanya. Aku harus tahu semuanya.
Kulangkahkan kakiku memasuki pekarangan mansion yang luas. Kupencet bel rumah dan terdengar langkah kaki mendekati pintu.
Pintu terbuka dan keluarlah Sasori yang memandangku dengan wajah kaget.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Sasori ketus namun tetap tenang.
"Kenapa kau dan Paman berbohong padaku?" tanyaku balik dengan sedikit membentak.
"Apa maksudmu?" Tanya Sasori yang masih memasang ketenangan di wajah baby face-nya.
"Aku melihat Kakashi di Jepang dua kali. Bahkan aku melihatnya berjalan dengan cewek pink aneh itu. Siapa dia? Kau pasti tahu sesuatu!" seru ku dengan keras hingga sedikit menggema di ruang tamu mansion yang sepi. Beberapa pelayan tampak berdatangan melihat kami.
"Aku tak tahu apapun. Kakashi di Amerika." jawab Sasori berusaha tenang.
"Kau, bohong! Aku melihatnya sendiri, Kakashi di Jepang!" seruku. Aku menabrak Sasori untuk memasuki mansion. Ku cek seluruh kamar sambil mengumandangkan nama Kakashi untuk memanggilnya. Sasori mengikutiku.
"Rin!" Seru Sasori santai. Aku tak memperdulikannya dan terus mengecek kamar yang berjumlah 10 di mansion ini. Sampai akhirnya aku ke kamar Kakashi.
Kubuka kamarnya dan kulihat seluruh barang-barangnya telah kosong. Hanya ada kasur king size yang terlihat tak pernah dipakai.
"Rin!" Panggil Sasori. Aku masih mengacuhkannya. Kubuka isi klosetnya dan melihat jas-jas kerja bergantungan rapi tak tersentuh.
Aku menghampiri Sasori untuk melewatinya keluar dari kamar Kakashi.
"RIN UCHIHA!" Panggil Sasori dengan kerasnya. Aku terkejut dan berhenti. Tanpa kusadari, Sasori menarik tanganku agar aku membalik padanya.
"Hentikan, Rin! Kau tak malu, apa sudah mengobrak abrik rumah orang sembarangan?" Tanya Sasori dengan tegas.
Paman Sakumo dan Asuma tampak datang dari bawah dan terkejut melihatku disini.
"Rin. Kau sudah menghilang dari Kakashi-nii. Kau sudah lenyap! Dan karenamulah Kakashi-nii melupakanmu! Kau sendiri yang meninggalkannya, tapi kenapa kau kembali lagi, ha? Kau ingin membuat Obito sakit hati seperti Kakashi dulu saat ia tersadar?" Tanya Sasori bertubi-tubi. Rin hanya memandang mata Sasori dengan tajam.
"Ada apa, ini?" Tanya Paman Sakumo. Sasori menghela nafas.
"Dia mencari Kakashi disini." Jawab Sasori tampak kesal melihatku.
"Sudah kubilang, Kakashi di.."
"Tapi aku melihatnya sendiri! Ia berjalan dengan seorang wanita. Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku yang menyela perkataan paman Sakumo.
"Tanya saja sendiri pada Kakashi. Lagi pula, harusnya kami yang bertanya padamu. Kenapa kau kembali ke Jepang padahal Obito, suamimu sedang sakit?" Tanya paman membuatku tersudut lagi. Lama-lama aku tidak tahan berada di mansion ini. Bertanya di mansion ini-pun tidak akan membuahkan hasil. Malah aku yang tersudut karena dituduh menghianati Obito.
Aku pun melenggang pergi meninggalkan mansion. Tak peduli sebanyak apa pun paman dan Sasori memanggilku, aku tetap pergi. Lebih baik langsung ke kantor Kakashi besok.
Ya. Besok aku akan ke Hatake Corp.
End of Rin's POV
.
.
Karin pulang ke mansion dan melihat suasana buruk yang menguar dari kakak dan pamannya, bisa dipastikan telah terjadi sesuatu sebelum ia pulang.
"Dari mana, Karin? Anak SD sepertimu pulang malam tuh, gak boleh!" sahut Sasori ketus melihat adiknya pulang malam. Sepertinya kemarahannya terlampiaskan oleh kedatangan Karin yang pulang malam.
"Habis dari rumah Sasuke-kun dan mencoba pai apel buatan Mikoto-kaa chan." Jawab Karin santai. Ia melenggang naik ke lantai dua untuk beristirahat di kamarnya. Sasori tampak kesal melihat adiknya tidak peduli sama sekali padanya sejak Karin punya pengagum baru, yaitu Sasuke. Padahal Karin punya pengagum ataupun tidak, Sasori tetap saja tidak dipedulikan.
"Mikoto-kaa chan?" Tanya Sasori heran. Wajah Karin berubah senang ketika Sasori menanyakannya.
"Ya, Mikoto-kaa chan. Ibu Sasuke-kun. Aku memanggilnya begitu karena aku yakin aku akan menjadi istri Sasuke-kun!" Sahut Karin yakin. Mendengar jawaban adiknya. Sasori hanya menghela nafas.
"Kau tak tahu, kan apa yang telah terjadi di mansion?" Tanya Sasori pada Karin. Karin terdiam memandang wajah kakaknya.
"Setidaknya kau bertanya ada apa yang terjadi pada kami." Kata Sakumo kemudian. Karin mengernyit heran.
"Memang apa yang terjadi?" Tanya Karin kemudian. Sasori menghela nafas.
"Rin kembali ke Jepang." Dan perkataan Sasori sukses membuat mata Karin membulat sempurna.
.
.
.
Rabu siang menjelang sore.
Rin datang ke Hatake Corp dengan tegasnya. Meskipun di cegah oleh beberapa security namun ia mengatakan dengan tegas bahwa ia ada perlu dengan direktur Hatake Corp, Kakashi Hatake.
Rin memasuki ruangan berkaca yang dipenuhi meja-meja sekertaris. Salah satu sekertaris yang memiliki guratan luka diantara hidungnya tampak mencegahnya untuk masuk.
"Maaf, Kakashi-sama sedang di Amerika sejak setahun yang lalu." Jelas pria ber-name-tag 'Iruka Umino'.
"Aku tak peduli kau berkata Kakashi di Amerika atau tidak!" Seru Rin sambil memaksakan dirinya masuk ke ruangan kerja Kakashi.
'BRAAAK' Pintu ruang kerja Kakashi dibuka paksa. Rin melihat jelas Kakashi sedang duduk santainya sambil membaca buku bercover hijau. Kakashi sendiri terkejut sekali dengan kepulangan Rin yang tiba-tiba.
"Akhirnya kita, bertemu, Kashi." Kata Rin sambil berjalan mendekati meja kerja Kakashi. Tapi ia segera ditahan oleh beberapa security.
"Maaf, Kakashi-sama. Saya akan segera membawanya." Kata salah satu security.
"Tidak-tidak perlu. Biarkan saja." Kata Kakashi yang telah menenangkan dirinya tentang keberadaan Rin.
Para karyawan yang melihat dan security pun meninggalkan Kakashi dan Rin di kantor. Kakashi menatap Rin dengan tajam. Sedangkan Rin menatap Kakashi dengan penuh pertanyaan.
"Kau harus menjelaskan padaku tentang semuanya." Kata Rin sedikit keras.
"Menjelaskan apa?" Tanya Kakashi tak peduli dan kembali membaca novel kesukaannya yang baru kemarin terbit. Rin terkejut dengan respon Kakashi tentang keberadaannya.
"Kau sudah banyak berubah, Kashi." Kata Rin sambil sedikit tertawa. Kakashi tidak mempermasalahkan perkataan Rin yang terakhir. Ia tetap membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di buku bercover hijau itu. Merasa tidak dipedulikan, Rin menghela nafas.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa paman berbohong tentang kau yang ke Amerika?" Tanya Rin mulai masuk ke pokok pembicaraan. Kakashi mengerling pandangannya ke Rin namun kembali ke novelnya.
"Aku tak tahu kenapa ayah melakukan itu. Kenapa tak kau tanya saja pada Ayah?" Kakashi balik bertanya dan membuat Rin menghela nafas.
"Kalau begitu, ku ganti pertanyaanku." Kata Rin lalu terdiam menatap Kakashi yang masih santai dengan novelnya. Dalam hati Rin berdecak sebal dengan Kakashi yang banyak sekali berubah.
"Siapa gadis berambut pink yang kutemui sedang berjalan bersamamu?" Tanya Rin membuat pikiran Kakashi benar-benar meninggalkan novel hijaunya sekarang.
"Kau melihatku bersama Sakura?" Tanya Kakashi terkejut.
"Jadi namanya Sakura, ya? Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Rin balik. Kakashi terdiam.
"Tak ada hubungannya denganmu. Kau yang meninggalkanku pergi dengan Obito harusnya tidak peduli dengan masalahku. Dan yang terpenting, untuk apa kau kemari?" Tanya Kakashi mulai menyudutkan Rin.
'Kenapa semua Hatake suka menyudutkanku, sih?' gumam Rin dalam hati.
"Aku mengharapmu kembali, Kashi." Kata Rin yang sukses membuat onyx kembar Kakashi membulat tak percaya. Novel Icha-Icha Tacticsnya jatuh terlepas dari tangannya.
"K..kau bilang apa?" Tanya Kakashi meyakinkan pendengarannya.
"Ya. Aku sadar, kaulah yang paling kucintai. Aku mencintaimu dan aku menyesal meninggalkanmu."
"Lalu bagaimana dengan Obito?" Tanya Kakashi mengingat Rin masih berstatuskan istri Obito.
"Aku sudah putus asa dengannya. Dia meninggalkanku."
"Bohong! Aku tahu benar, Obito sangat mencintaimu. Dia tak mungkin meninggalkanmu!"
"Tapi itulah yang terjadi. Dia meninggalkanku!" perkataan Rin membuat Kakashi terdiam.
.
.
Sakura datang ke Hatake Corp. Sejak pulang dari sekolah, ia berusaha menelpon Kakashi untuk mengantarnya ke rumah sakit menjemput Sakuya. Tapi tak diangkat sama sekali oleh Kakashi. Saat bertanya pada Sakumo, Sakumo malah menyuruhnya ke Hatake Corp. Sakuya kemarin meminta Kakashi dan Sakura datang menjenguknya. Makanya sekarang Sakura berada di depan kantor Hatake Corp.
Sakura masuk dan menghampiri respsionis. Resepsionisnya adalah dua orang wanita yang tampak mmengoborl satu sama lain. Saat melihat Sakura datang dengan seragam sekolahnya, salah satu dari mereka melayani Sakura.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya resepsionis wanita yang memiliki rambut bercepol dua di kepalanya.
"Aku Sakura Hatake, ingin bertemu dengan direktur. Apa beliau sibuk?" tanya Sakura. Ia sedikit bangga menyebut namanya 'Sakura Hatake'. Resepsionis itu tampak ragu dengan Sakura.
"Aah.. sebentar, biar ku telepon bagian sekertaris direktur." Kata wanita itu. Sakura tersenyum dan menunggu wanita bagian resepsionis itu menelpon sekertaris Kakashi.
"Silahkan, nyonya Hatake." Kata wanita itu kemudian.
"Terima kasih." Sakura meninggalkan kedua resepsionis itu untuk melenggang menuju kantor direktur. Tidak sampai 5 langkah, ia mendengar bisik-bisik yang diucapkan oleh kedua wanita dari resepsionis itu.
"Dia istri muda direktur, kan?"
"Iya. Masih muda dan cantik, lagi. Lihat, seragamnya perguruan Konoha." Tambah wanita resepsionis yang lain. Sakura tersenyum. Ia bangga dengan dirinya yang dipuji oleh kedua resepsionis itu. Saat Sakura akan melangkah lagi, Sakura berhenti tiba-tiba karena perkataan resepsionis lainnya.
"Tapi tadi itu heboh, ya di ruang direktur."
"Iya, heboh. Ada wanita yang memaksa masuk ke ruang direktur."
"Padahal sudah dicegah tapi dia tetap memaksa, ya."
"Ya! Dengar-dengar, sih, wanita itu mantan kekasih direktur."
'DEG' Dada Sakura berdebar cepat mendengar perkataan terakhir dari pembicaraan kedua resepsionis itu. Ia merasakan firasat buruk pada Kakashi. Ia segera berlari menuju ruang direktur.
.
.
.
Keadaan tegang tampak menyelimuti ruang kerja direktur. Kakashi dan Rin sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Kakashi tampak berpikir keras dengan perkataan Rin tentangnya. Sedangkan Rin tampak yakin kalau Kakashi masih mencintainya.
"Rin, aku.."
"Aku tahu.. kau masih mencintaiku, kan? Maafkan aku sudah meninggalkanmu dan memilih Obito. Tapi ternyata keputusanku itu salah. Aku menyesal meninggalkanmu." Kata Rin penuh sesal. Tanpa disadari mereka, Sakura telah datang dan mendengar semua itu.
Karyawan bagian sekertaris direksi tampak khawatir dengan Sakura dan berusaha mencegah Sakura masuk. Tapi terlambat. Sakura telah mendengar semuanya.
Sakura ingin mendengarnya lebih jauh dengan sembunyi-sembunyi. Tapi tangannya begerilya mendahuluinya. Tangan kanannya mendorong kenop pintu dan membuka pintu ruang direktur.
'KLEK' Pintu terbuka. Sakura terkejut dengan tangannya yang tiba-tiba telah membuka kenop pintu. Sedangkan Kakashi dan Rin terkejut dengan pintu yang terbuka tanpa ada ketukan terlebih dulu.
Dada Sakura bergetar apakah akan membuka pintu lebih lebar dan masuk atau tidak. Ia sempat berpikir kalau lancing sekali masuk ke ruang kerja direktur perusahaan terbesar se-Konoha. Tapi mengingat ia adalah istri sah Kakashi, membuat batas itu hancur. Sakura memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Kakashi.
Betapa terkejutnya Kakashi melihat istrinya lah yang masuk. Begitu juga dengan Rin. Kakashi berdiri dari kursinya dan menghampiri Sakura yang berjalan dengan sedikit menunduk.
"Sakura, aku bisa jelaskan.." kata Kakashi khawatir. Ia khawatir istrinya mendengar semua pembicaraan mereka. Kakashi, Sakura dan Rin terdiam beberapa saat. Rin menyadari posisinya akan memperburuk suasana.
"Aku ke hotel sekarang. Akan kutunggu jawabanmu, Kashi. Aku yakin, kau pasti menerimanya." Kata Rin sambil meninggalkan Kakashi dan Sakura. Ia melewati Sakura dan memandangnya tajam meskipun Sakura tidak balas memandangnya.
"Kita tak jadi menjenguk ibu. Aku akan bilang kau ada rapat dengan relasi khusus." Kata Sakura sembari tersenyum. Kakashi tertegun dengan senyuman Sakura yang nampak ganjil. Tentu saja itu bukan senyum tulus dari Sakura. Sakura telah mendengar semuanya.
"Itu saja yang ingin ku katakan." Sakura segera pergi meninggalkan Kakashi yang terpaku. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berhenti sebelum 5 langkah tercapai.
"Aku tidak akan pulang nanti malam. Jadi, kau masak sendiri, ya." Kata Sakura dengan senyuman seakan mengejek. Kakashi termangu melihat senyuman Sakura. Sakura benar-benar terluka karena penembakan Rin terhadapnya.
Kakashi hendak menyusul Sakura dan berusaha menjelaskan semuanya. Tapi kaki-kakinya seakan tak mau bergerak. Kedua kakinya terasa kaku dan mematung melihat Sakura terluka.
Kakashi pun terjatuh di kursinya dalam keadaan lemas. Ia memijat keningnya yang benar-benar serasa diremas-remas sekarang.
.
.
Sakura datang ke RS Konoha sendiri. Sakuya sedikit kaget melihat Kakashi tidak bersama Sakura. Ketika ditanya, Sakura hanya tersenyum dan mengatakan Kakashi sibuk. Sakuya merasa ada yang ganjil dengan senyum Sakura. Pasti Sakura dan Kakashi sedang ada masalah pikirnya.
"Yang sabar, ya. Memang, pernikahan dengan batas umur yang terlalu jauh juga bias menjadikan seringnya pertengkaran." Kata Sakuya menasehati. Sakura memandang ibunya dengan sendu. Kenapa sang ibu selalu tahu perasaannya. Kenapa dengan ibunya ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Air mata Sakura tumpah begitu saja. Ia menangis dengan melipat tangan di ranjang ibunya. Sakuya hanya bisa menghela nafas dan mengelus rambut pink Sakura yang sewarna dengan rambutnya.
.
.
.
Sekarang Karin, Ino, dan Sakura duduk melingkar di meja kamar Ino. Hari ini Sakura berniat menginap di rumah Ino setelah melihat dan mendengar kejadian yang tak mengenakkan di kantor Hatake Corp. alas an Karin ikut adalah karena Karinlah yang paling tahu siapa Rin. Maka ia diundang setelah meminta izin dari Sasori yang mulai kesal dengan adiknya yang sering keluar rumah.
"APPAAA! RIN KE KANTOR?" Tanya Karin sambil menggebrak meja. Ino sampai kesal karena mejanya yang tak berdosa di jadikan korban Karin. Sakura hanya mengangguk lesu.
"Lalu apa yang dia lakukan?" Tanya Ino mencoba merenggangkan suasana.
"Dia meminta Kakashi kembali padanya." Kata Sakura lirih. Dia benar-benar tak habis pikir. Kenapa ada Rin diantara mereka. Karin hanya memandang dinding kamar Ino dengan tajam. Anggap saja dinding itu adalah Rin, sudah pasti Karin akan menghancurkannya.
"Bisa-bisanya dia kembali setelah meninggalkan Kakashi!" seru Karin kesal.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Ino. Pandangan Karin berganti kearah Sakura.
"Ya! Apa yang akan kau lakukan? Kau tak bisa membiarkan Rin terus-terusan menggoda Kakashi! Ingat! Dia suamimu!" tambah Karin mendukung Sakura. Sakura terdiam merenung.
"Aku tahu. Mungkin aku harus membiarkan Kakashi memilih antara aku dan Rin." Kata Sakura pelan. Karin terkejut.
"Kau bodoh? Kenapa tak kau buat Kakashi kembali padamu? Bagaimana kalau akhirnya Kakashi pergi dan kembali pada Rin? Bagaimana kalau Kakashi meninggalkanmu? Apa kau mau, itu?" tanya Karin geram.
"Tapi, pada akhirnya Kakashi akan memikirkan ulang apakah dia akan kembali padaku atau Rin. Lagipula, Rin adalah wanita yang pernah dicintai Kakashi. Pasti ada satu bagian rindu di hati Kakashi pada Rin. Dan jika itu semakin berkembang, aku takkan punya kesempatan lagi." Kata Sakura pesimis. Karin dan Ino terhenyak mendengar perkataan putus asa dari Sakura.
"Kau menyedihkan sekali. Siapa kau ini? Sakura yang ku kenal tidak akan gampang menyerah pada nasib. Sakura yang ku kenal selalu berjuang mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan itu terbukti saat ia bertarung denganku mendapatkan Kakashi." Kata Karin menyemangati. Ino terkejut dengan perkataan Karin. Perkataan yang jarang diucapkan oleh anak kelas 5 SD.
"Ngg.. Karin. Apa kau Ai Haibara yang mengecil dengan obat dan menjadi Karin?" tanya Ino meledek Karin dengan salah satu tokoh komik 'Detective Conan' yang sering dibaca Shikamaru.
'TWITCH..TWITCH' Muncul kerutan perempatan di pipi Karin.
'PLAAAK..'
"DASAR BABI! PADAHAL PERKATAANKU SEDANG BAGUS-BAGUSNYA! KAU MALAH MENGACAU!" seru Karin sambil memukul kepala Ino. Ino hanya merucutkan bibirnya sambil mengelus bagian kepala yang sakit dipukul Karin.
Sakura hanya tersenyum geli melihat pertengkaran gadis yang menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun, dengan anak kecil yang dulu rivalnya namun berubah menjadi sahabat.
"Naah.. yang terpenting, kau harus berjuang, Sakura. Kau harus mempertahankan Kakashi." Kata Ino mendukung. Karin mengangguk menyanggupi perkataan Ino. Ia segera menganggam tangan Sakura.
"Benar! Tenang saja. Kami akan mendukungmu!" tambah Karin. Sakura tersenyum. Ia benar-benar mendapatkan sahabat yang baik.
"Terima kasih, Karin, Ino."
.
.
.
Karin disuruh pulang oleh Sasori. Makanya sekarang, Sakura dan Ino mengantar Karin pulang hanya sampai di gerbang. Di depan, Sasori sudah menunggu Karin dengan porche hitam milik Sakumo.
"Sakura," panggil Sasori saat ia melihat Sakura keluar di belakang Karin.
"Saso-kun."
"Ku dengar kau telah bertemu Rin, ya?" tanya Sasori sedikit khawatir.
"Ya." Jawab Sakura pelan.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Sasori cemas.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih." Sasori tersenyum. Ia menepuk pundak Sakura.
"Tenang saja, kami mendukungmu sepenuhnya." Kata Sasori menenangkan. Karin dan Ino mengangguk pasti.
"Tersima kasih, semuanya." Kata Sakura sedikit senang. Dia didukung oleh banyak orang.
"Baiklah, kami pulang dulu, ya." Pamit Karin seraya memasuki porche hitam pamannya. Sasori mengikuti ke bangku pengemudi.
"Hati-hati, ya." Kata Sakura sedikit melambaikan tangan. Porche hitam itu pun melaju meninggalkan rumah Ino.
"Ayo, Sakura. Sudah malam. Besok kita sekolah." Ajak Ino seraya meninggalkan Sakura menuju pintu.
"Ya," Sakura berbalik tapi tiba-tiba tangannya dihentikan sesuatu. Sakura terkejut tangannya ditahan dengan tangan orang lain. Ia berbalik dan mendapati Kakashi dibelakangnya.
"Kashi?" Sakura terkejut Kakashi datang menemuinya. Ino yang hendak menutup pintu, terkejut dengan suara Sakura yang menyebut nama Kakashi.
"Kita harus bicara, Sakura." Kata Kakashi tetap tenang. Sakura dan Kakashi terdiam. Sedangkang Ino sadar dengan posisinya dan pamit untuk meninggalkan pasangan suami istri itu berbicara.
"Ngg.. aku tinggal dulu, ya. Kalian ngomongnya yang santai, ya.." kata Ino lalu meninggalkan Kakashi dan Sakura sendiri di depan rumahnya.
"Apa?" tanya Sakura sedikit ketus.
"Maaf, Sakura."
"Untuk apa?"
"Tadi, di kantor. Aku juga tidak mengira kalau Rin akan kembali."
"Ya, aku tahu. Aku juga mendengar dia ingin kembali padamu, kan?" kata Sakura masih dengan nada ketusnya. Kakashi menghela nafas.
"Yakinlah, Sakura. Aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kau masih marah padaku?" tanya Kakashi berusaha santai. Sakura memandang onyx suaminya perlahan. Digenggamnya tangan Kakashi dan memerasnya perlahan penuh perasaan.
"Aku tidak marah padamu. Hanya saja.. rasanya membayangkan kau akan kembali pada Rin membuatku sakit. Aku mencintaimu, Kashi," Sakura menjeda perkataannya seraya mendekatkan tangan Kakashi yang lebih besar dari tangannya ke wajahnya. Seakan ingin terus menyentuhnya.
"Aku sangat mencintaimu." Lanjut Sakura. Kakashi terhenyak. Perasaannya pada Sakura sama dengan perasaan Sakura padanya. Tangan kiri Kakashi merengkuh bahu Sakura dan menjadikan mereka berpelukan erat.
"Aku juga, Saku. Aku sangat mencintaimu. Seperti di altar pernikahan kita. Aku takkan meninggalkanmu. Dan seperti janjiku pada Sasuke, aku takkan melukaimu. Aku akan selalu bersamamu, Saku. Aku sangat mencintaimu." Kakashi menghirup aroma Sakura dalam-dalam. Aroma favoritnya. Aroma yang membuatnya selalu merasa sedang bersama Sakura, wanita tercintanya.
.
.
.
Hari Sabtu, atau tepat 3 hari setelah kejadian heboh di kantor. Diadakanlah rapat direksi antara Hatake Corp, dan Uchiha Corp. Untuk itulah Sasuke sekarang sudah berdiri tepat di depan pintu Hatake Corp. ayahnya, Fugaku selaku presdir perusahaan mereka sedang menjalani perawatan medis di Inggris. Sehingga digantikan putra sulungnya, Itachi yang juga kakak Sasuke. Namun, Itachi juga sedang menghadiri rapat direksi di Italia. Akhirnya, Sasuke, pria Uchiha yang paling mengerti perusahaan datang menggantikan ayah dan kakaknya. Sasuke memasuki kantor Hatake. Menyusul Karin yang turun dari taksi.
.
.
Kakashi memeras kepalanya. Ia tampak bingung. Pasalnya, flashdisk yang akan digunakan untuk presentasi tertinggal dirumah. Berkali-kali ia merutuki kelalaiannya meninggalkan flashdisk penting. Ia ingat Sakura tinggal di rumah karena libur. Akhirnya ia menelpon istrinya untuk membawakan flashdisk penting itu ke kantor. Sambil menunggu kedatangan sang istri, Kakashi memutuskan untuk membaca Icha-Icha Paradise edisi Spesial Musim Panas.
'TOK..TOK' Ketukan pintu membuat Kakashi berdecak kesal karena harus menghentikan hobinya sesaat.
"Masuk!" perintah Kakashi. Pintu kerjanya terbuka dan masuklah wanita yang tentu saja ia kenal. Wanita yang hampir menghancurkan pernikahannya.
"Aku datang lagi untuk meminta jawabanmu, Kashi."
~T.B.C~
A/N
Akhirnya selesai juga fic ni yg telh mmasuki chpter 10.. ciihuyyyyy…
Arigatou gozaimasu atas semua review dan dukungan kalian semua sehingga fic ini dapat terus berjalan hingga chapter 10.. #mskipun yg chapter 10 yg ngereview gak nyampe 5... huhuhuuu...
Maaf semaaf-maafnya karena chapter pernikahan Sakura sedikit banget. 2K+.. #haa? 2K+ sedikit?# maksudanya, lebih sedikit dibanding chapter2 lainnya.. makanya, sebagai penebusan maaf, Kazu kasih di fic ini lebih banyak dr biasanya.. 5K+.. ….. sebenarnya cma akal-akalan kazu yang pingin fic ini cepet selesei.. reader jg mau, kan fic ini cpet selesei? #gaak maau!#.. yaaah.. kalo gak mau, malah saya yang tepar..
Maaf juga karena fic Fault of Destiny dengan resmi HIATUS.. karena saya kurang inspirasi dengan fic itu. Saya sedang senang2nya dengan fandom SasuFemNaru.. malah sudah ada inspirasi nongol untuk masuk ke fandom SfN itu.. #readers: huuuuu….# tpi tenang.. sy bkan fujoshi.. sy malh gak suka sma fujoshi-fudanshi dsb.. tpi pas liat gambarnya sasufemnaru, trnyata cock, jg.. naru manis beuudd… #halaaah=,=..
Tapi, meskipun sy lag gila2ny sama fandom itu, bkan brarti saya akn mninggalkan fandom kakasaku. Bagiku, kakasaku tetp NUMBER ONE…
thanks to all of you!.. see you!
