Mengenang masa ketika kanak-kanak memanglah menyenangkan. Masa penuh petualangan, canda tawa bersama teman-teman... Kado-kado yang berlimpah saat ulang tahun dirayakan... Game terbaru yang dimainkan sampai seharian bahkan sampai lupa makan... Atau barang kali punya orang tua penyayang yang selalu membacakan dongeng tiap malam. Tapi bagi Naruto, hal seperti itu hanya ada dalam cerita-cerita pendek di buku pelajaran sekolah saja. Kenyataannya, selama masa kanak-kanaknya, ia telah mengecap banyak kepahitan hidup bersama orang tuanya. Dibenci dan dibully habis-habisan oleh dua orang itu adalah masalah terberat dalam hidupnya. Ibunya si wanita angkuh yang suka menghina, dan Ayahnya si tukang pukul yang selalu menamparnya. Wajahnya berubah kecut. Matanya memancarkan pedih. Dan ia sadar betapa menyakitkannya kenangan-kenangan itu.

Naruto bukanlah bocah yang baik-baik amat. Ia bahkan bukan anak yang punya prestasi gemilang. Ia hanyalah sekadar bocah yang sangat menyayangi ke dua orang itu. Punya segudang harapan yang terpendam dalam hatinya. Tapi harapan terkadang sering tak sesuai dengan kenyataannya. Bertahun-tahun hidup dalam keluarganya yang aneh, cukup menguras mental dan tangisnya, sampai pada akhirnya ke dua orang itu mengusirnya karna sebuah insiden yang bukan salahnya.

Hari itu ia terisak...
Hari itu ia mengharap belas kasihan...
Hari itu ia diseret paksa...
Di hari itu juga ia dilemparkan...
Dan tak pernah ada rasa iba...
Yang ada hanya kebencian dan kedengkian dalam pandangan mata mereka.

Hidup di jalanan setelah itu tidaklah mudah baginya. Apalagi harus bertemu dengan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia selalu lari ketakutan dari mereka. Meringkuk di gang-gang kecil diliput perasaan mencengkam, dan berakhir menetap di bawah sebuah jembatan. Di sana ia kelaparan, sering terisak-isak sendirian, tak pernah berani menampakkan diri kecuali tengah malam bila manusia telah tertidur pulas untuk mencari makanan, meski makanan-makanan basi itu hanya menyiksa perutnya saja, tapi jika beruntung ia mendapat sisa makanan yang lumayan bisa memanjakan perutnya, lalu kembali mengalami penderitaan panjang dengan makanan basi itu. Terkadang seorang kakek tua datang memberinya roti-roti besar yang lezat sekali. Kemudian malam-malam terasa menyenangkan dengan cerita-cerita dongeng yang seru-seru. Perlahan-lahan keadaan sedikit membaik. Namun si kakek lalu menghilang, dan ia merasa kehilangan kakek itu.

Hari-hari berjalan seperti sebelumnya. Setidaknya makanan-makanan enak selalu muncul di dekatnya setiap malam. Tapi tetap saja ia merasa kesepian. Tak ada lagi cerita-cerita seru. Sebulan setelahnya dua wajah asing menemukannya tengah meringkuk di bawah jembatan itu. Mereka adalah Konan-nee-chan dan Suigetsu-nii-chan, dua remaja yatim piatu yang membawanya menyingkir dari bawah jembatan itu. Kemudian satu wajah lagi muncul dalam hidupnya. Wajah lelaki dewasa, dengan rambut jingga yang berantakan. Lelaki itu adalah Jugo. Ia biasa memanggilnya Tou-chan, karna dia adalah sosok pria yang selalu melindunginya, sosok pria yang menjadi tempat bersandar dari segala kegundahannya.

Selama sembilan bulan itu mereka hidup bagai sebuah keluarga. Keluarga yang benar-benar diimpikan Naruto. Mereka tertawa bersama meski pun sebenarnya hati mereka tengah merintih. Kadang mereka berbagi makanan. Kadang kelaparan. Dan mereka menjalaninya sebagai keluarga sepenanggungan... Lalu lagi-lagi semua itu harus direnggut darinya. Ke dua orang yang dia panggil Kaa-chan dan Tou-chan itu datang dengan berang ketika mereka sedang duduk di pinggir jalan.

Ia lari dengan ketakutan. Mereka berusaha mengejar sambil berteriak memanggil. Tapi keluarga barunya menghalangi mereka. Ia terus berlari kencang meninggalkan mereka. Napasnya tersengal-sengal. Tapi kakinya terus saja berderap cepat, sampai akhirnya ia kelelahan. Sejak saat itu Jugo, Konan, dan Suigetsu seakan hilang ditelan bumi. Naruto berusaha keras mencari mereka. Berkeliling kota Konoha siang dan malam tanpa hasil. Semuanya kosong. Tempat-tempat nongkrong mereka, bahkan mencari kembali ke bawah jembatan. Hasilnya tetap saja nihil. Ia tak pernah menyerah mencari mereka, sampai pencariannya membawanya menemukan keluarga baru. Seorang pria pemilik kedai ramen dengan putrinya yang masih belia mengajaknya untuk tinggal bersama mereka. Dari sana ia memulai hidup baru sebagai anak angkat paman Teuchi dan punya adik angkat yang manis sekali, Ayame namanya. Gadis cilik periang yang kerap kali mengganggu tidurnya. Ya, semua ingatan itu masih tampak jelas dalam benaknya. Empat bulan hidup bersama paman Teuchi telah mengisi lembar-lembar menyenangkan hidupnya. Mengobati segala kehilangan atas keluarga sepenanggungannya.

Lagi-lagi ke dua orang tuanya kembali menemukannya. Naruto tahu mereka menyesal, tapi ia tak bisa merasakan penyesalan itu. Ia bahkan masih merasa ketakutan pada mereka. Entah bagaimana caranya dua orang itu berhasil membawanya pulang, tahu-tahu ia telah berada di rumah itu. Seharusnya rumah itu menyenangkan baginya. Ia selalu betah berada di sini. Dulu sewaktu kecil ia sering memperhatikan perempuan itu memasak dengan jengkel, maka ia pun tertawa melihatnya. Perempuan itu akan marah sekali, lalu pura-pura lewat di depan Naruto dan menjenggal Naruto dengan kakinya sampai kepala bocah cilik itu terbentur ke dinding. Ia menangis keras-keras, berencana mengadu pada ayahnya tentang hal itu, tapi laki-laki itu malah menghardiknya, dan Naruto akan mengurung diri di kamarnya sampai dua orang itu akan datang sambil membawa bilah kayu yang panjang untuk memukulnya!

Setelah ia kembali lagi ke dalam rumah itu, ia merasa bagaikan berada dalam penjara mengerikan. Ia berteriak-teriak histeris bila melihat mereka, melempar apa saja pada dua orang itu, bahkan pernah menyerang mereka dengan golok daging. Kengerian itu terjadi selama berhari-hari. Menghantui kepalanya dengan bayangan-bayangan masa lalu itu. Ia berusaha kabur, tapi dua orang itu seolah bisa membaca pikirannya. Pintu-pintu terkunci. Jendela-jendela telah dipaku dan ia terjebak bersama dua tiran itu. Kemudian si kakek baik hati yang menemani malam-malamnya di bawah jembatan itu datang lagi menghiburnya. Kali itu ia membawa seekor musang lucu dengan ekornya yang banyak bersamanya. Selain lucu musang itu cerewet sekali, juga suka mengejek. Malam itu pun terlewatkan dengan pertengkaran-pertengkaran yang hebat. Lalu ia mengantuk, dan terlelap di pangkuan si kakek. Semuanya lalu jadi gelap dan ketika terbangun ke esokan paginya semua kenangan tentang kehidupan buruknya hilang tanpa bekas. Bahkan Jugo, Konan, dan Suigetsu pun seakan tak pernah ada dalam ingatannya, kecuali secercah ingatan samar-samar tentang paman Teuchi, dan anak perempuannya yang manis itu.

Naruto mendesah berat. Air matanya berderai, berjatuhan ke atas pangkuannya. Sejak hari itu ke tiga keluarga sepenanggungannya telah terhapus dalam lembaran hidupnya, sampai saat ini, ketika sebuah insiden telah mengembalikan semua ingatan tentang mereka. Tentang Nee-channya yang kalem, tentang Nii-channya yang pemarah, dan tentang Tou-channya yang tenang. Kali terakhir mereka bertemu lagi, ia malah menyambut mereka dengan pandangan penuh curiga, kejadiannya beberapa tahun lalu, ketika ia sedang jalan-jalan di tengah kota bersama Kiba. Nee-chan bahkan sampai menangis saat itu. Ia masih ingat betul dengan kata-kata terpanjang yang pernah diucapkan sang Nee-chan di dekat telinganya.

"B-baka... Kau ke mana saja selama ini? Nee-chan selalu takut terjadi sesuatu padamu tahu?" tanya Nee-channya dengan sedih. Suaranya lembut, tetapi penuh emosional. Merasuk jauh menyentuh perasaannya... Terdengar begitu tulus, sehingga sulit bagi Naruto untuk tak percaya. "kami pikir dua orang itu telah menangkapmu... Tiap hari kami mengkhawatirkanmu... Nee-chan bahkan selalu berharap dan berdoa tiap malam kau akan baik-baik saja... Melihatmu saat ini sudah seperti ini Nee-chan senang sekali... Nee-chan selalu sedih memikirkan keadaanmu setiap saat... Beberapa bulan belakangan ini kami mulai kehilangan harapan, mengira kau telah pergi jauh... Atau yang terburuk..." Nee-chan berhenti berkata. Ia mulai terisak. Wajahnya tersembunyi di bahu Naruto. Mendengar betapa pilunya suara perempuan itu, Naruto pun merasa tersentuh, meski pada waktu itu ia tengah kehilangan ingatan, tapi ia tahu bahwa mereka tak asing. Sementara Nee-chan menangis, ia melongo saja dengan raut muka bingung menatap dua orang laki-laki itu.

"Kalian siapa ya?" tanyanya tidak mengerti. Mereka tampak terkejut. Yang pertama kali bereaksi adalah Nii-channya.

"Siapa katamu? Maksudmu kau tak ingat pada kami? Itu jahat sekali. Padahal kami tak pernah berhenti memikirkanmu!" kata Nii-chan dengan muka galak.

Ia berkata, "Benar. Aku sama sekali tak ingat siapa kalian. Apa kalian bisa memberitahuku secara rinci? karna aku juga kesusahan mengingat masa kecilku."

"Bolehkah aku memukulnya sekarang?" tanya Nii-chan. "dia benar-benar menjengkelkanku."

Nee-chan melepaskan pelukannya dari leher Naruto. Matanya berkaca-kaca. Nee-chan pun tersenyum. Cantik sekali rupanya. "Kau punya ponsel?" Nee-chan bertanya.

Ia mengangguk. "Punya."

"Nah, sekarang catat nomer ponsel Nee-chan, ya?"

"Eh," ia tak mengerti. "untuk apa?"

Nee-chan menepuk kepalanya seraya nyengir. "Tentu saja untuk menghubungi kami kalau-kalau ingatanmu sudah kembali, baka."

"Oh," Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mencatat nomer Nee-chan. Setelah itu mereka berpisah dan tak pernah bertemu lagi. Naruto menyeka air matanya. Dagunya bergetar hebat. Ia merasa amat bersalah telah melupakan mereka. Itu bukan karna ia ingin melakukannya, tetapi karna memang ingatannya telah tiada. Kalau keadaannya sepenuhnya pulih, ia berjanji, ia akan menemui mereka. Kemudian ia teringat akan nomer ponsel Nee-channya, ia pun mengangkat wajahnya, lalu menoleh ke arah meja kecil di dekat ranjang. Air matanya berhenti mengalir. Ia mengambil ponsel itu dan memeriksanya. Nomer itu ternyata masih di sana. Ia mencoba menghubunginya. Tak lama berselang, bunyi tuth panjang itu membuatnya lega. Nomer Nee-chan masih aktif. Ia meletakkan ponsel itu di dekat telinganya. Namun bunyi tuth panjang itu berdengung berulang-ulang. Tak ada jawaban. Ia mencoba lagi. Kali ini bunyi tuth itu terpotong dengan bunyi bip yang nyaring. Dan suara Nee-channya pun terdengar.

"Halo?" ia malah membisu. Jantungnya berdebar-debar kencang. Suara Nee-channya tidak banyak berubah. Hanya saja sekarang lebih dingin...

"Halo? Ini siapa?" Nee-chan mengulangi bertanya. Rasa rindu pelan-pelan menggerayangi hatinya.

"Nee-chan." gumam Naruto pelan.

Ada jeda beberapa detik sebelum perempuan itu menyahut. "Eh!" Nee-chan kedengaran terkejut. Lama tak ada sahutan dari seberang sana.

"Bagaimana kabar, Nee-chan?" tanya Naruto berbasa-basi.

"Eh!" Konan kembali tersentak.

"Nee-chan kenapa? Ada sesuatu 'kah?"

"Aku tidak sedang mimpi 'kan? Ini benar-benar Naruto 'kan?" tanya Konan dengan cepat.

"Ya... Nee... chan..." kedengarannya lucu dia mengucapkan itu.

"Jadi kau sudah ingat?"

"Beberapa hari yang lalu aku mengingatnya..."

"Oh! lalu mengapa kau tak langsung menghubungi, Nee-chan?"

"Aku sedang sakit Nee-chan..."

"Sakit apa? Bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Lumayan baik. Tapi belum bisa jalan dengan baik, Nee-chan."

"Masak? Memangnya kau sakit apa?"

"Rematik kayaknya. Aku seperti kakek-kakek saja. Jalan ke mana saja mesti dipapah. 'kan merepotkan..."

"Ya sudah. Beritahukan tempat di mana kau dirawat. Biar Nee-chan menjengukmu." kata Konan dengan nyaring.

"Tidak apa-apa, Nee-chan. Aku saja yang nanti ke sana. Nee-chan tidak marah 'kan?"

"Marah?" tanya Konan tidak mengerti. "marah karna apa?"

"Karna aku melupakan kalian..."

Konan mendesah. "Ke mari saja. Biar kami yang akan menghukummu. Asal kau tahu saja, Nii-chanmu sekarang jadi senewen, dan Nee-chan agak kesulitan menghadapinya."

Naruto tersenyum. Terdengar langkah-langkah kaki di luar rumah. "Baik," jawab Naruto cepat-cepat. "Nee-chan, sudah dulu ya. Ada yang datang."

"Eh, secepat itu 'kah? Nee-chan masih rindu padamu, baka."

"Nanti Naru hubungi lagi. Dah, Nee-chan..."

"Tapi, tapi, tunggu seb~" suara Nee-channya menghilang. Naruto menghela napas sambil menghapus sisa air matanya. Hari telah senja. Detak jam dinding memecah keheningan di kamar itu.

"Aku pulang..."

Naruto tersenyum, senyum aneh yang lebih ditujukan pada dirinya. Lagi-lagi orang asing, pikirnya dengan getir. Selalu saja orang asing yang datang menolongnya, wajah-wajah asing yang tak dikenalnya. Tapi setidaknya temannya bertambah satu.

Shizuka muncul di ambang pintu. Naruto mendongak dan wajahnya menegang seketika saat matanya melihat sesosok bayangan hitam di belakang Shizuka.

"Hai." sapa Shizuka. "maaf ya lama menunggu."

Naruto mengedipkan matanya. Sosok itu telah lenyap. Apakah dia baru saja berkhayal? Shizuka mendekat dan duduk di dekat Naruto. Shizuka menghela napas. Ia pun menatap Naruto. Sebentar kemudian dahinya mengernyit keheranan ketika mengikuti arah pandangan mata Naruto.

"Apa yang kau lihat?" tanya Shizuka penasaran.

Naruto tersentak. Ia reflek menoleh, tapi malah salah lihat ke belahan dada Shizuka yang saat itu sedang mengenakan tanktop. Dadanya yang bulat itu kelihatan hampir tumpah. Naruto segera berpaling dengan gelagapan. "T-t-tidak ada apa-apa. Aku h-hanya ingin melihat ke sana saja."

"Oh." Shizuka tampak tidak sadar. Itu bagus bagi Naruto.

Shizuka bertanya, "Apa kau mau susu? dan kue?"

Naruto menghela napas. Ia menatap mata Shizuka lagi. "Kedengarannya enak." lalu mereka terdiam saling tatap. Untuk beberapa waktu lamanya Shizuka mematung saja sambil terpaku pada mata biru Naruto. Matanya berkedip dua kali. Pelan-pelan jantungnya berdenyut. Denyutnya terasa menyenangkan sekali, seperti digelitiki. Panas pun menjalari pipinya. Kemudian pandangan Shizuka turun ke mulut Naruto, dan Shizuka hampir saja tergoda untuk menciumnya kalau saja Naruto tidak segera menyadarkannya.

"Ada apa?" tanya Naruto ketika melihat roman muka Shizuka yang kelihatan aneh. Shizuka terlonjak dan menahan napas. Mukanya berubah semerah apel.

"B-bukan apa-apa," kata Shizuka sambil berdiri membelakangi Naruto. "o ya. Akan ku ambilkan susu dan kuenya." tambahnya lalu pergi dengan tergesa-gesa. Setelah ia berada di luar kamar, Shizuka memelankan langkah kakinya. Ia mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya. Tadi hampir saja ketahuan, batinnya dengan malu bercampur marah. Begitu sampai di dapur ia berhenti. Debaran jantungnya masih menggila. Rona pipinya pun masih tak jua sirna. Getaran indah itu, pikirnya, hampir saja membuatnya bertindak ceroboh. Shizuka mengutuk dirinya dalam hati. Tapi rasanya indah sekali, bantahnya, rasa indah itu berulang kali telah sukses melumpuhkan semua pertahanan dirinya. Menghilangkan akalnya, bahkan bisa melemahkan setiap persendiannya. Tiap kali Shizuka berdekatan dengannya, kontrol atas dirinya selalu hilang. Tadi nyaris saja ia mempermalukan diri sendiri di depan pemuda itu.

Shizuka menuang susu kemasan yang diambilnya tadi di lemari pendingin ke gelas. Ia juga mengambil kue-kue yang dibuatnya tadi pagi lalu meletakkannya di atas nampan bersama susu itu. "Tenang, Shizuka," gumam Shizuka pada diri sendiri. "kau bisa mengatasinya. Lagi pula kau sudah punya kekasih 'kan? Kau tidak butuh apa-apa lagi." dia menegaskan, lalu kembali ke tempat Naruto berada. Ia berhenti sebentar untuk menarik napas dan menghembuskannya.

"Kau sudah l-lama menunggu?" tanya Shizuka agak gugup.

Naruto menggeleng. "Belum sepuluh menit 'kan?"

"Oh." Shizuka menahan diri untuk tidak mengumpat karna begitu banyak kata yang ingin diucapkannya. Ia meletakkan nampan itu di meja kecil disamping ranjang, mengambil piring berisi kue-kue dan duduk di samping Naruto. Ia tidak berani menatap langsung ke wajah Naruto. Lima detik lamanya ia tak bereaksi. Tapi entah berapa lama waktu sebenarnya telah berlalu, ia tak menyadarinya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya ke kekasihnya, Shagiri, yang ada di kota Nadeshiko. Dia cinta pada orang itu, tentu saja. Mereka bahkan pernah berciuman. Dan Sagiri juga cinta pada Shizuka. Apalagi yang Shizuka butuhkan? Tetapi perasaan hangat dan debaran jantungnya itu, pikir Shizuka, lain sekali dengan apa yang dialaminya bersama Sagiri. Entah bagaimana membedakannya? Shizuka tak bisa menjawabnya.

"Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Naruto seraya mengambil kue di piring yang dipegang Shizuka.

Shizuka menoleh ke samping dan mendapati Naruto sedang susah memasukan kue itu ke mulutnya. Shizuka terkesiap, lalu beralih menatap kue di tangannya. Kue-kue itu tinggal setengah. Rasa bersalah menggerayangi hatinya.

"Ma~"

"Tidak apa-apa." kata Naruto mendahului Shizuka. "maafkan aku karna memakan kue itu tanpa mendapat izin darimu. Benar, tadi aku sudah meminta izin, tapi kau sedang sibuk, makanya aku tidak mau mengganggumu."

"Oh," Shizuka menelengkan kepalanya. "baiklah. Bagaimana rasanya?"

Naruto berkata sambil mengulum kue itu, "Enak. Rasanya manis seperti coklat. Tapi kalau ditambah sirup, pasti sempurna."

"Kau mau lagi?" Shizuka mengulurkan kue-kue itu.

"Baiklah, kalau kau memaksa." Naruto mengambil sebuah kue. Ia berniat melahapnya, tapi Shizuka memberinya usul lebih dulu.

"Kenapa kau tak memakannya dengan susu. Rasanya enak lho." kata Shizuka.

Naruto mengedipkan matanya, seakan baru tersadar dari apa yang tengah dilakukannya. Ia menatap kue itu, lalu ke susu di atas meja kecil di dekatnya. "Beh." komentarnya sambil beringsut mendekati meja. Dengan susah payah ia berhasil menarik-narik gelas itu ke pinggir meja. Ia lalu membenamkan kue itu ke dalam susu, memakannya dan mematung saat itu juga.

"Bagaimana?" tanya Shizuka penasaran. "enak 'kan?"

Naruto berbalik. Matanya membulat sempurna. "Boleh aku minta semuanya?" pintanya dengan suara yang agak ke kanak-kanakan.

"Ambil saja nih." Shizuka menyodorkan piring di tangannya.

"Maksudku semuanya..."

Semula Shizuka tak mengerti dengan apa yang dimaksud Naruto. Tapi setelah menyadarinya ia menggerutu dalam hati. Terdengar ketukan di pintu. Mereka mematung beberapa saat lamanya.

"Biar aku saja yang melihatnya." Shizuka bangkit dan pergi. Naruto kembali melahap kuenya tak peduli.

Tak lama berselang, Shizuka pun kembali lagi. "Ada yang mencarimu.'' kata Shizuka memberitahu.

Naruto berhenti mengunyah. Shizuka menyipitkan matanya melihat betapa belepotannya mulut dan pakaian Naruto. "Siapa?" tanya Naruto ingin tahu.

"Apa begini caramu makan setiap harinya?" sindir Shizuka dengan tajam.

Naruto menunjukkan muka biasa-biasa saja pada Shizuka, yang artinya, apa?. "Kau sedang mengejekku?"

Shizuka menepuk dahinya sendiri dengan keras. "Artinya apakah mulutmu selalu kotor kalau habis makan, Tuan Tampan?"

"Oh," Naruto tampak terkejut. Ia melihat pakaiannya seolah sedang mencari sesuatu yang mengganggu. "maksudmu ini?" dia membentangkan pakaiannya.

"Terserah..." Shizuka berdecak, kemudian pergi lagi dengan jengkel. Dia pun datang lagi sambil membawa seorang gadis di belakangnya. Naruto mendongakkan wajahnya lagi ketika melihat gadis-gadis itu. Gadis asing yang berdiri di belakang Shizuka kelihatannya cukup familiar. Ia mengamat-amati gadis itu. Model rambutnya lurus disisir ke kiri, berwarna coklat, dengan bando merah muda di atas kepalanya. Matanya besar, warnanya hitam pekat, dan tajam. Bentuk wajahnya oval, berkulit putih halus, disertai bibir cemberut yang menarik. Selain itu tubuhnya ramping, dengan stelan kaos putih dan rok putih sepaha yang menampilkan bentuk pinggulnya seperti pakaian suster-suster di rumah sakit itu. Cewek itu menatap Naruto lekat-lekat dari atas sampai bawah seperti sedang menilai sambil menimbang-nimbang apakah ia harus mencekik Naruto ataukah meledakkannya. Shizuka malah jadi kurang nyaman dengan situasi itu.

"Akan ku tinggalkan saja kalian berdua. Aku juga lupa menyirami kebunku. Permisi..." Shizuka melenggang pergi meninggalkan mereka dalam keheningan yang menggelisahkan. Mereka bertatap-tatapan beberapa waktu lamanya.

"Jadi," cewek itu memulai dengan suara tajam. "kau orang yang dibicarakan teman-temanku itu?" cewek itu berhenti. Pandangannya masih mengawasi Naruto, tajam dan penuh selidik. Naruto melirik ke sampingnya beberapa kali, mengira cewek itu sedang bicara dengan orang lain.

"Mungkin." jawab Naruto seadanya.

Cewek itu menghela napas. "Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ku bicarakan..."

Mata Naruto menyipit. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Cewek itu berkata, "Mengapa kau bertanya seperti itu?"

Naruto angkat bahu. "Aku tak tahu. Wajahmu mungkin tampak tidak asing bagiku."

Sudut bibir cewek itu melengkung ke bawah. "Ya... Kita memang pernah bertemu puluhan kali. Bodohnya aku tak menyadarinya. Saat melihatmu jatuh di dalam bis seharusnya aku sudah bisa menebaknya," suara cewek itu mulai bergetar. "tapi pikiranku telah menyesatkanku, hingga aku malah mengabaikanmu."

Naruto mengerutkan kening. "Apa yang kau bicarakan?"

Cewek itu menghampiri Naruto tanpa berpaling. "Bisakah aku duduk? Aku tak tahan berdiri di sini tanpa berkeinginan mencekikmu."

"Oke," kata Naruto tak mengindahkan ancaman cewek itu. Ia bahkan ragu cewek sefeminim dia punya kekuatan mencekik yang luar biasa. "kau bisa duduk di ranjang."

Cewek itu pun duduk di dekat Naruto. Ia membuang napas dengan lega. Dua menit lamanya tak ada percakapan. Lalu kelopak mata cewek itu pun mulai berkaca-kaca. "Wow," katanya dengan pandangan menerawang. "kau tak pernah memberi kabar pada kami. Tak pernah menelpon. Tidak pernah mengirim surat. Tou-san bahkan sering menanyakanmu akhir-akhir ini."

"Baiklah," kata Naruto tidak mengerti. "kau bisa menceritakannya dari awal."

Cewek itu mendesah. Ia berpaling pada Naruto dan terpancar kesedihan dalam matanya. "Bolehkah aku memelukmu? Bertahun-tahun tak pernah bertemu lagi, membuatku amat merindukanmu."

Usul itu sangat tidak masuk akal. Itu kedengaran seperti dia adalah boneka beruang yang suka mendapat pelukan hangat dari semua orang. "Boleh saja, asal-eh!" Naruto amat kaget ketika cewek itu memeluk lehernya dengan tiba-tiba. Pelukan cewek itu erat sekali, bahkan sampai wajahnya menempel di pipi Naruto. Naruto jadi gelagapan menerima perlakuan seperti itu.

"He-" Naruto mengurungkan niatnya untuk protes, karna mendengar napas tersengal-sengal cewek itu. Kemudian sekonyong-konyong tanpa diduga, cewek itu menangis tersedu-sedu.

"Kau tak mengingatku? Kau tak ingat pada adikmu sendiri?" tanya cewek itu dengan nyaring. Naruto jadi bertambah bingung dengan pengakuan itu. "itu jahaat... Padahal dulu kau telah berjanji takkan melupakanku... Tapi nyatanya kau melakukannyaa... Kau... Kau kembali lagi pada kami sebagai orang asing..." ia terisak. Air matanya tumpah ruah. Napasnya menderu kencang.

"Adik?" dahi Naruto makin mengerut. Sulit rasanya bisa berpikir ke mana-mana saat seorang cewek sedang terisak di dekatmu. Tapi kemudian secercah ingatan berputar-putar dalam benaknya.

"Tunggu!" Naruto berseru kaget. "coba lepaskan aku dulu?!"

Cewek itu mematuhi tanpa protes. Ia melepaskan Naruto, menjauhkan dirinya, dan menghapus jejak air matanya yang bercucuran. Ia menatap Naruto tidak mengerti.

"Diam sebentar, ya?" pinta Naruto sambil nyengir. Cewek itu mengangguk patuh. Naruto memegang ke dua pipi cewek itu dan mengusap-usapnya. Halus sekali kulitnya. Kemudian Naruto menjewer pipi cewek itu dengan gemas.

"Ah! sakit..." pekik cewek itu dengan imut.

Naruto melongo. "Kau... Ay-chan?" tebak Naruto. Mereka bertatap-tatapan. Naruto mengagumi mata hitam cewek itu yang pekat sekali. Ia lalu membayangkan cewek manis itu menjadi seorang gadis cilik bertampang imut yang dikenalnya bertahun-tahun lalu. Jauh sekali perbedaannya. Terutama karna dua buah tonjolan di dadanya itu.

"Huh..." Naruto membuang napas. "Ay-chan telah berubah. Aku sampai tidak mengenalimu tadi. Kalau saja bukan karna mata dan warna rambutmu ini, mungkin aku akan mengira Ay-chan orang gila."

Wajah Ayame masih tampak sendu. Suaranya pun begitu. "Aku tak pernah berubah. Sedikit pun tak pernah."

"Dulu kau gadis yang cerewet, sombong, dan sok berkuasa," timpal Naruto membantahnya. "kau suka menunggangiku kalau aku telat bangun. Berteriak-teriak sambil menjambak rambutku. Dulu kau ini gadis kecil yang suka meludahi wajahku dan gemar menyiramku dengan kuah mie."

Ayame menyela, "Oke, oke, kau menyindirku. Urusan itu cuma terjadi beberapa bulan, tepat 3 bulan lebih 2 minggu, seharusnya sudah selesai 2 minggu sebelum kepergianmu..."

"Iya, kau telah banyak berubah," pandangan mata Naruto menyejuk. "berapa umurmu sekarang?" tanyanya. "dan bagaimana kabar Tou-san di rumah?"

Hening. Ayame menatap Naruto lekat-lekat dengan mata hitamnya yang besar. Matanya kembali berair. Pertanyaan itu seakan mengguncang perasaannya. Naruto merasa bersalah karna terlalu terburu-buru banyak bertanya.

"Tidak apa-apa kalau kau tak mau cerita." kata Naruto menenangkan. Ayame masih enggan menjawab. Naruto melanjutkan. "pertanyaanku keterlaluan ya?"

Ayame menggelengkan kepala. Ia menarik napas lagi, menundukkan wajahnya, lalu napasnya mulai menderu, suaranya tak beraturan seperti suara air mendidih, pelan-pelan ia merebahkan kepalanya ke bahu Naruto. Naruto menatap puncak kepalanya sebentar. Rambutnya tergerai menutupi hampir seluruh wajahnya. Dan Ayame kembali terisak. Kali ini suaranya kecil sekali diiringi guncangan bahunya.

Melihat keadaan itu, Naruto menjadi iba. Ia pun merangkul bahu Ayame. Pelan-pelan ia berputar, ditariknya tubuh Ayame ke dalam dekapannya.

"Tidak apa-apa... Semuanya akan baik-baik saja." kata Naruto dengan lembut. Ayame melingkarkan ke dua tangannya memeluk tubuh Naruto sembari membenamkan wajahnya ke dada Naruto. Tangisnya pun semakin keras.

Ayame berkata dengan parau, "Tou-san sedang kurang sehat. Aku sudah menyuruhnya untuk beristirahat, tapi dia... dia selalu bersikeras bahwa ia baik-baik saja," Ayame terus bicara, sementara Naruto mendengarkan dengan sabar. "aku tahu dia tidak ingin membuatku cemas... tapi... Bertingkah sok kuat seolah-olah dia tak apa-apa adalah hal yang konyol... Tou-san tak pernah mau mendengarkan nasehatku... Dan itu membuatku sedih..."

Naruto menarik napas. Ayame terus menangis tersedu-sedu di dadanya. Beberapa saat waktu berjalan begitu saja, tanpa ada percakpan lagi. "Baiklah-tebayo!" seru Naruto setelah terdiam lama. "setelah aku sembuh total nanti. Kita akan ke rumah dan meruntuhkan tembok baja hati Tou-san! Tidak ada yang pernah bisa mengalahkan Ay-chan dan Naruto Uzumaki jika sudah bersatu-tebayoo!"

Sekonyong-konyong Ayame berhenti menangis. Ia menghela napas, lalu mendongakkan kepala, menatap dagu Naruto lekat-lekat dari bawah. Helai rambutnya tersibak. Ia pun mengangguk penuh haru. Lalu ia melepas pelukannya dan merangkul leher Naruto erat-erat. Wajahnya bergerak naik sampai pipi mereka menyatu. Naruto tampak terperanjat dan makin kaget ketika Ayame mengecup pipinya. "Aku kangen Nii-san..." kata Ayame dengan nyaring. Pelukannya kian erat. Ayame lalu bergerak naik tanpa melepaskan dekapannya dari leher Naruto sambil mengangkat kakinya menunggangi paha Naruto. Tubuh Naruto pun kehilangan keseimbangan, sehingga ia malah mendarat di atas kasur.

Bagaimana pun juga, pikir Naruto dengan panik, dua tonjolan empuk di depan dada Ayame itu amatlah mengganggu. Ia bahkan bisa merasakan debar jantung cewek itu dan mencium aroma jeruk dari parfum tubuhnya. Apa-apaan ini! batin Naruto berseru. Tiba-tiba perhatiannya berpaling pada sosok Shizuka yang berdiri sambil bersidekap di bingkai pintu. Tatapan matanya benar-benar menusuk seolah gadis itu akan bersiap menikam mereka.


Thobi Naborju Naborju

.

.

.

.

Thobi Naborju Naborju


Karin membetulkan kaca matanya yang agak miring. Matanya fokus ke layar laptop sambil jari tangannya mengetik papan keyboard dengan cepat. Diruangan bernuansa kuno itu dia tidak sendirian. Bersama selusin remaja yang sedang menikmati sarapan pagi mereka, ia duduk paling ujung meja. Ruangan itu sebenarnya cukup luas, cukup untuk menampung dua meja besar dan empat puluh anak tukang ribut, juga masih menyisakan cukup ruang untuk mondar-mandir tanpa perlu bilang permisi ke orang-orang.

Pagi ini Karin terbangun dengan penuh semangat. Sambil memberikan sapaan normal pada dua teman sekamarnya yang acuh tak acuh, Karin membuat sarapan bergizi lengkap dan menghabiskannya dengan cepat tanpa cela. Sekarang dia sedang melakukan suatu pekerjaan yang paling trendi dikalangan anak muda masa kini, yaitu chatting bersama teman dan keluarganya di medsos. Itu artinya dia akan sibuk sekali selama beberapa jam berikutnya. Soalnya dia punya teman yang jumlahnya empat kali lipat dari jumlah keseluruhan orang dipenginapan ini. Dan sebagian besarnya adalah cowok, hampir 80%nya! Tetapi kalau ayahnya sudah mengajak chatting, Karin akan melupakan orang-orang itu, kemudian mulai membahas tentang kondisi ibunya! Oh, ibunya! Pada mulanya Karin amat benci pada perempuan itu. Bahkan saking bencinya Karin selalu berharap perempuan itu mati saja. Tiada hari tanpa pertengkaran jika mereka sudah masuk obrolan yang menyangkut keluarga. Tapi setelah tahu duduk perkaranya Karin menyesal telah punya harapan seperti itu.

"Pagi yang menyenangkan, 'kan?"

Karin mengangkat wajah, menyaksikan seorang cowok gondrong dan cakep duduk di sebelah kiri meja di depannya. Karin menatapnya sambil melongo. "Kau mengajakku bicara?" Karin bertanya memastikan.

Cowok itu angkat bahu tanpa berpaling dari Karin. "Semuanya sedang sibuk."

"Aku juga sedang sibuk." Karin menunduk lagi melihat laptopnya.

"Tapi kau menjawabku. Artinya kau tidak sedang sibuk." kata cowok itu kedengaran memaksa.

Karin mengamati cowok itu selama dua detik dan mengenali gelagatnya. Gelagat orang yang ingin mengajak kenalan. Karin serta merta langsung mengerti.

"Kau tak punya teman bicara dan mengajakku untuk menjadi teman bicaramu? Kita bahkan belum saling mengenal." Karin diam lagi mengamati laptopnya. Cowok itu tak lagi bicara untuk jangka waktu yang lama.

"Neji," kata cowok akhirnya. dan menambahkan dengan kesan dramatis. "Neji Hyuuga."

Karin melongok lagi tanpa minat, seakan nama itu tak memberikan efek apa pun padanya. "Oh. Nama yang bagus."

Neji memberengut. "Aku sudah memperkenalkan diri."

"Terus?"

"Giliranmu." ujar Neji dengan agak tekanan.

Karin menanggapi dengan malas, "Karin. Karin Namikaze." Karin tak berkata apa-apa lagi, artinya percakapan itu harus berakhir detik itu juga. Neji kelihatan kesal. Wajahnya berubah merah padam seperti bara api. Kemudian Gaara masuk ruangan itu bersama Sasuke. Ia menenteng segelas kopi susu panas dan sebatang rokok. Tiba-tiba ia terheran-heran sendiri saat menyaksikan Neji duduk di dekat Karin tanpa membawa putri-putri itu bersamanya.

Neji membuang napas. "Oh, nama yang aneh," katanya sambil berpaling. "tapi sepertinya aku mengenal nama belakangmu."

"Oh ya?" Karin berhenti mengetik. Ia mengangkat pandangannya ke wajah Neji.

"Tentu saja," jawab Neji dengan semangat. "coba kalau aku tidak salah tebak. Ayahmu pasti Minato-sama 'kan?"

"Dari mana kau tahu?" tanya Karin penuh minat.

"Ah, ternyata aku benar." komentar Neji puas. Karin masih menunggu. Neji kemudian menambahkan. "ayahmu dan pamanku adalah partner bisnis. Bahkan bukan sekadar partner. Mereka sudah berteman sejak kecil."

Karin menatap Neji dengan pandangan penuh selidik. Namun Gaara buru-buru menjatuhkan diri dengan tiba-tiba.

"Hai, Karin." Gaara menyapa sambil tersenyum paksa. Karin segera mengatur diri.

"Ada apa?" tanya Karin.

"Bagaimana pagimu hari ini? Ku harap menyenangkan, karna pagiku tadi amat menyenangkan dan sekarang begitu buruk saat menyaksikan seekor rajawali singgah ditempat yang tidak seharusnya dia berada." Gaara mendelik tak suka pada Neji. Ia menyandarkan sikunya menghalangi Neji dari pandangan Karin dengan badannya.

"Pagiku biasa saja. Tidak ada yang istimewa."

"Oh, bagus!"

Karin memperhatikan Gaara selama beberapa detik dan terbengong-bengong. Soalnya Gaara mengeluarkan semacam aura kompetitif yang membuat tempat itu jadi agak kurang nyaman. Suasana yang biasa dialaminya ketika disekolahannya, meski mereka tak pernah menunjukkan terang-terangan dengan sikap itu, tapi Karin cukup bisa membauinya.

"Kau sudah sarapan, Karin?" tanya Gaara.

"Sudah. Sepiring salad dan jus buah."

"Wah," Neji menyela. "sarapan yang sehat. Itu bagus."

Gaara berpaling pada Neji dengan kesal. "Tidak ada yang minta pendapatmu, bung!"

"Aku juga tidak bicara padamu." tukas Neji santai. Gaara memelototi Neji dengan sengit.

Karin mulai merasa situasi jadi panas. Ia menatap mereka was-was. "Teman-teman. Apakah semuanya baik-baik saja?"

Mereka berdua membuang muka secara bersamaan. Karin pagi-pagi merasa gerah dan tiba-tiba menyadari mereka sudah menjadi pusat perhatian. Ia menjadi malu sekali. Tetapi Sasuke segera menggabung diri dengan mereka, serta merta meredakan ketegangan itu.

"Oy, oy," tukas Sasuke dengan suara formal seperti suara pak Kepala Sekolah yang selalu mengawali pidatonya dengan deheman peringatan. "jangan ribut pagi-pagi begini. Bikin malu saja."

Gaara mengerutkan kening. Sambil menatap Sasuke dengan matanya yang menyala marah ia mendengus jengkel. "Bukan urusanmu, kawan..."

"Oh ya?" Sasuke menaikan sebelah alisnya. Kemudian dia merasakan ancaman dari tatapan mata Gaara yang tajam itu, yang seolah-olah mengawasinya persis menyerupai tatapan mata harimau ketika melihat lawannya. "kita ini teman, kawan. Ingat itu."

Karin menahan napas karna situasi itu. Tiba-tiba Neji bangkit mendadak sambil menghela napas menengahi mereka. Ia berkata, "Aku pamit dulu. Maaf sebelumnya, tapi obrolan tadi sangat menyenangkan. Senang mengenalmu juga, Karin." setelah mengakhiri kata-katanya, Neji beranjak pergi tanpa menunggu jawaban. Karin tidak serta-merta merasa lega, meski Neji telah meninggalkan mereka. Ia masih merasakan ketegangan itu berada di dekatnya. Ia beralih menatap Gaara dan merasa yakin ketegangan itu berasal dari dia.

"G-Gaara...," kata Karin dengan gugup. "ku mohon berhentilah."

Entah bagaimana caranya, kata-kata Karin benar-benar berefek. Gaara melunak. Mata pucatnya kembali melebar menjadi normal. Saat itu juga Karin bisa menarik napas dengan lega. Kemudian, dua orang itu mulai berkelakar yang tentu saja lebih didominasi oleh Sasuke. Karin kembali sibuk dengan laptopnya sambil sesekali mengoreksi Gaara bila ia melontarkan kata-kata yang keliru. Tiba-tiba Karin secara tak sengaja mendengar sebuah percakapan singkat melewati ruangan itu.

"Kau akan ke mana Ayame?"

"Aku mau menjenguknya lagi. Nii-san sedang sakit dan aku mau merawatnya." kata Ayame penuh semangat. Kemudian menambahkan. "aku tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Lalu di sini kami bertemu secara kebetulan seminggu yang lalu. Payahnya, waktu itu aku tak mengenalinya sampai ku dengar ribut-ribut kemarin itu."

"Tunggu, Ayame!" seru cewek yang lain. "sejak kapan kau punya kakak? Kau tak pernah memberitahu kami sebelumnya."

"Kapan ya? Ah, ku rasa sudah lama. Sejak umurku delapan tahun mungkin. Tapi kemudian dia pergi, lalu kembali lagi dan tak mengenali kami."

"Oh ya? Memangnya siapa dia? Kau harus mengenalkannya pada kami. Kami jadi ingin tahu."

"Kalian ingin tahu? Ku pikir kalian takkan menyukainya, sebab namanya sudah buruk di tempat ini."

"Masak? Aku tak mengerti apa maksudmu. Dia sudah melakukan apa memangnya?"

"Apa kalian ingat kejadian waktu itu?"

"Yang mana?"

"Itu lho. Waktu kita baru tiba di sini. Tentang kejadian penusukan itu."

"Ah! Jangan bilang kalau dia..." dan percakapan itu akhirnya tenggelam oleh kebisingan remaja-remaja lainnya. Karin mengangkat pandangannya mencari cewek-cewek itu, tapi sepertinya mereka telah lenyap di pintu geser besar itu. Tepat setelah itu Sakura, Ino, dan Shion bergabung dengan mereka.

"Aku benci orang itu," kata Ino mulai bicara seraya menjatuhkan diri bersama sarapannya. "lagi pula kalian kenal di mana sih? Kok bisa-bisanya kau kenal pria brengsek macam dia."

Shion menanggapi dengan suara berat tersendat-sendat seperti orang yang telah menangis semalaman. "A-aku bertemu dengannya... Pokoknya yang ku tahu dia itu orang baik..."

"Banyak laki-laki bersikap baik pada awalnya," kata Ino ketus. "itu hanya untuk menutupi niat bejat mereka yang sesungguhnya. Mereka akan menjeratmu dengan tipu daya mereka, kemudian setelah itu mereka akan memerasmu seperti lintah darah!"

"Ya, kau memang benar," kata Shion dengan nada pedih bercampur marah. "bahkan setelah ku tahu ia masih di sini, dia bahkan tak mau minta maaf padaku."

"Ku harap kau sadar dan melihat kenyataannya. Kau lihat sendiri 'kan sikapnya yang brengsek itu? Setelah dia tak mendapatkan apa-apa darimu, selanjutnya ia memainkan perannya dengan baik pada gadis pondokan itu, dan harus ku akui dia berhasil. Cewek itu tertipu. Sama sepertimu." Ino berhenti dengan puas. Kemudian sambil memandangi kuku indahnya ia berkata menyindir pada dua laki-laki di depannya. "Semua laki-laki sama saja, kata-kata mereka penuh omong kosong."

Sakura menyela, "Ino. Diamlah. Lidahmu terlalu tajam."

"Memangnya kenapa? Aku hanya membeberkan kenyataannya~kenyataan kalau laki-laki itu mata keranjang! Buat apa-apa menutup-nutupinya? Toh juga pada akhirnya menyakitkan."

"Kenyataannya... Sedaap..." Gaara memberi sempilan. Ino berubah cemberut, tapi tak menjawab.

Sakura berkata, "Berarti kau juga tidak akan mengecualikan ayahmu 'kan? Sebab ayahmu juga laki-laki tulen."

"Oh," Ino menatap sinis pada Sakura. "jangan menyebut orang tua. Itu tidak sportif."

"Mungkin orang tua kalian bisa bertemu. Mereka pasti akan akrab." Gaara bergidik. Sasuke menyikut lengan Gaara dan memberi tatapan peringatan, 'hei, cukup.'.

"Aku hanya mengikuti alur kata-katamu saja, Ino. Kau menyebut laki-laki, artinya umum. Ayahmu, Ayahku juga, dan ayah-ayah yang lain termasuk di dalamnya."

"Aku tidak memaksudkan semuanya, maksudku mayoritas dari mereka kebanyakannya. Menurutku sembilan dari sepuluh laki-laki itu berhidung belang." bantah Ino dengan sengit.

"Ino yang baik. Kau benar-benar plin-plan dalam berpendapat. Biar ku tebak, kau mengatakan itu, ku pikir hanya untuk membela posisi Ayahmu dari predikat pria hidung belang itu."

"Aku tidak plin-plan. Memang pada awalnya aku menyebut laki-laki, tapi maksudku kebanyakannya!" Sakura memutar bola matanya.

"Tapi kau kedengaran begitu yakin pada awalnya, sampai aku menyebutkan Ayahmu, baru kemudian kau mengoreksi kata-katamu."

"Prasangkamu terlalu fantastis Sakura."

"Serius nih?" celetuk Gaara. "apa kita harus berdebat seharian tentang laki-laki hidung belang ini?" mereka tidak menanggapi. Masing-masing dari ke duanya memalingkan wajah dengan kesal.

"Jadi bagaimana?" tanya Sasuke akhirnya dengan raut muka jengkel. "mau perang isu di Twitter?"

"Kawan, kau benar-benar lucu." sahut Gaara. Kemudian, entah sadar atau tidak Sasori sudah duduk di dekat mereka dan memberikan komentar pada topik lelaki hidung belang itu tanpa di minta.

"Menurutku~" semua mata langsung berpaling pada Sasori. Tanpa mempedulikan mereka ia pun melanjutkan. "laki-laki itu adalah tipe laki-laki parasit. Bajingan miskin banyak mimpi. Tentu saja dia mengetahui kalau Shion itu anak orang kaya, dan dia berusaha mendekatinya untuk kepentingannya sendiri. Lihat saja bagaimana dia selalu cari perhatian padamu, Shion, terutama ketika kau telah menangkap basah muka piciknya. Dan sekarang tanpa tahu malu sedikit pun, ia berpura-pura sakit di hadapanmu dan menyewa seorang gadis murahan untuk menarik perhatianmu!"

"Oh!" Gaara bereaksi. "seseorang baru saja mengajukan lamaran padamu, Ratu Kecantikan." sekonyong-konyong sepotong apel berputar-putar di udara, lalu menghantam wajah Gaara.

"Berhenti mengaitkan aku dalam guyonanmu, bodoh. Aku membencimu!" teriak Ino keras, bagaikan salak anjing disertai mata biru yang menyala pedih.

"Oke," sahut Gaara dengan tenang. "setidaknya aku sudah tahu tentang perasaanmu padaku. Dan aku tak perlu repot-repot memikirkan tentangmu yang selalu menatapku dengan tatapan seperti itu. Sejak pertama kalinya aku menjejakkan kaki di sekolah!" Ino kelihatan pucat bagai mayat. Ia membisu dengan wajah menunduk.

"Gaara, kau terlalu banyak bicara." sindir Sasori sinis.

Gaara segera berbalik. "Bung! Bisakah kau diam saja? Sebagai sepupumu, kau benar-benar mempermalukanku!" setelah menyerukan kalimat penuh tekanan itu, Gaara seakan menarik perhatian semua orang. Sambil memandang wajah mereka satu-persatu seperti pemenang lomba paling bergengsi abad ini ia berkata, "kalian tahu apa pendapatku tentang laki-laki itu~tentang segala tetek bengek masalah ini? Dia cuma datang ke sini untuk dipermalukan dan jadi bulan-bulanan kalian!" Gaara menghabiskan kopi susunya tanpa mendapat bantahan dan bangkit. "Aku permisi. Aku mau ke tempat orang itu." dia pergi tak mengacuhkan mereka yang memandangnya.

"Gaara!" seru Karin sambil menutup laptopnya dan bangkit dengan tergesa-gesa. "tunggu aku!"

TBC


An : Telat up ane gan. Maaf, main game sebentar kemarin buat nyari pulsa. Oke big thanks buat semuanya, buat yang fave, follow dan review... Sampai jumpa lagi! Aku sayang padamu juga bung!