Chapter 10 : Comfort

Orang-orang yang paling kita cintai adalah orang-orang yang paling sering kita sakiti.

Taehyung ingat ibunya mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya yang saat itu baru berusia lima belas tahun, sebelum pergi meninggalkan dirinya dan kakak-kakaknya. Masih terbayang dengan jelas di benaknya bagaimana ibunya mengucapkan kalimat itu dengan pilu, sambil terisak-isak. Senyumannya yang selama ini selalu menggambarkan sesosok wanita tangguh menghilang entah ke mana.

Ibunya muak dengan semuanya.

Ia muak dengan perilaku ayahnya.

Ia muak dengan kehidupan rumah tangganya.

Ia muak dengan tingkah anak-anaknya.

Ia muak dikendalikan seperti boneka.

Ia muak kehidupannya.

Ia tidak ingin terikat dengan sekelompok penjahat busuk seperti mereka. Ibunya mendambakan kehidupan bebas, lepas dari aturan. Maka pada hari itu juga ia mengeluarkan sebuah koper besar berwarna hitam, mengepak semua barang-barangnya tanpa mempedulikan panggilan-panggilan dari mulut Taehyung.

Oh, semuanya masih terekam jelas di memori Taehyung, bagaimana wanita itu berlari keluar dari rumahnya, menyetop taksi di pinggir jalan, dan berlalu begitu saja tanpa menatap anak bungsunya yang terdiam di situ. Sama sekali tidak.

Taehyung juga tak bisa melupakan bagaimana ayahnya membidikkan pistolnya ke arah ban mobil berwarna abu-abu itu, memaksanya untuk berhenti di ujung gang. Kaca jendela dipecahkan, kepala supirnya ditembak begitu saja. Pria tua malang itu tergeletak di kursi pengemudi dengan mata melotot dan warna merah menghiasi dahinya.

Ayahnya menyeret ibunya keluar, memaksanya berlutut di hadapannya. Lagi, pistol diarahkan ke kepala wanita itu tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya tidak memancarkan emosi sama sekali. Sorot matanya redup.

"Kau bisa kembali dengan damai atau kau bisa mendapatkan kebebasanmu di atas sana."

Ia ingat ibunya menatap dirinya cukup lama, diiringi dengan air mata yang terus berjatuhan.

"Kumohon jangan. Ada Taehyung di sini."

Bahkan di saat-saat terakhirnya, ibunya masih mengkhawatirkan dirinya. Di detik-detik terakhir kehidupannya, ibunya bahkan tak dapat membela dirinya sendiri.

Satu-satunya hal yang Taehyung sesali dari hari itu adalah ibunya yang tidak memilih untuk kembali dengan damai. Kesalahan yang sangat fatal.

Ayahnya menarik pelatuk itu tanpa ampun. Pria itu tidak peduli anaknya memperhatikan dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Masih terbayang jelas bagaimana peluru itu menembus kepala ibunya hingga darahnya mencemari tembok kusam di belakangnya. Wajahnya yang tidak terpoles riasan apapun telah dikotori oleh darahnya sendiri.

Lalu ayahnya berbalik, menatapnya dengan sendu.

Ia mengatakan hal yang sama persis dengan yang dikatakan ibunya sebelum ia pergi meninggalkan mereka semua.

"Orang-orang yang paling kita cintai adalah orang-orang yang paling sering kita sakiti."

Ayahnya mencintai ibunya, lalu menyakiti ibunya. Ibunya mencintai dirinya, lalu menyakitinya. Ia mencintai kedua orang tuanya. Ia tak ingin menyakiti siapa pun.

Hari ini merupakan hari peringatan kematian ibunya. Setiap tahun, seperti sudah menjadi suatu ritual, Taehyung akan berubah menjadi si pemurung selama seharian penuh. Ia akan meminta Irene mengosongkan jadwalnya khusus untuk hari itu, mengurung diri di rumah, dan bernostalgia mengenai ibunya.

Meskipun begitu, lambat laun semua kebiasaan itu sedikit berubah beberapa tahun terakhir. Lebih tepatnya, sejak Jungkook hadir dalam kehidupannya. Setidaknya sekarang ada seseorang yang menemaninya. Ia bisa puas bersedih-sedih dalam dekapan Jungkook. Ia bisa berkeluh kesah tentang semuanya kepada Jungkook. Pada akhirnya ia memiliki seseorang yang bisa menjadi sandaran untuknya.

Mereka berdua baru saja pulang dari pemakaman ibunya. Wajah Taehyung masih murung dengan mulut yang tertekuk ke bawah. Walaupun biasanya ia menampakkan ekspresi dingin, kali ini ekspresinya jauh lebih tidak berwarna dari biasanya. Meskipun begitu, tangan kanannya masih bertautan dengan tangan kiri Jungkook sambil mereka berjalan menuju mobil hitamnya.

Perjalanan menuju rumah mereka terasa begitu panjang tanpa adanya percakapan di antara keduanya. Biasanya Jungkook yang selalu mulai berceloteh mengenai hal-hal random. Namun kali ini, remaja tanggung itu hanya mampu menatap ke luar jendela, menyaksikan langit yang mulai mendung. Ia tak ingin mengusik Taehyung untuk saat ini.

Begitu mobil Taehyung memasuki pekarangan rumah mereka, Jungkook bergegas keluar untuk membuka pintu rumah terlebih dahulu. Ia tahu apa yang Taehyung butuhkan untuk sedikit meredakan kesedihannya. Taehyung mengekori bocah itu menaiki tangga dengan wajah kusut.

"Ganti baju dulu, hyung." ucapnya dengan senyum tipis.

Taehyung tidak menjawab. Ia langsung berbalik menuju kamarnya sendiri tanpa banyak bicara, sedangkan Jungkook juga pergi menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Bocah itu tidak akan melakukan hal aneh-aneh yang justru akan merusak mood Taehyung. Justru ia hanya akan menemani Taehyung selama seharian penuh. Satu-satunya hal yang diperlukan orang yang bersedih adalah seseorang untuk menemani, begitulah pikir Jungkook.

Pemuda berwajah cantik itu membuka pintu kamar Taehyung dengan perlahan-lahan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ruangan itu gelap, sumber cahaya hanya berasal dari jendela yang tertutupi tirai putih tipis. Lelaki pujaannya itu sedang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Jungkook tersenyum melihat kelakuannya yang seperti anak kecil.

"Hyung..."

Jungkook membuka selimut itu perlahan, kemudian ikut masuk ke dalamnya. Ia menemukan kedua mata Taehyung berhadapan dengan kedua mata bulatnya. Tidak ada jejak air mata atau semacamnya. Taehyung sepertinya sudah merelakan kepergian ibunya sejak lama. Tangan halusnya bergerak mengusap pipi Taehyung, perlahan-lahan naik menuju kepalanya.

Taehyung merespon, meletakkan tangannya yang lebih besar di atas tangan Jungkook. Jungkook sedikit berjengit kaget merasakkan kulit Taehyung yang terasa begitu dingin. Tanpa diduga-duga, tindakannya barusan membuat Taehyung terkekeh geli.

"Begitu saja kaget." Ledeknya.

Senangnya bukan main, melihat Taehyung yang dari tadi murung tiba-tiba tersenyum seperti sekarang. Jungkook ikut mengulas senyuman di wajahnya. Ia gemas melihat ekspresi Taehyung. Dengan berani ia memajukan wajahnya dan mengecup hidung mancung Taehyung.

"Akhirnya si tampan tersenyum juga."

Pria berambut silver keunguan itu mencubit pipi kanan Jungkook. Hidungnya sedikit mengerut ketika melakukannya.

"Aaaww sakit, hyung!"

"Sudah berani menggoda hyung, ya?"

"Hyung lepaasss! Nanti tambah melar!" protes Jungkook mulai kesal.

Taehyung tertawa lepas. Tangannya sudah melepaskan pipi Jungkook, kini beralih menuju pinggang ramping bocah itu. Ia menarik tubuh Jungkook mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara kedua tubuh mereka. Wajah mereka pun begitu dekat, dengan hidung keduanya yang sudah menempel dan mata yang saling menyelami oniks satu sama lain.

"Beruntungnya diriku bisa melihat senyuman hyung seharian."

"Dan aku beruntung bisa melihat malaikat cantik ini seharian."

Jungkook menyunggingkan senyuman yang menampakkan gigi kelincinya. Hidung bangirnya ia gesekkan dengan hidung Taehyung beberapa kali. Harus ia akui, seberapa pun ia menikmati making out dengan Taehyung, eskimo kiss sendiri bukanlah pilihan yang buruk untuk mereka berdua.

.

.

.


Review dong.

See you in next chapter!