"Are? Kau bukannya yang waktu itu ya?"
"Hm,memangnya kita pernah bertemu sebelumnya paman?"
"Paman? Haha,aku masih kelas 1 SMA. Jadi sebaiknya kau panggil aku senpai."
"Eh?! Gomennasai! Tapi kau tinggi sekali seperti Murasakibara."
"Murasakibara yang anggota Kiseki no Sedai?"
"Ah,benar sekali senpai...?"
"Kiyoshi Teppei."
"Oh,ya Kiyoshi senpai. Ngomong-ngomong memangnya kita pernah bertemu?"
"Kau kan yang beberapa bulan yang lalu tersesat bukan?"
"Sebentar... Ah! Benar aku ingat sekarang. Senpai yang waktu itu mengantarku naik bus kan? Terima kasih! Untung waktu itu ada senpai."
"Tidak masalah. Dan sekarang sedang apa kau didepan sekolahku hari minggu?"
"Eh?! Ini sekolah senpai?!"
"Maa,sepertinya kau tersesat lagi ya?"Laki-laki dengan tubuh tinggi tegap itu tertawa.
"A-a... Itu.."Kagami menggaruk pipinya yang memerah malu.
"Haha,begitu rupanya. Mau masuk kesekolahku? Kebetulan aku ada latihan basket."
"Senpai bermain basket juga?"Kagami berjalan disamping Kiyoshi.
"Aku suka bermain basket. Oh ya,bagaimana kau bisa tersesat lagi sampai sini?"
"Hehe,aku kabur dari rumah karena tidak boleh pergi sendiri. Padahal aku hanya ingin jalan-jalan sekaligus mencari court terdekat. Tak kusangka akan tersasar sejauh ini."Kagami mengusap tengkuknya.
"Untuk apa kau mencari court? Apa kau senang dengan basket juga?"
"Sebenarnya..."Pembicaraan mereka terputus saat seorang laki-laki dengan rambut warna hitam pendek dan berkacamata memukul tengkuk Kiyoshi.
"d'Aho! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membawa pacarmu kemari?!"
"Ahaha,Halo Hyuuga-kun."Kiyoshi mengusap tengkuknya.
"Jangan meng-halo-i ku!"
"Emm,ano... Maaf sepertinya senpai salah sangka. Aku bukan pacarnya Kiyoshi senpai."Kagami menginterupsi.
"Siapa kau?"
"Oh iya aku lupa menanyakan namamu tadi. Haha. Namamu siapa?"Hyuuga dan Kagami sweatdrop.
"Junpei,Teppei! Sedang apa kalian didepan pintu?! Cepat segera latihan!"Seorang gadis dengan rambut berwarna cokelat berteriak dari ujung ruangan.
"Sepertinya aku menunggu diluar saja senpai."Kagami hendak keluar,tapi segera ditahan Kiyoshi.
"Kau sebaiknya duduk dibangku penonton saja."
"Apa tidak mengganggu?
"Tidak,tentu saja."
"Baiklah kalau begitu."Kagami segera naik kebangku penonton sementara Kiyoshi dan Hyuuga segera berkumpul dengan anggota lainnya dan memulai latihan.
-Goddes Of Miracle-
"Maaf mengganggu sebentar… bolehkah aku bertanya sedikit?"
Kagami mendekati anggota basket yang baru saja mendapatkan istirahat setelah satu jam berlatih. Sebenarnya sudah sejak awal dirinya gatal ingin menghampiri mereka. Tapi segera ditahan begitu melihat seorang perempuan berteriak lantang layaknya coach dari sisi lapangan sembari sesekali meniup peluit yang dikalungkan dileher.
"Boleh saja. Tapi,bisakah kau beritahu siapa kau dan ada urusan apa disini?"
Perempuan dengan surai warna cokelat tanah memperhatikan Kagami dari atas ke bawah. Lantas yang diperhatikan mau tak mau merasa risih akibat intensitas yang diberikan perempuan itu.
"Oh iya. Kau. Aku juga lupa bertanya namamu."Kiyoshi,laki-laki jangkung dengan rambut berwarna cokelat terang berdiri mendekati Kagami yang sweatdrop.
"Baka! Kalau kau berkenalan dengan orang lain setidaknya tanyakan dulu namanya!"Lagi-lagi laki-laki dengan surai hitam dan memakai kacamata itu memukul tengkuk Kiyoshi.
"Benar-benar kau ini,Teppei…"Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Um,perkenalkan namaku Kagami Taira. Aku kesini tersesat dan tidak sengaja bertemu dengan Kiyoshi senpai. Maaf kalau aku mengganggu sesi latihan anda,Um,Sensei berdada rata."Kagami membungkukkan badan.
"Apa kau bilang?!"
Sementara perempuan itu meneriakkan hal tidak jelas,anggota basket lainnya menahan tawa bahkan sampai memukul-mukul lantai.
"Kagami… Perempuan yang kau sebut Sensei berdada rata ini seumuran denganku."Kiyoshi menepuk pundak Kagami yang kebingungan.
"Eh? Benarkah? Lalu mengapa dia menjadi coach disini? Dan walaupun dia seumuran denganmu,dadanya juga-"
"Sebaiknya tidak kau teruskan Kagami."Laki-laki berkacamata itu menepuk pundaknya yang lain begitu melihat teman perempuannya hampir meledak.
"Um,baiklah."Oke. Sepertinya kebiasaan Aomine mulai menempel pada Kagami.
"Huft,maaf ya kalau ukuranku ini kecil. Tapi sepertinya kau-Oke abaikan percakapan ini."Perempuan itu pundung begitu melihat ukuran dada Kagami yang lebih besar darinya.
"Ketika yang lebih muda belum tentu yang lebih kecil,kitakore!"Laki-laki dengan rambut hitam lebih panjang dari yang sebelumnya dan tanpa kacamata tiba-tiba menggumamkan hal yang tidak jelas.
"Bukan waktunya bercanda,Izuki!"
"Halo! Kenalkan namaku Koganei Shinji kelas 1-B SMA Seirin. Aku bermain basket dan nomor punggungku 6. Disampingku ini namanya Mitobe Rinnosuke sekelas denganku. Nomor punggungnya 8."Laki-laki dengan wajah seperti kucing menjulurkan tangan kehadapan Kagami. Sedangkan laki-laki tinggi disebelahnya hanya menganggukkan kepala. Kagami hanya bisa menyambut tangan tersebut dengan wajah aneh.
"Apa perlu memberitahu nomor punggung segala?"Laki-laki dengan mata sipit dan rambut hitam menatap keduanya tidak percaya.
"Perlu sekali! Mungkin saja ia bisa melihat kita bertanding nanti? Mitobe juga mengatakan demikian. Benar kan,Mitobe?"Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala.
"Kalian ini… Perkenalkan,namaku Tsuchida Satoshi kelas 1-C. Perempuan itu coach kami. Namanya Aida Riko. Kelas 1-A. yang berkacamata namanya Hyuuga Junpei sekelas denganku dan orang yang berpantun tidak jelas itu. Namanya Izuki Shun."Ia menunjukkan satu persatu orang yang tidak memperkenalkan diri dengan cara yang lazim lainnya.
"Salam kenal Tsuchida Senpai. Sepertinya disini hanya senpai yang 'normal'."Kagami menatap yang lainnya bingung.
"Begitulah."Tsuchida hanya bisa menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Aku daritadi gatal ingin bertanya. Mengapa anggota basket disini hanya sedikit? Padahal kalau aku lihat di Teiko mereka sampai dibagi menjadi tiga string."Semua langsung menoleh kearah Kagami begitu mendengar kata 'Teiko'.
"Teiko katamu?"Aida menghampiri Kagami.
"Mmm… Iya."
"Dari mana kau tahu tentang Teiko? Bukankah kau belum lama di Jepang,Kagami?"Kiyoshi menatap Kagami.
"Memang benar sih. Aku tahu Teiko karena aku bersekolah disana."
"Eh?!"
"Kenapa memangnya senpai-tachi?"
"Berarti kau kenal Kiseki no Sedai?"Koganei mendekatkan wajahnya kearah Kagami yang kontan mundur perlahan.
"Aku berteman dengan mereka."
"Benarkah?!"
"I-iya."
Belum selesai mereka bertanya,tiba-tiba pintu gedung olahraga dibanting dari luar. Dari sana muncul tujuh kepala warna-warni dari anggota Kiseki no Sedai dengan wajah yang seram. Momoi dan Kise berkicau hal tidak jelas. Sementara yang lainnya diam dan melangkah pasti memasuki gedung. Secara reflek Kagami bersembunyi dibelakang punggung Kiyoshi. Kiyoshi dan teman-temannya sendiri cukup kaget dengan kehadiran para makhluk yang tengah dibicarakan tersebut.
"Speak of devils,they will appear."Bisik Kagami.
"Taira,kami tahu kau ada disini."Tanpa menyapa lebih dulu Akashi melantangkan suaranya hingga menggema memenuhi gedung olahraga.
"Sebentar. Ada keperluan apa kalian?"Kiyoshi menahan Kagami yang hendak muncul dari balik punggungnya sementara Aida mendekati Akashi.
"Maaf sebelumnya. Kami kesini mencari teman kami yang tersesat akibat kabur dari rumah."Kuroko mengambil alih percakapan sebelum Akashi meledak dan menumpahkan kekesalannya kepada Aida.
"Kagami maksudmu?"
"Benar."
Sembari menggerutu pelan Kagami muncul dan berdiri dihadapan Kuroko dan Akashi. Ujung kemeja flanelnya dipilin berulang kali. Wajahnya ditundukkan. Ia tampak seperti anak kecil yang siap untuk dimarahi kedua orang tuanya. So helpless. Kuroko jadi tidak tega untuk memarahinya. Maka dari itu Akashi yang mewakili.
"Kau tahu alasan kami harus memarahimu,Taira?"
"Karena tidak ijin keluar rumah."Kagami semakin menunduk.
"Mengapa tidak memberi kabar kalau kau ingin jalan-jalan?"
"Kau sibuk saat ku hubungi berkali-kali. Telepon yang lainnya tidak aktif."Kagami memberengut.
"Kau seharusnya bersyukur kami dapat menemukan lokasimu menggunakan GPS. Kau tidak tahu sepanik apa orang rumahmu saat menghubungiku. Mereka fikir kau diculik."Akashi menghela nafas.
"M-maafkan aku."Suara Kagami bergetar. Akashi dan lainnya panik. Belum pernah mereka melihat Kagami menangis sedih. Dan berusaha jangan sampai hal itu terjadi.
"Maa,sudahlah. Kalian jangan memarahinya lagi. Untung saja dia bertemu denganku. Jadi kupastikan sedaritadi Kagami baik-baik saja."Kiyoshi menengahi. Telapak tangannya yang besar mengacak pelan surai gradasi Kagami. Membuat Kagami mendongakkan kepala menatap Kiyoshi. Kagami seperti kucing kecil dimata Kiyoshi saat itu. Mata yang memerah dengan kedua bola mata yang melebar dan menyiratkan kebingungan. Kiyoshi terhenyak sesaat.
"Siapa kau?"Aomine dan Kise menatap Kiyoshi benci. Tidak terima akan perlakuan Kiyoshi terhadap Kagami.
"Kiyoshi Teppei. Dan selamat datang di klub basket Seirin."
-Goddess Of Miracle-
"Jadi sekolah kalian baru saja membuat klub basket?"
"Pantas saja aku belum mendapat catatan tentang Seirin."
Mereka semua berkumpul pada tiga buah meja yang disusun memanjang. Pada sisi sebelah kiri duduk para anggota Seirin dan pelatih mereka. Sedangkan sisi kanan ditempati oleh anggota Kisedai. Anggota klub basket Seirin segera mengakhiri sesi latihan mereka dan mengajak murid-murid Teiko tersebut untuk makan di Majiba. Awalnya Akashi hendak menolak. Namun Kagami dan Aomine bahkan Kuroko menatapnya memohon seperti anak anjing yang belum diberi makan tuannya selama berhari-hari. Mana mungkin kan ia menolak saat Taira-nya memberi tatapan memohon? Sementara Momoi,Kise dan Kuroko berbincang-bincang dengan anggota Seirin,Kagami dan Aomine mengadakan lomba makan. Akashi dan Midorima hanya bisa menggeleng sambil menatap antara kagum dan ngeri. Murasakibara sendiri hanya menghabiskan tiga burger dan melanjutkan tiga kotak maiubo yang entah secara ajaib muncul dihadapannya.
"Kali ini aku menang,Bakagami!"
"Aku tidak akan kalah besok!"
Kagami segera menenggak habis cola yang dipesannya. Setelah menjulurkan lidah kearah Aomine,ia mendengarkan percakapan antara Seirin dan Teiko. Sesekali ia bertanya pada Kuroko tentang hal apa yang dilewatkannya. Mengabaikan Aomine yang marah-marah disebelahnya.
"Kami minta maaf kalau Taira telah mengganggu latihan kalian."Akashi buka suara.
"Tidak masalah. Kagami cukup tenang saat kami berlatih."Aida membalas dari seberang meja.
"Serius-ssu?!"Kise membelalakkan mata.
"Heh? Aku tidak menyangka kau bisa tahan,Bakagami."Aomine mengejek.
"Hey! Aku punya kontrol diri yang baik,Aho!"Kagami menginjak kaki Aomine.
"Dan yang seperti itu kau sebut kontrol diri yang baik?"Midorima menatap Kagami tidak percaya.
"Sakit,Ao-chin?"
"Apa maksud pertanyaanmu?!"
"Abaikan mereka,Aida-san. Apa benar kau sebagai pelatih anggota tim basket Seirin?"
Aida hanya mengangguk menjawab pertanyaan Akashi.
"Hee?! Keren sekali-ssu! Benar kan,Momo-cchi?"
"Keren sekali,Senpai. Lalu siapa yang menjadi ketua tim?"
Seluruh anggota Seirin menunjuk kearah Hyuuga bersamaan.
"Hey,hey. Apa-apan ini?! Bukankah ketuanya Kiyoshi?"
"Ayolah,Hyuuga-kun. Aku tahu kau pantas menjadi ketua."Kiyoshi tersenyum.
Hyuuga hanya bisa memijat pelipisnya keras.
"Kufikir Kiyoshi-senpai yang menjadi ketua."
"Aku juga-ssu. Ada hawa kuat yang terpancar dari Kiyoshi-senpai."
"Itu karena dia termasuk Uncrowned King,nanodayo."
Seluruhnya diam memandang Midorima seksama.
"Apa?"
"Aku tidak menyangka kau mengetahui tentang Uncrowned King,Midorima."
"Aku selalu memperhatikan kemampuan lawanku dilapangan,nanodayo."
"Kok sedikit mirip stalker ya?"Kise berbisik.
"Aku bisa mendengarmu,Kise!"
"Kiyoshi Teppei si Hati Besi."
"Haha,aku sangat terkesan kalian berdua masih mengingatku,Akashi,Midorima. Tapi sebaiknya kalian tidak memanggilku begitu."
"Eh,kenapa Senpai? Itu nama yang keren! Benar kan Kuroko?"Kagami menyikut Kuroko pelan.
"Memang keren,Kagami-chan. Tapi terdengar seperti Kiyoshi-san tidak memiliki hati."
"Bahkan Kuroko mengetahui apa yang kurasakan."
"Begitu yah? memang benar sih. Apalagi Senpai aslinya memiliki sifat yang ramah dan baik hati."Kiyoshi memerah mendapat pujian dari Kagami.
"Aku ingat kau. Kau yang selalu menggangguku mencetak skor saat itu. Sangat menyebalkan."Murasakibara menatap Kiyoshi sebentar lalu kembali melanjutkan makan. Kiyoshi hanya bisa sweatdrop.
"Tapi Kagamin juga punya julukan yang lebih hebat lagi!"
"Benar-ssu! Dan dikenal sampai luar negeri!"
"Benar begitu,Kagami?"Anggota Seirin menatapnya. Julukan dalam hal apa sampai dikenal diluar negeri? Mereka jadi penasaran tentang siapa sebenarnya Kagami Taira dihadapan mereka ini.
"Hei sudahlah."Kagami hanya menggaruk pipinya yang memerah.
"Kalian jangan membuat Kagami makin besar kepala."Aomine mengorek telinganya dengan ekspresi malas.
"Kau itu yang besar kepala tapi otak kosong!"Kagami menggeram.
"Kalau otakku kosong mana mungkin aku bisa mahir dalam basket,Bakagami!"
"Itu karena kau selalu membayangkan bola basket seperti dada para perempuan! Menjijikkan!"Kagami memasang tampang jijik.
"Apa katamu?!"Aomine menggebrak meja. Kedua alisnya bertaut. Muncul banyak kerutan diwajahnya.
"Benar begitu,Kagamin?"Momoi memasang ekspresi antara tidak percaya dan jijik.
"A-aku tidak menyangka…"Kise mengigil hebat.
"Aku berani sumpah! Aku dan Kuroko tidak sengaja memergoki si Aho ini sedang meremas bola basket yang dipegangnya dengan wajah mesum!"
"Aku sampai harus menarik Kagami-chan yang hampir muntah melihatnya. Walau aku sendiri ingin muntah."Kuroko dan Kagami saling berpegangan tangan. Menguatkan diri mereka bahwa mereka akan baik-baik saja setelah melihat dan harus mengingat kembali mimpi buruk yang lalu.
Midorima tersedak ludahnya sendiri. Murasakibara hampir saja mengeluarkan maiubo yang telah menyatu dengan salivanya. Keluar busa dari mulut Kise dan Momoi. Sedangkan Akashi reflek menancapkan gunting dimeja. Membuat semuanya makin takut dan ingin muntah dalam waktu yang bersamaan. Anggota Seirin sendiri membelalakkan mata mereka lebar-lebar. Walau mereka setahun diatas anak-anak dihadapannya,mereka sudah pernah sekali dua kali membaca buku demikian. Dan tidak sampai melampiaskannya kepada bola. Oke sudah dipastikan mereka butuh rehab sebelum berani menyentuh bola basket lagi.
"Kau ku skors dari semua lapangan basket dan semua jenis bola sampai kami semua kembali normal,Daiki."Titah mutlak Akashi.
Aomine Daiki hanya bisa pasrah tanpa melawan. Menyandarkan diri pada kursi yang didudukinya dan menghela nafas panjang tanpa berusaha men-death glare Kagami dan Kuroko yang telah memergokinya dan membuka aibnya didepan teman-teman bahkan kenalan baru mereka hari ini. Andai saja ia lebih peduli pada sekitarnya mungkin ia tidak akan dipergoki orang lain sedang melakukan hal itu. Aomine Daiki harus berhati-hati lain kali. Ia pastikan itu. Janjinya pada diri sendiri.
Sedangkan dalam hati,Kagami menghela nafas lega karena identitasnya tidak jadi dibongkar dihadapan para senpai kenalannya. Bukan karena tidak ingin bercerita. Tapi Kagami masih belum siap untuk membahas segala hal yang menyangkut tentang identitasnya. Kuroko dan Akashi sendiri tersenyum dalam diam begitu berhasil mengalihkan pembicaraan yang harus menyebutkan nama para personil yang sedang tidak ingin dibahas Kagami. Terlebih lagi mereka tidak ingin banyak orang yang tahu tentang identitas Kagami Taira. Mana mungkin mereka ingin menambah list siapa saja yang akan memperebutkan Kagami,bukan?
