CHAPTER 10
Lucy Decision
Lucy masih sangat terkejut dan mencoba menenangkan dirinya di dalam kamar.
..keesokan harinya jam 7 malam..
LUCY P.O.V
"Aku memang sempat takut menghadapinya kemarin, apalagi melihat tatapannya dan mendengar perkataannya yang merendahkanku. Namun aku memberanikan diri untuk melawan kemauannya. Karna aku tau bahwa aku masih memiliki tanggung jawab disini. Dan aku masih harus menunggu Natsu pulang" batin Lucy.
Handphone Lucy tiba-tiba bergetar dan ia langsung mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. "halo Levy-chan, ada apa?"
"oh benarkah? Baik aku akan kesana besok, ja ne.." Lucy menutup telponnya.
Keesokannya sekitar jam 4 sore Lucy pergi ketempat Levy dengan menaiki bus dengan memakai jeans pendek juga baju blouse putih santai. Ketika ia menaiki bus ada seorang laki-laki yang memakai jaket kulit beserta topi yang juga menaiki bus yang sama dengannya dan duduk dibelakangnya. Namun ia tidak sadar bahwa orang itu sedang mengikutinya. Orang itu mengamati Lucy dan seolah mencatat setiap gerak-geriknya.
Lucy turun dari bus dan bertemu dengan Levy yang menunggunya dengan wajah ceria. Ternyata Levy mengajak Lucy untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Gajeel. Merekapun pergi ke sebuah mall untuk membeli barang yang kira-kira cocok untuk pemuda yang adalah pasangan Levy tersebut.
Orang mencurigakan itu masih mengamati gerakan Lucy dan mengambil ponsel disakunya. "halo, nyonya, ini saya. Sepertinya saya tau cara untuk menendang keluar gadis itu"
Wanita itu duduk di bangku besar menghadap belakang lalu membalikan bangkunya "baik, kerja bagus.. kau kerjakan itu secepatnya" jawab wanita itu tersenyum puas dan ternyata ia adalah Poluchka.
..beberapa jam kemudian, sekitar jam 8 malam..
Tidak terasa waktunya sudah malam dan akhirnya Lucy & Levy mengakhiri jalan-jalan mereka sambil membawa tentengan yang cukup banyak. "Lu-chan Arigatou telah menemaniku. Tadinya kukira hanya akan beli hadiah, ternyata aku malah belanja juga hahaha"
"tidak masalah kok, lagipula aku senggang. Kau hati-hati di jalan ya.. salam untuk Gajeel" sahut Lucy. Akhirnya mereka pun pulang masing-masing.
"kau juga Lu-chan. Sampai bertemu besok ya di rumah Gajeel, Ja ne.."
.
Levy yang sedang berjalan pulang tiba-tiba dihadang oleh sekelompok orang berbaju hitam dengan kacamata gelap dan memegangnya kasar.
"a-ahh? Apa yang kalian lakukan?! To-tolong!" teriak Levy yang di bawa kedalam mobil sambil dibekap.
.
"okaeri nona Lucy" sapa para pelayan rumah kepada Lucy.
"tadaima" balas Lucy tersenyum.
"hahh.. lelah juga, aku mau mandi dulu deh"
Belum sempat menuju kamarnya ponsel Lucy bergetar "ah? Nomor siapa ini? jangan2 Natsu.."
Dengan semangat ia mengangkat panggilan itu "ya, halo?".
"-lepaskan aku!-" terdengar suara teriakan melalui ponsel.
Lucy sangat mengenal suara itu, suara sahabatnya yang baru saja ia temui beberapa jam lalu. "Le-Levy-chan?! Apa yang terjadi?"
"hem.. sudah kubilang kau akan menyesal! Ini baru permulaan, jika kau masih menentangku aku akan melakukan lebih pada anak ini" sahut suara orang lain yang menelpon Lucy.
"tidak mungkin, suara ini..? kau nyonya Poluchka kan? Tega sekali kau melakukan ini! kumohon lepaskan temanku!" bentak Lucy melalui ponsel.
"aku tawarkan lagi padamu, jika kau mau mengikuti perkataanku aku akan melepas temanmu" sahut si wanita paruh baya itu.
"apa maksudmu? Apa kau tidak paham juga? aku masih punya tanggung jawab disini, tidakkah kau mengerti?!" balas Lucy.
Levy tiba-tiba menyahut sambil berteriak ke arah ponsel itu "tidak Lu-chan! Jangan dengarkan dia! Mereka ini orang jahat! biarkan aku Lu-chan. Gajeel pasti akan datang menolongku"
"baiklah aku mengerti, hei kalian cepat selesaikan anak berambut biru itu!" ucap Poluchka.
"KYAAA!"
Lucy semakin panik mendengar Levy berteriak ketakutan. "LEVY-CHAN...! Baiklah baik, aku mengerti aku akan meninggalkan rumah ini segera, tapi tolong lepaskan dia, kumohon.." ucap Lucy menangis dan memohon.
"kau memang gadis yang bijak, akhirnya kau sadar posisimu. Baik akan kulepaskan dia dengan lembut, keluarkan anak itu sekarang, tugas kita sudah selesai" Poluchka menutup ponselnya dengan tertawa puas dan melepaskan Levy dijalanan.
Lucy benar-benar syok dengan kejadian yang menimpa temannya itu, kejadian yang mengancam nyawa sahabatnya. Tidak ia sangka bahwa ada orang seperti itu dikeluarga Natsu yang selalu membuatnya hangat dan nyaman.
Lucy menangis sesegukan, perasaan bersalah, sedih, terkejut, dan lainnya bercampur aduk sekarang.
Tidak diduga ada salah satu pelayan yang sudah memperhatikan Lucy semenjak tadi. Si pelayan itu melihat Lucy sangat iba dan khawatir.
"Nona, anda tidak apa?" tanya pelayan itu dengan tatapan khawatir. Lucy langsung mengusap air matanya dan membalikan tubuhnya "ah? tidak, aku tidak apa. Jangan khawatir" ucap Lucy sambil tersenyum kepada pelayan itu dan meninggalkannya menuju ke kamar.
Lucy memandangi kamar Natsu dengan tatapan sedih lantaran mengingat semua kenangan ketika ia baru datang kemari dan semua kejahilan yang Natsu lakukan padanya.
"Natsu, maaf. Ternyata aku tidak bisa memegang janjiku, ternyata kita memang tidak bisa bersama bahkan setelah aku mengetahui bahwa kau adalah cinta pertamaku dulu" ucap Lucy berbicara sendiri.
"haha.. padahal dulu ketika baru datang, aku selalu meronta ingin cepat pulang dan menjauhi pemuda usil sepertimu. Tapi sekarang setelah aku merasa sangat nyaman denganmu..."
Ia kembali mengeluarkan air matanya "aku harus pergi"
"selamat tinggal cinta pertamaku"
.
.
.
.
*tok *tok "Nona.. sudah waktunya makan pagi" ucap seorang pelayan mengetuk pintu kamar Lucy.
Tak mendengar jawaban dari Lucy, pelayan itu memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Pelayan itu kaget ketika mendapati Lucy tidak ada di kamar.
Lucy pergi meninggalkan rumah melalui jendela untuk menghidari para pelayan dan penjaga keamanan Natsu dengan membawa tas besar. Ia menaiki bus dengan uang pas-pasan yang ia miliki dari ayahnya dulu. Entah dia bisa kemana sekarang ia pun tidak tau.
Suara dering telepon rumah berbunyi. Salah seorang pelayan yang masih sibuk mencari keberadaan Lucy menyempatkan diri untuk mengangkat telepon itu. "dengan kediaman keluarga Dragneel, ada yang bisa kubantu?"
"ini aku Natsu, bisa aku bicara dengan Lucy? Dia tidak mengangkat panggilanku dan mematikan ponselnya"
"a-anu, i-itu tuan.."
"ada apa?" tanya Natsu penasaran.
"Nona kabur dari rumah"
.
.
Lucy tidak tau harus kemana dan tidur kemana. Ia hanya bisa duduk diam di sebuah stasiun kereta yang sepi. Wajar saja karna itu sudah pukul 11 malam. Melihat tubuhnya yang molek dan berbentuk itu, ternyata banyak ular yang tertarik untuk memakannya.
Sekitar tiga orang mulai mendekatinya yang sedang duduk di bangku panjang sendirian. Ia masih belum sadar karna pikirannya masih sangat down dan kosong.
Ketiga orang itu menyeringai mesum dan mulai memegang pundak dan rambut Lucy. Tentu Lucy terkejut dan langsung berusaha menjauhi ketiga orang itu.
"apa yang kalian lihat?! Jauhi aku!" teriak Lucy sambil melempar-lempar tas kedepan orang-orang itu.
Dan tentu saja mereka tetap mendekati si gadis. Lucy merasa tidak berdaya, ia merasa bodoh karna telah berada di tempat sepi malam-malam begini. 'apa yang harus kulakukan ayah? Tolong aku' batin Lucy menangis memohon.
*DUK!
Salah satu orang liar itu jatuh terkena pukulan sepatu yang lumayan keras itu.
"Lucy! Cepat ikut aku"
Lucy memandang ke arah suara yang memanggilnya itu. "Sting"
.
.
Si gadis pirang meminum teh itu perlahan dengan sebuah selimut hangat yang membalutnya. Sekarang ia bisa menenangkan pikirannya lantaran ia sudah berada di rumah Sting.
"terimakasih Sting"
Sting memandang Lucy penuh tanya "apa yang kau lakukan di stasiun itu malam-malam begini? Dimana si rambut mencolok itu?"
"aku kabur dari rumah Natsu" jawab Lucy singkat.
Sting menaikkan alisnya "kenapa? apa dia menyakitimu?" tanya Sting jengkel.
Lucy tersenyum tipis dan menggeleng jujur "tidak, itu bukan salahnya. Itu salahku"
Lucy menjelaskan semua kejadiannya dari awal hingga akhir pada Sting. Sting merasa darahnya menjadi naik dan panas ketika mendengar penjelasan Lucy tentang wanita tua yang sudah mengancamnya.
"Keterlaluan wanita itu! Berani sekali dia mengancammu! Akan aku balas balik si nenek tua itu?" ucap Sting super jengkel.
"tidak kumohon, aku tidak ingin siapapun masuk kedalam persoalanku. Sudah cukup aku melihat Levy-chan tertangkap karna aku"
Sting mendengus pasrah "baiklah kalau itu kemauanmu, tapi sebagai gantinya kau harus menginap dirumahku mulai sekarang. Aku tau kau tidak punya tempat tujuankan?"
"maaf Sting aku tidak bisa, aku tidak mau menyusahkanmu"
"melihatmu hampir di terkam oleh para ular itu, mana mungkin aku akan membiarkanmu tidur diluar! Kau temanku kan? Kalau kau tidak mendengarkanku, aku akan menghubungi Natsu secara langsung"
Lucy langsung menggeleng dan memohon pada Sting untuk tidak memberitahu Natsu. Ia pun menyetujui untuk tinggal di rumah Sting.
Sting menyeringai senang dan berdiri kemudian membawakan tas Lucy ke salah satu kamar yang ada di rumahnya.
.
.
Natsu mondar-mandir kebingungan di sebuah kamar hotel berkelas di Amerika karna masih tidak bisa menghubungi Lucy sama sekali. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Magnolia dan menyiapkan barang-barangnya.
Tidak sengaja Makarov melihat Natsu yang sedang sibuk berkemas. "apa yang kau lakukan? Kau mencoba kabur lagi?"
Natsu menengok ke arah suara itu "kakek izinkan aku pulang, ada yang tidak beres dengan Lucy. Aku harus segera mengeceknya" Natsu memohon.
Makarov menaikkan alisnya "Lucy? Ada apa dengannya?"
"kata seorang pelayanku, dia kabur dari rumah dan aku tidak bisa menghubunginya sama sekali"
"Ka-kabur? Baiklah karna meeting saham itu sudah selesai, aku mengizinkanmu. Akan kusuruh sekertarisku untuk melanjutkan tugas lainnya"
.
.
Natsu langsung menaiki pesawat jam siang dari Amerika. Natsu terlihat sangat khawatir sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke bangku dengan cepat dan menggigit jari kanannya.
..Sesampai di Magnolia, di rumah Natsu..
"hei penjaga! Apa Luce sudah ketemu?" Natsu langsung menghampiri salah satu penjaganya yang sedang berdiri di depan pintu. Penjaga tersebut hanya menggeleng pasrah.
"sial!" gumamnya jengkel. Ia melepas dasinya sembarang dan melempar jasnya ke laintai.
"hmm.. sudahlah lupakan anak itu, Natsu" suara paras seorang wanita memanggil namanya dengan manja.
Natsu terkejut dan memandang kesal ke arah gadis itu, ya dia memang mengenalnya. "mau apa kau kemari?"
"hmm.. mau apa?" Gadis muda yang mengenakan dress hijau dengan wedgeheels itu mendekati Natsu. "aku akan segera menjadi tunanganmu, dan setelah itu aku akan menjadi istrimu"
Natsu makin menatapnya sinis "omong kosong apa itu? Menjauh dariku"
"woahh.. kau dingin seperti biasanya ya! Tapi.. aku suka sikap dinginmu itu, biar aku yang akan menghangatkan sikapmu itu" gadis itu mendekati Natsu dan mencoba mencium bibir Natsu.
Yap.. baiklah chapter yang ini FINISH, terimakasih yaa untuk pembaca yang masih setia J
Happy: Huaaa,, Lucy.. kenapa kau pergi?
Charla: Happy, seharusnya laki-laki tidak cengeng! Ikuti saja perkembangan ceritanya..
Erza : hem, hem.. aku setuju perkataanmu..
Ichiya : Seperti biasa kau selalu menebar PARFUM kebaikan Menn... #Ngendus-ngendus Erza
*DUAKK!
Erza: DIAM KAU!
Ichiya: MENN!
Gray : oy, oy..
to the11 ikuzo! (apalahapalahauthor)
