DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Ocs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 10
.
.
Happy reading..
.
.
KELAS hening total. Senyap sempurna. Hal ini selalu terjadi di kelas mana pun yang dimasuki Pak Yunho. Guru fisika ini sebenarnya jarang marah, tapi beliau memang punya sense of kill yang berbeda dengan guru-guru killer lainnya. Dia tidak "membunuh" muridnya dengan omelan panjang atau tugas menumpuk, apalagi surat "ngadu" ke orangtua murid tersebut. Cukup dengan tatapan mata.
Kalau Pak Yunho menatap tajam, setiap objek tatapannya akan langsung menciut dan seketika yakin hidup mereka dalam bahaya besar. Dan untuk keluar dari bahaya besar tersebut hanya ada dengan satu cara, yaitu menjadi murid yang baik. Contohnya: duduk manis pada jam fisika selanjutnya,
mendengarkan setiap penjelasan Pak Yunho dengan ekspresi tekun dan penuh perhatian, mencatat dengan lengkap dan rapi, serta mengerjakan setiap PR yang diberikan. Hal ini harus terus dikerjakan sampai sang guru lupa bahwa murid tersebut pernah melakukan kesalahan dan kredibilitasnya kembali baik.
Kali ini nasib malang itu menimpa Daehwi. Di tengah keheningan sempurna itu, yang hanya terisi suara goresan kapur yang digerakkan Pak Yunho di papan tulis, mendadak terdengar suara Baekhyun. Tidak terlalu keras dan terdengar wajar, seakan Baekhyun tidak bermaksud apa-apa.
"Daehwi, bolpoin lo gue pinjam deh. Nggak lo pake, kan? Soalnya elo kan nggak nyatet."
Seketika semua kepala terangkat, dan semua aktifitas mencatat terhenti. Termasuk Pak Yunho. Beliau langsung menghentikan kesibukannya memenuhi seluruh permukaan papan tulis dengan berbagai rumus dan contoh soal yang bikin kepala cepat kisut. Daehwi langsung pucat pasi, menegang di kursinya. Sumpah demi seisi jagat raya, ini benar-benar bencana!
Seisi kelas menyaksikan dengan tegang saat Pak Yunho meletakkan buku yang dipegangnya, lalu melangkah mendekati meja Daehwi dengan tatapannya yang mematikan, tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Sesampainya di meja tujuan, dengan tatapan yang masih tertancap pada Daehwi, Pak Yunho meraih buku catatan Daehwi yang tergelatak di meja dan membuka lembaran-lembarannya. Wajah yang kaku dan dingin semakin bertambah menakutkan saat mendapati kenyataan bahwa terakhir kali Daehwi mencatat pelajarannya kira-kira tahun 1500 SM.
Dan inilah kecanggihan Pak Yunho. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, cukup dengan menatap tajam dan menjulangkan tubuhnya yang tinggi besar di depan si murid bermasalah, persoalan akan selesai saat itu juga.
Dan itulah yang terjadi pada Daehwi. Disaksikan semua mata yang ada, yang menatap antara geli dan kasihan -termasuk mata sang pencipta hura-hura, Baekhyun- Daehwi meminta maaf pada Pak Yunho dengan kepala tertunduk dan suara terbata. Dia berjanji akan secepatnya melengkapi buku catatannya yang isinya cuma tulisan "FISIKA" gede-gede di halaman pertama dan "BAB SATU" di halaman berikutnya.
Di jam fisika-fisika seterusnya, Daehwi jadi objek tawa geli dan bahan ledakan teman-teman sekelasnya. Soalnya begitu Pak Yunho masuk kelas, Daehwi langsung bersikap bak pelajar teladan atau murid langganan juara kelas. Tekun, rajin mencatat, dan mengerjakan PR, serta mendengarkan setiap penjelasan Pak Yunho dengan serius. Dengan sikap tubuh sempurna, kata-kata guru killer itu disimaknya habis-habisan.
Suatu pagi, sepuluh menit sebelum pelajaran fisika, Jongdae tertawa terbahak-bahak saking gelinya. "Mampus lo, Hwi!" serunya.
Daehwi menoleh. Ditatapnya Jongdae dengan dongkol. Tatapannya kemudian beralih ke Baekhyun. Lebih dongkol lagi.
"Awas lo, Baek, ya. Tunggu pembalasan gue!" ancamnya. Entah sudah berapa puluh kali Daehwi melontarkan ancaman itu. Sampai saat ini yang bisa dilakukannya memang hanya sebatas mengancam.
Karena keisengan Baekhyun kali ini lumayan gawat, lumayan tidak lucu sebenarnya, Chanyeol terpaksa menjaga cewek itu dengan ketat. Tak peduli dengan semua protes Baekhyun yang jadi terkekang karena terlalu diproteksi. Yang jelas, Daehwi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Chanyeol-lah yang pertama harus dihadapi kalau ingin membalas keisengan Baekhyun.
Baekhyun meringis lalu memamerkan buku catatan dan PR fisikanya dengan sangat demonstratif.
"Nggak bakalan ada kesempatan lo balas dendam ke gue. Soalnya gue selalu mencatat dengan rajin dan menyontek PR lebih rajin lagi."
Mendengar itu, Jongdae tambah terbahak-bahak. Chanyeol ikut tertawa mendengar jawaban Baekhyun. Namun ia tahu, Daehwi tidak main-main dengan ancamannya.
.
.
.
Benar. Daehwi dendam. Meskipun sekarang nilai fisikanya lumayan, yang namanya jadi perhatian guru killer tetap bikin stres dan jantung deg-degan. Pokoknya hidup jadi nggak tenang dan nggak indah lagi deh.
Daehwi merasa hidupnya baru bisa kembali tenang kalau sudah berhasil membalas keisengan Baekhyun. Demi dendamnya terbalas itulah perhatian Daehwi pada Baekhyun tak pernah lengah, meskipun tidak kentara.
.
.
.
Suatu pagi Baekhyun melangkah masuk ke kelas tanpa semangat. Hari ini sebenarnya malas masuk. Tamu bulanannya datang. Dan hari ini hari kedua. Hari banjir bandang dalam siklus bulanannya.
Sayangnya hari ini ada pelajaran kimia dan matematika. Jenis mata pelajaran yang terus diikuti tanpa absen saja masih sering nggak mudeng, alias susah dipahami, apalagi pakai acara bolong-bolong. Dan sialnya, kedua mata pelajaran itu adanya di ujung-ujung. Matematika dua jam pertama, dan kimia di dua jam terakhir. Artinya, Baekhyun terpaksa kudu sekolah full time sampai menjelang sore. Tidak bisa minta izin.
"Kenapa? Kok lesu?" tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum datar. "Mm… nggak enak badan," jawabnya. Jawaban itu membuat Chanyeol sejenak menatap Baekhyun sebelum meneruskan kembali obrolannya dengan Kai.
Berhubung sedang banjir bandang, mau tidak mau Baekhyun harus bolak-balik ke kamar mandi untuk ganti pembalut. Chanyeol, yang tidak mengerti, jadi khawatir. Ia menyarankan untuk pulang. Jelas saja Baekhyun menolak.
"Nggak apa-apa? Pulangnya masih lama nih, Baek."
"Nggak apa-apa. Tenang aja." Baekhyun tersenyum. Senyum tidak yakin.
Ternyata emang apa-apa. Di jam terakhir, di pembalut terakhir pula, justru terjadi pancak banjir bandang. Baekhyun yang bisa merasakan terjadinya luberan yang tidak tertampung langsung panik. Tapi kepanikan itu ditekannya mati-matian, hingga tinggal berbentuk kegelisahan. Kegelisahan yang amat sangat, karena ini masalah besar. Gimana nanti caranya bisa pulang!?
Kegelisahan itu tertangkap mata Daehwi. Percuma saja ia punya empat kakak cewek kalau tidak tahu dengan segera apa penyebab kegelisahan Baekhyun. Sebulan sekali, setiap tanggal-tanggal tertentu, keempat kakaknya itu hobi sekali mondar-mandir ke kamar mandi. Persis seperti yang dilakukan Baekhyun sekarang. Jadi, mondar-mandirnya cewek itu sudah pasti karena urusan khas cewek, bukan karena perut mules atau mencret-mencret. Dan jangan-jangan kasusnya kayak lumpur Lapindo. Meluber! Hahaha! Daehwi tertawa girang dalam hati.
Sementara itu Baekhyun berpikir keras mencari siapa teman cewek yang bisa dimintai tolong karena -kayaknya ini memang hari sialnya- Kyungsoo nggak masuk. Paling tidak, ia perlu sesuatu untuk menutupi bagian belakang roknya yang terkena bercak darah mens.
Di saat yang sama, Daehwi juga sedang berpikir keras bagaimana caranya memanfaatkan situasi ini untuk membalaskan dendamnya.
Begitu bel pulang berbunyi, Baekhyun langsung sibuk menoleh ke sana kemari. Daehwi langsung tahu Baekhyun sedang mencari pertolongan. Saat itu juga Daehwi mendapatkan ide yang menurutnya benar-benar brilian.
Cepat-cepat dihampirinya Baekhyun, sebelum cewek tukang iseng itu sempat menemukan dewi penolong. Daehwi menarik sebuah bangku ke sisi meja Baekhyun, dan langsung nyerocos dengan heboh dan berapi-api.
"Baek, katanya lo suka komik jepang, ya? Kakak gue juga ada yang suka. Maniak malah. Dia punya koleksi komik jepang banyak banget. Dari zaman dulu, waktu komik jepang baru masuk Indonesia. Yang judulnya apa, ya? Candy-Candy, kalo nggak salah. Trus sampe sekarang dia masih ngumpulin terus tuh!"
Baekhyun dan Chanyeol sampai nyaris terlonjak karena kaget. Otomatis kesibukan Baekhyun mencari pertolongan jadi terhenti.
"Eh, sori. Sori. Kaget, ya?" kata Daehwi, berlagak menyesal.
"Ya kagetlah. Tiba-tiba lo muncul di sebelah gue, terus suara lo kenceng banget, lagi." jawab Baekhyun kesal. Sementara itu Chanyeol meneruskan kembali kesibukannya memasukan semua buku dan alat tulisnya ke tas. Namun instingnya memberi peringatan, hadirnya Daehwi bukan tanpa tujuan.
"Iya itu tadi, Baek. Kakak gue yang nomer dua, yang sekarang udah gawe, koleksi komiknya banyak buanget. Sampe dia nyediain satu ruangan khusus buat nyimpen," Daehwi segera meneruskan ceritanya. Dengan intonasi yang tetap berapi-api. Bibir Baekhyun sudah terbuka untuk menghentikan cerita nggak penting banget itu. Sayangnya Daehwi nyerocos terus tanpa titik atau koma. Betul-betul tanpa jeda. Jadi, jangankan untuk menghentikan hujan deras kata-kata itu, untuk sekedar menoleh ke kiri atau pun ke kanan saja Baekhyun sudah tidak punya kesempatan.
Sambil memasukkan diktat kimianya ke dalam tas, Chanyeol melirik Daehwi, mencoba menebak-nebak apa sebenarnya tujuan cowok itu. Sayang ia tidak berhasil. Lewat sudut mata, Daehwi menangkap kecurigaan Chanyeol, tapi pura-pura tidak tahu.
"Gitu, Baek. Jadi kalo lo mau pinjem komik, bilang aja yah? Oke deh, gue balik dulu. Yuk, dah!"
Cerita Daehwi mendadak berakhir. Cowok itu berdiri lalu berjalan ke luar kelas setelah melambaikan tangan sesaat. Baekhyun dan Chanyeol menatap kepergiannya dengan bingung.
"Apa sih tu orang? Nggak jelas gitu. Siapa juga yang pingin pinjem komik kakaknya?" gerutu Baekhyun.
Cewek itu segera teringat kembali masalah besar yang sedang dihadapinya. Ia menoleh ke sekeliling dan seketika mukanya pucat pasi.
"Yaaah, udah kosooong!" jeritnya tanpa sadar.
"Elo kenapa sih?" Chanyeol menatapnya bingung. "Ya jelas kosonglah. Udah bel dari tadi. Yuk, balik."
"Mmm…." Baekhyun menggigit bibir. Mukanya kembali pucat.
"Ada apa?" tanya Chanyeol. Jadi cemas melihat raut pucat Baekhyun.
Sementara itu Daehwi diam-diam bersembunyi di belakang daun pintu yang terbuka, di luar kelas. Begitu didengarnya jeritan Baekhyun, cowok itu langsung berlari meninggalkan persembunyiannya sambil menyeringai lebar.
"Yes! Yes! Yes!" serunya begitu sudah jauh. Dia berlari sambil tertawa-tawa.
"Ada apa?" Chanyeol mengulangi pertanyaannya. Jadi semakin cemas karena Baekhyun tidak juga menjawab.
"Mmm…." kembali Baekhyun menggigit bibir. Mukanya yang tadi pucat kini bersemu merah. Ditatapnya Chanyeol. Hanya sesaat. Lalu ia menunduk, tampak sangat malu.
"Ada apa sih?" tanya Chanyeol gemas. "Gue udah mau balik nih. Gue tinggal ya?"
"Yah, jangan dong!" jawab Baekhyun serta-merta.
"Makanya ngomong. Ada apa?"
"Gue nggak tau gimana cara bisa pulang," ucap Baekhyun memelas lucu. Wajahnya semakin bersemu merah. Kening Chanyeol mengerut rapat.
"Kenapa? Kehabisan ongkos?"
"Bukan."
"Trus kenapa?"
"Mm… gue tembus," jawab Baekhyun lirih.
"Tembus apa?" tanya Chanyeol polos. Namun tak lama kemudian cowok itu mengerti. Selama tiga tahun di SMP, ia sering mendengar teman-teman sekelasnya yang cewek bertanya pada sesamanya dengan satu kata itu. Dengan intonasi yang juga selalu sama. Harap-harap cemas.
"Ups!? Sori. Sori, Baek." Chanyeol buru-buru meralat kebodohannya. Kini mukanya jadi ikut bersemu merah. Namun dengan cepat ia menormalkan kembali. "Jadi dari tadi lo bolak-balik ke kamar mandi gara-gara ini? Sama sekali bukan karena sakit?"
"Iya." Baekhyun mengangguk.
"Jadi sekarang gimana? Emang parah banget, ya?"
Sambil menggigit bibir dan menahan napas, Baekhyun bangkit perlahan. Perlahan pula ia menengok ke belakang bagian roknya. Tanpa sadar, Chanyeol jadi ikut menahan napas. Dan begitu berhasil mengetahui dengan pasti sebesar apa luberan tamu bulanannya, Baekhyun langsung lemas. Wajahnya menyiratkan keputusasaan.
"Gimana?" Chanyeol bertanya tak sabar. Kembali muka Baekhyun jadi bersemu merah. Sambil menunduk, perlahan cewek itu memutar tubuh. Seketika Chanyeol terperangah.
"Itu darah semua!?" tanyanya takjub. "Gila! Kok kalian cewek-cewek bisa nggak mati lemes sih, ngeluarin darah segitu banyak?"
"Udah deh. Itu nggak penting. Sekarang gimana caranya gue bisa pulang nih?"
Chanyeol berdecak. Jadi bingung juga.
"Kenapa sih nggak lo antisipasi? Bawa sweter, gitu?"
"Panasnya lagi kayak di gurun gini, mana kepikiran?"
"Ck! Tas lo ransel pula," Chanyeol berdecak.
Keduanya terdiam. Sama-sama kebingungan. Akhirnya Chanyeol mengambil keputusan nekad.
"Ya udah. Mau gimana lagi? Terpaksa kita terobos."
Baekhyun langsung menggeleng kuat-kuat.
"Nggak! Nggak! Gila apa!? Pasti di lapangan depan rame banget deh. Anak-anak pada nongkrong, gitu."
"Trus gimana? Mau nunggu sampe malem baru pulang? Pasti darahnya udah ke mana-mana. Bisa-bisa ntar malah dikira abis kecelakaan."
Chanyeol meraih tas ransel Baekhyun. Dia kendurkan salah satu talinya.
"Coba pake. Bisa nutupin nggak?" Dia ulurkan ransel itu ke Baekhyun, yang langsung menyampirkannya di bahu. Cewek itu kemudian balik badan.
"Keliatan?" tanyanya, harap-harap cemas.
"Hmm…." Chanyeol menyipitkan mata sesaat. "Pas-pasan banget sih. Tapi mau gimana lagi? Cuma ini satu-satunya solusi. Yuk." Chanyeol meraih ranselnya sendiri. Melihat Baekhyun masih ragu, Chanyeol memegang kedua bahu cewek itu dari belakang, lalu mendorongnya ke luar kelas. "Gue bantu tutupin dari belakang."
Keduanya berjalan menyusuri koridor yang sudah lengang, dengan formasi seperti anak kecil yang sedang bermain kereta-keretaan.
"Sori ya, Chan. Hari ini gue jadi ngerepotin elo," ucap Baekhyun pelan.
"Elo tuh tiap hari selalu ngerepotin gue, lagi. Bukan cuma hari ini. Atau elo baru sadarnya hari ini, ya?"
"Iya, ya?" Baekhyun seperti tersadar. Lalu ia meringis malu.
"Kelewatan!" Chanyeol geleng-geleng kepala.
"Maaf deh," ucap Baekhyun sambil terkekeh geli. Tapi kemudian tawa geli cewek itu menghilang. Tidak mungkinlah dirinya tidak menyadari. Ia justru sangat menyadari betapa sering dirinya merepotkan Chanyeol, sejak pertengkaran mereka berakhir. Yang tidak ia mengerti dan selalu menjadi pertanyaan adalah: Chanyeol sepertinya sangat mengenal dirinya.
Sebelum Baekhyun sempat menanyakan, ia keburu merasa nyaman. Nyaman dengan keberadaan Chanyeol di sebelahnya. Nyaman dengan cara cowok itu memperlakukannya. terlebih, nyaman dengan perlindungan yang diberikan Chanyeol tiap kali ia mendapat masalah akibat sifat isengnya. Dan pertanyaan itu akhirnya terlupakan.
Koridor yang mereka telusuri telah lengang, ruang-ruang kelas juga sudah kosong. Namun lapangan utama, yang terletak di depan sekolah, masih penuh tebaran siswa. Ruang-ruang sekretariat ekskul yang berjajar di sisi kiri dan kanan lapangan juga ramai oleh para siswa yang ngumpul selepas jam sekolah usai.
Menjelang mendekati lapangan, Chanyeol melepaskan tangan kanannya dari bahu Baekhyun dan menyantaikan sikapnya. Jangan sampai ada yang tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Baekhyun.
"Santai, Baek. Jangan keliatan nervous," bisiknya.
Baekhyun mengangguk. Ia membetulkan letak ranselnya yang menutupi rok bagian belakang. Keduanya mencoba melangkah sesantai dan sewajarnya mungkin. Sayangnya, itu pasti sia-sia.
Di tepi lapangan, Daehwi duduk di antara segerombolan cowok. Kedua matanya sontak berkilat begitu dilihatnya sang target akhirnya muncul. Ia berdiri, siap menyambut. Ketika Chanyeol dan Baekhyun tinggal beberapa langkah di depannya, Daehwi segera menghadang.
"Mau pulang, ya?" tanyanya manis.
Dua orang di depannya tidak mengacuhkan.
"Minggir, Hwi. Kami mau lewat," ucap Chanyeol.
"Sayangnya saya tidak bisa membiarkan kalian berdua lewat. Karena ini wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia!" suara Daehwi berubah lantang. "Dan kalian berdua adalah pengkhianat! Mata-mata! Kaki tangan penjajah!"
Muka Baekhyun mulai pucat. Ia sadar sekarang, ternyata ini penyebab Daehwi mendadak aneh di kelas tadi. Cowok ini menghalangi kesempatan Baekhyun mencari bantuan agar dapat mempermalukannya di depan umum. Tapi Chanyeol tidak terlalu kaget. Tindakan Daehwi ini merupakan bukti konkret atas kecurigaannya tadi.
"Bercandanya besok-besok aja deh, Hwi. Kami buru-buru banget nih."
"Siapa yang bercanda? Gue nggak bercanda, karena ini masalah serius!" tandas Daehwi. "Di mana-mana, masalah kedaulatan negara adalah masalah yang sangat serius!" suara Daehwi tambah lantang lagi.
Sementara itu, ulah Daehwi mulai menarik perhatian. Sebagian anak-anak menonton dari tempat mereka duduk atau berdiri, dan sebagian lagi mulai bergerak menghampiri. Mulailah terbentuk kerumunan manusia, dengan Chanyeol, Baekhyun dan Daehwi sebagai titik pusatnya.
Dengan girang Daehwi menatap berkeliling. Kerumunan manusia ini melebihi harapannya. Benar-benar cara balas dendam yang sempurna. Dan asyik pula.
"Kalian tau nggak!?" seru Daehwi keras-keras. "Mereka berdua ini mata-mata tentara Darii Nippon (Jepang). Tapi yang pasti, yang cewek ini nih yang mata-matanya. Yang cowok, kaki tangan doang!"
Para siswa yang berkerumun itu seketika mengerutkan kening. Untuk membuat para penonton itu mengerti, Daehwi lalu mementaskan drama khas tujuh belas agustusan, yang sewaktu zaman SD dulu selalu ia dipentaskan bersama teman-teman sebaya di lingkungan RT. Namun kali ini Daehwi berakting sendirian.
Seperti peran-perannya dulu, Daehwi menjadi pejuang Indonesia. Sebelum memulai dramanya, salah seorang teman Daehwi mengulurkan penggaris panjang, pura-puranya jadi bambu runcing. Sekarang Daehwi siap berakting.
"Kowe ekstrimis, kan!?" serunya keras-keras. Menunjuk-nunjuk Baekhyun dengan penggaris itu.
"Woi, ekstrimis tuh kalo Belanda!" seorang penonton nyeletuk. "Kalo Jepang, sodara tua Indonesia. Lo nggak pernah nonton film perang Indonesia zaman dulu, ya?"
"Whatever-lah!" Daehwi mengibaskan tangan. "Ayo, ngaku! Elo mata-mata Dari Nippon, kan? Gue tau, soalnya lo bawa-bawa bendera Jepang!"
Begitu Daehwi bilang "bendera Jepang", Baekhyun lansung pucat, tanpa sadar, cewek itu semakin menempelkan ranselnya rapat-rapat ke rok belakangnya, lupa bahwa Chanyeol selalu berdiri di belakangnya.
Sebagian besar juga jadi tahu, terutama yang cewek-cewek. Sementara cowok-cowok yang nggak ngeh langsung mendapatkan penjelasan. Tak lama,
hampir semua siswa yang mengikuti adegan itu memandangi Baekhyun sambil senyum-senyum. Beberapa bahkan mulai mencoba melihat bagian belakang roknya. (bendera Jepang kan putih dengan bulatan merah di tengah, jadi maksud Daehwi bilang Baekhyun bawa bendera Jepang tuh karena darah Baekhyun yang tembus bulat merah menyerupai bendera Jepang)
"Hayo, tunjukan benderamu!" seru Daehwi. "TUNJUKKAN! TUNJUKKAN!"
Dasar orang Indonesia, gampang banget terprovokasi, tak lama terdengar koor kompak dan membahana dari seluruh sisi lapangan.
"TUNJUKKAN! TUNJUKKAN! TUNJUKKAN!"
Habis sudah!
Muka Baekhyun merah padam. Cewek yang biasanya cuek banget, kebal ledakan dan jago ngeles itu, sekarang tak mampu berkutik. Chanyeol sampai memeluknya. Menyembunyikan wajah Baekhyun di dadanya, karena cewek itu sudah hampir menangis.
Chanyeol benar-benar tak tahu lagi bagaimana cara menyelamatkan Baekhyun. Mereka terjebak di tengah lapangan sekolah. Menjadi fokus perhatian begitu banyak mata dan kepala.
Di sekeliling mereka berdua, Daehwi dan teman-temannya, yang sebagian adalah teman-teman sekelas mereka juga, menari-nari seperti Indian menang perang sambil mengacung-acungkan tangan.
"YIHAAA! JEPANG KALAAAH!" Daehwi berteriak-teriak girang, kemudian tertawa terbahak-bahak. Akhirnya dendamnya terbalaskan!
Terprovokasi ulah Daehwi, Chanyeol menguraikan pelukannya. Apa boleh buat, di depan begitu banyak mata yang tersebar di penjuru lapangan, juga yang menonton dari koridor-koridor dan jendela-jendela ruangan sekretariat ekskul, cowok itu melepaskan baju seragamnya. Ia memasangkannya di rok Baekhyun, untuk menutupi noda darah di rok belakang cewek itu. Diselipkannya kerah dan lengan kemeja putihnya di pinggang rok Baekhyun.
Untung Chanyeol selalu memakai T-shirt putih sebagai dalaman. Coba kalo singlet, wah, badannya ntar keekspose dan bikin anak perawan mimisan.
"Nyantai aja, Baek," ucap Chanyeol pelan. "Kalo gugup gitu, sama sekali nggak sukses. Yang ada malah kita dipermalukan." cowok itu mencoba tertawa, pelan tapi geli, biar Baekhyun nggak nervous.
Setelah yakin noda darah di bagian rok belakang Baekhyun sudah tertutupi, Chanyeol berdiri di hadapan Baekhyun. Dilihatnya cewek di depannya terus menunduk, dengan wajah masih merona. Chanyeol kembali tertawa pelan.
"Angkat mukanya dong. Nunduk terus nggak bakalan bikin lo ngilang mendadak dari sini, atau bikin kejadian ini nggak terjadi. Dan sampai nanti
lulus-lulusan, kayaknya kita akan terus diledekin gara-gara ini. Jadi siap-siap aja."
Akhirnya Baekhyun mengangkat muka. Chanyeol menangkap kelegaan di wajah cewek itu. Setelah sejenak mengusap lembut lengan Baekhyun, Chanyeol balik badan.
"PUAS!?" teriaknya ke seantero lapangan. Sebagai jawaban, langsung terdengar tepuk tangan bergemuruh dan suitan-suitan nyaring di sana-sini.
"YEEE, ROMANTIS!"
"ASYIIIK!"
"KAYAK FILM KOREA, OIII!"
"COCOK! PASANGAN OKE!"
"JODOH KAYAKNYA NIH! BAKALAN SAMPE TUA!"
Chanyeol menanggapi reaksi-reaksi heboh itu dengan senyum, jadi geli juga dia.
"KALO GITU KAMI PULANG DULU, YA!?" serunya.
Seisi lapangan serentak menjawab manis, tapi sambil ketawa-ketawa geli.
"IYAAA…."
"ATI-ATI DI JALAN YAAA…."
"DADAAAHHH…."
Chanyeol merangkul Baekhyun dan menggiringnya berjalan menuju gerbang sekolah.
Kepergian dua orang itu dilepas dengan tepuk tangan meriah dan suitan-suitan keras di sana-sini. Yang cewek-cewek kontan iri setengah mati pada Baekhyun. Mereka menganggap tu cewek lucky banget. Dan rentetan pujian untuk Chanyeol langsung terlontar dari bibir mereka.
"Gila, tu cowok gentle banget!"
"Tampangnya ganteng, lagi."
"Baru kelas satu SMA aja udah gitu. Gimana ntar kalo udah kuliah atau udah kerja."
Dan sederet pujian lagi. Tinggal Daehwi berdiri bingung. Lho? Lho? Lho? Kok jadi begini? Di detik-detik terakhir sebelum Baekhyun benar-benar meninggalkan sekolah, Daehwi berusaha merebut kembali kemenangannya.
"BAEKHYUN! JAJANIN KITA DOOONG! ELO KAN DAPET BULANAN!" Daehwi berteriak dengan volume gila-gilaan. Tapi yang menoleh untuk menjawab teriakan itu adalah Chanyeol.
"BESOK! SAMA GUE URUSANNYA, YA?" sambung Chanyeol sambil menunjuk dada.
Berhubung mereka berdua telah menjadi pusat perhatian dan dihujani berjuta pujian pula, kayaknya nggak keren banget kalau pulangnya naik bajaj. Mau tidak mau harus disesuaikan dengan atmosfer yang ada. Terpaksa Chanyeol menyetop taksi.
Soal argo, terpaksa begitu sampai rumah nanti ia akan todong mamanya, yang kebetulan hari ini cuti kerja. Sudah pasti dirinya bakalan dapat omelan panjang, karena dianggap sudah menghambur-hamburkan uang. Tapi masih mending begitu, daripada ia membayar dengan uang sakunya sendiri, karena bisa terancam tidak bisa jajan selama satu minggu.
Kembali terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan suitan-suitan nyaring saat pasangan itu akan menghilang ke dalam taksi. Daehwi jadi tambah kesal lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang juga, tidak jadi nongkrong sampai menjelang sore, karena yang terjadi sama sekali tidak seperti yang ia harapkan.
"Gue balik, ah!" serunya pada teman-temannya. Ia langsung balik badan dan pergi dengan tampang cemberut.
.
.
.
TBC
.
.
.
Double update yeeeeaaayyy..
Selamat menikmati para reader kesayangan~
