Disclimer: I Do Not Own The Story. J.K. Rowling Does. I Only Own The Plot. Enjoy!

AKU SUDAH GILA

Chapter 10: Orlobovsky Manor Pt. 1


"Ber-apparate sungguh melelahkan" batin Hermione ketika tak lama kemudian sampai di depan gerbang rumah mungil namun asri di jantung kota London di daerah Piccadilly. Jalan setapak menuntunya masuk ke dalam pekarangan rumah dengan cat berwarna ivory. Pagar kecil dibukanya, dan bel mungil pun berdenting pelan.

"Hermione! You're home" peluk ibunya dengan sayang. "Apakah kau sudah sarapan? Kalau belum, makanlah bersama kami di meja makan" ajak ibunya menuju kitchen island yang tak jauh dari ruang tamu. Hermione mengamati sekitarnya, semua sudah terpacking di dalam kardus dengan rapi, hanya tinggal beberapa ornament ruangan dan sofa. "setelah ini, aku akan membereskan kamarku" batinya lagi.

"Jadi, jadwal penerbangan kita ke Russia pukul 12 nanti siang. Kemudian barang-barang yang akan kita bawa akan kita kirim menggunakan cargo udara yang kemungkinan sampai pada hari esok." Tutur ayah Hermione sambil mengunyah bacon dan menyesap orange juice, sangat british.

"Kalau boleh tau dad, manor kita di daerah mana ya? Apakah terletak di kota kecil atau pedesaan, atau di kota metropolitan? Kemudian bagaimana usaha ayah dan ibu sebagai dokter gigi disini? Bagaimana dengan para pasien?" Hermione mengeluarkan beberapa pertanyaan kepada ayahnya sambil memakan hal yang sama.

"Oh you would be surprised! Kau harus melihatnya sendiri seperti apa manor kita nanti!" jawab ayah Hermione sambil terkekeh senang dan terlihat bersemangat. "untuk urusan pasien, well, sudah kami sampaikan bahwa kami akan pindah ke negara lain. Untuk sekarang pasien tidak ada masalah dan malah memberi kita beberapa parcel sebagai tanda terima kasih" kata ayah Hermione sambil tetap antusias.

"Tongkat, dimana tongkat?" gumam Irena dengan setengah berbisik meraba kantong jeansnya. "ada yang bisa kubantu mum?" tanya Hermione sesaat setelah mencuci piring dan mengepacknya secara sihir ke dalam kardus-kardus dengan mantra perluasan dan anti pecah. "uhh… tidak apa-apa Mione sayang, aku hanya lupa menaruh tongkat pemijatku dimana" jawab Irena agak gugup karena kaget. Hermione sendiri melihat tongkat pemijat ada di atas piano, dan kemudian memberikanya pada Irena. "untung saja" gumam Irena sesaat setelah Hermione naik ke kamarnya untuk mengepack barangnya kepada Richardius yang mendelik jangan-sampai-dia-tahu-duluan.

Sesampainya di kamar, Hermione melihat beberapa kardus sudah siap untuk diisi barang. Sambil mengepack barangnya, ia melihat beberapa foto yang bergerak-gerak yang berisi dia, Harry dan Ron yang saling merangkul setelah usai perang tahun lalu. Tidak ada kekhawatiran seperti sebelum-sebelumnya dalam senyum mereka. Hermione hanya membawa satu kardus yang sudah diisi kasurnya sekalipun menggunakan mantra perluasan tak terdeteksi dan, voila! Semua siap dalam sekejap. Setelah itu, kardus-kardusnya pun dibawa turun secara sihir dan tersusun rapi bersama kardus-kardus lainya di ruang tamu.

Pukul 9 pagi pun tiba dan bel berdering lagi, menampakan petugas angkut barang yang berada di luar rumah melambaikan tangan melalui jendela susun dibalik tanaman yang menjuntai. Irena pun membuka pintu dan mempersilahkan petugas yang bernama Mark untuk mengambil seluruh kardus sofa dan piano yang sudah siap di ruang tamu. Dilihatnya rumahnya bersih dari barang dan kemudian menandatangani beberapa hal. Mark dan truknya pun hilang dari pandangan. Hermione yang memperhatikan sambil duduk di tangga pun membatin "oh begini rasanya pindah rumah, cukup simple bukan?". Sungguh asyik pikirnya akan melihat lingkungan baru.

"Mom, apakah ini sudah saatnya?", tanya Hermione melihat ibunya memastikan beberapa hal.

"Yes, it is the time", melihat ibunya tiba-tiba menampakan wajah yang emsosional dan berkaca-kaca hampir menangis, otomatis Hermione memeluk ibunya dan berkata "it will be fine. Dad and I will be here for you" kemudian ayahnya bergabung dengan mereka dan berpeluk bersama.

"Aku tidak menyangka waktunya akan datang. Ini semua berkat kau Hermione. Mom and Dad sungguh bangga padamu" kata Richardius sambil tetap memeluk keluarganya.

"Maksudnya apa? Apa yang kulakukan untuk membantu kalian memenangkan lottery?" tanya Hermione tiba-tiba penasaran sambil tertawa.

"kau akan memahaminya sayang." Tatap Irena penuh kasih sayang dan kebanggaan pada tunggalnya.

Hermione naik dan melihat kamarnya yang kosong untuk terakhir kalinya sebelum rumah mereka di London dijual. Sambil mengelus kusen kayunya, ia berkata, "See you when I see you". Agak dramatis namun mungkin itu juga yang akan kau rasakan ketika meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatmu bertumbuh sejak kecil. Childhood memories kata mereka.

Dari bawah ayahnya berteriak, "Mione, taxi sudah datang kita harus bergegas". Dengan sekali tatapan dan senyuman pada ruang kamarnya, Hermione turun ke ruang tamu dan sekali lagi mengucapkan selamat tinggal pada rumahnya. Semua koper sudah diangkut dan mereka siap menuju bandara Heathrow.

Perjalanan dari Picadilly menuju bandara Heathrow memerlukan waktu yang agak lama menggunakan taxi yaitu sekitar 1 jam 10 menit. Sudah lama rasanya Hermione tidak melakukan perjalanan agak lama menggunakan mobil muggle dan ini membuatnya sakit punggung. "Apakah kau baik-baik saja Mione?" tanya ibunya sambil menunggu koper diturunkan dari taksi.

"Aku baik-baik saja mom hanya saja sudah lama tidak naik mobil dengan jangka waktu yang lama. Jadi punggungku agak sakit." Kata Hermione sambil mengusap-usap punggungnya yang nyeri.

"Blimey! Ayo mari bergegas!" ajak ayah Hermione ketika melihat jam ditanganya menunjukan pukul 11.20. Mereka mengarah ke kerumuman check-in untuk boarding. Namun anehnya ayah Hermione memilih untuk berjalan lurus menjauhi kerumunan yang mengantre itu.

"Dad, bukankah seharusnya kita check-in disebelah sana?" tanya Hermione sambil tetap mengikuti langkah Richardius.

"Oh, aku lupa memberitahumu. Kali ini kita akan naik First Class! Surprise!" kata Richardius bersemangat dan tersenyum sambil terus jalan ke arah First Class Lounge.

"Wow tak kusangka aku akan naik first class" tutur Hermione bersemangat. Ia sudah membayangkan akan membaca banyak buku untuk ujian tengah semester dengan nyaman di cabinya. Seperti yang di iklan batinya.

"May I help you sir?" tanya seorang petugas di depan first class lounge.

"Richardius Granger" jawab ayahnya penuh wibawa. Hermione tidak pernah melihat ayahnya memiliki wibawa seperti itu. Bahkan hanya dengan mengucapkan namanya. Sungguh elegan. Ia melirik ibunya yang sedaritadi berjalan dengan mengangkat kepala. Mirip keluarga Malfoy's batinya. Hermione melihat ketidakberesan disini. Ia penasaran, sungguh penasaran. Apa ini ada kaitanya dengan ucapan ayahnya di ruang tamu ataukah hanya perasaanya saja. Tapi rasa penasaranya segera tertutupi oleh kekagumanya melihat kemewahan fasilitas first class lounge.

"Please, Sir" kata petugasnya mengajak keluarga Granger untuk masuk dan duduk disofa sembari menawarkan beberapa menu dan membantu Irena untuk check-in dan mengurus beberapa dokumen seperti visa dan status kependudukan.

"Dad, apakah kau memiliki sebuah penjelasan mengenai all these things? Seberapa banyak uang yang kau dapat setelah menang lottery?" tanya Hermione sambil melihat dan mengamati apapun yang terjangkau matanya. Seingatnya, keluarga Granger selalu memiliki sifat sederhana dan jauh dari kemewahan. Meskipun mampu, bukan berarti semudah itu menghamburkan uang. Kehidupan sebagai muggle mengharuskan orang tuanya untuk menabung demi masa depan dan hemat di kehidupan sehari-hari.

"No need explaination. You will understand later" kata ayahnya mulai membiasakan diri dengan adat lama mereka. Berbicara dengan mengangkat dagu. Keheranan Hermione pun ditambah dengan cara ibunya memakan candied strawberry di depanya. Sungguh, Anggun. Lain dengan hari-hari biasanya dimana ia menyuapi Hermione di rumah lama mereka. Namun ia mengurungkan niat dengan ikut memakan candied strawberry di depanya.

Setelah 30 menit menunggu, ada panggilan untuk naik ke pesawat. The Grangers pun berdiri dan mulai berjalan keluar area lounge untuk masuk ke dalam pesawat. Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di pesawat yang sangat mewah lengkap dengan bar alcohol, tempat tidur dan lampu baca. "woah, dad you gotta be kidding me" kata Hermione pada ayahnya.

"Relax, ini baru permulaan saja." Kata ayahnya kembali berkata-kata seperti biasa ketika tidak ada siapapun kecuali keluarganya disitu.

"Champagne Sir, Madame, Miss?" tawar seorang pelayan yang menghampiri kursi mereka bertiga. Terdapat 3 gelas pink champagne telah tersedia bagi mereka.

Sungguh merupakan pengalaman kemewahan baru bagi Hermione. Ia tidak sabar untuk menceritakan pengalamanya ini bersama teman-temanya yang akan ia tulis setelah pesawatnya lepas landas. Omong-omong, apakah noodles burung hantunya sudah sampai di suatu tempat di Russia ya? Toh perjalanan London-Moscow tidak terlalu memakan waktu terlalu lama. Semoga saja ia bisa langsung mengirimkan kabar setibanya di Moscow.

Ketika ketinggian pesawat sudah stabil, Hermione mulai mengeluarkan perkamen dan pena bulunya kemudian menulis di meja kecil di depan kasurnya.

Dear Dream Team,

So this is so weird and magical at the same time. Jadi tadi pagi aku kira akan menaiki pesawat kelas biasa namun surprisingly, aku dan keluargaku naik pesawat first class! Sangat mengagumkan belum lagi interior dan fasilitasnya yang breath taking! Kalian harus coba suatu saat nanti. Ketika surat ini sampai di kalian, berarti aku sudah ada di Manor baruku sekarang. Yaampun aku sedikit gugup sekarang. Aku akan menulis surat lagi setelah mendapat balasan dari kalian. Segeralah membalas!

HG.

Digulungnya perkamen tersebut dan disimpanya pada tas manik kesayanganya. Kemudian ia mengambil salah satu bukunya, Transfigurasi Tingkat Lanjut: Ubahlah Wujud Sesuai Imajinasimu yang sengaja ia pinjam untuk perjalanan agar tidak bosan. Larut dan semakin larut dalam balutan ilmu-ilmu yang dibacanya, Hermione pun terlelap di kasurnya.

Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam yang membuat Hermione akhirnya harus bangun dari tidur nyenyaknya ketika sampai di bandara Domodedovo di Moscow. Diluar bandara, sudah ada mobil Hummer yang menunggu mereka, lengkap dengan bodyguard berjas dan berkacamata hitam.

"Welcome Home Master" hormat salah satu bodyguard dengan aksen Russianya yang kental sambil membawakan barang-barang mereka untuk dimasukan ke dalam mobil. Entah kapan dan dimana, ayah Hermione sudah berganti baju menjadi jas kulit tebal dan sepatu bot berat ala penduduk Russia. Ibunya pun berganti baju juga dari kaos dan jeans menjadi gaun panjang ungu dengan bulu di lehernya. Perjalanan saat itu sangat hening dan ia memperhatikan kedua orang tuanya yang sudah kembali menaikan dagu. Hermione sendiri masih bungkam dan tidak menanyakan hal-hal aneh lebih lanjut kemudian terlelap sekali lagi.

Beberapa jam kemudian, Hermione pun kembali terbangun dan melihat di luar jendela, matahari sudah turun di daerah horizon yang menandakan hari mulai malam dan saatnya makan malam. Mobilnya pun berhenti di depan sebuah manor besar yang menghadap tebing yang menjadi pembatas antara daratan dan samudera.

"Welcome to Varangerfjord Orlobovsky Manor" kata Richardius pada Irena dan Hermione. Sungguh, ia tak dapat berkata-kata. Manornya begitu besar berdiri sendirian dengan anggun di hamparan rumput dan bebatuan yang luas. Terlihat ujung daratan tanpa pembatas langsung memperdengarkan hempasan ombak di lautan. Warna langit yang oranye kebiruan menatap langsung pada Hermione. Hembusan udara yang dingin akhirnya menyadarkanya dan beralih fokus pada manornya. Disana berdiri sebuah Manor dengan warna Ivory-Cream seperti suasana rumahnya di London. Terdapat pohon cemara dan rumput yang rapi mengitari pekarangan serta air mancur berbentuk tiga elang. Pagarnya pun dihiasi bunga mawar merah darah yang melilit-lilit pada ornament elang. Di puncak manor terlihat tulisan besar "O".

Irena menggandeng Hermione menaiki tangga pualam dengan anggun. Pintu dengan ganggang berwarna emas pun terbuka mendapati pelayan sudah menunggu dan menunduk dengan hormat. Hermione tidak bisa tidak menampakan keterkejutanya. "Selamat Malam Mistress Irena and Mistress Hermione, perkenalkan saya Anthony Melkinov, siap untuk melayani kalian" sapa pelayan yang menyebut dirinya Anthony sambil membungkuk.

"Terima Kasih atas kerja kerasmu selama ini Anthony. Bisa tolong antar Hermione naik ke kamarnya untuk bersiap-siap makan malam? Aku akan menemui Richardius untuk membicarakan beberapa hal" jawab Irena dengan anggun.

Hermione yang sedaritadi diam saja mengangguk pada ibunya dengan patuh dan tidak banyak bicara kemudian beranjak mengikuti Anthony menaiki tangga pualam yang berkelok kearah kanan. Untuk menghilangkan kecanggungan antara dirinya dan Anthony yang berjalan di depanya, Hermione akhirnya berbicara untuk yang pertama kalinya. "Umm… Sudah berapa lama kau kerja di Manor ini Anthony? Kau terlihat sudah memahami tempat ini" Tanya Hermione memecah keheningan.

"Saya sudah bekerja disini semenjak saya kecil Mistress Hermione. Ayah anda menyelamatkan saya dari sebuah bencana yang menyebabkan saya kehilangan kedua orang tua saya." Katanya dengan sopan tanpa menoleh kebelakang.

"Oh tidak usah memanggilku Mistress. Panggil saja Hermione. Aku yakin kita seumuran. Bukan begitu Anthony? Umurku 18 tahun." Jawab Hermione sambil tetap berjalan mengikuti Anthony dan Ia tidak menyadari sedaritadi di dinding atas sepanjang koridor banyak lukisan leluhur yang memperhatikanya dalam diam seolah mengerti belum saatnya untuk mengagetkan cucu tunggalnya. kemudian, hermione membatin lagi, kenapa ayahnya mengenal Anthony sejak kecil? Bukankah ayahnya baru memenangkan lottery bulan lalu? Aneh sekali.

"well, kalau begitu kita memang seumuran, err… Hermione. Tapi tetap biarkan aku memanggilmu Mistress ketika di depan yang lain." Jawab Anthony dengan canggung. "Kita sudah tiba di kamarmu Hermione. Jika butuh apa-apa tekan bel di sudut ruangan saja dan aku akan datang." Kata Anthony sambil tersenyum meninggalkan Hermione di depan pintu kamar yang –sungguh sangat-sangat– besar di ujung koridor.

"Baiklah Anthony. Terima kasih" senyumnya kembali sambil membuka pintu di depanya. Tak berhentinya takjub mengira-ngira seberapa besar lottery yang dimenangkan kedua orang tuanya sampai-sampai membeli Manor lengkap dengan body guard dan pelayan. Terpampang dihadapanya kamar yang di dominasi warna merah dan kuning tanda seorang Gryffindor. Setelah melepas sepatunya di ujung ruangan, ia memperhatikan ranjang ukuran King-Sized yang dilengkapi dengan banyak bantal dan selimut tebal, perapian dengan pinggiran ornament elang putih yang sejak-kapan-tidak-tahu sudah memendarkan api yang hangat, sofa-sofa dan meja ruang tamunya di rumah London yang tertata rapi di depan perapian dan grand piano hitam yang terletak dipojok ruangan dekat dengan pintu balcon. Sebelum melangkah jauh, Hermione membuka pintu yang ia sangka adalah kamar mandi. Namun dugaanya salah ketika mendapati ruangan tersebut adalah walk-in-closet yang mewah yang memiliki dua lantai. Ia sungguh tak dapat berkata apa-apa saat melihat deretan baju-baju yang ditata rapi berdasarkan urutan warna yang membentuk gradasi yang indah seperti pelangi. Mulai dari baju-bajunya yang sekali-lagi-tidak-tahu kapan sudah disusun disana sampai baju-baju yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di tengah ruangan baju tersebut, tergeletak diatas sofa, dress biru laut yang memiliki manik-manik crystal. Diatasnya tertulis secarik kertas.

Dear Hermione,

Pakailah baju ini untuk makan malam setelah ini karena akan ada beberapa tamu yang akan datang untuk bersilaturahmi. Anggap saja sepupu jauh dari Russia, Polandia dan Norwegia. Pastikan kau menggunakan kalung krystal yang ada di display. Be ready at 7 PM in the dining hall.

Mom.

"Gila. Apa-apaan dengan semua ini. Aku tidak pernah ingat punya sepupu dari eropa timur" Ia yakin ia tidak bermimpi namun ia juga yakin ia sedang berhayal. Masih heran dengan semua hal ini, ia memutuskan untuk bertanya saat makan malam tiba.

Ketika ia menoleh ke kanan, ia melihat lemari-lemari berisi aksesoris yang tersusun rapi juga sesuai warna, mulai kalung, anting, gelang, kacamata, syal sampai sarung tangan dan topi. "How do I become so rich like Malfoy" batinya girang dan heran sekaligus. Setelah puas melihat-lihat walk-in-closetnya, ia memutuskan untuk keluar. Sesampainya di luar ia langsung menemukan Noodles tengah tertidur manis di sangkarnya di ujung ruangan dekat balcon sebelah kiri. "Noodles my smart boy. Sejak kapan kau berada disini? Apakah kau sudah makan?" sapa Hermione mengelus burung hantunya dan Noodles pun mengeluarkan suara "gurrr…" halus. Ingat ingin mengabari teman-temanya, Hermione pun mengikatkan perkamen yang ia tulis di pesawat dan mengutus Noodles untuk menembus langit sore kembali ke London bagian Wizarding World.

"Sebaiknya aku mulai bersiap-siap" gumamnya sambil menuju kamar mandi. Tanpa bosan-bosan ia kembali tertegun melihat kamar mandi yang begitu besar. Shower? Ada. Kolam Jaccuzy? Ada. Warna cat dindingnya pun putih Ivory dan guess what? Disana ada jendela besar yang menghadap langsung ke tebing yang menampakan Horizon yang mulai gelap. "Gila. Aku pasti bermimpi. Ini semua tidak nyata" decaknya dengan kagum dan mulai mandi.

Selesainya mandi, ia keluar menggunakan handuk dan mendapati seorang wanita terlihat seumuranya tengah menunggu dengan tenang disebelah pintu masuk. Hermione pun kaget mendapati ada orang selain dirinya disana. "Hey! Siapa disana!" seru Hermione panik.

"Mohon tenanglah Mistress Hermione, maafkan sebelumnya kedatangan saya yang tiba-tiba. Nama saya Agnes Melkinov, saudari kembari dari Anthony Melkinov yang sebelumnya mengantar anda ke kamar ini. Saya ditugasi untuk membantu anda bersiap untuk makan malam Mistress." Seru Agnes dengan ketakutan jika tiba-tiba Hermione mengamuk lagi.

"Oh.. Umm… Baiklah Agnes. Kau tidak usah takut. Aku hanya err… sedikit kaget karena kedatanganmu tanpa suara. Dan by the way, jangan panggil aku mistress. Panggil saja Hermione" tutur Hermione sedikit canggung namun tetap mengulurkan tanganya yang basah pada gadis didepanya. "Nice to know you" sapa Hermione dengan senyuman.

Memang benar Agnes membantu Hermione mengenakan gaun birunya dan memakaikan aksesoris juga tak lupa menggelung lepas rambutnya. Setelah dipastikan semuanya rapi dan cantik, Hermione keluar kamar bersama Agnes. Dalam keheningan lagi-lagi Hermione membuka suara. "Jadi, apakah pelayan disini hanyalah kalian berdua?" tanya Hermione basa-basi.

"Sebenarnya masih banyak pelayan lain Hermione, namun hanya kami berdua yang ditugasi untuk mengurus West Wing yaitu koridor daerah barat untuk membantumu. Sebenarnya semua koridor kanan ini adalah milikmu Hermione. Aku dan Anthony tinggal satu lantai dibawahmu" senyum Agnes yang mengingatkannya pada Ginny Weasley sahabatnya di Hogwarts.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan pintu yang sama besarnya, kemudian mengarah pada aula besar dengan meja panjang, sepanjang meja makan asrama di great hall. Tampaklah Irena berdiri bersama Richardius yang duduk dengan jas hitam panjang menghadap perapian dengan diam. "Mom, Dad, are you okay?" tanya Hermione berjalan memecah keheningan.

Orang tuanya yang kaget pun segera mempersilahkan Hermione untuk duduk dan bersiap untuk memaparkan beberapa hal. "Hermione Darling, kau terlihat seperti malaikat dengan gaun biru ini. Tidak salah mum memesankan gaun ini dari desainer Olga Vishenko secara langsung kemarin pagi. Fittingnya, detailnya, sungguh magnificent!" kata Irena mencoba mencairkan suasana yang penuh tanda tanya.

"Sebenarnya berapa banyak uang yang kalian dapat? Well, aku sungguh menyukai Manor ini namun apakah memang ini semua merupakan uang lottery?" tanya Hermione pada kedua orang tuanya penuh selidik.

"umm… Hermione sebenarnya.." tutur Richardius terbata-bata menatap istrinya. Kemudian melanjutkan, "Keluarga kita bukanlah keluarga muggle. Keluarga kita merupakan salah satu keluarga pure-blood tertua di Russia. Hermione Orlobovsky yer a Pureblood".


-TBC-

Halo semuanya! Balik lagi sama aku di Chapter 10. Kali ini fix aku memang beneran nyari durasi penerbangan, tiket, bla-bla-bla dari London ke Russia. Juga tempatnya di tebing gini murni menghayal gituu… Piccadilly jug murni ngarang inget dari monopoli sama internet. Please Comment and Review! 1 komen dari kalian menyemangati aku buat tetep ngelanjutin ff ini. Let's Bring Back the fun time! Thank You!