Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. Fic ini hanyalah inspirasi gak sengaja yang nongol setelah membaca artikel di internet. hehehe

.

.

.

Gelangnya...

Rukia harus mengambil gelangnya!

Tapi... jika Rukia mengambil gelangnya sekarang, sudah jelas Ichigo akan semakin curiga padanya. Bagaimana caranya agar gelang itu bisa Rukia ambil tanpa menimbulkan sedikitpun kecurigaan pada pria berambut orange ini. Lama Rukia mempertimbangkan keputusannya. Apa yang sebaiknya dia putuskan sekarang?

"Rukia, jawab aku," tuntut Ichigo.

Rukia tetap diam. Tidak memberikan kepastian apapun. Akhirnya Rukia tetap memilih diam. Gelangnya sudah hilang. Jadi... Rukia tidak perlu mencarinya lagi. Gelangnya... memang sudah hilang. Buat apa diharapkan lagi? Meskipun dia menyayangi gelang itu, tapi jika sudah hilang, harus Rukia relakan selamanya.

Rukia menyerah menghadapi orang keras kepala ini, jadi Rukia memilih meninggalkan Ichigo secepatnya. Tapi pria ini masih keras kepala dan menarik lengan Rukia begitu kuat hingga Rukia sempat meringis sakit.

"Hei, pelan sedikit. Rukia itu seorang gadis, kau tahu?"

Rukia bernafas lega. Renji sudah menariknya ke belakang punggung rambut merah nanas ini. Rukia tak perlu lagi melihat wajah orang itu.

"Tolong tinggalkan kami sebentar. Aku perlu bicara dengannya," ujar Ichigo sambil berusaha menarik Rukia lagi dari belakang punggung Renji. Tapi Renji terus menghadang Ichigo mendekati Rukia.

"Kau tidak lihat gelagatnya? Dia tidak mau bicara denganmu," jelas Renji.

"Tapi kami harus bicara! Tolong jangan memperumit kami!" kata Ichigo tak sabar.

"Baiklah. Aku tak akan memperumit kalian, tapi dengarkan dulu keputusan Rukia, dia mau bicara atau tidak denganmu," sela Renji.

Tahu-tahu, begitu Renji berbalik ke belakang untuk bertanya pada Rukia, gadis itu sudah menyodorkan ponselnya pada Renji.

'Tolong antarkan aku pulang. Kakakku bisa cemas kalau aku belum pulang juga.'

Renji menyeringai lebar. Rukia tetap memalingkan wajahnya tanpa melihat Ichigo lagi. Renji menunjukkan layar ponsel itu sekilas pada Ichigo. Lalu mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya lagi.

"Kau lihat. Rukia tidak mau kan? Jadi jangan dipaksa lagi. Kau seharusnya pulang menemani tunanganmu saja, Tuan Kaya!" sindir Renji.

Rukia mulai merasa suasana di antara dua pria ini sudah tidak beres. Karena itu, Rukia segera menarik lengan Renji untuk menjauh dari tempat itu meninggalkan Ichigo.

Sebelum benar-benar pergi, Renji sempat menyeringai mengejek pada rambut orange itu.

Rukia benar menghindarinya. Dan sudah pasti ada alasan kenapa Rukia bisa menghindarinya seperti itu. Apa masalahnya?

Setelah agak jauh dari teater itu, Rukia baru melepaskan lengan Renji. Rukia mencoba menarik nafas panjang dan berpikir tenang. Kakaknya sudah janji akan membelikan gelang baru. Kalau begitu... gelang itu... sebaiknya memang hilang saja. Tidak perlu sampai diketemukan oleh orang itu. Kenapa Tuhan begitu baik membuat kebetulan ini untuk Rukia? Karena kebetulan yang seperti ini yang membuatnya sesak. Hatinya terasa teremas begitu kuat. Seandainya... dia tidak mengenal orang itu. Tentu saja―

"Rukia? Kau baik-baik saja?" tanya Renji yang agak khawatir melihat ekspresi aneh gadis berambut hitam ini.

Rukia menoleh pada Renji dan tersenyum lembut sembari menggelengkan kepalanya. Rukia mulai berjalan pelan diikuti oleh Renji.

"Hei, kalau kau ada masalah, aku bisa jadi tempat curhat," sela Renji lagi.

Rukia tersenyum, nyaris tertawa pada Renji. Lalu menunduk sopan dan tetap menggeleng.

"Rukia... boleh aku... mengatakan sesuatu?"

Rukia berhenti sebentar. Ternyata Renji sudah berhenti lebih dulu di belakangnya. Rukia menunggu pria berambut merah ini mengatakan sesuatu.

"Tadi... sewaktu kita belanja, aku sudah bilang kan ingin mengatakan sesuatu padamu. Itu..."

Rukia tetap menunggu Renji dengan senyum lebar dan mimik yang penasaran. Renji langsung salah tingkah, wajahnya sekilas memerah. Rukia yakin itu efek cuaca dingin hari ini.

"Aku... sudah lama menyukaimu. Ini bukan bercanda. Aku serius. Aku... benar-benar menyukaimu."

Rukia tertegun. Dia tahu mimik pria ini ketika bercanda dan ketika serius. Dan dihadapannya sekarang ini... Renji sedang serius.

"Maaf kalau aku mengagetkanmu. Tapi... aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tahu, kadang kau bimbang membuka hubungan serius dengan orang lain karena kekuranganmu. Tapi... bagiku itu bukan masalah Rukia. Selama ini... aku bisa saja mengerti semua maksudmu bukan? Jadi... kupikir... kita tidak ada masalah bukan?"

Rukia menunduk sebentar. Ini terlalu tiba-tiba dan... dia hanya tidak menyangka Renji akan seserius ini padanya.

Itu benar. Selama ini, Rukia menutup diri pada hubungan serius karena kekurangannya. Dia hanya tidak ingin orang lain menganggapnya lemah dan tidak sempurna. Memang tidak ada satupun manusia yang sempurna. Hanya saja... Rukia... bukan gadis yang lengkap. Dia... takut jika tidak bisa membahagiakan orang lain. Tapi... beberapa waktu mengenal sosok pria berambut orange itu, Rukia tidak bimbang lagi membuka hubungan serius dengan orang baru. Karena Ichigo... menerima semua mengenai Rukia. Karena Ichigo... setulus hati ingin berteman dengannya. Dan segenap hati percaya pada Rukia. Tapi―

"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku sekarang. Aku bisa menunggu kapan saja... sampai kau siap. Jangan terlalu dipikirkan perasaanku ini. Aku tidak mau kau terbebani sama sekali. Kuharap... setelah aku mengatakan hal ini, jangan mengubah sikapmu padaku ya? Bersikapnya seperti biasanya. Kau mau kan?"

Rukia masih menunduk bimbang. Tapi tahu-tahu, Renji sudah menarik tangannya. Tarikan Renji begitu kaku dan ragu. Tidak seperti Ichigo yang begitu tegas menarik Rukia. Renji tersenyum lembut pada Rukia. Sama seperti Ichigo yang tersenyum lembut padanya. Entah kenapa... Rukia sekilas... bisa mengartikan senyum di antara kedua pria ini padanya.

Apa yang sebaiknya... Rukia lakukan?

.

.

*KIN*

.

.

"A-apa?"

Riruka tertegun. Gugup sekarang perasaannya.

"Bukankah sudah kubilang, ketika kau menyetujui kontrak ini, kau harus mematuhi semua peraturan yang ada. Termasuk pertunjukkan dadakan. Sebenarnya ini adalah launching soundtrack drama yang pernah kudiskusikan padamu itu. Pihak rekaman ingin kau menyanyi di sana dalam waktu dekat ini."

"Tapi... bukankah ini terlalu cepat? Anda bilang... bulan depan bukan?"

"Apa kau tidak dengar? Kataku... pertunjukkan dadakan. Kau tidak bisa menolak event ini kalau kau tidak mau digantikan. Jadwalnya akan kukabari nanti. Malam ini aku akan mengirim demo lagu dan liriknya padamu, Riruka."

Riruka masih terpaku bingung di kantor agensinya.

Setelah Kyouraku keluar dari kantornya, Riruka menjambak rambut merahnya dengan kesal!

Apa ini jebakan untuknya? Yang benar saja! Kalau dia menyerah... itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.

Di dalam kekalutan itu, Riruka berdiam cukup lama di dalam mobil sedan merah miliknya. Sedan mewah yang dibelinya setelah dia jadi penyanyi paling terkenal di Jepang ini. Manager-nya terus bertanya padanya mengenai kontrak ini. Jawaban Riruka, tetap sama. Dia akan bertahan dengan kontrak ini.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Riruka melaju tanpa arah. Sebenarnya dia tidak tahu membawa mobilnya melaju kemana. Tapi yang jelas, tak lama dari situ, mobilnya sudah berhenti di depan teater ibunya. Mungkin... ibunya sudah ada di teater ini.

Apa... bicarakan saja dengan ibunya?

.

.

*KIN*

.

.

"Dialogmu salah Nanas!" gerutu Yumichika.

"Aku improvisasi! Bukannya salah!" balas Renji.

Rangiku mulai memutar bola matanya bosan melihat dua badut itu bertengkar karena dialog! Memang sesama orang bodoh, kalau bertemu pasti tetap jadi seperti dua pelawak bodoh saja.

Hisagi tengah membantu bagian kostum untuk membagikan kostum para pemain lain, sedangkan Hinamori membantu Rukia menghafal lirik lagu yang akan dibawakan nanti.

"Rukia-chan!" panggil Rangiku semangat sambil menempel di dekat Rukia.

Rukia tersenyum manis pada Rangiku yang menatapnya penuh minat itu.

"Semalam kau meninggalkan kadomu. Kau kemana dengan Ichigo? Apa... kalian kencan untuk merayakan ulang tahunmu?"

"Rangiku-san... jangan bertanya begitu. Kurosaki-kun kan sudah punya tunangan. Lagipula... semalam Abarai-kun yang mengantar Rukia pulang," sela Hinamori.

"Hah? Benarkah Nanas bodoh itu yang mengantarmu semalam? Bukan Ichigo?" pekik Rangiku histeris.

Rukia langsung memasang wajah tidak enak. Setiap kali mendengar nama Ichigo, tiba-tiba Rukia teringat gelangnya lagi. Diam-diam Rukia menunduk dan hanya menatap kosong pada kertas lirik lagunya.

"Rukia? Apa aku... salah bicara?" tanya Rangiku serba salah.

Rukia menggeleng dan tersenyum lembut. Kemudian menunduk sopan lalu berjalan keluar dari tempat mereka berkumpul.

"Apa aku salah bicara?" gumam Rangiku yang merasa aneh dengan sikap Rukia.

"Sepertinya... Rukia berubah sensitif akhir-akhir ini," timpal Hinamori.

"Kemarin juga... dia tidak antusias melihat Ichigo. Mereka berdua juga terlihat aneh. Padahal jelas-jelas Ichigo mengejar Rukia untuk bicara. Lalu... kenapa dengan Nanas bodoh itu? Ada apa sih?" gerutu Rangiku yang kesal karena mulai penasaran.

Renji hanya memperhatikan gelagat aneh dari Rukia yang sepertinya berubah pemurung dari kemarin-kemarin sejak bertemu dengan Tuan Kaya yang sudah memiliki tunangan itu.

Rukia sampai di belakang panggung teaternya. Dia bermaksud duduk di bangku piano itu saja. Menekan beberapa tuts grand piano hitam ini. Rukia sering memperhatikan jari-jari Hinamori yang menari lincah di atas tuts hitam putih ini. Dia juga ingat beberapa gerakan yang bisa menghasilkan nada yang menyambung. Hanya saja, gerakannya masih kaku dan tidak lincah. Tapi Rukia menyukai suara piano yang begitu nyaring ini.

Begitu menoleh dengan enggan, Rukia tiba-tiba teringat pertama kali dia bertemu dengan Ichigo. Teringat ketika Ichigo mengembalikan bonekanya, namun itu bukan boneka yang dia inginkan. Teringat ekspresi Ichigo yang menonton penuh antusias pertunjukkan teater ini. Teringat... Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

"Riruka?"

"Kaa-chan..."

Riruka memeluk ibu angkatnya yang baru saja menunggunya di depan pintu teater. Mereka berada di pintu keluar dari panggung teater. Yoruichi bisa melihat mimik aneh dari putri angkatnya ini.

"Ada apa denganmu sayang?"

"Aku... harus menyanyi..." lirih Riruka.

"Apa? Tidak bisa Riruka. Akhir bulan ini kita baru bisa pergi ke Amerika lagi untuk kepastiannya. Kau... tidak bisa menyanyi sekarang."

"Aku tahu Kaa-chan. Aku tahu. Tapi... kalau aku tidak menyanyi sekarang, karirku bisa hancur. Dan itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawaku. Selama ini... menyanyi adalah satu-satunya mimpiku. Kalau aku menolak kontrak ini... pasti mimpiku... akan hancur!"

"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita tidak bisa berbuat apapun sebelum kembali ke Amerika lagi. Tolong... bersabarlah Riruka."

"Rasanya kepalaku mau pecah! Kenapa ini terjadi padaku? Dunia... benar-benar tidak adil padaku!"

"Sayang... tidak akan ada yang berubah kalau kau menolak kontrak ini. Kau tetap akan jadi penyanyi terkenal dan calon isteri dari Kurosaki Ichigo! Pria yang kau cintai selama ini. Jadi kumohon, jangan mengambil tindakan gegabah! Setelah kau menikah dengan Ichigo, dia pasti akan menyuruhmu berhenti menyanyi kan? Dan kau... tidak perlu menderita lagi..."

"Tidak bisa begitu! Kalau Ichigo tahu..."

"Ichigo tidak akan tahu selama kau tidak membuka mulutmu! Perlahan-lahan, setelah kalian menikah, dia hanya akan melihatmu saja. Dia pasti akan melupakan kalau kau adalah penyanyi! Hanya... bersabar saja. Menunggu dengan sabar dan kau... pasti akan menikah dengannya dan melupakan semua penderitaanmu."

Bagaimana sebaiknya ini?

Riruka bingung setengah mati.

Ichigo...

Dan entah kenapa bayangan 17 tahun yang lalu... terputar dalam kepalanya.

.

.

*KIN*

.

.

Flashback, 17 years ago...

"Salam kenal, aku Kuchiki Rukia."

Riruka yang saat itu masih berusia tujuh tahun menyembunyikan dirinya di belakang punggung Yoruichi yang mendadak mendapat tamu dari tetangga yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumah mereka. Sejak kecil, waktu Riruka masih berusia tiga tahun, dia sudah ditinggalkan di depan rumah Yoruichi. Tentu saja saat itu Riruka kecil sama sekali tidak tahu apapun. Riruka memang sejak kecil tidak pernah mengenal orang tuanya. Dia hanya ingat, samar-samar seorang wanita muda yang dia yakini ibunya itu memang merawatnya hingga usia tiga tahun, tapi kemudian, tidak tahu kenapa, ketika Riruka tidur, dia meninggalkan Riruka di depan pintu rumah orang lain.

Riruka sempat menangis berhari-hari. Yoruichi juga sudah mencari informasi tentang anak hilang di kantor polisi bahkan sekeliling desa. Hampir satu tahun Yoruichi menunggu kabar anak hilang itu, tapi tak satupun yang mengaku kehilangan anaknya. Riruka awalnya sangat pendiam dan selalu menangis. Susah payah Yoruichi membujuk anak manis itu untuk menerima segalanya. Karena itu, akhirnya Yoruichi mengangkat Riruka sebagai anaknya sendiri. Ada raut bahagia ketika Yoruichi dengan senang hati menjadi ibu untuknya. Setidaknya dia tidak benar-benar sendirian meski dia akhirnya punya ibu angkat.

Sejak itulah, dia membenci ibu kandungnya. Dan berjanji, Riruka tidak akan pernah mencari keluarga kandungnya lagi.

Saat itu, Riruka menginjak usia tujuh tahun. Sama seperti anak gadis tetangganya itu. Mereka memiliki dua anak perempuan dengan selisih umur yang lumayan jauh tapi ternyata wajah mereka sangat mirip. Anak yang bernama Kuchiki Rukia itu, anak yang sangat baik dan mudah bergaul. Dia berteman dengan siapa saja. Tapi sayang, Riruka terlalu malu berteman dengan Rukia. Malu karena dia hanyalah anak pungut. Fakta itulah yang membuatnya tak berani berinteraksi dengan orang banyak.

Sering Riruka memperhatikan Kuchiki Rukia bermain dengan anak-anak seusia mereka. Bahkan ketika itu, Riruka sempat melihat Rukia yang berdua bersama seorang anak laki-laki kikuk yang penakut, yang bersembunyi di belakang punggung Rukia, berhadapan dengan segerombolan anak laki-laki dengan tubuh gemuk dan besar. Rukia kecil tak gentar menghadapi mereka. Riruka terus memperhatikan mereka dari balik batu besar. Akhirnya gerombolan itu menuju pantai dan bersiap mengambil posisi. Sepertinya mereka bertanding untuk berenang. Rukia, dengan tubuh kecilnya itu sangat percaya diri bisa menghadapi anak laki-laki yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari Rukia. Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam laut dan mulai berenang.

Beberapa yang lain menyoraki. Ragu, Riruka dari balik batu itu berharap gadis bernama Kuchiki Rukia itu bisa menang. Walau Riruka tak tahu kenapa mereka bisa bertanding begitu.

Hingga akhirnya, tak lama setelah itu, penantang Rukia itu muncul duluan ke darat. Mereka berbisik-bisik dan berwajah pucat. Anak laki-laki kurus dan kikuk yang bersama Rukia itu juga membelalak kaget dan memanggil Rukia dari lautan.

Kontan saja gerombolan bocah nakal itu langsung lari entah kemana. Sedangkan bocah lai-laki kikuk dan penakut itu ikut menyusuri pantai.

Riruka juga sama. Kesimpulan yang dia ambil setelah menyaksikan dari jauh masalah mereka, sepertinya Kuchiki Rukia tenggelam di laut. Kontan saja, Riruka berlari mencari bantuan. Pertama dia memanggil kakaknya Rukia, tapi sayang rumahnya kosong. Dia juga berkeliling mencari bantuan lain, tapi sayang Riruka terlalu takut untuk bicara. Dia masih tidak begitu berani berhadapan dengan banyak orang.

Akhirnya, pilihan terakhir, Riruka kembali ke pantai. Dia memang takut berenang sejak kecil. Tapi dia ingin menolong Rukia.

Tapi, sayangnya ketika Riruka kembali ke pantai, dia terkejut sudah melihat gadis kecil itu duduk di atas batu besar menatap lautan dengan baju basahnya. Rukia bernyanyi dengan santai dengan suaranya yang khas dan indah itu. Angin pantai bertiup berhembus ke arah Rukia seolah mengiringi suara merdu gadis kecil itu. Jujur, Riruka kagum dengan Rukia saat itu. Dia pemberani dan memiliki suara yang indah. Apa saja bisa dilakukan oleh gadis itu. Sejak itu, Riruka merasa jadi bayangan Rukia. Riruka tak tahu, kapan dia bisa menyaingi gadis kecil yang begitu lincah dan pemberani itu.

"Rukia-san! Apa yang kau lakukan! Kakakmu mencarimu!"

Tiba-tiba seorang bocah laki-laki kikuk itu berlarian menuju Rukia. Kontan saja Rukia terlonjak kaget. Mata besarnya yang cantik itu membulat sempurna.

"Hah? Nee-san? Astaga! Ini gawat Hanatarou! Kalau Nee-san tahu aku tidak di rumah dan ke pantai, dia pasti marah padaku!"

"Ayo cepat pulang."

Tanpa basa basi lagi, Rukia berlari mengikuti bocah kikuk itu. Riruka bersyukur diam-diam ternyata Rukia baik-baik saja. Dia memang gadis yang pemberani.

Tapi, begitu melewati batu besar dimana Rukia duduk tadi, ternyata ada seseorang yang berbaring di pantai itu.

Riruka berlari menghampiri orang yang berbaring itu. Takut-takut, Riruka mendekat. Ternyata dia juga seorang bocah. Bocah berambut orange yang berbaring di atas pasir dengan baju yang basah. Apa dia terdampar?

Riruka kembali ketakutan. Apa bocah ini sudah mati?

Begitu Riruka akan bergerak mencari pertolongan, Riruka baru menyadari bocah ini belum mati. Dia tampak terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Langsung saja Riruka melakukan pertolongan pertama dan memapah bocah itu menuju rumahnya. Mungkin karena bocah berambut orange ini juga tampak pendek. Apa dia... seumuran, atau di bawah umur Riruka?

Riruka tak mengerti.

Yoruichi tampak kaget melihat Riruka yang membawa pulang seorang bocah tak dikenal yang tengah tak sadarkan diri dengan baju yang basah itu. Setelah masuk, Yoruichi mengganti baju bocah berambut orange itu. Lalu membaringkannya di kamar Riruka.

Yoruichi bertanya dimana Riruka menemukan bocah ini, langsung saja Riruka bilang dia menemukannya di pinggir pantai. Mereka langsung menarik kesimpulan kalau bocah ini terdampar karena tenggelam. Yoruichi langsung melapor ke polisi dan membuat keterangan anak hilang.

Saat, Riruka tengah membersihkan wajah bocah itu, Riruka baru sadar, ternyata... dia memiliki wajah yang tidak begitu jelek. Padahal dia masih kecil. Apa mungkin...

"Siapa... kau?"

Riruka terlonjak kaget ketika bocah itu membuka mata dan langsung bertanya seperti itu pada Riruka.

Riruka bermaksud pergi karena kaget, tapi dia menarik tangan Riruka. Kontan saja, Riruka langsung gugup.

"Apa... kau yang menolongku?" tanya bocah itu lagi dengan suara serak.

Riruka tak punya pilihan. Dia mengangguk pelan mengiyakan kata-kata bocah itu.

"Jadi... apa... kau yang... menyanyi... di pantai itu?"

Bocah ini ingat dia ada di pantai terakhir kali itu. Tapi... bukan Riruka yang menyanyi.

Riruka bimbang sesaat. Baru kali ini dia berani menghadapi seseorang. Dan dia... ingin berteman dengan orang ini. Riruka... takut, jika seandainya, dia tahu yang menyanyi di sana adalah Rukia, mungkin... Riruka tak akan punya kesempatan untuk berteman dengannya. Pasti... dia akan lebih memilih Rukia yang periang dan mudah bergaul ketimbang dirinya yang tertutup dan pemalu.

Sekali lagi... setelah menunggu lama, akhirnya Riruka memberikan jawaban.

Dengan anggukan kepalanya.

"Benarkah? Jadi... itu benar kau yang menyanyi? Syukurlah... aku... sangat menyukai suaramu. Bisa... kau menyanyi lagi untukku?"

Ragu... Riruka mengeluarkan suaranya.

Sebenarnya, Riruka memang bisa menyanyi, sayang dia terlalu pemalu untuk itu. Dan betapa senangnya Riruka melihat bocah itu begitu senang mendengar suaranya. Seakan-akan... suara itulah penyelamat nyawanya.

Riruka baru menyadari, ternyata suaranya... mirip dengan suara milik Kuchiki Rukia.

Bolehkah? Riruka egois untuk kali ini?

Kuchiki Rukia mendapat apa yang tidak dia punya. Keluarga... teman... Kuchiki Rukia punya semua itu. Bahkan dia bisa berinteraksi dengan begitu mudah dengan semua orang tanpa perlu terbebani oleh apapun. Sedangkan... Riruka... selain karena dia tertutup dan pemalu, Riruka juga terbebani oleh statusnya ini. Sebagai anak angkat. Kuchiki Rukia bisa bahagia tanpa perlu mengenal bocah laki-laki ini. Tapi... mungkin Riruka akan menderita jika tidak mengenal bocah ini.

Seminggu lamanya bocah ini tinggal di rumahnya.

Namanya... Kurosaki Ichigo.

Dalam waktu singkat saja mereka sudah berteman baik. Sangat baik malah. Setelah seminggu, orangtuanya datang menjemput. Sayang, saat itu ternyata dia harus menerima kabar buruk mengenai kematian ibunya. Anak itu sempat menangis histeris karena kematian ibunya itu. Riruka tak tahu kenapa ibunya bisa meninggal, tapi yang jelas, Riruka menangis bersama Ichigo. Sama-sama merasakan rasa sakit ditinggalkan ibu walau kasusnya berbeda.

Ichigo kembali ke Tokyo bersama keluarganya.

Dan sejak itu... Riruka berjanji akan menemui Ichigo di Tokyo.

Hingga Ichigo keluar dari Seireitei, Riruka tak pernah menyinggung nama Kuchiki Rukia pada Kurosaki Ichigo.

Flashback end.

.

.

*KIN*

.

.

Riruka selesai dengan ingatan masa lalunya.

Mungkin... jika Riruka tidak egois saat itu, Ichigo tak akan pernah jadi miliknya. Ichigo juga... tak akan pernah mendengar suaranya, menyukai suaranya. Dan itu sudah sangat jelas. Makanya... Riruka tak mau. Tidak mau, Kurosaki Ichigo tahu siapa itu Kuchiki Rukia.

Meski, Riruka yakin, Ichigo tak akan mengingkari cinta mereka, tapi... bisa saja perasaan Ichigo berubah. Riruka tak mau itu.

Bukannya meragukan Ichigo, tapi... semua bisa saja terjadi.

Setelah sekian lama Riruka berjuang sendirian untuk mendapatkan kebahagiaan, masa harus dia lepaskan begitu saja?

Kalau Riruka berniat melepaskannya, sejak awal, Riruka tak akan pernah menginginkannya. Dia hanya ingin Ichigo di sisinya.

Tapi menginginkan pria itu di sisinya, begitu banyak pengorbanan yang harus dia relakan. Terutama karirnya yang sudah dia bangun selama ini. Ternyata... Riruka tetap tidak pernah mendapatkan semuanya.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo begitu geram sekarang. Gadis itu terus mengabaikannya. Padahal, jelas kemarin malam Rukia mengenali gelang ini. Jelas saja. Ichigo yakin 100 persen ini adalah gelang milik Rukia. Tapi kenapa dia tidak mengakuinya? Padahal menurut kakaknya, Rukia sangat menyukai gelang ini. Dengan boneka jelek dan lusuhnya itu saja, Rukia mati-matian mengambilnya dari Ichigo. Apa gelang ini tidak ada artinya? Kalau tidak ada artinya... kenapa... kakaknya sampai bilang, Rukia begitu sedih kehilangan gelang ini.

Kepalanya semakin bertambah pusing dengan tingkah aneh Rukia ini. Ada apa sebenarnya?

Ichigo penasaran. Maka karena itu, pekerjaannya jadi terbengkalai. Laporannya yang mestinya selesai tadi siang jadi molor hingga malam ini. Ayahnya pasti marah kalau tahu Ichigo jadi begini lambat. Padahal semua pekerjaan Ichigo selalu diselesaikan tepat waktu.

Memang sudah agak larut. Beruntungnya dia memiliki kontak milik Rangiku. Kata wanita seksi itu, pertunjukkan mereka baru saja selesai. Dan Rukia ada.

Tanpa membuang waktu lagi, Ichigo segera meluncur ke teater itu.

Kali ini, dia tidak peduli kalau harus menculik gadis itu demi menuntaskan semua rasa penasarannya. Ichigo juga tak peduli kalau harus memaksanya bicara bagaimanapun! Dia sudah tak tahan dengan semua ini!

Karena saking cepatnya Ichigo meluncur dengan mobilnya, dia sudah sampai di dekat teater itu. Buru-buru Ichigo mengejar masuk, tapi begitu tiba tak jauh dari pintu belakang teater itu, Ichigo melihat dua orang yang tengah bicara di sana.

Ichigo yakin, gadis yang berdiri membelakanginya itu adalah Rukia. Dengan postur tubuh dan rambut hitamnya, Ichigo yakin itu Rukia. Dan yang berdiri berhadapan dengan Rukia adalah... Renji?

Begitu Rukia akan berbalik, Ichigo bersiap akan menarik lengan gadis itu tanpa banyak bicara lagi. Membawanya masuk ke dalam mobilnya. Tapi sayang, baru Ichigo akan bergerak, gadis itu lebih dulu masuk ke dalam dekapan pria berambut merah berkuncir tinggi itu. Kontan saja Ichigo membelalak dan reflek mendekat ingin memisahkan mereka berdua. Sayang, Rukia tidak seperti berada di bawah paksaan. Dia membiarkan Renji memeluknya begitu dekat dan intim. Bahkan, tak lama berselang, lengan mungil gadis itu sudah melingkar di pinggang Renji.

Bahkan, Rukia tetap diam, ketika Renji mencium kening gadis itu begitu lama.

Dan Ichigo berani bertaruh, Renji tahu kalau Ichigo berdiri di sana.

.

.

*KIN*

.

.

"Rukia!"

Rukia bermaksud akan segera pulang setelah pertunjukkan ini selesai sebelum terlalu malam. Entah kenapa mendadak kepalanya pusing sekali. Begitu banyak masalah terjadi. Sebenarnya Rukia tak ingin memikirkannya. Tapi entah kenapa, semuanya tiba-tiba menumpuk jadi satu dalam kepalanya.

Rukia berhenti melangkah melalui pintu belakang teater itu ketika suara Renji memanggilnya.

"Kau mau pulang?" tanya Renji setelah Rukia berhadapan dengannya.

Rukia mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

"Boleh kuantar?"

Rukia langsung menggeleng dan segera tersenyum manis lalu bergerak untuk segera pulang. Sayang, tangan Renji sudah menahannya. Rukia terpaksa berbalik menghadap Renji lagi.

"Bukankah, sudah kukatakan untuk bersikap biasa padaku, Rukia?"

Yah. Rukia sudah tahu itu. Dia sudah berusaha bersikap sebiasa mungkin. Tapi tetap tidak bisa. Ini pertama kalinya untuk Rukia. Dan jujur, dia bingung harus bersikap seperti apa.

"Kau masih memikirkan Ichigo?"

Mata ungu kelabu Rukia menatap tak percaya pada Renji. Kenapa... dia bisa menebak...

"Rukia... tak perlu kuingatkan kau sudah tahu bukan? Ichigo... sudah punya tunangan. Kau... tidak pantas memikirkan seorang pria yang sudah memiliki tunangan seperti Ichigo. Sadarlah Rukia," jelas Renji.

Rukia sadar. Dia tahu. Makanya sekarang Rukia bimbang. Dia sudah berusaha menjauh dari Ichigo, tapi kepalanya tetap saja memikirkan pria itu... dan gelangnya. Jadi bagaimana Rukia bisa berhenti memikirkan Ichigo?

"Aku tahu kau sedang bimbang saat ini. Aku sudah menawarkan diriku untukmu Rukia. Aku... hanya menunggu jawaban darimu."

Rukia mengangkat kepalanya melihat ke arah Renji. Apa maksudnya...

"Mungkin kau tak mengerti maksudku. Aku... bisa membantumu melupakan Ichigo. Kalau kau memang ingin melupakan pria itu. Asal kau mau menerimaku, Rukia. Aku janji akan menghapus bayangan Ichigo selamanya dari benakmu."

Rukia belum memiliki jawaban yang sesuai untuk ini. Dia hanya tidak ingin Renji kecewa padanya. Dia tidak ingin menerima orang lain, di saat hatinya masih diisi oleh seseorang.

"Kita bisa mencobanya dulu kan? Tidak apa-apa. Kita... coba bersama dulu, Rukia?"

Sekali lagi, Rukia tak memberikan jawaban, hanya tersenyum lemah dan bersiap berbalik.

Tapi Renji langsung menarik tangannya dan mendekapnya begitu erat hingga Rukia kesulitan bernafas.

"Jangan memberontak. Di belakangmu ada Ichigo," bisik Renji begitu pelan sambil mendekap Rukia. Berusaha agar tidak terlihat mencurigakan di depan pria orange itu.

Kontan saja Rukia gemetar dalam pelukan Renji. Mau apa lagi pria itu datang kemari?

"Kuberikan kau pilihan sekarang, kalau kau tetap ingin memikirkan Ichigo yang sudah memiliki tunangan, silahkan lepaskan pelukanku sekarang. Tapi... kalau kau tidak mau memikirkan Ichigo lagi, dan bersedia mencoba bersama denganku, maka... balas pelukanku."

Tiba-tiba setetes air mata mengalir di pipinya. Bisikan Renji begitu mengena untuknya. Sudah saatnya memang Rukia mengambil ketegasan. Kalau dia seperti ini terus, Ichigo akan terus merecokinya dan membuat Rukia bimbang. Kalau Rukia ingin memberikan ketegasan pada Ichigo, mungkin cara inilah yang harus dia lakukan.

Dengan gerak pelan―sangat pelan, Rukia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Renji. Hatinya entah kenapa begitu sakit. Tapi Rukia sebisa mungkin menahannya. Dia tidak mau Ichigo sakit. Dia tidak mau merusak hubungan Ichigo dan tunangannya. Dia juga... tidak mau Ichigo terus mencarinya. Ichigo... harus melupakan soal Kuchiki Rukia.

Renji bergerak pelan melepaskan pelukannya sejenak. Rukia masih diam tak berani bergerak ceroboh. Apalagi... sampai menoleh ke belakang.

Renji mengecup keningnya begitu lama hingga Rukia kembali meneteskan air mata. Bukan karena dia bahagia. Tapi... karena Rukia lagi-lagi harus berbohong.

Yah... asal Ichigo tak melihat air matanya. Asal Ichigo melihatnya bahagia sekarang.

Apapun akan Rukia lakukan. Apapun...

.

.

*KIN*

.

.

Holaa minna? apa chap kali ini agak melambai?

Ok... jangan rindu saya yaa... hihihii

balas review dulu..

bathroom concert : makasih udah review senpai... heheheh wah kayaknya senpai gak suka sama cewek cengeng ya? saya cengeng loh... hihihihi wah... kenapa senpai gak suka? kalo Senna sih saya netral aja. kalo Riruka... emang rada sebel sih hihihi ok, makasih koreksinya senpai... nanti ke depannya saya lebih teliti lagi.

Rizuki Aquafanz : makasih udah review Rizu... yaa ini udah update? ee? sinetron? seriusan nih? hihihi... jadi pengen bikin sinetron, tapi ala IchiRuki hihihi

anitauchiha3 : makasih udah review senpai... hehehe iyaa nanti kita liat yaa siapa yang dipilih sama Ichi hihii

Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... iyaa sih emang mau final karena udah konflik terakhir, tapi kayaknya masih panjang. semoga gak bosen yaa...

D-N-D Mozaik : makasih udah review senpai... eheheh yaa pasti ada galaunya. ini aja Ichi udah galau... hihihi

Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... iyaa ni udah update loh hihihih... emang Ichi lemot tingkat dewa... hihihi

hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review Aka-chan... hheheh iyaa ini udah update loh hihihi

Anemone Jie : makasih udah review senpai... hehehe iyaa lumayan emang kemarin sibuknya, hihih ini udah kilat lum? heheh semoga penasaran sama apa yang mau Ichi lakuin sama Riru yaa hihiih

lavender kururu-chan : makasih udah review senpai... heheh apa ini udah kilat? semoga iyaa iihihi

ELLE HANA : makasih udah review senpai... heheh makasih kesannya, saya suka reviewnya senpai... hehehe soalnya suka nulis kesan fic saya heheheh yaa ini udah update kok...

Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... iyaa ini udah update... heehe saya suka sih bikin orang galau. biar pusing hihihihi

beby-chan : makasih udah review beby... aduh kasian Rukinya dijepitjpit... hihih tunggu aja ending kejutannya yaa hihihi

ok makasih yang udah berpartisipasi sama semua fic saya yaa makasih banyak banget. tanpa semua review dan semangat senpai, mungkin saya gak pernah bakal bikin fic sebanyak ini hehehe makasih banyak buat dukungan senpai sama saya yaa beneran... makasih.

ok, masih ada yang mau lanjutan fic ini? saya harap sih iyaa...

mohon direview yaa apa masih layak lanjut apa nggak hihihi

Jaa Nee!