Previous Chapter :

"Hinata!. Apa yang terjadi dengannya?". Sosok wanita itu adalah Kurenai. Sang bibi dari Hinata. Ia membulatkan matanya saat melihat keadaan Hinata yang terkapar lemah didalam dekapan Sasuke.

"Bolehkah aku masuk?". Sasuke membuyarkan lamunan Kurenai yang masih shock dengan keadaan Hinata.

"Uchiha-san. Apa yang terjadi dengan Hinata?". Asuma juga keluar dari dalam rumahnya menghampiri Kurenai dan juga Sasuke. "Silakan masuk. Bawa Hinata langsung ke kamarnya saja". Asuma melanjutkan perkataannya. Sasuke masuk kedalam rumah kecil ini masih dengan menggendong Hinata dan memasuki kamar Hinata untuk membaringkannya.


Sasuke membawa Hinata yang masih dalam dekapannya itu kedalam sebuah ruangan kecil yang berada di sebelah ruang tamu rumah keluarga Sarutobi ini. Ruangan yang di dominasi dengan warna ungu muda dan putih itu terasa sangat menenangkan untuk seorang Sasuke. Di tempat ini juga terdapat sebuah kasur king size yang menghiasi serta deretan peralatan yang lainnya. Ruangan ini adalah ruangan pribadi gadis yang saat ini berada di dekapan Sasuke. Kamar Hinata. Susunannya sangat rapi. Tanpa basa-basi lagi dan dengan sedikit ujung bibir Sasuke yang tertarik keatas, Sasuke membaringkan Hinata di atas kasur berseprai putih lembut itu.

"Uchiha-san, apa yang terjadi dengan Hinata?. Bukankah dia sedang ada jam tambahan di kelasnya?. Lalu kenapa Hinata bersama denganmu, Uchiha-san?". Kurenai membuyarkan konsentrasi Sasuke yang menikmati paras Hinata yang menyejukkan hatinya tersebut.

"Kurenai, jangan terlalu mengintrogasi salah satu mahasiswaku ini. Itu tidak sopan". Asuma yang berada di belakang Kurenai menghentikan introgasi sang istri yang sangat penasaran dengan keadaan keponakannya itu.

"Hn. Kita bicarakan saja di luar. Aku tak ingin mengganggu waktu istirahatnya". Sasuke yang sedari tadi duduk di samping Hinata tersebut mengubah posisi dirinya menjadi berdiri. Ia juga menatap dingin Kurenai dan Asuma yang berdiri di ambang pintu kamar Hinata.

Ketiga orang yang berbeda usia tersebut meninggalkan Hinata seorang diri yang sedang terbaring lemah karena hipotermia yang ia derita saat ini. Suhu ruangan Hinata di perhangat oleh Kurenai dan juga menutup pintu kamar gadis imut itu. Sasuke dan Asuma sudah mendudukkan diri mereka di sofa yang menghiasi ruang tamu rumah ini. Tak semewah sofa yang berada di rumahnya, namun cukup nyaman untuk di singgahi sejenak sambil berbincang dengan sang tuan rumah.

"Jadi, bagaimana kronologisnya, Uchiha-san?". Asuma menghidupkan sepercik api kecil di ujung batang rokok yang ia pegang tersebut dan menyelipkannya di antara kedua bibir tipisnya yang sudah nyaris berwarna coklat gelap akibat rokok yang selalu ia hisap. Sasuke menyernyitkan keningnya. Pria ini membenci rokok dan hal yang berkaitan dengannya. Bagaimana mungkin Hinata atau Kurenai betah tinggal perokok seperti senseinya ini?.

"Ehm. Kau ini memang perokok, Asuma?. Apa kau tak mengasihani calon anakmu dan juga Hinata?". Sasuke menatap Asuma nanar yang sedang asyik menghisap rokoknya. Kurenai, setelah menutup kamar Hinata, ia pergi ke dapur untuk membuat teh hijau bagi Sasuke.

"Ya. Namun jika sedang bersama mereka aku lebih memilih mematikan rokok ini". Asuma membuang nafasnya percuma di iringi dengan kepulan asap yang keluar dari kedua lubang hidung dan juga bibirnya.

"Hn. Soal Hinata, aku tadi menemukannya tak sadarkan diri di pinggir jalan setelah ia keluar dari rumahku tanpa permisi". Sasuke mulai menjelaskan kronologis Hinata yang pingsan tersebut. Asuma menyernyitkan keningnya.

"Di rumah Uchiha-san?. Apa ia belajar bersama denganmu?. Karena biasanya, Hinata hampir setiap hari meminta izin dengan alasan akan menerima jam tambahan dari kampus". Asuma juga menatap Sasuke yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jam tambahan?. Bukankah dia selalu pergi ke kedai Ichiraku untuk bekerja?. Kau tak mengetahuinya?". Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat mendengar pernyataan Asuma tersebut.

"Kerja?. Sejak kapan ia bekerja?". Asuma membulatkan matanya saat Sasuke berhasil membuatnya terkejut.

"Dia sudah lama bekerja di kedai Ichiraku. Ternyata memang benar jika Hinata tak ingin kau mengetahui ini semua. Dia melakukan ini hanya karena ia tak ingin terlalu merepotkanmu". Sasuke menatap pintu kamar Hinata yang sudah tertutup tepat berada di hadapannya. Asuma hanya bisa menghela nafas panjangnya dan mulai mematikan rokoknya karena Kurenai datang dengan membawa dua cangkir teh hijau di nampannya.


JUST FOR ME

Disclamer © Masashi Kishimoto

Pairing : Uchiha Sasuke X Hyuuga Hinata, Haruno Sakura X Uzumaki Naruto

Rated : T

Genre : Drama, Friendship, Romance, and Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typo's everywhere, cerita pasaran, AU, Gaje, DLL

Ngga suka boleh ngga baca dan ngga review :D


Flashback of Sasuke :

Sasuke menjalankan mobilnya setelah ia berhasil mengeluarkan dirinya dari sebuah apartemen mewah yang terletak di salah satu sudut kota Tokyo ini. Karena waktu malam yang hampir menghampirinya, Sasuke memutar radio yang sudah tersedia untuk menghiasi mobilnya. Tanpa menunggu lama lagi, jari lentiknya menekan tombol yang paling besar itu yang berfungsi menghidupkan atau mematikan suara yang keluar dari benda kecil yang menempel di mobilnya ini. Ntah sebuah takdir atau kebetulan saja, alunan nada yang berasal dari radio di mobilnya mengeluarkan alunan nada beraliran romance. Pemuda berbadan jakung itu sedikit menarik salah satu ujung bibirnya untuk mengeluarkan senyum miringnya. Sebenarnya, pria ini tak begitu menyukai musik ataupun hal yang berbau romantis. Namun kali ini berbeda, Sasuke akan belajar untuk menyukai hal-hal yang bisa melelehkan hati itu. Ya, ini memang berlebihan. Akan tetapi, tak apalah jika seorang Sasuke sedikit menyukainya juga. Itu karena seorang wanita berambut ungu gelap bernama Uzuki Yugao yang bisa mengubahnya. Lagu yang sekarang mengalun di radio itu merupakan lagu kesukaannya dengan Yugao semasa mereka berdua di Canada.

Ah, benar. Berbicara soal wanita yang usianya lebih tua dari Sasuke, pria ini selalu antusias untuk membicarakan bahkan merelakan time self-nya hanya untuk bersama wanita itu. Sasuke juga tak mengerti bagaimana wanita itu bisa membuatnya jatuh hati. Pemuda ini juga rela menjadi sangat berlebihan atau terlihat seperti bukan dirinya yang sesungguhnya hanya karena Yugao. Ia terlalu patuh dengan apa yang Yugao ucapkan. Mengingat hal itu, Sasuke mendesah pelan diantara nafas besarnya yang teratur.

"Mungkin memang benar jika aku sudah gila". Sasuke terkekeh pelan pada dirinya sendiri yang terlalu mengagumi Yugao. Ia juga menggelengkan pelan kepalanya yang baru saja menyadari tingkahnya akhir-akhir ini. Kemudian, pria tampan itu melirik sebuah tas kecil yang berada di sampingnya sejak tadi. Kedua ujung bibirnya terangkat sempurna sambil kembali menghadapkan pandangannya ke arah jalanan yang lumayan sepi tersebut.

Malam ini waktu menunjukkan dirinya tepat pukul 23.30 malam. Waktu untuk semua pekerjaan terhenti dan membuat lakon dari pekerja itu memulangkan dirinya dari tempat mereka bekerja dan memejamkan mata mereka di rumah masing-masing. Sasuke yang sedang menikmati alunan musik di radio mobilnya mengamati orang-orang yang berlalu lalang mengeluarkan dirinya dari sebuah bangunan yang mereka sebut tempat kerja itu. Walau dengan tatapan yang tak seksama, Sasuke melihat satu persatu orang-orang pekerja yang menunggu angkutan umum kota ini menghampiri mereka. Hingga akhirnya, kedua mata kelamnya menangkap sosok gadis berbadan mungil berada di salah satu deretan orang-orang yang duduk menunggu angkutan umum itu. Sosok gadis yang kemarin ia celakai karena permainan basketnya yang kasar. Gadis bersurai ungu itu duduk dengan mata mencari kendaraan yang ia hendaki.

"Gadis itu. Bukankan itu kohai yang kemarin -?". Sasuke bermonolog pada dirinya sendiri sambil mengingat gadis manis nan menggemaskan itu. Ia terdiam sejenak tanpa melanjutkan gumamannya. Kemudian, ia mengalihkan arah mobilnya kearah tepi kanan jalanan kota ini. Ia memperhatikan Hinata yang masih menanti sebuah kendaraan umum yang akan ia tumpangi menuju rumahnya.

Beberapa menit kemudian, sebuah kendaraan umum berbentuk persegi panjang yang biasa disebut bus kota ini menghampiri segerombolan manusia berbeda usia yang sedang duduk menantinya tersebut. Namun, saat itu juga ponsel Sasuke membunyikan suaranya. Pertanda ada seseorang yang menghubunginya. Pemuda ini melirik ponsel yang berada di hadapannya. Segera ia raih ponsel itu. Saat jarinya hendak menggeser sebuah tombol berwarna hijau di layar ponselnya, panggilan itu mendadak mati. Sasuke menghela nafas. Di lihat dari nama yang muncul di layar, tertulis nama Sai Otoutou. Adik lelakinya itu memang suka menghubunginya jika ia tak segera pulang ke rumahnya. Sasuke kembali menatap arah Hinata duduk tadi. Kini bangku itu kosong tanpa seorangpun. Sasuke memalingkan pandangannya kearah depan. Benar saja, baru saja sebuah bus kota sedang mencoba melaju mendahuluinya dengan kecepatan pelan. Pria ini segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera menyusul bus yang jaraknya tak terlalu jauh dari hadapannya.

Tak lama kemudian, bus itu membelokkan dirinya kearah jalanan kecil menuju sebuah kompleks perumahan yang di peruntukkan untuk kelas ekonomi menengah kebawah ini. Jalannya yang tak seluas jalan raya, hanya mampu di jangkau oleh satu buah bus kota, dua buah mobil yang berlalu lalang, dan beberapa kendaraan kecil lainnya. Sasuke terus mengikuti arah henti bus itu. Hingga beberapa menit kemudian, bus berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil yang cukup asri dan terjaga kebersihannya itu. Bus tersebut mengeluarkan seorang gadis manis nan imut bersurai indigo untuk memasuki rumah kecil tempat ia berhenti. Itu dia. Sosok gadis yang sedari tadi Sasuke sengaja ikuti. Matanya terus mengikuti langkah kaki gontai Hinata sampai gadis ini mengetuk pintunya hingga seseorang terlihat membuka pintu untuknya.

"Hinata, kau darimana saja? Bibi mengkhawatirkanmu". Kurenai, sosok wanita dewasa bersurai hitam pekat itu membukakan pintu untuk Hinata. Gadis bersurai indigo dan bermata ungu kepucatan yang berada di ambang pintu rumah bergaya Jepang klasik itu.

"Gomen, bibi. T-tadi aku m-mengikuti praktik t-tambahan di kelas medis d-dengan Tsunade-sama. Aku t-tidak sempat m-menghubungi bibi k-karena ponselku m-mati". Gadis itu menundukkan wajahnya dalam anakan rambut yang tertata rapi di dahinya. Ia sangat takut jika bibinya akan sangat memarahinya.

Sasuke mengamati perbincangan dari kedua wanita yang berbeda usia tersebut yang berhasil di tangkap oleh indra pendengarannya.

"Jadi, ini rumahnya? Dia tak seperti gadis lain yang berada di kampus. Semakin membuatku penasaran saja". Pria itu menyunggingkan senyumannya. Bukan, itu senyuman licik-cengiran-khasnya. Tak lama kemudian, pria itu berlalu dari jalanan yang berada di depan rumah kecil yang di huni oleh gadis bersurai indigo, Hinata.

End flashback of Sasuke –

.

.

.

.

.

"Jadi, itu alasannya kau mengetahui rumahku, Uchiha-san?". Asuma menaikkan alisnya setelah mendengar penjelasan dari Sasuke tentang rumahnya yang berhasil di temukan oleh pria berambut raven di hadapannya.

"Ya. Karena aku begitu penasaran dengan keponakanmu, Asuma". Sasuke menatap nanar Asuma dan Kurenai yang sangat memperhatikannya.

"Lalu, sebenarnya kau ini dari mana?. Kenapa kau saat itu mau repot-repot membuntuti Hinata?".

"Hn. Saat itu aku baru saja pulang dari rumah teman lamaku. Aku mengambil pesananku untuk membuatkannya desain Kimono keluarga kami. Dan, saat itu kimono itu untuk wanitaku". Sasuke kembali menjelaskan kepada pasangan suami-istri yang dengan setia mau merawat Hinata selama menempuh masa kuliahnya di kota ini.

Kimono yang dimaksud oleh Sasuke itu adalah kimono yang sekarang dikenakan oleh Hinata. Sasuke sengaja memesan desain kimono itu untuk Yugao ketika waktu pertambahan usia wanita itu yang tepatnya malam ini terselenggarakan. Sasuke tetap menyimpannya di mobil pribadinya dan tak memberikan pakaian itu kepada Yugao sebagai bentuk hadiah darinya atau memberitahukan kepada keluarganya yang lain. Karena ia merasa teramat sangat kecewa dengan wanita yang dulu menjadi pujaan hatinya tersebut. Justru, saat ini ia merasa sangat bersyukur karena pakaian itu dikenakan kepada orang yang semestinya.

"Baiklah. Aku harus pulang. Ini obat-obatan yang harus Hinata konsumsi. Aku tak ingin mengganggunya. Semoga keponakanmu lekas sembuh, Asuma". Sasuke mengubah posisinya menjadi berdiri sempurna. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan berjalan keluar dari rumah kelurga Sarutobi. Ia juga membawa mobilnya keluar dari pinggiran jalan penghubung dengan jalan raya dari kompleks perumahan ini.


SEPULUH

Matahari menunjukkan sinarnya diantara celah-celah kecil sebuah kain yang biasa disebut tirai gorden penutup jendela di setiap ruangan hampir di seluruh rumah yang berada di muka bumi. Sang ratu kehidupan tersebut memang mampu memasukkan cahayanya di jendela-jendela kecil setiap bangunan yang manusia huni. Tak ketinggalan, suara cicitan lagu penghantar pagi dari burung-burung kecil yang tinggal di sebuah pohon besar, menambah kesan jika manusia harus kembali membuka kedua matanya dan segera memulai berbagai aktivitasnya seperti sedia kala sebelumnya.

Gadis manis nan imut yang semula tertidur pulas itu, kini mulai membuka sedikit kedua kelopak matanya dan menampilkan iris mata ungu kepucatannya. Belum sepenuhnya kedua manik matanya itu terbuka, gadis ini mengatupkan tangannya untuk menutupi mulut mungilnya yang sudah siap untuk terbuka otomatis. Ia baru saja terbangun dari dunia mimpinya.

"Aku berada di kamar?. Siapa yang mengantarku kemari?". Hinata, gadis itu kini bermonolog sendiri setelah ia berhasil membuang nafas yang berada didalam kedua lubang hidung juga rongga mulutnya. Tangan mungilnya membuka selimut yang juga menutupi tubuhnya. Gadis ini merasa terlalu gerah karena pakaian berlapis yang Hinata kenakan lengkap dengan selimut dan juga suhu ruangan kamarnya yang sangat menghangat seperti saat musim panas. Kemudian, Hinata mendudukkan dirinya di tepi kasurnya dan membiarkan kaki jenjangnya terjatuh begitu saja hingga mengenai alas kakinya yang dilengkapi dengan motif kepala babi tersebut.

"Ini, kimono siapa?. Astaga, apa yang terjadi denganku semalam?. Mengapa pakaianku terganti?". Hinata membulatkan matanya sempurna saat ia berhasil membuka resleting jaket kesayangannya. Dengan segera, ia berdiri di ambang kaca almarinya yang dengan sempurna memantulkan bayangan dirinya hingga ujung kaki. Gadis ini terkejut bukan main saat melihat kimono hitam yang dihiasi oleh lambang keluarga pengusaha terkenal di kota ini. Namun, sedetik kemudian ia menautkan alisnya mengingat lambang yang melingkar di kimono itu. Kepalanya menggeleng. Ia kemudian menghamburkan dirinya ke kamar mandi kesayangannya saat ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Gadis ini bisa di skors selama 3 jam oleh Anko jika ia terlambat mengikuti kelasnya.

.

.

.

.

.

"Hinata!". Seorang gadis bermabut pirang yang selalu di ikat seperti ekor kuda memanggil Hinata yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah milik Sasuke.

"H-hai, Ino-chan". Gadis bermata ungu pucat lembut itu memalingkan wajahnya kearah seseorang yang memanggil namanya.

"Hei, kau benar menjadi kekasih Sasuke-senpai?. Aku akan menjadi adik iparmu, Hinata". Ino berbisik pelan sembari menampilkan senyuman genitnya kepada Hinata saat gadis berambut blonde panjang itu berhasil mendekatinya dan meraih tangan mungil Hinata. "Sasuke-senpai, kami masuk dulu". Ino menginterupsi Sasuke jika ia bersama Hinata akan langsung memasuki kelas tanpa menunggunya. Sasuke hanya menganggukkan kepalanya yang masih berada di dalam mobilnya.

Hinata dan Ino berjalan beriringan melewati koridor yang sudah di penuhi dengan mahasiswa dan mahasiswi lain. Ruang kelas mereka sebenarnya berbeda lantai dan lumayan terpaut jauh, namun untuk kali ini Ino sengaja mengajak Hinata berbincang sejenak tentang hubungan gadis indigo ini dengan Sasuke.

"Hinata, kita duduk sebentar yuk?. Sambil menunggu Tenten dan Sakura datang. Ya kau tau sendiri lah, Sakura kan selalu di jemput oleh Naruto. Kalau Tenten, mungkin dia masih berada di dalam bus kota". Ino mulai membuka pembicaraannya kepada gadis yang berada di samping kanannya ini. Mereka mendudukkan diri mereka di sebuah bangku yang terbuat dari kayu tersebut. "Hinata, yang semalam itu benar kan?. Aku harap apa yang dikatakan Sasuke-senpai benar adanya". Ino mengedipkan sebelah matanya saat mereka berhasil duduk. Ino memang senang berbicara.

"Y-yang semalam, i-itu h-hanya sebuah p-perjanjian". Dengan susah payah, Hinata menjelaskan kepada salah satu sahabat karibnya itu.

"Ah, Hinata. Kau tau, kalian berdua sangat serasi. Aku sangat berharap kau juga akan menjadi kakak iparku". Ino menghela nafas panjangnya. Ntah mengapa, Hinata justru menautkan alisnya.

Tak lama kemudian, Sasuke melewati mereka berdua dengan Shikamaru saja. Tangan Sasuke yang selalu ia selipkan di kedua saku celananya, dan kedua tangan Shikamaru yang selalu ia lipatkan di belakang kepalanya, membuat hampir seluruh mahasiswi dengan susah menelan saliva mereka sendiri di tenggorakannya. Hanya Hinata yang tak menanggapi dengan serius seperti kebanyakan gadis di Universitas ini.

"Ah, calon kakak iparku sudah tiba. Hinata, kau terlihat sangat serasi dengan Sasuke-senpai". Ino sekali lagi meyakinkan Hinata. Hinata hanya menghela nafasnya dan membunagnya teratur. Ia sungguh malas mendengar ucapan itu dari mulut sahabat baiknya ini. "Baiklah, Hinata. Aku masuk kelas dulu. Kau segera kembali saja ke kelasmu. Sakura sudah tiba di kelas. Jaa-ne, Hinata". Ino mengubah posisinya mnejdai berdiri sempurna. Kemudian, ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas yang tepat berada di depan Hinata dan Ino tersebut. Sebelumnya, Hinata juga mengubah posisinya menjadi berdiri dan Ino hanya tersenyum kepadanya.

"Hinata!". Suara Tenten mengudara memanggil nama gadis bersurai indigo tersebut saat Hinata akan melangkahkan kakinya menuju lantai atas tempat ruang belajarnya. Gadis bercapol dua ini juga melambaikan tangannya di udara saat Hinata memalingkan wajahnya kepada Tenten. Hinata hanya tersenyum. Kemudian, mereka berjalan bersama melewati koridor kampusnya hingga mereka tiba dikelasnya.


***SEPULUH***

Tak terasa, kini musim salju sudah mengakhiri masanya. Tibalah saatnya musim semi menghampiri agar bunga sakura khas negara ini berkembang seperti biasa. Banyak pasangan di seluruh dunia merelakan beberapa lembar bernilai beberapa yen atau dollar hanya untuk mengunjungi negara ini. Tak jauh berbeda dengan pasangan yang berada di kota ini. Mereka juga rela menyisihkan waktu hanya demi pasangan ataupun keluarga kecil mereka untuk bermain dan bermesraan saja tanpa terbebani tebalnya salju lagi seperti sebelumnya.

Hinata pun demikian. Ia meninggalkan sejenak pakaian hangatnya. Hari ini, ia hanya memakai sweater ungu yang menyembunyikan kemeja putih polosnya. Ia juga hanya mengenakan jeans panjang dengan sepatu bootsnya ditambah lagi hiasan beanie putih di kepalanya yang menutupi sebagian puncak mahkota indigonya. Ia memulai aktivitas seperti biasa di kampusnya ini dengan sahabat-sahabatnya yang lain.

Sasuke mengikuti langkah kaki Hinata yang hendak mengunjungi suatu tempat. Sepertinya, Hinata merasakannya. Tanpa menoleh ataupun memperhatikan Sasuke yang terus mengikutinya, Hinata terus melangkahkan kakinya menuju suatu lorong ruang musik. Tempat tersebut berada di lantai dua. Ntah mengapa, Sasuke justru semakin mengikuti gadis itu tanpa memperdulikan orang-orang yang terus membicarakan tentang mereka. Hingga akhirnya, Hinata memberhentikan langkah kakinya tepat di depan pintu bertuliskan "Music Room" yang sepi tanpa seorangpun kecuali kedua orang ini. Sasuke pun demikian.

"Kenapa kau mengikutiku, Sasuke-san?". Hinata membuka suasana awkward diantara ia dan senpai itu dengan pertanyaan kecilnya. "Apa sejak kejadian itu kau harus terus mengikutiku?". Ia melanjutkan pertanyaan lain dari mulutnya.

"Aku hanya ingin tau, kenapa kau berubah setelah acara pertunangan itu?. Kau semakin dingin dan ku akui aku sangat penasaran dengan itu". Sasuke menjawab pertanyaan itu dengan nada datar. Ia tetap melihat punggung rapuh Hinata yang belum mengubah posisinya untuk menghadap padanya. Namun kini, gadis bermahkota indigo itu memasukkan tangannya ke dalam tas selempang berwarna cream-nya. Tangan lemah itu terlihat mencari sesuatu dalam tas Hinata. Setelah beberapa saat Hinata merogoh kedalam tasnya, kini tangannya mengeluarkan sebuah tas kecil berwarna hitam.

"Aku hanya ingin mengembalikan ini padamu. Aku bersyukur karena tak harus menghampirimu, Senpai". Hinata membalikkan badannya dan menghampiri Sasuke yang berjarak tiga langkah dari posisi awalnya. "Terima kasih untuk semuanya. Ku harap kau memahami maksudku". Hinata memberikan tas kecil itu kepada tangan besar Sasuke. Sasuke hanya menaikkan alisnya. Ia mengerti isi dari tas hitam kecil yang berlambang khas keluarganya. Sementara Hinata, tanpa basa-basi lagi ia meninggalkan begitu saja Sasuke yang masih terdiam di tempatnya.

"Jika aku tak mau memahaminya?". Sasuke menyela pernyataan Hinata dengan menarik tangan kanan Hinata.

"Kau pasti akan memahaminya". Hanya itu saja yang keluar dari mulut Hinata. Sasuke terdiam sejenak. Berharap jika ada kata atau kalimat lain yang keluar dari mulutnya lagi. Namun ternyata nihil. Hinata kembali bungkam seribu bahasa.

"Maaf, Sasuke-senpai. Aku bukanlah bonekamu yang bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku juga bukanlah tempat untuk pelampiasan cintamu dari orang lain. Aku lebih sibuk mencintai orang lain yang lebih dulu ku cintai. Aku lelah dengan semua permintaanmu. Aku lelah saat semuanya harus berkaitan denganmu. Aku Hinata, seorang kohai bodoh disini. Aku tak ingin mencampuri urusan ataupun mau tau urusan orang lain. Terima kasih karena kau telah membongkar rahasia terbesarku kepada paman dan bibi. Terima kasih karena kau menjagaku walau itu sama seperti penyiksaan bagiku". Sasuke terdiam. Namun tangan kekarnya masih setia menggenggam erat tangan Hinata. Pria ini baru menyadari sikapnya yang memaksa Hinata untuk menerimanya. Wajahnya menunduk. Kini hatinya sangat ketakutan. Takut jika bidadari ungu pucat ini akan meninggalkannya saat ia jatuh hati pada Hinata.

"Maafkan aku". Dua kata itu yang sukses keluar dari mulut Sasuke.

"Sekarang, aku minta kau jauhi aku. Anggap kita tak per -". Hinata yang tak menatap Sasuke dan tetap membelakangi Sasuke, tak bisa melanjutkan permintaannya karena Sasuke menariknya kedalam pelukan pria jakung ini.

"Aku tak akan melakukannya. Tak akan pernah melakukannya". Sasuke membelai rambut panjang Hinata. Sekali lagi, sang gadis hanya bisa membulatkan matanya karena sikap senpai anehnya.

"Lepaskan aku. Jangan lakukan ini lagi padaku". Hinata mengakhiri pelukan sayang Sasuke begitu saja dan masih dengan nada merajuknya.

"Aku tak akan mau melakukan itu, Hinata". Nada suara Sasuke meninggi. Suara itu keluar bersamaan dengan setetes air mata yang keluar dari anakan sungai matanya. Pemandangan yang hanya bisa di lihat oleh ibu pria ini, kini Hinata melihatnya dengan jelas.

"Cukup, Sasuke-san!. Cukup sampai disini semuanya!". Hinata pun tak mau kalah meninggikan nada bicaranya di hadapan senpainya tersebut. Mata ungu pucatnya terbelalak. Ia juga berusaha menghapus air matanya yang ntah mengapa justru keluar begitu saja tanpa interupsi darinya. "Cukup sudah kau ikuti aku selama ini. Cukup sudah kita bermain seperti ini. Apa kau tau perasaanku?. Aku memang tak menyukaimu, tapi setidaknya kau hargai perasaanku sebagai wanita. Wanita manapun akan merasa sangat kecewa saat ia tau jika dirinya hanya dijadikan boneka saja. Aku juga punya hati, Sasuke-senpai. Dan hatiku ini sangat rapuh". Hinata mengusap kasar air matanya yang terus mengalir. Ia mengetahui semuanya. Tak sengaja saat itu ia mendengar langsung pembicaraan Shikamaru dengan Temari ketika mereka berdua berada di dalam perpustakaan yang sama dengannya. Pasangan itu membicarakannya dengan Sasuke. Sejak saat itulah, ia tersadar jika Sasuke hanya memperalatnya untuk Yugao.

Sasuke terdiam kembali. Pria berbadan kekar ini tak menyangka jika Hinata yang lembut bisa membentaknya sekeras ini. Sekujur tubuhnya membeku seketika. Tak ada kata lagi yang ingin keluar dari mulutnya. Semuanya memang benar. Semula ia hanya penasaran kepada Hinata yang menolak keberadaannya hingga ia memperalat Hinata untuk menjatuhkan Yugao yang sudah memainkan perasaannya. Namun, ini semua salah untuknya. Tak seharusnya ia tersudutkan seperti ini. Hinata bahkan tak mempertanyakan hatinya yang saat ini begitu menggilainya. Salahkah ia jika saat ini begitu menggilai sosok gadis yang selalu menyangkal keberadaannya ini?.

"Mulai sekarang, kita tak saling mengenal satu sama lain. Jangan pernah kau usik lagi hidupku, Sasuke-senpai". Suara gadis ini menurun. Nadanya tak sekeras tadi. Akan tetapi, tetap saja. Perkatannya penuh dengan penekanan.

Suasana hening kembali menemani mereka. Sasuke menghela nafasnya. Begitu pula Hinata.

"Ya, kau memang benar, Hinata. Aku memang bersalah. Itu semua memang benar. Dan kimono ini memang seharusnya tak kau kenakan karena ini milik Yugao. Tapi apakah kau tau, Hinata?. Aku teramat sangat bahagia saat kau mengenakannya. Semua itu hanya kenangan busukku dengannya. Aku sengaja tak membuang atau menggantikannya karena aku ingin melihat sosokmu, bukan dia". Ujarnya setelah beberapa saat mereka saling terdiam dengan nada suara yang lembut. "Dan, baiklah. Aku akan menjauhimu. Aku tak kan mendekatimu lagi. Akan tetapi, aku tak akan melepaskanmu. Aku yang akan membuatmu mempertanggung jawabkan apa yang sudah kau lakukan pada hatiku. You're Just For Me. And I believe it". Tangan Sasuke kembali ia layangkan diatas ujung kepala Hinata yang tertutup dengan beanie lembut itu.

Kini, giliran Hinata yang membeku. Ia kehabisan akal untuk menentang keras pernyataan Sasuke tadi. Tubuhnya tak berfungsi normal seperti sedia kala. Ini pasti ada yang salah. Sasuke menutup kedua manik kelamnya lagi untuk mengumpulkan udara yang tersisa di dalam paru-parunya. Kemudian, ia melepaskannya lega. Berbeda dengan hatinya yang justru merasakan pedih yang dalam. Hinata juga merasakannya. Gadis imut ini tak bisa melakukan apapun. Hatinya seolah tergores oleh sebuah sembilu. Ia tak mengerti mengapa ia merasa sakit seperti ini. Sementara itu, Sasuke semakin menundukkan wajahnya untuk mendekati wajah Hinata. Hinata tak berkedip dan juga tak bisa menolak kehendak Sasuke. Kedua sudut hidung mereka bertemu. Sekali lagi, gadis ini tak bisa berkutik. Tubuhnya mati rasa.

Karena tak ada reaksi apapun yang muncul dari Hinata, Sasuke semakin mendekatkan wajahnya di depan wajah gadis imut itu. Hembusan nafas teratur milik Sasuke menimpa wajah Hinata. Ia dapat merasakannya dengan sangat jelas. Semakin dekat, hingga akhirnya ujung bibir Sasuke bertemu dengan bibir ranum gadis ini. Hinata membulatkan matanya sekali lagi. Namun, saat ia merasakan sapuan lembut di bibirnya dan juga melihat kedua mata obsidian Sasuke yang tertutup rapat, entah mengapa gadis ini juga menutup kedua pasang manik ungu pucatnya. Ia merasakan setiap kecupan Sasuke yang lembut mengenai bibirnya. Itu tak berlangsung lama. Sasuke segera melepas pagutan lembut diantara mereka. Hinata yang masih menutup kedua matanya, sedikit terkejut ketika Sasuke mengubah sasaran kecupannya menuju kening Hinata yang masih tertutup anakan rambutnya. Setelah itu, Sasuke meninggalkannya tanpa mengucap sepatah katapun. Ia melangkahkan kakinya maju meninggalkan Hinata.

To Be Continue . . . . . .


Akhirnya bisa di posting lagi :D

Maaf sebelumnya, pasti banyak yang kaget karena ternyata FF abal ini masih berlanjut setelah mengalami mati suri :D :(

Sekali lagi maaf karena terlalu lama, karena zay-chan sedang sakit :( *Oke ini curhat*

Terima kasih banyak untuk review, followers, dan readers yang masih setia menunggu kelanjutan FF ini :( Saya terharu. :(

Selamat membaca :D Dan soal NaruSaku, maaf karena tidak terlalu dominan keluarnya :D

Ini feelnya hurt, semoga dapet feelnya :D

So, menurut reviewers, readers, dan yang lainnya, kira-kira bagaiamanakah akhir dari kisah cinta Sasuke Hinata?

Balasan Review :

Maaf saya ngga bisa balas satu-persatu :D

Tetap review ya ? End 12 chapter kok mungkin ada bonus chapter khusus NaruSaku :D karena SasuHina terlalu dominan disini :D


A/N : NaruSaku akan muncul lagi di next chapter membantu Sasuke meyakinkan Hinata :D. So, sayonara chapter 11 :D