The reason I can endure these tears is because the warmth of your fingers have changed me―Kimi Ga Inai Mirai


M E L E P A S M U

Chapter 10


"I found you in my silent world, when the world stop singing for me.

And I found you in my darkness side, you took me away from my nightmares..

. you are the one who let me 'hear' a thing...

you are my silent love..."


Naruto by Masashi Kishimoto

Melepasmu by Kurousa Hime

Warnings: OOC, School theme, rumit, alur lambat, Italic untuk flashback

SasuSakuGaa, SasuHinaNaru, TemaShikaIno

Maybe NaruFemKyuu


Please come back to me Girl~


.

.

.

Pagi yang sejuk datang menjelang.

Kali ini Uzumaki Naruto si anak yang suka sekali bangun siang kini sudah terbangun dari acara tidur malamnya. Terbukti dari kasurnya yang sudah rapi―tapi ini juga termasuk mustahil karena Naruto mau membereskan kasurnya.

Uchiha Sasuke melihat jam yang tertempel di dinding bercat putih itu tepat di hadapannya. Jarum pendek baru menunjukan angka tujuh dan jarum panjang menunjukan angka tiga. Tumben juga pada dirinya Sasuke bangun cukup agak telat. Mungkin karena pengaruh bermain bola kemarin bukan? Berbeda dengan Naruto yang memang mempunyai tenaga monster dan tidak akan habis rasa lelahnya.

Dengan malas, diayunkan kaki atlet sepak bolanya menapaki lantai keramik yang dingin. Menutup matanya sejenak dari rasa kantuk yang masih ada, kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menghirup udara pagi yang segar―entah siapa yang membukakan jendela―dan menghembuskannya perlahan.

Sasuke menyukainya. Walau Suna panas pada menjelang jam sepuluh pagi dan akan sangat dingin ketika jam sepuluh malam tiba, dia merasa Suna tidak terlalu buruk juga dari Konoha yang memang sudah maju disbanding Suna.

Pandangannya menyalang pada sisi kasur lainnya―dimana kasur Shikamaru si Tukang Tidur nomor satu yang dikenalnya itu juga telah rapi. Sasuke menaikan sebelah alisnya, heran. Kenapa dua rekannya ini bangun lebih pagi dari dirinya dan membereskan kasur juga? Ck, sungguh aneh.

.

.

.

Yamanaka Ino terbangun karena udara segar alias dingin yang menyerang permukaan kulitnya. Belum lagi karena dia memakai baju senam yang memang ketat dan tak menutupi bagian badan bawahnya sehingga membuatnya seperti orang yang ketakutan―padahal jelas itu kedinginan.

Pipinya juga terasa dingin karena posisi tidurnya menyamping dan lantai ruang senam itu juga dingin sekali. Matanya bengkak karena menangis. Rasanya kepala Ino sedikit berputar-putar apalagi perutnya tiba-tiba saja merasa mual.

Ino tak sengaja ketiduran dalam latihannya dan menangis dalam diam hingga jatuh tertidur. Dibukalah ikatan rambutnya sehingga juntaian halus keemasan―karena sedikit tertimpa cahaya matahari―itu terurai. Poninya yang unik itu Ia singkirkan ke belakang.

Ino berusaha bangkit untuk berdiri meski kepalanya agak pusing. Tiba-tiba saja saat ingin bertumpu dengan kaki kirinya, pergelangan kaki kirinya terasa berdenyut-denyut. Ternyata sudah menjadi bengkak dan tampak berwarna masih sedikit kebiruan.

Ino menghela napas panjang. Dia sama sekali lupa dengan kakinya yang terkilir sehingga dia terbaring tadi malam hingga jatuh tertidur. Ino memijit keningnya yang tampak berkedut. Menggumam pelan kemudian dia melangkah keluar dari ruang senam dengan langkah sedikit tertatih.

Saat dibukanya ruang senam, tampak cahaya matahari rangsung menerobos ke arahnya. Di luar ruang senam tampak sudah ramai. Ino bersender di bingkai pintu sebentar. Melihat dengan tatapan kosong dan bibir pucatnya terkunci rapat.

Ruang latihan senam itu bertetangga saling depanan dengan taman―yang dijadikan pertengahan antara asrama putri dan asrama putra―yaang sudah dipenuhi anak-anak yang mengikuti Pentas Olahraga Nasional HI ini. Ino lantas melihat dua sosok yang dikenalinya sedang berjoging bersama. Inginnya sih Ino cepat pergi dari tempat itu tapi, entah kenapa Ino tetap bergeming melihat Shikamaru dan Temari yang sedang berbincang riang.

"Sakit sekali, Shika…," gumam Ino lirih dengan ekspresi wajah hendak menangis.

.

.

.


Cinta bukan dasar dari kebahagiaan, tetapi tanpa cinta adalah dasar dari kesedihan.


.

.

.

Uzumaki Naruto yang sedang terkikik geli mengingat kejadian tadi malam yang hanya mampu cengar-cengir. Sesekali mata anak-anak cowok yang sedang berendam pagi itu hanya menatapnya dengan raut heran. Melihat Naruto, cowok dengan tiga goresan di pipinya, mata sipitnya, dan juga cengirannya yang kelewat lebar. Membuat cowok-cowok dalam pemandian tersebut bergidik ngeri.

Sebenarnya Naruto sedang senang bukan main. Mengingat hal kemarin malam dia bertemu dengan cewek yang dianggapnya bertampang sangar dan garang namun bunyi perut mereka yang kelaparan bersamaan itulah yang membuat keduanya menahan malu dan gengsi.

Cewek yang dikenal Naruto dengan nama Kyuubi itu membuatnya sedikit tertarik. Kyuubi itu lebih tua satu tahun dengannya. Kyuubi sebenarnya anak yang baik dan manis hanya saja dia bertampang sangar dan garang.

Tsundere. Naruto menyebutnya seperti itu.

.

.

"Hei, kau bawa aku ke mana?" Tanya Naruto heran karena tadi tangannya ditarik oleh Kyuubi memasuki sebuah kedai di pinggir jalan yang cukup ramai.

Kyuubi tak mengindahkan pertanyaan Naruto. Dia sedang mencari-cari kursi yang kosong dan mata rubbinya itu mendapatkan ada dua bangku kosong dengan satu meja di dekat pojok sana. Dengan segera Kyuubi menarik Naruto menuju meja tersebut yang sedari tadi masih Kyuubi genggam tangannya.

Naruto yang merasa tangannya ditarik oleh Kyuubi dengan segera mereflekskan badannya mengikuti alur jalan Kyuubi yang berkelok-kelok karena banyaknya pengunjung.

"Kau duduk di situ!" titah Kyuubi yang menunjuk Naruto dengan telunjuknya. Naruto yang masih bingung dimana dia berada sekarang hanya mematuhi ucapan Kyuubi dengan mata yang berputar-putar. "Paman mie ramen jumbo ekstra pedasnya dua, ya!" Kyuubi berteriak pada seorang laki-laki yang tampak tua namun masih kuat tersebut di belakang bar.

"Eh? Hei!" Naruto menarik jaket merah Kyuubi sehingga Kyuubi menoleh dengan garang. "Seenaknya saja kau―"

"Diam bocah!" teriak Kyuubi sebal.

Naruto yang biasanya berisik itu tiba-tiba diam. Dia jadi teringat dengan Ibunya. Memang sosok Kyuubi mengingatkan akan Kushina―Ibu dari Naruto―selain warna rambutnya yang hampir serupa, kegarangannya saat memarahi Naruto juga caranya yang seenaknya menerintah orang itu layaknya duplikat Kushina. Naruto jadi menciut saja dibuatnya.

Dua mangkuk ramen besar yang masih mengepul itu datang dan membuat keduanya tergiur. Naruto yang memang semula mencari kedai ramen sudah menantikan hal ini. Sedang Kyuubi yang berjalan-jalan keluar malam ini yang kelaparan sengaja masuk ke salah satu kedai ramen yang cukup terkenal di daerah dekat sekolahnya.

Dengan lahap keduanya makan dengan sangat bernapsu tanpa jeda sedetik pun. Cara keduanya makan pun sama, layaknya mereka bagai seorang kakak-adik yang sangat akur dan kompak.

Kedua mangkuk besar yang tadinya berisikan ramen tandaslah sudah. Dengan perut sedikit membuncit keduanya bersender pada badan kursi. Meminum ocha bersamaan hingga habis juga. Naruto melihat Kyuubi yang sedang mengorek giginya dengan tusuk gigi. Ah, Naruto tidak pernah melihat seorang perempuan begini miripnya dengan seorang anak laki-laki.

Tanpa disadari Naruto sudah terkikik geli. Kyuubi mendelik ke arahnya, "Kenapa kau?"

Naruto menahan tawanya agar tidak keluar kembali. "Tidak. Hanya saja lucu melihat cewek seperti kau."

"Kyuubi."

Kali ini Naruto menghentikan kikikannya. "Apa?"

"Panggil aku Kyuubi." Kyuubi mengaduk-aduk kuah ramen yang masih setengah di dalam mangkuknya.

Naruto mengangguk paham. "Panggil aku Naruto juga, ya." Cengirnya.

Kyuubi merasa dadanya bergemuruh kemudian mencengkramnya erat. "Apa aku sakit, ya?" gumamnya cemas. Kemudian matanya melirik Naruto yang sedang memanggil pelayan dan dadanya kembali bergemuruh. "Kenapa, sih? Apa aku sakit ya? Tanya ke Temari ah nanti!" Kyuubi benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

"Maafkan sikapku tadi siang, ya?" Naruto menatap Kyuubi dengan serius. Usahanya untuk memanggil pelayan gagal karena tampaknya semakin malam kedai ramen ini semakin dikunjungi pegawai kantoran.

Kyuubi mengingat-ingat. Ingatannya memanglah tidak begitu bagus, dia tipikal orang yang kenal wajah tapi tidak tahu kapan waktunya dia bertemu dengan orang tersebut.

"Oh, kau yang memeluk Sakura-ku!"

"Hei? Sakura-mu? Sejak kapan dia menjadi Sakura-mu hah?" geram Naruto. Kemudian perkelahian kecil tak terhindari lagi. Kyuubi yang memang tempramen dengan mudahnya membalas ucapan-ucapan Naruto. Begitu pula dengan Naruto yang mudah tersulut begitu semangat membalas ucapan Kyuubi yang bengis.

"Sudahlah aku capek!" Kyuubi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Setelah bergulat hanya karena memperebutkan 'Sakura-ku' dan 'Sakura-mu' membuatnya berpikir tidak akan ada habisnya. "Kau teman dekat Sakura?"

Naruto mengangguk cepat. "Kami teman sejak kecil!"

"Si cewek Barbie itu sudah bilang pada kami. Kalian adalah teman yang berharga bagi Sakura pastinya. Tapi, dia hilang ingatan." Terang Kyuubi. Diaduk-aduknya kuah ramen dalam mangkuknya menampilkan mimik Kyuubi yang datar dalam permukaan bergelombang itu.

"Hilang ingatan?" Naruto tampak terkejut. "Benarkah itu? Benarkah makanya Sakura tidak mengenaliku tadi siang?"

Kyuubi mengangguk membenarkan pertanyaan Naruto. "Dan kuharap kalian tidak mengacaukan apa yang sudah kami beritahu pada Sakura."

"Maksudmu apa?" Naruto menatap Kyuubi dengan wajah kebingungan, Kyuubi memalingkan wajahnya menahan debaran yang membuatnya agak sesak.

"Maksudku, kami―Gaara, aku, dan keluarga angkat Sakura―sudah mengatur setting kalau Sakura adalah anak dari keluarga Akasuna yang tinggal di Konoha bersama dengan neneknya. Kemudian baru-baru ini neneknya meninggal sehngga Sakura pulang ke Suna tapi, Sakura mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Begitu yang sudah kami atur."

Naruto memukul meja makan agak cukup keras. "Kalian keterlaluan. Membohongi Sakura seperti itu!"

"Itu juga kami lakukan karena terpaksa!"

"Terpaksa? Karena apa?"

"Karena Sakura menganggap Sabaku Gaara sebagai kekasihnya."

Ingatan Naruto diputus begitu saja ketika mendengar suara ejekan Sasuke yang baru memasuki arena pemandian.

"Ekspresimu aneh sekali. Yah, walau wajahmu memang pada dasarnya aneh, sih. " ejek Sasuke, dia menduduki dirinya di samping Naruto yang sedang berendam. Handuk putih tampak melingkar di lehernya.

"Sialan kau Teme!" Naruto menyipratkan air panas ke wajah Sasuke. "Ups, tidak sengaja."

Sasuke yang masih diam menahan uapan panas yang dicipratkan oleh Naruto pada wajahnya juga rasa amarah yang mendidih muncul dalam dirinya. Empat kedutan muncul di keningnya. "Kaaaaaauuuuuuu!"

.

.

.


Hal yang tersedih adalah apabila orang yang mendatangi kita pergi berjalan menjauh, dan perasaan kita bertambah sedih seiring banyaknya langkah kaki saat ia meninggalkan kita.


.

.

.

Sabaku Gaara berhenti di depan kelas Akasuna Sakura. Dia sengaja mengantar Sakura ke sekolah takut-takut kalau Sakura akan tersasar dari rumahnya menuju sekolah. Sakura merasa kesal karena Gaara menganggapnya seperti anak TK saja.

Dengan wajah yang sengaja ditekuk dan memanyunkan bibirnya, Sakura menaruh tasnya terlebih dahulu di mejanya kemudian menghampiri Gaara yang masih berada di luar kelas.

"Apa benar kita akan bertemu dengan orang yang kemarin?" Tanya sakura dengan raut yang sulit dijelaskan oleh Gaara.

Gaara hanya mengangguk. "Mereka adalah teman dekatmu di Konoha. Kupikir mereka harus tahu kalau kau hilang ingatan. Bagaimanapun mereka adalah temanmu. Kau pasti merindukan mereka." Gaara mengelus rambut Sakura sayang hingga menimbulkan suara kecemburuan di belakang Sakura yang melihat pangeran sekolah Suna Gakuen itu bermesraan di depan mereka.

Sakura yang tidak tanggap dengan aura kecemburuan di belakangnya hanya mengangguk mengerti. "Terima kasih, Gaara-kun. Kau perhatian sekali padaku." Senyum Sakura tulus.

"Itulah gunanya seorang kekasih." Gaara balas tersenyum pada Sakura, dielus lembut pipi kanan Sakura. "Aku akan pergi latihan sekarang. Setelah pulang sekolah aku akan menjemputmu dan pergi menemui mereka."

Gaara kemudian berpamitan pada Sakura. Sakura melihat punggung Gaara yang semakin menjauh dengan hati yang bergemuruh hebat, pipinya bersemu merah dan kembali menghela napas ketika sosok Gaara sudah tidak terlihat oleh emeraldnya.

Inikah cinta yang kurindukan? Gumam Sakura bimbang.

.

.

.


Kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan, kita menghargai cahaya karena kita pernah dalam kegelapan, begitu pula kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan.


.

.

.

Istirahat makan siang datang begitu cepat. Rasanya baru saja Sakura memulai pelajaran pertama ternyata sudah waktunya untuk istirahat siang. Sakura yang membawa bekal makan yang dibuatkan oleh Ibunya tampak sedang mengatur kursi untuk saling berhadapan dengan satu meja bersama dengan kedua temannya.

"Hari ini apa bekal kalian?" ucap perempuan berambut cokelat sepundak kepada Sakura dan seorang perempuan berambut merah muda agak lebih terang dengan Sakura yang diikat kuda rambutnya.

"Seperti biasa." Ucap Tayuya memposisikan kursinya menghadap pada Matsuri yang bertanya mengenai bekal mereka.

"Aku minta telur gulungmu ya!" Matsuri langsung menyambar telur gulung milik Tayuya yang baru sedetik dibuka kotak bekalnya tersebut.

Tayuya mendelik, "Dasar! Aku kan belum bilang boleh!" gerutu Tayuya sebal, Matsuri hanya meleletkan lidahnya.

"Ambil punyaku saja, Tayuya." Sakura yang sedari tadi terkikik menyodorkan kotak bekalnya pada Tayuya.

"Memangnya apa bekalmu?" kedua mata hazel Matsuri berbinar ketika mendapati kotak bekal Sakura. "Katsu! Aku mau!"

Matsuri baru saja akan melancarkan jurus sumpitnya namun dengan cepat Tayuya menahan sumpit Matsuri dengan sumpitnya. "Oh, tidak bisa~"

Matsuri bergerumel sebal. "Pelitnya."

"Sudahlah kalian berdua. Ambil saja satu-satu katsunya, oke?" Sakura menaruh masing-masing satu katsu untuk kedua temannya.

"Kau baik sekali, Saku~" haru Matsuri yang memang dijuluki sebagai Drama Queen di kelas mereka.

Tayuya hanya mencibir kelakuan Matsuri. Sakura bersyukur mendapati dua teman yang langsung cepat akrab di dalam kelasnya. Sebersit memang ada rasa tidak percaya diri dalam dirinya dan dia ragu karena ingatannya yang hilang sama sekali membuatnya buntu untuk mengingat apapun.

Untung saja anak kelas Sakura ternyata lumayan menyukai fashion dimana mereka semua sering membeli majalah 'CHU' dimana Sakura adalah model yang disukai di dalam majalah tersebut. Sakura diberitahu dia memang seorang model namun berhenti ketika datang ke Suna dan anak kelas Sakura paham dengan kekurangan Sakura yang hilang ingatan.

Sungguh Sakura merasa nyaman tinggal di Suna.

"Omong-omong bagaimana hubunganmu dengan Kimimaro, Tayuya?" goda Matsuri yang seketika membuat rina merah di wajah Tayuya menyerupai warna rambutnya.

Matsuri memang pintar sekali menggoda orang-orang. "Coba ceritakan pada kami!" seru Sakura ikut-ikutan bersemangat. Tayuya mendelik sebal kepada kedua temannya ini.

"Huh, mau tahu saja hubungan orang!" gerutunya sebal dengan rona kemerahan yang maksimal.

Matsuri tertawa terpingkal-pingkal. Sakura dan Tayuya yang melihatnya hanya bisa sweatdrop saja. "Matsuri aneh!"

"Biar saja. Ayolah Tayu aku hanya ingin tahu sedikit tentang ciuman pertama kalian."

"Ti-tidak mau!"

Matsuri menghela napas bosan karena Tayuya dari tadi masih saja bersikukuh tidak mau menceritakan pengalaman berciumannya dengan Kimimaro.

"Baiklah kalau begitu bagaimana denganmu, Sakura?"

Dan Sakura hanya diam mematung mendapat pertanyaan seperti itu.

Apakah dulu dia pernah mendapatkan ciuman dari Gaara?

.

.

.

Ino berjalan dengan pelan berusaha menyembunyikan rasa kesakitannya karena kakinya yang masih sedikit membengkak. Hari ini dia memakai kaus kaki dengan sepatu sport berwarna putih bergaris kuning. Ini hal yang sangat jarang, karena biasanya Ino suka menggunakan high heels atau wedges.

Shikmaru yang berjalan beriringan dengan Ino merasa keadaan pacarnya cukup aneh. Pasalnya Ino tidak seberisik biasanya. Malah Naruto yang tampak sangat berisik hari ini. Di depan Shikamaru dan Ino ada Naruto yang terus mengoceh dengan Sasuke yang menanggapinya dengan bosan karena sudah biasa.

Shikamaru melirik Ino dengan ekor matanya. Wajah kekasihnya itu tampak pucat dengan sedikit banyak keringat padahal kata Ino, dia hari ini tidak ikut latihan senam dan banyak beristirahat karena kelelahan. Shikamaru juga menanyakan perihal e-mail yang dikirmkannya untuk Ino dan Ino hanya menjawabnya karena kelupaan dengan ponselnya yang disilent. Sayangnya Shikamaru menaruh kecurigaan terhadap kekasihnya itu.

Ino tidak pernah jauh-jauh dari ponselnya sekalipun memang disilent Ino tidak mungkin menelantarkan ponselnya semalaman.

Tiba-tiba saja langkah Ino terhenti. Shikamaru melihat Ino sedang memijit pergelangan kaki kirinya. Dengan sigap Shikamaru membopong Ino ke tempat yang dekat dengan kursi. Naruto dan Sasuke yang sudah berjalan jauh di depan mereka agaknya tidak menyadari keabsenan Shikamaru dan Ino.

Ino meringis pelan ketika Shikamaru tidak sengaja menekan pergelangan kakinya yang bengkak. "Kenapa tidak bilang padaku?" Tanya Shikamaru dengan wajah sebal. Ino hanya diam menunduk tidak ingin menjawab pertanyaan Shikamaru.

"Ck!" kemudian Shikamaru mengambil botol air minum yang berada di tas Ino, karena dia tahu Ino selalu membawa air untuk dehidrasinya yang terlalu keseringan. "Kau merepotkan." Shikamaru mengompres pergelangan kaki Ino yang bengkak dengan sapu tangan yang sudah dibasahinya.

Tubuh Ino menegang seketika. Dia sudah sering kali mendengar Shikamaru mengucapkan 'merepotkan' kala Ia selalu bertemu dengannya. Namun kali ini entah mengapa Ino menanggapinya lain.

"Maaf aku selalu merepotkanmu." Gumamnya.

Shikamaru memandang wajah kekasihnya yang menunduk dalam kemudian kedua tangannya Ia tangkupkan pada bingkai wajah Ino. Dilihatnya wajah Ino yang sedikit pucat dengan kedua mata aquamarinenya yang seperti menahan tangis.

"Ada apa Ino?" Tanya Shikamaru lembut.

Ino menggeleng kepalanya cepat hingga rambut pirangnya yang panjang dikuncir kuda itu menggelitik tangan Shikamaru. "Aku tidak apa-apa, Shika."

Sungguh Shikamaru mengetahui adanya kebeohongan dalam mata Ino. Mereka bukanlah sepasang kekasih yang baru menjalin cinta sebentar. Tapi, Shikamaru dan Ino adalah teman sejak kecil juga dan Shikamaru tahu saat-saat dimana Ino akan membohonginya.

Shikamaru menghela napas panjang. Percuma dia bertanya, Ino pasti tidak akan mau jujur dan sepertinya Ino membutuhkan seseorang untuk acara curhatnya. Maka dari itu mungkin Ino membutuhkan Sakura bukan dirinya.

Shikamaru merasakan baru kali ini dia tidak cukup berguna sebagai kekasih dari Yamanaka Ino.

.

.

.

Sakura merasakan suatu simpati pada Ino yang duduk di hadapannya.

"Ada apa denganmu, I-Ino?" Tanya Sakura cukup ragu karena dia agak lupa dengan nama Ino. Ino yang semula tertunduk lesu, kini berbinar mendengar Sakura bertanya mengenai keadaan dirinya.

"A-aku―" Ino tak lagi melanjutkan ucapannya karena melihat Shikamaru, Naruto dan Kyuubi yang melihatnya dengan wajah penasaran, sedang Gaara dan Sasuke hanya berkutat pada ponsel mereka. Dasar dua orang setipe!

"Kurasa kalian berdua butuh privacy." Usul Kyuubi yang mengerti keadaan Ino, kemudia ibu jarinya menunjuk ke arah toilet perempuan yang berada di belakangnya.

Sakura mengangguk mengerti kemudian dia menyeret Ino menuju toilet perempuan. Shikamaru hanya mendesah panjang dan bergumam, "mendokuse."

"Aku tidak mengerti." Naruto memajukan bibirnya―sok imut―dengan garpu yang berada di dagunya. "Apa anak perempuan sebegitu susahnya ya kalau mau buang air kecil? Sampai ditemani segala."

Dengan cepat Kyuubi memukul kepala Naruto cukup keras. "Dasar bodoh!"

.

.

.


Bersedih hati tentang apa yang tidak anda miliki adalah menyia-nyiakan apa yang anda miliki.


.

.

.

Ino memeluk Sakura erat ketika pintu toilet sudah ditutupnya. Dia menangis dalam bahu Sakura, Sakura hanya mampu mengelus punggung Ino dengan sabar dan sayang.

"Kalau kau mau bercerita kepadaku, cerita saja. Aku tidak keberatan." Bisik Sakura tepat di telinga Ino.

Ino hanya menganggukan kepalanya lemah. "Mungkin kau sedikit kurang mengerti." Melepaskan pelukannya pada sakura, Ino membilas wajahnya yang sudah penuh jejak air mata.

"Aku akan berusaha mengerti walau hilang ingatan." Ujar Sakura tegas.

"Terima kasih, Saku. Kau memang sahabat baikku." Ino mengulum senyum terharu. "Aku hanya bingung."

"Bingung karena?" Sakura bercermin, dimana dia bisa melihat bayangannya dengan rambut merah muda panjang yang acak-acakan kemudia Ia mencoba merapikan rambutnya.

"Aku cemburu." Ino membantu merapikan rambut Sakura untuk mengepangnya yang kelihatannya tampak Sakura kesulitan. "Aku bingung dengan rasa ini. Cemburu memang adalah hal yang wajar tapi, aku takut kalau aku bilang seperti itu dia akan menjauhiku."

"Maksudmu?"

"Aku takut terbawa emosi. Aku takut kalau aku terang-terangan bilang padanya aku cemburu melihat dia bersama mantannya maka dia akan menjauhiku. Aku tidak mau seperti itu. Aku hanya takut dia menganggapku posesive.

Sakura mengangguk paham, sesekali dimiringkannya kepalanya untuk menyusahkan Ino mengepang rambutnya. "Posesive itu wajar hanya perlu mengatakan apa yang seharusnya kau rasakan dan kekasihmu tidak akan menganggapmu seperti itu. Kecuali kalau kau melarangnya untuk tidak menghubungi mantannya."

"Tapi, aku takut kehilangannya Saku. Aku sudah susah payah memalingkannya dari mantannya itu. Oke, mari kita sebut namanya Temari."

"Temari? Kakak Gaara maksudmu?" Sakura refleks menengok pada Ino sehingga kepangannya terlepas dari tangan Ino.

"Jangan bergerak!" Ino membalikan tubuh Sakura pada posisi semula dan mulai mengepangnya. "Memangnya Sabaku Temari itu kakak Gaara?" Sakura mengangguk. "Waw, dunia memang sempit sekali."

"Ya, ya, lanjutkan kembali Ino!" seru Sakura bersemangat.

"Shikamaru yang ikut dalam pertemuan ini adalah kekasihku, teman sejak kecilku, dan juga teman di SMP kita Sakura. Dulu shikamaru pernah long distance relationship dengan Temari namun hubungan mereka kandas. Melihat Shikamaru yang terpuruk aku berusaha untuk mendekati Shikamaru dan akhirnya kami berdua berpacaran."

Sakura tetap mendengarkan curhatan Ino dengan seksama. Sesekali matanya melirik sana-sini agar tidak bosan karena rambutnya tengah dikepang oleh Ino. Kemudian Sakura memainkan bunga plastik yang sengaja dipajang di sana.

"Rasanya sulit sekali untuk mendapatkan hati Shikamaru dan membuatnya melupakan Temari." Ino jadi terbayang bagaimana hari-harinya yang sulit setengah tahun lalu dan Sakura selalu mendukungnya.

Memang usia hubungan Ino dengan Shikamaru baru berjalan tiga bulan namun perasaan Ino yang Ia tampung kepada Shikamaru sudah enam tahun lamanya.

"Kau tahu, Ino?" Sakura memutar-mutar bunga plastik mawar yang berada di tangannya. Ino menaikan alisnya yang ditangkap Sakura dalam cermin besar. "Cinta itu ibarat memberi tanaman dengan air."

"Maksudmu?" Tanya Ino tidak paham dengan apa yang Sakura katakana.

"Hubungan suatu kekasih itu seperti kita menyirami tanaman dengan air. Jika kita memberi air terlalu banyak, maka bunga akan layu yang artinya kalau kau terlalu berfokus padanya, berharap terlalu banyak dia dapat mengenalimu, terlalu memujanya maka cinta kalian itu akan mudah layu."

Ino melepaskan hasil kepangannya dan menyampingkan hasil kepangan tersebut ke pundak kanan Sakura. "Lalu?"

"Lalu, bagaimana kalau bunga itu diberi air yang terlalu sedikit? Tentu akan layu juga akhirnya bukan? Begitulah hubungan jika kau tidak berespon, pasif, hanya dipendam saja tanpa ada tindakan berarti sepertimu maka Shikamaru akan bingung dan akhirnya cinta kalian menjadi layu."

Ino tercekat, benar juga apa yang dikatakan Sakura padanya. "Ya, aku mengerti, Jidat!"

Sakura mendelik. "Rasanya aku sebal kau mengatakan itu, Ino!" gerutu Sakura. "Jadi intinya agar bunga itu terus mekar dengan indahnya maka kita memberikan nutrisi dan juga air yang sesuai dengan kebutuhannya. Seperti hubungan kalian, nutrisi itu ibarat sebuah kepercayaan yang kalian sampaikan satu sama lain. Jika kalian percaya dan memberi air―dengan sikap yang biasa namun jujur pada diri sendiri kalian maka cinta kalian tidak akan layu. Dan akan terus bermekaran dengan indah."

Tiba-tiba saja Ino menteskan air mata, dan kemudian memluk kembali Sakura dengan rasa lega luar biasa.

.

.

.


Kita akan tetap saling mencintai apabila kita dapat menerima setiap perubahan.


.

.

.

Shikamaru menyadari perubahan mood Ino yang tadinya dilihat aura murung menggelayutinya kini tampak aura bunga-bungaan muncul di sekelilingnya. Shikamaru tersenyum lega dan mengucap terima kasih dalam hati karena Sakura telah mengobati kesedihan Ino.

Sakura dan Ino duduk di kursi masing-masing kemudian memakan parfait mereka yang sudah meleleh setengahnya. Naruto berdehem untuk mendapatkan perhatian karena dilihatnya mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing padahal mereka berkumpul karena ingin membicarakan sesuatu.

Gaara menoleh pada Naruto karena tadi kakinya ditendang pelan oleh Naruto dan itu membuat sedikitnya ada rasa kesal dalam hati Sabaku bungsu itu.

"Gaara ingat tujuannya!" desis Naruto mengingatkan Gaara.

Gaara hanya mengangguk dengan wajah datar andalannya. "Aku tahu, bodoh." Dengus Gaara.

Ponsel Sasuke bergetar, dilihatnya ada sebuah e-mail baru. Dibukanya segera berharap itu adalah Hinata dan ternyata benar. Sasuke tersenyum tipis hampir-hampir tidak ada yang mengetahui kalau dia sedang senang. Sakura yang melihat Sasuke yang berada di ujung meja hanya mengernyit bingung. Entah mengapa dia merasa dadanya selalu sakit kalau melihat Sasuke.

Aku sudah tiba di Suna ^^

Bisakah kita bertemus Sasuke-kun?

Itu adalah isi dari pesan singkat Hinata kepada Sasuke. Dengan segera Sasuke mengetikan balasannya.

Tentu hime. Bagaimana kalau di air mancur Suna?

Aku akan menunggumu jam 5 ini.

Sasuke memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaket baseball. Pandangannya bertumpuk pada Sakura yang pada saat itu masih melihat Sasuke. Dengan cepat Sakura membuang mukanya dan melanjutkan kembali memakan parfaitnya.

Sasuke hanya mendengus. Sikap Sakura tidak berubah selalu saja seperti itu kalau balas ditatap olehnya. Tapi, Sasuke merasa lega karena sikap Sakura kepadanya tidak terlalu buruk juga. Ada rasa senang di dalam hatinya karena dia dapat bertemu dengan Sakura. Walau berusaha membohongi dirinya sendiri, Sasuke tahu bahwa dia merindukan Sakura.

"Ehem! Kita mulai saja, ya!" Naruto berdehem-dehem sebentar. Diliriknya Sakura dengan pandangan sayang. "Aku hanya ingin kalian tahu semua yang ada di sini mengenai keadaan Sakura."

Kyuubi mendnegus. Seharusnya itu kan menjadi ucapannya bukan si bodoh duren itu, gerutunya sebal.

"Sakura hilang ingatan." Ucap Gaara simpel. Namun bagi Sasuke itu tidaklah simpel.

Dia kaget namun tentu tak terlihat ekspresi kagetnya itu. Hatinya berkecamuk. "Pantas dia bersikap biasa padaku."

Sedang Shikamaru yang memang telah menduga sebelumnya tampak tenang saja.

"Jadi kuharap kalian yang sebagai teman Sakura di Konoha mau memperkenalkan lagi kepada Sakura. Mungkin dengan hal itu Sakura dapat mengingat kembali kalian." Tambah Kyuubi santai lalu menambahkan dalam hatinya, "walau itu mustahil karena Sakura hilang ingatan permanen."

Naruto dan Ino mengangguk antusias. "Aku tidak ingin Sakura lupa kepadaku." Lirih Ino.

"Terima kasih, Ino. Mungkin walau aku hilang ingatan kita bisa bersahabat kembali." Sakura menggenggam tangan Ino hangat yang balas digenggamnya.

"Tentu!" girang Ino.

"Aku juga dong, Sakura-chan~" rengek Naruto yang mau ikut-ikutan menggenggam tangan Ino dan Sakura kemudian ditepis oleh Kyuubi kasar.

Sakura tertawa. "Tentu um…," Sakura tampak kesulitan untuk mengucapkan nama Naruto.

"Naruto. Biasanya kau memanggilku dengan Naruto-kun!" kata Naruto dengan wajah genitnya.

"Bohong!" Ino memukul tempurung kepala Naruto pelan. "Biasanya kau akan memanggulnya baka Naruto."

"Ih, Ino!"

Lantas ketiganya tertawa bersama dan Kyuubi mengejek wajah Naruto yang menurutnya amit-amit itu. Dengan segera suasana yang tadinya agak kaku mencair menjadi kegembiraan. Belum lagi Kyuubi yang merasa menang karena didukung oleh Ino dan Sakura sedang Naruto hanya cemberut tidak ada yang membelanya.

Gaara tersenyum senang mendapati Sakura dapat lebih riang dari biasanya. Digenggamnya tangan Sakura yang berada di bawah meja. Sakura yang kaget tangannya digenggam oleh Gaara hanya balas tersenyum dan pemandangan itu ditangkap oleh Sasuke. Ada rasa kesal yang terselip di hatinya.

"Teme bela aku, dooong!" rengek Naruto yang tidak mendapatkan sekutu.

"Tidak, Dobe." Tolak Sasuke dengan wajah bosannya.

Naruto melirik Shikamaru, "Hah, mendokuse."

"Hahaha, sudah-sudah. Kasihan Naruto." Sakura mengelus-elus rambut Naruto yang seperti anak anjing yang kesepian.

"Sakura-chan kau memang selalu baik padaku!" Naruto baru saja hendak memeluk Sakura namun ditahannya oleh Ino dan Kyuubi yang kesal.

"Cari kesempatan saja kau bocah!"

"Kalian ini merepotkan saja." Desah Shikamaru yang menyeruput mocacino dinginnya.

"Baiklah Sakura-chan." Ino menepuk-nepuk tangannya di udara. "Ini adalah Shikamaru, kekasihku sekaligus teman kita saat SMP." Ino memeluk lengan Shikamaru.

"Nara Shikamaru. Biasanya kau memanggilku Shika si tukang tidur." Shikamaru tersenyum dan mengelus pucuk kepala Ino yang masih memeluk lengannya.

"Shika si tukang tidur? Kau suka tidur?" Sakura menunjuk Shikamaru tak percaya.

Shikamaru hanya memutar bola matanya bosan. "Terserahlah, merepotkan."

Ino terbahak-bahak. "Kalau bukan si tukang tidur nama lainnya adalah si Tuan mendokuse."

"Ck!" Shikamaru berdecak sebal.

"Ada satu lagi, nih Sakura-chan!" Naruto merangkul pundak Sasuke. "Ini teman sejak kecil kita."

Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang sedang berusaha melepaskan rangkulan Naruto. "Siapa namamu?" Tanya Sakura penasaran dengan wajah polos.

"Uchiha Sasuke." Jawab Sasuke singkat padat dan jelas.

Sakura hanya memajukan bibirnya. Dingin sekali orang ini, pikirnya sebal.

"Kau biasa memanggilnya dengan Teme, sakura-chan!"

"Bohong!" teriak Ino dan Sasuke bersamaan.

"Sepertinya kau ingin sekali dicincang olehku, ya Dobe?" Sasuke sudah bersiap memperlihatkan kepalan tangannya pada Naruto.

"So-sorry Teme."

"Hn, kau panggil aku Sasuke saja."

Sakura mengangguk mengerti. "Shikamaru, Ino, Naruto, dan Sasuke." Sakura menunjuk satu persatu teman-temannya. "Kalian adalah temanku yang berharga." Ucapnya seraya tersenyum senang. "Terima kasih sudah menjadi teman baikku."

Ino, Naruto dan Shikamaru mengucapkan bersama-sama, "Sama-sama juga, Sakura-chan―Jidat―Sakura." Sedang Sasuke hanya menjawab dengan kata andalannya, "Hn."

"Oke, sekarang aku dan dia yang akan berkenalan." Kyuubi menyeringai senang. "Aku Kyuubi, teman baru Sakura." Kyuubi memeluk Sakura dari arah kanan Sakura seperti terisyarat bahwa Sakura adalah miliknya.

"Kau seenaknya saja memeluk Sakura-chan, cowok jadi-jadian!" ejek Naruto pada Kyuubi.

"BIar saja." Kyuubi meleletkan lidahnya senang.

Sakura yang dipeluk Kyuubi hanya terkikik geli melihat Naruto yang saling beradu ejekan dengan Kyuubi. "Nah, sekarang dia. Kuyakin kalian pasti tahu dia―kalau memang kalian teman baikku di Konoha."

Sasuke menatap Sakura, seperti ada rasa takut yang menggelayutinya sebelum Sakura memperkenalkan pemuda berambut merah darah dengan tato 'Ai' tersebut.

"Dia adalah kekasihku. Sabaku Gaara."

.

.

.

Setelah usai pertemuan antar Sakura dengan teman-temannya yang berada di Konoha, mereka langsung berpencar. Gaara dan Sakura yang memang ingin berjalan-jalan di sekitar pusat kota Suna, Kyuubi dan Naruto yang memang sudah janjian akan berkompetisi memakan ramen terbanyak, Ino dan Shikamaru yang ingin menikmati waktu sore hari mereka dengan berjalan ke asrama, dan Sasuke yang pergi langsung menghilang setelah Sakura berkata bahwa Gaara adalah kekaishnya.

Sakura sedang duduk di taman kota sembari menunggu Gaara yang sedang membeli es krim tidak jauh dari tempatnya. Mata hijau beningnya itu berkilat senang melihat sore hari itu anak-anak kecil bersama para Ibu masih bermain-main. Di tengah taman kota tersebut ada sebuah air mancur yang berukuran sedang dipenuhi dengan burung-burung kecil sedang memakan roti dari anak-anak.

Tiba-tiba saja dia menangkap siluet seorang pemuda dari belakang yang memakai jaket baseball berwarna hitam yang sepertinya Sakura kenali. Belum lagi rambut yang cukup aneh mencuat itu mirip pantat ayam mengingatkannya akan Sasuke.

Ya, si pemuda dingin yang langsung pergi begitu saja setelah Sakura memperkenalkan Gaara padanya. Sakura tak habis pikir mengapa orang seperti Sasuke adalah teman baiknya. Bagaimana aku bisa tahan dengan sikap dingin dia, ya? Pikir Sakura dalam hati.

Dilihatnya ada seorang anak perempuan memeluk tubuh Sasuke hingga Sasuke sedikit mundur ke belakang. Kini posisi mereka saling berhadapan dengan menyamping dilihat dari tempat Sakura. Sakura menyipitkan matanya agar dapat melihat siapa gerangan yang ditemui oleh Sasuke.

Seorang gadis berambut biru gelap panjang dengan poni rata. Baju setengah dress berwarna biru muda dengan dibagian bawahnya terdapat renda. Dan sebuah tas selempang kecil berwarna putih sebagai pemanis. Kakinya dibalut sandal hak rendah.

Sakura merasa bahwa pastilah gadis yang bertemu dengan Sauske itu amat manis. Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit ketika dia berusaha mencoba mengingat gadis itu karena siapa tahu gadis itu termasuk teman Sakura di Konoha. Sayangnya kedutan di kepala Sakura segera terhenti melihat Sasuke bersama gadis itu pergi dari sana dengan bergandengan tangan menuju tempat es krim.

Gaara menyodorkan es krim vanilla pada Sakura kemudian Sakura berjengkit kaget karena disodorkan es krim tiba-tiba. "Kau membuatku kaget, Gaara-kun!" Sakura menonjok lengan Gaara kesal.

Gaara terkekeh geli melihat ekspresi wajah Sakura yang berantakan. "Maaf, ne?" Gaara mengelus kepala Sakura. "Kau kenapa?"

Sakura menggeleng pelan. "Tidak apa." Seraya memakan es krimnya Sakura terus melihat air mancur. "Tadi aku melihat Sasuke ada di sana." Tunjuk Sakura pada air mancur.

Gaara hanya menjawab seadanya. "Aku minta." Tiba-tiba saja Gaara memajukan wajahnya, memakan es krim vanilla Sakura dengan sekali lahap hingga tersisa setengahnya.

"Gaara-kun!" rengek Sakura melihat es krimnya tinggal setengah. Gaara hanya tertawa pelan saja melihat ekspresi lucu kekaishnya.

Di sudut bibir Gaara ada sisa es krim yang membekas. Sakura tanpa ragu menjilat sudut bibir Gaara, refleks dia melakukan hal tersebut. Gaara cukup kaget karena Sakura yang terasa begitu dekat dengannya.

Napas mereka saling bertabrakan, hidung keduanya telah menempel tanpa diduga. Kedua mata yang sama-sama beririskan hijau itu saling menatap. Entah insting atau apa, Sakura memejamkan matanya dan Gaara mencoba menempelkan bibirnya pada bibir Sakura.

Akhirnya kedua bibir itu saling menempel. Menekan dengan ragu yang sejurus kemudian menempelkannya lebih dalam lagi. Mencoba melumat bibir bawah Sakura dengan lembut dan Sakura balas melumat bibir atas Gaara.

Ciuman yang manis dan tanpa ada rasa nafsu. Ciuman kasih sayang yang hangat yang mereka saling melempar kehangatan satu sama lain.

Sasuke diam terpaku melihat dua orang yang saling berpagutan di kursi taman.

Pemuda berambut merah darah dan gadis berambut merah muda tengah berciuman.

Mendadak hatinya seakan panas, matanya terbelalak ngeri, rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk kesal.

"Kuso!" decihnya sebal.

.

.

.


I want to escape with you
Even if the world ends

We won't look back ever again
As an infinite orbit starts to move
Someday, stories will be told about this never ending dream


.

.

.


T S U D Z U K U


Arena Bacotan Ceria

Haloooo~

Ini adalah chapter ke -10 yang aku rasa gagal mendapatkan feel! Yeah, maaf untuk semua itu temans

Aku sudah berusaha tapi pikiranku tetap terfokus sama UAS. Maaf sekali lagi yak arena chapter 10 ini cukup gagal bagiku.

Dan untuk yang menunggu chapter 11 harus bersabar selama satu bulan ya! Kira-kira fic ini akan di update setelah UAS yaitu Maret minggu kedua!

Dan mungkin aku masih sempat membuat untuk SasuSaku Fanday tapi kalau yang Valentine aku ga jamin mau bikin oneshot. Dan jangan lupa ya ikutan event yang Sakura sentric buat juga! Kemungkinan aku akan bikin fanfic multi-chap yang berjudul 'Season of Love' haha. Ini adalah bocoran ya!

Oke, deh selesai juga cuapannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang baca fanfic abal ini. Readers dan silent readers sekalian!

Sampai jumpaaaaaaaa~

Buhbeey :*