chapter 9 : you belong to me [kind of rate m for kissing and nipple play]
Pada akhir pekan, Sehun mengajak Jongin untuk menghabiskan waktu mereka di rumah Victoria. Gadis itu bersama dengan Baekhyun sedang liburan ke Jepang, sehingga rumah itu untuk sementara menjadi milik mereka.
Jongin menopang dagunya di atas meja makan. Matanya tidak berhenti mengikuti setiap pergerakan Sehun yang kini tengah sibuk membuatkannya pancake sesuai pesanan Jongin. "Aku baru tahu kalau kau bisa memasak. Fuck, pacarku benar-benar sempurna," goda Jongin membuat Sehun berbalik padanya dan memberikan jari tengah.
Jongin melirik ponselnya yang kembali bergetar. Ada tiga pesan dari Cal dan dua pesan dari Chanyeol yang ia tebak isinya tidak lebih dari pesan konyol seperti 'use protection, son' atau 'don't get pregnant!' yang mereka kirimkan hanya untuk membuatnya kesal. Jongin mengulum senyum berpikir untuk membalas pesan mereka setelah sarapan. Sehun dan dirinya berkendara dari Seoul selama dua jam lebih dan bangun lebih pagi dari biasanya. Jadi, tentu saja ia lebih memilih sepiring pancake yang menggiurkan daripada pesan konyol kedua sahabatnya.
"Bagaimana?" tanya Sehun setelah Jongin menyicipi potongan pancake.
Jongin terdiam sejenak dengan alis bertaut. Sehun sudah siap menerima komentar buruk dari kekasihnya itu. Kekasih. Huh, itu kedengaran tidak biasa. "Kau tahu, mulai dari sekarang kau harus membuatkanku pancake setiap hari!" tuntut Jongin.
Sehun menghela nafas. Bajingan itu berhasil menipunya kali ini. "Aku mau saja membuatkanmu pancake setiap hari asal.." Sehun memenggal kalimatnya. Ia pindah duduk ke samping Jongin membuat Jongin menghadap ke arahnya tidak sabar menanti persyaratan macam apa yang akan Sehun berikan padanya. Mungkin saja, berhubungan dengan ranjang. Hmm, he kind of miss the dom!Sehun. "...kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku,"
Jongin menelan ludah. Bibirnya mengatup rapat membentuk garis kaku. Ini jauh diluar ekspektasinya dan bukannya ia ingin komplain atau apa. Hanya saja..
Ia berusaha menutupi perasaannya yang berkecamuk di dalam sana dengan satu anggukkan kepala serta senyum palsu. "Aku ingin mendengar suaramu," perintah Sehun. Terdengar jauh lebih lembut daripada biasanya pemuda itu memerintahkan Jongin untuk melakukan sesuatu.
Jongin memutar matanya. "Ya, ya, Mr. control freak. Aku berjanji padamu," balas Jongin penuh dengan sarkasme.
Sehun tersenyum puas lalu mengecup bibir Jongin sekilas. "Habiskan sarapanmu. Setelah ini, kita akan berlayar di danau," setelah itu, Sehun beranjak pergi dari dapur meninggalkan Jongin yang melongo kebingungan.
"Wait.. memangnya seluas apa danau itu? Dan, hei, sejak kapan kau punya perahu?!" Jongin memutar tubuhnya dan mendapati Sehun sedang membawa masuk tasnya serta tas milik Sehun sendiri ke dalam kamar. Walaupun, ia hanya membawa tas ransel biasa yang penuh oleh kaos, celana dan pakaian dalamnya. Ia yakin tasnya lumayan berat jika dibawa bersamaan dengan tas Sehun yang berukuran sama.
Kali ini, Jongin kembali menelan ludah. Bukan karena ia merasa bersalah atau marah pada dirinya sendiri, melainkan karena bicepsSehun yang membuatnya horny dan iri disaat yang bersamaan. Damn, mulai sekarang ia harus lebih rajin ikut Cal pergi ke gym. Kalau perlu, ia akan menyeret Jaehyun yang benar-benar anti gym sebagai bantuan moral. Atau Chanyeol yang lebih suka membulatkan dirinya dengan video game dan pizza. Kombinasi yang jelas mematikan bagi abs dan biceps.
Setelah mencuci piring kotornya, Jongin melangkah ke belakang rumah. Ia memandang cuaca pagi ini (atau mungkin siang?) yang cerah seolah mendukung rencananya dan Sehun untuk bersenang-senang. Jongin membentangkan tangannya dan memejamkan matanya, lantas berlari menyusuri jalan setapak di pekarangan rumah yang membawanya menuju dermaga. Sehun yang sudah berada di ujung sana menanti Jongin, tersenyum lebar melihat tingkah childish kekasihnya itu. Hmm, kekasih. Ia mulai terbiasa dengan sebutan itu.
Sehun menangkap Jongin dari belakang, memeluk tubuhnya dengan erat. Jongin berhenti dan tertawa kecil saat Sehun membenamkan wajah pada tengkuk lehernya. Sehun menghirup aroma tubuh Jongin yang khas-dia memiliki aroma tubuh yang merupakan campuran man and boy. "Kau sudah siap?" bisik Sehun.
Jongin memutar tubuhnya, hingga mereka saling berhadapan sekarang. Sehun dapat melihat kebahagian terpancar dari mata indah Jongin yang kemudian membuat senyumannya semakin mengembang lebar. Mereka bahagia dan itulah yang terpenting untuk saat ini. Akhir pekan kali ini akan menjadi satu momen berharga yang selamanya akan terukir di dalam memori mereka berdua. Sehun yakin akan itu.
"Ya, aku siap, dude," sahut Jongin setengah bergurau. Sehun menggeram tidak suka setiap Jongin memanggilnya bro, man, atau duudee.
Sehun melepaskan pelukannya dari Jongin, lantas menuruni tangga yang menempel pada ujung dermaga. Jongin mengamatinya lalu beralih mengamati danau yang tenang serta seekor angsa yang tampak tersesat di tengah danau. Matanya tidak berpindah dari angsa itu untuk beberapa saat. Ia mulai memikirkan apa ia akan menjadi seperti angsa itu jika ia terpaksa pindah ke Amerika bersama orangtuanya. Sehun memanggil namanya tiga kali, tapi ia tidak mendengarnya. Ia hanya terdiam berdiri di sana dengan pandangan tertuju lurus kepada angsa malang itu.
Sehun yang kemudian berbalik menghadap ke bekalang, mengikuti arah pandang Jongin, tertegun sejenak menatap angsa itu. Ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya Jongin pikirkan. Ia kemudian kembali berbalik pada kekasihnya dan memanggil namanya lagi, "Jongin!"
Kali ini, Jongin menoleh padanya. Pemuda itu tampak kebingungan seolah ia baru saja tersesat di dalam pikirannya sendiri. "Kemari," Sehun tidak memberikan perintah padanya. Sehun terdengar lebih seperti memohon padanya.
Jongin segera menuruni tangga dermaga lalu menapakkan kakinya ke dalam perahu. Ia duduk di seberang Sehun yang menatapnya dengan cemas. "Are you okay?" Sehun menggenggam tangannya membuat Jongin semakin sulit untuk berbohong. Ia tidak akan merusak hari mereka ini dengan kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi nantinya.
Jongin tersenyum lemah lalu menjawab, "I'm fine. Hanya saja aku penasaran darimana datangnya angsa itu?"
Sehun tidak bodoh atau mudah untuk dibodohi. Ia tahu kalau ada hal yang lebih serius yang mengganggu Jongin barusan. Namun, ia menghargai keputusan Jongin untuk tidak memberitahunya sekarang. Ia tidak akan mendesak Jongin untuk bicara kalau pemuda itu tidak ingin atau belum siap memberitahunya. Ia mulai mendayung perahu menuju ke tengah danau. Jongin masih menanti jawabannya dengan mata yang hanya tertuju kepadanya.
Ketika, mereka berada di tengah danau. Barulah, Sehun menjawab beberapa pertanyaan yang mengganggu Jongin. "Menjelang pertengahan tahun, angsa-angsa itu akan bermigrasi dan melewati danau ini menuju ke danau lainnya. Mungkin, angsa itu tersesat dari kawanannya. Who knows, right?" Sehun terus mendayung sampai mereka cukup jauh dari dermaga. Jongin sempat menoleh ke belakang sekali.
Mereka tidak tahu sejauh mana Sehun mendayung. Pepohonan mulai mengelilingi mereka serta burung-burung di udara menjadi penunjuk arah mereka. Sehun kembali menggenggam tangannya erat dan bersumpah tidak akan melepaskannya. Dan Jongin pikir itulah yang membuat semua ini terasa sempurna. Sehun mendekatkan dirinya pada Jongin untuk berbisik di telinganya. "Lihat!" ia menunjuk seekor angsa yang berkumpul kembali dengan kawanannya. "ia berhasil menemukan tempat dimana ia berasal,"
Dan kala itu, Jongin nyaris menitikkan air matanya. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan dorongan untuk memeluk Sehun dan mengeluarkan segala macam ketakutan yang menghantuinya saat ini.
I don't want to lose you.
You are my home.
I belong to you.
"Sehun, setahun lagi kita akan lulus SMA," ujar Jongin tiba-tiba. Sehun menatap lurus ke arahnya dan mendengarkan setiap perkataannya. "apa kau ada rencana untuk kuliah di luar negeri? Aku pernah mendengar Hani menyebut M.I.T atau Harvard,"
Sehun mendengus keras setelah mendengar pertanyaan Jongin. "Hani hanya bercanda, oke? Aku memang sangat ingin kuliah di Amerika atau Inggris. Tapi, well, keluargaku tidak sekaya itu dan beasiswa bukan jalan yang mudah untuk dilewati. Ada banyak proses yang mesti kulalui, selain itu aku tidak sejenius itu sampai-sampai Harvard atau M.I.T memberikanku beasiswa." jelas Sehun.
"Tapi, kau sangat cerdas!" tukas Jongin.
"Cerdas saja tidak cukup, Bodoh," Sehun menyentil kening Jongin membuat pemuda itu menyentuh keningnya dan meringis. "so, how about you? Kau akan kuliah atau tidak?"
Mungkin saja, tidak. I am fucking dumb. Tapi, aku jamin orangtuaku akan memaksakanku untuk masuk universitas tidak jelas di Amerika demi reputasi mereka. "Umm, aku tidak tahu. Masa depan adalah sesuatu yang menakutkan bagiku. Jadi, aku tidak pernah benar-benar memikirkan atau merencanakannya, man."
Seperti dugaannya, Sehun mendengus keras. Pemuda itu benar-benar tidak menyukai panggilan man atau semacamnya. Jongin terkekeh geli melihat pout di bibir Sehun. "Aku serius," jika, bukan Oh Sehun yang berada di hadapannya. Ia sudah mengira kalau pemuda itu sedang merengek padanya.
"Aku juga," Jongin menghela nafas. Ia mengangkat kepalanya menatap awan di langit yang mulai menggelap. "aku tidak pernah merasa kalau aku akan diterima di universitas. Fuck, mungkin aku bisa diterima dengan bantuan uang orangtuaku. Tapi, itu bukan sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Aku tidak memiliki impian, Sehun. Aku mungkin adalah salah satu orang yang hanya membiarkan hidupnya terbuang sia-sia."
Sehun menggelengkan kepala, menolak penjelasan dari Jongin yang untuk pertama kalinya terdengar masuk akal. Damn, jika Cal atau Woobin mendengar pidato singkatnya tadi mungkin mereka akan menangis bangga karenanya. "Aku yakin semua orang memiliki impian. Hanya terkadang kau sendirilah yang menghalangi impianmu itu entah mungkin karena kau tidak percaya pada dirimu sendiri untuk mewujudkannya atau mungkin karena orangtuamu,"
Persetan. Entah Sehun yang bisa membaca orang dengan baik atau pemuda itu memang mengenal betul dirinya. Argumentasi Sehun barusan memanglah benar. Ada sesuatu yang menghalangi Jongin, entah itu dirinya sendiri atau kedua orangtuanya. Jongin menghela nafas lagi untuk kedua kalinya. Ia menghindari tatapan Sehun lalu bergumam, "Aku ingin menjadi seorang ballerino,"
"Apa?" Sehun benar-benar tidak mendengar suaranya.
Jongin memberanikan diri untuk menatap mata Sehun, sekalipun pipinya mulai memerah. "Aku ingin menjadi penari. Sejak kecil aku tertarik dengan, umm, ballet. Hanya saja ayahku menganggap itu sangat gay. Padahal, banyak ballerino profesional yang selurus penggaris,"
Ini adalah pertama kalinya Jongin mengakui impiannya sebagai seorang ballerino. Tidak pernah terpikir olehnya untuk membicarakan hal ini dengan Cal atau Chanyeol. Ya, mereka memang pernah beberapa kali menyebutkan rencana masa depan atau impian mereka. Namun, saat itu Jongin memilih diam menutup diri dan mendengarkan. "Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kau akan men-judge diriku gay setelah ini?" alis Sehun terangkat sebelah karena pertanyaan Jongin. "i meant i am a bit gay. For you. But, yeah, you know what I meant,"
Jongin mengerang frustasi karena sekarang Sehun menatapnya seolah ia orang paling bodoh di dunia. "No, i don't. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berhenti mengejar impianmu hanya karena kau terlalu peduli dengan tanggapan orang lain atau tanggapan orangtuamu. Ini hidupmu yang kau jalani. Kau bisa melakukan apa yang kau inginkan, Jongin. Tidak ada orang yang berhak menghentikan dirimu untuk mengejar mimpimu,"
Jongin hanya bisa menatapnya. Ia merasakan setitik air hujan jatuh mengenai puncak kepalanya. Namun, siapa yang peduli? Yang dipikirannya sekarang adalah mencium Oh Sehun. Dan ia melakukannya sekalipun rintik hujan mulai melebat. Ia menangkup kedua pipi Sehun lalu menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu. Ia membiarkan Sehun melumat serta menggigit bibirnya menunjukkan dominasi yang Jongin tidak ingin tentang.
Sehun melepaskan ciuman mereka untuk sesaat. Ia menempelkan keningnya pada Jongin dan menatap lurus hanya kepada dirinya. "You know what.. aku akan selalu berada di sisimu apapun terjadi. Aku akan mengikutimu, sekalipun kau tidak menginginkanku. Aku akan memaksamu untuk berusaha mewujudkan impianmu, sekalipun kita berdua akan sedikit menyesal nantinya. But, well, at least we tried. Selama kita bersama, aku pikir sedikit kegagalan bisa kita hadapi dengan mudah, benar kan?"
Jongin mengangguk. Ia tidak bisa membuka mulutnya sama sekali karena, fuck, Sehun is fucking perfect. Ia tidak yakin ia bisa menemukan orang lain selain Sehun yang dapat meluluhkan hati serta pikirannya yang keras secepat ini.
"I love you, you know," I love you so much. Until it feels hurt.
Sehun mengecup lembut keningnya. Jongin merasa hangat, sekalipun tubuhnya mulai menggigil kedinginan. "I know and I love you too," bisik Sehun lalu menutup jarak di antara mereka berdua.
.
.
Sehun tidak peduli lagi. Telapak kakinya dan Jongin mencetak bekas kotor pada permukaan lantai. Pakaian basah mereka berserakan di lantai. Selain itu, hujan di luar sana tampaknya tidak akan berhenti. Namun, Sehun tidak peduli.
Ia tidak peduli karena Jongin berada di bawahnya sekarang dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali, mendesahkan namanya setiap ia menggigit serta meninggalkan bekas keunguan pada kulit tan pemuda itu.
"Se-sehun," Jongin meremas rambutnya dengan lembut.
Ciuman Sehun berpindah dari lehernya menuju dadanya dan berhenti pada nipplenya. Ia menjilat salah satu nipple Jongin yang mengeras serta memainkan yang nipplenya yang lain dengan satu tangannya. "Sangat sensitif, baby?" tanya Sehun menggodanya. Jongin hanya membalasnya dengan erangan panjang karena Sehun memainkan nipple-nya dengan gigi pemuda itu sekarang. "Padahal, aku baru memainkan nipple-mu saja," lalu, ia menghisap salah satu nipple Jongin seolah ia akan mendapatkan setetes susu dari sana. Sehun menghisapnya seperti bayi yang kelaparan.
"Se-sehun! St-stop!" Jongin mulai kehabisan kata-kata. Otaknya kosong serta libidonya mengambil alih. Namun, meski begitu ia tahu apa yang diinginkan dan ia memercayai Sehun untuk mewujudkan keinginannya itu. "Please, st-stop,"
Please adalah kode merah Sehun untuk berhenti. Ia mensejajarkan dirinya dengan wajah Jongin, menatap pemuda itu dengan cemas. "What's wrong? Apa aku terlalu kasar denganmu?"
Jongin mengerutkan keningnya. Tidak, Sehun malah terlalu lembut padanya. Ia dapat melihat dari mata Sehun kalau pria itu sangat takut akan melukai dirinya lagi. Dan ia tahu kalau Sehun sedang menahan dirinya sekarang. Pemuda itu begitu takut sampai-sampai ia tidak memikirkan kebutuhannya sendiri-kebutuhannya untuk mendominasi Jongin.
Jongin tahu kalau hubungan mereka sekarang lebih dari sekedar dom/sub. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya dalam faktor seksual, melainkan juga emosional. Dan ia memercayai Sehun karena mereka bukan Jongin dan Sehun yang lama lagi. Mereka sekarang tahu apa yang mereka rasakan. Mereka mengerti dimana batas mereka. Dan yang terpenting mereka tidak akan pernah melukai satu sama lain lagi.
"Sehun," Jongin membelai lembut pipinya.
Sehun menahan tangan Jongin dan memejamkan matanya. "Ya?"
"Spank me, please,"
.
.
Rin's note :
BOOM!
Cliffhanger banget ya? haha, maaf babee.. tadinya aku mau bikin smutt di chapter ini cuma aku mesti tidur (panggilan mama yang takut flu aku makin parah)
anyways, aku benar-benar suka chapter ini. Sehun seperti biasa boyfriend material and ofc Jongin too.
Jongin bisa mengerti kebutuhan Sehun dan percaya sama boyfriend, cough, or-kind-of dominant nya itu.. dan Sehun supportive banget dengan impian Jongin. Intinya, they fucking love each other and nothing can separate them... maybe? kkk
next ofc bdsm smutt
