My Love is in Japan

Naruto punya Kishimoto-sensei

Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic inipenuh hal AU, OOC

Authour : Mia muyohri

Pair : SasuSaku

.


.

Sasuke baru saja keluar dari sebuah gedung studio musik dengan wajah berseri-seri. Tempat yang baru saja dia kunjungi itu, telah menerimanya untuk bekerja di sana, sebagai pemain keyboard. Dia bisa di terima di sana, karena bakat bermain piano yang dia miliki sejak kecil. Sambil berjalan Sasuke membetulkan letak tas di pundaknya lalu mengeluarkan iPhonenya. Satu missed call dari Naruto.

'Ada apa Naruto menghubungiku?' karena merasa heran akhirnya Sasuke menelpon Naruto balik.

.

"Moshi-moshi," jawab Naruto dari seberang telepon.

"Ada apa, tadi kau menelponku?" tanya Sasuke sambil berjalan lambat.

"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Apa kau baik-baik saja di sana?"

"Masih seperti biasa, berusaha mengemis pekerjaan pada perusahaan yang berjejer di pinggir jalan," ujar Sasuke asal.

"Kau ini. Apa kau berencana untuk kembali kebidang ini lagi?" tanya Naruto yang merasa khawatir dengan Sasuke.

Sasuke meringis kecil menanggapi pertanyaan Naruto, "Jangan terlalu khawatir, dengan diriku. Aku sedang berusaha mencari pekerjaan dibidang lain."

"Aku dengar kau sering melakukan tes penerimaan kerja, dengan memainkan alat musik di berbagai studio rekaman musik," ucap Naruto.

"Kalau iya, kenapa memangnya?"

"Entahlah. Hanya saja sulit sekali aku memikirkan kau memainkan alat musik. Orang yang mendengar permainan musikmu itu pasti akan langsung menutup telingannya. Karena suara yang kacau balau yang telah kau buat itu. Kau masih ingat bukan saat kau memainkan gitar di studio waktu itu, eh?"

"Oh, sudahlah. Itu tidak perlu kau ingat-ingat lagi," tukas Sasuke sambil tertawa kecil mengingat kejadian saat untuk pertama kalinya dia memainkan gitar listrik.

"Sasuke ... aku, aku ... sebenarnya menghubungimu. Untuk meminta maaf padamu, karena ..."

"Oh, ya aku hampir lupa. Selamat ya, atas promosimu," tukas Sasuke. Tidak membiarkan Naruto untuk menyelesaikan ucapannya. "Aku mendengar kau yang menempati posisiku sebagai manajer, ya? Aku turut senang, kau yang sudah menggantikanku."

Naruto merasa salah tingkah, karena Sasuke yang sudah mengucapkan hal itu. "Maafkan aku, aku sungguh merasa tidak enak padamu. Karena aku seperti orang yang sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dan aku sungguh merasa tidak enak padamu ..."

"Tidak perlu meminta maaf. Nikmatilah posisi barumu, dan jangan cemaskan aku, oke?" ujar Sasuke.

Mereka terdiam cukup lama. Sasuke bisa mendengar tarikan napas Naruto yang cukup kuat saat dia akan memulai pembicaraannya lagi.

"Sasuke ... kau belum bisa melupakan gadis itu, ya?" tanya Naruto dengan nada suara rendah.

Sasuke tersentak mendengar ucapan Naruto. Dia menghentikan langkah kakinya karena perasaan kaget. Memang benar Sasuke masih belum bisa untuk melupakan gadis itu. Gadis itu selalu terbayang-bayang di benaknya. Tapi setiap Sasuke mengingat rasa dendam gadis itu padanya, hatinya seperti di hujami beribu pisau beracun.

"Mungkin," ujar Sasuke akhirnya setelah terdiam cukup lama.

"Aku punya seorang teman gadis yang sangat cantik, dan dia masih single. Apa kau ing ..."

"Naruto," ujar Sasuke menghentikan ucapan Naruto. "Cukup, oke! Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak usah khawatir denganku. Jika aku memang mau memulai kisah cintaku lagi, kau orang pertama yang akan mengetahuinya, bagaimana? Setuju?"

"Baiklah," ujar Naruto akhirnya, walau ada rasa tidak rela mengatakannya. "Jaga dirimu, baik-baik."

"Sudahlah, aku akan baik-baik saja di sini."

Setelah ucapan Sasuke, telepon pun terputus. Lalu Sasuke dengan segera memasukkan kembai iPhonenya kedalam saku jasnya.

.

Saat Sasuke berjalan di depan gedung bioskop, Sasuke merenggangkan syal yang berada di lehernya. Kemudian dia mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat papan pengumuman film yang akan di putar hari ini di bioskop itu. Disalah satu papan pemngumuman itu terpampang wajah seorang gadis yang dikenalinya. Ya, itu adalah Sakura. Mantan kekasihnya yang sudah membuat karirnya hancur. Seperti katanya waktu sebelum gadis itu berangkat ke Jepang dia menginginkan agar dirinya lebih di kenal oleh dunia. Dengan cara menerima job syuting film itu dia bisa di kenal oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Sepertinya rencananya yang ini pun sudah berhasil.

'Sakura, kau masih saja terlihat sangat cantik, kenapa aku tidak bisa melupakan dirimu?' gumam Sasuke.

Seperti di ingatkan akan sesuatu, Sasuke segera merogoh kantong jas nya lalu mengambil iPhonenya lagi, kemudian dia membuka Twitter-nya. Dia menekan layar iPhonenya yang menujukkan tombol search lalu menuliskan sebuah nama 'Sakura' ke dalam kotak search.

Setelah menunggu beberapa detik, Sasuke bisa melihat ratusan tweet muncul di layar iPhonenya, membuat Sasuke tersenyum. Meskipun dia tidak tahu tulisan yang tertera di dalam layarnya, tapi Sasuke tahu keadaan Sakura pasti baik-baik saja di Korea sana. Kemudian Sasuke menyentuh beberapa tulisan di dalam iPhonenya untuk membaca berbagai tweet yang di kirim untuk Sakura.

Setelah membaca beberapa Sasuke berniat untuk mengeluarkan aplikasi itu dari iPhonenya, tapi dia segera menghentikan jari tangannya untuk menekan sebuah tulisan yang bertuliskan 'Exit' karena ada sebuah tulisan yang membuat tubuh Sasuke mematung dan perasaan gelisah mulai menggerayanginya. Sebuah kiriman yang berisikan.

SasoriBeken Mari kita bantu doa untuk idola kesayangan kita, Sakura. Saat ini dia sedang mengalami masa-masa kritisnya, akibat kecelakaan maut yang menimpanya beberapa waktu lalu.

Dan masih banyak lagi kiriman yang serupa.

'Kecelakaan? Sakura mengalami kecelakaan? Apa yang terjadi dengannya?' pikir Sasuke.

Saat ini isi kepala Sasuke penuh dengan adegan-adegan yang tidak menyenangkan tentang diri Sakura. Saat dia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi dengan Sakura, hatinya seperti tersayat. Pemuda itu sudah cukup untuk merasakan perasaan kehilangan Sakura. Lima tahun yang lalu, saat Sakura pergi tanpa Sasuke ketahui. Kemudian kejadian beberapa bulan yang lalu, sekali lagi Sakura pergi dari hadapannya tanpa bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Sasuke tidak ingin kehilangan Sakura lagi. Dia ingin menemui gadis itu lagi.

Dengan tangan gemetar, Sasuke mencari nomor Sasori yang dia miliki. Dia perlu mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Sakura. Setelah menekan tombol hijau di layar iPhonenya dia menunggu beberapa lama untuk teleponnya tersambung. Dari telinganya terdengar suara nada dering.

.

"Hallo," jawab Sasori setelah deringan ke empat. "Siapa ini?"

"Sasori? Uchiha Sasuke, aku harap kau masih mengingatku."

"Mantan pacar Sakura?" Sasori menebak dengan tepat. Sasuke bisa mendengar nada kesal dalam suara itu. "Kenapa kau menelepon? Apa kau masih tidak puas menyakiti hati Sakura, he?" tanya Sasori dengan nada sengit.

"Aku baru saja mendapat kabar, bahwa Sakura mengalami kecelakaan," jawab Sasuke.

"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Sasori lagi dengan nada sengit.

"Beritahu aku di mana tempat Sakura di rawat. Aku ingin menjenguknya. Aku ingin melihat ..."

Sasori mendengus keras mendengar penuturan Sasuke, "Kau becanda, kan? Tadi apa katamu? Kau ingin menjenguk Sakura?" tukas Sasori. "Kau tidak tahu bagaimana keadaan Sakura saat dia kembali ke Korea? Dia kacau balau? Kau tahu, itu? Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Sakura! Seharusnya waktu itu aku tidak mempercayaimu dan tidak akan memberikan nomor telepon Sakura! Yang pasti, kecelakaan ini secara tidak langsung disebabkan oleh kau! Jadi aku mohon padamu untuk tidak menghubungi aku maupun Sakura lagi, jangan gangu Sakura. Dia gadis yang sangat aku sayangi!"

KLIK!

.

Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, Sasori sudah mengakhiri sambungan telepon itu secara sepihak. Kemudia dia menghela napas dengan kasar. Lalu menengok ke arah jendela besar di mana di ruangan itu, ada Sakura yang sedang tertidur di dalamnya. Keadaan Sakura saat ini sungguh memprihatinkan, seluruh tubuh di bunkus oleh perban, jarum infus yang menusuk kulit halus lengannya. Melihat hal itu membuat hati Sasori serasa diiris.

'Tuhan ... Tuhan, tolong dia ... selamatkan lah dia dari masa kritisnya,' doa Sasori dalam hati.

.

.

.

Tiga hari kemudian, di Incheon International Airport ada seorang pemuda berambut mencuat dan berwajah tampan baru saja keluar dari sana. Kemudian pemuda itu menaiki taksi yang sudah menunggunya di luar bandara. Pemuda itu adalah Sasuke, ya Uchiha Sasuke. Hari ini dia bisa kembali ke Korea berkat ada promosi tiket liburan murah ke Korea, yang sedang di promosikan oleh salah satu penerbangan.

Sepanjang perjalan menuju Korea, perasaan pemuda itu terasa amat kacau. Kata-kata Sasori tiga hari yang lalu terus terngiang di dalam benaknya.

"Semua ini gara-gara kau, karena kau Sakura kecelakaan. Jangan ganggu Sakura lagi!"

Mungkin semua perkataan Sasori saat itu benar. Kecelakaan yang dialami Sakura itu karena dirinya. Sasuke benar-benar di gerogoti rasa bersalah karena hal itu. Dia sungguh-sungguh tidak bisa, kalau tidak menemui gadis itu. Dia ingin melihat kondisi gadis itu secara langsung.

Sesaat setelah dia teleponnya diputus oleh Sasori, Sasuke segera menghubungi Naruto lagi, yang saat ini masih berada di Korea. Lalu meminta pertolongannya untuk mencarikan informasi soal kabar Sakura. Di tengah-tengah kesibukannya, Naruto ternyata masih sempat untuk membantu Sasuke mencarikan informasi untuknya. Setelah mengetahui info-info itu dari Naruto, Sasuke mengucapkan seribu rasa terima kasih pada Naruto karena sudah mau menolongnya.

Sasuke mendapat kabar dari Naruto, bahwa Sakura di rawat di Seoul National University Hospital. Kabar kecelakaan Sakura ternyata sudah menjadi buah bibir di Korea sana. Menurut berita kamar tempat Sakura di rawat penuh dengan bunga, pemberian dari para fans Sakura.

Sasuke tidak memperdulikan Sasori yang akan marah padanya jika dia tetap bersikeras menemui Sakura. Dia hanya ingin menemui gadis itu dan kalau bisa dia ingin menolong gadis itu, walaupun Sasuke tidak yakin apa yang bisa dia bantu nantinya.

Selama perjalanan ke rumah sakit tempat Sakura di rawat, Sasuke termenung, memandang keluar jendela kaca taksi yang di taikinya, mengingat apa saja yang sudah dia lakukan beberapa Minggu ini.

\=== ^O^===/

V-*X*-V

Sementara mencari pekerjaan baru, Sasuke menyempatkan dirinya untuk mengkontak teman-teman lamanya, mengirim SMS, menelepon. Bahkan Sasuke sampai membuka buku kenangan SMA untuk mendapatkan nomor telepon teman-teman lamanya. Dan entah bagaimana caranya, Sasuke berhasil menemukan Suigetsu dan Karin. Kabarnya Karin bekerja di sebuah bar, dia bekerja di sana sebagai seorang pelayan. Pada Sabtu-nya malamnya Sasuke pergi ke bar itu untuk menemui Karin. Tapi sayangnya dia tidak dapat bertemu dengan teman lamanya itu, karena Karin sudah lama tidak bekerja di tempat itu lagi. Tapi Sasuke tidak putus asa begitu saja, dia meminta alamat tempat tinggal Karin pada pemilik bar. Untungnya saja dia bisa mendapatkan alamatnya.

Ke esokannya Sasuke pergi ke alamat yang di berikan pemilik bar. Setelah menelusuri dan bertanya-tanya pada orang akhirnya dia dapat menemukan rumah Karin. Atau bisa lebih tepatnya rumah Suigetsu.

Tenyata Karin sudah menikah dengan Suigetsu. Dan yang lebih mengejutkan Sasuke ternyata teman berandalnya itu adalah pemilik toko roti. Sasuke sungguh terkejut dengan itu.

Tanpa pikir panjang Sasuke memasuki toko roti itu, lalu dia berjalan ke arah kasir. Berbicara pada karyawan toko itu, bahwa dia ingin bertemu dengan pemilik toko itu. Setelah menunggu cukup lama Sasuke akhirnya bisa bertemu Suigetsu.

"Hei, sobat! Apa kabar? Ada apa mencariku?" sapa Suigetsu pada Sasuke sambil memberikan minuman kaleng dingin pada Sasuke yang duduk di hadapannya.

"Aku hanya ingin mengunjungi teman lama," ujar Sasuke. "Karin mana? Aku dengar sekarang dia sudah hamilkan?"

"Haha ... kau tahu saja berita soal itu. Dia sedang mengantar roti pesanan," Ujar Suigetsu sambil tertawa. "Apa kau datang ke sini khusus untuk menemui anakku, eh?"

Mendengar penuturan Suigetsu, Sasuke tertawa. Mereka berdua terus berbincang-bincang tentang kehidupan mereka sekarang dan masa-masa SMA mereka dulu. Suigetsu banyak bercerita pada Sasuke, tentang kehidupannya. Seperti bagaimana caranya dia bisa memiliki toko roti seperti ini, lalu cerita dia sampai bisa menikahi karin. Cerita singkatnya, bagaimana Suigetsu bisa mengelola sebuah toko roti bersama Karin yang mendampinginya.

.

.

Dulu setelah mereka semua dinyatakan lulus. Suigetsu tetap tidak bisa berpisah dari pacarnya Karin, jadi dia memutuskan untuk melamarnya. Tapi Karin tidak bisa menerima Suigetsu begitu saja, kenapa? Karena Suigetsu adalah seorang pengagguran yang tidak memiliki pekerjaan. Jadi Karin memutuskan untuk memberikan syarat pada Suigetsu, jika dia ingin menikahi Karin. Dia harus mempunyai sebuah usaha yang bisa menopang masa depannya nanti, sehingga hidupnya nanti tidak terlunta-lunta di jalan.

Jadi Suigetsu berusaha dan bekerja kerasa mengumpulkan uang, untuk membuat sebuah usaha yang bisa menghidupi dirinya dan Karin dimasa depan nanti. Akhirnya setelah dua tahun berlalu, dia bisa membeli sebuah toko roti yang sudah hampir bangkrut. Dengan modal pengetahuan dari buku resep yang dia beli di toko buku, dia membuat roti lalu menjualnya pada masyarakat. Ternyata para konsumen banyak yang menyukai roti buatannya, setelah itu teruslah berkembang usahanya sampai saat ini. Setelah sanggup memenuhi persyaratan Karin dengan percaya diri Suigetsu melamar Karin di tempat kerjanya dengan membawa roti buatannya dan surat kepemilikan toko roti kehadapan Karin.

Akhirnya Karin menerima lamarannya itu, ke esokaannya mereka langsung mengadakan sumpah perjanjian sehidup semati. Dan sekarang kehidupan Suigetsu dan Karin hidup dengan baik. Tanpa ada ganguan. Sasuke yang baru mengetahui hal itu, turut senang atas kebahagianan yang di alami kawan-kawannya itu.

.

.

"Kau ingat gadis yang bernama Haruno Sakura?" tanya Sasuke akhirnya, setelah jeda panjang atas pembicaraan tadi.

"Gadis gendut itu?"

Sasuke hanya diam tidak menjawab pertanyaan Suigetsu. "Aku mendapat kabar lukisannya waktu itu di rusak oleh seseorang."

Suigetsu mengalihkan wajahnya dari Sasuke. Dengan melihat tingkah temannya itu, Sasuke tahu temannya itu bersangkutan dengan rusaknya lukisan Sakura waktu itu.

"Kapan lukisan itu dirusak?" tuntut Sasuke dengan wajah meminta sebuah penjelasan dengan sejelas-jelasnya. "Apa waktu kau mengurungku di perpustakaan, padahal kau tahu aku sedang terburu-buru untuk menemui Sakura?"

Suigetsu hanya bisa tertawa miris. Hanya dengan tawa yang di tunjukkan temannya itu Sasuke tahu jawaban dia tadi itu benar semua. Dia mengerti dengan gelagat Suigetsu yang seperti itu, Sasuke cukup mengenal Suigetsu dia adalah teman yang tidak pandai berbohong jika dihadapannya.

"Kenapa tiba-tiba kau membahas masalah itu?" tanya Suigetsu.

"Kau mengetahu sesuatu, tentang masalah itu," Sasuke menatap teman lamanya itu dengan memasang wajah. 'Tolong ceritalah padaku katakan yang sejujurnya.'

"Itu ... adalah kesalahan besar yang pernah aku lakukan selama hidupku ini," Suigetsu mendesah panjang. Dia tahu bahwa saat ini, dia harus membongkar cerita masa lalu itu.

"Jadi benar, lukisan itu dihancurkan saat kau, Karin dan Hinata mengurungku di perpustakaan? Saat Hinata mengambil ponselku?"

Suigetsu hanya mengangguk. Sasuke terperangah mengetahu hal itu langsung dari temannya. Dadanya terasa sesak sekali. "Tapi kenapa?" tanya Sasuke tidak percaya. "Kau, pasti punya alasan atas itu semua, kan?"

"Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua yang aku lakukan itu salah. Kau masih ingat Hinata? Kau pasti sadar, bahwa Hinata sangat marah saat kau memutuskan hubunganmu dengannya hanya untuk gadis gendut itu. Sejak kau terang-terangan bermesraan dengan si babi itu ..."

"Dia memliki nama!" desisi Sasuke marah.

"Maaf! Maaf! Kebiasaan lamaku memanggilnya seperti itu," ujar Suigetsu. "Sejak kau memberitakaan bahwa kau berpacaraan dengan Sakura, Hinata jadi sering uring-uringan dan melinpahkan amarahnya padaku dan Karin. Mungkin kau tidak mengetahui hal itu, karena saat itu kau selalu pergi bersama dengan Sakura. Puncaknya, Hinata meminta bantuan pada Karin, dan aku ..., aku terpaksa membantu mereka, karena Karin mengancam akan memutuskan hubungannya denganku ..."

Berulang kali Sasuke menggelengkan kepalanya, tanda tidak mempercayai ini semua. Hinata ... gadis itu, seingatnya Hinata mana mampu untuk merencanakan ini semua.

"Ada orang lain yang mengontrol rencana kami," lanjut Suigetsu, seolah dapat membaca pikiran Sasuke. "Kami semua hanya kaki tangan orang itu."

Sekali lagi Sasuke terperangah mendengar nama orang yang sudah merencanakan hal itu semua. Sasuke sungguh tidak mengira bahwa orang itu tega sekali melakukan hal keji itu pada Sakura.

\=== ^O^===/

V-*X*-V

"Tuan," suara sopir itu membuyarkan lamunan Sasuke. Sasuke menolehkan pandangannya keluar kaca mobil, ternyata dia sudah sampai di rumah sakit.

"Terima kasih," ujar Sasuke sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada si sopir.

'Apa yang akan aku lakukan ini, adalah hal yang benar?' tanya pemuda itu pada dirinya sendiri. Sekali lagi Sasuke merasakan bahwa kecelakaan yang Sakura alami adalah kesalahan yang dia sudah perbuat. Semua yang terjadi di masa lalu adalah kesalahan yang dia perbuat. Mulai dari lukisan, dan rasa dendam yang sampai bersarang di hati gadis itu, kemudian kecelakaan ini.

'Semua itu adalah kesalahanku," pikir Sasuke mendesah. Karena hal itu dia perlu bertemu dengan Sakura untuk memperbaiki segalanya yang terjadi selama ini.

Setelah membulatkan tekadnya, dia melangkahkan kakinya menuju resepsionis.

"My nama is Uchiha Sasuke, saya ingin menjenguk Akasuna Sakura," ucap Sasuke pada seorang suster.

.

.

.

Akhirnya hari ini Sasori ditegur oleh pimpinan Agency karena dia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Tidak ada orang yang mau mengerti dengan keadaannya saat ini. Sebagian besar orang yang berada di agencynya tidak habis pikir dengan sikap Sasori belakangan ini, karena tindakan Sasori kali ini bukan seperti seorang manajer pada umumnya. Belum ada seorang manajer rela menginap di rumah sakit selama berhari-hari demi model yang dia tangani.

"Sasori-ssi, kau pasti sangat mencintai Sakura-ssi ya? ujar Konan, seorang pekerja paruh waktu yang selalu mematuhi perintah Sasori. Gadis itu mengatakannya dengan pandangan aneh ke arah Sasori, seperti seorang yang sedang patah hati saat mengetahui orang yang disukainya menyukai orang lain.

Sasori hanya diam saja tidak mengatakan sepatah katapun pada gadis itu. Setelah puas memandangi Sakura dari luar ruang ICU. Sasori pergi dengan lankah yang terseyok-seyok di koridor rumah sakit. Sudah berhari-hari Sakura dirawat tapi dia tidak kunjung sadar juga. Sosori sendiri saja sudah tidak menghitung berapa hari dia berada di sini. Pikirannya terlalu kalut dengan keadaan Sakura. Setiap malam Sasori tidak bisa tidur nyenyak, karena selalu memikirkan keadaan Sakura.

"Nama saya Uchiha Sasuke, saya ingin menjenguk Akasuna Sakura," Sasori mendengar suara dari sisi kanannya, suara itu, suara yang dia kenal.

Lalu Sasori menengok ke sisi kanannya, melihat seorang pemuda sedang berdiri di sana.

'Uchiha Sasuke,' pikir Sasori mulai terpancing amarahnya.

Sasori belum pernah sama sekali bertemu dengan Sasuke, tapi Sasori bisa langsung mengenali pemuda berambut mencuat itu. Pemuda yang sudah menghancurkan hidup Sakura.

'Pemuda sialan itu. Untuk apa dia kemari? Padahal sudah aku bilang untuk tidak menggangu Sakura lagi! Dia tidak boleh menemui Sakura. Dia tidak boleh melukai Sakura lebih dari ini lagi. Pemuda itu harus segera pergi dari rumah sakit ini. HARUS!' pikirnya.

Dengan langkah berderap Sasori mendekati Sasuke. Lalu mendorong pundak Sasuke. Sasuke nyaris terjatuh membentur tembok.

"Hei," protes Sasuke. "What are you doing?"

"Pergi dari sini! Sudah aku bilang jangan temui Sakura lagi, kan?" desis Sasori dengan bahasa Inggris. Sekali lagi Sasori menerjang tubuh Sasuke kemudian mencengkram kerah leher Sasuke. "Mau apa kau datang ke sini, eh? Kau ingin melihat penderitaan Sakura?"

"Tuan tolong jangan bertengkar di sini!" suster di resepsionis itu berteriak kepada mereka berdua, tapi Sasori tidak memperdulikan sama sekali ucapan suster itu. Sasori sudah membulatkan tekadnya untuk melindungi Sakura. Dia sudah melakukan kesalahan besar dengan menunggu Sakura terlalu lama untuk mengungkapkan isi hatinya. Kalau saja dia lebih cepat ... dan kalau saja dia tidak ragu-ragu dengan perasaanya ... ini semua tidak akan terjadi.

"Aku hanya ingin menjenguk Sakura," ujar Sasuke dengan kerah dicengkram oleh lelaki di hadapannya. Tanpa perkenalan resmi pun, Sasuke tahu kalau orang ini adalah manajer Saskura. Namanya Sasori.

"Kau tidak mempunyai hak untuk menjenguk Sakura," tukas Sasori.

Sasuke menepis tangan Sasori dan membebaskan dirinya dari cengkramannya. 'Apa-apaan orang ini?'pikir Sasuke sambil memandangi Sasori. Perlahan-lahan Sasuke mulai mengerti. Ternyata Sasori menyukai Sakura. Menyadari akan hal itu, dada Sasuke terasa sangat sakit. Sasuke sebelumnya belum pernah merasakan hal ini.

"Aku hanya ingin membantu," ucap Sasuke dengan penuh ketulusan.

"Membantu?" desis Sasori. "Kau sudah membantu terlalu banyak, Tuan. Kau sudah membuat hatinya terluka. Kau sudah membuatnya terbaring di rumah sakit! Apa kau masih belum puas? Memangnya kau ingin membantu apa lagi?"

Semua perkataan Sasori langsung menusuk jantungnya lebih dalam dari yang dia perkirakan. Sasuke tahu, dia yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaan Sakura sekarang. Karena itu, paling tidak, dia ingin meringankan penderitaan Sakura. Apa pun juga akan dia lakukan untuk membuat Sakura sadar kembali. Sesudah itu, sesudah gadis itu tersadar dan membuka matanya lagi, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menunjukkan dirinya lagi di hadapan gadis itu.

"Izinkan aku membantu," pintanya membuang semua harga diri yang selama ini dia pertahankan. "Setelah itu, aku berjanji aku tidak akan muncul di hadapannya lagi."

"Sudah aku bilang, pergi dari sini!" usir Sasori yang tidak mau mendengar perkataan Sasuke.

'Tidak ada gunanya berbicara dengan Sasori,' ujar Sasuke dalam hati. Sasuke beranjak kembali ke resepsionis dan berkata, "Saya ingin menjenguk Akasuna Sakura. Kalau bol ..."

"Hei!" Sasori berderap berjalan menghampiri Sasuke. Sebelum Sasuke sempat menoleh, dia sudah merasakan tonjokan di pipi nyaris menabrak tong sampah dibelakanganya. Orang-orang yang melihat adegan itu berteriak pelan. Sasuke merasakan tulang pipinya berdenyut-denyut.

Sasori kembali mendekati Sasuke kemudian dia kembali mencengkram kerah Sasuke. Sasuke menatap Sasori dengan menggertakkan giginya.

"Semua ini gara-gara kau!" pekik Sasori tepat saat kepalan tangannya di hadapan hidung Sasuke. "Semuanya salahmu! Seenaknya saja kau datang ke sini dan bilang ingin membantu! Kau tidak tahu sudah berapa banyak dokter yang menangani Sakura sekarang? Mereka hanya mengatakan, kita hanya bisa menunggunya sampai sadar, dan sampai sekarang dia juga belum sadar! Apa kau pikir aku belum mengerahkan semua kemampuanku untuk menyelamatkannya? Apa kau berpikir masih ada lagi yang bisa kau lakukan? Kau bisa apa, HAH?!"

'Tidak!' Sasuke berteriak dalam pikirannya, dia tidak ingin menerima semua perkataan Sasori. 'Pasti ada yang bisa aku lakukan untuk Sakura! Pasti masih ada harapan! Sakura pasti akan bangun lagi! Gadis itu harus bangun! HARUS!'

"Apa kau menyumpahinya?" desisi Sasuke. "Seharusnya kau percaya bahwa dia bisa sembuh!"

Mendengar ucapan Sasuke, Sasori segera melepaskan cengkramannya kemudian dia berjalan terhuyung ke arah belakang. Lalu dia duduk merosot di sisi tembok.

.

.

.

TBC


Terima kasih sudah mau membaca sampai sini. Silahkan tinggalkan review kalian di kotak yang tersedia ya!

Tulisan yang akan ada di bawah ini adalah sesuatu yg Mia ingin katakan, jika nggak berminta buat baca silahkan langsung review aja. ^^

1. Ini benar2 mengganguku loh, emang bner ya ada author yg bilang dirnya mati, pdhal dia msih hidup? #hehe ketinggalan informasi nih.

2. Entah kau siapa, pokonya seorang readrs yg gak login. Kau itu rajin banget sih, setiap chap kau krim review yg isi nya gak bermutu gitu. Klo memang gak suka y jangan di baca!

3. Soal chap 10 ini semoga nggak mengecewakan y, krna ini chap yg menrut Mia itu panjang banget. Terus klo fic ini membosankan, jujur aja sma Mia. Oke!

4. Hayo jujur ya, siapa pembaca yg bilang Sasu orng jahat angkat tangannya. hehe! Sasu gak jahat kan? Mmm ... pasti udah pda tau kan, siapa yg tega ancurin lukisan Saku. Di sini semua misteri sudah terpecahkan.

5. Berhubung bentar lagi Idul fitri. Aku Mia Muyohri. Mo minta maaf nie sma readrs semua. Yg udah baca fic2 Mia. Maaf pin Mia ya, jika Mia udah slah kata trus sering bikin readrs kesel sma fic Mia ini. Mohon di maafkan ya.

Terus selanjutnya ucapan terima kasih untuk yg review kemarin :

Hiromi Toshiko, Sh6, Sasori Forever, me Ara-chan, Ui Nagatsugawa, Ucucubi, Miyank, Zyachan, LovyS.

Maaf jika ada salah dalam penulisan katanya. yg login kya biasa lah. cek PM aja.

Untuk kata terakhir aku minta REVIEW nya ya ...