Warning : (Only for 18). OOC,typo, EYD berantakan, jauh dari kata sempurna.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing [ Naruto x Sakura]
Rated : M
Aku hanya butuh kamu sayang
Siang hari dikediaman Namikaze.
Kushina duduk dengan sangat anggun, tepat di disampingnya sang suami berdiri sambil menyender di pinggiran lengan sofa. Kebetulan Menma sedang ke kantor jadi saatnya untuk meluruskan kebenaran yang terlontar dari mulut Menma beberapa waktu lalu.
"Shion, Tou-san ingin mendengar kebenarannya langsung dari mulutmu.." Minato bersuara. Menurut Shion, Minato pribadi yang cukup tegas dan ayah mertuanya ini adalah panutannya.
Namun Shion jarang berkomunikasi langsung dengan Minato, jadilah wanita berparas cantik ini sedikit gugup bila ditatap langsung oleh pria berambut kuning itu.
"Apa maksud Tou-san? Maaf sebelumnya aku kurang paham.." Sungguh sopan pembawaan Shion, Kushina jadi iba. Namun karena Minato memintanya untuk ikut mengadakan acara curhat-curhatan kecil ini, wanita merah itu tak punya pilihan.
"Asal kau tau kemarin Tou-san sempat sedikit, berbincang dengan Menma.."
Kushina mengangguk dalam diam, ia duduk dengan gelisah sebenarnya Kushina ingin cepat-cepat ke apartemen Naruto lagi untuk bermain-main dengan malaikat kecil cucunya yang imut. Tapi mau bagaimana lagi keadaan tak mengijinkannya pergi kesana dengan cepat.
"Lalu kalau boleh aku tau apa yang Tou-san bicarakan dengan Menma-kun?"
Sembari menatap shappire ayahnya Shion meremas tangannya sendiri.
"Sebenarnya ini sedikit tabu untukmu, tapi demi mewujudkan cita-cita putraku terpaksa aku harus bertindak sendiri untuk membereskan semuanya.." Lanjut Minato dengan berwibawa.
"Aku tau Menma-kun begitu ambisius untuk mengembangkan perusahaan Tou-san.."
"Itulah sebabnya, agar cita-cita Menma terwujud Tou-san ingin kau bercerai dengan Menma secepatnya.."
Kalimat Minato membuat Shion melotot kaget, Kushina juga sama wanita itu bahkan tak tau apa-apa tentang masalah ini.
"Apa maksudmu Minato!?" Gertak Kushina, ia kadang tak mengerti dengan isi kepala kuning suaminya itu.
Shion menangis dalam diam, setidaknya Kaa-sannya sudah ikut membantunya.
"Kushina bukankah kau ingin segera memiliki seorang cucu?" Seolah tak memiliki simpati Minato masih saja bisa berujar dingin pada Kushina.
"Iya aku memang sangat menginginkannya dari Menma, tapi apa maksudmu menyuruh Shion bercerai dengan Menma..? apa kau sudah GILA!" Tuntut Kushina.
Minato menarik nafas kuat, kemudian ia mulai menjelaskan semuanya secara sederhana. "Kushina kau harus tau, apa penyebab Menma tidak bisa memiliki seorang anak!.."
Shion mendongkak. "Jangan-jangan Tou-san sudah tau jika Menma mengalami infertilitas?" Batin Shion. Air mata menetes membasahi wajahnya yang cantik. Seingat Shion, hal ini hanya menjadi rahasia diantara mereka berdua (Shion dan Menma) Tidak mungkin ada yang tau jika suaminya mandul. Jika sampai itu terjadi maka bisa dipastikan Menma akan murka dan marah besar padanya.
"Memangnya apa penyebabnya, apakah sangat serius hingga harus ada perceraian diantara mereka berdua..?" Ucap Kushina dengan nada meninggi.
" Sayang sekali, Menma mengatakan jika Shion itu mandul.." Mata shappire itu menatap violet yang mulai tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.
"A-apa?" Ulang Kushina. Shion apalagi, belum selesai dengan rasa kaget yang pertama. Lagi-lagi ia harus dikagetkan dengan berita palsu yang dikatakan oleh ayah mertuanya.
"Apa benar Menma-kun mengatakan itu Tou-san?" Ini semua salah, sebenarnya Shion ingin marah karena bukan kebenaran yang terucap dari bibir Minato.
Tapi otak pintarnya langsung bekerja, ketika Shion mengingat kembali ekspresi Menma saat dokter kandungan mengatakan jika sperma yang diproduksi oleh suaminya itu rusak dan tak bisa membuahi sel telur milik Shion.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan Minato dan Kushina. Shion dan Menma bahkan telah melakukan program bayi tabung sebanyak 3 kali namun masih tak membuahkan hasil apapun.
Ini semua karena faktor genetik yang diderita oleh Menma sendiri, yaitu kemampuan memproduksi sel sperma yang rendah serta disetiap selnya mengalami pembelahan tak sempurna hingga pembuahan tidak pernah terjadi jika sperma Menma disatukan dengan sel telur milik Shion.
Dua tahun lalu bahkan Menma sempat mengamuk hebat saat semua usaha mereka untuk memiliki seorang anak gagal total. Dan imbasnya hubungan rumah tangga mereka sempat merenggang. Semuanya memang seolah baik-baik saja, Menma begitu pintar bersandiwara didepan Tou-san dan Kaa-sannya untuk menyembunyikan hubungan rumah tangganya yang retak. Kemudian beberapa bulan berselang Menma mulai menyadari dan sedikit-demi sedikit mulai mau menerima kenyataan bahwa ia tak mungkin bisa menjadi seorang ayah.
Menma.." Batin Shion sedih.
Sayang sekali Shion sudah terlanjur jatuh cinta pada pria merah itu, dan sudah bersumpah atas nama pernikahannya bahwa ia akan tetap tutup mulut mengenai kebenaran bahwa Menma mengalami kemandulan.
Tapi tetap saja semua ini salah! Seharusnya Menma bisa mengatakan sendiri pada ayah dan ibunya jika ia mandul. Shion pikir dengan merahasiakan semuanya maka suatu saat Menmalah yang akan mengaku jika dirinya tak mampu memberikan pewaris untuk keluarga besar Namikaze.
Disamping itu Shion adalah wanita yang memiliki harga diri tinggi, ia harus membuat perhitungan setelah bertemu dengan suaminya nanti. Dan yang pasti tanpa sepengetahuan mertuanya. Sekarang yang harus ia lakukan sebagai seorang istri yang baik adalah menerima tuduhan palsu dari ayah mertuanya. Shion siap menerima kebohongan yang telah dibuat oleh suaminya.
"Semoga ini bisa membantumu Menma, aku percaya kelak kita akan mendapatkan kebahagiaan tak terhitung dari Kami-sama.." Batin Shion.
"Apa maksudmu, dengan mengulang pertanyaanku Shion? Apa kau tidak sadar jika dirimulah yang menjadi penghalang untuk Menma duduk dikursi tertinggi.." Dingin Minato lagi.
Kushina menutup mulutnya dengan kedua tangan. Minato sudah keterlaluan.
"Minato kau ini!" Kushina berdiri.
"APA!? Kau masih berharap akan memiliki cucu dalam waktu dekat jika menantumu ini mandul?" Ulas Minato lagi sembari menunjuk Shion dengan wajahnya.
"Tou-san..!" Lirih Shion.
Minato hanya memandangnya sesaat. "Katakan pada Kushina jika semua yang aku ucapkan itu benar! " Paksa Minato.
"Kaa-san.. Tou-san benar, akulah yang mandul.. Menma tau itu! tapi kami sudah berusaha semampu kami, bahkan tanpa sepengetahuan kalian aku dan Menma sudah melakukan program bayi tabung sebanyak 3 kali dan dokter yang menangani kami bahkan menyerah dengan keadaan ini.." Akhirnya isakan Shion pecah dengan sigap Kushina mendekap anaknya ke pelukannya.
"Minato! kau keterlaluan.. sudahlah Shion tak apa Kaa-san ada disini.."
Minato merasa sedikit bersalah tapi tak apa, ini untuk kebaikan Menma juga. Karena jika masalah ini dibiarkan begitu saja maka cepat atau lambat Menma bisa jatuh ke jurang kegagalan.
"Baiklah, aku berikan waktu diskusi selama satu bulan... Shion, Tou-san ingin kau bersikap dewasa.. apapun yang menjadi keputusan Menma setelah ini Tou-san harap kau bisa menerimanya dengan lapang dada.." Akhirnya Minato menyudahi perbincangan mereka.
"Usht.. Shion tidak perlu diambil hati, Minato memang begitu.. dia suka menuntut banyak hal yang belum tentu semua orang bisa melakukannya.."
"Hiks.. tak apa Kaa-san aku mengerti, semua ini salahku. Tapi aku sangat mencintai Menma.."
Bagian Naruto
Dengan tenang Papa berambut pirang itu sedang menunggu sang putra yang sebentar lagi akan pulang dari Tk Jungsu.
Pandangan ibu-ibu muda yang sedang menunggu kedatangan anak-anak mereka juga jatuh ke dalam pesona Naruto. Bayangkan saja, keberadaan Naruto bagaikan sebuah oasis di gurun pasir yang tandus. Sunggu Naruto seperti hot Papa yang sangat sempurna.
Lihat penampilan Naruto yang memakai kemeja lengan panjang berwarna darkblue, dengan dua kancing teratas terbuka dipadukan dengan cropspans warna putih susu benar-benar terlihat seperti artis. Belum lagi rambut pirang lembut itu melambai-lambai saat tertiup angin.
"Naruto.." Tepukan di bahunya membuat pria bermata shappire itu menoleh, sempat ingin marah karena kebetulan lengannya yang terlukan ditepuk sangat keras namun niat marahnya segera diurungkan karena melihat pria yang nampak familiar diingatannya.
"Sai.." Balas Naruto kemudian.
"Lama tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu Naruto?.. Maaf aku dan Ino tidak sempat menjengukmu saat dirumah sakit karena, Inojin saat itu juga sedang demam.." Panjang Sai kemudian.
Naruto tersenyum maklum, pasti Sai tau dirinya sempat masuk rumah sakit akibat vertigo yang kambuh dari Sakura.
"Aah.. tidak apa-apa, Aku sudah agak baikan.. kau sendiri bagaimana kabarmu?" Balas Naruto.
"Seperti yang kau lihat.. aku sangat sehat, apa kau juga sedang menunggu Shina?"
" Iya, ini pertama kalinya aku menjemput anak nakal itu.." Naruto menggaruk tengkuknya. Sai memang sempat menjadi temannya karena dikenalkan oleh Sakura. Jadi awaupun akrab tapi Naruto masih belum bisa menyesuaikan diri dengan Sai.
Hening beberapa saat.
"Huah, sepertinya kita menjadi idola kaum ibu-ibu disini.. semoga anak-anak cepat datang.." Sai berbisik karena dirinya mulai agak risih dengan tatapan para wanita buas di dekat mereka berdua.
"Kau benar, mereka terlihat menyeramkan.." Gumam Naruto.
Mebuki turun dari bus, kini wanita tua itu datang dengan sebuah payung ditangannya. Entah kenapa tiba-tiba langit Konoha city sedikit mendung.
"Semoga aku bisa bertemu dengan cucuku..." Bisik Mebuki parau, pasalnya kemarin siang saat ia pergi ke TK Jungsu untuk menjemput cucunya. Bocah bernama lengkap Haruno Shinachiku itu tak nampak saat gerombolan anak-anak keluar dari gedung TK.
Hati kecilnya sebagai seorang nenek benar-benar risau, saat seorang guru mengatakan bahwa cucunya memang sedari tadi pagi tidak menghadiri kelas.
Mebuki berharap jika kali ini ia bisa bertemu dengan Shina walaupun hanya sebentar. Dengan begitu ia bisa tenang, karena bisa melihat senyum manis cucu tunggalnya.
Ketika kakinya sampai pada tempat tunggu, mata Mebuki menangkap keberadaan sosok Naruto disana sedang berbincang dengan Sai.
Wanita ringkih itu mendekat, ia hendak menyapa pria pirang yang sangat dicintai oleh putrinya itu.
"Naruto.. Sai.." Kedua Papa muda itu serempak menoleh, kemudian keduanya tersenyum untuk menyambut Mebuki.
"Selamat siang, Bibik.."
"Bibik kesini sendiri?" Tanya Sai.
"Iya, karena kemarin aku tidak bisa bertemu dengan cucuku, aku harap sekarang keberuntungan memihak pada wanita tua ini.."
Naruto tersenyum, seperti yang sempat ia katakan sebelum pergi membawa Sakura. Bahwa Naruto tidak akan pernah menghalangi bila Mebuki atau Kizashi ingin bertemu dengan Shina.
"Anak-anak belum ada yang pulang, Nanti biar aku saja yang mengantar bibi Mebuki pulang juga.." Ucap Naruto.
Dan anggukan lemah sebagai jawaban. Tak berselang lama kemudian suara ribut anak-anak menusuk telinga Naruto, Sai, Mebuki dan orang tua lain yang masih setia menunggu putra-putri mereka.
Pertama Inojin datang dengan berbanjiran keringat, selalu seperti ini. Bekas berupa cairan berbau apek menempel disuluruh tubuh kecinya. Kemudian anak berkulit pucat itu memeluk erat sang ayah.
" Naruto, bibik Mebuki kami duluan ya.." Sai berpamitan dengan sopan.
"Iya kalian hati-hati dijalan.." Sahut Mebuki, sedangkan Naruto hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya pelan.
Kini netra shappire milik Naruto dengan teliti mengamati setiap anak yang berhamburan keluar dari TK Jungsu.
"Kemana cucuku.." Cicit Mebuki cemas karena sudah semakin sepi anak-anak yang datang dari gedung sekolah.
Kaki kecilnya berjalan secara perlahan, angin berhembus menerbangkan helaian pirangnya. Shinachiku berjalan dengan teramat sangat santai. Setelah sampai di depan gerbang mata bulatnya melebar ketika tau siapa saja orang yang menjemputnya siang ini.
Mebuki merentangkan tangannya lebar-lebar kala kaki kecil Shina dengan semangat berlari ke arahnya. Namun sayang tak dapat ia bekap dalam pelukan si cucu pirangnya.
"Papa.." Seru Shinachiku begitu bersemangat.
Justru Naruto yang kaget ketika kaki jenjangnya dipeluk erat oleh putranya. Naruto terdiam, ia membeku sesaat. Rasa sakit saat melihat Mebuki terduduk di bawah dengan tubuh gemetar membuatnya goyah.
"Shina, lihat nenekmu disana ayo peluk nenek Mebuki.." Ucap Naruto lembut, tapi sayang anaknya begitu keras kepala. Bahkan Shina semakin mengeratkan pelukannya pada kaki Naruto.
"Tidak mau! pokoknya Shina mau pulang sama Papa dan bermain sama nenek Kushina.." Rengekan itu semakin membuat Mebuki berkaca-kaca.
Wanita yang telah berumur itu larut dalam rasa sedih, Lantas ia mendekat pada Naruto dan memposisikan dirinya berjongkok pada cucunya.
"Shina sayang, tidak kangen sama nenek?" Ucap Mebuki sedih.
Shina meneliti, emeraldnya berkedip beberapa kali. Hati kecil Shinachiku sebenarnya sudah tak mau lagi berhubungan dengan Mebuki ataupun Kizashi.
Gelengan kuat oleh Shina semakin membuat Mebuki sedih. "Shina sudah punya nenek baru, Shina tidak mau sama nenek Mebuki lagi. karena Kakek Kizashi jahat, kakek sudah memukul Mama dan Papa.."
Naruto membisu, kata-kata yang keluar dari mulut keci Shina pastilah sangat menyakitkan hati Mebuki.
Dengan cepat Naruto meluruskan semuanya. "Shina, tidak bicara seperti itu, bagaimana pun juga nenek Mebuki adalah nenek Shina, dan ibu dari Mama Sakura.. kita adalah keluarga.." Ceramah Naruto, ia berharap anak usia 3 tahun itu mengerti dengan semua yang ia katakan.
Shina memandang bingung Naruto, emerald itu begitu polos. "Tapi Paa.. Shina, lebih suka sama nenek Kushina.. dia baik dan selalu memberikan hadiah untuk Shina.." Lanjut si kecil.
Mebuki merasa tak berguna, kemudian dengan paksa ia meraup tubuh mungil Shina dalam dekapannya. "Maafkan nenek, mungkin nenek Mebuki tidak bisa memberikan banyak hal pada Shina.. tapi asalkan Shina tau, nenek sangat sayang sama kamu.." Ucapnya kemudian.
Bagian Menma.
Mentari orange menyambut kedatangan Menma saat ia memasuki rumah mewahnya. Aneh saat kakinya menapak ke dapur istri tercintanya tak ada disana.
"Kemana Shion?" Gumannya.
Salah satu pembantu mendatangi Menma, dengan sopan ia memberitahukan jika tuan besar Minato dan Kushina sedang pergi ke vila mereka yang terletak di wilayah Konoha Timur.
"Jadi mereka berdua pergi berkencan!" Beo Menma.
Setelahnya ia berjalan menuju kamar. Ketika pintu dibuka. Cahaya terang menyilaukan menusuk violet jernih milik Menma.
"Apa-apaan ini!.." Serunya tak terima karena perih melanda matanya yang indah.
"Menma kau sudah pulang..?" Menma terkejut saat Shion menyambutnya dengan tampang pucat.
"Shion, kau kenapa? apa kau sakit?" Kekawatiran Menma semakin menjadi-jadi kala Shion tak mau menerima pelukannya.
"Kau menyakitiku.." Bisik Shion pelan.
"Aku bahkan belum menyentuhmu!.. Aku baru saja pulang dari kantor! kau ini kenapa?" Suara Menma meninggi.
"Aku pikir dengan merahasiakan semuanya, kau sendirilah yang akan mengatakan kejujuran itu..!" Shion berkata ambigu, Menma mengkerutkan dahinya teramat sangat dalam.
"Jangan bilang Tou-san mengancammu tadi.."
Shion mengangguk lemah. "Maafkan aku Shion.." Menma melembut, dibelainya sayang wajah sang istri.
"Walaupun kau minta maaf, kata maaf darimu saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka dihatiku dan juga pemikiran buruk Tou-san terhadapku.."
Menma menyerah, bagaimanapun ini semua memang salahnya. Dulu ia memberikan sumpah pada Shion agar merahasiakan keadaannya yang mandul tapi sekarang justru mulutnya berucap istrinya yang mandul agar posisi menjadi CEO selamat ditangannya.
"Apa saja yang Tou-san katakan tadi, padamu..?" Lirih Menma.
"Tou-san menyuruhku untuk segera bercerai denganmu.."
Menma diam, shit Tou-san!
"Tidak, aku tidak mau! Kau tidak boleh pergi.." Tolak Menma. Lantas ia memeluk Shion begitu sangat erat.
"Jangan tinggalkan aku Shion, aku mohon.." Ucapnya lagi.
"Cukup! tolong berikan aku waktu untuk menjernihkan pikiranku Menma.."
Dorongan kecil membuat Menma terhuyung ke belakang. Violet itu memicing dengan kerutan-kerutan kebingungan.
"KAU MAU KEMANA!?" Bentak Menma, Shion masih saja merapikan beberapa bajunya ke dalam sebuah koper kecil.
"Aku mau pulang ke rumah ibu sebentar.. " Datar Shion. Hati kecilnya berteriak untuk tidak melakukan acara pelarian, namun ego dan rasa kecewanya begitu besar terhadap Menma.
Menma menjatuhkan koper itu dari atas ranjang dengan kasar. "Aku bilang kau tidak boleh pergi, APA KAU TULI!?"
PLAK..
Satu tamparan yang lumayan keras mendarat dipipi mulus Menma, lelaki tegap itu semakin terbawa emosi karena untuk kedua kalinya wanita berambut pucat itu berhasil menamparnya secara telak.
"SHION!.. kau taku kalau aku paling benci mendapatkan tamparan, sekarang kesabaranku sudah habis!.." Menma mencekal pipi Shion begitu erat.
"Menma lepaskan!" Erang Shion kesakitan
"TIDAK! kau sudah berjanji akan selalu ada untukku, tapi kenapa kau sekarang berniat untuk meninggalkanku!-"
Nafas Menma memburu, memang sulit menjelaskan hubungan rumah tangga yang dijalani oleh Menma, kadang semuanya terlihat harmonis tapi di waktu-waktu lainnya pertengkaran hebat seperti ini mewarnai hirup pikuk perjalanan rumah tangganya.
"-Kau tidak terima jika aku berbohong pada Tou-san? Biarkan saja Tou-san tau kalau kau itu mandul Shion, Walaupun Tou-san mengancammu agar segera bercerai denganku.. Aku tidak akan tinggal diam..! Aku pasti menolak dengan keras keinginan Tou-san untuk memisahkan kita! "
"Menma, tolong mengerti aku tidak meninggalkanmu.. aku hanya ingin ketenangan sejenak, Aku mau menginap dirumah ibuku! Tou-sanmu memberikan tekanan berat, lama-lama aku bisa STRESS DISINI!.."Diakhir kalimatnya Shion membentak dan menegaskan bahwa dirinya begitu terbebani oleh keinginan Minato yang memihak pada keegoisan.
Setelah mendengar pengakuan sang istri kungkungan itu pun terlepas dengan sendirinya. Menma bernafas lega.
"Berapa lama kau akan menginap di rumah ibu?" Ujar Menma dingin, namun beberapa saat kemudian wajahnya menunduk disertai dengan tangan yang memijat pangkal hidungnya.
"Sampai kita punya jalan keluar dari masalah ini!" Shion kembali membenahi kopernya. Menma hanya terdiam lalu ia juga kembali bersuara.
"Kalau begitu aku ikut denganmu.. anggap saja kita sedang berlibur.."
"Boleh saja.."
Shion bisa apa, ia juga sudah terlanjur sangat mencintai pria berkepala merah ini. Mungkin selanjutnya ia akan menyerahkan masalah ini pada Menma saja karena Shion percaya Menma pasti punya jalan keluarnya.
Sore hari diapartement Naruto.
Seperti biasa Sakura baru saja pulang dari kantor, jam telah menunjukan pukul 17.00 pm. Aura lelah menguar dari tubuh ramping itu.
"Sakura?" Suara Naruto membuatnya menoleh ke belakang.
"Sayang, kalian juga baru pulang?.."
Naruto nyengir kuda dengan senyum lima jarinya yang lebar. "Iya, untungnya aku ingat kalau hari ini kita diajak makan malam diluar oleh Erro-Jii.."
Sakura terbelalak, ia baru tau kalau kakek Naruto mengajaknya untuk diner. "Yang benar saja?" Ucap Sakura tak percaya.
"Iya benar, makanya aku dan Shina pulang jam segini.. karena kami harus mampir ke butik untuk membelikanmu sebuah gaun.." Sembari berucap Naruto meletakan beberapa kantung belanjaan. Tepat disampingnya Shina sedang sibuk mengemut ice cream batangan rasa melon pemberian Naruto.
"Ayo Sakura sebaiknya kita segera bersiap-siap.."
"Sekarang?" Hembusan nafas lelah dari Sakura. Mau-tak mau membuat Naruto mendengus geli.
"Iya sayangku.. agar lebih efisien bagaimana kalau kita mandi bertiga?" Ucap Naruto jahil.
Sakura yang tadinya tak begitu peduli, dengan cepat ia menoleh ke arah Naruto dengan wajah merona.
Entah kenapa Sakura justru mengiakan ajakan Naruto untuk mandi bersama. Dan disinilah dia, duduk disebuah kursi kecil dengan sedikit menunduk. Rasa nyaman saat Naruto menggosok bahunya membuat wanita pinkis itu terlihat rileks.
"Kau bekerja sangat keras ya, Sakura..?" Ucap Naruto.
"Hm.. akhir-akhir ini banyak sekali tuntutan pekerjaan yang harus aku selesaikan dikantor, aku lelah sayang.."
Tangan Sakura bermain untuk menyabuni seluruh badan Shinachiku yang juga sedang berendam didalam bathtub.
"Kasihan.." Ucap Naruto. Kini pria tampan itu berdiri masih dengan handuk putih yang melilit tubuh bagian bawahnya, ia lantas mencuci tangannya di wastafel.
Sakura melihat kepergian Naruto, dan saat ia melihat punggung Naruto. Sakura baru sadar bahwa tato yang ia singgung kemarin telah terhapus setengahnya. Sakura berfikir, apakah gara-gara dirinya Naruto sampai rela menghapus tato permanen itu dari punggungnya?
Lantas Sakura meninggalkan Shinachiku yang bermain dengan bebek karetnya dan menghampiri Naruto yang sedang mencukur kumis tipis miliknya.
"Naruto.." Sakura memeluk tubuh kekar itu dari belakang, sontak saja sesuatu yang kenyal menubruk punggung kekar Naruto.
"Ada apa Sakura?" Masih menyisakan sudut sempit di bagian pipi, akhirnya Naruto selesai bercukur. Kemudian ia berbalik menatap wanita cantik bermata emerald itu.
"Hm?" Naruto menunggu.
"Kenapa kau menghapus tato dipunggungmu?" Cicit Sakura, karena jujur Sakura mulai menyukai Naruto yang bertato. Pria yang bertato kelihatan 5 kali lipat lebih seksi di matanya.
"Kau pasti tidak suka, makanya aku hapus.."
"Siapa yang bilang, aku tidak suka? sayang.. kau itu kelihatan lebih seksi dan maco saat diranjang dengan tato-tato itu.. aku menyukainya.." Lantang Sakura.
Naruto menyeringai, namun ia sedikit kecewa karena keputusan untuk membersihkan lukisan kulit itu keliru.
"Yah mau bagaimana lagi.. sudah terhapus setengah.." Ucap Naruto lesu.
Sakura memonyongkan bibirnya kecewa, shappire itu terus saja menatapnya intens. Lantas tanpa ancang-ancang Sakura berjinjit dan mencium belahan bibir seksi Naruto.
Sedangkan Naruto meraup tubuh telanjang Sakura yang hanya dilapisi celana dalam, untuk semakin menggesek setiap tonjolan otot sixpack Naruto.
Tak tanggung-tanggung bahkan karena asik bercumbu Naruto bahkan memijat bokong Sakura secara erotis.
"Mau coba sensasi itu lagi?" Bisik Naruto pelan, saat cumbuan mereka terlepas.
"Aku rasa sama seperti saat kuliah dulu.." Jawab Sakura.
"Ini berbeda.. dan akan jauh lebih menyenangkan.." Sambung Naruto. Kemudian mereka beranjak menuju tempat shower karena kamar mandi diapartemen Naruto memiliki dua bilik. Satu untuk bilik bathtub dan satu lagi untuk bilik shower.
Naruto menutup rapat-rapat pintu bilik shower, dan sangat kebetulan bilik tersebut sedikit kedap suara. Lalu ia mendekat ke tempat Sakura yang berdiam diri dekat tembok.
"Aku tau, kau selalu menjadi lelaki temesum Naruto.." Sakura mengalungkan tangannya pada leher kokoh Naruto. Dengan nafas yang mulai memburu membuat Naruto langsung melumat bibir kenyal Sakura dengan tidak sabaran.
Karena Naruto bermain kasar, Sakura juga tak mau kalah. ia juga menjabak kasar rambut belakang Naruto.
Tak mau berhenti disana, Naruto menggerayang turun. Kewanitaan Sakura jadi sasarannya, entah kekuatan dari mana Naruto berhasil merobek celana dalam Sakura.
"Fuck Naruto! itu celana dalam mahal.." Rutuk Sakura dalam hati.
Sakura menggeliat ke kiri dan kekanan saat jari tangan Naruto mengelus permukaan klitorisnya. Karena Sakura yang tak bisa diam terpaksa Naruto harus menghimpit tubuh polos itu ke dinding.
Nah sesuatu mulai tegang dan mengacung sempurna dari dalam lilitan handuk putih yang dipakai Naruto. Juniornya berkedut untuk meminta jatah belaian liar mulut atau lubang vagina Sakura.
"Hammmnghh..." Lenguh Sakura lolos kala sudut bibirnya sedikit terbebas.
"Naahh~~… Nikmat sekali sayang.." Ucap lengkap Sakura ketika Naruto bermain double yaitu pada payudara dan lubang kewanitaan Sakura.
Saat Naruto merasakan sedikit lendir yang menerpa jarinya ia berhenti bermain pada tempat sensitif milik Sakura.
"Sakura.. cepat sekali! aku belum puas.." Rancu Naruto.
"Maaf, aku terlalu terangsang sayang.."
"Yasudah, buat aku keluar banyak hari ini.." Pinta Naruto, Sakura mengerti sedikit tersipu lantas ibu satu anak itu sedikit bersimpuh ia ingin memberikan oral seks terbaik untuk Naruto.
Pertama dielusnya ujung tumpul panis lelaki pirang itu. Tanpa basa -basi lagi Sakura lantas menjilati seluruh permukaan torpedo Naruto. Wanita ia juga memijat pangkal buah zakar itu secara lembut.
Naruto sampai memejamkan mata karena kenikmatan duniawi ini. "Good sayang.. nghhh~ kau semakin ahli.."
Mendapat sanjungan Sakura makin semangat, walaupun sedikit ragu namun pada akhinya ia menelan bulat-bulat penis panjang milik Naruto.
"Shhttt..." Desis Naruto.
Maju-mundur mahkota pinkis itu memberi pelayanan manja pada batang tegang itu. Naruto mengusap lembut pipi Sakura. Dan perlahan ia juga menggerakkan pinggulnya untuk menusuk lebih dalam mulut Sakura yang sedang mengoral panisnya.
"Uhhnghh.. Sayang~ Aku semakin dekat.."
Sakura ingin muntah, namun ia tahan. Sedangkan panis Naruto semakin mengembang dan berkedut tak jelas didalam mulutnya.
"Cukup Sayang~~…" Naruto melepas paksa bibir Sakura dari Panisnya.
Crot.. crot..
Semburan panas sperma Naruto membasahi bagian dada Sakura. Begitu banyak hingga Sakura harus sabar menunggu muntahan itu berakhir.
"Aahh.." Lega Naruto, Papa muda itu tersenyum pada Sakura.
"Kemarilah.." Naruto memerintahkan Sakura untuk mendekat, ia tidak tau apa isi kepala pirang lelaki tampan itu.
Tanpa diduga Naruto memojokkan Sakura lagi, Tangannya yang berotot mengangkat kaki jenjang Sakura hingga bertengger sampai pada bahunya.
"Naruto kau liar dan hal itu yang membuatku semakin mencintaimu sayang.." Bisik Sakura begitu seksi. Tak segan-segan Sakura sendiri yang langsung menancapkan panis Naruto ke dalam vagina-nya yang terangsang.
"Oohh.. my! calon istriku nakal.."
"Itahhh~~.. Sayang ayo genjot! " Perintah Sakura mutlak.
Naruto sedikit menggigiti bahu Sakura, dan hujaman kasar meluncur deras di areal tubuh bagian bawah Sakura.
Wanita pinkis itu memeluk sangat erat tubuh kekar Naruto agar posisi mereka semakin merapat.
In-out Naruto begitu kasar, Sakura bahkan bisa merasakan dinding rahimnya ikut tersodok karena panis Naruto sangat panjang.
"Nah~… Naruto~ Sayang... aahhhhkk~~…" Desah Sakura panjang. Naruto menengguk air liurnya dalam-dalam.
Badan kecil itu berguncang hebat, Naruto terlalu bernafsu tapi Sakura suka.
"Shit! Ooh~ good, hngmmm~…" Naruto jadi ikut-ikutan merancuka desahannya.
"Sebut namaku yang banyak sayang.." Pinta Naruto.
"Sayang… Terlalu ngh~ dal.. ahm~…" Sakura terbata dibagian akhir.
Tak lama berselang mereka sama-sama merasakan kedutan kuat didalam penyatuan tubuh itu.
"Naruto~ Naru.. tho~…" Sakura sedikit mencakar punggung Naruto lagi, sama seperti malam itu.
"Lakukan bersama Sakura.."
"Nghaaahh~.." Pekik Sakura.
Deras sekali cairan Sakura keluar, Naruto bisa pastikan jika penisnya sudah sangat basah didalam sana.
"Uhh~… Sayang.." Karena terlalu geli dan gemas Naruto mengigit kuat bahu Sakura saat semburan keduanya meluncur deras didalam rahim Sakura.
"Aauch sakit Naru..!"
Setelah sama-sama orgasme Naruto menghadiahkan kecupan didahi lebar Sakura.
"Aku sayang padamu.." Ucap Naruto Serak.
"Aku juga.. sangattt sayang padamu.." Balas Sakura cepat.
Naas sekali mereka berdua lupa jika ada seorang anak kecil yang juga ikut mandi dibilik bathtub.
"Mah! Mama dimana? Shina sudah bosan mandi, air hangatnya sudah dingin... MAMA..!" Suara cempreng dari Shinachiku begitu memekakkan telinga bahkan sampai menembus ruangan shower yang kedap suara. Membuat Sakura seketika menegang dan mendorong jauh-jauh tubuh kekar Naruto.
"Kita lupa ada Shina disini.." Rutuk Sakura.
"Hahaha.. kau benar, sebaiknya kita mandi sekarang kasihan Shina terlalu lama berendam nanti kulitnya bisa pucat.." Ujar Naruto, sebelum Sakura benar-benar pergi menemui Putra kecilnya yang tampan.
"Jika itu terjadi, semuanya karena salahmu telah membuatku lupa dengan Putra kecil kita.." Ucap Sakura kemudian. Tak lupa disertai dengan senyum manisnya.
Jiraya menunggu dengan sabar, biasanya orang lain yang akan menunggu kedatangannya selama beberapa menit atau bahkan beberapa jam lebih.
Tapi demi kebahagian Naruto ia rela menunggu kedatangan cucu kesayangannya di tengah -tengah keramain hotel tampatnya melakukan diner.
Tak lama kemudian munculah, tiga orang yang ia nantikan kehadirannya sedari tadi.
"Malam Jiraya-jii.." Ucap sopan Naruto.
Jiraya mengangkat sudut bibirnya. Mata tua itu memicing karena sedikit silau ketika ia ingin menatap wajah tampan cicit dan calon mantunya.
Naruto datang dengan baju kemeja dilapisi sweter hitam. Sedangkan si putra kecil memakai baju kaus lengan panjang yang sangat lembut dan nyaman. Yang terakhir Sakura begitu cantik dengan dandanan tipis serta lips yang sedikit mencuri perhatian. Wanita itu mengenakan outfit berwana pastel yang senada dengan warna baju anaknya.
Mereka bertiga mengambil tempat duduk masing-masing dan tentunya Shina agak kesulitan mencapi meja karena tinggi badannya belum sampai. "Erro-jiji sendiri?" Tanya Naruto saat ia selesai membantu anaknya mencapai tempat duduk.
"Bersama Nagato, sayangnya di menunggu dimobil.." Ucap Jiraya sedikit serak.
"Apa Jii-san sudah memesan?" Jiraya mengangguk lemah. Secara bergantian ia menoleh ke arah wanita muda yang berhasil menggaet hati cucu pirangnya.
"Naruto, langsung saja.. Jii-san ingin kau menjelaskan maksud dari semua keputusanmu! Kau yakin mau menikahi wanita ini?" Sebenarnya Sakura sedikit tersinggung karena di cap seperti wanita murahan oleh Jiraya.
"Aku yakin, karena Sakura adalah orang yang sangat aku cintai.." Jawab Naruto mantap
"Jii-san ingin tau Sakura ini berasal dari kalangan mana? apakah lebih superior dari Koyuki yang mewarisi Kastil Salju... " Ujar Jiraya dingin.
Karena tak tahan telah di rendahkan, Sakura kemudian besuara. "Cukup tuan Jiraya, saya paham keberadaan saya mungkin tak lebih dari parasit dikalangan berada seperti kalian.. tapi saya ingin anda tau jika tanpa Naruto, saya sendiri masih bisa hidup dengan sangat layak.."
Jiraya terdiam.
"-Dan sayang sekali, pemikiran anda masih saja sama seperti dulu. Apa anda tidak ingat dengan saya? Seorang wanita yang menangis di depan gerbang rumah Namikaze untuk meminta Naruto kembali.."
Jiraya mengkerutkan keningnya. ia mencoba mengingat hal yang dimaksud oleh Sakura. Maklum Jiraya itu sudah tua jadi mungkin sekarang Jiraya agak sedikit Dimensia.
"Rupanya kau, anak itu!.." Rancu Jiraya abstrak.
"Dan saat itu saya tengah mengandung darah daging Naruto, saya sudah mencoba menjelaskan semua pada anda.. tapi anda bersikeras untuk selalu menolak penjelasan dari saya.."
Jiraya membeku, tapi setelahnya ia mengalihkan pandangannya pada Naruto yang sibuk mengurusi kenakalan Shinachiku.
"Naruto, apa kau menghamili anak orang?!" Jiraya melotot pada cucunya.
"Iya dan anak tampan ini hasilnya.." Sambil menjawab Naruto menarik wajah Shinachiku dan mendekatkannya pada Jiraya.
"Sudah lihat kemiripanku dengan Shinachiku?" Canda Naruto gemas, karena dari tadi Jiraya membuat semua hal jadi begitu rumit dan berbelit-belit.
"Apa-apaan ini? apa kau punya buktinya?" Lanjut Jiraya.
Dengan cepat Naruto menarik kertas dan melemparkannya malas pada Jiraya. "Jii-san bisa membaca? apa harus aku yang bacakan?" Ujar Naruto.
"Dasar tidak sopan! aku bisa membacanya sendiri!" Murka Jiraya.
Setelah beberapa menit kini giliran Jiraya yang melempar kertas tak berdosa itu dengan kasar. "Sialan!" Umpatnya.
"Orang tua tidak boleh banyak mengumpat, nanti kuburannya sempit Jii-san.." Sahut Naruto kurang ajar.
Jiraya tersenyum, baiklah tidak apa-apa. Setidaknya sebelum ia menemui ajal Jiraya bisa melihat kebahagian datang pada cucunya.
"Hah.. baiklah, sebagai langkah awal... tolong maafkan orang tua bau tanah ini Sakura, jika dulu aku sempat berbuat kasar padamu.. dan aku harap kau bisa membahagiakan Naruto-..."
Sakura mengangguk, sebab awalnya Naruto sudah menjelaskan padanya jika saat bertemu dengan Jiraya. Sakura tidak perlu terlalu tegang karena sifat Erro-jiinya itu tak bisa bersikap kejam dan tegas terutama kepada Naruto.
"-Dan Jii-san rasa, kita bisa secepatnya menentukan tanggal pernikahan kalian berdua.."
Akhirnya semuanya berbaur, semuanya nampak baik-baik saja. Naruto senang karena Kaa-san dan Jiraya-jii menyambut baik kehadiran Sakura dan Shinachiku disisinya.
"Apa aku perlu meminta restu dari Tou-San? Hmm.. aku rasa tidak, karena sepertinya Tou-san berasa disisi yang berbeda denganku! " Batin Naruto.
Sudah tiga hari berlalu semenjak makan malam dengan Jiraya, Sakura semakin senang tinggal bersama Naruto. Wanita berkulit putih itu bahkan lupa jika ia masih memiliki ayah dan ibu di rumahnya yang lama.
Dan selama itu pula Kushina selalu menyempatkan waktunya untuk mampir ke apartemen Naruto. Limpahan kasih sayang Kushina begitu besar pada Naruto dan Sakura yang pastinya kasih sayang itu juga mengkhusus pada cucu laki-lakinya yang imut serta tampan tiada duanya.
Seperti malam ini, Naruto sudah sangat lelah mencoba untuk mengusir Kushina dari kamar Putra tunggalnya.
"Kaa-san biarkan Shina tidur lebih awal... Dari kemarin dia tidur terlalu larut karena keasikan main.." Ungkap Naruto frustasi.
"Kau ini tau apa Naruto, Kaa-san tidak hanya bermain tapi juga mengajarkan Shina cara menghitung dan membaca.." Bela Kushina tak mau kalah.
"Sakura lalukan sesuatu.." Pinta Naruto, biasanya jika sudah Sakura yang bersuara, wanita merah mantan ibu walikota itu akan mau mengalah.
"Kaa-san apa yang dikatakan Naruto itu benar.. sekarang sudah jam sepuluh lewat, biasanya jam setengah sembilan Shina sudah tidur.."
"Tapi Sakura.. lihat anakmu bahkan tidak mengantuk, Kaa-san bisa apa saat Shina terus merengek meminta untuk dibacakan cerita dan latihan menulis.." Naruto memijit pelipisnya pelan, Kushina benar-benar sinting. Jika saja Shina tidak diiming-imingi sebuah hadiah maka bocah lugu itu tidak akan mau bergadang sampai larut malam begini.
"Mama, huamm.. Shina belum ngantuk!" Lain dimulut, lain juga di bahasa tubuh yang bocah itu tunjukan. Nyatanya mata emerald kecil itu terkatup secara perlahan dan uapan kecil selalu menghiasi bibir tipisnya.
"Kaa-san tidak baik terus bertamu sampai larut malam.. sebaiknya Kaa-san pulang, agar Tou-san tidak marah lagi.." Naruto berucap sembari memperhatikan Sakura yang mengamit tubuh linglung Shina ke pelukannya dengan lembut.
"Aahh.. baiklah Kaa-san menyerah, kau berhasil membuat Kaa-san harus kembali ke rumah besar yang sepi itu.." Lesu Kushina, pernyaannya membuat dahi Naruto mengkerut sekilas.
"Sepi? Bukannya ada Menma dirumah?" Kushina yang sudah siap-siap untuk pergi terdiam sejenak sembari menatap shappire sang Putra bungsu.
"Menma dan Shion sedang pergi menginap dirumah mertuanya... yang tersisa dirumah sekarang hanya Kaa-san, Tou-sanmu dan juga ayah Jiyara.."
Naruto mengakat bahunya sejenak, setelah mendengar tuturan singkat dari Kaa-sannya tentang Menma.
Awalnya Naruto sempat menawarkan diri untuk mengawal Kaa-sannya pulang. Namun karena lagi-lagi wanita dua anak itu begitu berlagak mandiri dan ia berkilah bahwa dirinya kuat menyetir sendiri mobil sedan keluaran terbaru yang menjadi hadiah anniversary-nya dari Minato, Naruto bisa apa selain mendoakan agar Kaa-san sampai dirumah dengan selamat dan tak kurang anggota tubuh apapun.
Ceklek..
Pintu tertutup, Naruto menaiki ranjangnya dengan lemas. Kedatangan Kaa-sanya setiap hari membuat Naruto harus melapisi dirinya dengan tameng kesabaran. Karena kadang Kushina jadi ikut-ikutan bersikap seperti anak kecil.
"Kau lelah?"
Dua tangan ramping kini membelai dada bidang Naruto yang terlapisi oleh baju kaus tipis. Siapa lagi pelakunya selain Haruno sakura.
Karena rabaan itu pula Naruto lantas membenamkan begitu saja kepala pirangnya di dalam pelukan Sakura.
"Hm.. Sedikit, aku masih harus mengurus surat pernyataan bahwa setengah dari saham yang dipegang Menma saat ini, masih menjadi hak milikku.." Curhat Naruto, Sekarang tak ada lagi kata canggung diantara keduanya baik itu Sakura ataupun Naruto. Apapun keluh kesah mereka berdua selalu dibongkar hingga tak ada rahasia yang membuat nois dalam komunikasi mereka.
"Aku mengerti.. berjuanglah sayang aku selalu mendukungmu.." Sakura memainkan helaian rambut pirang itu. Ia yakin Naruto akan semakin relaks jika Sakura terus mengelus pucuk kepalanya.
"Terimakasih, kau sangat pengertian Sakura.. aku berjanji setelah Menma jatuh dan posisi CEO ditanganku, akan aku berikan apapun yang kau mau.."
" itu tidak perlu, karena aku sudah tidak butuh apapun lagi selama kau ada disisiku sayang.." Lembut Sakura. Naruto menengadah, senyum kecil tergores diwajahnya.
Bantal yang lembut menjadi sandaran kepala Naruto, sekarang ia mulai terbiasa tidur berdua dengan Sakura. Walau tak jarang karena lupa mematikan AC di kamar mereka berdua jadi sangat sering berebut selimut.
"Sebelum lupa, Naruto matikan AC-nya.."
"Tidak mau, sayang sekarang aku masih kepanasan.." Balas Naruto. Untuk menyudahi ceramah Sakura tentang suhu AC yang dingin akhirnya ia mengungkung penuh tubuh mungil Sakura dalam dekapan hangatnya.
"Tapi-.."
"Usstt.. sudah malam, lebih baik kita tidur sayang.." potong Naruto cepat.
Bersambung..
hmmm.. lama sekali aku nggak ngetik, dan rasanya down banget ketika mau Up chap 10 ini.. menurut kalian gimana?
ok. aku hanya mau bilang, sepertinya Wb telah mengambil alih inspirasiku.. tapi nggak apa-apa anggap aja Ega nggak ada.
h3ndy : ngh? ok bisa aja sih.. tapi kayaknya aku pikir-pikir lagi..
Arch Strike : mungkin aja, maunya sih Naruto yang mati dan Menma yang menang (itu spoiler)
CAR 123 : wow, sipp dek.. harapanku juga sama agar NaruSaku bahagia..
AmmaAyden :Sakura mungkin aja hamil Kak.. tunggu prosesnya aja wkwk..
yuisawada73 : itu referensi buku apaan? aku nggak tau hahaha.. ok thank's dah mampir dek..
.980 : ok kak.. makasi udah mampir, dan maaf jika kakak nunggunya sampai lumutan
dhany dhacil :huah makasi ya..
Hikari Cherry Blossom24 : huah! nggak kuat, intip sedikit aja kak kalau gitu wkwk..
ame : makasi udah mampir..
guezt : makasi kak..
naru lovers : huah mkasi semangatnya ya..
NaruShinachiku : kyaaa.. NSL.. seneng deh ada temen baru, btw tenang dan ikuti saja cerita ini.. aku juga nggak janji kalau shina bakalan aman.
guest : NSL lagi hehehe.. temen baru #tos dulu dong..
narusaku29 :huah makasi udah mampir dan makasi semangatnya ya.. aku nggak tau kalau shina bakalan dimutilasi atau nggak
Naku226 : terimakasi ya.. dan syukur kamu suka story abal ini wkwk.. next ditunggu aja ya..
ijah : Q: sepet dong update ch 10!
A : waduh maaf ya, karena aku memiliki pelarian baru jadi aku sedikit lupa storyku..
