Disklaimer: Haikyuu! dimiliki seutuhnya oleh Furudate Haruichi. Saya tidak memiliki apa-apa kecuali ide-ide yang saya tuangkan dalam tulisan ini, dan saya tidak mengambil keuntungan atau profit apapun dari tulisan ini.
.
.
Tsukuba, 19 November 2075
Kei mematikan alarmnya di pagi hari dengan sebelah tangan. Ia bergerak, berusaha membuka matanya yang berat, tidur nyenyak yang sudah lama tak didapatkannya karena masalah mental yang menyebalkan. Ia menemukan dirinya dalam pelukan Shouyou, dua tangan kecil itu mengungkungnya dalam kehangatan. Ia mengulur-ulur waktu, enggan meninggalkan mimpinya yang indah dan kembali pada kenyataan. Akan tetapi ketika matanya terbuka, ia tidak memejamkannya lagi.
Shouyou.
Lelaki itu bukan mimpi, riap rambut oranyenya tidak bisa menipu.
Kei beringsut, menggerakkan kepalanya, dan makin merapat. Sedang Shouyou yang mulai terjaga karena guncangan-guncangan kecil di tubuhnya, hanya bergeming. Matanya terbuka, tetapi belum sepenuhnya sadar.
Kei menyapu bibir Shouyou yang lembut, membisikan ucapan selamat pagi di sela ciumannya. Sekarang wajah Shouyou terbenam di leher Kei. Shouyou dapat merasakan denyut nadi Kei di pipinya, bakal janggut lelaki itu yang samar-samar menusuk dahinya, serta lengan Kei yang memeluk erat pinggulnya. Sesekali Kei menaikkan tangannya ke bokong Shouyou, dan di detik berikutnya ia akan mendapatkan tepisan keras di punggung tangan.
"Jadi pulang hari ini?" tanya Kei dengan suara serak, tenggorokannya kering ketika bangun.
Shouyou menggisilkan wajahnya, "Uh-huh."
"Benar-benar tidak bisa diperpanjang?"
"Kalau aku ini seorang pekerja kantoran, mungkin bisa. Masalahnya … masa depan Jepang ada padaku 'kan."
Kei selalu suka celetukan-celetukan yang keluar dari mulut Shouyou; tak terduga tetapi cerdas dengan caranya sendiri. Dengan Shouyou di sampingnya, kamar tidur Kei terasa jauh lebih hangat dan berkali-kali lipat lebih menyenangkan ketimbang ruang observatori botani di pusat antariksa manapun.
"Akan kuantar sampai ke stasiun."
"Tidak usah, kau selesaikan terapimu saja."
"I insist."
"Aku baru tahu kau baik seperti ini." Shouyou memagut bibir Kei mesra. " … atau kau cuma baik padaku saja?"
"Narsis. Siapa bilang? Namanya juga tamu, harus kuantar dong."
"Kau pasti akan merindukan bayaran uang sewamu."
"Hmm … mungkin."
"Jadi pelihara anjing?"
"Tidak tahu, tapi kalau jadi pasti kuberitahu."
"Mandi sana," Shouyou menepuk bokongnya.
Kei pura-pura membersut, "Bagaimana mungkin kau menepuk bokongku tapi aku tidak boleh menyentuh bokongmu,"
Shouyou menurunkan selimut dan berkata, "Karena niatmu jelek." Ia mengambil dua buah cangkir bekas minum teh kemarin malam, hendak membawanya ke dapur.
"Dan niatmu bagus? Itu namanya tetap pelecehan seksual."
"Alah, aku tahu kau menyukainya."
Kei bangkit dari tempat tidurnya, mengempaskan selimut dan berjalan—setengah berlari—mengejar Shouyou seperti serigala yang mengincar buruan. Tangannya terulur dan menjawil bokong Shouyou sambil tersenyum menyeringai.
Shouyou hampir-hampiran menjatuhkan dua cangkir itu ke lantai. Sejurus kemudian ia berbalik dan memukul bahu Kei keras-keras sampai bunyinya terdengar di udara. "Dasar cabul!"
Tapi Kei hanya tertawa, ia baru tahu kalau rasa sakit bisa didapat dari sesuatu yang menyenangkan.
Kei ingin berjingkat keluar dari ruang pengobatan—dadakan—di pusat antariksa ketika melihat Akiteru dan kawan-kawannya menyiapkan baju pemadam kebakaran dan pesawat bermoncong dinosaurus—yang rupanya masih ada di sana.
"Kei, apa kau siap dengan terapi level dua?" seru Akiteru semangat.
Kei ingin menaiki orion dan meledakkan dirinya di stratosfer.
Peluh membanjiri Shouyou ketika ia menyelesaikan putaran kedua puluhnya di tes lari. Ia menempati urutan ke-enam dari dua belas orang yang berlari bersamanya, tidak terlalu buruk. Shouyou mengelak pada batinnya, jika ia punya tungkai sepanjang Kei, lapangan basket ini pasti sudah ia kelilingi sebanyak lima puluh kali dalam waktu dua puluh menit.
"Semuanya berkumpul!" seorang lelaki dari panitia penyeleksian berteriak setelah meniup peluit panjang persis wasit sepak bola. Ia bertubuh tambun dan keringat lebih banyak keluar dari tubuhnya kendati tidak berlari. Di lehernya mengalung sebuah peluit yang nampak lembap karena air liur, dan yang menarik perhatian Shouyou adalah topinya. Topi itu memiliki logo JAXA yang dibordir di sisi kiri. Mengingat lokasi kampus ini berdekatan dengan pusat antariksa Jepang, tentunya bukan hal yang mengejutkan. Ayolah, merchandise mengenai antariksa nyaris bisa ditemui di tiap ruas jalan.
Lelaki itu memegang sebuah papan, menghitung jumlah peserta seolah-olah mereka akan hilang ketika lari mengelilingi lapangan basket di gedung olahraga tertutup.
"Saya mengerti jika Anda sudah mengharapkan hasil seleksi keluar hari ini, tetapi perlu diketahui bahwa hal tersebut membutuhkan waktu panjang. Oleh karena itu, pengumuman kelulusan akan kami unggah di situs resmi universitas dan nanti Anda bisa mengunduhnya secara mandiri di rumah masing-masing. Terima kasih atas partisipasinya selama tiga hari ini, saya doakan yang terbaik bagi Anda sekalian." Ia membungkukkan badan, peluitnya bergelantungan. Seluruh peserta memberikan tepuk tangan dan senyum lelah.
Tes praktik telah selesai. Saatnya untuk pulang ke rumah. Saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kei—untuk sementara, semoga.
Shouyou nyaris mengeluarkan tawa yang melengking saat ia mendapati sebuah ponsel khusus anak-anak tersimpan di saku ranselnya. Ada nomor polisi setempat dan juga Kei yang tersimpan di sana. Shouyou berjalan ke luar gedung, ponsel tertempel di telinga kanan, dan ia menghubungi Kei.
"Sudah selesai?" tanya Kei tanpa ba-bi-bu.
"Sudah. Kau?"
"Sebentar lagi sampai. Tunggu di situ, bye."
"B-bye?" Shouyou menarik ponsel kecil itu menjauh, lalu memandanginya dengan alis bertaut. Kei terdengar seperti orang yang kehabisan napas—laiknya seluruh peserta tes praktik yang baru menuntaskan kegiatan gimnastik beberapa jam yang lalu.
Shouyou mengedarkan pandangan, menemukan sebuah tempat yang cocok dijadikan sebagai area penungguan. Ia duduk dan menaruh dua tangan di atas paha, sesaat menautkannya dan meremas jemarinya sendiri. Waktu memang berjalan dengan begitu cepat. Tanpa ia sadari, hampir lima hari sudah dilaluinya di Tsukuba dan hari ini ia akan kembali ke Torono.
Decit ban sepeda membuat lamunan Shouyou menguap. Kei tiba di hadapannya dengan napas terengah dan keringat bak mengucur dari tiap helaian rambutnya. Ia masih mengenakan seragam biru JAXA yang terlihat panas bahkan di cuaca dingin begini. Mata Shouyou membulat, lalu ia tertawa. "Kau bawa sepeda?"
"Pinjam punya teman kantor." Jawab Kei, ia mendengus. "Ayo, kuantar ke stasiun."
"Naik ini?"
"Memangnya kau mau naik apa? Porsche? Sepeda baik untuk lingkungan, tahu."
Shouyou menaiki jok belakang sembari terbahak. Ketika ia duduk di sana, rasanya punggung Kei menjadi lebih tinggi. Ia bahkan sulit melihat kumparan arah rambut Kei dari joknya.
"Pegangan, nanti jatuh."
Shouyou melingkarkan lengannya di pinggang Kei, namun lelaki itu malah menggerutu. "Maksudku pegang tepian joknya! Jangan pinggangku, geli!"
"Aku 'kan tidak tahu! Lagipula lebih aman kalau pegang pinggang begini."
"Jangan pegang pinggangku! Nanti aku jatuh!"
"Iya deh … iya …" Shouyou berkata dengan nada mencemooh, mengirimkan kerucutan pada bibir Kei. "Kenapa kau harus kebut-kebutan sih? Aku tidak akan ketinggalan kereta juga kok."
Kei mengayuh sepedanya semakin cepat ketika mereka melalui sedikit tanjakan yang mengarah ke stasiun kereta api bawah tanah. Shouyou mengerutkan wajah ketika tubuh Kei mulai menguarkan aroma keringat, ia perlu usaha ekstra untuk memaksa Kei menggunakan produk deodoran semprot yang lebih awet.
Kei berkata dengan napas yang putus-putus, "Ah- masalahnya aku masih ada urusan di kantor."
"Ya ampun …" Shouyou mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. "Kalau begitu, kenapa kau repot-repot mengantarku segala? Aku bisa pergi sendiri kok,"
"Nanti kau dijambret lagi."
"Oh, ayolah. Memang apa lagi yang bisa dijambret dariku selain pakaian kotor?"
"Yah … siapa tahu. Hitung-hitung latihan juga."
"Latihan apa? Gowes sepeda?"
"Ujian astronot."
Shouyou mengguncang pinggang Kei senang, si kepala pirang hampir kehilangan keseimbangannya di atas sadel. Ia menyuruh Shouyou untuk berhenti memegangi pinggangnya dengan hardikan keras, tetapi Shouyou hanya tertawa. "Aku senang." Katanya dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan tapi Kei bisa mendengarnya.
"Kenapa?"
"Karena kau mau ikut ujian astronot!"
Kei tidak menjawab, suara rantai sepedanya mengisi keheningan. Ketika ia sudah melihat jalan menuju stasiun kereta bawah tanah, kayuhannya melambat. Shouyou melompat turun sedang Kei membawa sepedanya menuruni tangga. Shouyou memberinya tatapan yang seolah berkata apa-kau-serius? Dan Kei membalasnya dengan kata-kata, "Kenapa?"
"Kau tidak harus mengantarku sampai bawah juga. Aku 'kan bukan anak kecil."
Kei tersenyum mencemooh, "Iya ya? Aku lupa, soalnya kau mirip dengan anak TK. Pendek."
"Kurang ajar." Shouyou merutuk.
Setelah saling sindir dengan kalimat-kalimat menggelikan dari mulut masing-masing, Kei dan Shouyou berdiri dekat pintu kereta api. Menunggu sebuah kapsul panjang melaju di hadapan mereka, membukakan pintu secara otomatis, membiarkan manusia-manusia di dalamnya keluar terlebih dulu sebelum Shouyou melangkah masuk. Kei memegangi sepedanya dengan kedua tangan sedang Shouyou tetap menautkan tangannya di lekuk siku Kei.
"Kau yakin … kalau astronot adalah posisi yang tepat untukku?" tanya Kei tiba-tiba, matanya menerawang tiap tulisan yang tertempel di dinding stasiun.
"Tentu saja! Kau pintar dan kurasa jadi astronot itu keren."
"Kau ingin aku jadi astronot?"
"Bukannya itu cita-citamu?"
"Iya."
"Rasanya menyenangkan jika melihat orang-orang di sekitarku berhasil mewujudkan cita-citanya. Seperti ada rasa bangga meskipun itu adalah mimpi dari orang yang tidak terlalu dekat denganku sekalipun. Tidakkah kau merasa begitu?"
Kei menggeleng, ia tersenyum. "Tidak tahu, aku tidak sebaik dirimu."
Wajah Shouyou sontak merona, semburat merah muda itu tak bisa disangkal. "Mungkin butuh waktu, tapi … ketika saat itu tiba, aku pasti senang."
"Kau yakin?"
"Iya!"
"Sungguh?" kali ini Kei bertanya dengan nada yang lebih dalam dan serius. Sepasang matanya seperti menyelami bagian terkelam dari biji mata Shouyou.
Shouyou hanya memandangnya selama beberapa saat. Mulutnya sedikit terbuka tapi tak ada suara yang dikeluarkannya pun desau napas. Yakin? Apa ia yakin? Apa ia benar-benar tahu apa pekerjaan astronot sebenarnya selain menembus langit? Dengan menjawab 'iya' berulang kali, tidakkah ia membebani kekasihnya itu?
"Keretamu datang," Kei menciumnya sebelum kereta berhenti sempurna di hadapan mereka, Shouyou masih berdiri dengan pikiran yang mengawang-awang. Ciuman yang begitu singkat, basah bibir Kei melekat di sudut bibir Shouyou. "Aku akan berusaha menyelesaikan latihanku dan ikut ujian astronot lagi. Semoga bisa secepatnya."
Shouyou mengangguk dan memberi Kei sebuah senyum perpisahan. Ketika kakinya sudah masuk ke dalam kereta, ia berbalik dan melambaikan sebelah tangan. Beberapa saat kemudian, pintu gerbong tertutup secara otomatis dan kereta mulai melaju kembali. Kei masih berdiri di sana dan terus memandang ke arahnya sampai jarak melenyapkan sosoknya.
Shouyou duduk di sebuah kursi kosong, bersebelahan dengan sepasang suami-istri yang membawa dua anak mereka, satu laki-laki dan satu perempuan, satu terjaga sedang yang lainnya terlelap. Shouyou menekur hingga dagunya nyaris bersentuhan dengan dada. Kedua tangan diletakkan di atas pangkuan dengan rapi.
Dia merasa heran, kenapa lidahnya tiba-tiba sangat kaku ketika hendak menjawab pertanyaan Kei yang terakhir? Padahal pertanyaan itu tak jauh beda dengan pertanyaan sebelumnya, yang membedakan hanya nada dan ekspresi Kei.
Shouyou tak tahu apa yang mendasari pertanyaan-pertanyaan itu. Semula ia berpikir bahwa hal itu terlontar karena panic disorder yang belum mau hengkang dari dalam diri Kei, karena lelaki itu belum cukup percaya diri untuk kembali menapaki jalannya sebagai seorang astronot tapi ketika ia menatap dua matanya itu, ia tahu ada yang lain.
Shouyou sadar, pengetahuannya akan dunia Kei begitu sempit. Dia bahkan tidak tahu apa kepanjangan dari JAXA yang sebenarnya. Shouyou tidak tahu risiko yang akan didapat Kei—atau dirinya—kelak. Shouyou tidak pernah menaruh banyak perhatian pada astronomi sekalipun Jepang termasuk Negara yang memiliki peran penting dalam dunia antariksa internasional. Bukannya tak tertarik, tetapi hal itu tak pernah lewat dalam benaknya. Itu saja.
Kini, saat Shouyou mengamati selongsong besi tempat bergantungnya tangan orang-orang ketika kereta melaju, ia bertanya pada dirinya sendiri: seyakin apa dia pada Kei dan kehidupannya?
Shouyou turun di stasiun kereta yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya, perlahan-lahan mendaki anak tangga menuju permukaan jalan. Hari belum terlalu gelap, lampu-lampu di pinggir jalan belum dinyalakan.
Sepasang muda-mudi menapak di atas trotoar dengan bahu membungkuk demi mengusir angin musim dingin yang berembus. Lusinan mobil yang terparkir di pinggir jalan tertimbun salju dan kaca-kacanya membeku.
Begitu sampai di rumah, Shouyou disambut oleh pelukan adiknya. Gadis itu menanyai Shouyou dengan berbagai pertanyaan, ia menyuruhnya untuk tenang tetapi Natsu masih terus memaksanya untuk bercerita. Ibunya keluar dari pintu dapur dengan riasan berantakan, uban di kepalanya bertambah. Barangkali karena stress kecil pasca mendengar insiden penjambretan yang menimpanya beberapa hari lalu.
Mereka memaksa Shouyou untuk segera memasukkan kakinya ke dalam kotatsu, dan memintanya untuk menceritakan kunjungannya ke Tsukuba kemarin. Maka, kisah membosankan itu pun ia mulai kembali.
Malam itu Shouyou tidak tidur. Alih-alih menyiapkan segudang rencana mengajar yang tak sempat dirampungkannya karena urusan beasiswa, ia malah membuka laman internet dan membaca artikel-artikel mengenai dunia antariksa baik dalam bahasa Jepang maupun bahasa Inggris. Layar laptopnya menampilkan gambar dengan warna-warna ganjil ketika Shouyou iseng mengetik 'nebula' dan juga pemandangan sebuah gurun sunyi ketika ia mengetik 'Jupiter'. Yah, pengetahuannya sebatas astronomi memang hanya sampai nama-nama planet dan satelit yang jumlahnya tak banyak.
Ia membaca profil-profil astronot Jepang di laman JAXA dan menemukan nama Kei dalam jajaran anggota hiatus. Batinnya mencelos, muncul di laman JAXA tentunya sebuah hal yang membanggakan tetapi jika ia ditempatkan seorang diri dalam laman khusus untuk orang-orang hiatus, bagaimana perasaannya? Apa Kei tahu?
Ada banyak istilah yang tidak Shouyou mengerti sekalipun membaca artikel mengenai hal itu berkali-kali. Ia melihat daftar misi yang dimiliki oleh JAXA sedari awal berdiri hingga misi-misi yang masih direncanakan dan belum memiliki kru sama sekali. Saat itu Shouyou berpikir, mungkin Kei akan ikut yang satu ini: seleksi staf ISS. Ia membayangkan Kei dalam pakaian oranye ala astronot, duduk berjajar dengan rekannya dan menenteng sebuah helm sebelum kamera fotografer mencatut wajahnya.
Senyum Shouyou luntur ketika menemukan artikel berjudul List of spaceflight-related accidents and incidents. Ia melihat sekeliling seolah-olah takut jika ada seseorang yang mengintip kegiatannya sekarang. Shouyou tahu bahwa hal-hal seperti ini lazim terjadi, kecelakaan akan selalu terjadi dalam bidang pekerjaan apapun. Bahkan ia pun bisa mengalami cedera saat mencontohkan cara menghalau bola pada murid-muridnya.
Jadi, kecelakaan itu hal umum, bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Setidaknya begitulah yang ingin ia katakana pada dirinya sendiri.
Dari satu artikel berlari ke artikel lainnya, pointer di layar laptopnya terus-terusan menekan tautan yang saling menyambung. Ia membaca tragedi Challenger dan Columbia, peristiwa yang nyaris sudah lewat seabad lalu. Pesawat bermuatan kru penjelajah luar angkasa itu meledak di udara tanpa menyisakan apapun kecuali asap pesawat ulang-alik yang pekat dan jerit pilu keluarga korban.
Ia juga membaca artikel mengenai parasut yang gagal mengembang ketika sebuah pesawat antariksa Rusia hendak mendarat di tengah gurun di daerah Asia tengah. Kejadian yang sama kembali terulang di tahun 2065, kali ini giliran pesawat antariksa Amerika berisikan tiga astronot yang menjadi korban. Ketika parasut mereka gagal mengembang, maka pesawat yang mereka tumpangi pun akan melesat secepat meteor dan meledak begitu mencapai permukaan tanah. Meskipun terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, ketika usianya empat belas tahun, tapi Shouyou tidak pernah mendengar kehebohan mengenai hal ini di lingkungannya.
Para astronot yang hilang di luar angkasa ketika menjalankan misi—yang entah di mana keberadaannya sekarang. Bisa saja mereka tewas karena kehabisan oksigen, tersedot lubang hitam yang menyeramkan, atau mungkinkah mereka didaratkan di sebuah planet baru yang lebih nyaman dari bumi? Shouyou tidak tahu. Ia teringat akan simulasi luar angkasa yang disaksikannya di JAXA tahun lalu. Kendati hanya permainan layar dan efek komputer tapi dirinya terasa benar-benar ada di luar angkasa. Di dunia sesunyi dan sehampa itu, tidakkah para astronot merasa ketakutan?
Shouyou menggigit bibir bawahnya dan mendadak ia merasa takut. Ia jadi memikirkan hal-hal rumit yang sebenarnya tidak akan memberikan pengaruh apa-apa selain kecemasan yang kian memuncak. Bagaimana suasana di dalam pesawat ketika ledakan itu terjadi atau bagaimana perasaan para astronot yang terempas jauh dari orbit bumi.
Selama dua puluh empat tahun usia hidupnya, Shouyou berpikir bahwa pesawat ulang-alik dapat pergi keluar masuk bumi seperti halnya shinkansen yang melaju dari Tokyo ke Kyoto dengan mudah. Shouyou menopang dagu dengan sebelah tangan, apa ini yang melatarbelakangi pertanyaan Kei tadi?
