Chapter 9

Haruno Sakura memacu kakinya uuntuk berlari, kemanapun asal menjauh dari Uchiha Sasuke yang tengah menatap nanar kelopak sakura yang telah gugur di tanah tempatnya berpijak. Berlari sampai paru-parunya terasa sakit dan tidak memperdulikan siapapun yang ditabraknya. Air mata telah menggenang dengan deras tak perduli berapa kalipun Sakura menghapusnya dengan kasar. Tanpa terasa kakinya sendiri telah membawanya keatas, ke atap sekolah itu. Sakura membuka pintu besi itu dengan tergesa kemudian mambanting pintunya dengan kaki dan segera berlari ke pagar kawat jaring yang ada di depannya. Haruno Sakura merasa frustasi, marah, kecewa, rindu dan bingung pada saat yang bersamaan. Dia sendiri tidak menyangka akan bereaksi seperti itu setelah bertahun-tahun dirinya menunggu kepulangan Uchiha Sasuke, tapi, walaupun menyesal dia merasa telah melakukan hal yang benar. Sakura tidak ingin menyakiti Sabaku Gaara, pemuda yang telah menghibur gadis itu dengan caranya sendiri. Bagaimanapun Haruno Sakura telah menjadi milik Sabaku Gaara sekarang, walaupun hatinya masih berada dalam genggaman Uchiha Sasuke, pemuda yang 5 menit lalu baru saja ditamparnya.

Haruno Sakura menangis sesegukan tanpa suara dan semakin mengeratkan cengkramannya di pagar kawat jaring. Menyalurkan rasa frustasinya dengan membentur-benturkan kepalanya dengan pelan di pagar kawat jaring itu. Dia perlu berfikir jernih dan menata ulang perasaannya. Sakura Haruno benar-benar harus menata perasaannya dan memikirkan ekspresi apa yang akan ditunjukkannya pada Uchiha Sasuke saat mereka tidak sengaja bertemu lagi. Tentu saja, tidak sengaja, karena setelah mendapat tamparan tadi Sakura tidak yakin kalau Uchiha Sasuke mau menemuinya lagi. Haruno Sakura pun terlalu takut untuk menghadapi Uchiha Sasuke lagi.

Grep!

Sakura merasakan lengan seseorang tengah melingkari pinggangnya dari belakang. Gadis itu sontak menegang dan hendak berbalik untuk menampar orang itu sebelum kepala merah itu menyandarkan dagunya di bahu Sakura, dan aroma musk yang sangat dikenalnya segera menghujani penciumannya. Pemuda di belakangnya dapat merasakan tubuh gadis yang berada dalam rengkuhannya menjadi relax kembali. Sakura menghembuskan nafas panjang sebelum menyebutkan sebuah nama sembari meletakkan tangannya di atas punggung tangan pemuda yang tengah merengkuhnya.

"Gaara-kun."

"Hei…"

Gaara hendak membalikkan tubuh Sakura tetapi gadis itu menggenggam tangannya semakin erat, untuk beberapa saat mereka tetap berpelukan seperti itu, menyalurkan kehangatan satu sama lain sampa Sabaku Gaara memecah kesunyian yang aneh namun damai diantara mereka.

"Kau menabrakku tadi."

"Benarkah?"

"Mmm, dan kau terlihat…kacau."

Sabaku Gaara hanya mendapat hembusan nafas panjang sebagai balasan.

"Ada masalah? Ada yang mengganggumu?" Gaara kembali mengeratkan pelukannya, berusaka membuat Sakura merasa nyaman dan terlindungi. Sakura menundukkan kepalanya, memperhatikan jari-jari mereka yang sedang bertaut erat.

"Tidak, aku tak apa-apa. Jangan khawatir." Gadis itu mencoba meyakinkan kekasihnya itu dengan suara seraknya setelah menangis. Tentu saja itu tidak bisa menenangkan kekasihnya itu!

"Kau yakin Sakura? Kau bisa cerita padaku." Kali ini Gaara meletakkan dagunya di puncak kepala gadisnya. Sakura benar-benar merasa hangat, namun jantungnya tetap berdebar sebagaimana mestinya, tidak ada detak tambahan yang dirasakannya saat mereka begini dekat. Sakura tersenyum masam karena itu.

"Ya. Aku hanya…mendapat kejutan." Gadis itu menjawab ragu. Dengan lembut Gaara melepaskan pelukan mereka dan membalikkan tubuh Sakura pelan. Sakura Haruno masih saja menunduk, tidak berani menatap balik Turqoise milik kekasihnya itu karena perasaan bersalah pasti akan menyergapnya. Gaara melingkarkan tangan kirinya dipinggang Sakura dan perlahan meraih dagu gadisnya, memaksa Sakura melihat kedalam matanya. Sakura melihatnya, cinta yang begitu besar untuknya dibalik kedua manik milik kekasihnya itu ingin membuatnya menangis lagi dan membenturkan kepalanya lagi ke pagar kawat jaring.

"Apapun yang terjadi Sakura…" Gaara merangkum wajah Sakura dengan kedua tangannya dan menyeka air mata yang masih berbayang di pipi putih gadisnya, "…aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selau melindungimu, karena aku mencintaimu. Dengan sepenuh hatiku." Gaara dapat merasakan tubuh Sakura menegang lagi karena perkataannya itu. Gadisnya malah menutup mata dengan erat, menyembunyikan manik emerald nya dibalik kelopak mata yang bergetar. Bibir gadis itu juga bergetar Gaara terenyuh, gadisnya tampak tersiksa sekali, entah apa yang menyiksanya. Tanpa sadar Gaara memejamkan matanya dan memajukan wajahnya dengan perlahan, hendak meraih bibir gadisnya itu.

Sakura tak mampu balas memandang kedua mata Gaara yang seperti itu akhirnya memilih menutup matanya sendiri, mencoba melindungi dirinya sendiri dari perasaan bersalah. Gadis itu merasakan lelehan air mata yang panas itu lagi di kedua pipinya, matanya terasa panas dan agak sakit karena menangis sambil memejamkan mata, akhirnya Sakura membuka matanya perlahan. Haruno Sakura tertegun saat mendapati wajah Gaara yang mendekat dengan wajahnya perlahan dengan mata terpejam. Haruno Sakura adalah kekasih Sabaku Gaara kan? Harusnya sebuah kecupan adalah hal yang normal diantara sepasang kekasih kan? Sakura mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan hal itu, namun wajah terluka seorang pemuda terlinta cepat dibenaknya. Haruno Sakura tersentak.

Cup!

Kecupan Gaara mendarat di pipi putih Sakura sesaat gadis itu memalingkan wajahnya sembari menggigit bibir. Gaara membuka matanya merlahan dan tertegun melihat gadisnya yang kini terisak tanpa suara dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir deras di pipi gadis itu. Gaara langsung meraih kepala Sakura dan membenamkannya di dadanya dan memeluk Sakura dengan erat, Gaara merasa menyesal karena pemuda itu menyangka telah menakuti gadisnya karena ingin mencium gadisnya itu tanpa persetujuan terlebih dahulu. Sakura tadi memejamkan mata, Gaara salah mengartikan itu sebagai undangan sebuah kecupan. Sebersit rasa kecewa agak hadir dalam hatinya, tapi Sabaku Gaara mengerti. Ia pun berbisik lirih di telinga Haruno Sakura.

"Maafkan aku. Seharusnya aku bertanya dulu padamu. Jika kau memang belum siap tidak apa-apa, aku akan sabar menunggumu. Kumohon jangan takut padaku, aku terlalu mencintaimu."

Haruno Sakura membalas pelukan Gaara dengan erat dan mulai menangis keras di blazer sekolah Gaara seperti pertemuan pertama mereka.

Saat itu, Sakura merasa ingin menenggelamkan dirinya dalam-dalam karena merasa telah menjadi wanita yang jahat. Haruno Sakura bukan takut, tetapi tidak bisa. Haruno Sakura tidak bisa mendapat ciuman dari Sabaku Gaara karena sebagian hatinya masih tidak rela jika ciuman pertamanya di berikan selain kepada Uchiha Sasuke, walaupun dengan kekasihnya sendiri. Kekasih yang begitu baik dan mencintainya tetapi tidak dicintainya.

~oOo~

Uchiha Sasuke masih menatap kosong kelopak sakura yang telah gugur di tanah tempatnya berpijak setelah kepergian Haruno Sakura dari hadapannya. Pipi nya memerah dan terasa agak nyeri karena tamparan Sakura Haruno, tapi kekecewaan yang sangat besar di mata Haruno Sakura lah yang lebih menyakitinya. Saat itu juga dia nyedari bahwa semuanya tidak akan sama lagi, segalanya akan terasa aneh diantara mereka berdua mulai sekarang. Jangankan kembali berteman dekat seperti dulu, mendekatpun dia tidak bisa. Uchiha Sasuke tidak bisa melihat kekecewaan itu lagi di mata Haruno Sakura, dan akhirnya dirinya hanya bisa menghindar dengan cinta yang tersembunyi di hatinya. Ternyata begini ya rasanya ditolak bahkan sebelum kau menyatakan perasaanmu? Pikiran itu membuat Sasuke tersenyum sedih. Uchiha Sasuke yang merupakan presiden direktur sebuah perusahaan besar yang setiap hari mengambil keputusan-keputusan besar dan berani demi menyangkut kelangsungan hidup ribuan pegawainya selalu menjadi pengecut dihadapan Haruno Sakura. Dulu Uchiha Sasuke selalu menghindari perasaannya karena takut persahabatan mereka akan rusak, tapi setelah dia menyerahkan semuanya pada hatinya dan tak bisa kembali lagi, Sasuke takut mencul di hadapan Sakura karena takut gadis itu menolaknya. Sekarang, jangankan ditolak, menyatakan perasaan saja dia belum sempat melakukannya tapi dia sudah dibenci oleh Haruno Sakura.

Tapi apa yang bisa dilakukan Sasuke sekarang? Entahlah, dirinya sendiri tidak yakin. Mencoba lari dan menjauh lagi dari Sakura? Entah dia sanggup melakukannya atau tidak karena cinta itu sudah mengakar kuat di harinya. Uchiha Sasuke benar-benar tak bisa berbalik lagi.

Uchiha Sasuke dapat mendengar bell tanda pelajaran pertama sedang berbunyi. Dengan pandangan tak fokus Sasuke mencoba merasa melagkahkan kakinya menuju koridor locker untuk mengembil buku-buku dan menuju kelas pertamanya. Semuanya masih berputar-putar di benaknya, Sakura menabraknya, dia menarik tangan Sakura, Sakura berteriak padanya, Sakura menamparnya, kekecewaan yang terpancar jelas dari mata Sakura…

"Tuan Uchiha, terlambat lagi di pelajaran pertama eh?" suara Hatake Kakashi mampu menarik sedikit perhatiannya, hanya sedikit.

"Ah, gomen…nasai…" Sasuke menjawab ragu dengan tatapan tak fokus membuat Kakashi mengerutkan keningnya. Pasti perusahaan Uchiha sedang ada masalah makanya presiden direktur kita ini terlihat tak fokus.

"Yah, silahkan duduk di tempatmu. Kuharap besok kau bisa datang tepat waktu." Kakashi mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Sasuke duduk, tapi tak mendapat jawaban apapun dari Tuan Muda Uchiha itu. Sasuke berjalan pelan menuju tempat duduknya sendiri yang ada di sebelah Naruto masih dengan tidak fokus. Uchiha Sasuke bahkan salah meletakkan buku-bukunya yang dikiranya telah diletakkan diatas mejanya malah jatuh kelantai dengan bunyi 'bedebam' yang cukup keras yang mampu menarik seluruh perhatian penghuni kelas itu. Tapi jangankan meminta maaf, ekspresi di wajahnya pun tidak berubah. Tapi orang-orang dapat merasakan ada yang salah dengan pemuda tampan nan berkharisma ini. Pendangannya masih tak fokus, seakan-akan dia mengetahui bahwa dunia akan kiamat tapi hanya dapat menyimpannya sendiri. Kakashi hanya mengerutkan dahi semakin dalam, sedetik kemudian dia menghela nafas panjang, memutuskan untuk tidak menyulitkan Uchiha Sasuke.

"Baiklah….test dadakan!"

~oOo~

Hari ini terasa kosong bagi Sasuke Uchiha. Setiap pargantian pelajaran dia dapat merasakan Namikaze Naruto selalu menarik dirinya menuju kelas berikutnya. Sewaktu istirahat mejanya akan dipeuhi gadis-gadis yang mengerubunginya dan mencoba mengajaknya bicara, tapi sang pangeran Uchiha tetap diam. Sesaat kau pasti berfikir bahwa dia adalah orang yang dingin karena tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh gadis-gadis yang ada di sekelilingnya, tapi jika kau adalah orang yang sangat peka, kau akan menemukan bahwa sang pangeran Uchiha hanya sedang melamun dengan pandangan yang tak fokus.

Sama seperti sekarang. Uchiha Sasuke memandang nanar jalan yang berlalu di luar kaca limosine nya, dan dia menyadari bahwa dirinya telah sampai di rumah nya yang megah saat sopirnya telah membukakan pintu dan memanggilnya berkali-kali untuk keluar dari lamunannya. Ia bahkan lupa membawa tas nya turun jika tidak diingatkan oleh supirnya.

Uchiha Sasuke memasuki rumah dengan ling-lung. Sasuke bahkan tidak menyadari bahwa seorang wanita tengah memeluk lengannya, Sasuke hanya berjalan lurus menuju kamarnya tanpa menghiraukan orang itu. Bukan, Uchiha Sasuke tidak sengaja menghiraukan.

"….gaimana dengan Sakura-chan? Apakah d—"

"benci." Satu kata itu membungkam Uchiha Mikoto yang tengah merangkul lengan putra bungsunya dengan semangat. Ibu Sasuke itu baru menyadari bahwa ada yang tak beres dengan putra nya itu.

"Apa? Kamu kenapa Sasu?" Uchiha Mikoto bertanya lambat-lambat, agak terkejut melihat tatapan putranya itu.

"Dia membenciku. Aku lihat itu di matanya…" Sasuke tersenyum sedih sampai-sampai jika orang lain melihatnya orang itu juga akan melihat hati Uchiha Sasuke yang terkoyak. Uchiha Mikoto segera menarik tengkuk putra bungsu nya itu dan memeluk anaknya dengan erat. Ibu Sasuke sangat mengerti betapa hal itu sangat melukai putranya.

"Oh…Sasuke-kun…" air mata sudah berkumpul di kelopak mata Ibu yang mudah tersentuh itu dan siap turun jika sekali saja dia mengerjapkan matanya. Seakan-akan Mikoto lah yang menggantikan Sasuke menangis. Bagaimana pun tidak ada orang tua yang tidak sedih melihat anaknya menderita. Apalagi anak yang seperti Sasuke. Putra bungsunya itu kuat dan tegar, bahkan saat ayahnya meninggal Sasuke selalu kuat dihadapan Mikoto. Saat itu Sasuke hanya menangis sekali, dan setelah itu anak itu selalu menjadi pegangan bagi Mikoto. Tapi kali ini…tampang Sasuke lebih terluka dibanding orang yang sudah menangis lama sampai terisak-isak. Mikoto tahu bagaimana Sasuke terhadap Sakura selama ini karena Sasuke memang selalu terbuka dan menceritakan apapun pada Ibunya. Mikoto adalah satu-satunya tempat Sasuke berkeluh kesah tentang Sakura, karena memang hanya gadis itu yang bisa membuatnya kacau. Dari dulu.

"Kaa-san…dia terluka karena aku…"

Sasuke tetap membeku di pelukan Ibunya, lalu dengan perlahan, kata-kata itu meluncur saja dari mulutnya.

"Aku…tak akan mendekatinya lagi…"

Setetes air mata jatuh dari mata Uchiha Mikoto tanpa wanita itu repot-repot untuk mengerjapkan mata.

~Tsudzuku~

From Author :

Gomenasaiiiiii! Hontouni gomen-ne, Minna-sama! Fic ini tertunda bukan karena hamba males itau apa, tapi ini murni karena kesalahan notebook hamba! Harddisk nya kena karena hamba download anime terus nonstop tanpa matiin notebooknya…(jadi salah hamba dong ya?) ahh pokoknya hamba minta maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya chap baru bisa keluar :)

Aaah banyak yang mengomentari tentang ending chap akhir, hahahaha. Gimana ya?Belakangan hamba berubah pikiran, endingnya belum pasti SasuSaku loh soalnya hamba rasa kejutan itu akan lebih baik. Bisa aja GaaSaku, atau KibaSaku… kalau hamba kasih tahu akhirnya gak asik dong ya? Itulah enaknya jadi seorang author hehehe pokoknya ikutin aja terus ya fic ini jangan sampe bosan~ *digeplak*

Arigato Gozaimasu bagi Minna-sama yang setia menunggu dan mendukung fic ini, mulai sekarang hamba janji disela kesibukan hamba yang padat sebagai siswi kelas 3 SMA, hamba akan menyempatkan diri untuk update fic ini secepat yang hamba bisa! Oh ya soal review akan hamba jawab lewat PM ya, buat yg gak log in makasih banyak juga karena sudah review hamba sangant menghargai itu tapi bakalan sulit kalau hamba jawab semua. Hamba jawab yang ada pertanyaan nya aja ya? *dicekik*

Reborn : konbanwa Reborn-chan! Aihh lama banget ya ga ketemu jadi kangen nih hehehehe gimana? Suka sama ceritanya? Ini chap baru udah update! *joget* ahh~ belum, hamba belum pernah kejepang, tapi suatu saat pasti ke jepang! tahu karena hamba ini sebenarnya orang jepang….*plak* hahaha enggalah! Hamba suka baca buku, jadi lumayan tahu…hehehe oke, silahkan menikmati chap ini!

Oke, segitu dulu ya dari Hamba, oh ya mohon doakan hamba yang sebentar lagi akan menghadapi UN dan SNMPTN, dan doakan hamba bisa tembus di fak. Sastra Jepang UI ya~ hehehehe! Arigato gozaimasu, Minna-sama!

Eh, terakhir nih, hamba mulai berfikir untuk memindahkan fic ini sementara jadi rated-T dan nanti pas ada lemon baru hamba pindahin ke rate-M, bagaimana menurut Minna-sama? Soalnya fic ini bakalan jadi cerita yang cukup panjang, hamba mau menceritakan semuanya dari awal soalnya hehehehe.

REVIEW ONEGAISHIMASU! Hargailah author yang telah berdarah-darah membuat sebuah fic~ :)

Kampaiii!

Ichikawa Hikaru.