Terima kasih sudah mau membaca dan me-review chapter 9. Terima kasih juga sudah bersedia menunggu kelanjutan KNG. Thank you so muchSelamat membaca chapter 10!

Disclaimer: J. K. Rowling

Title's Idea: Devia Purwanti

Prequel: KNG 1,2,3,4,5,6,7,8 dan sequel-sequelnya.


KISAH NEXT GENERATION 9: ANTARA ADA DAN TIADA

Chapter 10

Tanggal: Kamis, 6 Juli 2023

Waktu: 00.56am

Lokasi: Dermot Resort

Dear Diary,

Terbaring di atas permukaan laut sambil memandang bulan yang sesekali muncul di balik awan gelap adalah pengalaman baru bagiku. Tidak setiap hari kau bisa melakukan hal ini, kan? Rasanya ini sangat menyenangkan dan menyeramkan; menyenangkan karena bulan di atas sana bersinar begitu indah, menyeramkan karena kegelapan—jika bulan menghilang di balik awan—begitu pekat sehingga aku merasa seperti ada hantu laut yang setiap saat bisa muncul dari dalam kegelapan. Kupikir ini hanya ketakutanku sendiri karena tak ada hantu laut, tak ada apa-apa selain aku dan alam sekelilingku. Dari gerakan alam di sekitarku, aku tahu alam tak akan peduli apakah aku sedang sedih atau bahagia, apakah Scorpius bisa melihatku atau tidak, apakah dia akan mati atau tetap hidup; kurasa mereka tak peduli, karena bulan di atas sana tetap bersinar, sekelilingku tetap gelap, gelombang tetap memecah di pantai mengeluarkan suara bergemuruh, dan angin tetap berdesir lembut di sekitarku. Jadi untuk apa aku di sini? Untuk apa aku menjauhkan diri dari Scorpius dan duduk di sini mengasihani diriku sendiri? Bukankah itulah yang diinginkan Black Rose, agar aku menyerah dan melupakan usahaku untuk menyelamatkan Scorpius? Kurasa aku harus kembali ke resort sekarang. Seperti alam yang akan terus melakukan tugasnya tak peduli apapun yang terjadi, aku juga akan tetap berada di samping Scorpius tak peduli apapun yang akan terjadi.

Saat aku melayang kembali ke resort, bulan sedang bersembunyi di balik awan membuat kegelapan menyelimuti bumi. Walaupun demikian, resort tampak terang. Dari beberapa jendela di bangunan utama tampak berkas cahaya putih memancar keluar ke halaman. Di langit-langit beranda sebuah sumber cahaya, yang juga berwarna putih, bersinar sangat terang menerangi seluruh bagian depan bangunan utama. Lampu-lampu taman mengeluarkan sinar redup kekuningan menerangi sudut taman yang gelap. Cahaya putih juga memancar dari jendela bungalow-bungalow di sekitarnya, sementara pendar kebiruan muncul dari kolam renang. Kurasa Mr Keller telah berusaha keras untuk membuat tempat ini terang, entah bagaimana dia menyihir bola-bola lampu itu, karena jelas aku tak melihat tiang dan kabel listrik, aku juga tak mendengar suara generator.

Berbicara tentang suara, aku seperti mendengar suara gerakan halus entah dari mana, namun aku tidak begitu yakin karena gemuruh gelombang yang memecah di pantai dan desiran angin membuat suara lain terdengar samar. Aku mencoba untuk menajamkan pendengaran dan mendengarkan lagi. Memang ada suara. Suara samar yang sepertinya berasal dari halaman depan bangunan utama. Entah apa atau siapa yang menimbulkan suara itu. Bisa apa saja dan bisa siapa saja. Dan pikiranku kembali melayang pada sosok hantu laut berkulit hijau bersisik dengan mata melotot seperti ikan. Nah, apa sih yang kupikirkan?

Bulan kembali muncul dari balik awan, menerangi seluruh kompleks resort, dan aku melihatnya: sesosok tubuh berpakaian putih dengan rambut hitam panjang berantakan meriap-riap ditiup angin sedang bergerak di halaman. Sosok itu tampak begitu indah, begitu aneh dan juga begitu menyeramkan dalam cahaya bulan. Entah mengapa aku mendapat kesan seperti itu, kurasa aku terpengaruh keindahan alam di sekitarku, juga terpengaruh pikiran tentang hantu laut. Tapi siapa dia? Apakah dia hantu? Mungkin saja, karena kemarin Hugo mengatakan bahwa resort ini berhantu. Bisa jadi dia adalah hantu yang dilihat Hugo.

Sosok itu masih bergerak perlahan menyusuri halaman, dan aku terus mendengar suara itu, suara gerakan. Aku tidak yakin hantu bisa bersuara saat melayang, jadi aku mengamati sosok itu dengan lebih teliti dan menyadari bahwa dia tidak melayang, dan suara yang sedang kudengar sekarang adalah suara sepatu olahraga yang bergesekan dengan jalan beton di depan bangunan utama. Omong-omong, hantu tidak memakai sepatu olahraga, bukan?

Setelah memutuskan bahwa dia adalah manusia yang sedang berjalan-jalan di tengah malam tanpa menyisir rambut, aku segera melayang turun mendekatinya. Dan untuk kedua kalinya malam ini aku tak bergerak karena terkejut. Wajah sosok di depanku ini sangat mengerikan. Wajah itu berbedak putih sangat tebal, berpelupuk mata sangat hitam dan bibir yang juga sangat hitam. Dengan seksama aku mengamati wajah itu, dan agak heran ketika menyadari bahwa dia adalah Nerissa yang sedang berlatih menggunakan make-up ala zombie. Tapi apa yang dilakukannya malam-malam begini? Kurasa aku akan segera tahu sebentar lagi.

Nerissa, yang jelas tidak bisa melihatku, berjalan pelan menyusuri jalan setapak mengitari kolam renang menuju bungalow bercat ungu, yang persis terletak di sebelah kiri kolam renang. Aku mengamati bungalow itu dan sadar bahwa ini adalah bungalow yang ditempati Al dan Hugo, dan yang diklaim Nerissa sebagai miliknya. Jadi menurutku Nerissa sedang melakukan sesuatu untuk mendapatkan bungalow ini kembali.

Tapi Nerissa tidak melakukan sesuatu yang aneh di pintu depan, di jendela atau di halaman bungalow, dia hanya mengeluarkan dari balik pakaiannya sebuah tali panjang dengan pengait yang seperti jangkar di ujungnya, lalu melemparkannya ke atas atap seperti laso. Setelah menarik-tarik tali untuk memastikan pengait di ujung tali tertambat dengan sempurna di atap, dia mulai memanjat tali itu.

"Wow!" aku berseru kagum, saat melihatnya memanjat tali dengan mudah seperti sudah biasa melakukannya.

Mengherankan! Dengan Vincent yang overprotected itu sebagai saudara, sebenarnya aku tidak yakin dia bisa memanjat pohon, apalagi tali, tapi dia tiba di atas atap bungalow tanpa kesulitan yang berarti.

Aku melayang menyusulnya dan melihatnya sedang menarik sebuah pegangan dari besi yang sewarna dengan atap, sehingga pegangan itu tak mungkin bisa ditemukan jika tidak dicari dengan teliti. Rupanya pegangan itu adalah pegangan untuk membuka lubang rahasia yang menuju ke ruang bawah atap bungalow, karena sekarang kami sedang memandang sebuah lobang gelap yang cukup besar sebagai jalan masuk bagi orang dewasa. Nerissa melompat masuk, sedangkan aku menembus atap dan masuk ke dalam kegelapan. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klik dan lampu yang terletak di langit-langit atap menyala terang membuatku bisa mengamati interior ruangan ini dengan lebih seksama.

Ruangan ini sempit, berlangit-langit rendah, dan tampak penuh. Ada sebuah kursi panjang nyaman berbantal di tengah ruangan. Di sudut kiri ruangan ada sebuah meja panjang yang diatasnya dipenuhi oleh tabung-tabung berbagai ukuran yang sebagian berisi cairan dan bubuk berbagai warna. Di ujung meja ada sebuah gramofon tua berdebu, yang tampaknya jarang digunakan. Yeah, wajar saja, penyihir muda sekarang sudah tidak lagi menggunakan gramofon untuk mendengarkan lagu, tapi menggunakan pemutar MP3 Muggle yang sudah dimodifikasi dengan sihir oleh para ahli yang menjadi anggota Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Seluruh Dunia.

Sesuatu yang membuat keluarga Malfoy yang sudah kaya menjadi semakin kaya adalah selain bekerja untuk Scamandar Research Laboratory, banyak anggota Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Seluruh Dunia yang bekerja di Malfoys Corporation sehingga penemuan teknologi-teknologi sihir terbaru yang berasal dari pemodifikasian teknologi Muggle dikerjakan di laboratorium Research dan Teknologi milik Malfoy.

Selain pemutar MP3 yang sudah dimodifikasi, Malfoys Corporation juga melemparkan ke pasaran barang-barang seperti TV, handphone dan komputer yang sudah dimodifikasi dengan sihir. Tetapi ketiga penemuan itu tidak berhasil menarik perhatian publik sihir, seperti halnya pemutar MP3 itu. Penyihir yang jumlahnya hanya seperdelapan dari seluruh penduduk dunia ini lebih tertarik menyaksikan suatu peristiwa secara langsung, mendengar melalui radio atau membaca melalui koran daripada melalui TV. Penyihir juga lebih menyukai komunikasi ala sihir seperti Patronus, cermin dua arah, atau komunikasi jaringan Floo daripada melalui handphone. Dan penyihir tidak begitu tertarik pada komputer karena penyihir bisa menggunakan Pensieve untuk menyimpan memori; dan jika menggunakan suatu mantra tertentu Pena Bulu dapat menulis lebih cepat daripada keyboard komputer.

Kenyataan ini tidak membuat para anggota Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Seluruh Dunia berkecil hati, mereka masih terus bekeja dengan giat melakukan penelitian-penelitian teknologi sihir tingkat tinggi untuk kenyamanan para penyihir. Dan sebenarnya, apapun yang dilakukan para anggota Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Seluruh Dunia itu bukan urusanku. Aku tidak punya rencana berkarir di bidang teknologi sihir, dan jujur saja, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan setelah lulus Hogwarts. Oke, kita lupakan tentang ketidaktahuanku tentang rencana masa depan, kita kembali pada keadaan ruang bawah atap bungalow ini.

Di sudut kanan ruangan ini, berseberangan dengan meja panjang, ada sebuah lemari yang tingginya sampai ke langit-langit berisi buku-buku yang semuanya berhubungan dengan Satwa Gaib dan Herbologi. Namun, yang lebih menarik perhatianku adalah sebuah akuarium berukuran sedang, berisi enam benda bundar berwarna cerah dan berduri, yang terletak di atas meja kecil di depan kursi panjang. Aku mendekati akuarium itu dan memandang landak-landak laut, yang disebut echinoidea oleh para peneliti dari Scamander Research Laboratory, sedang berenang di dalamnya.

Berbeda dari species echinoidea pada umumnya, echinoidea dalam akuarium ini lebih mirip landak di darat dengan mata melotot seperti ikan dan mulut kecil di bawah hidung yang seperti moncong. Empat kaki mereka berselaput, sedangkan bagian bawah tubuh mereka bersirip. Mereka bergelung, melayang dan berenang sambil sesekali mengeluarkan gelembung udara dari hidung mereka.

Nerissa, yang juga sudah mendekati akuarium, mengulurkan tangan ke dalamnya. Berhati-hati agar jarinya tidak tertusuk duri binatang itu, dia menarik keluar seekor landak laut berwarna ungu cerah dengan kaki-kaki warna putih. Binatang itu diletakkannya di telapak tangannya dan menyentuh hidung binatang itu dengan hidungnya.

"Hai," sapa Nerissa tersenyum pada binatang itu, lalu duduk di lantai berkarpet usang warna cokelat gelap sambil bersandar di kursi panjang. "Kau baik-baik saja, kan? William bilang kau sakit."

Si echinoidea ungu menggaruk hidungnya dengan kedua kaki depannya yang berselaput.

"Kelihatannya kau baik-baik saja," kata Nerissa, mengelus kepala binatang itu dengan ujung jari telunjuknya.

Echinoidea ungu mengangkat kepalanya mengendus udara, lalu mengendus telapak tangan Nerissa sambil mengeluarkan suara mencicit yang sangat halus.

Nerissa tertawa. "Oke, oke, aku akan mengembalikanmu ke akuarium," katanya, lalu melepaskan binatang itu dalam air.

Setelah berada di air lagi, echinoidea ungu berenang cepat sambil menyenggol lima temannya yang berwarna merah, pink, kuning, jingga dan biru.

Nerissa tertawa lagi. "Hei, jangan terlalu bersemangat, kau bisa menyakiti dirimu sendiri."

Si echinoidea ungu tampak tidak peduli, dia berenang mengitari akuarium, sementara teman-temannya mengikutinya dengan gembira. Tampaknya begitu, karena mereka berenang dengan semangat sambil mengeluarkan banyak gelembung dari hidung mereka.

"Williams sudah merawat kalian dengan baik selama aku di Hogwarts," kata Nerissa tersenyum. "Kurasa aku harus memberinya bonus sejumlahGalleon."

Echinoidea kuning, yang sudah bosan berenang berkejaran dengan teman-temannya, menempelkan wajahnya di kaca, menatap Nerissa.

"Halo, kau capek?" tanya Nerissa menempelkan jari telunjuknya dikaca, seolah ingin menyentuh binatang itu.

Echinoidea merah dan biru ikut menempelkan wajah mereka dikaca dan menatap Nerissa.

"Aku tahu apa yang kalian inginkan," kata Nerissa, menatap binatang-binatang itu dengan sedih. "Kalian ingin kembali ke pantai, bukan? Tapi aku sungguh tidak bisa melepaskan kalian di sana sekarang. Kemarin Williams memberitahuku tentang kapal berbendera Scamander Research laboratory, yang belum lama ini, terlihat berlayar di sekitar laut Devon dan teluk Dermot. Kalau ada kapal, pasti ada penyelam-penyelam, dan aku tahu apa yang sedang mereka cari."

Sekarang keenam echinoidea itu menempelkan wajah mereka dikaca untuk memandang Nerissa.

"Kalian aman selama kalian di sini. Aku akan berusaha semampuku untuk melindungi kalian," kata Nerissa lagi. "Tapi aku tidak bisa mengendap di sini setiap malam tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan Ariella sudah mulai curiga. Cara satu-satunya adalah segera menyingkirkan Potter dan Weasley dari bungalow ini."

Aku menggelengkan kepala, ternyata inilah alasan Nerissa bersikeras ingin mendapatkan bungalow ini. Dia memelihara echinoidea dalam tangki di ruang bawah atap bungalow. Tapi bukankah ini ilegal? Bukankah pasal 21 Undang-Undang Perlindungan Satwa Gaib tahun 1980 mengatakan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa gaib yang dilindungi dalam keadaan hidup? Dan echinoidea jenis ini termasuk salah satu dari 105 satwa gaib yang dilindungi. Yah, kurasa kalau Nerissa punya ibu yang berkerja di Depertemen Pelaksanaan Hukum Sihir dan yang pernah bekerja di Depertemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib, dia akan tahu beberapa pasal penting dalam Undang-Undang Hukum Sihir.

Mengalihkan pikiran dari Undang-Undang Hukum Sihir, aku kembali memandang Nerissa yang sekarang sedang menarik keluar sebuah piringan hitam dari laci meja dan memasangnya pada gramofon. Piringan itu berputar perlahan dan beberapa detik kemudian terdengar suara kikik menyeramkan bernada tinggi yang bisa membuat ketakutan siapa saja yang mendengarnya, apalagi di malam hari.

Aku mengangkat alis, mengamati Nerissa yang sedang menyesuaikan volume suara gramofon.

"Al dan Hugo tak akan pergi dari sini hanya karena sesuatu seperti itu," kataku ragu.

Tak mendengar komentarku, dia mengalihkan perhatiannya pada tabung-tabung di atas meja, mengamatinya sebentar, lalu mengambil sebuah tabung berisi cairan yang mengeluarkan pendar cahaya berwarna kehijauan.

"Apakah itu fosfor?" tanyaku mengamati cairan itu dengan seksama. Darimana dia mendapatkannya? Meskipun bukan barang ilegal, tapi fosfor bukanlah salah satu bahan ramuan yang akan dibeli murid Hogwarts di Diagon Alley. Yah, kupikir Uncle Harry harus mengirim SAI dari Maskar Besar Auror untuk mematai-matai Hog's Head dan transaksi apa saja yang terjadi di sana.

Nerissa bersenandung kecil, yang kedengarannya seperti lagu Melody Hati dari Shadow Men, sambil mengoleskan cairan fosfor ke pakaian putih yang dikenakannya sehingga pakaiannya sekarang mengeluarkan pendar kehijauan. Dia mematikan lampu ruangan, dan dalam kegelapan efeknya langsung terlihat penyeramkan, apalagi dengan make-up zombie-nya.

Menakuti Al dan Hugo dengan menjadi zombie ber-fosfor berlatarbelakangkan suara kikikan hantu dari gramofon boleh juga. Tapi aku ragu Al dan Hugo akan ketakutan setengah mati sampai harus meninggalkan bungalow ini. Seperti yang pernah dikatakan Al sebelumnya, bagi penyihir hantu tidaklah begitu menakutkan karena ada devisi di Kementrian Sihir yang mengatur para hantu jika mereka mulai menggganggu manusia.

"Saatnya bersenang-senang dengan Hugo Weasley," kata Nerissa menyeringai, mengeluarkan tali-tali tipis transparan dari laci meja dan mengatur ikatan tali pada beberapa bagian tubuhnya, yaitu pinggang, lengan dan kaki.

Dengan ragu, aku terus mengamatinya mengikat ujung tali pada kaki lemari dan kaki meja.

"Kuharap Mantra Longivitas-Shortivitas yang dipasang William pada tali ini masih berfungsi," gumam Nerissa, menarik salah satu ujung tali yang terikat di tubuhnya membuat tali itu memanjang dan terus memanjang.

"Ya, mantranya masih berfungsi," komentarku, melihatnya tersenyum sambil menggerakkan tali itu dengan lembut sehingga tali itu berhenti memanjang.

Terus tersenyum, dia menggerakkan tali itu sekali lagi dan tali itu menjadi pendek dan pendek sampai pada ukuran semula.

"Siap beraksi!" kata Nerissa tegas pada dirinya sendiri, menyibak karpet usang di bawah kakinya dan menarik sebuah pegangan besi di lantai yang langsung menjadi lubang berukuran sama dengan lubang di atap.

Kikikan mengerikan dari gramofon telah berubah menjadi suara tangisan panjang yang memilukan saat Nerissa melayang turun melewati lubang dengan disangga tali-tali di tubuhnya. Dia tampak seperti seorang akrobat yang sedang melakukan pertunjukan melayang dengan tali.

Aku, yang membayangkan bahwa lubang itu terhubung dengan ruang utama bungalow, terkejut saat menembus lantai. Aku sekarang berada di sebuah kamar tidur yang luas dan sangat mewah. Kemewahan jelas nampak dari desain interior kamar yang kelihatannya mahal dan berkelas. Di sepanjang dinding sebelah kiri ruangan ada jendela-jendela lebar dan tinggi dengan gorden-gorden beludru yang tersingkap memberikan pemandangan seluruh kolam renang yang berpendar kebiruan dalam gelap. Karpet berbulu tebal menutup seluruh lantai. Di ujung lain ruangan ada sebuah perapian besar dengan dua kursi malas empuk di depannya. Lebih jauh di belakang kursi malas, ada sebuah tempat tidur besar berukuran queen size, sementara di bawah tempat tidur ada karpet berbulu lembut yang berhampar sebatas keseluruhan tempat tidur dan kursi malas. Walaupun aku tidak bisa memastikan dengan tepat apa warna pelapis dinding atau apa warna gorden dalam suasana kamar yang remang-remang, dari seprei dan selimutberenda di tempat tidur aku bisa memastikan bahwa kamar ini bernuasa pink atau ungu. Astaga, Hugo tidur di kamar yang sangat girlie? Apa yang akan dikatakan Dad? Untuk sekedar informasi, Hugo, yang adalah seorang shadower (para penggemar Shadow Men menyebut diri mereka), adalah pencinta warna hitam sejati. Dan Mom, yang mengira shadower adalah nama baru Chudley Cannons fanclub, selalu membelikan Hugo baju warna jingga; sementara Grandma Molly, yang tak mempedulikan warna favorit semua orang, selalu menghadiahkan sweater buatan tangan warna merah sebagai hadiah natal, padahal Hugo bukanlah Weasley berambut merah.

Suara desahan nafas tertahan terdengar di antara suara tangisan mengerikan dari gramofon, aku menoleh melihat Nerissa, yang sudah melewati lubang di langit-langit dan kini sedang melayang tepat di atas tempat tidur, sedang memandang Hugo dengan tajam dan tampak kesal. Yah, wajar saja dia kesal, suara tangisan dari gramafon tidak membuat Hugo terbangun. Hugo masih tertidur pulas. Harus kukatakan bahwa salah satu hobi Hugo, selain belajar dan mendengarkan Shadow Men, adalah tidur. Dia biasanya tidur sepuluh jam sehari dan perlu guncangan keras serta teriakan tepat di telinganya untuk membangunkannya.

"Mengapa kau tidur tanpa mengenakan apapun?" tanya Nerissa kesal, sementara aku memutar bola mata, tak percaya. Dia bukannya kesal karena Hugo tak terbangun oleh suara tangisan, tapi kesal karena Hugo tidur hanya mengenakan celana pendek bukannya piyama.

Wajar-wajar saja kalau orang hanya mengenakan celana pendek. Kurasa udara malam ini sangat menggerahkan. Hugo bahkan membiarkan beberapa jendela kamar terbuka untuk menyegarkan kamar yang panas.

Nerissa melayang turun semakin dekat di atas tempat tidur, meraih selimut berenda di ujung ranjang dan menyelimuti Hugo. Dan sekali lagi aku memutar bola mataku. Apa sih yang dilakukannya? Mengapa dia tidak langsung saja membangunkan Hugo dan menakut-nakutinya?

Nerissa yang tampak puas melihat tubuh Hugo tertutup sempurna dari leher sampai kaki, bergerak sedemikian rupa sehingga sekarang dia berbaring di udara beberapa inci di atas Hugo. Dia meniup wajah Hugo yang ada di bawahnya dan berteriak, "PERRGIII!" dengan sangat keras.

Hugo membuka matanya dan menatap wajah zombie Nerissa. Sedetik, dua detik, lima detik berlalu, tapi tak terdengar pekikan kaget atau jeritan ketakukan. Yeah, aku kan sudah bilang Hugo tidak akan takut melihat zombie berfosfor.

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!" bisik Nerissa dengan suara yang sengaja dibuat bergetar agar menakutkan.

Menakutkan juga, sih, apa lagi gramafon di ruang bawah atap sudah tidak lagi mengeluarkan suara tangisan, tapi kikik menyeram yang melengking tinggi.

Hugo menggelengkan kepala, menendang lepas selimut dari tubuhnya, menarik guling dan berbaring miring sambil menutup kepala dengan guling.

Nerissa mendecakkan lidahnya, lalu melakukan gerakan melayang maju mundur dan sesekali berputar-putar sambil terus berbisik menyeramkan, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

Dia melakukan hal itu selama beberapa saat sampai Hugo, yang kesal karena tidurnya terganggu membuka matanya lagi, mengambil bantal dan melemparnya dengan bantal.

Nerissa menghindar sambil tak lupa membisikkan, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

Hugo mengambil bantal lain dan melemparkannya pada Nerissa.

Nerissa menghindar lagi sambil berbisik, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Diam!" gertak Hugo.

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Diam!" gertak Hugo sekali lagi.

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Aku bilang diam!" kata Hugo kesal, melompat berdiri untuk menyambar kaki Nerissa.

Tapi Nerissa dengan cepat menggerakkan ujung tali di pinggangnya sehingga tubuhnya terangkat lebih tinggi, jauh dari jangkauan Hugo. Dan tak lupa dia juga membisikkan, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Diam!"

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Oke, oke!" kata Hugo yang tampak sekali mencoba untuk mengendalikan kemarahannya. "Apa maumu?"

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Kau ingin aku pergi dari sini?"

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Bisakah kau berhenti mengucapkan kata itu!"

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Diam!"

"PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Oh, ya ampun!" Hugo sekarang tampaknya tak mampu untuk berkata apa-apa. Dia hanya memandang Nerissa yang sekali lagi membisikkan, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

"Terserahlah," kata Hugo, lalu kembali berbaring untuk tidur.

Nerissa melayang turun mendekati Hugo sambil berbisik, "PerrgiiPerrgiiPerrgii!"

Hugo membuka matanya memandang Nerissa selama beberapa saat, lalu bergerak untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur.

Nerissa juga mengamati Hugo, berlama-lama pada bagian atas tubuhnya yang terbuka, lalu menghembuskan nafas kesal. Aku yakin sekali dia ingin mengambil selimut dan melemparkannya pada Hugo.

"Kau ingin aku pergi dari sini, tapi aku tak bisa," kata Hugo setelah beberapa saat. "Tak ada lagi bungalow yang kosong… Mungkin ada kamar kosong di bangunan utama, tapi aku tak mau merepotkan Mr dan Mrs Keller."

Nerissa menggerakkan kepala sedikit dan memandang Hugo dengan kening berkerut.

"Mereka sudah sangat sibuk dengan tamu-tamu yang semuanya memiliki tuntutan sendiri-sendiri… Baru beberapa jam yang lalu aku mendengar keluarga dari Jerman menuntut kertas dinding dan gorden bungalow mereka diganti. Mereka menginginkan kertas dinding bergambar hutan tropis dengan gorden berwarna cerah. Keluarga dari Swiss menuntut dihidangkan makanan seperti yang ada di negara mereka. Dan banyak tamu yang mengkritik pengelolaan hotel yang kurang memuaskan, kurangnya hiburan, dan kurangnya tempat rekreasi. Jadi, aku tidak akan menambah masalah Mr dan Mrs Keller dengan menuntut dipindahkan ke kamar lain."

Kerutan di kening Nerissa semakin bertambah, dan aku tahu dia ingin sekali menanyakan: mengapa kau harus peduli dengan Mr dan Mrs Keller?

"Sebagai hantu kau mungkin tidak memiliki perasaan kemanusiaan, seperti peduli pada orang lain, tak ingin merepotkan orang lain. Tapi sebagai manusia, aku punya perasaan-perasaan itu. Aku tahu betapa Mr dan Mrs Keller telah berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan semua tamu di sini, betapa mereka ingin tamu-tamu puas atas layanan yang mereka berikan. Dan kurasa aku cukup puas… Aku tidak akan meminta kamar lain dan aku tidak akan meminta apapun."

Nerissa masih tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri di sana memandang Hugo.

"Bisakah kau sekarang menghormati keputusanku dan meninggalkanku sendiri?" tanya Hugo, memandang Nerissa dengan tajam selama beberapa saat, lalu bergerak perlahan mendekatinya. "Aku tak akan lama di kamar ini, kok… Setelah seminggu kami semua akan pulang dan menghabiskan sisa liburan di The Burrow. Jadi, kau tidak perlu kuatir."

Nerissa belum melakukan apapun, namun pandangannya telah beralih dari wajah Hugo ke bagian atas tubuhnya yang terbuka. Sementara itu, sesuatu berkilat di mata Hugo, aku tidak tahu apa itu, tapi tampaknya dia sedang merencanakan sesuatu. Dan benar saja, beberapa saat kemudian dia telah menerjang ke arah Nerissa dan menyambar kakinya.

Nerissa tak sempat menghindar. Dia mengeluarkan jeritan tertahan sambil berusaha melepaskan kakinya dengan menendang wajah Hugo menggunakan kakinya yang bebas.

"Kau tidak akan berhasil," kata Hugo, memiringkan kepala, lalu menangkap kaki Nerissa dengan tangannya yang lain.

"Tidak!" jerit Nerissa saat Hugo menariknya ke tempat tidur.

"Semalam aku tidak begitu memperhatikanmu, tapi sekarang aku tahu kau manusia. Aku melihatmu bernafas," kata Hugo, memutar tubuh Nerissa sedemikian rupa membuatnya berbaring telungkup di tempat tidur dan mengunci tangannya di belakang punggung.

Nerissa menjerit kesakitan.

"Diam!" perintah Hugo.

"Lenganku sakit!"

Hugo tak menghiraukannya, tapi memperhatikan tali yang terikat di pinggang, lengan dan kakinya. "Oh, kau turun dari atap dengan tali ini," katanya lalu melepaskan tali-tali itu.

"Ya, ya, aku turun dan melayang dengan tali," jawab Nerissa tampak kesakitan. "Bisakah kau melepaskan lenganku!"

Setelah berhasil melepaskan semua tali dari tubuh Nerissa, Hugo membalikkan tubuh Nerissa, menjauhkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan memandang wajah Nerisssa dengan seksama. "Kau Nerissa Goyle," katanya, tampak tak percaya. "Mengapa kau menakut-nakutiku?"

Nerissa menepiskan tangan Hugo dari tubuhnya dan bergerak untuk duduk. "Aku ingin kau dan Potter pergi dari bungalow ini, karena aku ingin tinggal di sini. Ini bungalow milikku," katanya, tanpa minta maaf karena sudah mengganggu tidur Hugo. Kurasa kata maaf tidak ada dalam kamus perbedaharaan kata Nerissa.

"Kau sudah tahu alasan kami tidak bisa pergi."

"Mengapa kau peduli?" tanya Nerissa. "Maksudku, kau kan tidak mengenal Mr dan Mrs Keller? Kau tidak perlu kasihan pada mereka. Mereka dibayar untuk direpotkan oleh tamu-tamu resort ini."

"Aku memang tidak mengenal mereka, tapi sangat tidak sopan kalau Al dan aku menambah kerepotan mereka dengan meminta dipindahkan ke kamar lain."

Nerissa menggelengkan kepala, lalu bergerak turun dari tempat tidur sambil berkata, "Kurasa aku harus pergi dari sini."

"Kau bersusah payah melakukan hal ini hanya untuk mendapatkan bungalow ini? Tak bisa dipercaya," komentar Hugo, menyusul Nerissa yang sedang berjalan menuju pintu. "Kau bisa saja jatuh dan mematahkan lehermu sendiri."

Nerissa berhenti berjalan dan berbalik memandang Hugo. "Apa pedulimu kalau aku mematahkan leherku sendiri?"

"Bukan apa-apa, aku hanya—" Hugo berhenti bicara karena Nerissa menggelengkan kepala lagi dengan tegas.

"Aku tak ingin memperpanjang masalah ini," katanya. "Aku akan memberimu 80 Galleon untuk tidak menceritakan kejadian malam ini pada siapapun."

Hugo terperangah selama beberapa detik, lalu wajahnya berubah merah padam karena marah. Ya, kurasa Nerissa salah melakukan pendekatan. Hugo tentu tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapapun, jika Nerissa memintanya dengan sopan. Tetapi aku tidak boleh menyalahkan Nerissa, menurutku, dia hanya tahu bahwa semua hal bisa dibereskan dengan Galleon.

Hugo menghela nafas untuk menahan diri dan memicingkan mata memandang Nerissa. Matanya bersinar licik, dan aku tersentak. Aku sadar Hugo adalah Slytherin. Dia tentu sudah pernah mengalami hal-hal seperti ini dan tahu cara-cara mengatasinya.

Nerissa, yang salah mengartikan ekspresi wajah Hugo sebagai penolakan, segera berkata, "Seratus Galleon… Aku akan langsung memberikan padamu besok!"

Hugo menyeringai, lalu menjauhi Nerissa untuk menyalakan lampu kamar. Di dalam cahaya terang, Hugo memandang Nerissa dengan tajam. "Kurasa kakakmu tidak tahu apa yang kaulakukan malam ini… Menurutmu apa yang dilakukannya kalau dia tahu?"

"150 Galleon," kata Nerissa cepat. "Itu tawaran terakhirku."

Hugo mengangkat bahu. "Bagaimana kalau kita membahas masalah ini dengan santai," katanya, lalu mendengus jijik saat memandang wajah Nerissa. "Bisakah kau membersihkan wajahmu? Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi wajahmu sangat mengerikan."

Nerissa mengangkat alisnya, tidak bergerak untuk beberapa waktu. Hugo yang tampaknya tak peduli segera mengenyakkan diri di kursi malas memandang perapian yang kosong.

"Oh, baiklah," kata Nerissa, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Aku memandang Hugo, tak percaya. "Apakah kau benar-benar mempertimbangkan untuk menerima Galleon-nya."

"150 Galleon adalah jumlah yang besar," kata Hugo pelan. "Aku hanya dapat 30 Galleon sebulan."

Hugo dan aku mendapat 30 Galleon sebulan dan 20 Galleon tambahan kalau kami memerlukan sesuatu. Tetapi untuk ukuran Hogwarts, kurasa itu cukup, kami kan tidak perlu membayar akomodasi.

"10 Galleon untuk setiap essai yang kukerjakan bagi anak-anak Slytherin yang malas mengerjakan PR, 20 Galleon untuk essai milik kakak kelas, dan 15 Galleon jika aku harus membantu mereka mempelajari mantra."

Aku tak percaya apa yang baru saja kudengar. Hugo tidak mungkin melakukan hal itu. Itu illegal. Bagaimana kalau para professor tahu apa yang dilakukannya?

"Ah, tapi semua itu belum cukup… Beberapa bahan ramuan harganya sangat mahal, apalagi kalau membelinya secara illegal di Hog's Head."

"Hugo!" aku menjerit tertahan. "Kau tidak mungkin melakukannya! Kau tidak menyusup ke Hog's Head dan membeli bahan ramuan illegal, kan?"

"150 Galleon… Tapi—" Hugo menggelengkan kepala kuat-kuat. "Ini terlalu mudah… Ini bukan gayaku. Aku tidak mau mendapatkan Galleon secara cuma-cuma seperti ini."

Pintu kamar mandi terbuka, Nerissa keluar dengan wajah bersih dan dia juga sudah melepaskan jubah putih berlumur fosfor yang dipakai sebelumnya. Sekarang dia mengenakan celana pendek dan blouse longgar berwarna ungu lembut. Dia mendekati Hugo, melemparkan jubahnya di kaki kursi dan duduk.

"Begitu lebih baik," kata Hugo, setelah mengamati Nerissa selama beberapa detik.

"Apakah kau tidak ingin memakai sesuatu?" Nerissa bertanya memandang bagian atas tubuh Hugo yang masih terbuka.

"Oh." Hugo mengangkat bahu, lalu berjalan menuju lemari untuk mengeluarkan kaos jingga bertuliskan Cudley Cannon.

"Oke," kata Nerissa setelah Hugo duduk kembali dengan pakaian lengkap. "Seperti yang kukatakan tadi, aku akan memberimu 150 Galleon—"

"Bagaimana kau bisa naik ke atap?" sela Hugo.

"Aku memanjat tali, tapi kita tidak akan membahas hal itu, kan? Kita berbicara tentang berapa aku membayarmu untuk tutup mulut."

"Apa yang kaulakukan di loteng?"

Nerissa sekarang memandang Hugo dengan tajam. "Mengapa kita tidak langsung membahas berapa aku membayarmu—"

Nerissa berhenti bicara karena Hugo sudah berdiri dan berjalan menuju tempat tidur.

"Mau kemana?" tanya Nerissa.

Hugo sekarang sudah berdiri di atas tempat tidur dan memandang ke langit-langit kamar yang terbuka sepetak tempat Nerissa turun beberapa saat yang lalu.

"Hei," seru Nerissa seraya cepat-cepat mendekati Hugo.

"Kau pasti menyembunyikan sesuatu di loteng, sampai kau harus bersusah-payah untuk mendapatkan bungalow ini," tebak Hugo, lalu meraih ujung tali yang masih terjuntai dari loteng.

"Jangan ditarik!" jerit Nerissa, segera menyerbu ke arah Hugo.

Nah, kalau dilarang melakukan sesuatu, kita pasti jadi ingin melakukannya. Hugo menarik ujung tali dan dia langsung melayang ke langit-langit ruangan. Dan sebelum Hugo benar-benar lenyap di loteng, Nerissa menyambar kaki Hugo dan ikut tertarik ke atas bersamanya.

Tak mau ditinggal dalam kamar yang kosong, aku segera melayang menembus langit-langit ruangan dan muncul di ruang bawah atap. Nerissa sedang menutup petak lantai yang terbuka dengan bantingan keras, sedangkan Hugo mengamati echinoidea dalam akuarium yang berpendar warna-warni dan merupakan satu-satunya sumber cahaya dalam ruangan yang gelap.

"Apa itu?" tanya Hugo mendekati akuarium.

Nerissa menyalakan lampu, lalu mendekati gramofon untuk menghentikan kikikan hantu yang sejak tadi terdengar.

"Kau memelihara echinoidea dalam akuarium?" Hugo bertanya, tak percaya. "Tapi ini illegal. Pasal 21 Undang-Undang Perlindungan Satwa Gaib mengatakan—"

"200 Galleon," kata Nerissa. "Aku memberimu 200—tidak, 300—300 Galleon jika kau mau mendiamkan masalah ini."

Hugo memandang Nerissa, lalu menggelengkan kepala.

"Oke, 500 Galleon," kata Nerissa, menyerah. "Itu tawaran terakhir, aku tidak bisa membayarmu jika kau memintaku lebih dari 500 Gallleon. Batas pengeluaran yang diijinkan oleh orangtuaku adalah 500 Galleon, jika aku mengeluarkan lebih dari 500, maka orangtua akan bertanya-tanya dan—"

"Aku tidak peduli dengan Galleon-mu," kata Hugo, tak memandang Nerissa, tapi memandang akuarium. "Aku lebih peduli pada keselamatan echinoidea-echinoidea ini."

"Apa maksudmu?" tanya Nerissa, mendekati akuarium. "Mereka baik-baik saja di sini, dan aku sudah memelihara mereka selama setahun."

Hugo memasukkan tangan ke dalam akuarium dan menarik keluar echinoidea berwarna jingga yang memiliki kaki-kaki berwarna hitam.

"Apa yang kaulakukan?"

Hugo mengabaikan Nerissa. Dia meletakkan echinoidea itu di kursi dan mulai memeriksa mata, mulut, hidung, kaki dan kukunya. Dia juga menekan lembut tubuh bagian bawah echinoidea itu, membuat binatang itu mencicit.

"Apa yang terjadi?" tanya Nerissa, kuatir. "Dia baik-baik saja, kan?"

"Kau beri mereka apa sebagai makanan?" tanya Hugo, masih terus memeriksa si echinoidea jingga.

"Rumput laut. William mengambil rumput laut dari teluk dan—Oh ya, echinoidea yang ungu memang sempat sakit beberapa hari yang lalu."

Hugo meletakkan kembali echinoidea jingga dalam akuarium, lalu mengambil air dalam akuarium dan mengendusnya.

"Apakah kau menggunakan air laut?" tanya Hugo.

"Ya. William bilang echinoidea tidak akan bisa hidup jika bukan air laut."

"Menurutku kau harus segera mengembalikan mereka ke pantai," kata Hugo, tegas. "Echinoidea bukan saja tidak bisa hidup jika bukan di air laut, tapi mereka juga tidak bisa hidup jika bukan di habitat mereka. Setahun sudah merupakan waktu yang sangat lama. Dan kurasa mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi."

"Apa maksudmu?" tanya Nerissa, namun ekspresi ketakutan di wajahnya menunjukkan bahwa dia sebenarnya tahu apa yang dibicarakan Hugo.

"Jika kau ingin mereka tetap hidup kau harus mengembalikan mereka ke pantai."

"Tidak…" Nerissa menggelengkan kepala. "Mereka juga tidak akan bisa hidup jika aku mengembalikan mereka ke pantai. Penyelam-penyelam dari Scamander Research laboratory sedang menyusuri wilayah pantai ini. Mereka mencari echinoidea untuk penelitian. Dan—dan kita tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan echinoidea-echinoidea yang tertangkap. Mereka mungkin akan membius, membedah, mencabut—"

"Tidak," Hugo menghentikan Nerissa yang tampaknya sudah tidak bisa mengendalikan kata-katanya. "Mereka tidak mungkin melakukan hal-hal itu."

"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Nerissa. "Tapi tetap saja, aku tidak akan melepaskan mereka di pantai."

"Oh, jadi kau ingin mereka mati dalam akuarium ini?"

"Tidak, mereka tidak akan mati. Mereka baik-baik saja."

"Mereka tidak baik-baik saja," kata Hugo keras, lalu menarik lengan Nerissa agar lebih dekat ke akuarium. "Lihat, mereka sudah akan mati. Gerakan mereka tidak secepat dulu lagi, suhu tubuh mereka menurun dan jantung mereka melemah. Mereka hanya punya waktu beberapa hari lagi."

Nerissa memandang Hugo dengan mata yang melebar ketakutan. "Kau tidak serius, kan?"

"Sangat serius," kata Hugo. "Kau harus mengembalikan mereka ke pantai."

Nerissa kembali memandang echinoidea dalam akuarium. "Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin mereka ditangkap oleh penyelam dari Scamander Research laboratory."

Hugo memandang Nerissa dengan kening berkerut selama beberapa saat, lalu berkata, "Kau kan kenal wilayah pantai ini. Apakah kau tidak tahu lokasi-lokasi tersembunyi yang merupakan habitat echinoidea?"

Nerissa memandang Hugo, terperangah.

"Dengar," kata Hugo. "Kemarin Veronique dan Al sudah menyelam di sekitar teluk Pixy, mereka tidak menemukan apa-apa di sana. Tapi kau—kau pasti tahu, karena itulah kau bisa menangkap dan memelihara mereka, bukan?"

"Aku tidak menangkap mereka," bantah Nerissa, cemberut. "Aku menemukan mereka tersangkut dalam perangkap ikan milik William."

"Oo…" Hugo terdiam selama beberapa detik. "Tapi kau pasti tahu, kan?" dia melanjutkan. "Maksudku kau tahu—atau bisa menduga di mana habitat echinoidea."

Nerissa berpikir sebentar, tapi tidak mengatakan apa yang dipikirkannya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hugo.

"Aku tidak memikirkan apa-apa."

"Jangan bohong!"

"Mengapa aku harus mengatakannya padamu?"

"Ini penting!" kata Hugo. "Kita harus mengembalikan echinoidea ke habitat mereka."

"Tidak ada kita, tapi aku—aku yang akan mengembalikan echinoidea ke habitatnya."

"Dengar," kata Hugo tak sabar. "Veronique sangat ingin tahu di mana habitat mereka. Dia sedang melakukan riset penting tentang duri echinoidea, dan riset ini sangat berguna bagi orang yang digigit manusia serigala."

Nerissa cemberut lagi. "Kau sangat peduli pada Veronugly, ya?"

"Veronugly?" tanya Hugo, bingung. "Tidak, aku tidak peduli pada siapapun. Aku hanya peduli pada ramuan kutukan manusia serigala."

Nerissa terus cemberut. "Aku tidak akan mengatakan apapun padamu."

"Oh ya?" Mata Hugo bersinar licik. "Bukankah kau tadi bersedia membayarku 500 Galleon? Bagaimana kalau kau menukarnya dengan informasi tentang habitat echinoidea?"

Nerissa memandang Hugo sesaat, kemudian tersenyum. "Kurasa sekarang aku tahu sesuatu untuk membuatmu tutup mulut," katanya, lalu berubah serius. "Kalau kau mengatakan apapun pada siapapun tentang kejadian malam ini, aku tidak akan pernah memberitahumu di mana echinoidea-echinoidea itu tinggal."

Hugo mendelik, dan aku tertawa. Yah, kurasa mereka akhirnya punya sesuatu untuk saling mengancam kalau memang perlu.

Sincerely,

Rose Weasley

PS: Saatnya kembali ke kamar Scorpius


Tanggal: Kamis, 6 Juli 2023

Waktu: 10.17 am

Lokasi: Dermot Bay

Dear Diary,

Gerimis yang turun subuh tadi tidak mempengaruhi cuaca pagi ini, langit biru cerah, awan putih berarak riang dan matahari bersinar hangat. Penghuni resort bangun dengan penuh semangat untuk melakukan aktifitas mereka hari ini. Dua keluarga dari Swiss berserta anak-anak mereka telah memesan sandwich belut pada Mrs Keller karena ingin berpiknik ke teluk Pixy, suami istri dari Jerman telah pergi berlayar pagi-pagi sekali, sedangkan dua wanita lanjut usia dari Wales telah keluar ke pantai setelah sarapan dengan membawa alat lukis mereka. Aku tidak melihat saudara-saudaraku beserta pacar-pacar mereka, mungkin mereka sudah berangkat ke desa Muggle untuk melihat pasar rakyat, karena munurut Williams, Muggle di desa sedang mengadakan pasar rakyat. Entah apa yang akan mereka beli di pasar rakyat, mungkin souvenir yang biasa dibeli para turis Muggle.

Vincent, Ariella dan Scorpius sedang bersantai di area kolam renang, berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan waktu hari ini. Mereka tampak gembira, Scorpius juga. Kurasa jejak kehadiranku telah benar-benar hilang dari pikirannya.

"Oh, jangan ke sana lagi," Ariella menolak sambil menggelengkan kepala, saat Scorpius mengatakan ingin mengunjungi teluk Pixy. "Di sana kita hanya akan melihat goa. Tidak ada yang menarik di tempat itu."

"Aku tahu," kata Scorpius, memandang kolam renang. "Entah mengapa aku ingin sekali berada di sana lagi. Aku merasa telah meninggalkan sesuatu di sana."

"Ya, kau meninggalkan jejak kakimu, Scorp," kata Vincent, lalu tertawa, Ariella cemberut dan Scorpius mendelik.

"Seharusnya kau melakukan sesuatu pada pulau itu agar menarik," usul Scorpius pada Vincent dengan galak.

"Ya, aku memang memikirkan beberapa ide untuk perbaikan. Bagaimana kalau terowongan bawah laut yang menghubungkan pulau Pixy dan resort? Pengunjung akan melihat pemandangan laut tropis yang menakjubkan. Atau membangun kapal karam buatan sehingga pengunjung bisa melihat—Oh, oh, bagaimana kalau membangun kastil—"

"Bagaimana kalau hari ini kita berlayar," Ariella mengusulkan dengan cepat, mencegah Vincent memberikan gambaran lisan tentang kastil yang akan dibangunnya di teluk Pixy. "Perahu layarmu masih ada, kan, Vince? Ingat, musim panas sebelumnya kita berlayar mengelilingi teluk Dermot."

"Sebenarnya aku ingin mengusulkan berenang ke pulau karang," kata Scorpius menanggapi Ariella dengan cepat, sebelum Vincent. "Tapi ide Ariella jauh lebih baik." Dia melirik arlogi di tangannya. "Apakah kita masih punya waktu untuk mengelilingi teluk?"

Vincent juga melirik jam tangannya. "Tidak," katanya. "Kita tidak mungkin punya waktu jika ingin kembali sebelum makan malam."

"Kalau begitu kita berlayar ke teluk Pixy saja, bagaimana?" usul Scorpius.

"Jangan teluk Pixy lagi!" Ariella menolak dengan tegas.

"Bagaimana kalau kita berlayar keliling teluk Dermot dengan kapal pesiar?" Vincent mengusulkan. "Kita kan tidak perlu kembali untuk makan malam. Kita bisa membawa juru masak dan pelayanan dari resort, dan kita bisa menginap di kapal selama beberapa hari."

Wajah Ariella berubah cerah. "Ide yang bagus, Vince," katanya. "Kita juga bisa menyelam dan berjemur tanpa diganggu para Potter dan Weasley."

Aku menaikkan alis. Kukira saudara-saudaraku tidak pernah mengganggu orang lain.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Vincent pada Scorpius yang sedang berpikir dengan kening berkerut.

"Tapi kita harus punya ijin," kata Scorpius. "Maksudku, wilayah teluk ini kan perairan Muggle. Mereka mungkin akan bertanya-tanya jika ada kapal pesiar yang berlayar di sekitar teluk. Kita bisa tertangkap polish laut Muggle—"

"Maksudmu polisi laut?" tanyaku.

"—dan kita juga bisa diadili karena melanggar undang-undang kerahasiaan sihir internasional dan—"

"Tenang saja, Scorpius," kata Vincent, tersenyum. "Aku punya ijin, kok."

"Kau punya ijin?" ulang Scorpius. "Bagaimana?"

"Scorpius, kapal pesiar ini benda kepunyaan Muggle. Saat membelinya, Muggle mendaftarkan kepemilikan kapal ini atas namaku dan aku diberi surat ijin berlayar di seluruh perairan Inggris."

"Benarkah?"

"Percayalah, polish laut Muggle—"

"Polisi," ralatku.

"—tidak mungkin menangkap kita. Aku punya ijin berlayar."

"Beres kalau begitu," kata Scorpius. "Dan kurasa baik juga kalau kita menjauh dari resort untuk beberapa hari."

Vincent tersenyum. "Aku akan memeriksa kapalku di dermaga. Ariella, kau bisa menemui Mr Keller untuk menyampaikan rencana kita dan minta dia menyiapkan bahan makanan, juru masak dan pelayan. Oh ya, jangan lupa menyuruh pelayan untuk membereskan barang-barang kita!"

"Baiklah," kata Ariella, lalu memandang Scorpius. "Bisakah kau membangunkan Nerissa dan mengatakan padanya tentang rencana kita?"

"Nerissa masih tidur?" tanya Scorpius heran.

"Ya," jawab Vincent, tampak jengkel. "Aku bertanya-tanya apa yang dilakukannya semalam."

Mereka terdiam selama beberapa saat, lalu Vincent berdiri. "Aku harus memeriksa kapalku," katanya, lalu berjalan meninggalkan area kolam renang.

"Ayo, Scorpius," kata Ariella, dan bersama Scorpius berjalan menuju bangunan utama.

Mereka berpisah di aula depan. Ariella mencari Mr Keller di kantornya, sementara Scorpius naik tangga menuju kamar Nerissa.

Kamar Nerissa bisa dibilang persis sama seperti kamarnya di bungalow. Kejutannya adalah Nerissa bukannya sedang tidur, tapi sedang duduk di kuris malas di depan perapian yang kosong.

"Kupikir kau sedang tidur?" tanya Scorpius yang masuk begitu saja tanpa mengetok pintu.

"Aku sedang berpikir," jawab Nerissa.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Bagaimana caraku membawa echinoidea itu kembali ke habitat mereka?" tanya Nerissa pelan tanpa memandang Scorpius.

"Apa?" tanya Scorpius. "Kau bilang apa?"

Nerissa mendesah bangkit dari kursinya dan memandang Scorpius. "Aku tidak bilang apa-apa… Omong-omong, apa yang kaulakukan di sini?"

"Aku datang untuk menyampaikan rencana hari ini," jawab Scorpius. "Kami akan berlayar dengan kapal pesiar selama beberapa hari dan—"

"Berlayar?"

"—dan kau harus segera menyiapkan diri."

"Berlayar? Mengapa tidak? Aku bisa sekalian membawa mereka dan mengembalikan mereka ke tempat hidup—"

"Apa sih yang kau bicarakan?" tanya Scorpius, menatap Nerissa dengan curiga. "Kau sedang merencanakan sesuatu, ya?"

"Tidak, aku tidak sedang merencanakan apapun," kata Nerissa cepat-cepat. "Oh ya, aku harus pergi... Sampai nanti!"

Dia berjalan keluar kamar meninggalkan Scorpius yang memandangnya dengan bingung bercampur curiga. Tak ingin berlama-lama dalam kamar yang kosong, Scorpius berjalan keluar menuju dermaga.

Dermaga di resort ini adalah sebuah dermaga yang terbuat dari batu bata yang dibeton dengan tiang-tiang penyangga yang besar. Di sana berjejer perahu-perahu kecil, beberapa perahu layar yang disewakan pihak resort, dan yang paling mencolok adalah sebuah kapal pesiar mewah bercat putih disertai cat biru di beberapa tempat. Di lambung kapal tercetak tulisan St Veronica dengan huruf-huruf berwarna biru gelap. Mengherankan memang, mengapa di resort yang luasnya tidak seberapa ini ada dermaga yang bisa melabuhkan sebuah kapal pesiar? Ya, tentunya wilayah ini sudah diperbesar secara sihir oleh Mr Goyle. Apa lagi kalau bukan itu? Dan yang lebih mengherankan adalah Al yang berdiri di dekat kapal dengan mengenakan kacamata hitam, kemeja biru muda yang tidak dikancing dengan sempurna, celana pendek berwarna gelap dan sandal. Entah apa yang dilakukannya di sana. Kupikir dia sudah pergi ke pasar rakyat Muggle bersama Victoire dan yang lain.

"Apa yang kaulakukan di sini, Potter?" tanya Scorpius setelah tiba di dekat Al.

"Aku menunggu Veronique," jawab Al datar.

"Menunggu Veronica?" ulang Scorpius. "Mengapa kau menunggunya di sini?"

"Sebenarnya, Malfoy, hari ini rencana kami adalah menyelam di sebelah utara teluk Pixy mencari echinoidea. Dan saat akan naik ke perahu Goyle datang, mengajak Veronique untuk melihat-lihat kapal pesiarnya, lalu aku, yang tidak tertarik untuk melihat kapal pesiar siapa pun, memutuskan untuk menunggunya di sini."

"Tidak tertarik, atau tidak diajak?" tanya Scorpius, menyeringai.

Al balas menyeringai. "Sungguh, Malfoy, aku tidak suka berlayar. Aku lebih suka terbang.

Scorpius menyeringai lagi, lalu mengalihkan pandangan ke laut lepas

"Jelas sekali, bukan?" kata Al tiba-tiba. "Dia menamai kapal ini dengan St Veronica."

"Apa?" Scorpius mengalihkan pandangannya kembali pada Al.

"Aku bilang Goyle menamai kapal ini Veronica."

"Oo…" Hanya itu bisa dikatakan Scorpius sambil menatap lambung kapal di mana tertulis St Veronica.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Al.

"Bagaimana denganku, apa?" tanya Scorpius.

"Veronique tunanganmu, kan?"

"Ya, dia tunanganku, lalu?"

Al memandang Scorpius, lalu menggelengkan kepala. "Tentunya itu bukan urusanku," katanya, kembali memandang lautan.

"Aku tahu apa yang sedang kau isyarat, kan, Potter," kata Scorpius. "Dan kau benar, itu bukan urusanmu…"

Al mengangkat bahu, dan keduanya terdiam memandang lautan sampai Vincent dan Veronica muncul dari ujung tangga kapal dan turun menuju mereka.

"Al, interior kapal ini benar-benar keren," kata Veronica. "Harusnya kau ikut melihatnya bersamaku."

Al hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"Aku secara khusus telah meminta seorang desainer interior dari Moscow untuk mendesain ruang dalamnya dengan gaya kontemporer Rusia," kata Vincent. "Kau suka?"

"Tak usah ditanya lagi, Vince," kata Veronica. "Aku suka kapal ini. Andai saja orangtuaku membelikanku sebuah kapal pesiar, aku pasti tidak akan menghabiskan liburan musim panasku di rumah. Aku mungkin akan berkeliling dunia."

"Hei, bagaimana kalau kau ikut berlayar bersama kami selama beberapa hari?" usul Vincent tiba-tiba, lalu memandang Scorpius. "Bagaimana, Scorp, kau kan tidak mungkin meninggalkan tunanganmu di sini sementara kita berlayar, bukan?"

"Yah, kurasa itu ide yang bagus," kata Scorpius, lalu memandang Veronica. "Mau ikut berlayar bersama kami?"

"Entahlah," kata Veronica ragu. "Hari ini Al dan aku akan menyelam."

"Kau kan bisa menyelam dari kapal," kata Vincent. "Dan kau juga bisa menyelam di malam hari tanpa kuatir."

"Oke juga sih," kata Veronica, lalu memandang Al. "Bagaimana menurutmu?"

"Kalau kau ingin pergi, pergi saja," kata Al, tersenyum pada Veronica. "Jangan kuatirkan aku!"

"Tapi, aku tidak mungkin pergi begitu saja tanpamu," kata Veronica. "Maksudku kita sudah berjanji untuk menyelam bersama, dan kita sudah menyusun rencana-rencana. Tidak mungkin aku mengabaikanmu, kan? Ayolah, Al, ikutlah berlayar bersama kami!"

Vincent dan Scorpius bertukar pandang, tak percaya. Mereka rupanya sangat tidak setuju Veronica mengajak Al.

"Veronica, kami mengajakmu, bukan mengajak Potter," kata Scorpius.

Veronica memandang Scorpius. "Kalau kalian mengajakku, kalian harus mengajak Al. Aku tidak mungkin meninggalkan temanku di sini, sementara aku berlayar bersama kalian. Dan namaku Veronique."

"Veronica, dengar—" Scorpius mulai, tapi Veronica memandang Vincent sambil berkata, "Maaf, Vince, kurasa aku tidak bisa berlayar bersama kalian!"

"Oh, ayolah!" Vincent sekarang tampak benar-benar kesal. Dia memandang Al dan bertanya, "Mau berlayar bersama kami, Potter?"

Scorpius memandangnya tak percaya, sementara aku berpikir bahwa orang akan merelakan apapun, bahkan kenyamanannya, untuk mendapatkan apa yang dia diinginkan.

Di balik kacamata hitamnya, Al mengangkat alis.

"Ayolah, Al," bujuk Veronica. "Berlayar benar-benar menyenangkan, lho!"

Al menggelengkan kepala. "Maaf, Veronique, aku tidak suka—" Dia berhenti bicara memandang ke kiri; Ariella dan beberapa pegawai resort yang membawa barang-barang berat muncul dari bangunan utama. "—tentu saja," lanjut Al tiba-tiba. "Kurasa tidak ada salahnya berlayar selama beberapa hari."

Veronica tersenyum senang, Scorpius mendelik dan aku memutar bola mataku.

"Bagus sekali, Potter!" bisik Scorpius tajam.

"Kalau kau tahu apanya yang bagus, Malfoy," balas Al dengan sama tajamnya.

"Hai, semua," seru Ariella, berjalan ke arah kami, sementara pegawai-pegawai resort yang bersamanya langsung membawa barang-barang ke dalam kapal.

"Veronique akan ikut berlayar bersama kita," kata Vincent, setelah Ariella tiba di dekatnya.

"Oh ya?" Ariella memandang Veronica dan tersenyum. "Bagus sekali. Jadi bukan hanya akan ada kami berempat dalam kapal yang besar itu."

"Al juga akan ikut bersama kita," kata Veronica.

Ariella memandang Al yang tersenyum padanya, lalu mendelik pada Vincent dan Scorpius.

"Nanti akan kujelaskan," bisik Vincent, sementara Scorpius mengangkat bahu.

"Kalau begitu Al dan aku akan menyiapkan barang-barang kami," kata Veronica, lalu pergi bersama Al.

"Apa-apaan ini?" tanya Ariella pada Vincent, setelah Veronica dan Al jauh dari jarak dengar. "Bagaimana kau bisa mengajak Potter sementara tujuan kita berlayar adalah untuk menghindari mereka?"

"Veronique tidak mau ikut kita jika tidak bersama Potter," jawab Vincent.

"Mengapa kau mengajaknya, kalau begitu?"

"Aku kan tidak mungkin membiarkan Veronique. Dia berlibur di sini karena kita."

"Kurasa aku tidak akan ikut pelayaran ini," kata Ariella.

"Jangan begitu!" kata Scorpius. "Kau kan tidak akan selalu bertemu Potter. Dia akan menyelam bersama Veronica, jadi kau bisa berjemur atau melakukan apapun yang kausukai."

"Ayolah, Ariella, kami tidak mungkin berlayar tanpamu," bujuk Vincent.

"Kalian bisa berlayar tanpa aku," kata Ariella kasar, lalu memandang di kejauhan. "Lihat, sudah banyak yang akan menemani kalian!"

Aku ikut memandang di kejauhan dan melihat Nerissa berlari-lari kecil mendatangi kami, sementara di belakangnya Lily, Hugo, Lysander, dan Black Rose berjalan santai dengan ransel kecil di punggung masing-masing.

"Tidak!" seruku tak percaya. "Tidak mungkin Black Rose!"

Vincent menggertakkan gigi memandang Nerissa. "Anak itu, apa yang dilakukannya?"

"Kurasa malam ini akan ramai," dengus Scorpius.

"Nah, sekarang bagaimana?" tanya Ariella pada Vincent.

"Kita tidak akan mengubah rencana."

"Aku tidak ikut," kata Ariella.

"Mengapa?" tanya Scorpius.

"Kau masih bertanya mengapa?" Ariella bertanya dengan marah.

"Kalau begitu aku juga tidak ikut," kata Scorpius.

Vincent memandang Ariella dan Scorpius dengan marah. "Baik," katanya. "Kalian akan meninggalkan aku bersama Potter dan Weasley… Pergilah! Dan jangan bicara padaku lagi!"

Ariella bertukar pandang dengan Scorpius, sementara Nerissa mendekati kami dengan terengah-engah.

"Mereka memaksa ikut dengan kita," kata Nerissa pada Vincent. "Aku tidak bisa mencegah mereka."

"Tidak apa-apa. Kita berdua akan menghadapi mereka," kata Vincent, memberi pandangan dingin terakhir pada Scorpius dan Ariella, lalu berjalan menuju kapal.

"Apa yang terjadi?" tanya Nerissa memandang Vincent, lalu memandang Scorpius dan Ariella.

"Mengapa kau mengajak mereka?" tanya Ariella, mengabaikan pertanyaan Nerissa.

"Mereka memaksa ikut," jawab Nerissa.

"Kau kan bisa mencegahnya," kata Ariella.

"Aku tidak bisa mencegahnya. Weasley, dia—"

"Dia apa?" tanya Ariella.

Kurasa Hugo mungkin mengancam akan membocorkan rahasia Nerissa jika tidak dijinkan ikut mengembalikan echinoidea ke habitatnya.

"Wah, kapal ini benar-benar hebat!" seru Lily, memandang kapal dengan kagum. Dia dan yang lain baru saja tiba di dekat kami.

Aku menatap tajam pada Black Rose, yang menyeringai samar padaku. Dia berpaling memandang Scorpius, dan aku sangat bersyukur karena Scorpius tidak balas memandangnya.

"Mana Goyle?" tanya Lysander pada Scorpius. "Aku ingin bicara dengannya tentang kami. Kami akan ikut bergabung dalam pelayaran ini."

"Mengapa?" tanya Ariella pada Lysander. "Mengapa kau ikut berlayar bersama kami, Scamander? Kau kan bisa menyewa perahu layar dan membawa Potter dan Weasley berlayar bersamamu."

"Lily Luna ingin berlayar bersama kalian," jawab Lysander. "Lagipula, aku tidak punya surat ijin berlayar." Dia memandang Scorpius. "Jadi, di mana Goyle?"

"Di kapal," jawab Scopius.

Lysander mengangguk, lalu meninggalkan kami.

"Jadi?" Ariella memandang Lily. "Mengapa kau ingin berlayar bersama kami?"

"Hugo yang ingin ikut pelayaran ini," jawab Lily. "Aku sebenarnya tidak suka berlayar, tapi karena Hugo akan meninggalkanku bersama Lysander di resort, aku memilih ikut dengannya."

Ariella sekarang memandang Black Rose dan Hugo dengan pandangan bertanya.

Black Rose mengangkat bahu, memandang Scorpius, lalu Ariella. "Aku tidak mungkin meninggalkan adik-adikku sendirian saja bersama kalian, kan? Aku kan tidak tahu apa saja yang akan kalian lakukan pada mereka."

Aku menyeringai, Ariella mendelik, Scorpius sama sekali tidak peduli, dan Lily menjerit senang.

"Rose!" Lily memeluk Black Rose selama beberapa saat. "Aku senang kau sudah kembali seperti Rose yang dulu, dan aku senang kau mau ikut kami, bukannya ikut Victoire dan yang lainnya ke desa Muggle."

"Iya, iya," kata Black Rose. "Tapi Lysander, Lily, bagaimana dia bisa ikut kita?"

"Kau tahulah Lysander, dia akan ikut kemanapun aku pergi." Lily mendengus, "Kuharap dia mabuk laut!"

Black Rose dan Hugo tertawa, sementara aku mengeluh dalam hati.

Ariella belum melepaskan pandangannya yang tajam pada Hugo. "Bagaimana denganmu, Weasley?"

"Kau seperti interogator Auror saja, Zabini," kata Hugo. "Tapi aku tidak ingin diinterogasi. Aku ingin berlayar, dan tidak ada salahnya bergabung bersama kalian, kan? Kapal ini cukup besar untuk memuat puluhan orang, dan kalau kabin kita berjauhan, kau mungkin tidak akan sadar kami ada di kapal. Jadi, kalau kau tidak menyukai kami, kau bisa mengabaikan kami, dan kami bisa melakukan hal yang sama."

Ariella mendelik.

"Ayolah, sebaiknya kita melihat-lihat kapal," kata Hugo pada Black Rose dan Lily yang mengangguk, lalu berjalan menuju kapal.

Ariella memandang Scorpius dengan jengkel. "Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau diam saja dan tidak membelaku?"

"Kau ingin aku bilang apa?" tanya Scorpius. "Kapal ini milik Vincent dan dia berhak mengundang siapapun yang diinginkannya."

"Tapi dia jelas tidak mengundang Potter dan Weasley," kata Ariella tajam, lalu memandang Nerissa. "Mengapa kau melakukannya?"

"Aku tidak punya pilihan lain," kata Nerissa.

"Oh, sebenarnya kau punya banyak pilihan," bantah Ariella tajam. "Selamat barlayar, kalau begitu!"

Nerissa terbelalak. "Apa maksudmu? Kau—kau tidak ikut berlayar?"

"Tidak," kata Ariella. "Scorpius dan aku akan tinggal di resort."

"Kau bercanda, kan?" Nerissa masih tak percaya. "Kau tidak bisa meninggalkanku sendiri menghadapi Potter dan Weasley."

"Kalian kan sudah mengundang orang-orang yang kalian suka," kata Ariella tajam.

"Tapi—tapi—" Nerissa tampaknya belum bisa menerima kenyataan.

"Tapi kita punya dua pilihan," kata Scorpius pada Ariella. "Naik ke kapal dan berbaikan dengan Vincent, atau kembali ke bangunan utama dan tidak berbicara dengan Vincent selamanya?"

"Oh, entahlah," Ariella tampak bingung. "Aku tidak—"

Dia tidak melanjutkan kata-katanya, karena Veronica dan Al menghampiri mereka dengan wajah ceria.

"Hei, kalian belum naik kapal?" tanya Veronica. "Kupikir Al dan aku akan jadi yang terakhir naik."

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Al. "Tidak ikut berlayar?"

"Tentu saja kami ikut," jawab Ariella, entah mengapa tampak jengkel. "Ayo, Scorpius!"

Keduanya berjalan menuju kapal diikuti oleh Nerissa yang kebingungan.

Veronica mengerutkan kening, memandang Al, lalu bertanya, "Ada apa, sih?"

"Biasalah, Princess-nya lagi bad mood," jawab Al, tersenyum seraya menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di kepalanya.

Aku menggelengkan kepala dan mengikuti mereka melayang menuju kapal.

Sincerely

Rose Weasley

PS: Benar, Princess-nya memang lagi bad mood.


Tanggal: Kamis, 6 Juli 2023

Waktu: 08.00pm

Lokasi: St Veronica

Dear Diary

Benar apa yang dikatakan Veronica, kapal pesiar ini benar-benar keren. Memang sudah selayaknyalah bagi sebuah kapal pesiar mewah buatan Muggle. Bagian dalam kapal ini memang didesain untuk kenyamanan Muggle, misalnya saja fitness center (lengkap dengan alat-alat olahraga Muggle yang digunakan untuk gym), kolam renang outdoor dan indoor dengan water slide, spa, hot tube, perpustakaan, bioskop (Vincent mungkin punya koleksi rekaman pertunjukkan musical Alice Wilkinson), ruang musik (dia mungkin punya rencana membentuk grup band bersama Scorpius dan Ariella dengan Nerissa sebagai vokalis), ruang karaoke (mungkin saja dia punya koleksi piringan hitam Celestina Warbeck dan The Weird Sisters), lapangan basket mini (aku tidak tahu kalau Vincent suka bermain basket), ruang untuk bermain bilyar, bar mini, dan lapangan Quidditch indoor. Kurasa yang terakhir ini ditambahkan Vincent untuk meyakinkan yang lain bahwa kapal ini milik penyihir.

Ruang makan dalam kapal tidak bisa di sebut ruang, karena posisinya terletak di dek yang terbuka menyajikan pemandangan laut dan beratapkan kanopi yang bisa dibuka dan ditutup dengan sihir. Meja-mejanya terdiri dari meja-meja berukuran sedang yang dikelilingi oleh empat kursi di setiap meja. Dari taplak sutra, vas bunga kristal, karpet Persia, dan meja dan kursi yang diukir dengan halus, bisa kukatakan bahwa barang-barang itu berharga di atas 300 Galleon. Wah, sebenarnya siapa yang mau menghabiskan ratusan Galleon untuk perabotan? Belum lagi perabotan di setiap kabin. Kurasa keluarga Goyle memang sangat kaya.

Di dek makan ini sekarang berkumpul semua orang yang ingin makan malam. Vincent, Scorpius dan Lysander mengenakan jubah resmi mewah yang benar-benar sesuai dengan interior dek ini. Ariella, Nerissa dan Veronica memakai gaun malam maha indah dari sutra yang membuat mereka tampak benar-benar cantik. Aku sudah biasa melihat Ariella dan Nerissa tampil cantik, jadi tidak terlalu mengejutkan, yang mengejutkan adalah Veronica. Dia telah melepaskan kaos oblong dan celana komprang Muggle, dan mengenakan gaun malam berwarna pink lembut yang benar-benar sesuai untuknya. Dia juga sudah melepaskan kacamatanya, dan rambutnya yang dipotong sangat pendek tersisir rapi dengan sebuah hiasan berbentuk kupu-kupu bertengger di sisi kiri kepalanya.

"Wah, kau benar-benar cantik!" kata Hugo, memuji Veronica.

Malam ini dia dan Al mengenakan kemeja, celana pendek dan sandal, sementara Black Rose dan Lily mengenakan gaun musim panas murah seharga 15 Galleon yang Lily dan aku beli musim panas tahun lalu.

"Hei, kalian kok biasa-biasa saja?" tanya Veronica, memandang Al, Black Rose, Lily dan Hugo dari atas ke bawah.

"Kami tidak tahu bahwa kita harus mengenakan baju resmi saat makan malam," kata Al.

"Oo…" Veronica sepertinya tidak tahu harus berkata apa. "Er, di keluargaku, kami harus mengenakan pakaian resmi saat makan malam, apalagi kalau sedang ada tamu atau saat kami harus makan malam dengan orang lain. Lagipula—" Dia memandang berkeliling. "—interior ruangan ini mengharuskan kita berpakaian resmi, kan?"

"Iya sih," kata Al, ikut memandang berkeliling. "Sebenarnya aku menginginkan makan malam yang biasa saja. Maksudku kita beramai-ramai duduk di satu meja sambil berebutan sosis atau paha ayam dan—"

Ya, itu gaya makan malam James, Al, Lily, Hugo dan aku kalau orangtua kami sedang pergi.

"—dan di sini kan hanya ada kita, tak ada orang dewasa," lanjut Al. "Mengapa kita tidak melepaskan segala prosedur makan malam dan bersenang-senang makan apapun yang kita mau dan jam berapa pun saat kita sudah lapar."

"Setuju, setuju," kata Lily dan Hugo, sementara Black Rose mengangguk. Kurasa sekarang Black Rose sedang memainkan perannya sebagai aku dengan sempurna.

Veronica memandang mereka dengan ngeri. "Er, kurasa tidak, aku—"

"Silakan memilih tempat duduk, Miss, Mister, karena sebentar lagi makan malam akan disajikan," kata seorang pelayan yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Veronica.

"Baik, baik," kata Veronica agak bingung lalu mengajak Al dan Black Rose untuk duduk bersamanya, sedangkan Lily dan Hugo duduk bersama Lysander yang tanpa basa-basi langsung menarik Lily bersamanya.

Beberapa saat kemudian, pelayanan mengantarkan hidangan pembuka berupa sup jamur yang sangat kental, dilanjutkan dengan hidangan ringan berupa sayuran hijau, diikuti makanan utama berupa lobster merah bersaus, kemudian hidangan salad buah, dan akhirnya makanan penutup yang pilihannya terdiri dari keju, kacang dan cokelat disertai anggur merah, brandy, Wiski api, dan berbagai jenis minuman lain.

Aku duduk di udara di sisi kiri Scorpius, memandangnya menghabiskan cokelat dan anggur merah dalam gelas kaca. Di sisi kanan, Ariella sedang mengomentari penampilan Black Rose, Al, Lily dan Hugo.

"Lihat apa yang mereka pakai?" Ariella mendengus. "Mereka bahkan tidak berusaha untuk untuk tampil rapi."

"Bisa kukatakan," kata Nerissa. "Penampilan bukan hal yang penting bagi mereka."

Ariella mengangguk, sementara Vincent memandang Scorpius.

"Ada apa, Scorp?" tanya Vincent. "Sejak tadi kau diam saja."

Kurasa Vincent telah melupakan pertengkaran yang terjadi sebelum keberangkatan. Dia tampak benar-benar menguatirkan Scorpius.

"Aku hanya tidak ingin bicara," jawab Scorpius.

Ariella juga memandang Scorpius, lalu menambahkan, "Kau bahkan tidak bicara satu kata pun pada Rose Weasley. Biasanya kau tidak melewat satu hari tanpa menghinanya. Kurasa kau pun tidak memandangnya sepanjang hari ini."

"Benarkah?" tanya Scorpius, berpaling untuk memandang Black Rose, lalu menggelengkan kepala. "Mungkin aku hanya tidak ingin bicara dengannya."

"Mengapa?" tanya Ariella heran. "Ini aneh."

"Tidak ada yang aneh," kata Vincent, lalu memandang Scorpius. "Menurutku bagus. Kusarankan kau jangan bergaul dengan Rose Weasley lagi."

Scorpius meneguk anggurnya lagi sambil memandang laut di kejauhan, sementara lagu jazz lembut Sekuali Penuh Cinta, Celestina Warbeckmulai terdengar entah dari mana.

"Dansa, yuk!" ajak Vincent pada Ariella, dan keduanya berjalan menuju lantai dansa, diikuti oleh Lily dan Lysander, Black Rose dan Al, juga Hugo dan Veronica.

Nerissa sekarang cemberut menatap sesuatu di lantai dansa. Entah apa yang dipandangnya.

"Ayo berdansa denganku, Scorpius," ajak Nerissa, masih terus cemberut.

"Aku tidak ingin berdansa," tolak Scorpius.

"Ayolah!" kata Nerissa, yang sekarang sudah berdiri dan menarik tangan Scorpius.

"Tidak," tolak Scorpius lagi, tapi Nerissa terus menarik tangannya sambil berkata, "Ayo… Ayo… Ayo!"

"Baiklah," kata Scorpius, akhirnya. "Tapi lagu berikutnya, oke?"

Lagu berikutnya adalah lagu walts berirama cepat dari The Weird Sisters. Dan Nerissa dengan semangat yang tak terpadamkan melompat-lompat mengikuti musik bersama Scorpius dan beberapa kali tidak sengaja atau mungkin sengaja menyenggol Veronica yang berdansa di dekatnya.

"Kau sengaja melakukannya?" tanya Scorpius, setelah lagu berakhir dan dia juga Nerissa kembali ke tempat duduk mereka.

"Apa?" tanya Nerissa, tidak fokus, sekali lagi, dia sedang cemberut menatap sesuatu di lantai dansa.

"Veronica," kata Scorpius. "Kau sengaja menyenggolnya beberapa kali, kan?"

"Ya, aku memang sengaja," Nerissa mengakui. "Aku tidak menyukainya."

Kurasa sekarang aku tahu apa yang membuatnya terus cemberut.

"Bukan merupakan kejutan kalau begitu," kata Scorpius, lalu mengambil gelas anggurnya yang masih terisi setengah dan berjalan menjauhi dek makan menuju haluan.

Nerissa mendengus, dan aku melayang mengikuti Scorpius.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanyaku, saat Scorpius meletakkan tangannya di pagar haluan sambil menatap jauh ke lautan lepas. "Pemandangannya tidak menarik, ya?" lanjutku, ikut memandang kegelapan. "Lautnya sangat gelap… Yah, tapi langitnya sangat indah. Kau bisa melihat pola bintangnya dengan sangat jelas dan—Lihat, itu rasi bintang Scorpio! Dan itu Sagitarius. Tahukah kau kalau arah mata panah Sagitarius selalu mengarah ke Timur? Er, omong-omong, mengapa orangtuamu menamaimu Scorpius? Zodiakmu bukan Scorpio, kau Capricorn. Ah, mungkin orangtuamu ingin menyesuaikan namamu dengan binatang-binatang mistis. Ayahmu bernama Draco, yang artinya dragon, bukan? Tapi harus kuakui namamu memang aneh, belum pernah ada orang yang menamai anaknya dengan Scorpius. Menurutku—"

Scorpius mendesah dan aku berhenti bicara. Dia memandang gelas anggurnya dengan sedih. "Ada apa sih denganku? Aku merasa sedih dan aku tidak tahu apa yang membuatku sedih."

"Yah," aku mulai dengan ragu. "Itu mungkin karena ada yang kaulupakan. Kau telah melupakanku."

Scorpius mendesah sedih lagi, dan meletakkan tanganku beberapa inci di atas tanganya.

"Jangan mencoba untuk mengingat apapun, kalau itu akan membuatmu sedih," kataku. "Ingatan yang sudah terlupakan biarlah berlalu, kau harus menjalani hidup ini dengan bahagia."

"Scorpius!" suara panggilan yang sangat kukenal terdengar dari belakang kami.

Scorpius dan aku berbalik melihat Black Rose berjalan mendekati kami.

"Ada perlu?" tanya Scorpius, setelah Black Rose tiba di dekatnya.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Black Rose.

"Apapun yang kulakukan di sini bukanlah urusanmu."

Black Rose memandang Scorpius selama beberapa saat, lalu memandangku.

"Katakan apa yang kauinginkan, Weasley? Dan cepat-cepatlah menyingkir dari sini. Entah mengapa aku tidak suka melihatmu, kau menjijikkan!"

Black Rose masih memandangku. "Apa yang terjadi dengannya?"

"Apa?" tanya Scorpius. "Apa yang terjadi? Yang terjadi, Weasley, aku tidak suka padamu dan tak ingin dekat-dekat denganmu."

"Sedang bad mood kukira," jawabku. "Er, bisakah kita bicara di tempat lain? Aku tidak ingin Scorpius mengira aku sudah gila."

Black Rose mengangkat bahu. "Mengapa dia tak menyukaiku? Kukira kalian saling mencintai. Kukira dia akan memperlakukanku seperti dia memperlakukanmu. Mengapa dia tak bicara denganku sepanjang hari, dan bahkan tak memandangku?"

"Kau bicara tentang aku, Weasley?" tanya Scorpius sedikit bingung.

"Karena kau sudah mempelajari semua tentang aku, kau pasti sadar bahwa hubunganku dengannya bukan sesuatu yang romantis. Kami memang sering sekali bertengkar."

"Aku tahu itu, tapi kan tidak seperti itu," kata Black Rose, lalu memandang Scorpius. "Dia tampaknya benar-benar jijik padaku."

"Weasley, kau sedang mencoba untuk membuatku bingung, ya? Berbicara padaku tentang aku seolah aku tak ada di sini? Tapi kau benar, kau menjijikkan dan aku tak tahan melihat wajahmu. Selamat tinggal!" Habis berkata begitu, Scorpius meninggalkan Black Rose dan aku.

"Kau melakukan sesuatu padanya?" tanya Black Rose.

"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa," jawabku. "Kurasa dalam hatinya dia tahu bahwa kau bukan aku."

"Omong kosong," Black Rose tampak tak sabar. "Aku sudah menghapus ingatannya tentang jiwamu. Dia tidak tahu kau ada."

"Entahlah," kataku, mengangkat bahu. "Kau kan yang lebih tahu tentang jiwa dan raga."

"Tapi, dia jijik padaku atau tidak, bukanlah masalah," kata Black Rose. "Dia akan mati besok dan sepenuhnya akan menjadi milik Kematian."

Angin dingin dari laut seolah membekukan tubuhku, membuatku gemetar. Besok adalah waktunya. Scorpius akan menjalani hari terakhirnya besok. Bagaimana aku melindunginya?

Sincerely

Rose Weasley

PS: Andai saja esok tak pernah datang.


Maaf, chapter ini membosankan. Chapter berikutnya terakhir, tetap tunggu, ya!

Review please!

RR :D