"Kau baik-baik saja sayang?" tanya Siwon memapah Kibum ke kamar hotel tempat dimana mereka menginap. Istrinya memang sedikit flu sejak kemarin. Namun ia sudah berjanji akan datang ke negeri tirai bambu ini bersama Kibum.

"Aku tak apa Wonnie, hanya sedikit pusing. Tidur sebentar juga sudah baikan."

"Tidurlah, kalau begitu." Siwon tersenyum kecil sembari menyelimuti tubuh Kibum yang langsung terlelap. Mengecup pelan dahi istri tersayangnya itu Siwon lalu beranjak pelan menjauhi ranjang.

Pria tampan yang masih mengulum senyum itu tertawa kecil membayangkan apa reaksi kedua putranya dengan kehadiran tiba-tiba mereka. Terlebih Siwon tak memberitahu kalau mereka sudah sampai di China. Lagi pula ini bisa menjadi kejutan untuk keduanya.

Pria tampan itu tampak menyamankan tubuhnya di samping istrinya yang tengah terlelap setelah mengganti piyamanya. Memeluk tubuh wanita yang sudah menemaninya selama ini. Wanita hebat yang selalu menjadi satu-satunya dihatinya.

"Hah … kenapa aku merasakan perasaan yang sama saat akan melamarmu dulu, Bummie?" bisik Siwon pelan mengingat siapa calon besannya. Tertawa kecil pria itu mengecup singkat dahi Kibum dan menarik selimut mereka menyamankan diri menunggu sang mentari. Melewatkan makan malam mereka dengan saling berpelukan sepanjang malam.

.

Back to Ours

(Sekuel Key of Heart)

Cast:

EvilDragon aka Shim Changmin & Wu Yi Fan Kris

With MiFan and YunJae

Genre: Family

Rated: T

Waning:

AU, crack pair(?) gila-gilaan, typo, alur cepat, M-Preg, genderswitch (Just for Kimbum & Heechul)

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Berniat meneruskan? silahkan…

.

.

Kalau tidak suka tolong beranjak dan menjauh, Mizu gak mau ngotori fict Mizu dengan flame bodoh di fandom ini, Ok^^

.

.

Anda sudah diperingatkan dear

.

.

"MiFan~ jangan mencoleknya sayang," bujuk YiFan pada aegyanya yang masih betah menguasai meja konter kasir. Meja panjang yang menjadi pembatas café dengan dapur itu memang menjadi jalan untuk menyalurkan makanan. Dan saat ini sudah dikuasai oleh evil cilik yang masih tak mau beranjak.

"Mma … au?" tanya MiFan menjulurkan jari telunjuknya yang berlumuran saos. Membuat YiFan menggeleng harus bagaimana lagi membujuk MiFan yang masih betah mencolek makanan yang seharusnya diberikan pada tamu café mereka. Setidaknya sampai hari ini ada dua puluh orang yang datang dan masih jauh dari permintaan ummanya. Padahal hanya tinggal besok dan bagaimana kalau masih tetap tak cukup.

"Jaejoong hyung, tolong ganti yang baru ne." YiFan berseru kecil pada Jaejoong yang langsung diangguki pemuda cantik yang menjadi koki dadakan mereka di café. Lagi pula masakan Jaejoong tak kalah enak dari masakan restoran yang biasa dikunjunginya.

Menggendong MiFan dengan satu tangannya, YiFan mengambil sepiring takoyaki dari tangan MiFan dan membawa keduanya ke salah satu meja yang kosong. Mendudukan aegya mungil itu dipangkuannya. Tak menyadari kalau apa pun yang sedari tadi dilakukan dua orang itu tak luput dari maniks milik Changmin.

Pria dewasa itu tampak terkekeh pelan dalam balutan maidnya. Tangannya masih asyik membawa piring-piring kotor sembari melirik meja di sudut ruangan. Dimana YiFan dan MiFan duduk.

"Apa yang kau tertawakan, Min?" tanya Yunho dari sela konter dapur melihat Changmin yang seperti orang gila tersenyum dengan wajah aneh.

"Tidak ada Hyung," jawab Changmin pelan. Mulai mencuci beberapa piring kotor tersebut. Maniksnya melihat ke arah ruangan duduk dimana hanya ada dua pelanggan lagi hari ini. Dan sebentar lagi waktunya tutup.

"Ini bawalah ke meja makan YiFan," ujar Jaejoong menyodorkan sepiring nasi kare karena ke arah Changmin sesaat dongsaengnya itu meletakkan piring terakhir. Masakan di café mereka memang mengambil masakan khas dari negeri sakura tersebut.

Jaejoong tertawa pelan saat Changmin menerimanya dengan bingung.

"Jangan berlagak bodoh evil. Hyung tahu kau dari tadi melihat YiFan—entah dia atau takoyaki ditanganya," sindir Jaejoong pelan menepuk kepala Changmin. Terkekeh dengan tambahan suara Yunho yang ikut tertawa. Sebenarnya dari tadi Jaejoong mengintip pola tingkah Changmin sembari melayani pelanggan. Pria direktur MAX Corp. itu selalu melirik dimana pun YiFan berada.

"Awas saja kalian yah Hyung."

Jaejoong dan Yunho hanya tertawa melihat Changmin yang terlihat kesal—ketahuan entah untuk keberapa kali.

"Apa umma dan appa akan datang tepat waktu, Yun?" tanya Jaejoong sembari duduk di salah satu kursi dan menarik tangan Yunho untuk duduk disampingnya. Bersandar pada dada pria yang menjadi suaminya itu.

"Kuharap iya. Dan seharusnya mereka sudah datang hari ini." Yunho menarik napas pelan dengan tangan yang masih bermain di atas kepala Jaejoong. Ia sedikit cemas saat tak bisa menghubungi kedua orang tuanya sejak tadi pagi hingga sekarang.

"Dan kita masih membutuhkan tiga puluh orang untuk besok."

"Tenanglah kurasa Changmin pasti sudah menemukan caranya. Lagi pula rasanya sedikit aneh melihat bocah evil itu tenang-tenang saja. Pasti ada yang sudah dilakukannya."

Jaejoong hanya mengangguk mengiyakan. Memang Changmin terlihat begitu tenang saja seakan ia sudah memecahkan permintaan dari calon mertuanya itu.

"Appa sudah berjanji dan ia pasti akan menepatinya, Joongie. Lagi pula appa dan umma sangat menyanyangi MiFan. Mereka pasti akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan cucunya itu."

.

.

.

"Appa~" MiFan menjulurkan tangannya saat melihat Changmin datang mendekati keduanya. tertawa saaat ia berada di dalam pelukan Changmin dan diangkat tinggi-tinggi ke udara.

"Makanlah dulu hyung. Dari tadi kau belum makan apa-apa kan?" ujar YiFan meminta Changmin menurunkan MiFan yang menggeleng dan malah memeluk erat leher Changmin. YiFan tahu sedari tadi pagi Changmin berusaha mencari pelangggan untuk café mereka walau hanya ada beberapa orang yang tertarik. Itu lebih baik dari pada kemarin tak ada seorang pun.

"Suapi~"

YiFan mendelik mendengar nada mendayu dari bibir yang kini menyeringai padanya. Maniks milik Changmin melirik kedua tangannya yang terpakai menggendong MiFan dan tentu saja ia tak bisa menggunakannya untuk makan—akal licik sebenarnya.

"Berikan MiFan padaku dan kau bisa makan sendiri, Hyung."

"Kau tak akan bisa YiFan. Dari pada membuat MiFan menangis lebih baik kau suapi saja aku. Aaaa~" ujar Changmin sembari membuka mulutnya menunggu YiFan yang mau tak mau terpaksa mengambil makan siang Changmin yang sangat terlambat.

Dengan kaku tangannya mengambil nasi di dalam piring perlahan menyuapi Changmin dengan wajah yang ditahan. Bagaimana tidak kalau Changmin sengaja memperlama gerakan sendok di dalam mulutnya dan baru melepaskannya saat ia puas mentertawakan wajah pucat YiFan.

"Hahahaha … apa kau tak lihat wajahmu sendiri tadi YiFan? Kenapa setakut itu padaku?"

YiFan menggeplak kepala Changmin pelan. Meletakkan piringnya di dekat Changmin dan duduk di bangku di seberang keduanya.

"Hei … hei … aku belum selesai makan YiFan. Apa kau tega membiarkanku kelaparan. Padahal aku sudah bekerja keras hari ini."

YiFan mendengus memalingkan wajahnya. Setidaknya ia tak mau melihat wajah Changmin untuk saat ini. Menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memias dengan denyutan jantung yang meningkat. Memukul kepalanya sendiri saat bayang dimana mereka melakukan saat itu tiba-tiba melintas tapi dimintanya. Mengutuk ingatannya saat melihat wajah Changmin tadi. Padahal ia berpikir sudah melupakannya—dan mereka tak pernah melakukannya lagi sejak saat itu.

"MiFan … lihat umma MiFan jahat sama appa. Tak mau menyuapi appa MiFan yang ganteng ini. Umma jahat ne." Pria berwajah kekanakan itu mengadu pada balita yang kini duduk di atas meja. Balita yang kini menatap sedih wajah appanya.

"Aaa~"

Changmin terkekeh pelan saat MiFan menyodorkan sendok makannya berniat menyuapinya. Dan Changmin menerimanya dengan senang hati. Walau dengan gerakan yang membuat makanan tersebut berceceran kemana-mana.

"Aku tak akan memakanmu YiFan. Jadi bisakah kau duduk di dekat kami daripada sendirian disana?" tanya Changmin pada YiFan dengan santainya tak tahu akibat dari perkataanya. Menepuk sisi disampingnya agar pemuda blonde itu duduk di sana. Tertawa melihat tatapan tajam yang dilayangkan YiFan walau akhirnya YiFan menurutinya.

"Aaaa ma`?" MiFan kembali menyodorkan makanan miliknya pada YiFan yang kini duduk dihadapannya tepat disamping Changmin.

"Aaaa maaa …"

"Umma sudah kenyang, MiFan."

"Aaaaa …"

YiFan menggeleng melihat kekeraskepalaan aegyanya yang masih saja bersikeras memasukan makanan milik Changmin itu ke dalam mulutnya. Berbagi di dalam sendok yang sama.

"Indirect kiss, right?" ujar Changmin tertawa sembari mencuri satu ciuman kecil dari bibir YiFan.

"Jangan lakukan itu lagi Hyung, aku tak mau kau mengotori pikiran polos MiFan dengan ulah mesummu itu," ujar YiFan tanpa menatap ke arah Changmin. Tangannya menarik pelan piring yang berada dipangkuan MiFan. Menjauhkan tangan mungil itu yang hendak mengacak-acak isi nasi kare milik Changmin.

"MiFan cari Jaejoong ahjumma di dapur ne. Minta es krim." YiFan menurunkan MiFan dari atas kursi dan balita imut itu langsung berlari ke arah dapur dengan riangnya.

"Dan kau Hyung. Habiskan makan siangmu."

Maniks Changmin berkedip heran dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Terlebih dengan tangan YiFan yang kini berada tepat di depan bibirnya lengkap dengan nasi miliknya.

"Buka mulutmu hyung. Kau bahkan lebih susah makan dari MiFan," ujar YiFan mendorong sendok tersebut ke dalam mulut Changmin.

Prang

Piring tersebut jatuh ke lantai saat Changmin menarik tangan YiFan dan memerangkap bibir milik YiFan ke dalam ciumannya. Melumat dan menghisap bibir yang pernah dikecapnya habis beberapa waktu yang lalu.

"Uhmmmnppp—"

Sedetik Changmin melepaskan ciuman mereka dan kembali melumat bibir milik YiFan dengan lidahnya yang kini menelusup masuk ke dalam mulut pemuda blonde tersebut hingga desahan samar tertangkap di dalam pendengarannya. Dan Changmin menyukainya. Tak menyadari kalau ada sosok yang kini mendekati keduanya dengan spatula ditangan kirinya.

Plak

"Ya evil mesum! Jangan melakukan hal yang iya-iya di dalam café. Sana naik ke kamar kalian kalau ingin memperkosa umma anakmu itu!"

"Jaejoong hyung?" Changmin melepaskan tangan YiFan dan mengusap kasar sudut bibirnya yang berlumuran saliva entah milik siapa. Changmin menggaruk kepalanya sendiri melihat hyung iparnya sudah berdiri di depan matanya. Maniksnya melirik ke samping dimana YiFan tengah menundukkan kepalanya malu karena kedapatan berciuman di depan umum.

"Apa? Apa kau tak bisa menahan dirimu sendiri? Untung saja tak ada seorang pun lagi di sini," marah Jaejoong mendelik pada Changmin walau ia tertawa di dalam hati melihat tangan keduanya yang kini bertaut di bawah meja. Sepertinya Changmin mencoba menenangkan YiFan yang terlihat terkejut.

"Maafkan aku hyung—aku tak akan—"

"—Sudahlah. Hanya lain kali berhati-hatilah. Pantas saja kau menyuruh MiFan ke dapur," sindir Jaejoong pada Changmin walau sepertinya YiFan terpaksa menunduk lebih dalam karena ia yang meminta MiFan ke dapur walau bukan dengan niat ingin berduaan dengan Changmin.

"Lebih baik kau cari tahu bagaimana cara menghubungi appa dan umma. Yunho tak bisa menghubungi keduanya sejak pagi," ujar Jaejoong sembari berlalu dari keduanya. Tangannya masih membawa spatula yang digunakannya memukul kepala Changmin, "dan kalian masih belum mengumpulkan lima puluh orang pelanggan café juga jangan lupa itu," tambahnya lagi dan menghilang ke dalam dapur.

Buagh

"Aw … kenapa kau menonjokku YiFan?" delik Changmin pada YiFan yang memasang wajah dingin padanya. Changmin tak menyukai saat pemuda itu memasang ekpresi dingin begini.

"Jangan mempermainkanku ahjussi brengsek."

"Siapa yang mempermainkanmu YiFan?"

"Kau."

Changmin menarik napas pelan menahan amarahnya sendiri yang mungkin akan naik kalau harus mengikuti kemarahan YiFan. Rasanya hubungan mereka seperti air laut saja naik dan turun seperti ombak pasang.

"Tenanglah. Besok kupastikan café akan penuh dan kita akan melewati angka yang diminta ummamu. Dan soal orang tuaku, aku yang akan mengurusnya. Jadi kau tak perlu khawatir."

"Terserah. Jangan berbicara padaku sebelum kau menepatinya. Jangan coba-coba untuk menyentuhku lagi. Jika kau tak berhasil pulanglah ke Korea." YiFan mendorong tubuh Changmin dan melewatinya dengan amarah yang masih naik. Mengutuk dirinya sendiri yang selalu saja mudah terbujuk dengan semua tindakan Changmin, 'apa aku semudah itu,' bisik Kris pelan mengingat bagaimana tubuhnya dengan mudah menerima semua perlakuan Changmin. Padahal belum ada sedikit pun ikatan pasti diantara mereka. Bahkan Changmin tak pernah memintanya untuk menjalin hubungan serius—seingatnya.

"Aisshhh anak itu. Apa dia sedang hamil lagi sampai harus moodswing seperti wanita hamil saja," decak Changmin pelan menarik surai gelapnya, 'ah, tapi tak mungkin terlalu cepat bahkan aku hanya melakukannya satu kali.'

Sepertinya seorang Jung Changmin melupakan bagaimana ia bisa membuat seorang Jung MiFan hadir ke dunia ini—hanya dengan satu malam panas.

Changmin mengambil ponsel dari depan saku apron miliknya. Berkali-kali menghubungi nomor orang tuanya namun tak satu pun dari keduanya yang mengangkat panggilannya.

"Orang tua itu … awas saja kalau appa mesum itu malah pergi berbulan madu entah kemana," ujar Changmin mendengus kemudian kembali mendial nomor seseorang.

"…"

"Ne … besok lakukan saja apa yang kuminta paman. Anggap saja ini hadiah kecil dariku, hahaha aku bercanda Paman Han. Sampai besok. Dan terima kasih."

Changmin tersenyum kecil saat satu masalahnya selesai dan tinggal melakukan satu hal lagi. Dan ia tahu dimana bisa menemukan kedua orang tuanya.

"Appa terlalu tua untuk bermain denganku," bisiknya pelan sebelum menampilkan seringaian kebanggaannya.

.

.

.

.

"Wonnie … kenapa kita tidak langsung ke tempat Heechul eonnie?" tanya Kibum saat suaminya malah membawanya ke sebuah jalan dimana tak jauh dari mereka terlihat sebuah maid café.

"Apa Wonnie mau bermain-main di café itu?" tunjuk Kibum tersenyum manis walau di dalam hatinya wanita satu-satunya di keluarga Jung tersebut siap menguliti suaminya tercinta kalau sampai bermain-main dengan gadis-gadis muda di luar sana.

"Hahaha … bukan sayang. Coba lihat," ujar Siwon sembari memberikan teropongnya pada Kibum dan wanita itu sedikit terkejut walau sesaat kemudian wajahnya kembali melembut.

"Benar-benar khas Heechul noona bukan? Aku tak menyangka kalau dia akan melakukanya lagi."

"Iya. Rasanya sedikit nostalgic. Tapi dari siapa Wonnie tahu kalau mereka ada disana?" tanya Kibum bingung seingatnya mereka baru sampai tadi malam dan suaminya itu melarangnya mengaktifkan ponselnya.

"Hankyung hyung mengirimiku email tadi pagi saat aku mengatakan kalau kita sudah datang. Dan aku memintanya untuk tidak memberitahu Heechul noona."

"Kenapa harus mematikan ponsel kalau begitu. Toh pada akhirnya Changmin tetap bisa menemukan kita," ujar Kibum santai sembari menikmati kue kecilnya dengan bersandar pada jok mobil. Tertawa melihat wajah bingung suaminya.

"Apa maksudmu, Bummie?"

"Apa Wonnie lupa kalau Changmin bisa melacak alamat ip dari alamat email milik Wonnie? Jadi percuma saja mematikan ponsel kalau laptopmu hidup tadi pagi. Toh bocah setan itu bisa menemukan dimana tempat terakhir emailmu aktif," jelas Kibum tertawa melihat wajah pucat suaminya. Sepertinya lain kali kalau mau bermain kucing-kucingan dengan anak bungsu mereka harus sedikit lebih licik.

"Aku lupa kalau anak itu otaknya terlalu evil untuk kulawan."

"Jangan mengatai anak sendiri Sayang. Lebih baik kau hidupkan ponselmu daripada Changmin mengerjai laptopmu lagi dari jauh."

Siwon mengangguk. Ia tak mau keusilan Changmin diusia lima belas tahunnya terulang kembali saat ia tak menepati janji berpiknik bersama dan evil Jung itu mengirim ratusan virus ke brangkas file perusahaan. Beruntung virus itu hanya gertakan saja dan saat ia pulang virusnya menghilang.

"Seharusnya aku tak memperkenalkannya pada dunia IT," ujar Siwon terkekeh mengingat ialah yang memperkenalkan Changmin pada bawahannya saat maniks milik Changmin terlihat tertarik pada benda bernama komputer sejak umur tujuh tahun walau pada akhirnya Changmin mengikuti jejak hyungnya membuat perusahaan sendiri.

Tut …

"Ya appa pabbo! Kenapa kau baru mengaktifkan ponselmu?"

"Apa kau mau berbicara dengan ummamu, JUNG—CHANGMIN?"tekan Siwon mengusap telinganya yang berdenging karena teriakan Changmin. Dan disana ia mendengar suara tawa Changmin.

"Maafkan aku appa jangan berikan ponselnya pada umma ne. Tapi bisakah kalian datang lebih cepat ke café kami. Kau tahu cinderella itu sudah membuatku mati kutu dan dia akan kembari. Dan jangan beralasan apa pun karena aku tahu appa dan umma sudah ada di China. Klek."

Tut … tut …

"Dasar bocah kurang ujar," decak Siwon menggeleng pada ulah kurang ajar putranya yang seenak jidatnya mematikan ponsel bahkan ia belum mengatakan apa pun. Kenapa jadi dirinya yang dikejutkan bukan mengejutkan.

"Sudahlah Wonnie. Kau bisa memanggang bocah evil itu nanti. Tapi seprtinya kita harus turun," ujar Kibum saat ia melihat ada mobil yang berhenti tepat di depan café dimana putranya berada. Dan ia tak heran saat melihat sosok kenalannya turun dari sana.

"Ingatkan aku untuk menggantung direktur MAX Corp. di lantai atas perusahaanya ne, Sayang."

.

.

.

"MiFan~"

Seorang wanita cantik di usianya yang tak lagi muda tampak mendorong pintu café yang dulu pernah dikelolanya. Maniksnya mencari sosok cucu kesayangannya dan ia menemukannya. Bibirnya terlihat melengkungkan senyuman saat melihat seorang balita yang tengah membawa sebuah map dan memberikannya pada orang-prang—mengikuti seseorang berpakaian maid di depannya. Namun ia segera mengubah raut wajahnya menjadi angkuh saat melangkahkan kakinya ke arah ruang pribadi yang berada di sebelah kanan. Mengacuhkan dua orang pemuda yang sepertinya tengah mengawasi cucunya.

"YiFan."

YiFan sontak membalikkan tubuhnya saat menemukan wanita yang pernah melahirkannya tengah berdiri di depan pintu kantor café mereka. Ia memang sengaja menunggu kedua orang tuanya karena sejak setengah jam yang lalu. Dan Karena sang cinderella sudah mulai mengancam ria melalui ponselnya. Dan kini sang ibu sudah berada di depannya.

"Apa kalian sudah mengumpulkan lima puluh orang yang mama minta? Café masih terlihat lengang di depan sana?" tanya Heechul sembari menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruangan tersebut. Bibir wanita itu menyeringai melihat wajah pucat putranya.

"Kemana bocah tiang itu? Apa dia sudah kembali ke Korea?" sindir Heechul karena tak menemukan calon menantunya..

"Jangan mengatakan hal buruk seperti itu, Ma. Changmin hyung bukan orang seburuk itu," ujar YiFan mendesah kecil sembari meletakkan secangkir teh di depan ibunya. Menggeleng melihat kelakukan ibunya yang suka sekali melihatnya susah.

"Lalu dimana dia?"

"Changmin hyung sedang melayani tamu di depan. Apa mama tak melihatnya?" tanya YiFan heran. Seingatnya ia masih melihat Changmin sepuluh menit yang lalu dengan seragam maidnya di depan mengantarkan makanan—termasuk aegyanya kesayangannya yang mengikuti langkah Changmin ke sana kemari.

"Ah kalau maksudmu seseorang yang mengenakan pakaian maid itu? Sayang mama tak melihat wajahnya, ahahaha." Heechul tertawa keras padahal ia tahu persis siapa sosok yang diikuti cucunya dan ia sudah melihat foto yang diberikan Qian beberapa hari yang lalu padanya.

YiFan tak berkomentar apa pun karena ia tahu kalau wanita ini pasti hanya berbohong padanya. Mana mungkin seorang Wu Heechul tak mengenali design pakaiannya sendiri. Bahkan seharusnya mamanya tahu hanya ada satu pria jangkung yang berkeliaran dengan pakaian memalukan itu.

"Qian dan papa dimana?" tanya YiFan heran tak menemukan keduanya untuk masuk sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan ia sudah kembali membawa cemilan untuk ibunya.

"Qian mama minta untuk menyeret appamu dari kantor. Lagi pula mama juga tak melihat Kibum dan Siwon di sini—apa bocah tiang listrik itu tak memberitahu kedua orang tuanya?"

YiFan menggeleng. Karena ia bahkan tak diberitahu apa pun saat kemarin ia menonjon pemuda jangkung itu. Changmin seakan melakukanya seorang diri. Dan tak melibatkannya dalam sesuatu yang menjadi masa depannya nanti. Dan lagi ia masih menghindari pemuda jangkung itu kecuali saat waktunya tidur dimana mereka masih berada di atas satu ranjang dengan ditengahi MiFan.

"YiFan keluarlah. Mereka sudah datang—Ny. Wu. Aku tak tahu kalau anda sudah datang." Changmin yang tiba-tiba muncul di tengah lamunan YiFan hanya tersenyum manis pada calon mertuanya itu.

"Siapa yang kau maksud sudah datang?" tanya Heechul heran, "orang tuamu?"

"Anda akan bisa melihatnya sendiri nanti di luar," balas Changmin berjalan mendekati YiFan dan menarik tangan YiFan untuk berdiri. Menggenggamnya dan berdiri di samping Heechul.

"Ny. Wu silahkan lihat ke dalam café. Aku sudah melakukan apa pun yang anda minta dan sepertinya sudah saatnya anda menepati janji anda padaku," ujar Changmin tenang walau ia terlihat mengacuhkan kalau ia tengah meminta YiFan untuk kedua kali bahkan dalam balutan pakaian maid yang benar-benar tak cocok.

"Kita lihat nanti, Jung Changmin." Heechul berdiri dan berjalan menuju ke arah luar. Berjalan diringi Changmin dan YiFan yang mengikuti dari belakang. Dan wanita itu terlihat mengulum senyumnya saat menemukan café yang terisi penuh bahkan sampai ke bagian luar. Juga seorang wanita yang sedikit lebih muda darinya tengah menggendong cucunya.

"Bummie~"

Jung Kibum tampak tersenyum tipis melihat sosok eonninya yang sangat lama tak dilihatnya. Dan wanita itu sempat melihat sosok di samping Changmin yang berjalan mendekati mereka—calon menantunya.

Brugh

"Eonni—sesak."

"Hiks … huweeeeee."

MiFan sontak menangis saat Heechul memeluk halmeoninya erat padahal ia masih berada di tengah. Membuat balita dua tahun itu terjepit ditengah kedua wanita cantik tersebut.

"Ya ampun Mama membuat MiFan menangis lagi."

Qian yang baru saja membuka pintu café bersama appanya tampak mendekati kedua wanita tersebut. Menggeleng pada ibunya yang tak merasa bersalah dan malah menghujami ciuman di pipi MiFan juga wanita asing yang baru pertama kali ditemuinya.

"Chullie. Bummie bukan anak-anak lagi sampai kau harus melakukan hal yang sama dengan MiFan padanya," ujar Hangeng menarik istrinya sebelum wanita yang sangat dicintainya itu semakin membuat tangis MiFan semakin keras.

"Joongie. Tolong berikan MiFan pada Changmin ne. Umma rasa wanita tua satu ini perlu diajari cara mengasuh cucunya dengan baik," sindir Kibum pada Heechul saat ia berhasil lepus dari acara peluk sayang yang dilakukan Heechul. Sembari tangannya memberikan MiFan yang masih sesegukan ke pada Jaejoong.

"Yak Shim Kibum sejak kapan mulutmu bisa sekasar itu. Apa kuda pabbo itu yang mempengaruhinya?"

"Ya ampun noona kau masih tak berubah juga? Apa seburuk itu pandanganmu padaku?" tanya Siwon yang akhirnya bersuara. Menggeleng pada wanita yang kin menatapnya kesal. Sejak dulu Heechul memang tak pernah rela dirinya mengambil Kibum yang sudah diklaim menjadi adik Wu Heechul tersebut. Bahkan Siwon berterima kasih Hankyung membawa Heechul ke China karena tugasnya. Jika tidak bisa dibayangkan bagaimana hidupnya.

"Ya kuda Pabbo! Seharusnya aku tak memberikan Bummie-ku padamu."

"Eonnie … Wonnieku tidak pabbo. Eonnie yang pabbo sampai membuat MiFan menangis sekeras itu."

"Ya Kibummie … kenapa malah jadi menyalahkanku?"

"Memang eonnie yang salah … bahkan di Korea MiFan tak pernah menangis bersamaku."

"Ya Jung Kibum!"

Dua pemuda tampan yang berdiri di masing-masing kedua wanita tersebut menggeleng tak mengerti. Sejak kapan seorang Jung Kibum bisa seberani itu melawan Wu Heechul. Bukankah biasanya Kibum hanya akan mengangguk dan mengikuti eonnie 'kesayangannya' itu.

"Hyung … bukankah waktu itu umma terlihat takut bertemu dengan ny. Wu. Kenapa sekarang malah bisa bertengkar seperti anak kecil begitu?" tanya Changmin heran. Empat pemuda dan satu gadis putra dua pasang suami-istri itu tampak menyingkir dan pura-pura tidak mengenal keempatnya.

"Tanyakan saja pada MiFan," tunjuk Yunho pada keponakannya yang tengah digendong oleh YiFan dan memainkan rambut pirang ummanya sembari sesekali menariknya senang. Mengacuhkan kalau YiFan sedikit mengernyit sakit karena ulah tangan mungil itu.

"MiFan?"

"Maksud hyungmu Min. Ummamu tak akan pernah senang jika ada yang membuat cucu kesayangannya menangis. Kau ingat apa yang terjadi saat kau membuat YiFan menangis?"

Changmin mengangguk dan menggeleng tak mau mengingatnya. Bocah evil itu benar-benar sudah mengambil tempat kuasa di kediaman Jung. Bahkan Changmin tak pernah mau membuat MiFan menangis dan berujung ia harus mendengar ocehan keras milik ummanya.

"Kalian sepertinya benar-benar menyayangi MiFan benar bukan?" tanya Qian walau matanya tak lepas dari sosok keponakannya yang kini melihatnya dengan mata bundarnya. Tertawa saat ia mengambil tangan MiFan dan memainkanya.

Ketiga orang itu saling berpandangan dan kemudian tersenyum bersama. Melihat ke arah yang sama pada balita yang semakin tertawa riang memperlihatkan deretan giginya.

"Tentu saja. MiFan adalah sesuatu yang berharga di keluarga Jung." Ketiganya menjawab bersamaan membuat YiFan yang ikut mendengarnya tertegun dan kemudian mengulum senyum yang sama.

'MiFan dengar itu sayang? Jadilah anak yang berbakti pada semua orang-orang yang menyayangimu, ne?' bisik YiFan pelan membuat MiFan melihatnya bingung walau hanya sekejap dan bibir kecil itu sudah mencium sang umma gemas.

"Ya bocah apa yang kau lakukan?" seru Changmin horor melihat bagaimana aegyanya kini menjulurkan lidahnya dan tertawa riang karena berhasil mencuri satu ciuman kecil milik ummanya—walau tak bermaksud membuat sang appa berteriak keras seperti ini.

"Hahaha sepertinya kau harus berhati-hati Min. Jangan sampai jatahmu diambil aegyamu sendiri," tawa Jaejoong sembari menutup mulutnya tak tahan melihat bagaimana Changmin yang mencoba mengambil MiFan dari leher YiFan tapi tak bisa. Karena MiFan mengeratkan pelukannya.

"Sudahlah hyung jangan bersikap kekanakan. MiFan hanya mencium pipiku."

Changmin mendengus kecil. Bukan masalah ciuman itu yang dipermasalahkannya tapi senyum kecil yang berada di bibir aegya kesayangannya. Sejak kapan balita miliknya itu belajar menyeringai seperti itu.

"Like father like Son, right?" ujar Yunho tertawa bersama Jaejoong dan Qian.

"Tapi Yun darimana pelanggan yang tiba-tiba datang ke café ini?" tanya Jaejoong. Pertanyaan yang sama yang berada di benak Qian.

"Apa kau tak menyadarinya boo? Mereka semua pegawai di perusahaan Jung."

Jaejoong memperhatikan lebih detil dan ia mengangguk saat menemukan paman Han diantara pelanggan tersebut. Pria paruh baya itu terlihat memberi salam sopan padanya.

"Kau benar. Tapi apa itu diperbolehkan?"

"Tentu. Mama hanya mengatakan agar mendatangkan lima puluh pelanggan tak peduli siapa mereka," jawab Qian sedikit kagum pada pemikiran Changmin. Lagi pula mana mungkin café yang lama tak beroperasi ini bisa mengumpulkan pelanggan dalam waktu singkat.

"Dasar evil," bisik Jaejoong pelan dengan bersandar pada tubuh Yunho dan mereka sama-sama memperhatikan keluarga kecil yang tengah meributkan entah apa dihadapan mereka—tepatnya MiFan yang mulai menarik surai gelap milik appanya dengan Changmin yang merengek pada YiFan.

"Sepertinya ada yang bersenang-senang?"

Glek

Changmin sontak menghentikan gerakannya mengganggu aegyanya mendengar suara umma kesayangannya.

"Jaejoong ambil MiFan dan bawa keluar berjalan-jalan ne. Dan kau juga Yun."

"Qian. Ikut bersama mereka."

"Fighting, Changmin-ah." Kikik Jaejoong sembari mengambi MiFan dan menyeret beruangnya keluar dari café yang terpaksa ditinggalkan. Toh sepertinya mereka harus meminta paman Han menghandlenya sementara waktu.

"Selamat berjuang, Kris-oppa~" ujar Qian tertawa berlari sebelum YiFan melemparnya dengan sesuatu.

"Dan kalian berdua—ikut kami."

Changmin meneguk ludahnya susah payah saat kini dua wanita yang tak akan pernah bisa dilawannya memberi perintah. Dan sepertinya sidang season tiga miliknya akan berlangsung. Tapi kali ini ia tak akan sendiri ada YiFan yang kini bersamanya. Menggenggam erat tangan sang pemuda mengurangi rasa takut mereka. Menunggu ujian sebenarnya.

"Apa kita akan mati, hyung?"

"Mungkin."

.

.

.

Rasanya Changmin sedikit déjà vu dengan suasananya kini. Dimana ia tengah berhadapan dengan kedua orang tuanya namun dengan bonus orang tua YiFan—walau ia pernah bertemu keduanya sebelumnya.

"Bummie … maafkan eonnie sebelumnya. Karena eonnie hampir saja membunuh anakmu saat sebulan yang lalu dia datang dan mengatakan semuanya."

"Tak apa eonnie. Aku bahkan sempat ingin melemparnya dari balkon rumah kami saat bocah tiang listrik kelebihan kalsium itu membawa bayi ke rumah."

Siwon dan Hankyung menggeleng melihat istri-istri mereka berujar dengan sangat santai padahal anak mereka tengah berwajah pucat. Di saat istri mereka sudah akur tapi keduanya malah membuat konspirasi baru.

"Sudahlah Bummie. Jangan mempermainkan mereka lagi. Kita sudah sepakat soal ini bukan?" tengah Siwon mengelus pelan punggung Kibum.

"Chullie-ah. Jangan mengatakannya lagi kurasa mereka sudah melakukan apa pun yang kau mau hanya untuk mendapat restu."

Heechul menarik napas pelan sebelum ia menatap tajam dua orang yang berstatus anak dan calon menantunya. Dia sudah melihat semuanya bahkan ia baru tahu kalau map yang dibawa-bawa cucunya adalah kertas berisikan tanda tangan pelanggan café dan berjumlah lebih dari tujuh puluh orang. Dan bila SiBum ada di sini berarti Changmin sudah menepati semua janjinya.

"Gege benar. Sekarang dengarkan mama, YiFan. Dan juga kau Changmin."

Keduanya mengangguk. Melihat melodrama dua keluarga ini sedari tadi Changmin tak bisa mengira apa yang terjadi di masa lalu mereka. Rasanya sedikit kompleks satu sama lain.

"Apa kalian serius ingin menjalin hubungan serius. Kau tahu kalau kau masih belum menyelesaikan kuliahmu, YiFan. Dan mama tak mau kau melepasnya."

"Aku tak akan berhenti kuliah. Lagi pula kurasa Changmin hyung tak keberatan aku kuliah. Lagi pula kami belum akan menikah dalam waktu dekat, benarkan Changmin hyung?" tanya YiFan pada Changmin yang tak tahu harus menjawab apa. Karena memang mereka belum pernah membicarakan soal pernikahan. Dan sepertinya Changmin melupakan status YiFan yang masih seorang mahasiswa.

"Tenang saja ny. Wu. Aku akan membiarkan YiFan meneruskan kuliahnya. Soal pernikahan kami akan membicarakan—"

"Tapi umma mau kalian segera menikah. Titik." Kibum mendelik tajam ke arah Changmin yang langsung merinding melihat wajah sang umma cantiknya.

"Itu benar. Kalau kalian memutuskan menjalin hubungan tanpa ikatan itu akan terlihat seperti permainan. Terlebih ada MiFan di tengah kalian kau tak bisa terus-terusan mengelak dari orang-orang yang menanyakan status ibu MiFan, Jung Changmin," ujar Siwon menimpali. Bagaimana pun juga ia sebagai orang tua hanya bisa mendukung jalan yang terbaik untuk anaknya.

"Jangan terlalu tegang begitu. Kami berbicara pada kalian secara pribadi agar kalian bisa yakin dengan keputusan kalian. Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi—mamamu hanya ingin menguji sejauh mana Changmin menghargaimu, YiFan." Hankyung yang duduk di samping Heechul ikut memberikan suaranya pada sebuah percakapan keluarga ini. Rasanya ia melihat kembali saat Siwon datang melamar Kibum berpuluh tahun yang lalu.

"Jadi bagaimana?"tanya keempatnya pada Changmin dan YiFan secara bersamaan.

Changmin menatap ke arah YiFan di sampingnya. Ini bukan hal yang bisa diputuskannya seorang diri. Ia tak mau menghambat pendidikan YiFan. Bagaimana pun juga ini harus diputuskan bersama.

'Aku akan mengikuti keputusanmu, Hyung.'

Changmin tersenyum dan mengacak rambut pirang YiFan mendengar bisikan pelan pemuda bersurai pirang itu. Tak tahu kalau tindakan spontannya membuat dua pasang pasutri tersebut ikut tersenyum.

"Kami akan menikah dalam waktu dekat. Dan appa umma tak boleh ikut campur dengan semua persiapannya."

"Ya Jung Changmin," seru Kibum tak terima bagaimana pun juga dia sudah memimpikan menyiapkan pernikahan untuk Changmin—sebagai anak bungsunya.

"Aku setuju hal itu juga berlaku untuk papa dan mama," ujar YiFan tersenyum kecil melihat wajah shock orang tuanya. Yang tentu saja akan berseru keras menolak usul keduanya.

"Jika tidak kami akan membawa kabur MiFan—sampai hari pernikahan kami," ujar Changmin mengulum senyum kemenangan. Karena ia tahu ia berhasil membuat keadaan berbalik padanya—lagi-lagi memanfaatkan aegya kecilnya.

'Dasar anak durhaka,' rutuk pasangan SiBum dan HanChul di dalam hati. Melihat bagaimana sosok seorang Jung Changmin yang sebenarnya. Memanfaatkan rasa sayang mereka pada cucu satu-satunya tersebut.

"Setuju? Bagus sekarang biarkan aku berkencan dengan YiFan," ujar Changmin menarik YiFan yang masih gelagapan keluar dan membiarkan orang tua mereka hana bisa mendesah kecil, "pai … pai … umma kami akan kembali sebelum gelap. Dan tolong katakan pada Yunho hyung untuk menjaga MiFan."

"Ya Jung Pabbo kembali," teriak Kibum yang dianggap angin lalu oleh anaknya.

"Begitukah wujud kelakukan sebenarnya putramu bummie? Tak heran dia bisa seenaknya menghamili YiFan. Sepertinya aku sedikit menyesal merestuinya," ujar Heechul berniat menggoreng calon menantunya nanti. Seharusnya ia tak tertipu denga tata krama yang diperlihatkan Changmin.

"Jangan membuatkan adik untuk MiFan ingat itu, Changmin—kenapa?" tanya Siwon heran saat semua orang di ruangan tersebut melihatnya dengan wajah mengerikan.

Bugh

Bugh

Bugh

"Dasar kuda mesum!"

.

TBC

.

A/N:

Ah maaf yah chapter ini rada sedikit hambar—mood Mizu kepengaruh banget dengan setiap tulisan Mizu. Tapi semoga chapter ini ga terlalu mengecewakan dan chapter depan ini ff END.

Maaf untuk kesalahan penulisan marga Kibum sebelumnya yang seharusnya Shim bukan Kim—untuk keperluan cerita.

Gomawo buat yang udah review di chapter sebelumnya maaf banget gak bisa nulis namanya satu-satu sekarang.

Pai … pai …

Mizuno

_Thanks for Reading_