Title:

I Won't Let You Go

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik Vee

Genre:

Romance and Family

Pair:

SasuNaru as main pair

Warning:

YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit

By : Versya (Vee)

.

.

CHAPTER 10

.

.

Sudah seminggu sejak kejadian di perpustakaan waktu itu. Baik Naruto maupun Sasuke tak pernah menyapa satu sama lain. Saat mereka akan berpapasan, maka Naruto akan berusaha mengalihkan perhatian bagaimanapun caranya. Yang dilakukan Naruto hanyalah berlatih basket dan juga judo bersama Gaara. Akh tambahan adalah menjaga sang adik kembaran tercinta.

Saat ini Naruto masih bergelung malas di kamar sepupunya, Deidara. Didera perasaan ragu Naruto terus-terusan berguling-guling di kasur empuk milik Deidara.

"Yo, Naruto! Sebenarnya ada apa dengan mu, un? Apa kau begitu rindunya pada kasur ku, huh." Tegur Deidara yang baru kembali dari dapur.

"Aku sedang tidak ingin bicara, ttebayo." Jawab Naruto dengan suara lesu.

"Kau baru saja bicara, Baka!"

"Maka dari itu jangan mengajak ku bicara karena aku sedang tidak ingin bicara, ttebayo!" Kesal Naruto dan menarik selimut hingga menenggelamkan seluruh tubuhnya.

"Jika tidak ingin bicara, maka jangan bicara, hmm." Deidara ikut merasa kesal saat Naruto mulai mengacuhkannya.

"Tapi kau terus mengajak ku bicara, tteba. Berhentilah berbicara maka aku tidak akan berbicara!" Teriak Naruto sesaat setelah menyibak selimut yang menutupi kepalanya.

Deidara berdecak kesal mendengar teriakan Naruto. "Jika kau tak ingin bicara maka jangan bicara, un! Jangan memerintahku juga. Aku ingin bicara. Kau mau apa, huh!" Deidara balas berteriak dan menantang Naruto dengan tatapan tajamnya.

Naruto yang merasa terprovokasi segera berdiri dari tempatnya. "Kenapa kau berteriak, ttebayo. Kau mengajak ku bertarung, huh!" Seru Naruto kesal dan membalas tatapan tajam Deidara.

Cklek

Suara pintu terbuka membuat kedua pemuda yang memiliki surai pirang dengan gaya berbeda menghentikan aksi lempar tatapan tajam mereka. Mengalihkan tatapan tajam mereka pada ambang pintu yang telah berdiri seorang perempuan dengan rambut pirang panjang yang dikuncir twin tail sedang membawa nampan.

"Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Naruko saat merasakan aura gelap dan tidak nyaman disekitarnya.

Deidara mendengus kesal dan menghentikan tatapan tajamnya lalu beralih ke sudut kamarnya yang terdapat sofa. Menyalakan televisi yang kemudian menayangkan film kartun.

Naruto langsung menyunggingkan senyum lebarnya dan menghampiri Naruko.

"Kau membuat brownies, Ruko-chan." Sambut Naruto senang dan merebut nampan yang dibawa Naruko. Melangkah pelan mengikuti tempat Deidara berada. Meletakkan nampan dan kemudian mengambil tempat disebelah Deidara.

Deidara memutar iris aquamarinenya malas. "Maa~ bersikap baiklah hanya pada imouto mu, Naruto-kun." Sindir Deidara yang membuat Naruto menatapnya sengit.

"Ada masalah, Deidara Nii-Sama?" balas Naruto.

"Hei, kalian berdua. Dei nii, Naruto Nii-chan. Berhenti saling melempar tatapan tajam seperti itu di hari minggu yang cerah ini, ttebane!" hardik Naruko kesal menyaksikan aksi tatapan tajam sepupu dan kakak kembarnya.

Naruto yang terlebih dulu mengalihkan tatapannya pada televisi dan mengambil sepotong brownies yang tadi disediakan oleh Naruko.

"Ini enak, Ruko-chan. Rasanya tidak terlalu manis dan juga tidak pahit, tteba. Dimana kau belajar memasak seperti ini, Ruko-chan?" puji Naruto saat merasakan brownies buatan adiknya. Merasa penasaran, Deidara ikut mengambil sepotong brownies buatan Naruko.

"Akh, itu resep terbaru dari Haha. Haha bilang, karena tidak ada kita berdua di rumah maka Haha mencoba beberapa resep kue dan mengembangkan sesuai kreasi Haha. Akh, dan Haha bilang dia merindukan mu Nii-chan. Dan Haha meminta kau mengaktifkan ponsel." Jelas Naruko panjang yang tak dihiraukan Naruto karena sedang asyik berebut kue dengan Deidara.

Bahkan saat ini mereka sedang perang deathglare. Mengklaim setiap brownies yang masih ada di piring. Naruko yang melihat penjelasannya dihiraukan menatap kesal kakak dan kakak sepupunya.

"Nii-chan dengarkan aku, ttebane!" teriak Naruko kesal yang sukses mendapat perhatian Naruto.

"Akh, Nii-chan mendengarkan mu, Ruko-chan." Jawab Naruto dengan cengengesan dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Oh, Dei Nii." Panggil Naruto pada Deidara yang masih asyik mengunyah brownies. Deidara menoleh kearah Naruto.

"Nanda?"

"Kemarin aku bertemu dengan Itachi Nii."

"Itachi?" ulang Deidara dengan ekspresi tak terbaca.

"Hn, Uchiha Itachi. Dia semakin tampan, ttebayo." Goda Naruto saat melihat raut wajah deidara.

"Huh. Jadi sekarang kau menyukai sesama mu, Naruto?"

"Tentu saja tidak, ttebayo. Aku masih menyukai Sakura-chan, tteba."

"Dan kau telah mengacuhkan Sakura dengan pindah kesini Nii-chan. Dan pasti kau meninggalkannya tanpa ada penjelasan. Mungkin sekarang Sakura sudah mendapat kekasih." Sahut Naruko menanggapi ungkapan kakaknya yang memuja Sakura.

"Naruko-chan." Panggil Naruto dengan ekspresi merana.

"Dan omong-omong siapa itu Itachi, Nii-chan?" tanya Naruko penasaran.

Mendengar pertanyaan dari Naruko membuat Naruto membentuk seringai lebar. "Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Deidara Nii, Ruko-chan. Dia lebih tahu siapa itu Itachi Nii, ttebayo."

Deidara mendelik kesal saat mendengar jawaban Naruto. Naruko menoleh kearah Deidara dan mendapati ekspresi kesal dari sepupunya. "Akh, apa Itachi itu nama selingkuhan Deidara Nii-san?"

Naruto menghentikan kunyahannya saat mendengar pertanyaan dari Naruko. "N-Naruko-chan, darimana kau tahu soal perselingkuhan Dei Nii? Apa Dei Nii memberitahu mu?"

Naruko mengerjabkan bulu matanya yang lentik. Sedangkan Deidara menggeram marah. "Mati saja kau, Baka Naruto!" Raung Deidara dan beranjak dari duduknya. Pergi menjauh dari dua orang yang selalu sukses membuatnya naik pitam.

"Apa Dei Nii salah minum obat?" Tanya Naruto dengan ekspresi prihatin. Dan dijawab gelengan lemah dari Naruko.

.

HANASANAI

.

Diwaktu yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang pemuda nampak menghentak-hentakkan sepatunya. Sesekali sang pemuda yang memiliki gaya rambut emo tersebut melirik arlojinya. Memandang sang penunjuk waktu yang terus berputar. Menghiraukan perasaan kesal yang bergumul di dalam dadanya.

Beberapa kali sang pemuda nampak berdecih kesal. Pemuda yang kita tahu bernama Uchiha Sasuke tersebut kembali melirik arlojinya dan memalingkan pandangannya ke arah samping. Dimana seharusnya sosok gadis pirang datang menghampirinya.

Sudah tiga jam Sasuke bertahan di halte terdekat asramanya. Menepati janji sepihak yang ia buat bersama Naruto. Gadis yang sudah ia klaim sebagai miliknya. Gadis yang mampu menaklukkan hatinya. Gadis yang mengaku sebagai pemuda yang menyamar menjadi perempuan.

'Cih, dia menolakku dengan alasan yang cukup unik. Dia pikir, aku akan melepasnya begitu saja. Tidak semudah itu Naruto.' Inner Sasuke saat mengingat lagi percakapannya dengan Naruto saat di pantai.

Sasuke kembali mengingat tatapan Naruto yang terpancarkan keseriusan. Sejenak, Sasuke merasa ragu kalau yang dikatakan Naruto kemarin hanyalah bualan untuk menolak perasaannya.

'Tidak! Naruto hanya membual. Dilihat dari segi manapun, Naru tetaplah seorang perempuan. Meskipun tinjuan dan tendangannya sangat bertenaga.' Tegas Sasuke dalam hati. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis yang dicintainya adalah seorang gadis.

Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih menyukai seorang gadis. Meyakinkan dirinya bahwa ia masihlah straight.

Lalu bagaimana jika apa yang dikatakan Naruto adalah kenyataan. Apakah ia berarti memiliki kelainan dalam sex. Sasuke tersenyum miring memikirkan hal tersebut.

"Kau membuatku gila, Naruto." Gumam Sasuke pelan yang ditelan oleh desau angin.

Sasuke kembali melirik arlojinya. Melihat jarum panjang yang telah bergeser jauh dari posisi terakhir saat ia melihatnya. Mendecih kesal saat gadis yang ia tunggu tak jua menampakkan batang hidungnya.

.

.

.

Di lain sisi, Naruto yang lelah berdebat dengan Deidara nampak melamun di balkon apartemen. Menikmati semilir angin yang menggelitik rambut jabriknya. Naruto merasa bebas saat berada di apartemen sepupunya. Karena ia bisa melepaskan segala atribut penyamarannya. Menjadi sosok pemuda tampan dengan rambut jabrik berantakan yang mencuat.

Naruto melirik ke arah jalanan yang nampak ramai lalu lalang kendaraan. Sapphirenya berhenti pada halte yang nampak kecil bila dilihat dari ketinggian di lantai 18.

'Dia, pasti masih marah padaku kan? Dia, tidak mungkin menungguku kan?'

Pertanyaan itu yang terus mengusiknya sendari tadi. Pertanyaan yang mengganggu jalan pikirannya dan menjadikannya selalu tidak fokus.

Naruto menghela nafas berat.

"Akh, berpikir berat memang bukan gayaku, tteba." Dan diakhiri dengan kekehan geli saat kalimat itu meluncur dari bibir Naruto.

Meskipun hatinya meyakini bahwa Sasuke tidak akan menunggunya. Tapi pikirannya selalu memberikan option 'bagaimana jika-' yang membuat Naruto merasa frustasi.

"Tidak. Tidak, tteba. Dia pasti telah menyesal dan kencan itu hanya bualan." Yakin Naruto lirih. "Cih! Kusso! Kenapa aku terus memikirkannya! Sial!" Umpat kesal Naruto dan beranjak dari tempatnya. Memasuki apartemen dan memandang nyalang jam dinding yang terus berdetak menunjukkan pukul satu siang.

Naruto memasuki kamar Deidara dengan terburu. Menghiraukan sang empu kamar yang sedang bermain game.

"Oe, Naruto. Temani aku bermain." Pinta Deidara yang merasa bosan bermain sendiri.

Naruto melirik Deidara lewat ujung matanya. Tangannya masih sibuk membuka lemari sang sepupu.

"Dimana Naruko?" Tanya Naruto penasaran. Pasal sendari tadi, Deidara bermain PS dengan Naruko.

"Kau tidak lihat gundukan aneh di kasur? Dia marah karena terus kalah. Dan yah, memilih tidur, hm." Ketus Deidara yang masih berkonsentrasi menekan-nekan stick PS.

Mendapat apa yang dia mau, Naruto menoleh ke arah kasur dan mendapati Naruko yang tertidur dengan tenang.

"Gomen, aku harus pergi, Dei-Nii. Aku pinjam jaket mu. Nanti aku akan kembali jadi jangan izinkan Naruko pergi sebelum aku kembali." Ujar Naruto cepat seraya mencium kening Naruko yang terlelap.

Deidara mengerutkan kening nya dan mempause game yang sedang dimainkannya. "Kau mau kemana?" Tanyanya tajam.

Naruto hanya tersenyum lima jari seraya menaikkan tudung jaket yang dikenakannya hingga menutupi surai pirangnya.

"Urusan pria. Kau lebih baik tidak tahu." Jawab Naruto sekenanya dan melangkah pergi. Meninggalkan Deidara yang masih berpaku pada pintu. "Oe! BAKA Naruto! Apa maksudmu hah! Aku juga pria!" Teriak kesal Deidara saat menyadari ucapan Naruto.

Sedangkan Naruto hanya terkekeh geli.

.

.

Decit suara rem juga getaran halus menyadarkan Naruto dari perasaan gelisahnya. Naruto yang baru tersadar segera mengalihkan tatapannya ke luar jendela bus.

"Akh, Ossan! Aku akan turun." Teriak Naruto saat sang sopir mulai akan menggerakkan besi berjalan yang sedang ia naiki. Dengan gesit Naruto segera keluar dari bus dan menginjakkan kaki pada aspal.

"Huh." Naruto menghembuskan nafas berat. "Yosh Naru! Kau hanya perlu memastikan dan pergi, ttebayo!"yakin Naruto dan segera beranjak dari tempatnya.

Menyusuri boulevard yang akan mengantarkannya pada halte terdekat di seberang jalan. Hanya perlu berbelok dan segala kegundahannya akan terjawab. Entah mengapa sisi lain hatinya berharap bahwa ia akan menemui Sasuke di halte nanti.

Mengetahui pemikirannya, Naruto mendengus geli. "Apa yang kupikirkan." Keluhnya, dan semakin merapatkan tudung jaket biru cerah yang ia kenakan.

Langkah kakinya terus melangkah setapak demi setapak. Detak jantung semakin meningkat. 'Hanya perlu berbelok dan semua akan terjawab. Berhentilah berdetak cepat, Naruto!' Hardik Naruto dalam hati.

"Naruto!" Seru sebuah suara memasuki gendang telinga Naruto. Refleks Naruto pun menghentikan langkahnya.

"Jadi benar kau, Usuratonkachi!" Suara baritone kembali terdengar oleh Naruto.

Narutopun membalikkan badannya. Sapphirenya menemukan pemuda dengan gaya rambut emo mencuat melawan gravitasi bumi sedang berdiri menatapnya tajam.

"Sasuke." Lirih Naruto.

Sasuke masih diam memperhatikan Naruto dari atas sampai bawah. Menilai penampilan yang berbeda dari Naruto. "Kau memotong rambut mu, Chibi?" Tanya Sasuke saat melihat tatanan jabrik rambut Naruto yang sebagian tertutupi tudung jaket.

Naruto menggeleng pelan. "Ini adalah rambut asli ku, Teme."

Sasuke menaikkan salah satu alisnya. "Apa maksud mu, Chibi?" Tanya Sasuke tajam. Bukan karena tidak paham Sasuke bertanya. Dia hanya berharap bahwa pemikirannya salah.

"Yah, karena ini diluar asrama jadi aku tidak memakai atribut penyamaran ku. Begitu saja kau tak paham heh, Sasuke."

Wajah Sasuke nampak mengeras. "Jangan bercanda, Usuratonkachi. Jika kau memang menolak ku, setidaknya berikan aku alasan yang lebih baik!" Ketus Sasuke dan menatap tajam Naruto.

Meski Naruto tahu saat ini Sasuke sedang serius, tapi otaknya sama sekali tidak memahami apa yang dikatakan Sasuke. "Anoo~~ kau bicara apa, Suke. Aku sama sekali tidak paham, ttebayo."

"Berhenti mengatakan seolah kau adalah pemuda yang sedang menyamar menjadi gadis, Dobe!" Ketus Sasuke yang menaikkan nada suaranya. Merasa kesal melihat wajah polos Naruto.

Naruto mengerjabkan kelopak matanya. "Aku memang bukan wanita, Suke." Balas Naruto dengan raut wajah serius dan menurunkan tudung jaket yang ia kenakan. "Aku sudah mengatkan, aku adalah seorang pemuda yang datang ke tokyo untuk menyusul saudari kembar ku, Naruko." Lanjut Naruto yang membuat Sasuke terdiam dan menggeram kesal dalam hati.

Saat ini, terlihat dua orang pemuda yang saling berhadapan. Yang satu berwajah datar dengan rambut raven gaya emo dan satunya lagi, berwajah tegas meyakinkan dengan rambut pirang jabriknya.

Onyx meet Sapphire.

Sasuke masih mencari kilatan jahil dari Naruto. Berharap bahwa Naruto hanya bercanda dan mengerjai nya seperti biasa.

"Berhenti menyangkal, Teme. Aku memang bukan wanita. Maaf sudah menipu mu. Jadi sekarang bersiap menjadi rival ku heh, Uchiha Sasuke."

Sasuke hanya menatap Naruto datar. Perlahan Sasuke mulai berjalan mendekati Naruto. Tanpa memandang Naruto yang masih memasang seringaian di bibirnya, Sasuke melewati Naruto. Berjalan menjauh.

Naruto nampak terkejut karena dilewati Sasuke begitu saja. Dengan cepat, Naruto memutar tubuhnya. Pemandangan yang dilihatnya adalah punggung Sasuke yang mengenakan kaos kerah berwarna biru dongker dengan lambang Uchiha dibelakangnya bergerak menjauh. Hingga hilang ditelan oleh tikungan.

"Sasuke." Lirih Naruto dan menundukkan kepalanya.

.

.

Naruto masih berdiri ditempatnya. Memandang trotoar jalan. Angin masih setia menerbangkan debu-debu kecil.

'Saat ini, Suke pasti sangat membenci ku.' Gumam Naruto dalam hati. 'Daijobu. Setidaknya, aku sudah jujur.' Hibur Naruto sendiri.

Dengan senyum yang kembali mengembang, Naruto membalikkan badannya. Sedetik kemudian Naruto dibuat terkejut dengan sosok pemuda yang memiliki surai merah bata.

"Gaara!" Teriak Naruto sebagai pelampiasan rasa terkejutnya.

Gaara hanya diam memandang Naruto datar. Menyadari tatapan Gaara, membuat Naruto salah tingkah. Dengan gerakan canggung Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Gaara, eto~ ngg~~ kau sedang apa?" Tanya Naruto ragu.

"Jadi selama ini menyukai seorang pria?" Suara Gaara tak menanggapi pertanyaan Naruto.

Naruto menghentikan aksi bodohnya dan menatap Gaara. "Gaara." Panggil Naruto lirih.

Gaara masih diam dan memandang iris sapphire Naruto. "Naruto. Kau tahu, aku kecewa pada mu."

Dan kata-kata Gaara mampu membuat Naruto kaku terdiam di tempatnya. Menyesali tindakan bodohnya yang membuat dua orang terdekatnya pergi barlalu melewatinya dengan perasaan kecewa.

Saat ini, Naruto tidak berani menolehkan kepalanya saat Gaara melewati dirinya.

"Kusso!" Maki Naruto kesal.

.

.

HANASANAI

.

.

TBC

.

.

Yosh! Vee akhirnya updet kan. Maaf Vee ga bisa seminggu sekali lagi. Karena Vee semakin sibuk. Maaf ya.

Dan btw ini Vee ngetik dari hp. Jadi maaf kalo ada banyak typo. Mohon dimaklumi ya.^^

Untum balasan review sudah Vee pm ya. Dan untuk yg no login. Ini dia balasan reviewnya.

.

Aoi Itsuka:

Sekarang Gaara sudah tahu. Haha. Itu, nanti akan muncul kok pembahasannya. Saat Naruko sudah bisa membuka hatinya. Haha. Terimakasih sudah menunggu.^^

Apchan :

Hhaha.. look this chap. Suke marah ga hayo. ^^

oka :

Sankyu ^^

Ini sudah lanjut dan maaf ga bisa updet cepet. Gomen.^^

gadingtanuki :

Ini reaksi Suke yang sesungguhnya. Haha. Sudah lanjut.

sasunaru4ever:

Akh, maaf karena sudah membuat nunggu lama. Hhe. Chap ini baru Suke marah beneran. Haha. Kejutan! Hihi. Yosh. Ini sudah dilanjut.

mari-chan :

Itu nnti akan ada pembahasannya ^^ ditunggu saja ya. Yup, sudah Vee lanjut.

nangningnung:

Aduh,, nangningnung-chan. Vee kan buatnya SasuNaru as main pair. ㅠ.ㅠ . Gomen ne.

Hyull :

Soalnya di DuTa semakin sibuk sayank. Maaf ya. Ini sudah updet^^.

gnagyu :

Haha. Entahlah. Suka ga ya? Hihi. Ini sudah next^^.

.

Kalo ada yang belum terbalas, Vee mohon maaf ya.

Terimaakasih untuk dukungan kalian. Untuk review, fav dan follownya.

Sankyu^^

Akhir kata

~Salam Vee