-Chap sebelumnya-
Sakon terkekeh kemudian. Merasa sangat terhibur saat melihat Naruto yang berlari sekencang mungkin darinya. Tangan kanannya menyisir helai peraknya kebelakang. Wajahnya menampilkan seringai berbahaya. "Aku akan segera menangkapmu. Uzumaki Naruto!"
Dan Naruto mendadak merinding di tengah acara melarikan diri dari Sakon.
'Siapapun tolong aku dari makhluk itu!' ratapnya di tengah derap kakinya yang berlari kencang. Sama sekali tidak menoleh kebelakang. Takut jika ada Sakon di belakangnya.
EXTRATERRESTRIAL
Author : Aqizakura a.k.a Dydyah
Disclaimer : saya sudah bilang kalau Naruto itu bukan punya saya, tapi hanya milik Sasuke. haha... Tambahan. Cerita terinspirasi dari komik 'Hell Girl' karya Miyuki Eto. Tapi sama sekali nggak ada mirip-miripnya. Huahahaha *uhuk.
Fandom : Naruto
Pairing : sudah pada tau, kan. SasuNaru is numero uno.
Rated : chap ini agak M. Sepertinya ? Hehe... ^^
Genre : Romance, Fantasy, Mysteri, Humor *kayaknya
Warning : Gaje, Abal, humor gagal, bahasa gado-gado, TYPO pake S, YAOI, OOC maybe … huhuhuhuhu…
Chapter 10
Suara tawa sangat keras mulai menyapa gendang telinga Naruto dan Menma. Menemani mereka menyusuri lorong-lorong panjang nan remang-remang. Terus berlari dari incaran Sakon yang masih tertawa menggila di belakangnya. Menambah ketakutan Naruto di tiap langkahnya.
"Naru-nii," bisik Menma yang terdengar cukup ketakutan. Bocah lima tahun itu menenggelamkan wajahnya ke bahu Naruto yang terus berlari.
"Tenang Menma. Kita akan baik-baik saja!" Naruto meyakinkan Menma. Atau mungkin saja meyakinkan dirinya sendiri. Memberi kekuatan pada dirinya untuk terus memacu langkah kakinya. Memaksanya untuk terus bergerak.
'Sial!', umpat Naruto dalam hati saat langkah kakinya harus terhenti oleh dinding di depannya. Jalan buntu. Yang berarti petaka.
Naruto mulai panik. Menoleh ke kanan dan kiri berharap bahwa ia bisa melihat ada pintu ajaib yang muncul di dekatnya, agar ia bisa kabur dari langkah kaki dan suara tawa yang makin mendekat.
Dekapannya pada tubuh Menma mengerat saat suara tawa itu berada di belakangnya.
"Oh! Tikusnya terjebak!" Sakon tertawa keras. Menikmati kepanikan Naruto yang tak bisa kabur. "Sayang sekali Uzumaki Naruto. Sepertinya acara kejar-kejarannya harus berakhir di sini. Dan sepertinya kau harus kembali ke ruanganmu!" Sakon berjalan mendekat dengan perlahan. Seiring dengan Naruto yang melangkah mundur sejauh mungkin, jika itu mungkin.
Menma mendekap erat leher Naruto. Tapi kedua manik serupa manik Naruto, menatap tajam pada Sakon. Meski tidak ia pungkiri bahwa ia cukup ketakutan.
"Hahahaha... jangan sok berani bocah. Tingkahmu itu benar-benar menggelikan!" Sakon tertawa mencemooh. Menatap geli pada Menma yang menatapnya tajam. Mencoba mengintimidasi.
Menma mendesis. Tersulut amarahnya karena telah diremehkan. Bocah lima tahun ini sangat tidak suka jika ada yang meremehkannya. Memicingkan kedua netranya dan menatap tajam Sakon.
Bruaak.
Sakon tiba-tiba terpental. Membentur dinding di ujung lorong. Naruto yang tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya membelalak terkejut. Menatap heran pada sakon yang meringis merasakan denyut di punggungnya yang membentur tembok dengan keras.
"DASAR BOCAH SIALAN!" teriak Sakon murka. Menatap bengis pada Menma yang masih menatapnya tajam. Nampak aura kebiruan yang mengelilingi bocah itu. Aura yang menyelimuti bocah lima tahun itu terasa sejuk di permukaan kulit Naruto.
'Menma' batin Naruto yang perasaannya bercampur antara takjub dan juga khawatir.
"AKU AKAN MENGHABISIMU, BOCAH!" Sakon melesat kencang. Menggeram dengan gigi bergesekan menimbulkan suara-suara mengancam. Dengan sekejap shinigami bersurai perak itu sudah berdiri tepat di depan Menma dan Naruto. Menyeringai lebar saat keduanya kurang refleks dalam mengatasi Sakon.
Sakon mengayunkan tangannya yang berkuku tajam. Berniat untuk menyobek tubuh Menma dan Naruto. Tapi, keberuntungah sepertinya tidak terlalu berpihak pada di surai perak. Menma berhasil memasang pelindung di depannya dan di depan Naruto. Sehingga Sakon tidak dapat menyayat maupun menyobek tubuh keduanya dengan kuku tajamnya, melainkan menghempaskan tubuh Naruto dan Menma membentur tembok tebal di belakangnya.
Naruto meringis menahan denyut di punggungnya. Merasakan betapa punggungnya berderak kesakitan. Menma yang mendengar ringisan Naruto, memandang pemuda pirang itu dengan wajah sangat cemas. Takut jika Naruto terluka parah.
"Naruto-nii, Kau terluka? Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Menma menatap cemas Naruto. Bocah lima tahun bersurai raven ini hampir menangis saat melihat Naruto yang masih meringis kesakitan, terlarut dalam rasa sakitnya hingga mengabaikan pertanyaan Menma.
Ia terlalu fokus pada rasa sakitnya. Hingga tidak menyadari wajah Menma yang menatapnya cemas, dan juga tidak menyadari langkah Sakon yang semakin mendekat dengan seringai lebar di wajahnya.
"Selamat tinggal. Bocah nakal!" seru Sakon bersamaan dengan kuku tajamnya yang ia arahkan pada punggung kecil Menma yang terlalu fokus pada keadaan Naruto. hingga bocah itu tidak sempat berbalik untuk menghalau serangan Sakon.
Crash.
Menma melotot horor. Sakon menyeringai senang sebelum ikut membelalak terkejut. Menatap horor pada pemuda di depannya yang menyeringai.
'Tidak! Aku pasti mati!', batin Sakon yang mendadak bermandikan keringat dingin.
"Kau...baik-baik saja... Menma?"
"N-Naru-nii" suara Menma bergetar. Masih menatap lurus pada pemuda di depannya.
Brugh.
"NARU NII!" Menma berteriak keras dan segera memeluk Naruto yang ambruk bersimbah darah dari luka menganga di punggungnya.
Naruto bergeming. Tidak sadarkan diri tapi ia masih bernapas. Meski napasnya terlihat terputus-putus.
Menma mamicing tajam pada Sakon yang sudah berkeringat dingin sejak beberapa menit lalu. Shinigami bersurai perak itu terlalu takut untuk membayangkan apa yang terjadi padanya jika Orochimaru tahu bahwa ia telah membunuh Uzumaki Naruto. Kunci immortal bagi Sang Shinigami ular.
"Akan. Kubunuh. Kau!"
Tanpa aba-aba, Menma melesat cepat dan langsung memukul perut Sakon dengan telak. Melemparkan tubuh shinigami perak itu menabrak tembok hingga menghancurkannya. Aura kebiruan mengelilingi tubuh mungilnya. Manik serupa manik Naruto sudah berubah warna menjadi merah darah. Memicing tajam pada Sakon yang mencoba bangkit berdiri. Terbatuk darah, merasakan nyeri di perutnya.
"Keh! Kau boleh juga bocah! Tapi, sebentar lagi kau akan menyusul si pirang itu!" Sakon menyeringai lebar. Menggeretakkan tulang lehernya pelan. Bersiap untuk membalas serangan si bocah shinigami yang sepertinya telah membangkitkan kekuatan shinigaminya.
Sakon mendadak senang. Menemui mainan baru yang cukup menghibur di harinya yang lumayan membosankan.
Menma makin menggemeletukkan gigi-gigi kecilnya. Kembali menyerang Sakon dengan cepat. Tapi shinigami perak itu mampu menahan tiap pukulan si bocah. Menahan tangan kecil Menma sebelum menendang bocah kecil itu hingga membentur tembok di ujung lorong. Kemudian melesat cepat menuju tempat Menma yang masih meringis, berniat menghabisi si bocah dengan kuku-kuku tajamnya.
"Sepertinya permainan kita harus berakhir bocah. Aku sudah bosan!" Sakon terkekeh. Tangan kirinya menyisir surai peraknya ke belakang. "Sayonara, Menma-chan!"
CRASH!
TES.
TESS.
TES.
"Maaf mengganggu kesenanganmu!"
Menma terbelalak. Begitu pula Sakon yang tidak kalah terkejutnya saat melihat darah menetes dari lengan kanannya yang terputus.
"AAARRRGGHHH!" teriak Sakon sambil memegangi tangannya yang mengucurkan darah segar. "Kkhh. UCHIHA SIALAN!" Sakon memicing tajam pada sosok yang ia panggil Uchiha. Sosok yang menampilkan seringai berbahayanya.
"Seharusnya kau tidak berurusan dengan Uchiha!" kata Pangeran Uchiha bersamaan dengan menebaskan katananya pada leher Shinigami perak yang tidak sempat menghindar. Menyerahkan nyawanya begitu saja pada tangan Uchiha yang tidak ingin membuang waktu untuk sekedar melawannya.
Menma hanya dapat diam dengan wajah terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Menatap takut pada pria raven yang melangkah mendekat padanya.
"Kau tahu di mana Naruto?"
Mendengar nama Naruto, membuat Menma seketika teringat pada sosok kakak pirang yang sedang terbaring berlumuran darah tak sadarkan diri. Dengan cepat Menma berlari ke arah Naruto yang tengkurap dengan punggung berdarah.
"Naru-nii bangunlah!" seru Menma di dekat pemuda pirang. Mencoba menyadarkannya.
Naruto sedikit bergerak. Membuka matanya yang terasa sangat berat. Meringis pelan saat kembali merasakan pedih di punggungnya. "Men-ma.. k-kau b-baik-baik sa-ja?" tanya Naruto terputus-putus. Masih sempat untuk mengkhawatirkan keadaan bocah lima tahun di depannya.
"Aku baik-baik saja. Ada yang datang menyelamatkanku!" lapor Menma cepat.
"Si-siapa?"
"Naruto!" suara baritone menyapa gendang telinga Naruto. Membuat pemuda pirang itu berbalik pelan yang dibantu oleh Menma. Mendapati kepala raven yang menatapnya cemas.
"Sa-Sasuke? Apa itu kau?" Naruto bertanya lirih. "Ta-tapi, kenapa kau ber-berkeriput?" pertanyaan polos dari Naruto sukses menimbulkan urat kesal di pelipis pangeran Uchiha. Tepatnya Uchiha Itachi. Pria raven berkuncir itu mendengus keras. Mencoba menahan kekesalannya untuk tidak menebas calon adik iparnya yang tengah terluka parah itu.
'Tenang! Itu akibat dari kesadarannya yang hampir hilang!' Itachi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Ini aku Naruto, Itachi. Kakak Sasuke! Nanti akan aku jelaskan. Tapi sekarang kau harus segera diobati!" kata Itachi yang telah berhasil menahan rasa kesalnya. Bukan saatnya untuk kesal pada calon adik iparnya itu. Yang lebih penting adalah menolong pemuda pirang itu yang sudah hampir pingsan kembali karena kehilangan banyak darah. Ia harus cepat bergerak jika tidak ingin menghadapi amukan Kyuubi.
Itachi berlari kencang dengan Naruto di gendongan kedua tangannya, sementara bocah raven bermanik shappire yang ia ketahui bernama Menma, menempel erat di punggungnya bak bayi koala. Menerobos beberapa penjaga dengan mudah sebelum menemui Karin yang masih bertarung dengan beberapa penjaga di sayap kiri benteng.
"KARIN!" panggil Itachi cepat. Membuat shinigami berkacamata itu menoleh cepat dan segera menghampiri itachi begitu berhasil melumpuhkan seorang penjaga yang tersisa.
"Naruto terluka parah! Cepat rawat dia!" perintah Itachi yang langsung diiyakan Karin tanpa banyak kata.
Gadis merah berkacamata itu segera melakukan pertolongan pertama pada luka Naruto. Menghentikan pendarahannya sebelum membalut luka itu dengan perban. Kemudian beralih merawat luka-luka kecil yang didapat oleh bocah shinigami dengan ciri-ciri perpaduan Sasuke dan Naruto itu. Jika Karin tidak ingat bahwa Naruto itu laki-laki, mungkin ia sudah menduga bocah bernama Menma itu adalah anak dari Sasuke dan Naruto.
Setelah selesai mengobati keduanya. Karin menghubungi Juugo dan meminta shinigami jingga itu untuk membawa Menma dan Naruto ke tempat aman.
Sementara itu, dua jam sebelum Itachi menemukan Naruto, Itachi dan Sasuke masih membantai para penjaga saat tiba-tiba Sasuke merasakan firasat buruk yang mungkin terjadi pada Naruto. Sasuke sudah berniat untuk meninggalkan Itachi sendirian, untuk menyelamatkan Naruto, saat tiba-tiba ratusan ular muncul dan menyerangnya.
Akhirnya Sasuke harus disibukkan dengan ular-ular itu dan meminta Itachi untuk menolong si pemuda pirang.
"Khukhukhu... aku tidak mengira bahwa pangeran kedua Uchiha sehebat ini!" Shinigami ular menyeringai lebar. Lidah ularnya bergerak menjilat bibirnya sendiri. Kedua pupil ularnya menatap penuh minat pada Sasuke yang berwajah datar.
"Ekspresi yang bagus! Tapi aku tidak akan membiarkanmu karena telah menghancurkan rencanaku!" Orochimaru kembali mengeluarkan ular-ularnya. Menyerang Sasuke yang menebasnya tanpa ekspresi berarti.
Orochimaru bergerak cepat. Menarik pedang kusanagi dari dalam perutnya sebelum mengarahkan pedang itu pada perut Sasuke. Sasuke yang melihat jelas serangan Orochimaru, menangkis kusanagi dengan katananya. Kedua manik onyx-nya berubah menjadi merah dengan tiga tomoe. Menatap tajam pada Orochimaru yang menyeringai lebar.
Tak jauh dari tempat Sasuke berada, Suigetsu sedang melawan shinigami laba-laba yang mengeluarkan anak panah keemasan dari mulutnya. Pertarungan mereka tidak kalah sengit. Tapi, karena Suigetsu adalah shinigami yang memiliki elemen air, maka setiap serangan yang dilontarkan oleh shinigami bernama Kidomaru itu, sama sekali tidak mempan pada Suigetsu. Anak panah emas itu akan menembus tubuh Suigetsu tanpa meninggalkan luka.
Dan pertarungan Suigetsu vs Kidomaru, berakhir tidak lama kemudian. Menyisakan tubuh Kidomaru yang terpotong dan Suigetsu yang menyeringai lebar, menampilkan deretan gigi runcingnya.
"Hei Sasuke! Butuh bantuan?" seru Suigetsu terdengar sangat menjengkelkan di telinga siapapun yang mendengarnya.
Sasuke abai. Tidak peduli pada ocehan si gigi runcing yang tidak jauh darinya. Suigetsu berdecak kesal dan langsung membawa pedang penjagal miliknya untuk menyerang Orochimaru. Membantu Sasuke tanpa persetujuan dari pangeran kedua Uchiha.
"Mundur Sui! Jangan mengganggu!" tekan Sasuke yang tidak terima karena pertarungannya harus diganggu oleh shinigami yang sering Karin sebut sebagai 'monster kappa' itu.
"Tch!" Suigetsu berdecak kesal, tapi tetap menurut pada Sasuke. Bergerak menjauh dari pertarungan Sasuke dan Orochimaru yang semakin memanas (?).
Fokus Sasuke kembali pada Orochimaru. Shinigami raven itu mengeratkan genggaman pada katananya. Bergerak cepat menyerang Orochimaru yang mampu mengimbangi tiap pergerakan Sasuke, bahkan menangkis tiap serangannya.
Serangan-serangan Sasuke terus mendesak Orochimaru yang mulai kualahan karena disamping Sasuke menyerang menggunakan katananya, Shinigami klan Uchiha ini juga menyerang Orochimaru dengan chidori. Mengarahkan kilatan petir yang ia bentuk menyerupai pedang di tangan kirinya pada Orochimaru yang berusaha menghindari dan menangkis tiap serangan tak berjeda dari Sasuke yang murka.
Trang.
Bruak.
Orochimaru terpental dan menabrak dinding batu di belakangnya setelah tidak berhasil menghindari tendangan Sasuke yang diarahkan pada perutnya. Sementara kusanagi miliknya sudah terlempar jauh akibat serangan Sasuke. Masih meringis merasakan sakit di punggungnya, saat Sasuke sudah berdiri tegak di atas tubuh Orochimaru yang bersandar pada tembok.
Jleb. Jleb. Jleb.
Sasuke menusuk dan mengunci pergerakan Orochimaru menggunakan paku baja yang ia lempar pada kedua tangan Orochimaru, serta katananya menancap dalam pada bahu kiri Orochimaru. Sengaja tidak langsung membunuh Orochimaru, karena Sasuke masih ingin menyiksanya.
Orochimaru benar-benar tersudut. Tidak dapat menggerakkan tubuhnya saat malaikat maut tengah berdiri tegak di depannya dengan kedua manik sewarna darah yang menyorot tajam. Tanpa belas kasihan.
"Brengsek kau Uchiha! Beraninya kau! Kau hanya bocah Uchiha tidak berguna!" Orochimaru murka. Menggeram dan merendahkan Sasuke yang pada kenyataannya berdiri tegak di depannya. Sama sekali tidak menunjukkan sosok bocah Uchiha tidak berguna, seperti apa yang dikatakan shinigami ular itu.
"Keh! Dan bocah Uchiha tidak berguna inilah yang akan menghapus keberadaanmu!" Sasuke menyeringai. Tak terpengaruh sama sekali pada perkataan Orochimaru. "Kau yang meringkuk di bawah kaki bocah Uchiha tidak berguna ini, disebut apa heh? Kau hanya ular melata yang bermimpi untuk bisa terbang. Melatalah saja dan terima takdirmu!"
Sasuke mengangkat tangan kirinya. Memancarkan cahaya kebiruan dengan suara berisik cicitan burung, bersamaan dengan kilatan listrik yang bergerak liar dari tangan kirinya. Kedua manik semerah darah itu menatap dingin pada sosok shinigami ular yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran juga keringat dingin yang membasahi tubuhnya. kedua manik keemasan Orochimaru bergerak liar mencari celah untuk bisa kabur.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia!" Sasuke mengarahkan chidorinya pada Orochimaru yang membuka lebar mulutnya.
Zraats.
Sasuke mengernyitkan alisnya. Menatap datar pada benda di depannya. Bukan tubuh Orochimaru yang tak bernyawa yang ada di depannya, melainkan seonggok kulit manusia yang terpaku di tembok.
"Ssssh... hahahahaha... kau tidak akan bisa membunuhku dengan mudah. Bocah Uchiha!"
Sasuke melirik lewat bahunya. Menatap datar tanpa rasa terkejut, saat melihat seekor ular putih yang mempunyai wajah Orochimaru, sedang mendesis dengan mulut lebar dan lidah panjangnya.
"Kau ini Shinigami apa Siluman ular sih?" komentar Suigetsu dari kejauhan yang memang menyaksikan pertarungan antara Sasuke dan Orochimaru. 'Dasar tidak konsisten!' batinnya protes.
Orochimaru menegakkan tubuh ularnya dan langsung menyerang Sasuke yang seketika melompat menghindari tiap serangannya. Kedua manik merahnya menatap tajam pada tubuh ular Orochimaru yang meliuk-liuk mengejarnya.
"Cih!" Sasuke berdecak sebal dan seketika melompat tinggi saat moncong ular Orochimaru berniat menubruknya.
Sasuke melayang di udara untuk beberapa saat. Tangan kirinya memancarkan chidori yang berkilat liar, sebelum ia meluncur turun tepat ke arah Orochimaru yang membuka lebar mulutnya. Berniat untuk memakan Sasuke bulat-bulat.
Graup.
Suigetsu sedikit membelalak terkejut saat melihat bagaimana mudahnya Orochimaru menelan Sasuke. Sebelum shinigami bergigi hiu itu menyeringai lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap kasihan pada Orochimaru yang masih menyeringai puas karena telah menelan pangeran kedua Uchiha.
'Kau benar-benar bodoh ular licik!', batin Suigetsu yang masih menatap humor pada Orochimaru yang terlalu larut dalam euforianya.
"HAHAHAHAHAHAHA...Bocah Uchiha tidak berguna. Kau terlalu bermimpi untuk bisa membunuhku! Hahahaha... lambungku akan segera mencernamu dan ucapkan selamat tinggal pada-"
Zrash...
bug bug bug bug bug bug.
"Keh! Cerewet!" Sasuke menyarungkan katananya ke tempat semula. Wajahnya tetap datar, tak terpengaruh pada hujan darah dan potongan tubuh ular Orochimaru yang berjatuhan di sekitarnya. Ular putih besar itu sudah tak nampak. Dan hanya menyisakan potongan-potongan kecil daging berwarna merah dan genangan darah.
Sasuke berdiri tegak dalam diam untuk beberapa saat. Kedua manik merah darahnya telah kembali menjadi sepasang onyx kelam yang menenggelamkan. Mendengus kesal karena merasa jijik dengan cipratan darah Orochimaru yang mengenai bajunya.
"Cih! Menjijikkan!" Sasuke melepas bajunya dan melemparnya sembarangan. Menampilkan tubuh seputih porselain dengan otot-otot terbentuk dengan sempurna. Membuat siapapun yang melihatnya tidak akan tahan untuk tidak menyentuh lekukan otot perutnya yang teramat sexy. Oh God! (Author mupeng!)
'Bagaimana ia bisa membentuk otot sekeren itu?', batin Suigetsu yang merasa iri karena melihat otot perut Sasuke yang sempurna.
Sasuke melangkahkan kakinya mendekat pada Suigetsu yang masih terdiam menatap iri pada otot perutnya. Membiarkan kepalanya mengimajinasikan dirinya yang mempunyai otot perut seperti milik pangeran kedua Uchiha yang menatapnya datar.
"Dimana Naruto?" tanya Sasuke begitu berada dua langkah di belakang Suigetsu yang masih asyik dengan imajinasi liarnya.
"He? Naruto? Dia bersama Itachi-san dan Karin di dekat gerbang ketiga. Karin sedang mengobatinya." Sasuke melompat cepat begitu mendengar jawaban Suigetsu, meninggalkan Suigetsu yang baru saja memberi tahunya tentang keadaan Naruto.
Membiarkan pemuda kappa itu terbengong sendiri karena sudah ditinggalkan begitu saja.
-ET-
"Ugh!" lirih suara terdengar dari mulut pemuda pirang yang sedang berbaring, ketika ia mulai membuka kedua kelopak tannya. Mengerjap-ngerjapkan keduanya, guna mengadaptasikan kedua netranya dengan cahaya yang menyerbu manik kembarnya.
"Naruto!"
Naruto menyipitkan kedua netranya saat mendapati bayangan sosok kakaknya yang menatapnya tajam. Dengan perlahan, pemuda pirang ini mencoba untuk bangkit dari tempatnya berbaring. "Kyuu-nii,"
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau membiarkan dirimu diculik. Tch! Dasar tidak berguna. Kau benar-benar membuatku malu, mempunyai adik sepertimu. Dan apa-apaan lukamu itu hah?! Keh! Dasar bodoh! Uzumaki itu tidak pernah membiarkan dirinya terluka dengan mudah. Dan kau merusak reputasi itu. Cih!" Kyuubi berkata kasar. Mencibir dan mencaci Naruto yang bergeming memerhatikan ocehan panjang si pemuda rubah. Mengabaikan bagaimana Gaara, Shikamaru, Kiba, Sakura, Ino, Karin, Itachi, dan Juugo yang menunjukkan berbagai ekspresi, melihat dan mendengar ocehan panjang Kyuubi.
'Dasar Rubah Tsundere!' batin mereka kompak, kecuali Juugo yang hanya menata datar pada Kyuubi yang masih mengoceh panjang.
"Kau bukan adikku! Adikku tidak selemah kau! Dasar pirang!"
"Heh!" Naruo mendengus. Menubruk tubuh Kyuubi dalam pelukan eratnya. Menenggelamkan kepala pirangnya pada bahu sang kakak yang perlahan membalas pelukannya.
"Maafkan aku Kyuu-nii! Tidak akan kuulangi!" bisik Naruto yang hanya bisa didengar oleh Kyuubi.
"Tsk! Kau benar-benar bodoh!" sahut Kyuubi ketus dan tak berperasaan. Berbanding terbalik dengan apa yang ia lakukan. Meski mulutnya berkata kasar, tapi kedua tangannya memeluk sang adik semakin erat. Naruto tersenyum di balik bahu sang kakak.
"Naru-nii!" seru seorang bocah yang berhasil membuat Naruto melepas pelukannya pada sang kakak. Naruto berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan bocah raven yang menatapnya khawatir. "Kau tidak apa-apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Menma penuh harap.
Naruto tersenyum dan mengusak raven jabrik bocah di depannya. "Aku baik-baik saja Menma. Kau telah melindungiku! Terima kasih, sayang!" Naruto membawa Menma ke dalam pelukan hangatnya. Menenggelamkan wajahnya pada helai raven yang mengingatkannya dengan helai raven milik pemuda Uchiha. Sasuke.
Mengingat tentang Sasuke, membuat Naruto mengangkat wajahnya dan mulai mengedarkan kedua maniknya untuk mencari sosok raven yang dicarinya. Kedua netranya menyusuri sekitar untuk menemukan sosok Uchiha Sasuke yang berkata akan menyelamatkannya. Tapi, berkali-kali ia mengedarkan tatapannya, ia sama sekali tidak menemukan sosok Sasuke dimanapun.
"Dimana Sasuke?" Naruto memutuskan untuk bertanya karena merasa percuma jika ia harus mengulangi kembali untuk menyusuri sekitarnya menggunakan kedua shappire-nya.
"Sebentar lagi ia akan muncul," sahut Itachi singkat. Kedua alis Naruto terangkat. Merasa heran dengan jawaban pemuda raven yang menyebut dirinya adalah kakak dari Sasuke. "Apa aku pernah bertemu denganmu?" tanya Naruto heran karena merasa belum pernah bertemu dengan pemuda yang terlihat mirip dengan Sasuke. Kecuali dua garis melintang di dekat hidungnya. Garis yang sering disebut Kyuubi sebagai keriput. Hei! Itu bukan keriput. Itu hanya tanda kedewasaan yang memang sudah ada di wajah Itachi sejak ia kecil. Dan tanda itulah yang menambah kekerenan Uchihanya.
"Tidak! Kau belum pernah bertemu denganku. Tapi aku sangat mengenalmu, Naruto." sahut Itachi kalem. "Bukan karena kekuatanmu itu, atau statusmu sebagai sosok pemuda yang adikku sukai. Tapi karena kau adalah adik Kyuubi sekaligus putra dari paman Minato dan Bibi Kushina."
"Bagaimana kau tahu tentang kedua orang tuaku? Sasuke saja tidak tahu!" Naruto menatap curiga pada pria keriput di depannya. Hei! Jangan sebut dia keriput!
"Tentu saja aku tahu. Karena kedua orang tuamu sangat berteman baik dengan ayah dan ibuku. Mungkin kau akan merasa heran mengenai persahabatan kedua orang tuamu dengan orang tuaku yang adalah Shinigami. Tapi, kau pasti akan mengetahuinya nanti." sahut Itachi yang sepertinya masih belum berminat untuk menjelaskan panjang lebar pada pemuda pirang di depannya.
"Kyuu-nii tahu?" Naruto menatap tanya pada Kyuubi, yang diangguki pelan oleh kakak rubahnya. "Apa aku satu-satunya yang tidak tahu di sini?" protes Naruto saat mengetahui bahwa kakaknya juga mengetahui tentang apa yang dikatakan oleh Uchiha Itachi tadi.
"Kami sama sekali tidak tahu, Naruto!" sambung Kiba tiba-tiba yang hanya disambut oleh dengusan kasar oleh Naruto. Kemudian pemuda pirang itu membelalak terkejut. Merasa baru menyadari sesuatu. "Ka-kalian di sini?" tanyanya.
"Tentu saja! Kami mengkhawatirkanmu tahu!" sahut gadis bersurai merah jambu sambil berkacak pinggang. Menatap sebal pada Naruto yang ternyata baru menyadari keberadaan kelima sahabatnya.
"Terima kasih~!" Naruto menerjang mereka dan membawa kelimanya dalam pelukannya. Mengakibatkan kelimanya berdesakan menerima pelukan maut dari pemuda Uzumaki. "Dan maaf telah membuat kalian khawatir~!"
Bletak!
"Jangan membuat kami cemas lagi! Awas jika kau mengulanginya!" ancam pemuda bersurai merah setelah mendaratkan pukulan sayang ke kepala kuning Naruto. Naruto meringis dan mengangguk sambil mengusap bekas jitakan sayang dari sahabat pandanya. Terkekeh canggung sekaligus merasa bersalah.
"Tidak akan Gaara. Aku tidak akan membuat kalian khawatir lagi. Aku berjanji!" Naruto menampilkan senyum lebarnya. Menyembunyikan kedua manik biru jernihnya di balik kelopak kecoklatan.
Naruto yang awalnya masih bersikap merasa bersalah, tiba-tiba menghentikan kekehan canggungnya saat mendengar suara gemerisik dari belakangnya. Menoleh cepat berniat untuk melihat siapa yang datang.
Naruto tercekat. Pandangannya tiba-tiba menggelap dan tubuhnya mendadak diselimuti oleh kehangatan. Kedua lengan kokoh merengkuhnya dalam sebuah pelukan. Menenggelamkan tubuhnya pada rengkuhan tubuh tegap tanpa fabrik yang menutupi dada telanjangnya.
Naruto merona hebat. Merasakan bagaimana kulit dada seputih porselain yang menyapa wajahnya. Menghirup aroma keringat seseorang yang sudah ia hapal, memenuhi paru-parunya. Naruto tahu meski ia tidak melihat wajah sosok yang telah merengkuhnya dengan erat. Dan pemuda pirang ini tidak perlu melepas pelukan dari sosok ini hanya untuk melihat wajahnya. Karena ia tidak perlu melihat wajah tampan itu hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia berada dalam pelukan orang yang benar.
"Aku merindukanmu!" bisik suara baritone itu tepat di telinga Naruto.
Naruto mengeratkan pelukannya. Makin menenggelamkan wajahnya ke dada sang pemuda. "Begitu pula denganku."
Kedua pemuda bagai siang dan malam ini masih menikmati momen berdua mereka tanpa peduli pada beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai macam perasaan. Ada yang menatap datar, iri, kesal, dan bingung (Khusus Menma yang tidak tahu tentang pemuda donker yang tengah memeluk Naru-nii nya).
"Ck! Dunia milik berdua!"
"Yang lain mah numpang lewat!"
Gerutu Kyuubi yang disambung oleh Kiba karena sudah sepet melihat SasuNaru yang tidak peduli pada jomblo-jomblo di sekitar mereka. Meski kenyataannya, yang benar-benar jomblo hanya diam.
Naruto sedikit terkejut begitu menyadari bahwa ia tengah disaksikan oleh banyak pasang mata. Merasa malu, akhirnya Naruto mencoba mendorong Sasuke untuk melepaskan pelukannya.
Berhasil. Naruto lepas dari pelukan Sasuke. Mengakibatkan pemuda Uchiha itu menatap sinis pada Kyuubi dan Kiba karena telah mengganggunya. Sementara yang ditatap sinis malah balik menatap tak kalah tajam. Untuk Kyuubi. Berbeda dengan Kiba yang mendadak bergidik ngeri dan mendekat pada Shikamaru. Mencari perlindungan pada si pemuda Nara.
"Naru-nii, dia siapa?" Menma menatap polos pada Sasuke yang tidak menampakkan ekspresi apapun saat melihat bocah yang nampak mirip dengannya. Kecuali model rambut dan kedua manik biru langitnya.
"Oh!" Naruto tersenyum kemudian berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan bocah Raven. "Dia adalah Sasuke." Naruto menjawabnya singkat, diikuti oleh senyumannya.
"Hmmm..." Menma menggumam. Menatap penuh selidik pada sosok raven jangkung di belakang kakak pirangnya. Menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut pantat bebeknya. Menilai.
"Sebenarnya apa yang Naru-nii suka dari orang ini sih? Lihat saja rambut pantat bebeknya itu. Tidak keren sama sekali. Dilihat dari manapun, tetap lebih keren aku!' Menma menatap remeh pada sosok Sasuke yang mengernyitkan alisnya begitu mendengar perkataan terdengar menghina, dari mulut bocah chibi di depannya. "Lebih baik Naru-nii sama Menma saja. Jangan mau sama orang itu!" tunjuk bocah raven ini tidak sopan.
Naruto tertawa kaku. Sedikit terkejut dengan penuturan Menma, sekaligus merasa tidak enak dengan aura-aura gelap dari sosok di belakangnya.
"Menma, kau tidak-"
"Hei bocah! Dia ini milikku! Seharusnya kau yang menjauh!" potong Sasuke cepat, sebelum Naruto berhasil menyelesaikan perkataannya. Naruto hanya bisa terdiam saat Sasuke memeluknya erat, sambil menatap sengit pada bocah lima tahun di depannya.
"Ha? Kau saja yang menjauh! Enak saja! Naru-nii sudah berjanji akan bersamaku dan akan menjadi Mama-ku." Menma menatap Sasuke tak kalah sengit. Mengirimkan ketidaksukaannya pada Sasuke.
Naruto sedikit terkejut saat mendengar perkataan Menma yang tiba-tiba dan seenak hatinya menjadikannya sebagai Mamanya. 'Sejak kapan aku berjanji akan menjadi Mamanya?' batin Naruto merana.
"Heeh... Jadi kau akan menjadikan Naruto sebagai Mamamu? Kalau begitu kau harus siap mempunyai Ayah sepertiku, bocah. Dan bersiaplah untuk menerima didikanku. Bocah kurang ajar sepertimu harus banyak diberi pelajaran." Sasuke menyeringai senang. Memandang remeh Menma yang hanya bisa merengut hendak protes.
Naruto makin dibuat terkejut saat mendnegar penuturan Sasuke yang akan menjadi Ayah dari bocah raven bermanik saphire di depannya. Secara tidak langsung, Sasuke bisa diartikan mau menerima keberadaan Menma. Sekaligus mengisyaratkan bahwa dia akan mendampingi Naruto. Tapi bagaimana bisa? Sasuke adalah shinigami. Begitupun Menma. Apa mungkin mereka bisa bersama-sama?
Naruto mendadak galau. Sebelumnya tak pernah memikirkan hal itu.
Naruto yang tiba-tiba memasang wajah murungnya, menjadi perhatian dari Itachi dan juga Kyuubi yang awalnya hanya diam menyaksikan perdebatan dua raven merebutkan seorang pirang.
"Ada apa Naruto? Kenapa kau mendadak murung?" tanya Itachi yang mampu menghentikan perdebatan Sasuke dan Menma.
"Tidak. Hanya saja...," Naruto menjeda perkataannya. "Apa manusia dan Shinigami bisa bersama? Bukankah dunia kita berbeda?"
Sasuke terdiam. Begitu pula dengan mereka semua. Merasa sedikit terganggu dengan pertanyaan bernada sedih dari satu-satunya pemuda pirang di antara mereka.
"Tentu saja bisa. Kau jangan khawatir." sahut Itachi cepat. Membuat Naruto menatap heran sekaligus tidak percaya pada sulung Uchiha. "Seperti sebelumnya, Sasuke bisa berubah menjadi manusia. Tapi tidak untuk Menma. Dia harus belajar dulu agar bisa merubah dirinya menjadi manusia. Tapi jangan khawatir. Tidak akan lama." terang Itachi yang membuat Naruto sedikit lega sekaligus agak cemas pada Menma.
"Tenanglah bocah. Kau bisa membentuk keluarga bahagiamu sendiri." Tambah Kyuubi cepat.
"Ya. Uchiha akan melatih dan menjaga Menma sebelum ia bisa bertemu denganmu. Karena, Menma sendiri merupakan keturunan Uchiha."
"Dan kau bisa mengunjunginya kapanpun asal bersama Sasuke." tambah Itachi kemudian.
-E.T.-
Lima tahun berlalu.
Sasuke dan Naruto sudah hidup bersama. Sementara Menma. Bocah raven itu masih berada di dunia Shinigami untuk menyelesaikan latihannya sebelum ia cukup mampu merubah dirinya menjadi manusia. Sasuke menjadi seorang pengusaha properti yang sukses. Tak lantas membuatnya berhenti untuk menjalankan tugasnya sebagai Shinigami. Dan Naruto bekerja sebagai penulis setelah menyelesaikan studinya.
Kehidupan Sasuke dan Naruto terbilang cukup lancar. Meski mereka terkadang mendebatkan hal kecil dan berakhir saling mendiamkan, tapi pada akhirnya mereka akan kembali berbaikan seolah tak terjadi masalah apapun sebelumnya. Naruto juga sesekali mengunjungi Menma bersama Sasuke, saat lelaki pirang itu merasa sangat merindukan si bocah raven.
Naruto sedang sibuk dengan pekerjaannya, ditemani oleh Sasuke yang asik menikmati secangkir kopi sembari membaca surat kabar, saat bel pintu rumah mereka berbunyi, disambung dengan teriakan seorang bocah yang menggema di dalam rumah.
"KAA-SAN! TOU-SAN! MENMA PULANG! DAN MENMA INGIN ADIK SECEPATNYA!"
Prang!
Bug!
Sasuke terkejut hingga menjatuhkan cangkir kopinya.
Naruto membeku dan menjatuhkan buku referensinya.
Sementara bocah 10 tahun hampir 11 tahun itu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. Sama sekali tidak merasa bersalah pada kedua orang tuanya yang masih diam membeku.
"Roger!" sahut Sasuke begitu sadar dari keterkejutannya.
"SAAAASUUUKKEEEEE!"
END
-OWARI-
Fiuuh... /ngelap keringet.
Akhrinya setelah sekian lama. Aqi berhasil namatin ini fict gaje plus amburadul ini. Maafkan keleletan Aqi yang nggak bisa update cepet. Sebenarnya chap ini udah hampir selesai sejak satu setengah bulan yang lalu. Tapi tiba-tiba aja ide menghilang begitu saja.
Aqi minta maaf jika alurnya nggak jelas. Kecepetan. Dan sama sekali tidak menarik. Mood Aqi buat ngelanjutin ET mulai terkikis.
Dan terima kasih banyak yang telah menemani Aqi selama ini dan masih setia membaca ET. You are the real MVP. wwkwkwkwkw... Aqi terharu dan senang sangat.
Terimakasih yang telah bersedia review, favorite, follow, maupun silent readers. Kalian benar-benar mantap.
Dan ini adalah chapter terakhir. Semoga berkenan. Dan maaf jika Aqi tidak bisa membalas review kalian. Tapi Aqi baca semuanya kok.
Jika berkenan, silahkan tinggal kan kesan-kesan kalian di chap terakhir Extraterestrial ini.
Sankyuu Minna-san... :) :) :D
Extraterestrial
Aqizakura
15/3/2015 – 12/6/2017
