Pairing : SasuNaru slight OC x Naruto x OC

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Yaoi, Pedophile, OC, OOC, typo. DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ!!!

Sequel of Pedophilia : BABY KISS

Special Thank's to

My Twin Sista' MizuKana the Demonic Angel

Shiroi Kitsune a.k.a Nanami

Nova 'Kyuuketsuki'

Namikaze Lin-chan

Naruto-chan, my kawaii otouto

For All Readers and Reviewers

-

-

Pedophilia : AI NO KOTOBA

Naruto © Masashi Kishimoto

Pedophilia © Akaneko

'Beta-Ed by FBSN'

Special thanks to Chiaki Megumi a.k.a Ange la Nuit

-

-

Naruto : 12 tahun

Sasuke dkk : 27 tahun

Iruka : 25 tahun

Kakashi : 29 tahun

-

-

Gumpalan putih di atas sana tampak begitu indah dipadukan dengan birunya langit cerah. Angin lembut yang berhembus membawa perasaan nyaman dan menyenangkan bagi orang-orang di bumi ini. Memberikan ketenangan ketika dibelainya. Seharusnya begitu, tapi tidak untuk beberapa orang yang berada di gedung pertarungan dimana saat ini sedang dilaksanakannya ujian Chuunin yang berada di Konoha. Di antara ramainya orang yang tampak ceria, terdapat orang-orang yang tengah dilanda kemurungan.

"Narunaru, bersemangatlah. Saat ini pikirkan saja ujiannya dulu. Setelah itu kita selesaikan masalah ini dengan Hokage-sama," hibur Akai.

"Ng…" gumam Naruto sambil menganggukan kepalanya.

Akai menghela nafas melihat rekannya yang tampak lesu. Lalu pandangannya beralih pada sang Hokage yang berada di singgasananya di atas sana. Ketika merahnya ruby bertemu pandang dengan kelamnya onyx, mereka saling memberikan tatapan tajam pada masing-masing lawan. Kali ini ekspresi yang ditunjukan oleh gadis itu tidak menyeringai menantang seperti biasanya, melainkan tergantinkan dengan ekspresi dingin yang menusuk. Kilat mata merahnya memandang sang Hokage dengan sedikit benci. Dan dibalasnya dengan tatapan yang tak kalah dingin dan menusuk oleh sang Hokage. Sampai-sampai yang dapat menginterupsi hal itu hanyalah suara pemberitahuan pertarungan pertama babak ke dua ujian Chuunin ini.

"Pertarungan pertama babak semi-final akan segera dimulai. Petarung selanjutnya, Uzumaki Naruto dari Konoha melawan Karuchi dari Oto!"

Akai langsung menyudahi acara saling pandangnya dengan sang Hokage. Kini perhatiannya tertuju pada Naruto. Dia menepuk pundak Naruto perlahan sambil tersenyum.

"Berjuanglah. Kita bicarakan lagi hal ini, oke?" hiburnya.

"Iya, Akai-chan," sahut Naruto sedikit tersenyum dengan lesu.

Akai langsung memeluk tubuh Naruto. Membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Tak terkecuali mata onyx yang berada jauh di atas sana yang menatap dengan pandangan yang kesal dan membuat ekspresi wajahnya mengeras. Bahkan sepasang mata golden topaz juga memandang mereka dengan sedikit kesal. Akai melirik ke arah Sasuke dan menyunggingkan seringaian kemenangan. Lalu dia melepaskan pelukannya pada bocah pirang itu.

Naruto dan lawannya berjalan meninggalkan ruang tunggu peserta. Dan kini yang ada di sana hanyalah Akai dan Kiru saja yang juga merupakan peserta yang masuk dalam pertarungan semi-final. Mereka akan bertarung setelah pertarungan Naruto nanti. Keheningan menyelimuti mereka. Tak ada yang berbicara di antaranya. Bahkan hingga dimulainya pertarungan Naruto, mereka masih tetap diam.

***

Kedua Kage yang berada di singgasananya menonton pertarungan Naruto dalam keheningan. Sang Hokage memandang pertarungan itu dengan tatapan dingin. Tak ada yang dapat membaca mimik wajahnya saat ini. Tapi di dalam kepalanya melayang berbagai macam pikiran yang mengganggunya.

-Flashback-

Setelah pertarungan terakhir pada babak pertama selesai, dengan Kiru sebagai pemenangnya, Sasuke beranjak dari tempat duduknya.

"Maaf, Kazekage-dono, permisi sebentar," ujarnya.

"Silahkan," sahut sang Kazekage berambut merah itu.

Tanpa dikawal oleh Anbu maupun Jounin, sang Hokage berjalan ke dalam gedung. Pikirannya melayang seraya melangkahkan kakinya yang panjang. Mengingat kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu membuatnya terbakar emosi lagi. Tangannya terkepal dengan keras di samping tubuhnya. Tepat di depannya telah berdiri Kiru dengan ekspresi stoic sama seperti dirinya. Lalu dia menghentikan langkahnya tepat di hadapan bocah itu.

"Hokage-sama," panggil Kiru datar.

Sasuke tak menyahutnya. Dia hanya memandang Kiru dengan datar pula.

"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya tanpa merubah intonasi bicaranya.

"Hn. Katakanlah," sahut Sasuke akhirnya.

"Ada yang ingin kutanyakan."

Sasuke kembali terdiam.

"Apa yang akan kau lakukan jika…" Kiru diam sesaat sambil memandang Sasuke dengan tajam. "…aku menyukai Naruto?"

Sontak hal itu membuat Sasuke membelalakan matanya.

-End of Flashback-

Tangannya terkepal dengan kuat. Walaupun pandangannya mengarah pada arena pertarungan di depannya, tapi pikirannya tidak berada di sana. Gaara sang Kazekage yang melihat kondisi aneh Sasuke segera bergerak menepuk pundaknya perlahan.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Sasuke sempat terkejut sesaat, lalu dia mencoba menenangkan dirinya.

"Ya," sahutnya sambil memejamkan mata.

Gaara masih melirik Sasuke dari ekor matanya. Tangannya yang tadi berada di pundak sang Hokage telah berpindah ke atas pangkuannya. Dia menghela nafas ringan.

"Aku cukup tahu bahwa yang membuatmu terlihat aneh seperti ini hanya jika menyangkut bocah pirang itu, bukan?"

Sasuke tidak menyahutnya. Matanya setengah terpejam, tapi arah matanya tidak berada pada arena pertarungan Naruto di depannya.

"Aku memang tidak tahu ada masalah apa, tapi ada sedikit saran yang bisa kukatakan, lakukanlah semua itu dengan kepala dingin. Jika tidak, maka kau akan terseret ke dalam masalah yang lebih besar," ucap Gaara.

"Hn, aku tahu," lirihnya.

***

Akai dan Kiru yang berada di ruang tunggu peserta masih tetap pada posisi mereka berdiri menonton pertarungan rekannya di bawah sana. Sejak tadi mereka tak ada yang saling bicara. Hanya diam dalam keheningan di antaranya. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mulai angkat bicara.

"Kau… apa yang telah kau rencanakan pada Naruto dan Hokage-sama?" ujar Kiru tiba-tiba.

Akai melirik ke arah Kiru dari sudut matanya.

"Aku tidak mengerti maksudmu," sahut Akai dengan nada yang dingin.

Kiru diam sesaat. Arah pandangnya tetap pada arena pertarungan dimana Naruto masih bertarung di sana.

"Benarkah?" ucap Kiru. "Lalu apa maksud dari kemarahan Hokage-sama pada Naruto? Apakah kau sengaja membuat hubungan mereka hancur?"

Akai menyipitkan matanya. Memandang Kiru dengan tidak suka.

"Jadi… kau mencuri dengar pembicaraan kami? Atau lebih tepat kukatakan menguntit?" tanya Akai sarkastik.

Sudut bibir Kiru terangkat, menyunggingkan seringaian kecil. Kedua kalinya Akai melihat seringaian Kiru, dan hal itu membuatnya terkejut.

"Mungkin," sahutnya.

Mendengar itu, Akai menjadi kesal dan merasakan emosi yang meluap memenuhi hatinya. Mata merahnya memandang Kiru dengan tajam.

"Aku tahu kau juga merencanakan sesuatu, Kiru. Apa maumu sebenarnya?" desis Akai.

Senyuman atau lebih tepat disebut seringaian di sudut bibir itu semakin tampak jelas. Akai merasa seperti direndahkan oleh Kiru.

"'Juga'? Jadi, kau mengakui bahwa kau memang merencanakan sesuatu, eh?"

Mata merah itu terbelalak mendengarnya. Dia benar-benar merasa marah sekarang. Bisa-bisanya dia dibodohi oleh pemuda di hadapannya ini. Tangannya terkepal dengan gemetaran di kedua sisi tubuhnya.

"Grrrrhh… Kau… Brengsek!!! Jawab pertanyaanku!! Apa maumu sebenarnya?!!!" serunya penuh emosi.

Pertama kalinya Akai tampak begitu penuh emosi seperti ini. Ekspresi Kiru kembali stoic, lalu dia berdiri menghadap Akai dengan tenang. Warna topaz dan ruby saling bertemu pandang. Kemarahan terpancar dalam bola mata ruby dengan membara. Tapi dibalas dengan datar dan tak terbaca apa yang tercermin dalam bola mata keemasan itu.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku menyukai Naruto?" ucap Kiru dan seringaian kembali bermain di sudut bibirnya.

Mata merah Akai memandang dengan amarah yang semakin membara. Bola mata bagai ruby itu mengkilat bagaikan terbakar oleh api. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat murka sekarang. Tubuhnya juga gemetaran karenanya.

"Kau…"

Geraman gadis itu terpotong oleh teriakan penonton di sana. Dan kini arah pandang mereka mengarah pada arena di bawah sana. Tampak di sana Naruto yang telah jatuh terkapar. Tubuhnya penuh akan luka. Dan sepertinya dia tak sadarkan diri.

"Naruto!!!" seru Akai terkejut.

Mata merah itu terbelalak melihat rekannya telah dijatuhkan di dalam arena itu. Gadis itu tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya. Kalah, Naruto kalah pada pertarungan semi-final ini. Akai langsung membalikan badannya untuk turun ke dalam arena itu menghampiri tubuh rekannya yang telah terkapar. Tapi sebuah tangan menghentikan gerakannya.

"Mau kemana?" tanya Kiru datar.

"Lepaskan aku!!!" seru Akai berusaha melepas cengkraman pada tangannya.

Tapi tangan Kiru tak bergeming. Bahkan mencengkram lebih erat.

"Apa kau mau lari dari pertarungan kita?"

"Apa?!"

"Kalau kau menghampiri Naruto sekarang, berarti kau lari dari pertarungan kita. Apakah kau takut melawanku?" pancing Kiru.

Dengan kuat Akai melepaskan tangan Kiru yang mencengkram pergelangan tangannya. Kemarahan yang terpancar dalam bola mata merah itu semakin membara.

"Jangan harap aku akan merasakan perasaan itu padamu. Aku. Tidak. Pernah. Takut. Pada. Siapapun," ucap Akai penuh penekanan.

"Baguslah," ucap Kiru disertai seringaian.

Akai memandang ke dalam arena pertarungan. Melihat tubuh Naruto yang berada di atas tandu. Dibawa ke dalam gedung untuk dirawat lebih jauh. Ekspresi wajahnya begitu khawatir. Berbeda dengan Kiru yang memandang tubuh Naruto dengan wajah stoic-nya. Lalu bola mata keemasan itu memandang ke arah Akai dengan ekspresi sama datarnya.

***

Tak ayal sang Hokage pun membelalakan matanya ketika melihat bocah pirang itu terkapar tak berdaya di dalam arena. Tangannya yang berada di atas sandaran tangan singgasananya mengepal dengan erat. Gemetaran, tangan itu gemetaran menahan semua emosi yang berkecamuk dalam hatinya. Ingin rasanya dia langsung menghampiri sosok mungil itu dan mendekapnya dengan erat. Tapi dia tahu bagaimana posisinya saat ini. Hal itu tak mungkin dilakukannya.

"Sasuke, jika kau ingin menghampirinya, pergilah," ucap Gaara.

Sasuke langsung membuang muka. Tangannya semakin terkepal erat. Mencoba menenangkan hatinya yang tengah berkecamuk. Tak ingin terus memandang ke dalam arena pertarungan itu. Dia takut hilang kendali dan tergoda untuk langsung menghampiri tubuh Naruto yang terkapar. Sungguh, berat rasanya melihat orang yang kau cintai terluka tepat di depan matamu. Tapi kau tak bisa berbuat apapun untuk menolongnya karena posisi yang tengah kau sandang.

"Saat ini aku adalah seorang Hokage. Aku tidak bisa mengabaikan tugasku dan mementingkan keinginan pribadi di atasnya," ucapnya datar.

Gaara menghela nafas melihat sahabatnya itu. Dia tidak mengenal Sasuke hanya dalam waktu singkat. Sebagai salah seorang sahabatnya, dia tahu bagaimana perasaan Sasuke saat ini. Dan seperti yang telah dikatakan pemuda berambut hitam itu, saat ini dia adalah seorang Hokage. Dia tidak dapat berbuat sesuka hati untuk mencampurkan urusan desa dengan kehidupan pribadinya. Dan hal itu tentu membuatnya menderita.

***

Pertarungan babak kedua semi-final akan segera dimulai. Akai dan Kiru berjalan menuju arena. Sebelum masuk dalam arena, Akai sempat melihat Naruto yang dibawa dengan tandu menuju ruang rawat sekilas. Tapi dia tak menghampirinya karena saat ini dia harus bertarung melawan Kiru.

Mereka saling berhadapan dalam jarak 20 meter. Wasit berada di tengah-tengah mereka untuk mengatur jalannya pertarungan. Ketika tanda pertarungan telah dimulai, tak satupun dari mereka yang bergerak. Masih tetap diam di tempatnya.

"Aku tidak akan segan-segan untuk melukaimu walaupun kau seorang wanita dan rekanku, Akai," ucap Kiru.

"Huh, jangan pernah berpikir seperti itu tentangku. Kalau kau bisa, arahkan senjatamu pada jantungku ini," tunjuk Akai ke arah dadanya.

"Kalau begitu aku tak akan sungkan."

"Kita lihat siapa yang akan mati bersimbah darah nantinya, Kiru," desis Akai.

Perlahan mereka memasang kuda-kuda bertarung. Tangan kanan Akai berada di belakang pinggangnya, menggenggam Kodachi yang tergantung di belakang tubuhnya. Kiru pun menggenggam pedang pada tangannya. Mata mereka tak pernah lepas pada lawan di depannya dengan aura pertarungan yang semakin terasa. Ruby dan topaz terkunci dalam pandangan kewaspadaan. Orang-orang yang menonton mereka seolah tercekat, tak ada yang bersuara untuk bersorak. Angin membelai rambut hitam kemerahan dan hitam pekat kedua bocah itu.

TRANG!!!

Kedua senjata itu saling beradu. Menimbulkan bunga-bunga api kecil ketika saling bergesekan. Kedua pasang mata itu tak pernah lepas pada tatapan lawannya. Membuat semua yang menonton kembali bersorak dengan keras ketika pertarungan mereka telah sungguh-sungguh dimulai.

Kedua Kage yang menonton pertarungan Akai dan Kiru tetap diam dalam singgasananya. Tak terpancar emosi pada dua pemuda Kage yang masih muda itu. Tapi tampak sedikit rasa ketertarikan pada bola mata sea green sang Kazekage. Harus diakui olehnya, bahwa pertarungan kali ini terlihat lebih seru bila dibandingkan dengan pertarungan-pertarungan sebelumnya. Karena kedua bocah yang tengah bertarung itu memiliki kemampuan yang hebat pada masing-masingnya. Benar-benar tak bisa dibandingkan dengan peserta lainnya.

"Mereka sangat hebat, Hokage-dono. Benarkah kedua anak itu adalah didikan Kakashi?" tanya Gaara.

"Ya, mereka rekan Naruto," sahut Sasuke.

Gaara tak mengatakan apapun lagi. Dia kembali fokus pada pertarungan yang ada di depannya. Walaupun semua orang tampak berfokus pada pertarungan itu, tapi tidak dengan sang Hokage sendiri. Pikirannya selalu melayang pada Naruto yang kini tengah tak sadarkan diri. Dia menghela nafas sejenak.

"Maaf, aku permisi sebentar, Kazekage-dono," ucap Sasuke sopan.

"Tentu," sahut Gaara.

Kali ini Sasuke pergi dengan diiringi oleh dua orang Anbu. Mereka berjalan memasuki gedung dalam diam.

***

Di sebuah ruangan dengan cat dinding berwarna putih dan perabotan lainnya yang dominan dengan warna itu, terbaring seorang bocah pirang yang tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh akan luka, dapat dilihat dari banyaknya perban yang membalut tubuh kecoklatan itu. Dadanya naik turun menandakan dia tengah terlelap. Dia hanya sendiri dalam ruangan itu. Tak seorang pun yang menjaganya. Semua orang teralihkan oleh pertarungan sengit yang sedang berlangsung di arena sana.

Seseorang masuk ke dalam ruangan itu dengan hati-hati. Dia memakai penutup wajah seperti topeng Anbu dengan jubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sosok itu berdiri di samping ranjang bocah pirang itu dan hanya diam menatapnya. Tak berapa lama, tangannya terangkat hendak menyentuh wajah bocah yang masih terbaring lemah itu. Tapi sebuah suara menginterupsinya.

"Jangan kau berani-berani menyentuhnya seujung helai rambutpun di saat tak ada orang seperti ini."

Sebuah Kodachi teracung tepat di samping leher sosok bertopeng Anbu itu. Dapat dirasakan oleh sosok itu, seorang lain yang berdiri membelakanginya dan punggung mereka yang saling bersentuhan. Aura yang dikeluarkan orang yang mengancam menggunakan Kodachi itu terasa begitu pekat untuk membunuh. Perlahan tangan sosok bertopeng Anbu itu menjauhkan tangannya dari si bocah pirang yang tak merasa terganggu dengan kehadiran dua sosok itu.

Jleb!

Sebuah tusukan menembus jubah sosok bertopeng itu. Tapi yang terjadi berikutnya adalah sosok itu menghilang, menyisakan jubahnya yang berlubang oleh Kodachi yang dipegang sosok lainnya.

"Aku tahu kalau kau memang dapat menghindari seranganku. Tapi aku akan benar-benar mengoyak jantungmu jika kau masih berani menyentuh Naruto," ujar sosok itu dengan nada yang dingin.

Kini dapat terlihat dengan jelas siapa yang menginterupsi kegiatan sosok bertopeng Anbu itu. Seorang gadis berambut hitam merah dengan bola mata merah yang berkilat penuh amarah. Ya, dia adalah Akai. Sosok bertopeng itu masih tetap diam menatap gadis di depannya.

"Aku tidak tahu apa rencanamu yang sesungguhnya hingga kau berani datang ke tempat ini seorang diri. Tapi…" ucap Akai diam sesaat. "Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh Naruto seenaknya tanpa seizinku."

Sosok itu tak member respon apapun.

"Oh… mungkin pengecualian untuk Kakashi-sensei, Iruka-sensei, dan… Hokage-sama," ucapnya lagi. "Kau mengerti 'kan? Itu artinya, aku tidak akan mengizinkan orang lain selain ketiga orang itu dan diriku untuk menyentuh Naruto. Bahkan dirimu sekalipun tak akan kuizinkan untuk menyentuhnya…" geramnya. "Kiru."

Perlahan topeng Anbu itu dibukanya. Menampilkan sesosok bocah berambut hitam dengan bola mata keemasannya. Kiru menatap ke dalam bola mata merah Akai dengan wajah stoic-nya. Tapi kemudian, seringaian terkembang di bibirnya. Akai semakin mengeluarkan aura gelapnya.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Akai dingin.

Kiru tak langsung meresponnya. Dia masih tetap memandang pada Akai dengan seringaian yang masih bermain di bibirnya.

"Aku juga ingin menanyakan hal itu padamu."

Twitch.

Akai merasa semakin kesal dengan sikap Kiru yang terlihat begitu menyebalkan di matanya.

"Aku yang bertanya lebih dulu. Jawab pertanyaanku," geramnya.

"Keras kepala," ucap Kiru.

Sebuah shuriken melayang hampir mengenai wajah Kiru. Tapi dengan mudah dia menghindarinya dengan memiringkan kepalanya.

"Kalau kau ingin bermain-main denganku, lupakan saja," desis Akai.

Kiru kembali memasang wajah stoic-nya. Dia memandang Akai yang telah terbakar emosi.

"Jika aku menjawab pertanyaanmu, kau juga harus menjawab pertanyaanku," ucapnya datar.

Akai memicingkan matanya dengan waspada. Dia merasa harus berhati-hati dalam menghadapi rekannya ini. Orang yang dapat menyeimbanginya selama ini hanyalah pemuda yang ada di hadapannya ini. Dan seperti yang terlihat, sepertinya Kiru mulai mencampuri urusannya sekarang.

"Bagaimana?" tanya Kiru.

Akai masih tetap diam dan memandang Kiru dengan tajam.

"Jawab pertanyaanku dulu."

Kali ini Kiru yang diam sesaat memandang Akai.

"Alasanku ada di sini karena… sama seperti dirimu yang kini berdiri dalam ruangan ini," ucapnya.

"Kau…" geram Akai, tapi terpotong oleh Kiru.

"Kau ada di sini karena kau tahu bahwa aku akan datang ke sini. Dan aku juga tahu bahwa kau pun akan ada di sini. Kita sama-sama tahu dan dengan sengaja datang ke tempat ini untuk saling menjebak."

"Apa motifmu yang sebenarnya?"

Sedikit jeda sebelum pemuda itu menjawabnya.

"Aku baru saja menjawab pertanyaanmu. Kini kau yang harus menjawab pertanyaanku."

"Ukh… brengsek kau. Che, katakanlah," dengus Akai kesal.

"Sebenarnya, apa tujuanmu mendekati Naruto? Apa kau sengaja membuat hubungan Naruto dan Hokage-sama hancur?" tanya Kiru datar.

Akai mengepalkan tangannya dengan erat. Dia memandang Kiru penuh amarah.

"Bukan urusanmu."

"Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"

"Che," dengus Akai. Dia memejamkan matanya menahan amarah. Lalu kelopak matanya terbuka perlahan. "Aku tidak dengan sengaja membuat hubungan mereka hancur. Mengenai Naruto, aku tidak memiliki tujuan apapun untuk mendekatinya. Hanya… menyukainya saja," ucapnya. "Lalu, apa motifmu yang sesungguhnya hingga kau sengaja datang kemari?" tanya Akai.

"Sama sepertimu," sahut Kiru tenang.

Akai benar-benar merasa sangat kesal dengan rekan di hadapannya ini.

"Brengsek!!! Apa maksudmu sebenarnya?! Sudah kukatakan, jangan main-main denganku!!" seru Akai.

"Aku tanya padamu, apa alasanmu ada di sini saat ini?" tanya Kiru dengan datar.

"Tentu saja untuk menghindari serangga busuk sepertimu yang ingin mendekati Naruto," ucap Akai.

Kiru diam sesaat sebelum bicara kembali.

"Aku mengerti kalau kau tak ingin orang lain mendekati Naruto. Atau mungkin tak akan membiarkan orang lain itu masuk ke dalam hati Naruto, apa aku benar?"

Akai tak menjawabnya. Dia tetap memfokuskan arah pandangnya pada Kiru dengan tatapan geram.

"Jadi, kau ingin memonopolinya seorang diri? Apakah kau begitu menyukainya hingga menggunakan berbagai macam cara licik agar orang lain tak mendekatinya? Begitukah caramu melindungi orang yang kau sukai?"

"Diam kau. Kau tidak tahu apa-apa. Jangan bicara seenaknya," desis Akai.

Kiru tak membalas kata-kata Akai. Dia diam memandang gadis bermata merah itu di hadapannya.

"Aku memang menyukainya, tapi kau tidak tahu rasa 'suka' seperti apa yang kurasakan padanya," ucap Akai.

"Lalu, rasa 'suka' seperti apa yang kau maksud?"

"Yang pasti, berbeda dengan rasa suka yang diberikan oleh Hokage-sama padanya," sahut Akai. "Aku tidak bisa menyaingi perasaan Hokage-sama pada Naruto. Perasaannya begitu kuat dan tulus. Tapi aku tidak suka dengannya."

"Apa maksudmu?"

Akai tak langsung menjawabnya. Kini arah pandangnya beralih pada lantai putih yang dipijaknya.

"Bagiku, Naruto itu seperti diriku yang lain. Sejak dilahirkan dia seorang diri. Lalu, dia bertemu dengan orang-orang yang dapat menerima dirinya. Aku tahu bahwa dia cukup bahagia karenanya. Tapi, mayoritas orang-orang di Konoha ini masih saja memandangnya dengan rendah. Aku benci mereka. Dan aku juga benci Hokage-sama," ucap Akai.

"Kau tahu bahwa Hokage-sama menyukai Naruto. Dan menurutmu, dia adalah salah seorang dari beberapa orang yang kau izinkan untuk mendekati Naruto. Tapi kenapa kau membencinya?

Akai tak langsung menjawabnya. Kiru masih tetap memandang gadis itu dengan wajah datarnya. Dia menunggu Akai berbicara kembali.

"Aku tahu bahwa Hokage-sama telah menyukai, ah… tidak, maksudku mencintai Naruto sejak lama. Ya, aku tahu bahwa perasaannya sangat tulus. Dia begitu mencintai Naruto dan memendam perasaannya pada Naruto begitu lama. Dan di mataku, hanya Hokage-sama yang pantas untuk bersama dengan Naruto. Tapi… aku benci padanya," ucapnya.

"Kenapa? Kau bilang bahwa hanya Hokage-sama yang pantas untuk Naruto dan kau mengizinkan dia untuk menyentuh Naruto, tapi kau membencinya? Bukankah itu kontradiktif?" tanya Kiru datar.

Akai mengepalkan tangannya dengan erat. Ekspresi wajahnya terlihat begitu kesal. Mata merahnya masih memandang pada lantai yang mereka pijak.

"Aku tahu itu," lirihnya. "Tapi… tsk," dengusnya. "Aku benci dengan kedudukannya sebagai seorang Hokage."

Sepersekian detik, mimik wajah Kiru berubah. Tapi kemudian dia kembali memasang wajah datarnya. Dilihatnya wajah Akai yang menahan amarahnya.

"Aku… sangat benci dirinya sebagai Hokage. Dia memiliki kekuatan dan kekuasaan, tapi kenapa… kenapa melindungi orang yang dicintainya saja dia tidak bisa?!" serunya emosi.

Kiru tak meresponnya. Beruntung suara Akai tak membangunkan rekannya yang tengah berbaring lemah di belakangnya. Tubuhnya gemetaran menahan emosinya.

"Apanya yang seorang Hokage? Shinobi terkuat di Konoha? Huh, memalukan," ucap Akai dengan seringaian mengejek.

Kiru masih berdiam diri di tempatnya.

"Bahkan melindungi seorang bocah saja dia tidak bisa. Buktinya, warga Konoha masih saja terus menghina dan merendahkan Naruto. Sudah dua tahun lamanya dia menjabat sebagai Hokage, tapi tak bisa merubah warga yang dilindunginya demi orang yang dicintainya. Apa pantas orang seperti dirinya menjadi seorang Hokage yang mencintai Naruto? Justru dia semakin membuat Naruto menderita. Karena posisinya itu, warga Konoha semakin berprasangka buruk terhadap Naruto."

Tetap dengan wajah stoic-nya, Kiru menatap Akai lekat-lekat.

"Hanya itu?"

Akai langsung memandang Kiru dengan geram dan tatapan penuh amarah.

"'Hanya' kau bilang, eh? Mudah sekali kau berbicara seperti itu. Kau ini tidak tahu apa-apa. Karena itulah aku membencimu. Kau selalu saja membuatku muak dengan ekspresi datarmu itu. Memangnya kau tahu apa tentang ini semua? Kau saja tidak pernah perduli akan semua ini. Menyebalkan," maki Akai.

Sesaat Kiru mengalihkan matanya, lalu kembali memandang ke arah Akai. Tetap dengan wajah stoic-nya. Akai menyeringai sinis padanya.

"Lihatlah dirimu. Sama menyebalkannya dengan Hokage-sama. Selalu memasang ekspresi wajah datar seolah tak terjadi apa-apa. Tapi bersikap semaunya dan tak memikirkan sekitar. Sehingga melibatkan orang lain yang tak bersalah. Menyeret Naruto dalam masalah yang lebih besar terhadap warga Konoha, tapi dia tidak bertanggungjawab pada sikapnya. Dia tidak bisa melindungi Naruto dengan baik. Semena-mena mengumbar hubungannya dengan Naruto yang tak jelas itu pada orang-orang. Tapi tidak memikirkan akibatnya. Hokage macam apa itu?"

Kiru memejamkan matanya seraya menghela nafas ringan. Sesaat keheningan menyelimuti mereka.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran bodohmu itu," ucap Kiru.

"Ap-apa maksudmu?!" seru Akai marah.

Bola mata topaz itu berhadapan dengan ruby yang terbakar amarah di hadapannya. Dia tetap memandang dengan tatapan yang tenang.

"Menurutku, kau sama saja dengan warga Konoha yang selalu menghina Naruto."

"Apa?!" seru Akai. "Atas dasar apa kau mengatakan hal itu? Kau yang bahkan tidak pernah peduli akan sekitarmu, kau pikir kau berhak untuk mengatakan hal itu, huh?! Konyol sekali."

"Jika menurutmu aku tidak berhak untuk mengatakan hal seperti itu, maka kau pun tidak berhak untuk menghina Hokage-sama."

Mata merah itu terbelalak mendengarnya. Emosi semakin memanas dalam hatinya. Tangannya semakin terkepal dan gemetaran karena amarah.

"Kau… memang brengsek…" geram Akai.

"Kau membenci dan menghina Hokage-sama karena tak dapat merubah pandangan warga Konoha mengenai Naruto. Warga Konoha yang selalu menganggap rendah Naruto. Tapi, kau pun sama seperti mereka. Menghina orang lain tanpa tahu bagaimana kondisi orang itu yang sesungguhnya. Apa pantas kau menghina orang lain sementara kau sendiri tak lebih buruk dari mereka?" ucap Kiru dengan tenang.

"Di… am… kauuu…" desis Akai.

Kiru dapat merasakan aura Akai yang semakin berbahaya. Kini dia mulai meningkatkan kewaspadaannya. Tangan kanannya bersembunyi di balik punggungnya, menggenggam sebilah kunai.

"Tak kusangka bahwa kau pun memiliki pemikiran yang sama bodohnya dengan warga Konoha lainnya. Memandang orang dan menghakimi orang sesukamu. Pemikiranmu sempit karena melihat suatu hal dari sudut pandangmu saja. Tapi kau, tak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang itu dengan baik."

"Sudah kubilang diaaaaamm!!!!" seru Akai murka seraya menyerang Kiru dengan Kodachi yang dipegangnya.

Dan dengan cepat Kiru mengeluarkan pedang yang tersembunyi di balik punggungnya sejak tadi.

TRANG!

Suara logam yang saling beradu terdengar begitu keras. Tapi, seseorang menginterupsi pertarungan mereka. Seorang pria dewasa yang menggenggam kedua tangan bocah itu yang memegang senjata tajam dan menghentikan pertarungan mereka.

"Jika kalian ingin bertarung, lakukanlah di luar," ucap pria itu.

"Kakashi sensei!!!" seru Akai penuh kejut.

Sesaat Kiru pun dipenuhi rasa kejut. Tapi dia segera mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Kakashi masih memegang kedua pergelangan tangan muridnya yang memegang senjata. Dia menghela nafas sesaat.

"Kalian sudah bertarung di dalam arena pertarungan dengan menggunakan Kagebunshin, tapi kalian masih ingin bertarung di tempat seperti ini juga? Tak sadarkah kalian bahwa hal itu bisa mengganggu Naruto yang sedang beristirahat dan dapat melukainya?" ucap Kakashi.

Akai mendengus dengan kesal. Memang, apa yang dikatakan Kakashi ada benarnya. Karena terlalu kalap dan penuh emosi, Akai tak dapat berpikir dengan jernih. Ditambah lagi adu mulut dengan Kiru yang cukup dibencinya. Hal itu membuatnya kehilangan kendali. Tangan Akai sedikit melemah walaupun masih tetap menggenggam Kodachi miliknya. Tapi Kakashi masih belum melepaskan kedua tangan mereka.

"Maaf…" lirih Akai.

Kembali Kakashi menghela nafasnya. Perlahan dia melepaskan pergelangan tangan kedua muridnya itu. Tapi kewaspadaan tetap dikendalikannya, berjaga-jaga agar tak terjadi pertarungan kedua kalinya di antara mereka.

"Aku mendengar semua percakapan kalian," ucap Kakashi.

Akai langsung menengadahkan kepalanya memandang ke arah gurunya itu. Sedangkan Kiru hanya melirik Kakashi dengan ekspresi stoic-nya.

"Kiru, aku tidak tahu kenapa kau memancing emosi Akai hingga dapat mengakibatkan pertarungan sungguhan jika saja aku tak menghentikan kalian. Entah kenapa, kau terlihat berbeda dari biasanya saat ini. Yah… tapi aku tidak akan menanyakannya jika hal itu menyangkut dengan masalah pribadimu."

Kiru tak menjawabnya, tapi arah pandangnya dialihkannya pada lantai dingin di bawahnya.

"Sedangkan kau Akai, aku mengerti bahwa kau ingin melihat Naruto bahagia dan niatmu itu baik. Tapi, kata-katamu sudah keterlaluan karena menghina Hokage kita. Jika ketahuan, maka kau akan dihukum berat."

"Heh," Akai menyeringai. "Lalu kenapa? Apa aku akan dihukum mati? Kalau begitu, lakukan saja," ucapnya memandang Kakashi dengan tatapan yang menantang. "Tapi aku tak akan membiarkannya mendapatkan Naruto sampai dia menyadari kesalahannya dan meyakinkanku tentang kesungguhannya pada Naruto."

"Benarkah?"

Sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk. Dan tampak sosok sang Hokage dengan jubah kebesarannya, Sasuke.

"Ho-Hokage-sama!" seru Akai terkejut.

"Hokage-sama," gumam Kiru.

-

-

~TBC~

-

-

BEHIND THE SCENE

Gaa : "Sasuke, jika kau ingin menghampirinya, pergilah," ucap Gaara.

Sasu : oke, gue cabut dulu. Elo gantiin gue bentar ya, Gaar. Ciao… *kabur*

Gaa : (O.o;)

S : CUUUUTTT!!! CUT!!! CUT!!! KAAAAATTT!!!! KATE BEGO!!!! Ngapain lo langsung mabur gitu, hah???!!!

Sasu : udah jelas 'kan? Gue mau ke tempat my uke. Kenapa lo masih nanya, sutradara bego? Gaara sendiri yg nyuruh gue ke tempat Naru.

S : heran gue sama lo. Idiotnya ga ilang-ilang juga. Katanya Uchiha jenius, tp mana???!!!

Sasu : sembarangan lo!!! Gue tuh emang jenius!!!

Gaa : maaf, Sutradara, dia memang jenius. Tapi kalau sudah menyangkut Naruto, kejeniusannya bisa turun jadi level jongkok. Bukankah katanya orang jenius dan orang idiot itu tak jauh berbeda?

Sasu : *jatuh anime style* Gaar… gue kira lo temen gue. Tapi kenapa lo berkomplot sama sutradara sialan itu, hah???!!! *sulk*

Gaa : soalnya kalo ga gitu, gue ga bakal di gaji, Sas. Gue ga mau kayak lo yg gajinya abis cuma gara2 salah ekting melulu. Gue emang ga sejenius lo, tp setidaknya gue ga idiot kayak lo.

Sasu : *kejatuhan beban 500 ton* e-elo kejem, Gaar… (T^T;)

-

-

HAPPY BIRTHDAY TO ME!!! XD *kicked* (someone : bodo amat!!!)

Neko persembahkan fict ini untuk :

1. Diriku yg hari ini berulangtahun… XD *ditimpukin*

2. Buat Aby yg tgl 18 kemaren nikah. Selamat menempuh hidup baru, ya? ^^

3. Innalillahi wa innailaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah tgl 16 malam, Tri Wahyu Handani, teman Neko semasa kul di ITI jurusan Teknik Mesin angkatan 2008. Semoga dirimu di terima di sisi-Nya. Amiiiinn…

Hahahaha… sebenernya pengen apdet malem jumat, tp takuuuutt… XP *slaped*
Sebenernya di suruh sama BakMi, kalo apdetnya pas Neko ultah aja. Kado dr Neko buat Minna… ^^ *?* (ga kebalik?)

Hiks… diriku semakin tua… T^T;
padahal Neko masih muda, salah… berjiwa muda maksudnya… XP *digaplok*

Soal Pedo ini, kayaknya chap depan terakhir deh…
kayaknya lho… Neko ga yakin jg sih... yah, tapi semoga aja bener2 terakhir…

Oh ya, Neko punya KUIS, kalo seandainya masih ada Orochimaru, kira2 siapa yg bakal ikut tuh tua-bangka-ular-licik-pedofil? Kiru atau Akai?
Jawab, ya? ^^

*gelar karpet merah* Silahkan yg mau me-review… Neko sih terima aja semua uneg2 Minna-chan… Kayak udah sering Neko bilang, "Manusia tidak dapat menilai dirinya sendiri." DAN Neko jg kasih tambahan kalo Neko bukan manusia, ok?

With Evil smile,

AssX a.k.a Akaneko as the Demon Queen

Arigatou… ^^