Disclaimer Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Chapter 10

.

.

Sakura membenarkan selimut Sarada. Kemudian dia mengecup dahi putrinya dengan sayang sebelum keluar dari kamar gadis kecil itu. Emeraldnya menatap Sasuke yang sedang mengamati jajaran foto Sarada yang nyaris memenuhi salah satu dinding ruang tamu. Sasuke menoleh saat mendengar suara langkah Sakura mendekatinya. Senyum manis pria itu mengembang. Sangat menawan membuat Sakura merasakan panas menjalar dari punggung ke wajahnya. Dia merasakan sensasi asing menjalari sudut hatinya saat menyadari ada pria selain dua paman aneh Sarada di apartemennya.

"Sarada sudah tidur?" Sasuke menghempaskan bokongnya di sofa depan tv.

"Mmm ya." Sakura menggigit bibirnya menahan agar senyuman aneh tidak terbit di sana. Pasti akan menakutkan bagi Sasuke. Dengan pelan dan malu-malu Sakura mendekat dan duduk di samping Sasuke.

"Hampir jam sepuluh, apa kau mengantuk?" Tanya Sasuke sembari menyeruput jus tomatnya. Sebelumnya Sakura sempat membuatkan Sarada jus tomat, Sasuke yang melihat itu minta sekalian dibuatkan. Pria itu sempat heran karna Sarada memiliki selera yang sama dengannya. Sakura hanya bisa menanggapi ucapan Sasuke dengan ringisan aneh. Memangnya apa yang harus dikatakannya?

"Uhm belum." Sakura menggeleng pelan. Demi tuhan, bagaimana dia bisa mengantuk jika ada jelmaan dewa yunani di tempat tinggalnya. Bahkan fantasinya yang liar dan menyebalkan sudah memenuhi tiap sudut otaknya. Sakura merutuki otaknya yang mesum.

"Aku sedang mempertimbangkan akan langsung pulang atau melakukan sesuatu terlebih dahulu di sini." Sakura tak menahan jalaran rona merah di pipinya yang memanas saat dengan seenaknya otaknya melakukan sinkronisasi antara fantasinya dan ucapan Sasuke.

Sedangkan Sasuke menyeringai menggoda melihat gerak-gerik Sakura yang seperti mengundangnya untuk melakukan sesuatu. Wanita cantik ini benar-benar membuatnya menginginkan melakukan ini dan itu. Keinginan itu semakin besar saat dia melihat Sakura menggigit bibirnya sensual. Entah sengaja atau tidak tapi itu membuatnya merasakan panas yang berlebihan.

"Jadi, apa yang kau pertimbangkan itu?" Ucap Sakura nyaris berbisik. Jantung wanita itu berpacu lebih cepat dari kuda. Ini berbahaya, seperti dia sedang memancing sesuatu untuk terjadi. Tapi dia tak bisa mengendalikan gerakannya yang gelisah.

"Sulit untuk di jelaskan. Lebih mudah langsung dilakukan." Nafas Sakura tercekat saat Sasuke mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinganya. "Kalau kau tidak keberatan." Sakura merinding saat deru nafas pria itu menerpa telinganya dan memberikan sensasi menggelitik di perutnya. Sesaat Sakura merasa bersalah pada Sarada, tapi gadis kecil itu mengatakan Sakura boleh melakukan apapun selama dia belum mengatakan kesulitan. Lagi pula, yang Sakura inginkan saat ini adalah papa gadis kecil itu. Setidaknya secara biologis.

"Hei Sakura..." Panggil Sasuke lagi. Kali ini pria itu bicara di pipi Sakura. Tubuh Sakura menegang, sekujur tubuhnya meremang. Ada beberapa bagian tubuhnya yang merengek mendambakan sentuhan. Dengan nafas tersendat-sendat Sakura menoleh ke arah Sasuke hingga bibir mereka bertemu.

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Sakura memang di takdirkan untuknya. Dia akan mengambil tiap kesempatan dimana dia bisa menyentuh wanita ini secara lebih intim. Nafas wanita itu terasa bergetar menerpa bibirnya. Dengan pelan dan penuh hikmat Sasuke mulai menggerakkan bibirnya untuk mengekplor bibir menggoda Sakura.

Bruk. Kedua orang yang nyaris bercumbu itu refleks saling menjauh saat mendengar suara sesuatu membentur lantai. Sasuke dan Sakura menoleh dan salah tingkah saat melihat Sarada telungkup di lantai dengan kepala mendongak menatap mereka. Cengiran dengan rasa bersalah terpatri di wajah gadis cilik itu.

"Maaf, padahal aku sudah berusaha berjalan sepelan mungkin." Lirih Sarada dengan nada penyesalan. Sakura dan Sasuke sampai tak tahu harus berkata apa. Menutupi kegugupannya Sakura menghampiri Sarada dan membantu putrinya bangun. Sementara Sasuke masih salah tingkah di tempatnya. Demi tuhan, kenapa Sarada selalu melihat hal-hal mesum yang Sasuke lakukan pada ibunya.

"Kau...kau baik-baik saja?" Tanya Sakura setelah membersihkan tenggorokannya yang terasa seperti tersumbat batu besar. Dia selalu menghajar Sasori atau Deidara jika mengancam kepolosan Sarada. Tapi nyatanya selalu dia yang memvisualkan racun tepat di depan gadis kecil itu. Sakura mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Nafsu binatangnya selalu membuat masalah.

"Aku hanya ingin buang air kecil." Cicit Sarada. Sakura mengerang dalam hati karna rasa bersalah yang terpancar jelas di wajah putrinya. "Apa aku mengganggu?" Ucap Sarada seperti akan menangis.

"Tidak." Jawab Sakura kelewat cepat. "Kau sama sekali tak mengganggu sayang, Sasuke hanya sedang mengucapkan selamat tinggal. Dia akan pulang." Sakura memelototi Sasuke yang hendak protes. Lupakan Sasuke. Utamakan Sarada. Logika Sakura menyeret prinsip Sakura agar kembali mendominasi otaknya. Rasa bersalah itu menjalar cepat sampai ke ubun-ubunnya. Ini pertama kalinya dia melihat Sarada nyaris menangis saat merasa melakukan kesalahan. Biasanya gadis kecil itu akan tetap bersikap angkuh meski sadar telah melakukan hal buruk.

Sarada tahu mamanya berbohong. Sarada merusak kebahagiaan mamanya. Gadis kecil itu menyesal karna tidak menahan air di kandung kemihnya. Dengan rasa bersalah dan wajah menyesal Sarada menatap ke arah Sasuke. "Benarkah?"

"Mmm ya. Aku hanya sedang mengatakan selamat malam." Ucap Sasuke terpaksa. Mau bagaimana lagi? Emerald Sakura sudah nyaris keluar dari tempatnya karna memberinya ancaman. Dia tak ingin bermasalah dengan wanita itu. Setidaknya dia tahu Sakura menginginkannya sama besar dengan dirinya menginginkan wanita itu. Sakura hanya lebih mementingkan Sarada. Meski ini membuatnya iri, tapi ini tak boleh merusak kemajuannya dengan wanita impiannya itu.

"Pergilah ke kamar mandi. Mama akan mengantar Sasuke ke pintu sebentar, setelah itu menemanimu tidur." Sakura mengecup puncak kepala Sarada lalu menarik lengan Sasuke, membawa pria itu menuju pintu.

"Maaf." Ucap Sakura lirih. Sebenarnya dia merasa bersalah karna bertindak seolah mengusir Sasuke. Padahal sungguh, dia merasa masih menginginkan pria itu di sini. Tapi saat ini dia masih harus memilih, Sasuke atau Sarada.

"Aku mengerti." Sasuke mengacak gemas rambut Sakura, menciptakan kerucut seksi di bibir Sakura. "Lain kali aku tak akan kalah dengan Sarada." Ucap Sasuke dengan nada jahil yang menyenangkan.

"Kau tak akan bisa mengalahkannya." Ketus Sakura sembari berusaha merapikan rambutnya.

"Aku tak bilang akan mengalahkannya. Aaah padahal tadi itu sedang nafsu-nafsunya." Keluh Sasuke memasang wajah kecewa.

"Sasuke!" Pekik Sakura tertahan. Dia merasa kesal sekaligus malu mendengar ucapan mesum pria raven itu. Sasuke terkekeh melihat wajah Sakura yang memerah. Perlahan kekehan pria itu berhenti berganti dengan senyum lembut dan tatapan dalam.

"Ada sesuatu yang sangat ingin ku tanyakan. Tapi sepertinya kau harus segera memeluk Sarada di tempat tidur..." Sakura menatap Sasuke serius. "...aku akan membuatmu memelukku di tempat tidur juga suatu saat nanti."

"Sasuke!" Lagi-lagi Sakura memekik tertahan mendengar ucapan Sasuke yang disertai seringai mesum pria itu. "Kalau itu yang ingin kau katakan lebih baik tidak usah." Dengus Sakura galak. Sasuke menutup mulutnya menahan agar tawanya tidak meledak. Wajah merah Sakura benar-benar menggoda.

"Tidak. Tentu tidak. Jika ada waktu aku akan menanyakannya. Dan saat itu kau harus menjawab jujur setiap pertanyaanku." Sakura menatap Sasuke tak mengerti. Apa sebenarnya yang ingin ditanyakan pria ini? "Aku pulang. Sampai jumpa besok." Sasuke mengecup sekilas bibir Sakura sebelum melangkah pergi. Tiga langkah kemudian Sasuke berbalik dan mengecup pipi kiri Sakura lalu pergi. Belum selesai rona merah menjalari wajah Sakura, Sasuke berbalik lagi dan mengecup dahi Sakura lalu pergi lagi. Dan Saat pria raven itu baru berbalik lagi, pintu apartemen Sakura sudah terbanting tepat di depan hidungnya. Sasuke terkekeh geli lalu melangkah pergi. Kali ini benar-benar pergi.

"Sialan." Umpat Sakura yang tak sesuai dengan tubuhnya yang bergetar kegirangan. Senyum senang mengembang di bibir wanita cantik itu. Telapak tangannya menangkup wajahnya yang memanas. Jelas sekali kalau saat ini jantungnya sedang dalam kondisi gawat darurat karna berdetak terlalu cepat.

"Mama..." Sakura segera menormalkan dirinya dengan paksa saat melihat kepala putrinya nongol dari di pintu ruang tengah. "Ji-san sudah pulang?"

"Ya. Ayo kita tidur. Kita sudah kemalaman. Jangan sampai kau terlambat bangun besok pagi dan mendapatkan imej buruk lagi." Sakura menggiring Sarada ke kamar mereka. Sebenarnya ada kamar untuk Sarada sendiri, tapi baik Sarada maupun Sakura lebih suka tidur bersama. Mereka hanya berdua di rumah ini, tak ada alasan untuk tidur sendiri-sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sarada mengecup pipi paman Sasorinya sesaat setelah mereka sampai di depan sekolahnya. Pamannya itu pagi-pagi sekali sudah datang menjemputnya. Dengan gaya angkuh nan bos besarnya, Sasori mengusir Sakura dan Deidara agar pergi ke butik. Sebagai pemilik butik Sasori menggunakan kekuatan ancaman gaji. Dan itu manjur. Jadilah Sasori yang mengantar Sarada sekolah di hari pertama setelah menjalani skors.

"Jangan pikirkan ucapan mamamu, kau hanya harus lakukan yang ingin kau lakukan." Sasori mengacak pelan surai hitam Sarada.

"Mungkin aku harus. Pasti akan sangat menyusahkan jika aku membuat masalah di hari pertama." Ucap Sarada kalem. Sebelum berangkat mamanya sempat berpesan agar dia menjadi anak manis di hari pertama. Tidak boleh melakukan apapun yang akan menjadi masalah.

"Jangan batasi dirimu. Jangan menahan dirimu. Lakukan apapun yang menurutmu baik. Maksudku, jangan biarkan seorangpun menyakitimu." Sasori tersenyum lembut pada gadis cilik yang menatapnya datar.

"Itu terdengar seperti menyuruhku mengulangi perbuatanku agar mendapatkan skors lagi." Selama ini Sasorilah yang tahu apa yang di alami Sarada di sekolah. Pria ini yang paling sering mengantarnya ke sekolah. Terkadang menjemputnya. Sakura mengantarnya hanya sesekali karna ancaman gaji yang membuat Sasori mampu merebut tempatnya untuk mengantar Sarada ke sekolah. Tapi wanita itulah yang banyak menjemputnya sekaligus memenuhi panggilan kepala sekolah. Sarada tahu Sakura kecewa padanya.

"Tidak masalah. Aku hanya tak ingin kau stres dan pemurung karna selalu menahan diri. Kau matahariku, jika kau tak cerah bagaimana aku bisa tersenyum." Sarada terkekeh mendengar gombalan pamannya.

"Aku tak akan stres."

"Aku tahu, cepat masuk kelas." Sasori mengecup pipi Sarada.

Sarada turun dari Betty dan menghela nafas saat melihat Boruto juga baru turun dari mobil mewah ayahnya. Sarada mengalihkan perhatiannya dan melangkah menuju kelas saat ayah Boruto mengacak sayang rambut bocah berisik itu.

"Aaah Ku pikir kau tak akan masuk sekolah lagi." Sarada terus berjalan mengabaikan celetukkan mengejek Boruto padanya. Dia baru saja masuk sekolah dan tidak mau merusak harinya dengan meladeni Boruto. Sarada menulikan telinganya terhadap kecerewetan Boruto.

"Harusnya bocah itu memilih cara yang lebih baik untuk mendekati Sarada-chan." Kekehan geli Sasori mengiringi kepergian pria itu meninggalkan area sekolah Sarada.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke menatap malas Kenichi yang sedari tadi merengek di ruangannya. Bocah tengil itu sangat cerewet ingin bertemu dengan Sarada. Sebenarnya pelet apa yang di pakai gadis kecilnya sampai membuat Kenichi menempel bak kotoran ikan... tunggu, sejak kapan dia menyebut Sarada gadis kecilnya? Ini salah, tapi terasa benar. Sasuke tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia pikir dia akan keberatan dengan anak yang bukan darah dagingnya. Tapi, Sarada terasa berbeda dan... benar.

"Ji-san, ayolah..." rengek Kenichi.

"Hei Kenichi, kau ada janji makan siang dengan tou-sanmu 'kan?"

"Tou-san sibuk. Aku akan makan siang dengan nee-chan." Sasuke menghela nafas. Apalagi yang bisa dia katakan? Anak ini sudah menyadari jika orangtuanya sangat jarang bersamanya. Bahkan mungkin sudah terbiasa. Dia hanya menganggap orangtuanya ada, tapi tak benar-benar ada.

"Tunggu saja. Tousanmu akan menjemputmu sebentar lagi..." Belum sempat Sasuke menyelesaikan kata-katanya ponselnya berbunyi. Sasuke meraih ponselnya dan melihat nama yang menghubunginya.

Shion.

Pemilik onix itu menghela nafas. Rasanya hambar, tidak seperti sebelum dia bertemu Sakura. Dulu dia akan dengan senang hati bermain-main dan bermanis manja dengan para wanita. Tapi sekarang rasanya tak ada yang semenarik wanita merah jambu itu. Sasuke tersenyum membayangkan wajah bersemu Sakura. Dering ponsel berhenti, Sasuke meletakkan kembali ponselnya ke meja.

"Ji-san..." Ucapan Kenichi terputus oleh dering ponsel Sasuke. Bocah itu merengut kesal karna perhatian pamannya kembali pada ponsel.

"Halo." Ucap Sasuke malas menjawab panggilan dari Shion. Dia melirik Kenichi yang beringsut ke sofa dan mencomot keripik kentang.

"Sasuke-kun, Aku kangen..." Sasuke memutar bola matanya mendengar rengekan manja di seberang sana. Dia mengalihkan fokusnya pada dokumen yang belum di periksanya.

"Aku sibuk Shion." Ucap Sasuke kelewat datar. Shion sudah tak memiliki daya tarik lagi di mata Sasuke. Bahkan meski hanya untuk bermain-main. Sasuke tersenyum kecil saat bayangan bibir yang mengerucut seksi milik Sakura melintas di kepalanya.

"Kau berbeda, apa yang terjadi?" Lagi Sasuke memutar bola matanya. Dia sadar kalau sekarang dia berbeda. Sayangnya Sasuke menyukai perbedaannya ini.

"Tak ada. Aku hanya sibuk, sampai nanti Shion." Sasuke memutuskan sambungan sebelum Shion sempat mengatakan apapun. Dia melirik Kenichi yang merebahkan dirinya di sofa. Mungkin kesal, atau kekenyangan, atau mengantuk. Entahlah. Sasuke memilih kembali berkutat dengan pekerjaannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura menyeruput kopinya lalu meraih ponselnya. Dia bergegas keluar dari ruangannya. Sekarang sudah jam pulang sekolah Sarada. Dia akan menjemput gadis kecilnya dan melihat hari putrinya di sekolah. Dia berharap tak ada hal buruk yang terjadi.

"Potong saja gajiku, Aku tak peduli. Aku tetap akan menjemput Sarada-chan." Ketus Sakura saat berpapasan dengan Sasori dan Deidara.

"Ah baiklah." Sasori menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai menang. Pria merah itu tak akan menyia-nyiakan kesempatan berhemat. Sedangkan Sakura cemberut melihat Sasori menanggapi ucapannya dengan sangat brengsek. Tega sekali dia melakukan itu. Harusnya dia menghargai kerja keras Sakura dengan tidak menggunakan jabatan dengan sewenang-wenang. "Hei kenapa wajahmu seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang kau katakan."

"Harusnya kau tak mengiyakan. Kesejahteraan Sarada akan terancam jika gajiku berkurang." Omel Sakura.

"Itu bagus. Sarada akan punya alasan untuk pindah dan tinggal bersama kami. Pengadilan akan mencabut hak asuhmu yang tidak mampu mensejahterakan Sarada-chan." Sakura menganga. Wajah angkuh Deidara sangat meyakinkan untuk kata-katanya yang mengada-ada. Dan semakin angkuh ketika mendengar sorakan dukungan dari Sasori.

"Dasar kotoran berjalan!" Umpat Sakura lalu pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Deidara ganti menganga mendengar julukan Sakura untuknya.

"Kau dengar itu Sasori?! Kau harus menghilangkannya dari muka bumi. Dia racun! Racun!" Raung Deidara tak terima. Bagian mana dari dirinya yang pantas di sebut kotoran? Dia terlalu elegan dan sempurna untuk di samakan dengan hal menjijikkan itu.

"Hei kotoran, aku akan membantumu balas dendam nanti." Sasori menepuk bahu Deidara dan menyunggingkan senyum paling tulus.

"SASORIIIIIII!" Sasori kabur menghindari amukan Deidara.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura melongokkan kepalanya dari pagar sekolah. Anak-anak baru mulai berhamburan keluar. Sakura tersenyum tipis, biasanya Sarada memang selalu jadi yang terakhir. Putrinya itu selalu bilang malas berdesak-desakkan.

"Dasar tak punya tou-san." Senyum Sakura luntur melihat tiga orang anak lelaki mengikuti putrinya sembari melontarkan ejekkan.

"Kalau punya tou-san dia tak akan seperti monster. Anak monster. Dia menyeramkan, makanya tak punya teman." Sakura mematung melihat putrinya hanya diam dan terus berjalan seolah tak mendengar ucapan itu. Inikah yang selalu dialami Saradanya hingga membuat gadis kecil itu menggunakan tinjunya? Jika Sakura tahu semenyakitkan ini mendengar putrinya di ejek, dia akan membiarkan Saradanya membunuh siapapun. Dia yang akan menanggung dosa putrinya. Karna putrinya sekarang sedang meradang di balik wajah datarnya menanggung konsekuensi dari kesalahan dan keegoisannya.

"Anak monster. Tak punya tou-san." Mata Sakura memanas mendengar ejekan yang dinyanyikan berulang-ulang oleh para anak lelaki itu. Dengan kesal Sakura menghampiri mereka.

"Siapa yang tak punya tou-san?" Ucapan sakura membuat nyanyian anak-anak lelaki itu berhenti. Mereka langsung mengerut saat melihat wajah garang Sakura. Sedangkan Sarada hanya mendengus remeh meski sebelumnya agak terkejut dengan kedatangan Sakura. Gadis itu jadi merasa punya mama monster yang mampu membungkam mulut menyebalkan teman-temannya dalam sekejap. Itu terdengar sedikit menghibur baginya. "Ayo." Sakura menyeret Boruto menuju ruangan kepala sekolah.

"Adududuh." rengek Boruto tapi sama sekali tak dihiraukan Sakura. Sementara Sarada mengikuti dari belakang dengan malas. Kenyataannya akan sama saja. Dia membuat masalah sendiri ataupun mamanya membuat masalah karnanya.

. Sakura mengetuk pintu dengan tak sabar. Dia langsung menyeret Boruto masuk setelah mendapat izin dari dalam. Sakura mendorong Boruto pelan tapi penuh kejengkelan agar maju mendekati kepala sekolah. Sedangkan Menma mengangkat alisnya bertanya.

"Dia membully putriku. Maafkan aku kalau tak sopan, tapi dia dan dua temannya sudah keterlaluan. Anda tahu Menma sensei? Dia menyanyikan lagu mengerikan yang menyebut putriku anak monster, tak punya teman karna tak punya tou-san. Yang benar saja. Apa hubungannya antara anak monster, tak punya teman dan tak punya tou-san?" Sakura menghentikan ucapannya karna nafasnya yang memburu. Sementara dia menghirup oksigen dengan rakus Sarada melengos menahan tawa. Gadis kecil itu hanya akan memukul jika kesal. Tapi Sakura akan mengomel dulu baru memukul.

Menma meletakkan penanya dan beranjak dari kursinya. Dia mendekati Boruto yang takut-takut. Kepala sekolah itu tak menyangka akan mendapat semprotan dari Sakura di hari pertama putri wanita itu masuk sekolah lagi.

"Apa itu benar Boruto?" Tanya Menma pelan namun penuh tekanan. Boruto menunduk dan takut-takut mengangguk. "Apa yang tak kau sukai darinya sampai kau berlaku jahat dengan mengejeknya?"

"Dia..." perlahan Boruto mengangkat wajahnya. "Dia anak monster, tak punya teman, tak mau bermain, dia... dia... TAK MENJAWAB JIKA KU SAPA!" Jerit Boruto nyaris menangis. "Dia tak punya tou-san makanya seperti itu. Jika dia punya tou-san dia tak akan menyebalkan seperti itu. Tou-sanku selalu bilang agar aku berteman dengan banyak orang. Tapi dia tidak." Menma mengusap puncak kepala keponakannya.

"Ok. Tanyakan pada tou-sanmu. Yang kau lakukan itu benar atau salah? Pergilah, tou-sanmu sudah menunggu." Boruto langsung berlari keluar setelah mendengar ucapan pamannya.

"Haruno-san aku..." ucapan Menma terputus saat Sakura mengangkat tangannya.

"Jangan meminta maaf saat anda tak melakukan kesalahan. Ah tolong sampaikan pada Boruto, mulai besok Sarada-chan akan diantar sekolah oleh papanya. Aku pastikan itu. Permisi." Sakura membungkukkan sedikit badannya lalu menggandeng Sarada keluar. Tak menyadari raut tak biasa di wajah kepala sekolah tampan itu.

Sarada menekuri jalan selama perjalanan mereka pulang. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa ucapan mamanya. Bahkan dia tidak tahu mamanya mengatakan yang sesungguhnya atau hanya sekedar ancaman kosong.

"Sayang." Sakura berjongkok di depan Sarada ketika mereka sampai di depan apartemen.

"Kenapa mama berbohong?" Tanya Sarada lirih. Ini membuatnya berharap, Sarada tak suka berharap pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Aku tak berbohong. Aku akan membuat papamu mengantarmu sekolah setiap hari."

"Mama bilang tak mengenali papa."

"Mama bertemu dengannya. Mama sudah tahu siapa papamu." Ucapan Sakura menghasilkan binar indah di mata putrinya. "Mama janji. Kau tahukan mama tak pernah ingkar janji padamu?"

"Ya. Tapi mama selalu melakukannya pada paman."

"Mereka tidak lebih penting darimu. Oke. Pasang wajah cantik seharian untuk menyambut hari esok." Sarada mengangguk antusias di sertai senyum lebar. "Mama harus kembali ke butik. Jadilah anak baik di rumah." Lagi-lagi Sarada mengangguk antusias.

Sakura meninggalkan putrinya setelah mengecup kedua pipi gadis kesayangannya itu. Dia memastikan sarada sudah masuk ke dalam apartemen. Sekarang yang akan dia pikirkan adalah cara memberi tahu Sasuke jika Sarada membutuhkannya. Ini memalukan, padahal dulu dia yakin Sarada tak membutuhkan pria manapun selain dua pamannya. Sekarang apa yang harus dia lakukan?

.

.

tbc...

.

.

Oke... Ini up ke tiga hari ini 21.33 pm

.

.

Keyikarus

8/10/2017