Brokenheart

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning : AU, OOC, Typo(s), dll.

Don't like don't read.

.

.

.

Chapter 10

KHS harusnya cukup luas. Gedung ini memiliki sebuah gedung utama dan dua gedung tambahan. Lapangan dan halamannya juga luas. Banyak tempat yang bisa kukunjungi selain atap. Seharusnya begitu.

Tapi tetap saja aku mengunjunginya. Dan tidak hanya aku. Akatsuki juga ada di sana. Ini sudah kepalang, aku tidak bisa menghindar atau kabur. Akan terlihat memalukan.

"Yo!" sapa Pein-senpai. Ekspresinya biasa-biasa saja. Kurasa geng ini sudah terbiasa untuk bersikap seolah tidak ada apa-apa. Padahal aku yakin mereka semua–termasuk aku–masih ingat jelas kejadian di restoran.

"Merindukan kami eh?"

"Aku hanya salah tempat saja Hidan-senpai."

"Uso."

"Memang salah kalau aku ke tempat ini?" ucapku menghadap Sasori-senpai yang mengataiku berbohong. "Dan, bukannya kalian yang selalu memata-mataiku?"

"Memangnya kenapa un? Tidak suka un?"

"Eh?"

"Eh untuk apa Hinata?"

"Kukira Dei-senpai orangnya tsundere, Itachi-senpai."

Beberapa senpaiku menahan tawa. Ada yang salah?

"Enak saja! Aku bukan tsundere un!" bantah Dei-senpai. Wajahnya memerah marah. Aku hanya nyengir.

"Kenapa kalian selalu mengawasiku? Jangan bilang kalau itu kebetulan karena aku tidak akan percaya."

"Yah, gomen Hinata." Tobi-senpai berjalan ke arahku. Ia tiba-tiba memelukku. Aku terkejut dengan sikapnya ini.

"Maaf sudah mengatakan hal buruk padamu. Aku hanya jujur."

Aku melepas pelukannya. Rasanya risih. Apalagi di hadapan semua anggota Akatsuki.

"Bukankah untuk kalian tidak ada aku pun tidak akan ada yang berarti?"

"Kami menghawatirkanmu. Salah kami juga membuatmu dibenci seluruh sekolah. Murid-murid di sini terlalu berlebihan menanggapimu, padahal korban kami yang lain tidak begitu. Agak menyedihkan juga melihatmu tidak memiliki teman," ucap Konan-senpai panjang lebar.

"Aku juga sudah bilang akan mengajarimu jadi dirimu sendiri."

"Aku sudah mendapatkan pelajaran darimu Pein-senpai."

"Dan yang kau lakukan adalah pelajaran kedua. Kau berani mengungkapkan perasaan tidak sukamu pada kami. Itu kemajuan," ucapnya.

"Semua juga akan melakukan hal sama senpai," balasku.

"Tidak jika itu dirimu yang dulu. Kau menurut saja kami suruh ini itu, padahal kau tidak suka."

Benar juga.

"Jadi, kita teman?" Kisame-senpai mengulurkan tangannya padaku. Harus kuakui meski wajahnya terlihat paling sangar dan menakutkan, tapi ia yang paling sopan di antara anggota lain.

"Teman." Aku menjabat tangannya. Ia menggenggamnya erat.

"Tapi ada yang ingin kutanyakan," ujarku.

"Apa?" Tumben Kakuzu-senpai bicara. Biasanya dia hanya akan diam menanggapi apa pun, kecuali soal uang. Rasa-rasanya ia dan Zetsu-senpai anggota paling tertutup di sini.

"Aku penasaran..."

Sengaja kugantung ucapanku. Semua memperhatikanku. Menungguku untuk melanjutkan.

"Sebelum kejadian di restoran, apa itu juga rencana kalian? Membuatku menjadi teman kalian dan menyakitiku dengan kenyataan dibalik semua ini. Apa itu juga akal-akalan kalian untuk menyiksaku?"

"Rencana awal memang begitu. Hanya saja kami tidak menduga seluruh sekolah jadi serius membencimu. Dan kami pikir kau akan bisa mengatasinya sendiri, tapi kau tidak bisa. Kami merasa iba. Yah, anggap saja kami menebus kesalahan kami dengan menjadi temanmu. Keberatan?"

Aku menggeleng dengan penjelasan Pein-senpai.

Mulai hari ini aku yakin bahwa kami benar-benar akan menjadi teman. Bukan senpai dan kohainya. Bukan pem-bully dan korban bully-annya. Tapi teman tanpa terikat fakta bahwa aku adalah mainan mereka yang dijadikan teman. Kami benar-benar manjadi teman yang sebenarnya.

.

.

.

"Are? Lihat Teme, anggota Akatsuki yang baru datang ke kelas kita," ujar Naruto saat aku memasuki kelas. Sontak semua mata mengarah padaku tidak bersahabat. Yang paling tajam berasal dari Sasuke.

Aku cuek saja duduk di bangkuku. Kau harus kuat Hinata. Kau sudah memilih untuk menjadi teman Akatsuki dan kau akan menghadapi semua konsekuensinya. Kau harus sabar dan bertahan. Ingat pelajaran dari Pein-senpai, jadi diri sendiri. Abaikan orang kurang kerjaan itu dan beranikan diri menunjukkan perasaanmu.

"Memang kenapa kalau anggota Akatsuki ada di kelas ini? Kalian tidak suka? Itu masalah kalian, bukan masalahku." Dengan tersenyum aku mengatakan itu untuk membalas kata-kata Naruto dan tatap tidak suka mereka. Dadaku berdebar kencang saat mengatakannya. Ini pertama kalinya aku membalas sindiran padaku di hadapan banyak orang. Rasanya sangat menegangkan.

"Kau memang seperti mereka. Bodohnya kami pernah mempercayaimu dan menjadikanmu teman."

Aku menghadap Naruto. "Bukan salahku. Lagi pula, aku juga lebih memilih berteman dengan Akatsuki dari pada kalian. Meski bukan orang yang baik, mereka mau menerimaku apa adanya. Bukan orang bermuka dua yang menilai segala sesuatu hanya dari yang mereka lihat."

"Bicaramu sudah seperti mereka saja Hyuuga. Pelajaran baru eh?"

"Aku senang bisa belajar dari mereka. Setidaknya aku tidak mendapat pelajaran untuk membenci orang lain seenaknya," balasku pada Sasuke.

"Abaikan saja Hinata."

Aku berbalik dan mendapati Sasori-senpai sudah berdiri di belakangku. Ia menarik tanganku menjauh dari kelasku sendiri. Kami berjalan menyusuri koridor, masih dengan tangan Sasori yang menarikku. Kami jadi pusat perhatian. Sejak terlibat dengan Akatsuki aku jadi terbiasa dengan hal ini.

"Kita mau kemana?"

Sasori-senpai tidak menjawab. Dia terus menarikku dan membawaku ke taman di belakang sekolah. Ia mengajakku duduk di salah satu bangku di sana.

Sasori-senpai memandang ke dalam mataku cukup lama.

"Senpai..."

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Aku baik. Kenapa menanyakan itu?" tanyaku balik.

"Pasti berat bagimu diperlakukan seperti itu. Itu juga pertama kalinya kau membalas mereka. Kau yakin dirimu tidak apa-apa?"

"Aku yakin senpai. Aku memang merasa sangat berdebar dan tegang. Tapi, aku harus memberanikan diri kan? Atau kalau tidak mereka akan bersikap semaunya padaku terus. Aku belajar itu dari kalian," ungkapku.

Sasori-senpai tersenyum dan mengacak pelan poni rataku. Senyum yang hanya ia berikan pada orang tertentu. Jadi, aku sudah diterima di dalam kehidupannya?

"Senpai, kau manis saat tersenyum."

Ia menatapku tajam. "Aku tidak suka dikatai manis. Aku ini laki-laki."

"Makanya jangan berwajah datar terus. Jangan sia-siakan pemberian Kami-sama dong."

"Kau suka melihatku tersenyum?" tanyanya.

"Iya," anggukku. "Kau jadi kelihatan lebih ramah dan man–tampan."

"Ehem, ehem!"

Kami menoleh. Sudah ada anggota Akatsuki yang lain di sana.

"Pagi-pagi jangan bermesraan woy!" seru Hidan-senpai.

"Danna un, kau curi start duluan un!"

"Kalian cemburu eh?" tebak Zetsu-senpai.

"Jangan buang-buang waktu. Kelas hampir masuk. Cepat kembali, akan ada kuis dari Asuma-sensei." Kakuzu-senpai mengingatkan.

"Cih! Aku benci pria berewokan itu!" ucap Hidan-senpai tidak suka.

"Hinata kembalilah ke kelasmu. Jangan sampai terlambat, ok?"

"Ha'i, Konan-senpai." Aku berlalu pergi. Namun samar-samar masih bisa mendengarkan mereka.

"Sasori kau berhutang penjelasan padaku," ucap Pein-senpai yang sepintas bisa kudengar sebelum jarakku jauh.

.

.

.

Sekarang aku yakin kalau hubungan kami bersebelas adalah pertemanan. Senpai-senpai Akatsuki sudah bersikap baik padaku. Tidak ada ucapan bitch, jalang atau lainnya. Mereka sudah memanggil dengan namaku, kecuali Hidan-senpai yang memanggilku gadis dan Kakuzu-senpai senpai yang selalu menyebutku bocah. Mereka juga selalu mengajakku kemanapun mereka pergi. Walau kadang-kadang aku selalu jadi sasaran sebagai pesuruh, tapi mungkin itu karena aku masih junior mereka. Baik di dalam sekolah atau anggota mereka. Tidak masalah buatku.

Seperti saat ini, aku sibuk berkutat mencari snack pesanan Pein-senpai di minimarket dekat taman kota. Mereka habis nge-band. Aku selalu datang untuk menonton.

"Hinata, sudah ketemu?" tanya Itachi-senpai yang menemaniku pergi.

"Tidak ada. Sepertinya sudah habis," jawabku.

"Belikan yang lain saja. Aku akan ke kasir." Itachi-senpai berjalan duluan dengan menenteng keranjang belanjaan kami.

Aku segera menyahut salah satu snack dan menyusul Itachi-senpai yang sudah mengantri di barisan paling belakang. Aku berdiri di belakangnya dan memasukkan makanan ringan itu ke dalam keranjang. Antrian di depan sudah selesai. Kami maju.

Petugas kasir menghitung belanjaan kami. Tapi saat aku hendak membayar Itachi-senpai menghentikanku dan membayarkannya.

"Tapi senpai—"

"Menurutlah Hinata."

Aku mengangguk. Kami keluar dengan berjalan bersisian.

"Arigato senpai."

"Tak apa Hinata. Lagian kau sudah bukan korban bully kami lagi," ucapnya. Ia menatapku hangat dengan tersenyum.

Demi apa, Itachi-senpai tampan sekali. Sasori-senpai juga. Tapi kalau dipikirkan semua anggota Akatsuki itu keren-keren semua. Ah, kenapa mendadak aku jadi nge-fans mereka?

"Hinata, kenapa mentapku begitu?"

"Eh?" Hinata bodoh!

"Kau mencintaiku?" tanyanya santai. Ada nada jahil di sana.

Wajahku memanas. "Tidak senpai! Tidak! Aku hanya—"

"Ayo."

Aku diam sejenak lalu tersenyum. Seperti ini ya candaan antar teman itu.

"Ya," jawabku.

"Mau mengajaknya pergi kemana Itachi?" Ini suara Hidan-senpai.

Kami berbalik. Anggota Akatsuki yang lain sudah menunggu.

"Memang kenapa kalau aku mengajaknya pergi? Cemburu eh?" balas Itachi-senpai.

Kulihat Hidan-senpai merasa geram. Ia berjalan mendekat dan menarik tanganku supaya menjauh dari Itachi-senpai.

"Ayo Hinata!"

Aku bingung. Kenapa dengannya.

"Oi Hidan, kau salah ambil. Makanannya masih di tangan Itachi!" seru Kakuzu-senpai.

"Urusai Kakuzu!" sahutnya.

Yang lain tertawa melihat apa yang terjadi. Konan-senpai datang mendekatiku. Ia melepaskan tanganku dari Hidan-senpai kemudian menggandengku.

"Hinata, hati-hatilah dengan cowok-cowok ini. Mereka bukan orang baik-baik, kau bisa dimangsa kapan saja," ucapnya.

"Maksudnya?"

"Hinata masih polos." Pein-senpai mengucapkannya sambil mengacak surai biruku.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku gagal paham.

Dei-senpai mendekat. "Itu artinya mereka bisa saja macam-macam padamu Nata un." Dei-senpai memberi tanda petik di kata macam-macam.

"Nani?!"

"Deidara baka! Kenapa harus dijelaskan?" kata Zetsu-senpai.

"Memang kenapa un? Kalian ingin dia tetap polos kalian permainkan un?"

"Tenang saja Hinata. Kami tidak seperti itu kok!" ucap Kisame-senpai. Yang lain mengangguk.

"Harusnya kau paling hati-hati pada Pein. Dia itu berbahaya."

"Jangan mengatakan tentang dirimu dengan menggunakan namaku Hidan," balas Pein-senpai. "Ayo pulang."

Konan-senpai terkikik padaku. "Abaikan saja mereka Hinata. Aku bergaul dengan mereka selama ini juga tidak apa-apa kok," ucapnya padaku.

"Itu karena kau milik Pein-senpai!" celutuk Tobi-senpai. Ia sudah menikmati lolipop jeruk di tangannya.

Aku menatap Pein-senpai dan Konan-senpai bergantian. "Kalian sepasang kekasih?"

Keduanya tersenyum dan mengangguk. Oh, pantas saja. Aku ingat Konan-senpai pernah kesal padaku saat aku dekat dengan Pein-senpai. Jadi ini alasannya.

"Kalian cocok kok."

"Terima kasih Hinata," kata Konan-senpai.

"Artis hari ini bukan Pein-Konan, jadi berhenti membicarakan mereka oke?" Semua tampak setuju dengan Kisame-senpai.

"Oh, aku baru ingat. Kita jadi ke rumah Sasori besok kan?" tanya Zetsu-senpai.

"Aku benci ini. Kenapa kita harus belajar kelompok segala?!"

Tidak ada yang memedulikan kekesalan Hidan-senpai. Anggota lain sibuk membahas tentang belajar kelompok mereka. Materi apa yang akan mereka pelajari, buku yang mana saja yang harus dibawa dan siapa yang harus mengajari siapa. Benar kata Tenten-senpai, bahkan Akatsuki pun sibuk belajar.

Ah, aku juga harus belajar lebih rajin. Minggu depan sudah mulai ujian. Aku bukan anak yang cerdas yang bisa menguasai berbagai materi dalam sekejap mata.

Hidan-senpai menghembuskan nafas dengan kasar. Wajahnya geram bukan main.

"Kalian mengabaikanku!"

Tidak ada yang menyahut. Ia bertambah kesal.

"Oke, terserah kalian saja. Tapi aku akan membawa kabur Hinata jika kalian terus sibuk membicarakan hal paling menyebalkan itu."

Set.

"Hidan-senpai!" Ia menarik tanganku. Semua anggota memperhatikannya.

"Aku menang," seringainya.

"Jangan curang Hidan-senpai!" seru Tobi-senpai. Ia menuding pemuda yang tidak pernah berpakaian rapi itu.

"Enak saja. Hinata akan ikut belajar bersama kami," ucap Sasori-senpai.

"Siapa kau seenaknya berkata begitu?"

Sasori-senpai berpura-pura berpikir. "Aku pernah berkata pada beberapa orang kalau aku ini pacarnya."

"Benarkah Sasori? Padahal Hinata baru saja mengatakan cinta padaku," ujar Itachi-senpai.

"Benarkah Hinata-chan?"

Aku menggeleng. "Tidak Tobi-senpai."

Hidan-senpai mendengus senang.

"Jangan senang Hidan. Hinata tetap akan ikut kita belajar kelompok," ujar Pein-senpai. "Lagi pula kau juga kurang pintar kan?" Pein-senpai beralih bicara padaku.

"Jangan diperjelas senpai."

"Itachi akan mengajarimu. Dia juga akan menjemputmu. Datang ya Hinata."

Lumayan lah, kegiatan berarti di hari minggu. Besok aku tidak harus mendekam di kamar tanpa melakukan apa-apa. Mungkin akan jadi menyenagkan, mengingat itu bersama Akatsuki. Aku juga penasaran bagaimana cara mereka belajar sampai bisa mengalahkkan Neji-nii.

"Aku akan datang."

.

.

.

Aku cukup kaget saat datang ke rumah Sasori-senpai. Rumahnya sangat bagus dan mewah, tidak beda jauh dari kediaman Uchiha. Padahal ia tidak kelihatan seperti orang kaya. Bukannya aku mengatainya terlihat miskin. Sasori-senpai selalu terlihat biasa-biasa saja selama ini.

Tapi bukan masalah itu yang membuatku kaget. Tapi tempat di mana Akatsuki dan aku akan belajar. Sebuah perpustakaan yang sangat luas. Banyak buku tertata rapi di setiap raknya. Dari pada disebut perpustakaan rumah ini lebih mirip perpustakaan kota. Semua bukunya lengkap. Dari buku dongeng bergambar sampai buku bisnis yang penuh alfabet kecil nan monoton. Ada banyak boneka kayu juga dipajang di sana.

"Luas sekali..."

"Karena itu kita memilih rumahnya Sasori-senpai, Hinata-chan. Tapi jangan berisik ya, nenek Sasori sangat galak."

Tuk.

"Ittai Sasori-senpai!" seru Tobi-senpai. Ia mengusap kepalanya yang barusan dilempar buku oleh Sasori-senpai. "Lihatlah Hinata-chan, mereka itu anarkis."

"Kau mau tahu kami yang anarkis Tobi?"

"Tidak!"

Tobi-senpai berlari ke arahku dan bersembunyi di belakangku. Ia meletakkan kepalanya di bahuku dan menjulurkan lidahnya pada Hidan-senpai.

"Kau tidak bisa menghindar Tobi un!" Dei-senpai melempar sebuah buku yang lebih besar pada Tobi-senpai dari samping. Aku ikut menunduk bersama Tobi-senpai. Buku itu justru mengenai Pein-senpai.

"Woi!" teriaknya.

"Un!"

Pein tidak terima. Ia mengambil buku dan melemparkannya pada pemuda pirang berponi panjang itu. Tapi sebelum bukunya mengenai Dei-senpai, buku tersebut sudah ditangkap oleh Kakuzu-senpai.

"Jangan buang-buang waktu. Waktu adalah uang," ucapnya. Semua anggota memutar matanya bosan mendengar kata wajib Kakuzu-senpai.

"Jangan bawa-bawa sloganmu itu Kakuzu!" seru Hidan-senpai. Ia melempar pulpen ke arahnya, tapi senpai yang selalu memakai masker itu dapat menghindar.

"Hentikan kalian semua!" perintah Kisame-senpai. "Kita akan belajar kan?"

"Sok bijak kau Kisame!"

"Aku tidak bicara denganmu Hidan," balasnya. "Hinata pergi dari sini bersamaku. Kita main saja di luar."

"Eits, tunggu Kisame! Kita harus belajar," cegah Hidan.

"Katakan itu pada dirimu sendiri Hidan."

"Licik sekali kau Kisame. Menggunakan Hinata sebagai kelemahannya," ujar Itachi-senpai.

"Sekali-kali Itachi. Lucu juga melihat mereka ketakutan melihat Hinata pergi."

"Aku tid—"

"Hentikan Hidan. Kau diam dan belajar bersama Sasori sana. Biar Hinata diajari Itachi," kata Konan-senpai.

"Kenapa harus dia?"

"Aku akan meminta padamu andai kau sedikit lebih pintar untuk berpakaian rapi," sindirnya.

"Hahaha!"

"Pffft.."

"Diam kalian!" Hidan-senpai memelototi Tobi-senpai dan Dei-senpai. Ia mengambil tasnya dan duduk di salah satu kursi dari deretan kursi di belakang meja besar.

Beberapa senpai membagi kelompok. Sasori-senpai, Konan-senpai dan Kakuzu-senpai menjadi tutor mereka. Sedangkan aku diajari oleh Itachi-senpai di meja terpisah.

"Senpai, kenapa mereka semangat sekali belajar?" tanyaku di sela menyalin cara mengerjakan soal yang tadi dituliskan Itachi-senpai. Jujur saja, belajar dengannya lebih mudah dari pada dengan guru.

"Pembuktian diri. Kau tahu sendiri kami mendapat cap buruk. Untuk membalas mereka kami melakukannya dengan cara ini," jawabnya. "Lagi pula mereka juga tidak pernah belajar. Hitung-hitung agar mereka merasakan jadi anak sekolah yang sebenarnya."

"Memang siapa yang mengusulkan ide ini?"

"Pein."

"Pein-senpai? "

"Dia ketuanya. Semua dia yang memutuskan."

"Ooh.."

"Terkadang dia itu unik. Bisa menjadi kejam di suatu saat dan menjadi konyol di banyak saat."

"Tidak kelihatan begitu."

"Hanya belum. Kau akan tahu nanti siapa kami sebenarnya dan bagaimana kami."

"Jadi yang kulihat belum semuanya?"

"Hm." Itachi-senpai mengangguk.

"Oi, belajar bukan pacaran!" Hidan-senpai memandang sinis ke arah kami. Aku hanya terkikik kecil saat melihatnya dipukul Sasori-senpai.

"Jangan menggunjing juga," sindir Pein-senpai.

Aku dan Itachi-senpai tersenyum lalu meneruskan belajar kami.

.

.

.

Seminggu belakangan aku jarang bermain bersama Akatsuki. Kami sama-sama disibukkan dengan ujin semester. Aku bersyukur diajari oleh Itachi-senpai. Dia banyak memberikanku soal-soal yang sekiranya akan keluar. Aku yakin nilaiku akan lebih baik dari biasanya.

Dan mulai besok adalah liburan musim panas. Aku dan Akatsuki juga sudah memiliki rencana liburan. Kami sudah menyiapkannya dengan matang. Aku hanya tinggal mengurus ijin dengan Tou-san.

.

..

TBC

..

.