Warning : Gaje, super duper OOC, typo(s), dan keanehan lainnya.

Fanfic ini cuma untuk hiburan semata, jadi tolong jangan dianggap terlalu serius.

Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studio, ide cerita terinspirasi dari drama Secret Garden.

Author's POV

Ying berjalan mondar-mandir di depan kelasnya. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang menghilangnya kedua sahabatnya, Boboiboy dan Yaya. Sejak istirahat pertama mereka berdua sudah tidak terlihat batang hidungnya. Gadis berkacamata itu sudah mencari kedua sahabatnya ke mana-mana, mulai dari kantin, UKS, dan juga toilet. Namun mereka tetap tak ditemukan di mana pun.

"Sudahlah, Ying. Mau sampai kapan kau mengkhawatirkan mereka?" tanya Fang sambil menguap. Ia sebenarnya ingin segera pulang, tapi Ying memaksanya untuk tetap tinggal sampai mereka menemukan Boboiboy dan Yaya.

"Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka. Masa kau tidak khawatir sedikit pun sih dengan sahabatmu sendiri?" ujar Ying sedikit kesal dengan ketidakpedulian Fang.

"Buat apa khawatir? Boboiboy kan memang kerjaannya cuma nyari-nyari masalah, Yaya aja yang kena sial karena mau dekat-dekat dengannya," balas Fang dengan nada bosan.

Ying mendelik kesal ke arah si pengendali bayang. Ingin sekali rasanya ia mencekik pemuda itu agar ekspresi datar dan dinginnya itu bisa sedikit berubah. Gadis berkuncir dua itu kemudian menoleh ke arah Gopal, yang tengah sibuk menghabiskan beberapa bungkus camilan.

"Menurutmu mereka ada di mana, Gopal?" tanya Ying.

"Entah? Mungkin mereka diculik Adu Du?" jawab Gopal asal.

Gadis yang memiliki kuasa manipulasi waktu itu menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Kenapa ia harus punya sahabat-sahabat yang menyusahkan seperti mereka, sih? Apa cuma dirinya di sini yang normal?

Suara pintu yang digeser perlahan membuat ketiga superhero muda itu menoleh. Kedua sosok yang sedari tadi mereka cari-cari akhirnya menampakkan diri, dengan sedikit cengiran penuh rasa bersalah.

"Yaya, Boboiboy, kalian dari mana aja?" seru Ying penuh kelegaan saat melihat kedua sahabatnya akhirnya kembali.

"Umm, kami dari …" ucapan Boboiboy terpotong saat Ying tiba-tiba memeluknya.

"Kau membuatku sangat khawatir, Yaya! Tidak biasanya kau menghilang saat jam pelajaran. Kupikir terjadi apa-apa denganmu," ujar Ying sambil terus memeluk Boboiboy —yang dikiranya adalah Yaya.

Boboiboy benar-benar salah tingkah saat Ying tetap tidak melepaskan dekapannya. Ia tidak mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Ying, karena takut gadis itu justru merasa curiga. Barulah saat Yaya berdeham pelan di sebelahnya, dan aura membunuh terpancar kuat dari gadis itu, Boboiboy buru-buru melepaskan diri dari Ying.

"Maaf sudah membuatmu khawatir, Ying. Aku tadi cuma …" Boboiboy tak tau harus memberikan alasan apa kepada teman-temannya. Ia melirik ke arah Yaya memohon bantuan.

"Kami tadi memang sengaja membolos pelajaran," jawab Yaya santai.

"Apa? Kenapa kau mengajak Yaya membolos, Boboiboy?" tanya Ying histeris.

"Bukan aku yang mengajak, kok. Yaya yang ngusulin duluan," ujar Boboiboy membela diri, lalu ia buru-buru menutup mulutnya setelah sadar bukan dia yang seharusnya berkata begitu.

"Eh? Apa maksudmu, Yaya? Kenapa kau berbicara seolah-olah kau bukan … Yaya?" tanya Gopal bingung.

Kalau saja sedang tidak di depan ketiga sahabat mereka, Boboiboy pasti sudah dipukuli habis-habisan oleh Yaya sekarang.

"Maaf, maaf, aku salah ngomong. Maksudku tadi, bukan Boboiboy yang mengajakku membolos, tapi justru aku yang mengajaknya," kata Boboiboy buru-buru.

"Yap, Yaya benar, bukan aku yang mengajak, kok," kata Yaya sambil memasang senyum gugup.

Gopal menerima begitu saja kebohongan mereka berdua, tapi Fang dan Ying mulai merasa curiga.

"Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini …" kata Fang sambil memandangi Boboiboy dan Yaya dengan tatapan menyelidik.

"Ya, kalian berdua bertingkah aneh. Apa … terjadi sesuatu saat kalian membolos tadi?" tanya Ying.

"Nggak, kok, nggak terjadi apa-apa!" kata Boboiboy dan Yaya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan panik.

"Jadi, kenapa kalian membolos? Dan apa yang kalian lakukan?" tanya Ying lagi.

"Umm, itu …" Boboiboy menggaruk-garuk pipinya dengan bingung. Ia melirik Yaya untuk meminta bantuan, tapi gadis itu juga terlihat sama bingungnya dengan dirinya.

"Tunggu dulu," ucap Fang tiba-tiba. Pemuda berkacamata itu memandangi Boboiboy dan Yaya bergantian. "Kenapa kalian memakai baju olahraga? Kalian ganti baju?" tanyanya.

"Benar juga. Kenapa kalian ganti baju?" Ying ikut-ikutan bertanya.

Gopal, yang akhirnya juga ikut penasaran, menatap wajah panik Boboiboy dan Yaya. "Apa jangan-jangan kalian berdua …" Gopal sengaja menggantungkan kalimatnya, namun ia membuat tanda kutip dengan kedua tangannya dan memasang seringai lebar.

"Kami nggak ngapa-ngapain, kok!" seru Boboiboy dan Yaya bersamaan.

"Sumpah!" Boboiboy mengacungkan tangan kanannya agar teman-temannya mau percaya.

"Seragam kami basah karena hujan, makanya kami ganti baju," kata Yaya.

"Oh, yaa?" Gopal terlihat senang bisa menggoda kedua sahabatnya itu.

"Kau ini minta dihajar, ya?" ucap Yaya geram, dan berhasil membuat Gopal langsung bungkam.

"Boboiboy galak amat, sih. Aku kan cuma bercanda," kata Gopal sambil memanyunkan bibirnya.

"Tapi aku masih tetap curiga dengan kalian berdua," kata Fang sambil menyipitkan matanya.

"Apa lagi yang harus dicurigai, sih? Nggak usah berlebihan deh dasar kepala landak!" seru Boboiboy kesal.

"Apa kau bilang?!" Fang mengepalkan tangannya kesal, namun ekspresinya berubah menjadi heran saat menyadari yang berbicara barusan adalah Yaya, padahal biasanya Boboiboy lah yang sering mengajak ribut dengannya.

Yaya yang menyadari situasi yang semakin gawat, buru-buru menengahi. "Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kita pulang, udah sore, nih," ujarnya.

"Tapi …" Ying mencoba mengucapkan sesuatu, namun Yaya buru-buru menarik lengannya dan mengajaknya pulang.

"Ayo teman-teman, kita pulang," kata Yaya. Ia mengambil tas Boboiboy dan menyampirkannya di bahu. Setelah itu ia pun menyeret Ying ke luar kelas.

Fang memandang Boboiboy —atau yang dikiranya adalah Yaya— selama beberapa saat, namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu dan berjalan menyusul Ying dan Yaya.

Boboiboy menghela nafas pelan. Ia mengambil tas Yaya dan kemudian mengajak Gopal menyusul ketiga sahabat mereka yang telah lebih dulu pergi.

.

.

.

Boboiboy's POV

"Ochoboooot!" Aku langsung memeluk robot kuning itu begitu ia membukakan pintu rumah Tok Aba. Yaya hanya memutar bola matanya melihatku, sementara Ochobot terlihat bingung.

"Eh Yaya, ada apa?" tanya Ochobot sambil menatapku tak mengerti.

Aku memandang Ochobot dengan mata berkaca-kaca. "Ini aku, Ochobot. Aku Boboiboy."

Ochobot menatapku selama beberapa detik. "EHH?!" serunya kaget.

"Ochobot, ada apa?" Tok Aba muncul dari arah dapur dan menatap kami bertiga heran. "Lho, Yaya. Tumben mampir kemari, ada apa?" tanya atok sambil tersenyum ke arahku.

"Eh, nggak ada apa-apa, tok. Yaya cuma mampir sebentar mau—mau …" Aku mencoba mencari alasan namun bingung harus memakai alasan apa.

"Mau ambil buku catatannya yang Boboiboy pinjam kemarin," sambung Yaya.

"Ya, mau ambil buku catatan!" ulangku sambil tersenyum pada Tok Aba.

"Oh, gitu. Ya udah silakan masuk dulu," kata Tok Aba. Aku baru sadar bahwa kami masih berdiri di depan pintu. "Atok buatin minum dulu, ya," lanjut atok lagi.

"Nggak usah repot-repot, tok," ucapku sopan.

"Nggak repot, kok," balas Tok Aba, sebelum kemudian berpaling ke arah Yaya. "Boboiboy, kau cepat ganti baju dulu sana," kata Tok Aba sambil melirik seragam olahraga yang masih dipakai Yaya.

"Baik, tok," kata Yaya.

Setelah Tok Aba pergi, aku dan Yaya kembali menatap Ochobot dengan pandangan memelas.

"Jadi kalian bertukar tubuh lagi? Kok bisa?" tanya Ochobot dengan suara berbisik.

"Kami juga masih belum yakin, tapi sepertinya penyebab kami bertukar tubuh adalah hujan," kata Yaya, juga dengan berbisik.

"Hujan?" tanya Ochobot bingung.

"He-eh," ucapku sambil mengangguk.

"Tapi bagaimana …?" Ochobot terlihat masih tidak mengerti. Yah, aku sendiri juga tidak terlalu mengerti, sih.

"Waktu pertama kali kami bertukar …" Saat Yaya hendak menjelaskan pada Ochobot, aku buru-buru menahannya.

"Jangan di sini, nanti Tok Aba dengar," bisikku sambil melirik gugup ke arah dapur.

"Kalau begitu ayo kita naik ke kamarmu," kata Ochobot. Aku dan Yaya mengangguk. Kami pun berjalan menaiki tangga menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Setelah menutup pintu kamar, Ochobot kembali memandangi kami, menunggu penjelasan.

"Nah, jadi coba ceritakan padaku apa yang terjadi," kata robot kuning itu.

Yaya pun mengulang semua ceritanya, mulai dari saat kami pertama kali bertukar tubuh dan teorinya mengenai hujan yang menyebabkan kami bertukar.

"Hmm, jadi hujan ya? Tapi bagaimana bisa hujan membuat kalian bertukar tubuh?" tanya sang bola kuasa bingung.

"Ya mana kami tau, kami juga masih bingung," kataku sambil berbaring malas di tempat tidur.

Ochobot hanya mengangguk-angguk. "Kalau begitu kalian tinggal menunggu hujan saja untuk kembali lagi, kan?" tanyanya.

"Masalahnya, kami sudah mengecek ramalan cuaca, tapi hujan tidak akan turun setidaknya untuk dua minggu ke depan," kata Yaya sambil mengacak rambut dengan frustasi.

"Jadi sekarang apa rencana kalian?" tanya Ochobot.

"Kami berencana untuk kembali ke hutan itu. Di sana pasti ada petunjuk untuk mengembalikan tubuh kami," jawabku.

"Dan apa yang bisa kubantu?" tanya Ochobot lagi.

"Tumben sekali kau menawarkan diri membantu," kataku, masih meringkuk nyaman di tempat tidur.

"Kalau tidak butuh bantuanku ya sudah," ucap Ochobot santai dan mulai melayang pergi.

"Eh, tunggu Ochobot, jangan pergi!" seru Yaya panik sambil menahan robot bulat itu. Ia melirik kesal ke arahku. "Kami butuh bantuanmu," ucapnya dengan nada memohon.

Ochobot menatapku dan aku hanya mengangkat bahu. "Iya, bantulah kami Ochobotku tersayang," ucapku dengan nada manis.

"Aku harus membantu apa?" tanya Ochobot akhirnya.

"Kau harus mengutak-atik jam kuasa kami, supaya aku dan Boboiboy bisa memakai kuasa kami masing-masing," kata Yaya sambil menyerahkan jam kuasaku yang melingkar di pergelangan tangannya pada Ochobot. "Boboiboy, cepat berikan jam kuasaku pada Ochobot," perintahnya.

Aku pun dengan sedikit malas membuka jam kuasa merah muda di pergelangan tangan kananku dan menyerahkannya pada robot bulat itu. Ohocot menerima jam kuasa kami dan memandanginya selama beberapa detik.

"Baiklah, akan kucoba," ucapnya.

"Terima kasih, Ochobot," ujar Yaya senang.

"Sama-sama," balas Ochobot.

Saat itu pintu kamar terbuka, aku buru-buru bangkit dari tempat tidur dan hampir saja terjatuh sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan diri.

"Oh, ternyata kalian di sini," kata Tok Aba sambil membawa masuk dua cangkir yang mengepulkan asap. "Ini hot chocolate untuk kalian."

"Wah, makasih, tok! Atok memang terbaik!" ujarku sambil mengacungkan jempol.

Tok Aba memandangiku dengan heran selama beberapa saat, namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu. "Kalau begitu atok turun dulu, ya," ucapnya. Aku dan Yaya mengangguk.

Selepas kepergian Tok Aba, Yaya dan Ochobot menoleh ke arahku dan menatapku cukup lama.

"Apa?" tanyaku sambil menyeruput cokelat panas.

"Tidak ada apa-apa," kata Yaya sambil menggeleng dan memijat kepalanya pelan.

"Kau harus banyak bersabar kalau berurusan dengannya, Yaya," kata Ochobot, sambil melirik ke arahku.

"Aku tau," balas Yaya.

Aku tidak memedulikan mereka dan terus menikmati cokelat hangatku dengan santai.

.

.

.

Yaya's POV

Aku menutup buku catatan yang sedari tadi kupelajari dan menghela nafas pelan. Mataku menatap ke luar jendela, ke arah pemandangan kota kecil tempat tinggalku yang berkilauan di malam hari.

Pemandangan dari kamar Boboiboy memang indah, gumamku dalam hati.

Tanpa sadar aku tersenyum kecil saat memikirkan Boboiboy. Kira-kira apa yang tengah dilakukannya sekarang? Apa ia membuat masalah lagi di rumah, dan membuat ibu marah? pikirku sambil terus tersenyum-senyum tak jelas.

"Hayoo, kenapa kau tersnyum-senyum sendiri?" Ochobot muncul dari arah belakang dan mengagetkanku.

"Ochobot! Kau mau membuatku kena serangan jantung?" omelku sambil mengelus-elus dada. Bola kuasa itu hanya cengengesan.

"Jadi apa yang sedang kau pikirkan? Boboiboy?" selidik Ochobot.

"Nggak, kok! Kata siapa?" elakku.

"Udahlah, ayo ngaku," goda Ochobot sambil mencolek pipiku.

"Emang nggak, kok. Ngapain juga aku mikirin si Otak Jeruk," kataku sambil mendengus.

"Iya deh, terserah kau aja," ujar Ochobot mengalah. Robot itu melayang perlahan ke arah tempat tidurnya di dekat kasur Boboiboy.

"Hei, Ochobot, bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanyaku.

"Hah? Ya mana aku taulah, aku kan robot mana bisa jatuh cinta," kata Ochobot.

"Benar juga ya," ucapku sambil menghela nafas.

"Kenapa? Kau sedang jatuh cinta?" tanya Ochobot.

"Kurasa begitu," gumamku pelan.

"Sama siapa? Boboiboy?" Lagi-lagi robot bulat itu bertanya.

"Sama siapa lagi?" Aku balas bertanya dengan wajah sedikit memerah.

Ochobot mendesah kecewa, "Yah, kupikir kau akan berpikir lebih cerdas dan mencari cowok yang lebih baik," ucapnya.

"Jangan bilang begitu, ah," kataku sambil menguap. Aku pun bangkit dari kursi dan melangkah ke tempat tidur.

"Kalau Boboiboy tau kau juga menyukainya, dia pasti akan girang setengah mati," kata Ochobot.

"Kau benar," kataku sambil tertawa kecil. Aku membaringkan diri di tempat tidur dan menatap planet-planet mini yang tergantung di langit-langit. "Tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku," gumamku.

"Kenapa?" tanya Ohcobot dengan suara mengantuk.

"Entahlah. Selama ini aku hanya menganggap Boboiboy sebagai sahabat, tidak lebih. Tapi saat Boboiboy bilang ia menyukaiku, entah kenapa aku jadi sedikit berdebar-debar. Apalagi setelah aku menghabiskan waktu hanya berdua dengannya sepanjang hari ini, aku jadi bertanya-tanya apa mungkin aku juga menyukainya. Bersamanya terasa sangat menyenangkan, dan aku juga merasa nyaman saat berada di sampingnya. Tapi aku takut kalau rasa suka ini akan merusak persahabatan yang selama ini kami jalin. Menurutmu apa yang harus kulakukan, Ochobot?"

Tak ada tanggapan dari si bola kuasa. Aku menoleh ke samping dan melihat robot bulat itu tengah mendnegkur pelan di tempat tidurnya. "Huh, dasar. Aku lagi curhat, dia malah tidur," gerutuku kesal. Aku kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhku dan menyusul Ochobot ke alam mimpi.

.

.

.

Author's POV

Yaya meletakkan dua piring di atas meja dan menyendokkan nasi goreng yang baru matang ke setiap piring. Setelah itu ia mengambil dua kotak bekal dan mengisinya dengan nasi goreng yang masih tersisa. Gadis itu mengatur lauk pauknya, telur dadar dan ayam goreng, sedemikian rupa agar terlihat cantik.

"Nah, selesai," ucap Yaya puas sambil memandangi dua bekal hasil karyanya. Ia kemudian beralih ke kompor untuk memanaskan air dan membuat teh.

"Lho, Boboiboy? Tumben jam segini kau sudah bangun," suara Tok Aba dari balik punggungnya membuat Yaya menoleh.

"Eh, atok, selamat pagi," ucap Yaya riang. Ia kembali berbalik dan mengaduk-aduk lemari tempat penyimpanan barang, mencari teh. "Sekali-kali kan Boboiboy pengen bangun cepat juga, tok," ujarnya.

Tok Aba hanya mengangguk-angguk. Pria itu memandangi piring-piring berisi nasi goreng di meja makan. "Ini kau yang masak, Boboiboy?" tanya Tok Aba takjub.

"Eh, iya tok," ujar Yaya sambil menggaruk-garuk pipinya. " Kan kasihan kalau atok terus yang nyiapin sarapan. Jadi kali ini Boboiboy yang buatin sarapannya."

"Sejak kapan kau bisa memasak?" tanya Tok Aba heran.

"Umm, sejak … diajari Yaya," kata Yaya berbohong.

"Oh, diajari Yaya," Tok Aba mengangguk paham. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan meja makan. "Gadis itu memang baik. Ia bahkan mau mengajarimu memasak," ujar Tok Aba.

Yaya hanya nyengir saat dirinya dipuji Tok Aba. "Ya, Yaya memang teman yang baik," katanya membenarkan.

Tok Aba kembali mengangguk dan mulai menyantap sarapannya, sementara Yaya kembali sibuk menyiapkan teh. "Kau membuat bekal juga?" tanya Tok Aba saat melihat dua kotak bekal di atas dapur.

"Ya, hitung-hitung buat hemat uang jajan," kata Yaya.

"Kenapa bekalnya ada dua?"

"Yang satunya untuk Yaya, sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengajari Boboiboy memasak," lagi-lagi Yaya berbohong.

Setelah itu Tok Aba tidak bertanya-tanya lagi. Yaya akhirnya selesai menyeduh teh dan menyajikannya di gelas untuk dirinya dan Tok Aba. Keduanya kemudian menghabiskan sarapan dalam diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.

.

.

.

Boboiboy's POV

"Yaya berangkat dulu, bu. Assalamualaikum," ucapku sambil menyalami tangan Nyonya Yah.

"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," balas ibu Yaya. Aku mengangguk dan segera berlari ke luar.

Udara pagi yang sejuk langsung menyambutku begitu aku membuka pintu. Aku sedikit menggigil dan merapatkan lenganku di depan dada untuk menghangatkan diri. Sebenarnya aku merasa tidak enak badan sejak semalam, tapi karena takut dibunuh Yaya kalau aku sampai ketinggalan pelajaran, maka aku memutuskan untuk tetap masuk ke sekolah. Aku melangkah ke arah pagar dan mataku menangkap sosok bertopi jingga yang tengah berdiri bersender di depan pagar rumah Tok Aba.

"Yaya!" panggilku. Gadis itu menoleh dan menatapku sambil tersenyum. Ternyata senyumku memang menawan, bahkan aku sendiri hampir jatuh cinta dengan diriku,pikirku sedikit narsis. "Kau menungguku?" tanyaku saat telah berdiri di sebelah Yaya.

"Ya, aku ingin pergi ke sekolah sama-sama," kata Yaya.

"Tumben, ada apa?" tanyaku sedikit heran.

"Nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma pengen pergi bareng aja," jawabnya santai.

"Oh, jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padaku gara-gara kemarin, ya? Karena itu kau sekarang ingin selalu bersamaku?" godaku.

"Nggak usah kege-eran deh," ucap Yaya sambil mendelik kesal.

"Udahlah ngaku aja. Kau jatuh cinta padaku, kan?" godaku lagi.

"Nggak usah terlalu berharap, Otak Jeruk," kata Yaya, menjitak kepalaku.

Aku mengelus-elus kepalaku sambil meliriknya kesal. "Kenapa kau selalu kasar padaku, sih?" gerutuku.

"Karena kau pantas dikasari," ucapnya kalem. Ia kemudain mengeluarkan sekotak bekal dari dalam tasnya. "Nih, untukmu."

Mataku langsung berbinar saat menerima bekal pemberian Yaya. "Serius ini buatku?" tanyaku tak bisa menyembunyikan perasaan senang.

"Ya iyalah," kata Yaya.

"Kau membuatnya sendiri?" tanyaku sambil mengintip isinya. Nasi goreng dan juga berbagai lauk yang ditata rapi.

"Siapa lagi?" Yaya balik bertanya.

Aku menyunggingkan senyum lebar. "Terima kasih, Nona Pintar. Kau memang calon istri idaman."

"Apa?" tanya Yaya, sepertinya tak mendengarkan perkataanku yang terakhir, syukurlah.

"Tidak ada apa-apa," jawabku cepat. Aku memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas. "Nah, ayo kita pergi ke sekolah," ujarku riang.

Aku melangkah mendahului Yaya sambil melompat-lompat gembira. Sedangkan gadis itu mengikutiku dari belakang sambil seseklai berdecak kesal melihat tingkahku yang kekanak-kanakan.

.

.

.

Author's POV

Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling tidak disukai Boboiboy dan Yaya untuk saat ini, karena mereka sedang dalam kondisi yang 'tidak biasa'. Keduanya terpaksa harus menunggu ruang ganti sepi sebelum bisa menukar seragam sekolah mereka dengan pakaian olahraga. Untunglah kali ini mereka bisa tiba tepat waktu, tanpa harus kena omelan dari Papa Zola.

Hari ini pelajaran olahraga diadakan di ruang gymnasium, karena kondisi lapangan yang sedikit becek setelah hujan deras kemarin. Setelah melakukan pemanasan, Papa Zola menyuruh murid-muridnya berpasangan untuk melakukan sit-up. Salah satu dari mereka harus memegangi kaki temannya, sementara yang satu lagi melakukan sit-up.

Entah karena kesialan atau mungkin juga keberuntungan, Yaya harus berpasangan dengan Boboiboy. Dengan sedikit bersungut-sungut, ia pun membaringkan diri di lantai, sementara Boboiboy memegangi kakinya sambil nyengir lebar.

"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, ya?" bisik Boboiboy.

Kalau saja tidak ada Papa Zola yang berdiri di dekat mereka, mungkin Yaya telah menendang wajah Boboiboy. "Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, Otak Jeruk," ujarnya kesal. Boboiboy hanya nyengir.

Papa Zola meniup peluit, dan murid-muridnya mulai melakukan sit-up. Yaya melipat lengannya di belakang kepala dan langsung menaikkan tubuhnya begitu mendengar suara peluit. Jantungnya berhenti berdetak begitu menyadari bahwa wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari Boboiboy yang tengah berlutut memegangi kakinya.

Yaya buru-buru menurunkan kembali tubuhnya dan berusaha mengatur degup jantungnya yang mulai tidak beraturan. Ia kembali menggerakkan tubuhnya ke atas dan sekali lagi berhadapan dengan Boboiboy.

Tidak boleh, Yaya, kau harus menahan diri. Jangan sampai perasaanmu terbaca oleh Boboiboy, batin Yaya sedikit panik.

Gadis itu akhirnya memutuskan untuk memejamkan matanya, dan setelah itu ia pun berhasil menyelesaikan sit-upnya tanpa harus terus merasa berdebar-debar. Sekarang giliran Boboiboy untuk melakukan sit-up, dan Yaya gantian berlutut untuk memegangi kaki pemuda itu.

Suara peluit kembali terdengar dan Boboiboy mulai bangkit perlahan dan melakukan sit-up. Lagi-lagi jantung Yaya berdegup kecang saat wajah Boboiboy berada tepat di hadapannya.

Tenanglah Yaya, itu kan wajahmu sendiri, kau tidak perlu merasa gugup, gumam Yaya berulang-ulang dalam hati.

Ia memilih untuk menutup matanya lagi sebelum perasaanya semakin tidak karuan. Beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa Boboiboy telah berhenti melakukan sit up. Yaya merasakan nafas hangat pemuda itu di wajahnya, dengan perlahan dan sedikit takut ia pun membuka matanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Nona Pintar?" tanya Boboiboy sambil tersenyum tipis.

Yaya sedikit tergagap dan berusaha menghindari tatapn pemuda itu. "A-aku …"

"HOI!" Terdengar suara seruan yang membuat Boboiboy dan Yaya terlonjak kaget. Sebelum mereka sempat menoleh, kepala mereka telah diantukkan oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan guru eksentrik mereka, Papa Zola.

"Bapak menyuruh kalian sit-up! Bukan tatap-tatapan! Memangnya kalian pikir ini permainan adu tatap, ha?!" seru Papa Zola dengan suara menggelegar.

"Ma-maaf, pak guru," ucap Boboiboy dan Yaya sambil meringis dan mengelus jidat mereka yang terantuk.

"Sekarang cepat selesaikan sit-up kalian kalau tidak mau mendapat pukulan rotan keinsyafan!" seru Papa Zola sambil mengacungkan rotan mematikan miliknya.

"Ba-baik, pak!"

Yaya buru-buru memegangi kaki Boboiboy, sementara pemuda itu kembali melanjutkan sit-upnya. Hilang sudah momen yang membuat jantung Yaya berdebar-debar. Ia sekarang hanya bisa menunduk malu di bawah tatapan teman-teman sekelasnya.

Kenapa harus di depan teman-teman, sih? Pasti sekarang mereka akan membuat gossip lagi, keluh Yaya dalam hati. Ia hanya menghela nafas pelan dan kembali menatap Boboiboy yang masih sibuk melakukan sit-up. Kali ini jantungnya tidak berulah lagi, dan ia bisa memandang pemuda itu tanpa merasa gugup.

Eh, tunggu dulu, kayaknya aku ngerasain sesuatu waktu kepalaku terantuk dengan Boboiboy, pikir Yaya. Kenapa dahi Boboiboy terasa panas?

.

.

.

Boboiboy's POV

Aku mengeluarkan bekal yang diberikan Yaya padaku tadi pagi dengan riang. Bel istirahat baru saja berbunyi, dan aku sedang bersiap-siap ke kantin bersama keempat sahabatku.

"Lho, Yaya, kau bawa bekal?" tanya Ying.

"Yep," ucapku bangga.

"Wah, Boboiboy juga bawa bekal yang sama!" seru Gopal begitu Yaya mengeluarkan bekalnya dari tas. "Kalian janjian?"

"Begitulah," jawabku santai.

"Siapa yang menyiapkannya?" tanya Gopal antusias.

"Tentu saja aku, kan?" kataku sambil tersenyum angkuh. Aku tidak mungkin bilang kalau Yaya yang menyiapkannya kan? Mereka kan mengira Yaya adalah diriku.

Yaya hanya memutar bola matanya melihat tingkahku, tapi beberapa saat kemudian aku melihat kilatan cemas di matanya.

"Sepertinya hubungan kalian semakin mencurigakan. Apa jangan-jangan kalian sudah pacaran tanpa memberitahu kami?" tuduh Fang sambil memandangku dan Yaya dengan tatapan tajam.

"APA?! BENARKAH ITU?! KALIAN PACARAN?!" seru Gopal heboh, membuat beberapa orang yang masih ada di kelas menoleh kaget.

"Nggak, kok! Siapa juga yang pacaran?" ujar Yaya sambil melambai-lambaikan tangannya panik.

"Belum," gumamku pelan, yang hanya bisa didengar oleh Yaya. Gadis itu melirikku dengan jengkel.

"Jadi kalau bukan pacaran, seperti apa hubungan kalian sekarang? Teman Tapi Mesra?" goda Gopal.

"Kami …" Sebelum aku bisa menjawab, Yaya buru-buru membungkam mulutku.

"Kami cuma teman, kok, nggak lebih," ujar Yaya.

"Lho, kok teman? Bukannya kita sahabat?" protesku.

"Iya deh iya, sahabat. Puas?" balas Yaya galak. Aku hanya cengengesan.

Aku melihat Ying —yang sedari tadi hanya diam— tengah memegangi kepalanya dan menggeleng-geleng pelan. "Kau tidak apa-apa, Ying?" tanyaku.

"Kenapa aku merasa kalau cuma aku yang masih normal di sini?" keluh Ying.

"Hei, aku juga masih normal!" protes Fang tak terima.

"Sudahlah, ayo kita ke kantin," ajak gadis berkacamata itu. Aku mengangguk dan berjalan di samping Ying. Namun langkahku sedikit oleng saat kepalaku mendadak pusing.

"Kau baik-baik saja, Yaya?" tanya Ying khawatir sambil memegangi lenganku.

"Ya, aku tidak apa-apa," jawabku, berusaha memasang wajah seceria mungkin. Sepertinya aku terserang demam, kepalaku pusing terus sejak tadi, dan aku juga merasa sedikit meriang. Mungkin seharusnya aku tidak memaksakan diri ke sekolah hari ini. "Ayo kita ke kantin!" kataku riang.

.

.

.

Author's POV

Kelima sahabat itu duduk di salah satu meja di kantin dan mulai menikmati makanan mereka masing-masing. Boboiboy membuka kotak bekalnya dengan gembira. Aroma sedap nasi goreng langsung membuat perutnya keroncongan minta diisi.

"Selamat makan!" ujar Boboiboy riang. Ia segera memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Mungkin karena ia sedang merasa tidak enak badan, makanan itu jadi terasa sedikit hambar di mulutnya. Tapi tetap saja pemuda itu merasa gembira luar biasa karena bisa memakan bekal buatan Yaya.

Yaya, yang diam-diam mengkhawatirkan Boboiboy, terus menatap wajah pemuda itu saat makan. Memang wajah Boboiboy terlihat sedikit pucat, tapi pemuda itu tidak kelihatan seperti orang yang sedang sakit. Ia memakan bekal buatan Yaya dengan sangat lahap. Karena terus memeprhatikan Boboiboy, Yaya tidak sadar kalau Gopal mengambil sedikit jatah bekalnya.

Setelah selesai makan, mereka berlima tetap duduk di kantin selama beberapa menit. Boboiboy, yang merasa semakin tidak enak badan, muali merasa sedikit mual karena ia tadi makan terlalu bersemangat. Ia berusaha menjaga agar ekspresinya tetap tenang, karena takut teman-temannya tau ia sedang sakit.

"Sepertinya kau agak terlalu bersemangat makan hari ini, Yaya," komentar Gopal pada Boboiboy.

"Tentu saja, itu kan makanan buatan Ya—buatanku sendiri. Jadi ya harus semangat dong makannya," kata Boboiboy sedikit gugup karena hampir salah bicara.

"Yah, nasi goreng buatanmu memang enak sih," kata Gopal yang telah puas mencicipi bekal milik Yaya tanpa sepengetahuan pemiliknya.

"Makasih," ucap Boboiboy pelan. Sepertinya energinya sudah mulai habis untuk terus berpura-pura ceria. Kepalanya semakin terasa pusing dan matanya juga mulai berkunang-kunang.

"Ayo kembali ke kelas," ajak Fang. Keempat sahabatnya mengangguk, termasuk Boboiboy. Pemuda itu bangkit berdiri dengan sedikit goyah. Pandangannya mulai mengabur, dan hal terkahir yang dilihatnya adalah ekspresi panik teman-temannya sbeelum ia jatuh tak sadarkan diri.

.

.

.

TBC

Aku mau menanggapi salah satu review dari guest.

Jadi gini, sebenarnya aku juga udah mikirin tentang apa aja yang dilakuin Boboiboy dan Yaya waktu tukeran tubuh, mulai dari gimana mereka mandi, ganti baju, make daleman, dan sebagainya. Aku bahkan udah mikirin tentang 'tubuh' Yaya yang kena siklus bulanan. Aku udah pernah coba nulis tentang semua itu, tapi di tengah jalan aku akhirnya mutusin untuk nggak masukin hal-hal itu di cerita ini, soalnya aku sedikit paranoid, takutnya nanti malah pada salah focus, dan takut nanti malah terpaksa naikin ratingnya, karena aku sama sekali nggak berniat naikin ff ini jadi rating M. Makanya sekarang aku berniat untuk bikin side story, karena mungkin ada pembaca yang penasaran tentang hal-hal yang nggak kumasukin ke sini itu. Jadi buat yang penasaran, ditunggu aja side storynya, walau aku nggak janji bisa selesai dalam waktu dekat, karena aku mau focus ke cerita utamanya dulu.

Makasih atas segala perhatian kalian, maaf karena A/N nya kepanjangan u.u