BE CLOSE MY BROTHERS
.
.
Main Cast :
Park Jung Soo / LeeTeuk
Lee Donghae as Park Donghae
Kim Kibum as Park Kibum
Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun
.
Genre : Family and Friendship
.
Warning : Typo(s), long of duration plot, OOC
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
PART 9
Suasana tenang terlihat di sebuah kamar. Hanya detikan jam berirama teratur yang terdengar mendominasi dalam ruangan tersebut.
"Haffttt~"
Hingga helaan nafas panjang terdengar dari seorang namja yang tengah duduk di kursi meja belajarnya. Namja itu—Jung Soo menutup buku yang sedaritadi ia baca lalu melepaskan kacamata berframe hitam yang ia kenakan. Ia meletakan kacamata itu sembarang di meja.
Lengan nya berpangku pada meja, sesekali menekan pelipis nya yang berdenyut. Memejamkan matanya sejenak yang sudah cukup lelah karena membaca selama lebih dari 1 jam, Ia membuka matanya lagi dan menatap beberapa buku yang berserakan di meja dengan tatapan malas sekaligus frustasi.
Hanya tinggal beberapa hari lagi ia akan menjalani beberapa test di sekolah tapi hingga sekarang tak ada satu pelajaran pun yang mampu ia serap dan kuasai dengan baik. Pikiran nya yang terbagi selama beberapa hari bahkan minggu membuat nya tak bisa fokus pada pelajaran.
"Bagaimana ini?" keluh nya sembari mengacak helai rambut nya kasar.
Jung Soo menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi. Ia mengambil ponselnya yang juga tergeletak di meja lalu memasukan kode pembuka. Layar smartphone itu langsung menunjukan waktu pukul 2 siang. Jangan heran kenapa ia berada di rumah seharian padahal ini masih hari rabu dan seharusnya ia masih berada di sekolah menerima pelajaran dari songsaengnim.
Dia terpaksa izin dari sekolah hari ini mengingat kondisi Kyuhyun yang masih belum bisa di tinggal sendirian karena kejadian kemarin. Kyuhyun menolak untuk berangkat sekolah tadi pagi dan otomatis Jung Soo tak bisa meninggalkan bocah itu sendirian di rumah. Adik kecilnya itu masih saja betah dengan sikap diam nya. Sering melamun, tak ada semangat dan kecerian lagi yang terlihat. Berbagai cara sudah Jung Soo lakukan agar Kyuhyun mau berbagi cerita atau setidaknya lepas dari pikiran nya sendiri, namun semua itu hanya berdampak sedikit saja. Kyuhyun memang tidak sediam kemarin tapi tetap saja…
"Hae-ah…" desah kecewa Jung Soo saat ia mencoba menghubungi dongsaeng nya itu lagi namun sambungan nya di putus secara sepihak. Ia yakin Donghae sudah pulang sekolah tapi berulang kali ia mencoba menghubungi, Donghae selalu menolak telepon nya.
ARRRGHHH!
Batin Jung Soo sudah berteriak keras dan frustasi.
Ia pusing…
Kepala nya terasa akan pecah!
Memikirkan Kyuhyun lalu Donghae—bagaimana cara membuat kedua nya berbaikan dan Donghae bisa segera kembali ke rumah? Bagaimana membuat Kyuhyun kembali tersenyum? Belum lagi dengan sikap aneh Kibum yang masih saja membuatnya penasaran. Lalu ujian yang sudah di depan mata padahal tidak ada materi yang ia kuasai. Kepala nya seperti sudah di penuhi oleh banyak benang kusut.
Jung Soo mengusap wajah nya kasar. Jujur ia ingin menangis. Ia merasa tak sanggup lagi. Jalan pemikiran nya terasa buntu.
"Appa, eomma… pulanglah, jebal. Mianhae, Jung Soo gagal" gumam Jung Soo pelan sembari memandang figura foto yang di letakan di sudut meja belajarnya.
Tatapan penuh kebingungan dan pengharapan besar agar kedua orang tua nya kembali dan membantu nya menuntaskan semua masalah ini. Ia termenung sejenak.
Setelah beberapa saat berkelut dengan pemikiran dan kebingungan nya sendiri, Jung Soo mulai beranjak dari kursinya. Ia sudah membuat satu keputusan, Untuk saat ini, ia akan berusaha membuat Kyuhyun kembali ceria terlebih dahulu lalu mencoba berbicara baik-baik dengan Donghae. Mungkin ia harus mengunjungi rumah halmeoni nya nanti.
Dengan langkah gontai, Jung Soo keluar dari kamarnya. Mungkin sesuatu yang dingin bisa membantunya menenangkan hati dan pikiran nya. Jung Soo menuruni anak tangga hendak menuju dapur.
Namun langkahnya terhenti saat ia melewati ruang santai. Ia terdiam di tempat sambil menatap sendu seorang bocah yang tengah terduduk di karpet sembari menyandarkan kepalanya di meja. Tak ada yang di lakukan bocah itu, hanya terdiam di sana seorang diri membuat hati Jung Soo berdesir.
Jung Soo mengurungkan niatnya menuju dapur, ia memilih menghampiri adik nya yang entah sejak kapan berada di tempat itu. Ia mendudukan dirinya di samping bocah yang masih saja bergeming di tempatnya.
"Kyu…"
Panggilan dan sentuhan lembut di kepalanya membuat Kyuhyun sedikit tersentak kaget. Ia menegakan posisi duduknya lalu menatap sang hyung tanpa ekspresi pasti. Jung Soo mencoba tersenyum.
"Kapan kau terbangun? Apa yang kau lakukan di sini heum?" tanya Jung Soo lembut. Setelah makan siang, Kyuhyun memang tertidur di kamarnya.
Kyuhyun tak menjawab pertanyaan hyung nya itu. Ia justru memeluk Jung Soo dengan manja membuat Jung Soo tersenyum geli.
"Kenapa tak menemui hyung saja setelah bangun tadi?"
"Hyung sedang belajar"
Jung Soo mengangguk paham—Kyuhyun tak ingin mengganggu nya saat belajar ternyata.
"Baiklah—ah! Apa Kyunnie mau es krim?" tawar Jung Soo dengan nada riang berharap adiknya menjawab dengan riang juga namun Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya membuat Jung Soo menghela nafas.
"Mianhae hyung"
Jung Soo melepaskan pelukan Kyuhyun dan menatap adiknya itu bingung.
"Mianhae, karena Kyu… Hyung jadi tidak sekolah hari ini. Aku selalu menyusahkan mu. Harusnya hari ini kau sekolah saja, Kyu tak apa di rumah sendirian. Kyu hanya—"
"Sstt~ Kyu bicara apa eoh? Kyu sama sekali tak menyusahkan hyung. Hari ini hyung izin karena hyung memang ingin istirahat dan menemani Kyunnie seharian. Jadi Kyu tidak boleh menyalahkan diri sendiri, arrachi?" Jung Soo berusaha memberikan pengertian kembali.
Entah kenapa sejak kemarin Kyuhyun sedikit sensitif. Dia sering mengucapkan kata maaf bahkan untuk sesuatu yang tidak ia lakukan. Jung Soo menatap sendu Kyuhyun yang hanya menundukan kepalanya.
Tangan nya terjulur meraih dagu Kyuhyun dan mendongakan wajah sang dongsaeng untuk kembali menatapnya. Tak ada sinar dalam manic coklat itu, hanya kehampaan dan kesedihan yang terlihat.
"Kemana pergi nya senyuman Kyunnie? Jangan seperti ini. Jebal, Kyu membuat hyung sedih" ujar Jung Soo membuat Kyuhyun ikut menatap ke dalam manic hyung nya itu. Pancaran sedih dan lelah terlihat jelas membuat perasaan bersalah kembali menyeruak memenuhi hati Kyuhyun—dia membuatnya hyung nya sedih(lagi), Kyuhyun pabbo!
"M-mianhae hyungie" sesal Kyuhyun lagi dan lagi meminta maaf.
Jung Soo tersenyum lalu mendekap Kyuhyun sekilas.
"Kalau begitu, sekarang berikan hyung senyuman Kyu yang paling manis" Kyuhyun terdiam mendengar permintaan hyung nya. Namun wajah Jung Soo yang memelas membuat nya luluh. Perlahan ia menarik sudut bibirnya membuat sebuah senyuman yang sedikit di paksakan. Jung Soo sadar akan hal itu namun ia berusaha menyembunyikan perasaan nya. Ia mengacak rambut Kyuhyun gemas.
Drap… Drap…
"Kyuhyunnie~~"
Suara sedikit cempreng itu menggema di seluruh ruangan rumah tersebut. Jung Soo dan Kyuhyun reflek menoleh ke asal suara. Seorang bocah sudah berdiri di ambang pintu—masih mengenakan seragam dan menenteng ransel coklatnya— sambil tersenyum lebar. Jung Soo tersenyum geli melihat nya berbeda dengan Kyuhyun yang hanya melihat nya dengan alis bertaut.
"Kau sudah datang Changminnie?" sapa Jung Soo membuat bocah itu segera menghampiri keduanya. Ia langsung duduk di sebelah Kyuhyun dan meletakan ranselnya sembarangan di karpet.
"Heum! Ne hyung, sepulang sekolah aku langsung melesat kemari. Hebat bukan?" Changmin menyengir lebar menjawab pertanyaan Jung Soo yang hanya menggelengkan kepala.
Changmin mengalihkan tatapan nya kepada Kyuhyun dan memperhatikan wajah sepupu nya itu dengan seksama.
"Kyu~ kau sakit hyung?"
Kyuhyun menggenggam tangan Changmin yang hendak meraba keningnya. Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sakit" balas Kyuhyung pelan, Changmin menghela nafas lega.
Changmin melirik ke arah Jung Soo yang hanya mengangguk seakan mengerti maksud dari lirikan bocah itu.
"Kalau kau tidak sakit… bagaimana jika kita ke game center saja? Lihat! Aku dapat free card bermain sepuasnya dari appa kemarin~" Changmin menunjukan sebuah kartu berwarna biru. Kyuhyun memperhatikan kartu itu sejenak sebelum mengambilnya dan mulai meneliti dengan seksama.
"Mau ya Kyu~ temani aku main" bujuk Changmin karena Kyuhyun tak kunjung merespon ajakan nya. Kyuhyun menatap Changmin sejenak lalu kembali terfokus pada kartu di tangan nya.
"Tapi…"
"Ayolah~ hanya sebentar kok… Apa kau tidak bosan di rumah seharian? Lebih baik kita bermain saja~"
Kyuhyun kembali menimang ajakan itu. Jujur ia malas keluar rumah. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga namun tak bisa di pungkiri ia juga sangat jenuh berada di rumah tersebut.
"Mainlah bersama Changmin, Kyu"
Ucapan Jung Soo membuat Kyuhyun menatap hyung nya itu. Ia mengerjapkan matanya polos masih belum bisa menangkap maksud dari ucapan sang hyung. Jung Soo tersenyum lalu mengelus pucuk kepalanya.
"Kau butuh hiburan. Bermain lah di luar agar pikiran mu fresh" ulang Jung Soo lagi.
"Yeay! Dengar Kyu? Jung Soo hyung saja sudah mengizinkan. Ayooollaaahh~"
Kyuhyun menghela nafas lalu mengangguk pasrah. Ia tersenyum kecil melihat Changmin yang sudah melompat kesenangan.
"Apa perlu hyung temani kalian?" tanya Jung Soo membuat Changmin menatapnya dengan mata berbinar—jarang sekali sepupu tertua nya itu mau di ajak bermain ke game center. Tapi berbeda dengan Changmin, Kyuhyun justru menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak perlu. Hyung harus belajar untuk test senin depan kan?" tolak Kyuhyun halus. Bagaimana pun ia paham sifat Jung Soo, kakaknya itu hanya akan bosan berada di dalam game center jadi lebih baik Jung Soo menghabiskan waktu luangnya untuk belajar toh hyung nya sangat memerlukan hal itu. Jung Soo tersenyum lalu mengangguk paham.
Kyuhyun segera bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar untuk berganti pakaian menyisakan Jung Soo dan Changmin di ruangan itu. Changmin mengeluarkan pakaian ganti juga dari dalam ranselnya.
"Gomawo sudah datang, Changminnie" ujar Jung Soo pada Changmin yang hanya menyengir lebar. Tadi pagi, Jung Soo memang menghubunginya untuk memberi kabar jika Kyuhyun tidak masuk sekolah dan berharap bocah itu mau menemani adiknya bermain sepulang sekolah nanti.
"Aku sudah mendengar semua nya dari Bummie hyung di sekolah. Jung Soo tenang saja, aku akan berusaha membuat Kyu senang dan dia akan pulang dengan kecerian lagi nanti" balas Changmin semangat "Min juga tidak suka melihat Kyuhyun sedih seperti itu. Aku harus bisa membuatnya senang hari ini!"
Jung Soo tertawa pelan sambil mengacak rambut bocah itu gemas.
Tak berapa lama, Kyuhyun sudah keluar dari kamarnya menghampiri Changmin yang juga baru saja mengganti seragam nya dengan baju santai. Changmin segera memakai ranselnya kembali lalu merangkul Kyuhyun hendak menuntun nya berjalan keluar namun Kyuhyun hanya terdiam sambil menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
"Waeyo?" tanya Changmin polos.
"Kau… lebih muda dari ku, Min" ungkapan singkat Kyuhyun langsung di mengerti oleh Changmin yang segera melepaskan rangkulan nya lalu menyengir lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kyuhyun menyeringai melihat tingkah sepupunya namun ia segera balik merangkul Changmin.
"Kajja, kita pergi~"
"Yuhhuuu~"
Changmin dan Kyuhyun segera meninggalkan rumah setelah mengucapkan salam pada Jung Soo. Ada sedikit perasaan lega melihat Kyuhyun tersenyum saat bersama Changmin. Anak yang seumuran akan lebih saling mengerti sepertinya—haha. Setidaknya biarkan dongsaeng nya itu mencari hiburan dari kesenangan nya sendiri. Jung Soo masih berharap Kyuhyun akan pulang dengan wajah ceria nanti.
Tak ingin membuang waktu, Jung Soo segera menuju dapur. Ia mengambil beberapa kaleng minuman juga snack lalu membawa nya ke kamar—buku-buku masih setia menunggu kedatangan nya.
.
.
"Siapa yang menyuruh mu ke rumah? Jung Soo hyung atau Bum hyung?"
Changmin menoleh saat Kyuhyun mulai membuka suaranya. Keduanya tengah berjalan menuju game center yang terletak di kawasan pertokoan Myeondong.
"Kenapa bertanya begitu?" tanya Changmin bingung.
"Aku tahu kau, Min. Kau tidak akan ke rumah langsung dari sekolah kalau tidak ada yang meminta nya. Kau kan tidak peka"
Changmin menyengir lebar mendengar penuturan sepupunya itu. Ia mengalihkan tatapan nya dari Kyuhyun menuju ke lalu lalang orang di depan sana.
"Jung Soo hyung menghubungi ku tadi pagi lalu meminta ku bermain dengan mu siang ini" jujur Changmin membuat Kyuhyun mengangguk paham. Ia sudah bisa menebaknya.
"Tapi tanpa di minta pun, aku sudah berniat menemui mu Kyu. Sebenarnya niatku hari ini memang mengajakmu bermain ke game center tapi kau justru tak masuk sekolah dan membuat ku khawatir. Untung kau tidak sakit" Kyuhyun tersenyum kecil mendengar kejujuran dari sepupunya itu.
"Kau sudah tahu semua yang terjadi pada keluarga ku kan?"
"Heum… Kibummie hyung sudah menceritakan nya di sekolah setelah aku memaksanya" Changmin melirik ke arah Kyuhyun. Raut sedih masih tercetak jelas di wajah Kyuhyun. Ia bukan bocah yang peka terhadap sesuatu hal namun kesedihan sepupu nya itu seakan bisa di rasakan nya sekarang. Ekspresi sedih mulai di terlukis di wajah Changmin juga.
"Jangan melirik ku begitu" celetuk Kyuhyun yang risih dengan lirikan Changmin.
"Mianhae…"
Keduanya melanjutkan perjalanan dalam diam. Berulang kali Changmin memutar otaknya untuk mengajak Kyuhyun berbicara tapi sepupunya seperti tak berminat membuka mulut lagi.
"Huft~" helaan nafas kecewa Changmin membuat Kyuhyun meliriknya sekilas.
"Waeyo?"
Changmin mulai berjalan mendahului Kyuhyun lalu berhenti tepat di hadapan sepupu nya itu. Kyuhyun pun terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Changmin penuh dengan tanda tanya.
"Jangan sedih lagi, Kyu~ Aku yakin semua masalah yang kalian hadapi pasti ada jalan keluarnya dan pasti akan segera selesai. Tidak ada gunanya bersedih jadi tertawalah seperti biasa. Aku merindukan tawa jahil mu"
Kyuhyun sedikit tercengang dengan ucapan Changmin barusan. Ini pertama kali nya Changmin berbicara bijak dan penuh makna seperti itu. Tanpa sadar Kyuhyun mengulurkan tangan nya, menyentuhkan punggung tangan nya pada dahi Changmin.
"Kau tidak demam Min—hahaha kau belajar kata-kata seperti itu darimana?"
Kyuhyun tak bisa menahan tawa geli nya mengingat ucapan Changmin lagi. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya membuat Changmin menggembungkan pipinya kesal.
"Ya! Jangan menertawakanku! Kau tahu? Aku sudah menghafal sms eomma itu selama perjalanan ke rumah mu"
Bukan nya mereda, tawa Kyuhyun semakin menjadi. Kejujuran dan kepolosan Changmin membuat nya tertawa geli.
"Min… kau itu—haha kau… hahahaha"
"Aish Kyu hyung!"
Changmin melipat kedua tangan nya di depan dada dengan wajah mulai memerah karena malu dengan ucapan nya sendiri. Ia menyesal harus berkata seperti itu pada Kyuhyun. Dengan langkah menghentak kesal, Changmin melanjutkan langkahnya kembali menuju game center yang sudah tak jauh dari tempat mereka sekarang. Ia tak menghiraukan Kyuhyun yang masih saja menertawakan nya di belakang walaupun ada sedikit perasaan lega melihat sepupunya kembali tertawa.
Kyuhyun mulai menghela nafas dan menghentikan acara tawanya. Ia berjalan pelan di belakang Changmin, memperhatikan sosok sepupu nya yang mulai masuk ke dalam game center. Ia tersenyum tulus "Gomawo Min". Sedikit banyak ucapan Changmin menyadarkan nya. Memang tak ada gunanya bersedih.
Kau hanya akan membuat orang lain khawatir dan ikut sedih jika kau menunjukan kesedihan hatimu. Lebih baik bahagia dan buat orang sekitarmu menjadi tertawa.
Kyuhyun mulai mempercepat langkahnya untuk menyusul Changmin. Ia hendak menaiki tiga anak tangga untuk menggapai pintu namun niatnya terhenti. Ekor matanya menangkap sosok seseorang. Ia segera menoleh ke arah kiri.
DEG
Jantungnya langsung bergedub kencang dan nafasnya terasa tercekat melihat seseorang yang berjalan di tengah lalu lalang orang di jalan pertokoan. Orang yang sangat di kenalnya itu tengah berjalan santai menuju arahnya.
"Hae hyung…" gumam Kyuhyun sangat pelan.
Matanya terfokus pada sang hyung yang tengah berjalan seorang diri di depan sana. Kyuhyun terpaku saat tanpa sadar ia mendapat kontak mata dengan kakaknya itu. Ia bisa melihat Donghae pun terdiam di tempat dengan raut kaget saat melihatnya.
Namun Donghae kembali melanjutkan langkahnya maju, tak mempedulikan sosok adik yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Ia memasukan kedua tangan nya ke dalam saku jaket dan berjalan santai tanpa beban.
Hanya berjarak beberapa langkah lagi…
Kyuhyun mengepalkan kedua tangan nya berusaha menghilangkan rasa gugup bercampur takut akan bertemu dengan hyung nya itu. Ia menghela nafas sejenak sebelum menarik sudut bibirnya. Senyuman tipis yang sangat manis seakan ia persembahkan special untuk Donghae. Namun…
Syiiinnngg~
Senyuman itu langsung pudar seketika berganti dengan raut kesedihan. Puluhan pisau seperti merobek hatinya kembali.
Lewat…
Donghae melewati nya begitu saja…
Tanpa tegur sapa ataupun sebuah senyuman…
Bagai orang asing yang tidak saling mengenal…
Donghae hanya menatap lurus ke depan dan melewati nya seakan tak mengenal siapa sosok yang baru saja ia lewati.
Kyuhyun mengerjapkan matanya yang sudah berair. Berulang kali ia menyerukan nama hyung nya di dalam hati berharap Donghae akan berhenti, menoleh lalu memanggilnya. Tetapi harapan hanya lah sebuah harapan.
"Hae hyung…"
Dengan sulit Kyuhyun membalikan badan nya ke arah kanan. Menatap intens dan sendu punggung sang hyung yang semakin menjauh darinya.
"Kyu! Apa yang kau lakukan di sini? Ayo masuk~" Changmin yang bingung karena Kyuhyun tak kunjung masuk pun kembali keluar dari game center dan ia justru melihat Kyuhyun berdiri diam di depan pintu sambil menatap ke keramaian pejalan kaki.
Kyuhyun tak menghiraukan panggilan Changmin. Pandangan nya masih terfokus pada Donghae yang tengah berjalan di tengah keramaian sana.
Hyung… Apa kau benar-benar membenci ku? Sungguh kau tidak ingin melihatku lagi? Andwae hyung—Andwae! Kau tidak boleh membenci ku…
"Min, aku pergi dulu. Kau main sendiri saja"
Tanpa pikir panjang, Kyuhyun segera berlari kencang menerobos lalu lalang orang untuk mengejar Donghae. Ia menulikan pendengaran nya dari semua panggilan dan pekikan dari Changmin. Hanya satu yang harus ia tuju sekarang—Donghae hyung.
Kyuhyun menyeka kasar sudut matanya yang sudah berair.
"Hae hyung… tunggu!"
Kyuhyun terus berlari, tak mempedulikan orang-orang yang kesal pada nya saat di tabrak atapun di senggol oleh bocah itu. Matanya bergerak gelisah mencari sosok Donghae.
Hyung, eodiga? Ku mohon maafkan aku. Kau tidak boleh membenci ku dan mengganggap mu seperti orang asing seperti tadi.
Nafas Kyuhyun mulai terengah namun sepasang kaki nya terus membawanya berlari. Akhirnya ia mendesah lega saat sosok yang di cari nya kembali terlihat.
Punggung itu… Ia harus mendapatkan sosok itu…
Kyuhyun mengulurkan tangan nya hendak menggapai Donghae yang masih berjalan santai tak menyadari jika sang dongsaeng tengah mengejar nya sedaritadi.
Sreett~
Donghae tersentak saat seseorang menarik lengan nya. Otomatis ia berhenti dan berbalik untuk menatap orang yang menariknya. Ia membelalakan matanya kaget menyadari Kyuhyun sudah memegang tangan nya. Nafas tersengal dengan wajah memerah karena lelah di tambah matanya yang berair membuat hati Donghae berdesir melihatnya. Ia memperhatikan Kyuhyun yang masih berusaha mengontrol nafasnya. Namun sedetik kemudian ia menepis tangan Kyuhyun sehingga lengan nya bebas dari genggaman tangan Kyuhyun.
"Hyung, tunggu… Aku ingin bicara"
Kyuhyun menghalangi jalan Donghae saat hyung nya sudah berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya.
"Minggir!" titah Donghae dengan nada pelan. Ia berdecak saat Kyuhyun menggeleng dan masih saja menghalangi jalan nya.
Donghae yang sedang malas berdebat pun memegang kedua bahu Kyuhyun membuat adiknya itu diam. Ia segera menggeser tubuh Kyuhyun dari jalan nya kemudian kembali melangkah meninggalkan bocah itu.
"Hyung jebal, jangan seperti ini…"
Kyuhyun mengikuti Donghae dari belakang sambil terus memohon dengan isakan
"Hae hyung… hiks—kau boleh tak menganggap ku sebagai dongsaeng mu lagi tapi jebal… Jangan benci Kyu, jangan menganggapku seperti orang asing seperti ini"
Kyuhyun terus berucap di tengah isakan nya, air mata sudah membasahi kedua pipi nya, kakinya terus mengikuti langkah sang hyung. Orang-orang sekitar mereka menatap keduanya sambil menggelengkan kepala—menurut mereka pemandangan itu hanya seperti seorang adik yang merengek meminta sesuatu namun kakaknya tidak menurutinya.
"Mianhae mianhae mianhae hyung… Kyu tidak bermaksud menghancurkan rencana mu. Aku tidak bermaksud membuat mu kecewa dan sedih. Hanya saja, Kyu tidak ingin kau… A-aku… Aku tidak ingin kau… Mianhae—Jeongmal Mianhae"
Lidah Kyuhyun terasa kelu mengatakan kebenaran nya. Ia bingung dan takut… Hingga akhirnya kebenaran itu kembali tak terucap dari bibirnya dan hanya sebuah kata maaf yang di rapalkan berulang kali.
"Hae hyuuungg… hiks"
Kyuhyun terus menatap punggung Donghae dengan tatapan penuh harap agar kakaknya berhenti. Ia ingin Donghae berhenti dan berbalik menatapnya.
"Mianhae kalau Kyu selalu membuat hyung kesal dan marah… Mianhae~" bibir Kyuhyun bergetar. Kakinya sudah terasa lelah untuk berjalan lagi. Entah sudah sejauh apa ia terus mengikuti langkah Donghae.
"8 tahun lalu… Kyu juga tidak tahu apa pun hyung. Kyu tidak berniat menghancurkan impian mu. Kyu tidak tahu apa-apa"
Kyuhyun mulai menghentikan langkahnya. Ia sudah lelah…
Isakan semakin keluar karena Donghae masih saja berjalan dan sosok hyung nya itu mulai menjauh. Setiap langkah Donghae, ia perhatikan dengan seksama.
"Kalau Kyu tahu akan seperti ini… Kalau Kyu bisa memutar waktu, Kyu akan memohon pada Tuhan agar Kyu tidak ada saja"
TAP
Donghae reflek menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan terakhir Kyuhyun. Jangan kira ia tak mendengar seluruh racauan dan isakan dari dongsaeng nya itu. Ia mendengarkan dengan seksama walau terdengar samar karena keramaian di sekitar mereka.
Tanpa berbalik badan, Donghae terdiam di tempat sambil mengepalkan kedua tangan nya. Jika Kyuhyun bisa melihat, raut wajah Donghae menjadi mengeras, bercampur antara kesal dan terkejut.
"Kalau Kyu tidak ada… Kalian pasti tidak akan terpisah. Hae hyung bisa mendapatkan keluarga yang hyung impikan. Seharusnya memang Kyu tidak perlu ada di sini. Mianhae hyung—hiks—mianhae…"
Donghae menelan ludahnya dengan sulit, keringat dingin langsung keluar dari permukaan kulitnya. Tak pernah ia memikirkan hal bodoh seperti yang di katakan oleh Kyuhyun. Walaupun selama ini ia masih menyalahkan keberadaan sang adik tapi tak pernah ia berpikiran jika Kyuhyun menghilang.
"Kyu mohon maafkan Kyu… Jangan membenci Kyu"
Ego…
Satu kata itu masih menguasai sosok seorang Donghae. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas. Perlahan namun pasti, Donghae melanjutkan langkahnya kembali. Ia berjalan cepat menuju halte bus dan segera masuk ke dalam bus yang baru saja datang meninggalkan Kyuhyun yang masih terisak memandang kepergian nya.
Kyuhyun berjongkok karena kaki nya sudah terasa sangat lemas. Ia menundukan kepalanya dan membiarkan buliran air mata membasahi kaos nya. Tubuhnya bergetar, ia menepuk-nepuk dada nya yang sangat sesak. Ia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Fishy hyung nya sudah pergi tanpa sepatah kata pun dan itu membuatnya sangat sedih. Tanpa mempedulikan tatapan bingung juga iba dari orang-orang, Kyuhyun terus menangis mengeluarkan semua rasa sesak yang masih menghimpit dadanya.
.
Dengan langkah gontai, bocah 8 tahun itu berjalan menyusuri pertokoan menuju jalan pulang. Ia tertunduk memperhatikan kerikil yang sejak tadi ia tendang untuk menemani langkahnya.
Langit sudah memerah menandakan hari sudah sore. Ia tak ingat berapa jam ia berjongkok sambil menangis sendirian. Matanya sudah sembab dan wajahnya sudah lengket karena air mata bercampur keringat.
Sesekali ia menyenggol orang lain yang berjalan di sekitarnya. Tidak seperti tadi, sekarang Kyuhyun selalu membungkukan badan nya meminta maaf saat mengganggu jalan orang lain.
Lelah…
Ia ingin segera sampai di rumah dan langsung tertidur di kasur empuk nya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, terasa begitu pedih saat terkena angin sore yang berhembus dengan sejuk. Pikiran nya kosong dan ia merasa seperti di ombang ambing di tengah lautan.
Kyuhyun hendak berbelok di pertigaan namun langkah terhenti. Ia terdiam sejenak sebelum menoleh ke arah supermarket yang cukup besar di ujung jalan. Tidak sengaja ia seperti melihat sosok seseorang.
Ia mengedarkan pandangan ke bagian depan supermarket yang di penuhi orang dengan belanjaan nya. Dan sedetik kemudian ia memincingkan matanya dan terfokus pada seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Eomma?"
Kyuhyun mengusap matanya dan kembali memincingkan pandangan nya kepada yeoja yang tengah menjinjing dua kantung belanjaan dan berdiri di depan supermarket. Yeoja itu mirip sosok sang eomma yang sangat di rindukan nya.
Mana mungkin eomma nya berada di sini? Bukan kah eomma nya ada di luar negri sekarang ini?
Ia terus memperhatikan yeoja itu dengan intens. Sekarang yeoja itu tengah berbincang singkat dengan seseorang di sebelahnya. Kyuhyun membulatkan matanya saat melihat senyuman khas yang sangat di kenalnya.
Itu senyuman eomma nya! Tidak mungkin ia salah mengenali saat melihat senyuman yang ia klaim tidak ada yang menyamai. Senyuman lembut yang menenangkan. Itu eomma nya? Ya! Tidak mungkin salah, itu eomma!
Sebuah mobil sedan hitam mulai mendekati yeoja yang di kira Kyuhyun sebagai eomma nya. Tak menunggu waktu lama, yeoja itu segera masuk ke dalam mobil.
"Eomma… Eomma! Eommmaaaa~!"
Kyuhyun berlari mengejar mobil yang sudah melaju. Keramaian di depan nya membuat langkah Kyuhyun terganggu hingga akhirnya mobil itu sudah berjalan jauh darinya. Ia terdiam di tempat memandang mobil hitam yang sudah melaju kencang di tengah jalan sana.
Jujur ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mungkin ia hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan sosok itu? Tapi—
"Eomma…"
.
.
.
OOOoooßCMB oooOOO
Dingin…
Hal itu yang di rasakan Donghae saat ini. Angin malam yang berhembus cukup kencang di tambah kaki nya yang terendam di dalam air. Entah sudah berapa lama ia terduduk di pinggir kolam renang yang ada di bagian samping rumah halmeoni nya. Ia hanya terdiam sambil memainkan air dengan kakinya.
Ia menaikan kakinya ke atas dan menekuk lututnya saat rasa dingin semakin di rasakan. Tangannya mulai berpangku di atas lutut dan ia mulai meletakan dagunya di atas pangkuan tangan itu. Donghae menatap pantualan dirinya di dalam air.
Kacau dan berantakan…
Itulah penampilan dirinya yang tergambar dalam air. Rambut yang acak-acakan, wajah yang di tekuk dan begitu masam, tak ada pancaran ceria apalagi senyuman manis. Selama beberapa saat ia terdiam dalam posisi nya.
Pikiran nya melayang-layang membuatnya seperti orang linglung. Perasaan nya bercampur aduk menjadi satu. Sedih, kecewa, marah, kesal dan bersalah.
Tadi sore ia di kejutkan dengan pertemuan tak sengaja nya dengan adik kecilnya. Bocah yang membuat perasaan nya menjadi kacau sejak kemarin. Entahlah, ia sudah bingung harus mengatakan apa lagi sekarang. Perasaan marah dan kesal sudah ia lepaskan kemarin dan ia tak ingin membahas bahkan mengingat kejadian itu lagi. Jangan ikut menyalahkan nya dengan apa yang ia lakukan kemarin. Semua berkata dia tak adil tapi pernahkah mereka merasakan apa yang di rasakan dan di alami nya? Itu adalah unek-unek yang selama ini ia pendam dalam hati. Emosi dan ego menyelimuti nya kemarin sehingga secara sadar tak sadar ia bisa mengatakan semua ucapan menyakitkan itu.
Tapi kemarin sudah berlalu. Ia sedikit bersyukur. Perasaan beratnya karena memendam emosi selama puluhan tahun sudah terlepas. Ada sedikit perasaan lega yang menyelimutinya. Biarlah orang-orang tahu bagaimana perasaan nya yang sebenarnya.
Namun…
Perasaan bersalah dan tidak enak mulai menyelimuti hatinya.
Tangisan itu…
Wajah memelas itu…
Pancaran kesedihan dan terluka dari manic coklat indah itu…
Donghae menghela nafas panjang. Ia menundukan wajahnya dan memejamkan matanya. Wajah Kyuhyun terus menari-nari dalam pikiran nya. Sungguh ia merasa seperti orang gila. Dimana pun ia berada, sosok itu selalu mengganggu pikiran nya. Isakan tangis nya pun selalu terngiang dalam pendengaran.
Donghae tidak mengerti pada dirinya sendiri. Ia bingung ada apa dengan nya. Ia ingin memaki dan mengumpat pada dirinya sendiri setiap saat.
Bukankah dia kesal pada bocah itu? Apa ia merasa bersalah telah berucap tajam seperti kemarin?
"Arrgghhh~"
Donghae berteriak kesal sambil mengacak rambutnya yang sudah kusut. Ia menggembungkan pipinya. Ia mengusap kelopak matanya yang sudah berembun. Kaki nya kembali di ceburkan ke dalam air dan menyipakan air itu kasar seakan menyalurkan rasa kesalnya sendiri. Tak peduli dengan celana nya yang sudah basah.
Setelah puas, ia pun berhenti. Ia kembali memperhatikan pantulan dirinya. Bayangan dirinya dalam air ikut pudar dalam riak air yang di buatnya.
"Jung Soo hyung…" gumam Donghae pelan dengan nada bergetar.
Belum habis keterjutan Donghae sore tadi, saat ia sampai di rumah Ia kembali di kagetkan dengan sosok hyung kesayangan nya itu sudah menunggu nya dalam rumah halmeoni.
Jung Soo masih saja tersenyum begitu lembut dan memeluknya dengan hangat. Meminta maaf atas apa yang ia lakukan kemarin pada dirinya. Tapi…
Apa yang ia lakukan?
Ia justru memalingkan wajahnya dan menyuruh hyung nya itu pulang begitu saja. Alasan tidak ingin bertemu dan berbicara sesaat dengan hyung nya itu di lontarkan pada Jung Soo. Kekecewaan besar terlihat dari pancaran mata Jung Soo, Donghae bisa melihatnya dengan jelas. Sekali lagi ia tidak tahu apa yang tengah di lakukan nya!
Dia tak pernah berlaku seperti ini pada Jung Soo. Ia selalu luluh pada tatapan lembut sang hyung tapi sekarang…? Kenapa ia begitu keras kepala dan bersikap seperti ini?
"Mianhae hyung…"
Donghae menjambak rambutnya lagi. Ia kesal pada dirinya sendiri. Ia bersalah pada Jung Soo. Hyung nya pasti sedih, pusing dan kecewa pada nya. Dan tak bisa di pungkiri jika ia sangat merindukan sosok Jung Soo yang selalu menemani nya.
Sreett~
Donghae tersentak saat sebuah jaket terselampir di bahunya. Ia segera menoleh. Sosok dongsaeng nya sudah berdiri di belakang nya dengan senyuman tipis.
"Bummie?"
Kibum beralih ikut duduk di sebelah Donghae. Ia hanya memeluk kakinya sendiri, tak ingin merendam kaki dalam air seperti yang di lakukan sang hyung.
Donghae hanya diam memperhatikan wajah dongsaeng nya dengan seksama. Kibum pun hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Akhirnya keheningan pun terjadi. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan.
Setelah beberapa saat terdiam, Kibum melirik ke arah hyung nya yang tengah menundukan kepala memperhatikan pantulan dirinya sendiri di dalam air. Ia menghela nafas nya. Sebenarnya sudah sejak tadi ia memperhatikan Donghae duduk sendiri di sini. Semua gerak gerik Donghae di perhatikan dengan seksama hingga akhirnya ia jengah dan memutuskan untuk menghampiri sang hyung.
"Eoh?"
Donghae melirik dengan ekor matanya saat Kibum menyandarkan kepalanya di bahu kanan hyung nya itu. Donghae tidak protes, hanya terdiam dan kembali pada kesibukan awalnya.
"Kenapa Hae hyung jadi seperti ini?" Kibum mulai membuka suaranya. Donghae hanya terdiam mencerna maksud dari ucapan adik nya sekaligus memberi waktu pada Kibum untuk melanjutkan ucapan nya.
"Hae hyung… Sudah lama kau tidak memanggilku BumBum lagi"
Donghae memperhatikan pantulan sosok Kibum di dalam air. Ia tersenyum kecil saat Kibum mengingatkan nya pada panggilan khusus yang ia berikan saat Kibum kecil.
"BumBum…" gumam Donghae sambil tersenyum geli.
"Apa kau ingat hyung? Dulu kau pernah di marahi halmeoni dan Shim umma saat kau menuntunku ke kolam ini. Kau mengajak ku bermain air di sekitar kolam. Aku baru bisa berjalan dan dengan santai nya kau membawa ku ke tempat bahaya ini. Aku bisa saja terpeleset dan tercebur dalam kolam waktu itu"
Kibum tertawa pelan mengingat kenangan masa kecil nya begitu pula dengan Donghae.
"Aku memegangi mu dengan erat" balas Donghae menanggapi ucapan Kibum.
"Ne. Tapi kau tetap mendapat omelan dari mereka…"
"Dan Jung Soo hyung membantu ku lolos dari hukuman yang di berikan halmeoni. Ia memohon pada halmeoni agar aku tidak di hukum lagi hingga akhirnya dia juga kena marah"
Donghae tak bisa menahan tawa nya lagi. Ia tertawa mengingat ekspresi hyung nya yang meringis saat dirinya justru di marahi lebih banyak di bandingkan Donghae. Sedangkan Donghae justru sudah berlari memeluk dan bermain dengan Kibum lagi.
Kibum tersenyum senang melihat Donghae sudah tertawa lagi. Ia mulai mengambil tangan kanan Donghae dan menggenggamnya.
"BumBum, kau ingat saat kau terjatuh di tangga?" Donghae mulai memutar kenangan nya kembali.
"Heum… Dan itu karena Jung Soo hyung juga kau"
"Hahaha kau menangis sangat keras. Kami sudah mengingatkanmu jangan turun dulu karena kami baru saja membersihkan lantai itu dari es krim ku yang tumpah. Tapi kau tak mau mendengarkan padahal lantai nya sangat licin"
"Kalian menertawakan ku…" Kibum memejamkan matanya menikmati semilir angin malam yang memainkan surai rambutnya.
"Tapi kami sangat khawatir saat melihat kepala mu berdarah. Dan kau mendiamkan kami setelah kejadian itu hingga seminggu lebih—haha"
Donghae menghela nafasnya. Ia mengelus tangan Kibum yang menggenggam nya. Jika di ingat, walau tinggal terpisah… Dia memiliki cukup banyak kenangan yang di lewati bersama Kibum terutama saat weekend. Jangan di tanya kenangan nya dengan Jung Soo, itu lebih banyak lagi pastinya.
Keduanya terdiam dan larut dalam pikiran nya masing-masing. Senyuman geli masih bisa terlihat di wajah Donghae, sepertinya anak itu masih saja memutar memori masa kecilnya.
"Kyuhyun…"
Donghae tersentak saat Kibum menggumamkan nama itu. Kibum menegakan posisi duduknya dan menatap hyung nya yang sudah menatapnya dengan alis bertaut. Kibum tersenyum kecil.
"Kyuhyun tak mempunyai kenangan masa lalu dengan kita semua… Kita baru membuat kenangan bersama nya saat dia berumur 4 tahun"
Raut Donghae mulai berubah, senyuman itu pudar. Ia memalingkan wajahnya dari Kibum dan menatap lurus ke depan.
"Tapi dia memiliki kenangan bersama appa dan eomma. Dia selalu bersama mereka" balas Donghae pelan.
"Apa kau masih ingat yang di ceritakan eomma pada kita? Selama 2 tahun lebih kondisi Kyu masih lemah. Dia lebih sering mengunjungi rumah sakit daripada tempat bermain. Tak ada teman sepantaran yang menemani keseharian nya di rumah" Kibum pun menerawang jauh ke depan.
"Kyu tidak punya kenangan bermain menyenangkan seperti yang kita alami bersama, hyung. Dia sendirian di sana walaupun ada appa dan eomma yang menemani nya setiap saat. Tapi bukan kah rasanya akan terasa berbeda jika bermain bersama anak sepantaran nya?"
Donghae menundukan kepalanya. Ia mulai memainkan air kolam dengan kaki nya lagi menciptakan riak air yang pelan.
"Aku rasa semua nya sudah berakhir hyung. Tidak perlu mengingat semua kesedihan di masa lalu lagi. Hanya ingat semua kenangan indah yang kita lalui bersama. Selalu ada hal baik dan buruk dari setiap tindakan. Tuhan itu adil…"
"Bummie…"
Kibum menoleh ke arah Donghae dengan senyuman nya. Ia kembali meraih kedua tangan hyung nya dan menggenggamnya dengan erat. Rasa hangat langsung menyelimuti tubuh Donghae.
"Ini yang selalu kau lakukan padaku saat aku kedinginan dulu…" Donghae hanya tersenyum kecil mendengar penuturan dari adiknya itu.
"Dulu aku juga marah pada appa dan eomma juga pada Kyuhyunnie. Bahkan kadang aku iri dengan mu dan Jung Soo hyung. Setidaknya kalian masih memiliki kenangan kecil bersama appa dan eomma sedangkan aku…" Donghae menatap Kibum nanar sedangkan yang di tatap hanya menerawang lurus ke depan dengan senyuman kecil di wajah stoic nya.
"Tapi mengingat semua yang sudah kita lalui, aku mulai bersyukur. Sekarang aku jadi punya 2 appa dan 2 eomma haha. Dan setidaknya kita masih bisa bermain bersama dulu tidak seperti Kyu. Dia juga selalu sendirian di sana, hyung. Aku yakin dia juga kesepian"
Donghae memperhatikan Kibum dengan seksama.
"Semua nya sama. Pasti banyak kejadian tak menyenangkan yang dia lalui saat kecil bahkan hingga sekarang. Kita pun begitu. Dia hanya ingin bermain dengan kita, hyung. Dia ingin kita tersenyum lembut pada nya dan mengakui keberadaan nya" Kibum menghela nafas sebelum melanjutkan ucapan nya lagi. Ia senang karena Donghae mau mendengarkan nya.
"Bukankah keluarga impian mu sudah terwujud sejak 4 tahun yang lalu hyung? Kita sudah berkumpul bersama lagi. Appa, eomma, Jung Soo hyung, kau, aku dan Kyuhyunnie"
Donghae sedikit terkesiap dengan apa yang Kibum katakan. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Aku juga sudah salah. Aku baru menyadari nya seminggu yang lalu. Sebenarnya apa yang kita cari? Bukan kah semua yang kita inginkan sudah terwujud sekarang?"
Donghae memejamkan matanya sejenak. Kibum pun terdiam masih memperhatikan wajah hyung nya. Ia mulai tidak enak melihat ekspresi yang di tunjukan kakak nya. Ia merasa seperti menasihati hyung nya itu—Ah! tidak dia hanya ingin mengingatkan dan mengutarakan apa yang pernah ia rasakan.
"Mianhae hyung, aku—"
"Aniyo, kau benar Bummie"
Kibum tersenyum lega mendengar Donghae memotong ucapan nya. Donghae mengusap wajahnya kasar.
"Aku yang salah. Aku mempersulit keadaan yang sebenarnya sudah baik. Aku benar-benar jahat"
"Siapa bilang? Kau tidak jahat hyung. Kau adalah hyung ku yang baik dan rela melakukan apa pun agar membuat ku senyum"
Donghae tersenyum getir mendengar penuturan Kibum. Beban nya memang sudah sedikit terangkat namun pikiran nya masih melayang-layang tak tentu arah.
"Aku tahu bagaimana rasa kesal dan kekecewaan mu karena tak bisa mengikuti kompetisi. Aku sendiri masih menebak-nebak kenapa Kyu bisa melakukan hal itu, tapi aku yakin dia punya alasan khusus yang seperti nya tidak ingin kita mengetahui nya" ujar Kibum lagi.
"Semua yang kau ucapkan kemarin bukan perasaan mu yang sebenarnya. Kau hanya terbawa emosi sehingga mengeluarkan semua perasaan yang kau pendam selama ini. Aku benar kan, hyung?" analisis Kibum sambil menatap Donghae yang masih tersenyum getir. Donghae menjulurkan tangan nya dan mengacak rambut Kibum pelan sebagai jawaban dari pertanyaan retoris dongsaeng nya itu.
"Ayo kita pulang, hyung~" ajak Kibum dengan nada penuh harapan. Donghae menoleh dan menatap Kibum dengan intens. Raut memelas dan memohon terlihat di wajah Kibum. Donghae mengalihkan tatapan nya kembali pada air di kolam.
"Berikan aku waktu, Bummie. Aku akan pulang setelah appa dan eomma pulang. Aku ingin menenangkan diriku dulu di sini"
Kibum menghela nafas pasrah. Ia menatap sendu Donghae yang masih memperhatikan air kolam seakan ada sesuatu yang menarik di dalam air itu. Ini sudah usaha nya untuk membujuk Donghae pulang dan tetap saja gagal. Hyung nya hanya mau pulang setelah appa dan eomma pulang itu berarti sekitar seminggu lagi.
"Aku mengerti…"
Melihat raut sedih dan frustasi di wajah Donghae membuat Kibum tidak tega. Ia tidak ingin memaksa lagi. Kibum memeluk Donghae dari samping dengan erat dan sedikit manja seakan memberitahu bahwa dirinya masih berada di samping Donghae dan tak akan meninggalkan hyung nya itu.
.
.
.
Jung Soo mematikan keran air wastafel setelah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan peralatan makan malam. Ia mengusap tangan nya yang basah pada sebuah celemek yang tergantung di dekat wastafel.
Setelah yakin keadaan dapur dan meja makan bersih, ia melangkahkan kaki nya keluar. Ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan di rumah hanya ingin mencari seorang sosok yang tinggal bersama nya saat ini.
Ruangan tengah, ruang santai dan teras belakang kosong. Tak ada adiknya di tempat-tempat itu. Jung Soo melangkah menuju kamar Kyuhyun. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Namun kerutan bingung muncul di wajahnya saat ia tak menemukan sosok Kyuhyun dalam kamarnya. Kemana dongsaeng nya itu?
"Kyuhyun!" Teriakan keras itu menggema di seluruh ruangan berharap adik nya bisa mendengar namun sosok Kyuhyun tetap tak muncul.
Jung Soo kembali berkeliling rumah. Mencari di setiap ruangan dari lantai 1 hingga lantai 2. Kepanikan mulai menyelusup dalam hatinya. Beberapa menit ia mencari tapi tak kunjung sosok adiknya di temukan. Dimana Kyuhyun sebenarnya? Ia membuka setiap pintu dan mengecek setiap ruangan. Ia menarik nafas panjang mencoba untuk tenang.
"Kyu…" panggil Jung Soo entah sudah berapa kali semakin keras. Kaki nya terus melangkah menyusuri rumahnya sendiri.
Tatapan Jung Soo terfokus pada sebuah pintu yang belum ia cek. Sudah lama ia tak masuk ke dalam ruangan di lantai 1 ini—kamar kedua orang tuanya.
Cklek
Perlahan Jung Soo membuka kamar itu. Lampu kamar yang menyala membuat ia bisa melihat seluruh sudut dalam ruangan tersebut. Ia mendesah lega saat melihat Kyuhyun ada di sana. Bocah 8 tahun itu tengah duduk bersandar di bed king size appa dan eomma nya.
Termenung sambil memeluk bantal yang biasa di gunakan sang eomma.
Tatapan sendu kembali di berikan Jung Soo pada adik kecilnya itu. Harapan nya melihat senyum ceria Kyuhyun tadi sore pupus sudah saat adiknya itu pulang dengan wajah yang menurutnya justru semakin kacau. Mata sembab, langkah gontai dan wajah murung. Ia tak tahu apa yang terjadi karena Kyuhyun enggan bercerita pada nya.
Ia merutuk dirinya sendiri saat tak menyadari ponselnya berdering beberapa kali mendapat panggilan dari Changmin. Sepupu kecil nya itu ingin mengabari Kyuhyun yang tiba-tiba lari dan meninggalkan nya di game center. Tadi sore ia memang memutuskan untuk menyempatkan waktu mengunjungi rumah halmeoni nya demi bertemu dengan kedua dongsaeng nya. Ia juga ingin berbicara pada Donghae walau pada akhirnya ia harus rela pulang karena Donghae tak ingin bertemu dengan nya. Ia tak bisa memikirkan apa pun hingga saat pulang ke rumah mendapati keadaan Kyuhyun yang seperti sekarang.
Jung Soo melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar kedua orang tua nya. Ia segera mendekati Kyuhyun dan ikut duduk di ranjang orang tuanya.
"Kyu…" panggil Jung Soo pelan agar tidak mengagetkan.
Kyuhyun mendongakan wajahnya dan menatap Jung Soo dengan pancaran sedih di matanya. Jung Soo tersenyum lembut dan semakin duduk mendekat kearah Kyuhyun.
"Gwenchanayo?" tanya Jung Soo sambil mengelus pucuk kepala dongsaeng nya. Kyuhyun hanya mengangguk sekali.
"Apa yang mengganjal mu? Bisa kau ceritakan pada hyung, Kyunnie?"
Kyuhyun memperhatikan setiap lekuk wajah hyung nya dengan seksama. Ia mulai mendekat pada Jung Soo dan memeluknya. Entah kenapa kehangatan dari pelukan Jung Soo selalu bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang, karena itu lah sejak kemarin ia selalu ingin mendekap hyung nya itu. Jung Soo seperti nya sudah paham hanya terdiam sambil mengelus rambut Kyuhyun lembut.
"Eomma… Kyu merindukan eomma" jujur Kyuhyun dengan nada pelan dan penuh kesedihan. Jung Soo tersenyum mendengar adiknya sudah mau bercerita.
"Sabar nde? Seminggu lagi appa dan eomma akan pulang"
"Apa hyung tidak bisa menelepon eomma? Kyu ingin bicara dengan eomma…"
Jung Soo menundukan kepalanya untuk menatap Kyuhyun. Tak bisa di pungkiri ia juga merindukan kedua orang tuanya dan wajah sendu Kyuhyun semakin membuat nya sedih. Ia bisa merasakan kerinduan besar bocah itu pada sosok eomma mereka.
Setelah berpikir, Jung Soo mulai mengambil ponsel yang ada di dalam saku celana nya. Ia mencari ke dalam kontak nama dan segera mencoba menghubungi nomor appa ataupun eomma nya. Kyuhyun menatap Jung Soo penuh harap. Namun harapan itu pupus sudah saat Jung Soo menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
"Kyunnie…"
Jung Soo menangkup kedua pipi Kyuhyun sehingga manic coklat itu melakukan kontak langsung dengan matanya. Ia tersenyum manis.
"Hyung tahu bagaimana perasaan Kyunnie. Kita semua merindukan appa dan eomma. Kyu sabar nde? Seminggu lagi eomma pasti pulang. Hanya sebentar lagi" Kyuhyun tersenyum tipis mendengar penjelasan dari Jung Soo. Ia mengangguk paham.
"Aku… Tadi sore aku melihat ahjumma yang mirip sekali dengan eomma. Kyu jadi merindukan eomma"
"Lalu?"
"Mollayo, saat Kyu ingin menemui ahjumma itu… dia sudah pergi"
Akhirnya Jung Soo mendapat satu alasan dongsaeng nya terlihat kacau tadi sore. Dia merindukan eomma mereka, ya itu pantas. Jung Soo justru merasa salut pada Kyuhyun, walaupun bocah itu tak pernah jauh dari kedua orang tua nya tapi Kyuhyun mampu bertahan hingga hampir 3 minggu ini di tambah dengan berbagai masalah yang terjadi.
"Ini yang membuat mu menangis tadi sore?"
Kyuhyun mengerjapkan matanya polos mendengar pertanyaan sang hyung. Ia segera menggelengkan kepalanya sebagi jawaban membuat Jung Soo mengernyit bingung. Kalau bukan ini berarti apa?
"Bagaimana hyung tahu kalau Kyu menangis?" Pertanyaan polos Kyuhyun membuat Jung Soo tersenyum geli. Ia mengulurkan tangan nya lalu menunjuk ke mata Kyuhyun yang sontak menutup. Dengan lembut Jung Soo menepuk kedua kelopak mata yang tertutup itu.
"Bagaimana tidak tahu kalau dua mata ini terlihat begitu menyedihkan? Berair, merah dan sembab heum?"
Kyuhyun membuka matanya kembali lalu tersenyum canggung "Mianhae hyung".
"Lalu apa yang membuat mu menangis? Ceritakan pada hyung, Kyu"
Kyuhyun tak segera menjawab pertanyaan Jung Soo. Ia justru menundukan kepalanya sembari meremas kedua tangan nya sendiri. Jung soo hanya menatap dongsaeng nya heran.
"Menurut hyung… Apakah akan lebih baik jika aku tidak pernah ada? Jika aku tidak ada di keluarga ini pasti semua masalah ini tidak akan terjadi"
Jung Soo membulatkan matanya kaget dengan gumaman Kyuhyun yang cukup pelan namun masih bisa di dengar dengan jelas.
"Kalian pasti sudah hidup bahagia kalau Kyu tidak ada sejak dulu. Kyu—"
"Cukup! Kenapa Kyu berbicara begitu?"
Kyuhyun semakin menundukan kepalanya mendengar pertanyaan Jung Soo dengan nada serius itu. Ia mengatupkan bibirnya rapat. Jung Soo menghela nafas lalu mengulurkan tangan nya menyentuh dagu Kyuhyun membawa wajah itu kembali tegak. Ia menatap Kyuhyun dengan tatapan lembut lalu menggelengkan kepalanya.
"Jangan pernah Kyu berbicara seperti itu lagi, arrachi? Hyung tidak senang mendengarnya. Siapa yang bilang jika kau tidak ada semua akan menjadi lebih baik? Apa Kyu tahu…"
Kyuhyun menatap Jung Soo serius menanti hyung nya melanjutkan kata-katanya lagi.
"Selama ini Kyu yang selalu membuat rumah ini menjadi berwarna dan menyenangkan. Kau yang membuat kecerian di tengah keluarga ini. Tidak ada kau berarti tidak akan ada kecerian dan warna lagi di rumah ini" Jung Soo tersenyum melihat ekspresi Kyuhyun yang terkesiap dengan ucapan nya.
"Jangan pernah berkata begitu lagi. Kyuhyun sangat berarti bagi kami dan kami sangat menyayangi mu. Kami akan sangat sedih kalau Kyu tidak ada, arrachi?"
"Tapi… dia membenci ku"
Jung Soo menaikan alisnya sebelah mendengar gumaman Kyuhyun di tengah ucapan nya. Ia menatap Kyuhyun dengan tanda tanya.
"Hae hyung… membenci ku" Kyuhyun melanjutkan ucapan nya saat di tatap bingung oleh Jung Soo.
Jung Soo tersenyum, ternyata adik kecil nya masih memikirkan semua ucapan Donghae kemarin—pikirnya.
"Dengarkan hyung… Donghae tidak pernah membenci Kyuhyun. Kemarin Hae hanya emosi jadi dia mengatakan kata-kata seperti itu. Bukankah hyung dan Kibumie sudah mengatakan agar Kyunnie melupakan semuanya?"
"Aniyo. Hae hyung membenci ku. Buktinya, tadi sore dia tidak menganggap ku. Dia pergi begitu saja, menghindari dan tidak ingin melihat ku lagi"
"Kyu bertemu Hae-ah?"
Kyuhyun reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merutuk dirinya yang kelewatan berbicara padahal ia sudah bertekad tidak memberitahu hal ini pada Jung Soo. Tatapan menuntut penjelasan dari hyung nya membuat Kyuhyun risih.
"Kyu…"
"Heum… Tadi tidak sengaja kami bertemu. Hae hyung melewati ku begitu saja tanpa melihat ke arahku. Kyu berlari mengejar Hae hyung tapi dia tak mau berhenti dan mendengarkan semua ucapan kyunnie" cerita Kyuhyun akhirnya karena tak mampu menyembunyikan hal itu lagi pada Jung Soo.
Jung Soo menghela nafas panjang. Jadi ini alasan Kyuhyun menangis tadi sore hingga matanya sembab begitu dan ini juga alasan Donghae yang murung saat pulang.
Jung Soo menarik Kyuhyun ke dalam dekapan nya. Ia mengelus punggung Kyuhyun pelan. Kyuhyun pun hanya diam menikmati setiap kehangatan yang di rasakan nya.
"Donghae hanya memerlukan waktu untuk menghilangkan kekesalan nya, Kyu. Dia tidak pernah membenci Kyunnie, percayalah pada hyung" ungkap Jung Soo lagi. Ia tersenyum saat Kyuhyun mulai menganggukan kepala dalam pelukan nya setelah terdiam tak merespon.
"Apa sekarang hyung boleh tahu kenapa Kyunnie melakukan itu? Kenapa Kyu membuat pengunduran palsu dari kompetisi dance itu?"
"Kyu… K-kyu tidak ingin Hae hyung terluka"
Jung Soo merenggangkan pelukan nya dan menundukan kepala nya untuk menatap Kyuhyun. Ia terheran dengan jawaban dari adiknya itu.
"Terluka?"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya berulang kali mendengar pertanyaan dari Jung Soo. Ia masih enggan menceritakan semua nya lebih dari ini. Jung Soo pun menghela nafas pasrah. Ia tak mungkin memaksa Kyuhyun.
"Gwenchana. Kalau Kyu melakukan itu karena tak ingin Hae terluka berarti hyung akan mendukung mu apapun alasan nya"
Kyuhyun sontak melepaskan pelukan Jung Soo lalu menatap hyung nya tidak percaya.
"Jeongmal?"
Jung Soo terkikik geli melihat wajah polos Kyuhyun yang terlihat terkejut. Ia langsung mengangguk pasti. Kyuhyun mulai menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lega. Jung Soo mengacak rambut Kyuhyun gemas.
"Gomawo hyung~" Kyuhyun kembali memeluk Jung Soo dengan senyuman lebar. Setidaknya ada satu perasaan bersalahnya yang hilang dan berganti dengan perasaan lega. Ada Jung Soo yang akan membela nya.
"Kka hyung senang melihat Kyu tersenyum seperti ini. Mau kah Kyu berjanji pada hyung?"
Kyuhyun memiringkan kepalanya bingung menanti Jung Soo menjelaskan lebih pada nya.
"Janji?"
"Heum! Kyunnie harus selalu tersenyum seperti ini. Hyung merasa lega dan sangat senang melihatnya. Apa kau mau?"
Kyuhyun mengerjapkan matanya sesaat. Tatapan penuh harap Jung Soo membuat nya mulai mengangguk menyanggupi permintaan sang hyung. Jung Soo menunjukan angelic smile nya.
Apa pun akan ku lakukan untuk mu, hyung. Senyuman mu juga selalu Kyu harapkan. Mianhae sudah membuat senyuman lembut itu menghilang sejak kemarin.
"Ah! Satu lagi… Ceritakan pada hyung semua yang mengganjal perasaan mu. Kyu bisa bercerita apa pun dan hyung akan mendengarkan nya"
Jung Soo menaikan alisnya sebelah saat melihat Kyuhyun menggembungkan pipinya sehingga terlihat lebih imut.
"Hyung~ kau banyak sekali meminta hari ini. Jung Soo hyung curang! Kyu saja tidak meminta apa pun" cetus Kyuhyun dengan nada di buat kesal, sontak membuat Jung Soo tertawa. Ia menggelengkan kepala tidak menyangka dengan apa yang di utarakan Kyuhyun sekarang.
"Hahaha—Kyunnie, ish kau ini… Baiklah~ bagaimana jika kau juga ajukan permintaan mu pada hyung jadi kita adil"
Kyuhyun mengelus dagunya dan memasang pose berpikir keras—memikirkan kesepakatan yang di tawarkan sang hyung. Ia menyengir lebar lalu mengangguk setuju.
"Kka apa permintaanmu?"
"Pertama… Belikan Kyu es krim dan kaset game terbaru!"
"Heum… baiklah~"
"Kedua—"
"Mwo? Itu sudah dua permintaan Kyu!"
Kyuhyun terkikik geli melihat ekspresi protes sang hyung yang terlihat lucu. Ia menggelengkan kepalanya membuat Jung Soo menghela nafas pasrah.
"Kedua… Jung Soo hyung harus selalu menemani Kyu. Jung Soo hyung tidak boleh pergi dan selalu bersama Kyunnie!"
Jung Soo terkesiap dengan permintaan maknae nya itu. Ia tersenyum lembut lalu mengelus pipi chubby Kyuhyun.
"Yaksok!"
Kyuhyun memekik senang sambil mengangkat tangan nya keatas membuat Jung Soo tertawa. Dengan gemas Jung Soo mencubit pipi Kyuhyun pelan tak peduli dongsaeng nya yang meraung minta di lepaskan. Ia segera membaringkan tubuh Kyuhyun di ranjang sebelum Kyuhyun melontarkan protesnya lalu menarik selimut tebal untuk menyelimuti dirinya dan Kyuhyun.
"Kita tidur di sini, hyung?" tanya Kyuhyun sambil menatap langit-langit kamar.
"Ne. Besok tidak ada alasan untuk bolos lagi, kau harus masuk sekolah"
Kyuhyun mempoutkan bibirnya mendengar titah sang hyung. Matanya terpejam reflek saat Jung Soo mengecup keningnya.
"Adik kecil ku akan kembali ceria lagi besok. Tertawa dan melompat lagi seperti biasa, melupakan semua yang sudah terjadi hari ini dan kemarin" Jung Soo bergumam pelan melantunkan sebuah harapan beserta doa. Kyuhyun hanya tersenyum lalu merubah posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap ea rah hyung nya.
"Kyu sudah berjanji pada hyung kan? Jung Soo hyung tenang saja" Jung Soo mengangguk paham.
"Kita tidur sekarang. Jaljayo Kyunnie"
"Jaljayo hyung~"
Keduanya mulai memejamkan matanya untuk segera berlabuh di dunia mimpi. Dengkuran halus mulai terdengar setelah beberapa saat memecah keheningan yang telah melingkupi ruangan tersebut.
Kyuhyun membuka matanya kembali. Ia tersenyum memandang wajah tenang Jung Soo yang sudah terlelap. Ada raut lelah namun senyuman terukir di wajah tampan hyung nya menyimpulkan perasaan lega yang mulai di rasakan Jung Soo.
Kyuhyun merubah posisinya kembali terlentang, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Sedikit merenung memikirkan beberapa hal namun senyuman mulai bisa terukir di wajahnya. Ia sudah berjanji pada Jung Soo untuk terus ceria, tidak menunjukan kesedihan nya lagi.
Tangan kanan nya terjulur keatas seakan ingin menggapai langit-langit itu.
"Bum hyung… Fishy hyung… Cepatlah pulang. Kyu akan menunggu kalian di sini dan akan menyambut kepulangan kalian dengan senyuman. Maafkan kesalahan Kyu, Hae hyung. Kyu janji tidak akan membuat mu kecewa lagi. Appa… Eomma… Kalian juga harus segera pulang. Kami merindukan kalian~ Kita harus tinggal bersama dan memulai semua nya dari awal"
.
.
.
-To be Continued-
.
.
Aahh~ akhirnya apdet juga hehe
Sebenarnya ini chap dadakan, awalnya lye udah bikin langsung ke chap dimana Kyu langsung ceria dan lompat beberapa hari dari kejadian kemarin tapi rasanya aneh jadi bikin chap nyelip (?) ini deh xD
Kenapa Kyu gak sakit aja pas begini? Heeuuummmm… /di kick readers/
Belum puas bikin Kyu galau jadi di sini dia masih galoo~~ kkkk (Kyu : perasaan di fic ini gue emang selalu galau deh =.=")
Sepertinya bcmb akan berakhir dalam 3 atau 4 chap lagi, entahlah~ haha
Terimkasih untuk semua readers yang masih menunggu lanjutan dari bcmb dan setia mengikuti~ Tenang saja lye baca semua review kalian kok tapi mian gak bisa balas satu-satu ^^v
Thanks for all readers, riviewers, followers, favorite dan support nya..
See ya next chap~
LyELF
.
Special Thanks to :
Aninkyuelf, Kim Rae Sun, Jmhyewon, Aulia, hikmajantapan, lianpangestu, kyuqie, ay, gyu1315, IrumaAckleschia, ChoYeonRin, yolyol, Blackyuline, 92line, mimi, MissBabyKyu, diniKyu, Aisah92, cupcake, Deluc33, cho-i-chahyun, cece, ratnasparkyu, bella, AngeLeeteuk, Anonymouss, KyuLate, Kadera, Riekyumidwife, chocojjee, aohime no rinha, tiaraputri16, lee jasmine, kkyu32, AyuClouds69, , TikaClouds2124, sfsclouds, arumfishy, , ndah951231, OnyKyu, heeeHyun, Arum Junnie, Kyuminhae, Dew'yellow, qyukey, sparkyu amore, KyuChul, Bryan Andrew Cho, bryan ryeohyun, SelliHae, Gyurievil, Dealovi, KyuELF15, Kyurielf and all Guest
Ada yang belum di absen? Haha mianhae kadang mata lye eror ^^v
