Romeo n' Romeo

Pairing : SasuNaru..

Genre : Romance / Angst

Rate : T

Warning : (Still) Abal, Shou-Ai, Gaje, OOC, AU, Don't Like Don't Read.

Disclaimer :

Naruto kini di tangan Sasuke Uchiha

Romeo n' Juliet, telah dipatenkan milik bung Will sampai chapter terakhir cerita ini.

Romeo n' Romeo. Karena ditulis ganteng mengundang kontroversi, bagaimana kalau orang keren saja? XD


Gelap.

Dingin.

Dimana aku?

Apakah ini akhir duniaku?

Jika ya, aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, karena aku memilih jalan yang bodoh untuk mengakhiri hidupku yang menyebalkan. Maafkan aku Kaa-san, maafkan aku Aniki, maafkan aku Tou-san, dan maafkan aku, Naruto..

..aku tak bisa menjagamu.


ROMEO N' ROMEO

By : Deena Kazuki Aiko Tsukishiro

Chapter 9 : In The End


SASUKE'S POV

.

Aku merasa tubuhku ditarik ke permukaan. Siapa yang menolongku? Apa ini hanya ilusi? Karena aku merasa tubuhku mati. Aku ingin melihat wajah penolongku, namun mata ini tak mau terbuka.

"Dapat satu lagi,"

Suara wanita. Serak-serak basah. Apa maksudnya 'satu lagi'? Apa Dobe telah ditemukan? Mungkin ia adalah salah seorang tim SAR yang dipanggil Tou-san, atau mungkin saja ia adalah nenek sihir penunggu hutan yang pernah diceritakan Hidan—teman aniki—padaku atau jangan-jangan ia malaikat maut yang membawa pergi roh orang-orang yang baru saja mati?

Kami-sama, kumohon padamu, beritahu aku, apa ini saatnya aku menghadap-Mu?

.

Bau ikan bakar dan ramuan aneh mengusik indera penciumanku dan membawaku kembali ke alam nyata. Baguslah, aku tidak jadi mati. Tapi, dimana aku?

"Kau sudah sadar?" tegur sebuah suara. Ya, suara wanita yang beberapa waktu lalu kudengar saat aku dalam keadaan tak sadar.

Kupalingkan wajahku dan kulihat sosok pemilik suara itu. Seorang wanita yang sudah cukup berumur, namun terlihat sangat sehat, berdada besar, berambut pirang, dan memiliki tanda segi empat di dahinya. Wajahnya menatap panci yang merebus sebuah ramuan berrbau aneh yang membuatku sadar.

"Hn." Aku hanya menjawab singkat sambil memandang ke sekeliling.

"Kau mencari temanmu? Dia ada di dalam," tegurnya lagi.

Aku hanya mengangguk cepat dan berlari ke dalam rumah.

Rumah itu tak begitu luas, namun banyak terdapat kamar, sehingga aku harus mencarinya satu persatu, sementara tak kupungkiri, kondisiku masih sangat lemah. Sejauh ini, sudah 5 kamar kubuka dan tak kutemukan sosok Dobe disana.

Kumohon. Tetaplah hidup, Naruto.

~~xxxOoOoOxxx~~~

.

BRAK.

Akhirnya, pintu ke sembilan berhasil kudobrak dan kutemukan sosok Dobe yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Dadanya yang mulus itu tertutup oleh dedaunan yang baunya aneh. Apa ini? Kenapa kondisi Naruto jadi begini?

"Jangan dibuang."

Aku terkesiap. Karena wanita itu—entah sejak kapan—berdiri di pintu kamar tempat Dobe berada.

"Hn, maksudnya?"

"Ia terluka parah. Dan dedaunan yang kau anggap aneh itu obatnya. Jika kau membuangnya, tak ada jaminan ia akan selamat," sahutnya sambil berlalu dari hadapanku.

Aku memandangnya dan Dobe bergantian. Jujur, saat ini aku ingin berada di samping kekasihku, namun aku ingin meminta penjelasan pada wanita yang namanya sendiri bahkan belum kuketahui. Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya aku mengejar wanita itu.

"Sumimasen—"

"Kau kutemukan 3 hari yang lalu di hulu sungai ini. Kau dan temanmu hampir kukira hanya dua onggok mayat jika aku tak melihat getar di bibir kalian yang kedinginan. Wajahmu penuh dengan luka gores. Sedangkan ia penuh dengan goresan di sekujur tubuhnya. Apa yang kalian lakukan pada malam sebelumnya? Jangan bilang kalian mau bertindak bodoh dengan bunuh diri bersama," potong wanita itu.

"Dimana kami sekarang?"

"Hohoho, mata hitam itu dan cara bicaramu yang tanpa basa-basi. Kau seperti keluarga Uchiha yang ku kenal. Kau dari klan Uchiha kan? Bagaimana kabar Madara?" tanyanya.

"Darimana kau tahu soal kakek Madara?"

"Oh, kau cucunya? Tentu saja aku ingat. Ia yang memisahkan aku dengan suamiku." Ia membuang pandangannya ke arah sebuah pohon tua.

Aku hanya diam dan mendengarkannya.

"Masuklah, sahabatmu membutuhkanmu di dalam sana!" serunya.

"Ng…" Sial! Aku belum tahu siapa namanya.

"Panggil saja aku Tsunade."

"Hn. Arigatou, Tsunade-san," sahutku mengangguk dan pergi ke tempat Dobe.

.


2 Hari setelahnya...

.

"Dasar Usoratonkachi." Hanya itu yang keluar dari mulutku saat Naruto membuka mata biru sapphire-nya.

"Ungh.. Itukah ucapan yang sepantasnya diucapkan pada orang yang baru sadar, Pantat ayam?" serunya lemah.

"Hn."

Syukurlah, kau baik-baik saja sekarang.

"Dimana kita sekarang?" tanyanya sembari memandang ke seluruh penjuru kamar.

"Tak tahu."

"Bagaimana kita sampai disini?"

"Sepertinya kita hanyut."

"Eh? Kau juga hanyut, Teme? Kok bisa?"

"Hn." Aku memilih jalan bodoh yang kau pilih.

"Cih. 'Hn' itu bukan jawaban, Teme!" Ia mulai protes seperti biasa.

"Jangan terlalu banyak pikiran, Dobe," sahutku menepuk kepalanya.

"Kau mengkhawatirkanku, Teme?"

"Dalam mimpimu. Aku cuma nggak mau otakmu tambah tak bisa digunakan untuk berpikir, Dobe."

Ia menepis tanganku.

"Menjauh kau, Teme!"

"Hn."

Aku beranjak pergi dari sisi ranjang Naruto. Berharap semoga ia memanggilku dan berharap ia mau menceritakan kenapa ia melompat ke sungai yang alirannya membawa kami ke tempat antah berantah ini. Sempat kuamati bahwa tempat ini adalah daerah terpencil yang terpisahkan dari dunia luar karena berada jauh di bawah tebing. 2 hari sejak kesadaranku, aku mengetahui bahwa tak ada lagi penghuni lain selain wanita tua misterius bernama Tsunade itu.

"Ne, Teme…"

Berhasil.

"Hn?"

"Kita dimana ? Aku merasa asing disini." Ia memandang ke sekeliling dan berusaha mengenali tempatnya berada sekarang.

"Kita ada di—"

"Rumahku. Syukurlah obatnya manjur. Apa kau sudah tak apa-apa, sekarang?" tegur Tsunade-san, yang seperti biasa selalu muncul tiba-tiba.

"Ah, arigatou ne, Obaa-san."

"Sama-sama. Kau tertidur cukup lama, 5 hari. Aku kira kau tak berhasil diselamatkan."

"Li-lima hari? Selama itu?" tanya Naruto dengan wajah polosnya.

"Ya, 2 hari lebih lama dariku," jawabku cepat, sebelum dipotong oleh wanita tua itu.

"Kau hanya pingsan selama 3 hari, Teme?"

"Hn."

"Kau mulai lagi."

Lagi-lagi Naruto mulai memanyunkan bibirnya. Dan baru kali ini, aku melihat wanita itu tersenyum dengan lepas.

.

"Kalian sangat akrab ya? Mengingatkanku pada zaman itu."

Zaman itu?

"A-nou, Obaa-san…" ucap Naruto tiba-tiba.

"Tsunade. Namaku Tsunade. Dan apa yang mau kau katakan, pemuda pirang?"

"Ng? Tidak jadi. Mungkin hanya perasaanku saja. Oh ya, sebelumnya, terima kasih telah menolong kami. Kami berhutang budi," sahut Naruto setengah membungkuk dan entah kenapa ia menyikutku pelan. "Hei, kau juga, Teme!"

Oh.

"Tidak. Terima kasih saja sudah cukup."

"Teme!"

"Hn?"

"Apa ayahmu tidak mengajarimu berterima kasih dengan benar, heh?"

"Hn."

"Cih. Apa sih masalahmu?" Naruto mulai seperti Ibu-Ibu yang menginterogasi anaknya.

"Bukan urusan—"

"Apa karena kau kujemur, Tuan Uchiha?" potong Tsunade-san dengan nadanya yang sedikit mengejek.

.

Tidak. Jangan katakan itu!

"Eh? Dijemur? Maksudnya?"

Seperti yang kuduga dari seorang pemuda seperti Naruto.

"Saat aku sadar, aku mendapatkan diriku terbaring di bawah sinar matahari yang terik."

.

5 menit…

.

10 menit…

.

"Hahahaha! Kupikir hanya aku yang berpikiran kalau kamu sekali-sekali harus dijemur biar nggak terlalu dingin, Teme!"

Sial!

"Maafkan aku, anak muda. Aku kira kau kekurangan cahaya matahari karena kulitmu pucat, ternyata, memang dari sananya ya…" Tsunade-san tertawa mengejekku.

Aku melihat mereka berdua tertawa, sementara aku hanya diam saja dan men-death glare mereka. Demi Tuhan, jika aku tak mencintai pemuda pirang yang bising ini, dan tidak berhutang budi pada wanita tua berdada besar ini, aku bersumpah akan mengirimkan mereka ke dasar bumi.

END OF SASUKE'S POV

.


NORMAL POV

Pemakaman di ujung desa terpencil, 14 hari sejak hilangnya Sasuke dan Naruto.

.

"Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu ya, sahabatku," ucap seorang pria pada sebuah makam bertuliskan Namikaze Minato di nisannya. "Kau tahu, aku sangat terkejut saat mendengar kau sudah gugur. Aku kira kita bisa bersama seperti dulu lagi. Membesarkan anak-anak kita dan bisa membanggakan mereka seperti saat kita sekolah dulu."

Pria itu tersenyum simpul dan mengambil tempat duduk di samping makam itu.

"Kau tahu, Minato, aku masih tak percaya kau sudah tiada. Karena aku melihat dirimu di setiap senyuman anak itu, di setiap tatapan matanya, dan di setiap tindakannya yang mencairkan kebekuan hati anak bungsuku. Dan, apa kau tahu, sahabatku, sejak permusuhan kita 20 tahun yang lalu..."

Ia mengambil napas panjang dan berat.

"... aku merindukanmu."

.

Angin dingin meniupkan daun-daun dari pohon kamboja yang tumbuh dengan subur di pemakaman tersebut. Sesosok pria berbaju serba hijau dengan rambut jamur dan alis yang tebal mendekati makam yang sedang kedatangan pengunjung itu.

"Wah, sepertinya ada tamu di hari yang dingin ini buat Minato."

Tamu yang dimaksud hanya berdiri dan membungkuk hormat.

"Salam kenal, aku Gai. Ayah dari Rock Lee. Apa kabar, sahabat Minato?" sapa pria berbaju hijau tersebut.

"Baik-baik saja, Gai-san," balas tamu—yang ternyata Fugaku—dengan senyuman yang tidak terlihat.

"Ada apa kau bersusah payah mendatangi Minato, Uchiha?" tanya pria bermasker yang yang berdirir di belakang pria berbaju hijau tadi.

Diam, itulah jawaban yang diberikan oleh Fugaku.

"Kau merindukannya?"

"Hn."

Oke, sekarang kita tahu darimana asal mula Sasuke berkata 'Hn' itu.

"Oh… Ini ya, yang namanya Fugaku?" seru Gai riuh, mencairkan suasana yang sempat membeku di siang yang dingin itu.

"Salam kenal." Fugaku hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sementara Kakashi hanya diam memandang keturunan Madara itu.

"Kau tahu, Minato banyak bercerita tentangmu. Tentang masa-masa kalian sekolah, tentang persahabatan kalian—"

"—dan juga permusuhan itu," potong Kakashi. Gai hanya bisa tertawa garing mendengar ucapan Kakashi yang tiba-tiba memotong pembicaraannya.

"Apa lagi yang dia katakan?" tanya Fugaku.

Sepertinya acara nostalgia ini akan berlangsung cukup lama, karena Gai dan Kakashi langsung mengambil tempat untuk duduk dan bercerita pada Fugaku. Entah kenapa, acara ziarah ini berubah menjadi reunian bapak-bapak.

.

"Entah sudah berapa tahun berlalu sejak kepergiannya, tapi aku tidak akan pernah lupa senyumnya saat bercerita tentang kelahiran anaknya, dan perjumpaannya dengan sahabat yang ia rindukan," sahut Gai memandang pohon Maple yang perlahan-lahan berguguran daunnya.

Fugaku memejamkan matanya. Pikirannya sedang mencari-cari memori tanggal 10 Oktober 15 tahun yang lalu.


.

FLASHBACK

Rumah Sakit Umum Konoha. 10 Oktober.

.

"Anakku laki-laki. Ya Tuhan, dia tampan sekali. Apa dia sama tampannya denganku?" cerocos seorang pemuda berambut kuning pada temannya di depan ruang bersalin. Ia masih tak bisa melepaskan wajahya dari kaca pengintip yang memperlihatkan seorang wanita berambut merah panjang yang tersenyum menyambut kelahiran anak pertama mereka.

"Semoga anakmu tidak senarsis dirimu," sahut teman pria pirang tadi.

"Kau tahu, Kakashi? Aku sangat tidak sepenuhnya bahagia meskipun anakku lahir dengan selamat. Masih ada ruang kosong disini. Andai saja dia ada disini, merayakan kebahagiaanku." Minato hanya menunjuk dadanya.

"Maksudmu, si Uchiha?" tanya Kakashi malas.

"Iya. Aku ingin dia disini dan merayakan kebahagiaanku bersama-sama."

"Tadi aku melihatnya..."

"Benarkah, dimana kau—"

Ucapan Minato terhenti tatkala mata birunya memandang seorang pria yang menggendong puteranya yang kira-kira berusia 3 tahun. Pria yang ia rindukan, kini berada di rumah sakit itu. Tepatnya, berada di hadapannya.

"Fugaku?"

"Hn? Kau?"

Minato menghampiri Fugaku dan anak pertamanya.

"Sedang apa kau disini?" tanya Minato.

"Hn. Bukan urusanmu, kan? Kau sendiri sedang apa?"

"Hahaha. Kau tidak berubah. Sudah 5 tahun ya? Aku sedang menunggu anak pertamaku selesai dimandikan. Setelah ini aku dan Kakashi akan merayakannya. Bagaimana kalau kau juga ikut bergabung?" ajak Minato ceria.

"Tidak. Aku tak ada waktu untuk hal tak penting itu. Lagipula aku tak mau membuat istriku menunggu. Sayonara…" pamit Fugaku sembari menggamit tangan anaknya. "Ayo, Itachi.. Mungkin imunisasi Sasuke telah selesai."

"Dasar. Kau masih sama saja seperti dulu, Fugaku," desis Minato pelan dan tersenyum.

"Hn." Fugaku yang sudah membelakangi Minato hanya bisa tersenyum simpul dan berlalu.

.

END OF FLASHBACK

.


"Ya. Aku juga sangat senang bertemu dengannya," bisik Fugaku pada angin yang membawa dedaunan Maple pergi dari pohonnya.

"Jangan bercanda. Kau bahkan menolak ajakannya untuk merayakan kehadiran anaknya. Dan ayahmu membuatnya terbunuh," tukas Kakashi.

"Cih. Kau tak mengerti. Aku bahkan tidak ada di Konoha waktu kejadian itu."

"Ck. Kau hanya beralasan!"

"Sudah, kalian berdua. Jika kalian terus begini, Minato nggak akan senang di alam sana," sahut Gai melerai perdebatan yang menurutnya nggak penting ini.

"Hn."

"Oh ya, Uchiha-san, apa ada kabar mengenai keberadaan Sasuke?" tanya Gai lagi.

Fugaku menggeleng. "Nihil. Orang-orangku mengatakan bahwa ujung sungai itu adalah air terjun yang cukup tinggi di Konoha. Tak ada yang bisa selamat setelah jatuh dari ketinggian air terjun itu."

Gai dan Kakashi hanya bisa terdiam mendengar ucapan Fugaku. "Mungkin ini adalah hukuman."

"Ya, mungkin," balas Kakashi.

"Baiklah. Aku permisi dulu. Sampai bertemu lagi." Fugaku segera beranjak dan pergi dari tempat itu. Membubarkan reunian bapak-bapak yang tercipta secara tiba-tiba.

.

Saat sosok Fugaku sudah menghilang dari hadapan mereka berdua, mereka hanya bisa menghela napas dan bergumam.

"Jelas sekali ia merasa kehilangan," sahut Gai.

"Ya. Aku sadari itu," balas Kakashi.

Rumah Tsunade-san.

.

"HUACHIM!" Naruto bersin lagi. Ini sudah kesepuluh kalinya ia bersin tanpa sebab sejak siang tadi.

"Ittai! Kau Jorok, Dobe!" seru Sasuke.

"Hee~ Teme.. Aku juga nggak ngerti kenapa aku bersin-bersin," tukas Naruto.

"Mungkin ada yang membicarakanmu," sahut Tsunade yang meletakkan dua buah selimut di samping Sasuke dan Naruto yang sedang duduk di beranda, menunggu matahari terbenam.

"Hn." Sasuke hanya mengangguk pada Tsunade yang sudah kembali ke dalam.

.

"Ne, Teme.. Kita sudah lama berada disini. Sebenarnya aku rindu rumah. Kapan kita bisa pulang?" tanya Naruto memandang awan yang berwarna keemasan.

"Usoratonkaschi. Kalau memang ada jalan keluar, dari dulu Tsunade-san akan hidup diluar tempat terpencil ini," tukas Sasuke yang sebenarnya nggak mau tidur berjauhan dengan Naruto.

"Sebenarnya memang ada, kok. Jalan keluar menuju dunia atas." Tsunade membawakan tiga gelas teh hijau dan bergabung bersama mereka.

"Hah! Kau sok tahu, Teme!" seru Naruto riuh.

"Lalu kenapa kau tidak keluar dan memulai hidup di peradaban atas?" tanya Sasuke agak ketus. Dengan semburat merah tipis di pipinya.

"Karena aku mau menghapus kesedihan atas gugurnya suamiku. Entah ada berapa orang yang mengingat suamiku dan jasa-jasanya membela Konoha." Tsunade memandang matahari yang mulai menghilang di ufuk barat.

"Anou, Obaa-san... Kalau aku boleh tahu, siapa nama suami Obaa-san?" tanya Naruto penasaran.

"Jiraiya. Hahaha, meskipun dia bertampang tidak terlalu tampan, tapi dia baik."

Sasuke dan Naruto bertatapan satu sama lain.

"Hm, kenapa?" Kini giliran Tsunade yang penasaran.

"Anou, Obaa-san, apa Jiraiya-sama memiliki tanda di hidungnya?" tanya Naruto.

"Benar. Darimana kau tahu?"

"Beliau masih hidup dan kini... menjadi kepala sekolah kami." Naruto berkata dengan mantap. Sukses membuat gelas minum Tsunade terlepas dari tangannya.

"Jiraiya masih hidup?" seru Tsunade setengah menangis.

"Hn."

"Aku.. ingin bertemu dengannya. Aku kira dia sudah tiada. Karena sejak peperangan itu, tak kudengar lagi kabarnya."

"Sama dengan Jiraiya-sama. Ia mengira kau sudah tiada. Karena ia sering sekali memandang fotomu di meja kerjanya sembari merenung. Begitu yang kulihat saat aku memeberikan surat kepindahanku." Naruto menjelaskannya.

"Ayo kita bersiap."

"Kita mau kemana?" tanya Naruto.

"Aku ingin pulang. Ke pelukan suamiku. Kumohon…"

Naruto mengangguk setuju. Sementara Sasuke memandang Naruto dengan tatapan tidak enak.

"Kau kenapa Teme?"

"Tak apa."

"Bener?"

"Hn."

"Yasudah. Dasar Teme aneh. Kau ikut pulang tidak? Kalau iya, ayo siap-siap."

"Hn."


SASUKE'S POV

.

Malam ini kami akan kembali ke rumah. Berkumpul bersama keluarga kami. Sejujurnya, aku sangat bahagia bisa kembali bersatu dengan mereka. Namun aku sedikit sedih karena harus tidur terpisah dengan Naruto. Mungkin aku akan merindukan dia.

.

"Ne, Teme. Kau melamun?"

"Tidak. Pegang tanganku, Dobe. Kecuali kau mau nyasar di tengah hutan yang gelap ini," sahutku menyodorkan tangan pada Naruto yang berjalan di belakangku.

Kami terus berjalan di belakang Tsunade-san yang lebih tau seluk beluk hutan ini daripada kami. Hanya sinar bulan yang terang, yang membantu kami melihat jalan. Um, jika diingat-ingat lagi, bukankah keadaan ini sama dengan saat kami menuju pesta Hanabi? Saat aku dan Naruto mengikat cinta kami dan menyatukan diri kami?

"Kita hampir sampai. Hanya tinggal beberapa meter lagi, kita sampai di daratan atas." Tsunade-san membuyarkan pikiranku.

"Hn."

.

.

Entah sudah berapa menit berlalu, kami baru sampai di ujung desa terpencil.

"Sepertinya aku harus mengantarmu duluan, Dobe."

"Tidak, Teme. Sebaiknya kita mengantarkan Baa-chan. Karena dia yang paling ingin bertemu orang yang dicintainya," tolak Naruto.

Ucapan polos yang keluar dari bibir mungil pemuda berkulit tan itu membuatku tersenyum. Naruto akan tetap menjadi Naruto. Selalu apa adanya.

"Ne, kau tersenyum Teme? Manis…"

"Sepertinya matamu perlu diperiksakan ke dokter mata, Dobe. Sejak kapan aku tersenyum?" tukasku.

"Lho? Apa aku salah lihat?"

"Hn."

Kami pun berjalan menuju rumah Jiraiya-san. Disana tampak seorang pria tua duduk di kursi goyang yang ada di beranda sembari memandang bintang-bintang.

"Kon-konbanwa.." sapa Tsunade-san gugup.

Seperti melihat hantu, Jiraiya-san berdiri dari duduknya. Rambut putihnya terhembus angin malam yang cukup dingin tatkala melihat sosok wanita yang ia rindukan berdiri di depannya.

"Tsu-Tsunade?" tanyanya terkejut. "Kau masih hidup?"

Tsunade-san tidak menjawab. Ia langsung berlari memeluk suaminya. Aku hanya bisa memandang Naruto dan bertanya, 'kira-kira, apa yang akan kami dapatkan jika pulang nanti.'

.

"Nah, Teme. Sekarang saatnya aku pulang."

"Hn."

Kami bergandengan menuju rumahnya. Aku sungguh takut ia dimarahi habis-habisan jika kami tiba di rumahnya nanti. Tanpa sadar, aku menggenggam tangannya lebih erat lagi.

"Teme? Kau tak apa?"

"Hn. Kalau kamu nyasar, bahaya."

Aku tak berbalik ke arahnya, namun aku bisa mendengar ia terkikik mendengar jawabanku. Pasti ia mentertawakan alasanku. Sudahlah, masih ada yang lebih kukhawatirkan daripada itu.

.

"Hn, Dobe… Kau sudah sampai. Istirahatkan badan dan otakmu. Biar nggak bodoh dan malas lagi," sahutku mengantarkan Naruto ke depan pagar rumahnya.

Perlahan, namun pasti, kulihat Naruto berjalan perlahan memasuki perkarangan setelah menutup pintu pagarnya. Karena penasaran, aku memanjat pohon untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Bersyukur pada Kami-sama, yang membukakan pintu adalah pria berambut coklat yang langsung memeluknya.

Syukurlah, Naruto. Aku bahagia melihat kau kembali diterima.

Sekarang, aku harus mempersiapkan diriku sendiri. Akankah aku akan menerima perlakuan yang sama denganmu, ataukah kemarahan Tou-san yang menjadi sambutan kepulanganku?


.

"Tu-Tuan muda Uchiha?" pekik seorang penjaga gerbang ketika melihat sosokku.

"Hn."

Dengan santai aku melangkah ke dalam gerbang. Kuhembuskan napas yang berat tatkala aku sampai di depan pintu rumah.

"Kaa-san? Aniki? T-Tou-san?" sapaku dari luar pintu yang disambut dengan suara gaduh dari dalam rumah.

Pintu terbuka dan muncullah sosok yang paling kurindukan. Kaa-san, yang menatapku dengan tatapan tak percaya.

"Sasuke? Kau pulang?" Kaa-san memelukiku sembari mengecek setiap jengkal tubuhku dan memastikan aku nggak kenapa-kenapa.

"Ternyata kau masih hidup, otouto. Banyak yang mendugamu sudah meninggal," sahut Aniki menghambur rambut ravenku.

"Baka Aniki! Jangan sentuh!" seruku setengah kesal.

Kaa-san dan Aniki tertawa. Mau tak mau, aku tertawa juga. Tapi aku lupa akan satu hal. Tou-san. Daritadi ia hanya memandangiku dengan wajahnya yang datar.

"Ta-tadaima, Tou-san," sapaku.

Tou-san hanya mengangguk dengan wajah datarnya, namun setelah itu ia hanya bergumam, "Okaeri, Sasuke.."

.

Demi Kami-sama, aku tak akan menukar hari ini dengan apapun juga. Aku mendapatkan sesuatu yang aku idam-idamkan dari kecil. Kebahagiaan. Tak ada kata lain yang dapat melukiskan perasaanku hari ini. Aku bahagia melihat Tsunade-san bersatu dengan suaminya, aku bahagia Dobe-ku baik-baik saja saat tiba di rumahnya, aku bahagia ceritaku tak berakhir seperti Romeo dan Juliet. Dan yang terpenting, sekarang aku berada di rumah.


..OWARI..

+author dilempari tomat gara-gara nulis owari padahal ceritanya belum selesai+


.

Aku sedang menonton televisi bersama Kaa-san, Tou-san dan Aniki di ruang keluarga tatkala handphone-ku berbunyi. Sebuah SMS dari Naruto singgah di hpku, membuatku segera membacanya.

.

From : Dobe Usoratonkachi

Teme, kau OL tak?

.

Aku segera membalasnya,

To : Dobe Usoratonkachi

Hn.

.

Dan kuaktifkan web browserku. Karena kalau dia sudah bertanya hal nggak penting kayak gitu, dia mengajakku chat.

.

Naru-chan : "Lagi apa, Teme?"

Sasuke : "Nonton tv."

Naru-chan : "Ada kabar untukmu."

Sasuke : "Apa?"

Naru-chan : "Mulai besok, aku akan kembali ke Konoha Elite High."

Aku tersenyum membacanya. Terima kasih, Kami-sama.

Sasuke : "Hn, lalu?"

Naru-chan : "Eh, Teme jelek. Apa-apaan reaksi itu? Gimana perasaanmu?"

Sasuke : "Biasa. Tak ada yang spesial."

Naru-chan : "Grrr… Dasar TemeJelekPantatAyamBiru."

Sasuke : "Hn, DobeUsoratonkachi."

Naru-chan : "Jangan panggil aku begitu, Teme!"

Sasuke : "Hn."

Naru-chan : "Aku Offline dulu. Jaa~"

Sasuke : "Hei, Dobe…"

Naru-chan : "Ya?"

Sasuke : "Serius cuma ngomong 'Jaa~'?"

Naru-chan : "Um..."

Sasuke : "Katakan saja."

Naru-chan : "Aishiteru, Teme."

Sasuke : "Hn. Aishiteru yo, Dobe."

-NARU-CHAN IS NOT ONLINE-

.

Kumatikan web browserku dan segera menuju kamar tidur.

"Aku mau turun pagi besok. Aku rindu sekolah. Aku tidur dulu ya. Nite all..." pamitku pada orang-orang yang masih asyik nonton tv.

Kaa-san hanya tersenyum mengikuti langkahku hingga tiba di lantai 2.

.

Ya, aku tak sabar menunggu besok. Karena mulai besok, chapter baru kehidupanku, akan dimulai.


..OWARI..


-OMAKE-

.

.

Minggu yang cerah. Kamar Naruto Uzumaki.

.

Sepasang kekasih duduk di tepi jendela sembari menikmati sejuknya angin musim gugur dan hangatnya mentari di siang yang dingin itu.

"Ne, Teme. Sejak 3 hari yang lalu kita masuk sekolah, ada nggak yang diucapkan ayahmu tentang aku?"

"Hn?"

"Jangan cuma 'hn'. Aku bertanya."

"Aku sedang berpikir, Dobe."

"Oh, bilang kek dari tadi," sahut Naruto menggembungkan pipinya.

"Dia mengundangmu makan malam."

"Eh? Benarkah? Tumben..."

"Dia mau mengenalmu lebih dekat." Sasuke menarik Naruto dalam pelukannya.

"Ee—h… Teme!" seru Naruto yang terkejut atas tindakan Sasuke.

"Hn? Wajahmu merah, Dobe. Kau sakit?" goda Sasuke menepuk pipi kekasihnya itu.

"Uh.. Jangan sentuh, Teme!"

"Hn." Kembali wajah stoic menghiasi pria berambut Raven itu.

.

Diam..

Sunyi..

Mereka kehabisan bahan pembicaraan.

.

"Hoi, kalian… Jangan melamun. Nanti jatuh!" seru Kakashi yang sedang memperbaiki pagar di halaman, tepat dibawah Sasuke dan Naruto duduk.

"Wakatta, Kakashi-san. Akan kujaga dia baik-baik," sahut Sasuke memeluk erat kekasihnya yang wajahnya semakin merona.

"Dasar anak muda jaman sekarang," gumam Kakashi sambil meneruskan aktifiatasnya.

.

"Teme! Teme! Lepas!"

"Kenapa, Dobe?"

"Nggak enak sama Kakashi-sensei, baka."

"Hn? Sepertinya dia setuju dengan hubungan kita."

"Tapi, teman-temanmu?" sinar keraguan terpancar dari wajah Naruto.

"Hn? Mereka sudah punya pacar masing-masing."

"Ah… Teme! Kenapa sih, kamu selalu buat aku speechless?"

"Entah."

"Sejujurnya, aku sangat bersyukur, kita bisa seperti ini, Teme."

"Hn. Aku juga."

.

Tanpa permisi, Sasuke memegang dagu kekasihnya dan mendekatkan bibir mereka.

"Te-Teme…"

Naruto hanya bisa memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.

.

PRAK.

.

Sebuah bunyi mengejutkan mereka. Membuat mereka membatalkan apa yang akan mereka lakukan.

"I-Iruka-sensei?" pekik Naruto kaget, ketika melihat 'Ibu'nya berjongkok di pintu kamar sembari memunguti makanan yang terjatuh dari nampan kayu yang ia bawa.

"Gomenne, Naruto. Tadinya aku ingin menawarkan makanan, kalau-kalau kalian lapar. Tapi, sepertinya aku malah mengganggu. Maaf, teruskan saja." Iruka buru-buru pamit dari hadapan mereka berdua.

Naruto dan Sasuke terdiam sesaat.

.

"Berhubung pengganggu sudah pergi, bisakah kita melanjutkannya?" tanya Sasuke.

"Eh?"

"Kau mau, Naruto?" Sasuke menjilat bibir mungil kekasihnya dengan lembut.

"Umh..." Naruto memejamkan matanya, "Terserah kau, Teme."

.

Tanpa di komando apapun lagi, putera kedua keluarga Uchiha tersebut menjajakkan lidahnya dalam rongga mulut Naruto. Bibir mereka saling beradu, bertaut, dan desah napas terdengar begitu jelas di telinga mereka.

"Mau dilanjutkan disana?" tanya Sasuke sambil melirik tempat tidur Naruto.

"Ogah, Teme!" tolak Naruto dengan tegas dan segera menjauhkan bahunya dari dada Sasuke.

"Bercanda."

Sasuke memeluk kekasihnya sekali lagi, kemudian mencium bibir mungil kekasihnya yang manis, dengan perasaan bahagia yang tak dapat dia lukiskan.

'Terima kasih, Kami-sama. Kau mengizinkan kami berbahagia.'


Nah. Kali ini bener-bener tamat, deh.


.

.

.

A/N :

Akhirnya selesai!

+Joget2 gaje+

Jadi bagaimana tanggapan kalian? D nggak bisa berkata banyak.

OOC? BASHING? TYPO? NGGAK SUKA? MASIH NGGAK NGERTI? NGGAK SESUAI KEINGINAN?

+dikeplak gara-gara nge-CAPS+

Silahkan tinggalkan REVIEW, FLAME, atau PERTANYAAN ke tombol di bawah ini (yang ada balon dialognya)


Oke, sekarang saatnya review reply :

Naruchiha

Hn. Makasih ya Dobe…

Asem? Nggak bakal. Kan Lemonnya CUMA dikit. Nggak akan kerasa asam

+sok iye. Digampar+

Jah.. Karena waktu itu Dee lagi BlankOut, jadi banyak bikin OOC termasuk ke Fugaku. Maav Om Fuga

+nyapuin bunga bangke+

Haku disuruh diam sama Kakashi. Kemaren dibeliin nasi bungkus

+miskin amat sogokannya nasi bungkus+

+disepak Kakashi ke Af-sel+

Hn. Oh ya, ini chap akhirnya.

See u~

+lemparin Sasori pake nasi bungkus+

.

.
Namikaze Lin_Chan

Hn? Ternyata kamu yang beraroma

+endus2 udara. Tutup idung+

+dijejelin Dagger+

Ih.. lemonnya Cuma dikit kok sayang

+kasih tisu sisa tadi malam+

+ditendang+

Salahkan tangan saya!

+dikeplak tangan sendiri (?)+

Iyya.. Ini chap endingnya. Happi end? Atau nggak?

O.o

+ambil bantal guling sandal. Tidur+

Makasih ya, sayang

XD

.

.

CCloveRuki

Jah, Bby sayang, kenapa tanya Nii-chan? Yang nyemplung kan mereka berdua.

+dirasechido+

Bby, ini ada jaring.. Ayo, selamatkan mereka

+kasih jaring nangkap kupu-kupu+

+ditendang ke sungai+

Nani?

Pendek ya? Gomenne~

Ini udah apdet. Masih pendek kah?

O.o

Makasih ya Bby sayang..

X3

.

.

Novi Luph SasuNaru

Bersyukurlah Novi sayang, jarang Lee ngajakin cewek kencan

+disepak Novi sampe gurun sahara+

Ung~ Ini Happy ending ga?

Ini chappie akhirnya..

+Naik onta di Gurun Sahara+

Arigatou..

.

.

Yufa Ichibi's

Someone told me that Love is a weird feeling. Can make u happy, and can make u sad.

+sok2 bule. Disepak.+

Kenapa nangis sayang? Mau saya peluk?

+pervert smile+

+ditampar+

Ittai! Arigatou buat reviewnya ya..

.

.

Uchiha Aichan Drarrya

Emang nekat! Rencananya mau bunuh diri pake racun

+digebukin SasuNaru+

Tapi takut ga bisa disembuhin.

+babk belur+

Ini sudah selamat, sehat walafiat, udah balik lagi ke rumahnya.

Jangan menangis sayang

XD

Arigatou ne~

.

.

Kyuuichi Azurin

Rin Rin Rin

+kayak bunyi bel sepeda+

+disambit+

Wkwkwkwk.

Tegang ya? +wink+

Setuju! Harusnya banyakin lemon terus tingkatin rate ke MA

+dikeplak bolak balik+

Ini udah update chap akhirnya.

Gimana? Gimana? Gimana?

+kedip kedip+

Arigatou, sayang

X3

.

.

Kuronekoru

Silahkan dilihat di chap selanjutnya

^^b

+disambit gara-gara sok+

.

.

Hn. Sama saja sih dengan D kalau gitu.

D juga suka chara-death

Tapi..

Tapi..

Tapi..

Ta—

+dibekep+

Banyak yang death glare-in saya kalau bikin death end.

Maybe next time.

Semoga tak kecewa

+puppy eyes+

:O3

.

.

Uchiha Nata-chan

Nata-chaaa~~n.

+mau peluk Nata-chan, malah kepeluk Itachi+

+disepak+

Review lagi dong.. Review dong.. Review dong.. Rev—

+dibekep+

Ya? Ya? Ya? Ya? Ya? Mau ya? Ya? Ya—

+disumpelin tokalev+

Ini udah happi end belum?

Semoga udah (?)

Yosh, arigatou

.

.

-'Twins Hentai'-

+masih cengo liat penname+

Aku gabung..

Jadiin Triple hentai!

+dibunuh+

Kidding kok.

.

Ehm, ehm, Sasu-Nii, sebenarnya endingnya mau seperti RomJul. Tapi banyak yang minta di Happi end-kan.

Jadi, mau tak mau, suka tak suka, aku ikutin Nara-nii!

+peluk2 Nara-nii+

+disepak Raa-nee+

Arigatou, Nii-kuns (?)

.

.

Himechii Satsuki

Buat chii, apa sih yang nggak?

+gombal+

Yaoian ZabuHaku?

+kepikiran nista+

Mungkin ga sekarang ya.. Yeah! Zabuza lolicon!

+disambit pedang+

Ada ayam mesum, kecemplung sungai, besok jadi ayam goring di meja makan

+ga nyambung gara2 lapar+

Nyah, jadi pengen AYAM!

+OOT. Disepak+

Iya, sayang, buat chii, happi end deh

+gombal lagi+

+dibunuh Bby+

Makasih ya, Chii.

+kisu2 pipi+

Haha,

Incest. XP

+kabur sebelum diamuk massa+

.

.

NhiaChayang

Thanks for review. Salam kenal juga.

D nerima anon kok

Yosh. Ini last chappienya

Semoga suka.


D special Thanks to :

Raika Carnelian

NAND225

Agunk Riz

Cute-Tamacchan

Light-Sapphire-Chan

Hiroyuki Naomi

Avy-kuro-Sabaku

TheLastAngel20

Airis Hanamori

Selena Noir

Himechii Satsuki

Uchiha Nata-chan

CCloverRuki

Lee EunHae

Naruchiha

Carosleth Costa

Uchimaki Ganeko Yamathezu

Uchiha Aichan Drarrya

Kiroikiru no Mikazuki Chizuka

Cinara Hatake

HaikuReSanovA

Chocorange

Fuuyuki27

Fusae 'LeeBumHyun' Deguchi

Sherry-me

Hatakari Hitaraku

Uchiha Shira-nii

Kuronekoru

NoviClyneBaruBisaRipiu / Novi Luph SasuNaru

Yufa Ichibi's

Shiina Rika

Kyuuichi Azurin

Satsume Ookamito

Namikaze Lin_Chan

-'Twins Hentai'-

NhiaChayang

.

Makasih yang udah bersusah payah review dan nemenin D ampe akhir.

Sampai jumpa di fic SasuNaru atau pair yang lain.

Arigatou, Minna

+dengerin Kahitna+