CHAPTER NINE: LAPSUS AND RUINOSUS
Ini bukan seperti yang Kai inginkan. Ia berharap ia memiliki waktu hanya berdua dengan Sehun tanpa diganggu Shixun sama sekali. Tapi bagaimana bisa ia menolak kalau senyum kecil itu terus terpatri di wajah cantik Sehun selama jalan-jalan mereka.
Mereka pergi menonton film lalu pergi ke sebuah tempat makan 24 jam yang sering di datangi Kai, Shixun, dan yang lainnya. Sebenarnya Kai ingin mengajak Sehun ke salah satu tempat spesialnya di Moskow, tapi ia pikir lebih baik nanti saja, ketika tak ada Shixun. Kai tak sabar untuk menantikan hari itu tiba. Mungkin sampai saat itu, ia bisa memutuskan bagaimana keputusan untuk hidupnya selanjutnya.
"Hyung, siapa yang kau gendong disini?" tanya Shixun menunjuk foto wallpaper ponsel Sehun yang sedang menggendong bayi berumur 2 atau 3 tahun.
"Oh, ini Rahee. Jongin-ah, lihat, ini keponakanmu," kata Sehun mengambil ponselnya dari Shixun dan memberikannya pada Kai.
Kai berusaha menyembunyikan seringaiannya melihat Shixun cemberut karena perhatian Sehun kini tertuju padanya. Kai menatap foto bayi perempuan di gendongan Sehun itu, beberapa bagian wajah bayi itu mirip dengannya misalnya hidung dan matanya yang juga mirip dengan Kakak perempuan Kai. Kai melirik Sehun yang menunjukkan foto itu tampak bangga dan senang, binar di matanya begitu hidup dan senyumnya sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Kai bisa tahu jelas Sehun cukup dekat dengan keponakannya ini.
"Berapa umurnya?" tanya Kai berdehem, kembali fokus pada foto Rahee lainnya yang Sehun tunjukkan dari galeri ponselnya.
"Tanggal 17 nanti umurnya 3 tahun," jawab Sehun tampak semakin senang mengingat itu.
"Hyung dekat dengan Rahee?" tanya Shixun mengangkat alis, tampak heran.
Sehun menengok pada adiknya itu dan mengangguk-angguk cepat. "Jungah-noona cukup sibuk, kadang Rahee dititipkan pada Krystal dan biasanya Krystal akan membawa Rahee ke kantorku sebelum kita pergi jalan-jalan," jawab Sehun menceritakan, tak lagi terdengar terlalu datar.
"Latihan sebelum anak Hyung lahir?" goda Shixun membuat Sehun menunduk malu dan pura-pura memperhatikan gelas cokelat panas dihadapannya.
Perut Kai terasa terpelintir mendengar itu. Shixun benar, Sehun sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Apakah Kai akan tega merebut Sehun dari Krystal? Membiarkan keponakannya tumbuh tanpa ayah? Jika dibilang secara jujur, Kai sama sekali tak keberatan jika hak asuh anak itu jatuh ke tangan Sehun. Ia akan mencintai anak Sehun seperti anaknya sendiri. Ia bersumpah.
Whoa, berhenti disitu, Kim Jongin! Imajinasimu terlalu jauh!
"Rahee… seperti apa dia? Apa dia nakal atau anak yang pendiam?" tanya Kai, cukup penasaran pada keponakannya itu.
"Rahee anak yang cukup tak terlalu mudah menerima orang asing, ia pasti akan menangis. Ia juga sangat aktif dan pintar, ia hanya diam jika sudah kelelahan," jawab Sehun tersenyum memberitahukan Kai. "Dia selalu menangis jika ada Suho-hyung dan selalu menempel pada Baekhyun-hyung, Kyungsoo, Yixing-hyung, dan Jongdae-hyung. Dan selalu menangis kalau Minseok-hyung mengabaikannya," kata Sehun lagi tak bisa menahan senyum gelinya.
"Oh, kalian semua cukup dekat dengan keponakan Kai," komentar Shixun cukup terkejut.
Ya, Kai juga tak menyangka itu. Ia berpikir takkan ada lagi yang kontak dengan keluarganya berhubung Kai telah meninggalkan korea. Meninggalkan keluarganya.
"Um— kami mencoba menjaga hubungan satu sama lain. Lagipula cukup banyak masalah yang sering kami lewati bersama sebagai penerus perusahaan keluarga. Jadi begitulah," jawab Sehun mengangkat bahunya.
"Bagaimana dengan— keluarga kita sendiri, Hyung?" tanya Shixun ragu-ragu, pelan.
Sehun menegang mendengar itu. Kai menyadari itu dan ia yakin Shixun juga menyadari itu. Setelah Kai ingat-ingat, tak satu katapun terdengar tentang keluarga Oh. Mereka memberitahu tentang keluarga Park, keluarga Kim, QiYing Grup, Huntak Grup, tapi tidak tentang keluarga Oh.
"Ayah dan Kakek baik, mereka sehat," kata Sehun datar, dingin. "Ibu dan Nenek— mereka sudah meninggal," lanjut Sehun pelan seperti bisikan penuh kedukaan.
Kai jelas terkejut mendengar itu. Ia menatap Shixun yang juga tampak sangat terkejut mendengarnya. Tampak sulit untuk mencerna kabar duka yang dibawa Sehun. Kai tak heran. Kai telah mengenal Sehun dan Shixun sejak mereka berumur 13 tahun, semua teman-teman mereka tahu jelas si kembar ini sangat menyayangi Ibu dan Nenek mereka. Keduanya tak dekat dengan ayah dan kakek mereka, tapi sangat dekat dengan ibu dan nenek mereka. Kabar ini jelas sangat membuat Shixun terpukul.
"A-a-apa? Ba-ba-bagai—"
"Itu terjadi 3 tahun lalu, kecelakaan maut katanya. Ibu dan Nenek baru pulang dari Bandara ke rumah setelah berlibur di Jeju, mobil mereka menabrak truk yang lewat. Keduanya tewas sebelum sempat sampai di rumah sakit," kata Sehun menceritakan, suaranya bergetar, tangannya bergetar, seakan ia berusaha untuk menahan kedukaan itu menguasai dirinya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?!" seru Shixun mengamuk, matanya tampak merah dan berair tapi tak ada air mata yang jatuh. "Apa kau akan memberitahuku jika tak kutanya?!" serunya.
"Shixun-ah— tenanglah—" Kai berusaha menenangkan Shixun, ia sangat takut jika rekannya yang brutal ini lepas kendali dan memukul Sehun.
"Diam kau!" seru Shixun.
"Aku ingin memberitahumu, hanya sedang menunggu waktu yang tepat," jawab Sehun.
Shixun mendengus mendengar itu. "Waktu yang tepat, huh?" ulangnya sarkastis. "Bilang saja kau sama seperti mereka, Sehun. Akui saja kau tak lagi menganggapku keluargamu makanya kau menyembunyikan ini dariku," kata Shixun tajam. "Munafik," decihnya sebelum pergi meninggalkan Sehun dan Kai.
Kai mengepalkan tangannya mendengar itu. Beraninya bajingan tengik itu menghina Sehun! Mengatai Sehun munafik! Dia yang sudah membuang Sehun dan malah membalikan fakta itu pada Sehun! Oh Shixun, bajingan! Apa dia tak sadar bahwa dia sendiri yang munafik?! Kai berdiri hendak mengejar Shixun dan menghajarnya habis-habisan. Mungkin itu bisa membuat Shixun membuka matanya dan minta maaf pada Sehun.
Sebuah cengkraman lembut di lengannya menghentikan Kai. Ia menatap tangan kurus dan putih yang memegangnya. Tangan Sehun. Sehun menyentuhnya. Sehun… menyentuhnya.
"Jangan, kumohon," bisik Sehun serak dengan wajah menunduk.
Kai kembali duduk dan saat itulah ia menyadari bahwa Sehun menangis. Air matanya mengalir di pipi putih yang memerah karena udara dingin. Tampak begitu cantik namun— entahlah, Kai sulit mengungkapkannya. Sehun yang menangis bagaikan lukisan jutaan dollar yang begitu indah namun membuat orang menyadari kesedihan di dalam karya itu.
"Dia keterlaluan, Sehun. Dia tak berhak menghinamu seperti itu," kata Kai tegas setelah bisa mengendalikan dirinya dari tenggelam dalam kecantikan Sehun.
"Shixun hanya marah, Jongin-ah," kata Sehun pelan mengusap air matanya.
"Ia bahkan tidak berhak untuk marah padamu," kata Kai tak setuju.
"Bukan kepadaku. Shixun marah kepada dirinya sendiri. Ia marah karena melewatkan pemakaman ibu dan nenek. Ia menyesali karena tak ada disana ketika mereka menghembuskan nafas terakhir mereka. Penyesalan itu begitu menyakitkan, Jongin-ah. Sangat menyakitkan."
Kai mendengar baik-baik omongan Sehun. Sehun bicara seakan ia tahu benar berada di posisi Shixun, dan sepertinya Kai bisa menebak makna dari ucapan Sehun itu. "Kau juga melewatkannya," kata Kai pelan, menyatakan. "Kau melewatkan pemakaman ibu dan nenekmu."
Air mata kembali mengalir di pipi Sehun dan isak tangis mulai tak tertahankan. Kai mengambil nafas dalam dan dengan perlahan, dengan lembut, membawa Sehun ke dalam pelukannya. Membiarkan Sehun menangis di dadanya. Nafas yang begitu berat dan putus-putus, suara yang tercekat, dan air mata Sehun yang membasahi pakaiannya membuat hati Kai teremas kencang dan membuatnya sesak. Ia tak ingin lagi Sehun menangis seperti ini. Ia tak ingin melihat orang yang dicintainya menangis seperti ini.
Aku takkan mengecewakanmu, Oh Sehun. Aku akan membahagiakanmu. Aku bersumpah.
e)(o
Shixun menatap langit-langit ruang hotel mewah mereka. Setelah kabar duka yang dibawa Sehun, Shixun tak tahu apa yang ia harus lakukan. Ia sangat marah pada dirinya sendiri begitu mendengar kabar itu. Ia marah karena ia sendiri yang pergi meninggalkan keluarga Oh, meninggalkan ibu dan nenek mereka. Ia marah karena ia tak menyangka kedua orang yang begitu penting baginya itu akan pergi secepat ini.
Shixun marah pada dirinya sendiri namun ia malah melimpahkannya pada Sehun.
Itu sangat tidak adil, Shixun tahu itu. Sehun lebih dekat dengan ibu dan nenek mereka daripada Shixun. Sehun selalu lebih emosional daripada Shixun. Sehun jelas juga sangat berduka dengan kepergian ibu dan nenek mereka. Tapi saat itu Shixun terlalu kecewa pada dirinya sendiri dan berujung menyakiti Sehun dengan perkataannya.
Shixun menghabiskan waktunya berlari keliling kota untuk menjernihkan pikirannya setelah itu, membawa rasa duka dan penyesalan yang membebani hatinya. Dan ketika ia merasa sudah sedikit baik, Shixun kembali ke hotel mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi saat itu. Kai sudah tidur di sofa itu artinya Sehun juga sudah kembali ke hotel. Shixun cukup bersyukur Kai ikut dengan mereka meski cukup mengganggu kencannya dengan Sehun, tapi setidaknya itu membuatnya tak meninggalkan Sehun sendirian dini hari di tengah-tengah kota Moskow.
Dan yang ia lakukan setelah kembali ke hotel hanya berbaring. Ya, ia hanya berbaring dengan beban duka dan penyesalannya. Kantuk tak kunjung mendatanginya dan rasa bersalah terus-terusan menghantamnya. Ia bahkan tak tahu lagi sudah berapa lama ia berbaring disana.
"Xun-ah."
Panggilan lembut itu membuyarkan lamunan Shixun. Ia menengok, mendapati Sehun berdiri di ruang remang itu. Ia hanya memakai kaos tipis lengan pendek yang melekat di badan rampingnya dan celana boxer pendek. Sial, Hyungnya tampak begitu cantik dan seksi hanya dengan pakaian sesimpel ini. Membuatnya bergairah hanya dengan menatapnya. Bahkan setelah bertahun-tahun menghilang dari hadapan Sehun, hasratnya yang amoral pada kakak kembarnya sendiri tak pernah mati.
Brengsek. Fokuslah! Berhenti berfantasi kotor tentang Sehun!
"Kau sudah bangun, Hyung," kata Shixun serak dan rendah, bangkit dari berbaringnya dan duduk di sofa itu.
"Aku tak tidur," aku Sehun pelan, duduk di sebelah Shixun, cukup dekat dengannya.
Shixun bisa merasakan kehangatan dari tubuh Sehun dari jarak sedekat ini, membuat Shixun membayangkan bagaimana jika tubuh mereka bersentuhan tanpa sehelai benangpun. Berbagi kehangatan sepenuhnya.
Sial. Ia bisa tegang jika terus-terusan seperti ini.
Peperangan di otak Shixun terhenti ketika Sehun memeluknya dan menyandarkan keningnya dibahu lebar Shixun. Shixun merasakan jantungnya bertalu keras karena pelukan Sehun, karena Sehun menyentuhnya. Memeluknya.
"Hyu-hyung?" tanya Shixun semakin serak.
"Aku memaafkanmu," kata Sehun pelan seperti bisikan lirih dan memeluk Shixun semakin erat. "Aku memaafkanmu, jadi jangan mengabaikanku lagi," lanjutnya seperti memohon.
Shixun menenggelamkan wajahnya di lengan kurus Sehun, air mata yang tak menetes sejak tadi kini tak lagi tertahankan. Duka dan penyesalan yang membebaninya sejak tadi perlahan-lahan terangkat memberinya kelegaan. Ia tidak minta maaf pada Sehun, tapi Sehun tetaplah Sehun. Sehun selalu mengenal Shixun jauh lebih baik dari siapapun. Baik dulu maupun sekarang. Sehun memaafkannya meski Shixun tak meminta maaf.
Kedua kembar itu hanya diam dalam pelukan masing-masing. Shixun mengubah posisi mereka sehingga keduanya berbaring bersama di sofa itu, tangannya memeluk pinggang ramping Sehun, merapatkan tubuh mereka, dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut. Keduanya hanya saling menatap dalam keheningan, wajah keduanya bersimbah air mata, dan mata mereka memancarkan kedukaan. Tapi baik Sehun maupun Shixun tahu bahwa mereka mendapat penghiburan dalam pelukan satu sama lain.
"Aku minta maaf, Hyung," bisik Shixun lirih.
Sehun menjawabnya dengan sebuah kecupan penuh sayang di pipi Shixun. "Aku mengerti perasaanmu, Xun-ah. Aku juga melewatkan pemakaman ibu dan nenek," kata Sehun lirih, menatap adiknya itu dengan kesedihan yang mendalam.
Shixun mengangkat tangannya dan mengusap lembut air mata yang mengalir kembali dari mata indah Hyungnya itu. "Kenapa?" tanyanya serak.
"Aku tidak berada di Korea saat itu. Setelah— setelah kau pergi—" Sehun menutup matanya dan mengambil nafas dalam. "Setelah kau pergi… aku kembali ke Inggris untuk meneruskan S3-ku disana juga mengurus Huntak Grup cabang Inggris. Ayah ataupun kakek tak mengabariku tentang kepergian ibu dan nenek karena tak ingin kinerjaku terganggu. Aku baru tahu ketika aku kembali ke Korea," aku Sehun lirih lalu menenggelamkan wajahnya di dada Shixun dan mulai terisak. "Mereka— mereka tak mengabariku— ka-karena aku— aku selalu emosional—. Mereka tak memperbolehkanku— berduka ka-karena a-ada— Huntak Grup yang— yang perlu kuurus," kata Sehun berusaha bicara ditengah isakannya.
Shixun memeluk tubuh kurus Hyungnya dengan erat dan memejamkan matanya. Rasa bencinya pada ayah dan kakeknya semakin bertambah dan bertambah. Beraninya. Beraninya dua bajingan gila harta itu memperlakukan Hyungnya seperti ini. Seperti mesin pencetak uang! Bahkan Sehun tak diperbolehkan berduka setelah kehilangan ibu dan nenek mereka!
Brengsek! Akan kubunuh mereka berdua! Aku bersumpah akan membunuh mereka!
Tentu Shixun takkan mengatakan itu pada Sehun. Sehun hatinya terlalu lembut dan pasti memaafkan kedua bajingan itu. Sehun selalu seperti itu baik dulu maupun sekarang. Terlalu mudah untuk memaafkan, memiliki hati bagaikan Malaikat. Itulah hal yang tak pernah berubah dari Sehun, tak pernah meski Sehun begitu dingin dan sarat akan emosi sekarang ini.
Pada akhirnya, Shixun hanya bisa membiarkan Hyungnya menangis di pelukannya sambil memeluknya erat. Bibirnya mengecupi kepala Sehun, menghirup aroma sampo kesukaan Sehun yang bahkan tak berubah meski 7 tahun berlalu. Ia membiarkan Hyungnya menangis hingga tertidur lelap dalam pelukannya.
Shixun menyadari bahwa ia merindukan semua ini. Ia merindukan bisa memeluk Sehun dalam tidurnya. Ia merindukan bisa melihat wajah Sehun ketika tertidur dengan jarak sedekat ini. Shixun mengamati mata yang terpejam, bulu mata lentik Sehun, pipi yang sedikit memerah dengan jejak air mata, hidung mancung, dan bibir pink tipis yang sedikit terbuka. Cantik. Begitu indah. Shixun takkan lelah hanya menatap wajah ini seumur hidupnya.
Ia mengusap pipi Sehun dengan lembut. Menciumi keningnya, pelipisnya, seluruh sisi wajahnya, pipinya, hidungnya, hingga berhenti tepat di depan bibir Sehun. Ia berusaha untuk menahan dirinya, ia berusaha untuk tidak mencium Sehun setelah sekian lama. Tapi ia terlalu merindukan Hyungnya, terlalu merindukan bibir itu. Dan ia tak bisa menghentikan tubuhnya sendiri.
Shixun mencium Sehun dengan lembut. Mencurahkan segala kerinduan dan cinta yang ia pendam selama bertahun-tahun ini. Ia menutup matanya, merasakan bibir Sehun yang lembut dan hangat, melumatnya pelan dan dalam. Menikmati waktu singkat yang ia miliki untuk mencicipi bibir itu. Ia melepaskan bibir Sehun dan menutupnya dengan satu kecupan ringan di bibir manis itu.
"Aku mencintaimu, Hyung," bisik Shixun dan kembali memeluk pinggang Sehun dengan erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Sehun.
Kali ini Shixun bisa tertidur bahkan dalam hitungan menit. Karena Sehun ada di pelukannya.
e)(o
Sehun mendengar suara-suara. Ia mengerutkan kening ketika suara-suara itu makin terdengar jelas. Suara beberapa orang sedang berbicara.
"…kurasa perlu dibangunkan, mereka perlu sarapan sebelum kita semua turun ke pertemuan."
Suho. Ya, itu suara Suho. Tapi kenapa Suho ada di kamarnya dan Krystal?
Sehun mengerang pelan begitu kesadarannya semakin terkumpul, ruangan itu tidak tertutup gorden sehingga cahaya matahari menembus masuk langsung mengenai wajahnya begitu ia mencoba bangun. Sehun berkedip merasakan beban diatas perutnya, ia baru menyadari itu lengan seseorang dan ia berada di sofa ruang tengah. Ia mengintip siapa yang dibalik selimut yang menutupi hingga kepalanya itu dan menemukan Shixun masih tertidur.
Shixun.
Oh, ya, benar, mereka bicara dan akhirnya tertidur di sofa. Beruntung Sehun meminum obatnya sebelum tidur sehingga ia tak bermimpi buruk, ia malah tak mimpi sama sekali. Tidurnya serasa begitu sekilas seperti hanya hitungan menit.
"Morning, Sunshine," sapa Krystal tak bisa menahan seringaian geli miliknya melihat wajah Sehun.
Sehun menggumamkan sapaan balasan, masih tampak mengantuk. Ia bahkan tak punya tenaga untuk mengurusi ledekan tanpa suara Krystal itu. Jelas saja Krystal akan meledeknya, ini adalah pertama kalinya dalam 5 tahun Sehun tidur dengan seseorang selain Krystal. Biasanya Sehun tidur sendiri jika tidak dengan Krystal, karena Sehun tak suka disentuh.
"Pagi, Bos, tidurmu tampak nyenyak meski sempit-sempitan begitu," sapa Baekhyun menggoda, memainkan alisnya. "Apa ini tandanya besok aku bisa tidur seranjang denganmu, Bos?"
Seulgi jelas menjadi orang yang tertawa paling keras mendengar itu, diikuti Chanyeol, Luhan, dan Tao. Kyungsoo, Suho, Kris, dan Irene hanya menggeleng tanpa bisa menahan senyumnya. Krystal bahkan tak menolongnya dan memilih menikmati susu stroberinya. Tampaknya hanya Kai yang tak berpikir lelucon itu lucu, pria itu justru menatap Sehun dengan intens membuat Sehun merinding.
"Ini masih pagi, Hyung, beri aku waktu istirahat," protes Sehun sedikit merengek, mengusap-usap matanya yang masih berat dan mengantuk.
"Oh, aku suka ini. Berarti nanti malam boleh?" tanya Baekhyun semakin menggoda menjadi-jadi.
"Ikut sertakan aku, tolong," kata Seulgi tertawa membuat yang lain tertawa.
"Aku akan menuntut kalian atas pelecehan seksual!" ancam Sehun yang malah membuat kedua bawahannya itu semakin tertawa terbahak-bahak. Serius, Sehun memerlukan bawahan yang lebih normal.
"Sudah, kalian berdua cepat habiskan sarapan kalian dan jangan ganggu Sehunnie," kata Kyungsoo menengahi yang dijawab 'Yes, Mom' oleh Baekhyun dan Seulgi sambil tertawa. "Sehunnie ingin sarapan dulu atau mandi dulu?"
"Aku ingin tidur dulu," gumam Sehun tak jelas dan kembali merebahkan tubuhnya disamping Shixun lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Yah, yah, kalian kembar Oh, kalian harus bangun sekarang," kata Suho begitu melihat Sehun kembali tidur.
"Mungkin kita biarkan saja mereka tidur? Apa Sehun benar-benar harus hadir pertemuan hari ini?" tanya Krystal.
"Harus. Atau nanti Jiejie sendiri yang akan menyeretnya dari sini," jawab Suho serius.
Kantuk Sehun langsung menghilang mendengar itu. Oh, bagaimana bisa ia lupa? Hari ini presentasi QiYing Grup! Victoria pasti akan menggantungnya terbalik jika ia tak datang. Sehun langsung bangun membayangkan wajah serang Jiejienya itu.
"Aku akan mandi dulu," kata Sehun mengumumkan dan mencoba turun dari sofa tanpa membangunkan Shixun.
"Shixun perlu dibangunkan?" tanya Kai.
Sehun menatap wajah adiknya yang tertidur pulas itu sebelum kembali menutupinya denga selimut. "Kurasa jangan, ia tidur subuh," jawab Sehun sebelum berjalan menuju kamarnya dan Krystal.
Sehun segera mandi air hangat merasakan otot-ototnya semakin melemas ketika air hangat itu menyentuh kulitnya. Ia tak bisa menahan senyumnya mengingat ia tidur berpelukan dengan Shixun. Perasaan hangat mulai timbul di hatinya. Tidak menyeluruh, tapi cukup untuk memberitahu bahwa kehangatan itu ada. Seperti memberitahu bahwa ada harapan bagi Sehun untuk kembali normal.
Ia tak merasa jijik ketika berpelukan dengan Shixun. Ia bahkan membiarkan Kai memeluknya. Aneh. Dua pelukan itu terasa begitu berbeda bagi Sehun. Terlebih sejak mimpi buruknya datang kembali, ia tak suka disentuh oleh siapapun kecuali Krystal. Tapi tadi malam— Sehun bahkan tak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya.
Pelukan Shixun terasa hangat dan nyaman. Pelukan Kai— Sehun sulit menggambarkannya. Saat Kai memeluknya Sehun terlalu terlarut dalam perasaan duka dan sedih, tapi sejujurnya ia masih belum terbiasa dengan pelukan Kai. Masih terasa begitu asing. Sehun bahkan tak tahu apakah ia menyukai ketika Kai memeluknya atau tidak. Segalanya terasa begitu asing dan Sehun perlu membiasakan diri—
—berhenti sampai disana, Oh Sehun! Apa ini artinya kau ingin Kai memelukmu lagi dan lagi dan lagi sampai kau terbiasa? Sampai kau kecanduan pelukannya? Lalu apa, huh? Kim Kai akan melanjutkan hidupnya sebagai Agen dan kau akan melanjutkan hidupmu sebagai CEO Huntak Grup! Kalian akan berpisah jalan dan takkan bertemu kembali!
Alarm di otak Sehun memperingatinya dengan keras, membuat Sehun tersadar dari angannya. Membuat Sehun tersadar bahwa ini hanya sementara. Terlalu singkat dan sementara.
Sehun menggeleng kuat, berusaha menjernihkan pikirannya. Ini hanya sementara. Ia kembali mengulangi itu dalam otaknya bagaikan mantra. Sehun menutup matanya dan menghela nafas. Mematikan shower-nya dan mengeringkan badannya.
Fokuslah Oh Sehun, kau disini untuk pekerjaan.
Yap. Ia harus fokus pada pekerjaannya dan tak mengacaukannya. Kebebasan Shixun dipertaruhkan di tangannya, Sehun sadar jelas itu. Itulah perjanjian diantara Sehun dengan ayahnya. Jika Sehun mengacaukan Huntak Grup, maka ayah mereka akan mencari Shixun dan memaksanya pulang. Memaksanya untuk kuliah dan bekerja pada Huntak Grup. Mereka akan merebut kembali kebebasan Shixun, dan Sehun takkan membiarkan itu.
‒A•R‒
Taemin datang hari ini. Krystal, Kris, Luhan, dan Tao yang menjemputnya di bandara. Mereka makan siang bersama. Sehun bisa melihat para Agen itu termasuk adik kembarnya sendiri terkejut melihat Krystal dan Taemin begitu mesra di depan publik dan tak ada yang protes. Kai dan Shixun menatapnya intens, seakan mengamati setiap reaksi Sehun, ada pandangan prihatin disana yang membuat Sehun bingung kenapa mereka menatapnya seperti itu. Sehun memilih untuk mengabaikannya dan fokus dengan makan siangnya.
Setelah pertemuan hari itu selesai, Sehun segera menyeret Shixun untuk pergi belanja dengannya. Tentu adiknya jelas-jelas menolak awalnya, tapi Sehun memiliki jurus andalan.
"Kau tak mau mendengarkanku lagi. Kupikir kau masih menganggapku Hyungmu," gumam Sehun kecewa menundukkan kepalanya.
"Yah, Hyung, bukan begitu maksudku. Tapi aku merasa pakaianku cukup," kata Shixun cepat mencoba menjelaskan.
"Pakaianmu buluk," komentar Sehun jujur membuat Shixun menganga mendengarnya. "Baiklah, kalau kau tak mau, biar aku pergi dengan Jongin saja," kata Sehun beranjak mencari Kai.
"YAH! YAH! Jangan dekati mahluk hitam itu!" protes Shixun langsung menyusul Hyungnya dan menariknya menuju pintu lobi hotel.
Sehun tak bisa menahan seringai kecil penuh kemenangannya begitu Shixun mau menurut untuk pergi belanja dengannya.
Sehun dan Shixun menghabiskan waktu cukup lama berdua. Mereka belanja untuk Shixun dan Kai, beberapa untuk Chanyeol, Luhan, Tao, dan Kris. Tapi lebih banyak untuk Shixun dan Kai. Mungkin nanti Sehun bisa meminta Krystal atau Seulgi membelikan beberapa baju untuk Irene juga. Sehun menyadari diantara keenam pria itu Shixun dan Kai yang paling tak terlalu memperhatikan penampilan mereka, tak peduli sebelel apapun baju mereka tampak nyaman memakainya.
Tapi tetap saja meski dengan pakaian belel Kai dan Shixun tetap populer dan menjadi incaran orang-orang, pikir Sehun sebal.
"Sebenarnya obat apa yang Hyung minum?" tanya Shixun ketika keduanya sedang makan malam setelah selesai berbelanja.
Sehun menarik nafas panjang mendengar pertanyaan itu. "Itu… semacam obat tidur dan penenang syaraf, membuatku tidur tanpa mimpi buruk," kata Sehun pelan.
"Hyung sakit?" tanya Shixun serius, tak puas dengan penjelasan Sehun itu.
"Secara fisik? Tidak. Secara psikologis? Ya."
Shixun tampak terkejut mendengar itu.
"Mentalku sakit, Shixun-ah. Aku tak bisa merasakan, wajahku sulit berekspressi kecuali pada Krystal. Saat kau— saat kau dengan tegas mengatakan akan pergi dari hidupku— aku pikir aku bisa melepaskanmu. Aku punya Krystal, aku punya teman-temanku, aku akan baik-baik saja. Setidaknya itu yang kupikirkan. Aku mulai menyibukkan diriku dengan Huntak Grup di Inggris dan studi S3-ku, tapi tetap apa yang sudah rusak tetap akan menjadi rusak jika tak diperbaiki. Kesehatan mentalku sudah rusak sejak kau pergi dan juga karena kejadian— dimasa lalu. Aku mengabaikan itu, aku berpura-pura sehat, tapi nyatanya orang sakit tetaplah orang sakit. Itu tak bisa dihindari," kata Sehun menerawang. "Aku tak bisa merasakan, Shixun-ah. Itu bukan keinginanku tapi karena penyakitku. Aku sedang berusaha untuk menyembuhkannya, berusaha untuk bisa kembali seperti yang dulu."
Shixun menatapnya, tampak hampa, terluka, marah, dan berbagai macam emosi lainnya. "Apa kau membenciku, Hyung? Sejak pertama kali melihatku kembali, apa yang kau rasakan? Kebencian?" tanya Shixun serak, getir.
"Aku tidak membencimu, Shixun-ah."
"Jangan bercanda—"
"Aku serius," potong Sehun menatap tepat ke dalam mata Shixun. "Ketika berjumpa kembali aku memang tak merasakan apapun. Aku tak merasakan rindu, marah, sakit hati, tidak ada sama sekali. Tapi jika aku bisa, aku pasti merindukanmu. Aku pasti marah karena kau begitu keras kepala dan pergi begitu saja. Aku mungkin sakit hati karena kau meninggalkanku begitu saja seperti aku tak berarti apa-apa bagimu. Tapi aku tahu pasti, jika memang aku bisa merasakan, aku takkan membencimu. Tidak akan. Aku bisa jamin itu."
"Dan kenapa? Kenapa begitu?" tanya Shixun menatap tajam tepat di mata Hyungnya, mencari kebohongan dalam pengakuannya. "Aku pergi meninggalkanmu, aku yang membuatmu seperti ini. Aku mengingkari janjiku untuk selalu mendampingimu. Jadi kenapa?"
Sehun hanya terdiam dan menunduk, menatap jarak diantara tangannya dan Shixun yang cukup dekat. Sehun, dengan tangan bergetar, mengambil tangan Shixun dan menjalinkan jari-jari mereka. Membuat Shixun tampak terkejut dan menatap kedua tangan mereka yang terjalin.
"Jika kau tanya kenapa, aku tak tahu jawabnya. Tapi bahkan tubuhku mengenalmu dengan baik dan tak bisa membencimu, Xunnie," kata Sehun pelan menggenggam erat tangan Shixun sebelum mengangkat wajahnya dan menatap wajah adik kembarnya. "Aku tak pernah tidur dipelukan orang lain selain Krystal dalam 5 tahun terakhir. Tidak bahkan Baekhyun yang dekat denganku sekalipun. Tapi aku menyukainya ketika kau memelukku, kau membuatku merasa aman dan nyaman. Aku bisa mulai merasakan perlahan-lahan, Shixun, dan percayalah ini tak pernah terjadi sebelumnya sebelum aku bertemu kembali lagi denganmu. Jika memang aku bisa kembali menjadi Sehun yang dulu, kurasa kau adalah pengaruh darimu."
"Hyung…"
Sehun menggenggam erat tangan Shixun dan menundukkan kepalanya, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Aku lelah mengecewakan orang-orang, Shixun-ah," aku Sehun berbisik. "Aku lelah melihat pandangan terluka Baekhyun, Kyungsoo, Suho, Seulgi, dan orang-orang lain setiap tubuhku bergerak menjauh karena tak ingin disentuh. Aku lelah mengecewakan mereka karena kelainanku ini, Shixun-ah. Aku ingin kembali menjadi Sehun yang dulu, aku tak menginginkan menjadi Sehun si Manusia Es seperti sekarang. Kumohon bantu aku. Bantu aku menemukan diriku yang dulu," kata Sehun terisak.
Ini adalah pertama kalinya Sehun mencurahkan apa yang membebaninya selama ini selain kepada Krystal. Shixun selalu menjadi orang yang ia percayai, baik dulu maupun sekarang. Tubuhnya mengenali Shixun sekarang, hatinya selalu mengenali Shixun. Hanya kepada Shixun, Sehun bisa terbuka sepenuhnya. Bahkan setelah Shixun pergi sejak 7 tahun lalu.
Shixun memeluknya erat. Sehun terlalu terlarut dalam isakannya hingga tak menyadari adik kembarnya itu telah berpindah ke sampingnya.
"Maafkan aku, Hyung," bisik Shixun lirih.
Dan Sehun mengerti arti dari ucapan Shixun itu. Ia hanya bisa terisak dan memeluk Shixun erat dengan perasaan sakit di dadanya. Ia tahu takkan selamanya ia bisa memeluk Shixun seperti ini. Dan permintaan maaf Shixun memperjelas semua itu. Shixun meminta maaf karena takkan bisa mendampinginya untuk kembali menemukan dirinya yang dulu. Shixun akan tetap seperti itu, menjalani hidupnya dan Sehun juga harus menjalani hidupnya sendiri. Setelah perjalanan bisnis ini selesai, mereka akan berpisah jalan dan Sehun harus berjuang menemukan dirinya sendiri tanpa Shixun.
Perjalanan ke hotel mereka isi dengan ketenangan tanpa kecanggungan. Sehun hanya diam dan menikmati udara malam yang dingin di kota Moskow. Langitnya termasuk cerah meski di musim dingin seperti ini terbukti dengan ada bintang-bintang yang bertaburan di langin malam itu.
"Hyung, apa kau tahu bahasa latin malaikat yang jatuh?" tanya Shixun memecah keheningan diantara keduanya.
Sehun menengok tampak bingung sebelum menggeleng. "Aku sama sekali tak tahu," jawab Sehun.
"Ada orang-orang yang menyebutnya dengan Angelus Lapsus ada juga yang menyebutnya Angelus Ruinosus," kata Shixun menatap langit malam itu. "Tak banyak orang yang tahu keduanya memiliki arti yang berbeda."
"Huh? Apa bedanya, Xunnie?" tanya Sehun penasaran, kini benar-benar tertarik dengan topik pembicaraan adiknya ini. Jarang-jarang Shixun bicara hal seperti ini.
"Angelus dari kata Angel, malaikat. Lapsus dari kata Collapse, yang artinya gagal, runtuh, tumbang. Angelus Lapsus digunakan untuk malaikat yang sudah jatuh. Tak lagi tertolong," kata Shixun menjelaskan.
"Huh? Benarkah? Seperti Iblis?" tanya Sehun terkejut.
"Ya, ada orang yang bilang begitu."
"Bagaimana dengan yang satunya? Angelus Ruin— ruinous—?" tanya Sehun cukup bingung dengan bahasa latin itu.
"Ruinosus," koreksi Shixun tertawa kecil melihat ekspressi Sehun yang kesulitan mengucapkannya. "Ruinosus dari kata Ruin, yang artinya rusak. Angelus Ruinosus digunakan untuk malaikat yang sedang dalam kejatuhan. Ia dalam kejatuhan tapi belum terantuk, masih ada kesempatan baginya untuk memperbaiki sayapnya dan kembali terbang sebelum ia terhempas ke tanah," kata Shixun menatap Sehun dalam.
Sehun tertegun mendengar itu, hanya bisa menatap Shixun yang tersenyum padanya. Pandangannya penuh kasih sayang sebagaimana Shixun yang dulu, pandangan yang seakan menegaskan takkan ada yang berarti lebih dari Sehun di dunia ini.
"Hyung, kau adalah Angelus Ruinosus. Kau sadar dalam kejatuhanmu dan berusaha untuk memperbaiki sayapmu dan kembali terbang. Kembali menjadi malaikat seperti dulu. Dan aku tahu meski kau sulit berekspressi, di dalam hatimu kau tetaplah Hyungku yang dulu. Hyungku yang selalu peduli padaku dan pada yang lainnya. Kau bisa kembali seperti dulu, Hyung. Aku yakin itu. Tolong jangan pernah menyerah untuk kembali terbang," kata Shixun menatap mata Sehun dalam sambil menangkup pipi Sehun, mengusap dengan lembut pipi Hyungnya itu dengan ibu jarinya.
Sehun tak bisa menahan senyumnya dan air mata haru mendengar itu. Ia memegang tangan Shixun yang menangkup pipinya itu dan semakin menekannya pada pipinya, menikmati ketika kulit kasar Shixun semakin bersentuhan dengan pipinya yang halus.
"Terima kasih, Xunnie," bisik Sehun dengan satu tetes air mata yang gagal di tahannya.
•••e)(o•••
Terimaaa kasiiih banyaak yang udah mereview :D
Sekarang udah ketahuan kenapa judulnya begitu hehehe semoga penjelasannya cukup dimengerti yah (:
P.S: Yg minta threesome siap-siap BaekHunGi yaaa /dilemparin batu/ngumpet/ hehehehehe becanda becanda :D
See you next chap!
-willis.8894
