A/N : Oke. ABIS INI SAYA BENER-BENER MAU HIATUS! Hari Minggu sampe Senin pagi yang tak ber-progress samsek. Mulai dari perancangan, ataupun piano. Ngoookk.. TT*TT
Disclaimer : Kepunyaannya Hidekazu Himaruya.
Warning : Sebenernya warning di chapter kemaren itu berlaku buat chapter ini. BEWARE OF EHMRAPEEHM. Sho-ai, yaoi, slash, gay. Terserah kalian mau nyebut pake yang mana. Dipilih, dipilih. #plak
Listening to : Kembali menggila dengan MIKA dan Kings of Convenience
A/N : Kita menggaje lagi, yuk? Mau, gak? Hehehe. Entah kenapa ide side story ini keluar. Pasti gara-gara galau mikirin tugas. Hahaha...
SIDE STORY
Rapat mingguan para petinggi Commedia dell'Arte yang diadakan di kediaman Il Dottore terlihat berjalan dengan cukup tenang. Tentu, dengan sedikit tawa canda di kiri dan kanan. Apalagi Brighella yang entah kenapa kelewat bahagia dan terus menagih Scapino jatah yang ia janjikan karena kalah taruhan.
"Eh, lo udah janji ke gue! Kalo Indonesia menang, lo mau jadi uke gue sebulan!" tagih Rangga, sedikit memaksa adiknya itu.
"Gak mau!" bentak Razak, panik. Berangsut-angsut tubuhnya ia jauhkan dari sosok kakaknya yang semakin lama semakin mendekat. "Lagian, kapan gue pernah taruhan kayak gitu?"
"Kan waktu pertandingannya mulai gue bilang gini ke elo, 'Raz! Indonesia vs Malaysia, nih! Taruhan, yuk! Timnya yang kalah harus mau jadi uke sebulan!' Terus elo nyautnya, 'Iya, iya.' Gituuu! Sekarang, lo harus mau jadi uke gue!" paksa Rangga dengan gaya siap meraep adiknya sendiri.
"Bentar, bentar!" jerit Razak. Kedua tangannya ia rentangkan untuk menghalau sosok kakaknya yang semakin mendekat. Keringat dingin mulai membanjiri keningnya. Seme mana yang mau berubah haluan jadi uke karena kalah taruhan? Bisa jatuh harga dirinya di mata para seme lainnya! "Demi langit dan bumi, gue gak inget pernah ditanyain gituan! Lo ngigo, ya?"
"Nggak! Gue inget banget gue ngomong itu ke elo! Waktu itu elo lagi main PES sama Arlecchino via laptop gue! Ngaku lo sekarang!" desak Rangga. Ia semakin mendekat dan berusaha menyingkirkan tangan Razak yang menghalaunya.
Scapino mengerang pelan. "Ya, ampun! Lo kenapa nanyanya pas gue sama Arlecchino lagi duel ulang Barca vs Madrid, sih? Kan gue jadi gak konsen ngasih jawaban!"
Terdengar suara erangan panjang penuh penyesalan sepanjang meja rapat. Beberapa, seperti Scaramuccia dan Burrattino, tampak terkulai lemas di atas meja makan dan memukul-mukul meja.
"Tolong, ya, itu pertandingan jangan disebut..." keluh Il Capitano. "Pengen gantung diri rasanya begitu liat hasilnya. APA-APAAN ITU 5-0?" sambungnya.
"Mau dibantu gantung dirinya, da?" kata Pulcinella menawarkan bantuan pada ll Capitano diiringi cengiran sinting yang biasa ia lontarkan. Hal itu berhasil membuat Arthur Kirkland sebagai Il Capitano merinding disko.
"Makanya, Iggy. Belanya yang pasti-pasti aja kayak Barca. Hahahaha!" Tawa lepas Arlecchino malah membuatnya dapat pukulan dan tendangan gratis penuh cinta dari kekasihnya itu.
"Madrid kampret... Madrid kampret... Madrid kampret..." Berulang kali Scaramuccia merapalkan mantra itu sambil menghantamkan kepalanya berkali-kali ke meja makan, frustrasi. "Barca kampret... Barca kampret... Barca kampret... Semuanya kampret... Semuanya kampret... Semuanya kampret..."
"Ah, ela. Kalian dirasa, deh. Bola doang ini." gumam Brighella sambil mendengus pelan melihat tingkah galau para rekannya begitu pertandingan itu disebut. Memang, meski sudah berakhir cukup lama, efek dari pertandingan itu masih terasa sampai sekarang. Sama seperti saat final World Cup beberapa bulan yang lalu. Kegalauan dari pihak yang kalah berkali-kali terlihat di meja rapat hingga berbulan-bulan berikutnya. Kalau tidak percaya, silakan lontarkan ulang kasus dimana Jerman vs Inggris, dimana gol kontroversial Lampard dianulir. Dipastikan timah panas Il Capitano akan menghujam salah satu bagian tubuh Anda.
"Lo juga dirasa amat!" bentak Razak. "Eh, gue gak inget taruhannya! Berarti, gue gak punya kewajiban buat menuhin taruhan itu!"
"Gak bisa! Pokoknya lo harus mau gue semei sebulan! Elo udah kalah taruhan!"
"Kalah apaan? Taruhannya aja gue gak tau!"
"Ah! Pura-pura gak tau aja lo! Bilang aja gak mau jadi uke!"
"Emang gue gak mau jadi uke! Bisa ancur harga diri gue di mata seme-seme lainnya, tau! Lagian dari awal udah gue bilangin kalo jatah uke itu elo, gue semenya! Gak ada tawar-tawaran!"
"Gak mau! Lo juga harus ngerasain penderitaan gue jadi uke mulu! Sakit, tau, gak. Sakkiiiittt!"
"Halah, lebeh! Sakit juga paling bentar doang! Pokoknya gue gak mau!"
"Bentar doang apaan! Lo inget, gak, pas gue kalah taruhan sama lo di final World Cup. SEMINGGU gue gak bisa jalan, dasar adek bejat!"
"... Habis kamu seksi, menggoda iman, sih."
"... Gak usah ngejilat. Percuma! Pokoknya lo harus jadi uke!"
"Gak mau! Pokoknya gue gak mau!"
"Harus mau! RAEP!"
"GYYAAAA!"
Dan dengan demikian Rangga berhasil menyemei adiknya. Apakah kesemeannya akan berjalan mulus seperti yang ia harapkan? Mari kita berdoa. Oh, iya. Korban raep Rangga berikutnya adalah sepupu mereka, Laos, yang sekarang sedang menanti kedatangan sepupunya itu dengan hati ketar-ketir.
THE END
A/N : Hahaha! Akhirnya Indo! Akhirnyaaaa! Dirimu bisa menyemei adikmu sendiri. Saya tersentuh. :') #plak Sekarang, mari kita lihat. Apakah kalian masih bisa konsen baca cerita Godfather yang benerannya? Hahaha! Selamat membaca Godfather chapter 10, ya!
Heningnya kamar hotel membuat atmosfer di antara Antonio dan Gilbert semakin memburuk. Masing-masing polisi sibuk dengan dirinya masing-masing; Gilbert masih di kamar mandi dan Antonio sendiri menyibukkan diri dengan laptop. Keduanya masih belum mengeluarkan pembicaraan apa-apa sejak kejadian kemarin, dimana Gilbert dengan terus terang mengungkapkan cintanya pada Antonio. Pengungkapan cinta yang entah kenapa malah berlanjut dengan Antonio yang murka dan memukuli Gilbert sampai pemuda Jerman itu luka-luka di beberapa tempat.
Bersalah? Tidak. Antonio tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang telah ia lakukan pada Gilbert. Sahabatnya itu pantas menerima perlakukan seperti itu setelah apa yang ia katakan mengenai Lovino.
Sudah menjadi batasan semu pada setiap percakapan mereka bereempat—Antonio, Gilbert, Francis, dan Willem—bahwa masa lalu mengenai Lovino Vargas itu terlarang. Tak seorang pun boleh menyebut dan mengungkit kembali masa lalu yang terkubur dalam tersebut. Tak seorang pun, apalagi langsung menyebutkan saat-saat ketika ia tewas.
Tewas di tangan Antonio sendiri.
Antonio menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Matanya masih merah dan sembab akibat menangis seharian, teringat akan kekasihnya yang sudah pergi. Selama ini ia terus berharap suatu hari nanti Lovino akan kembali padanya, tersenyum, sambil merentangkan tangan. Kecupan hangat dan bisikan lembut sang pemuda Italia akan menjadi hadiah yang tak terkira istimewanya bagi Antonio.
Antonio menginginkan itu semua. Sayang, perkataan Gilbert telah menghancurkan harapannya menjadi serpihan yang tak berbentuk, menguap bersama angin.
Lovino sudah tak mungkin kembali.
Ia mati dan jasadnya tak pernah ditemukan.
Mati, mati di tangan Antonio sendiri.
Tak terasa sebulir air mata jatuh menuruni pipi Antonio dan mengenai tangannya. Mata hijaunya terasa perih menahan tangis.
"Bodoh..." desis Antonio, geram dengan dirinya sendiri yang lemah bila menyangkut Lovino. Ia mengusap air mata dengan lengan bajunya. "Bodoh. Kenapa harus teringat terus padanya? Aku sedang dalam misi. Aku tidak boleh lengah!"
Satu tarikan napas panjang ia ambil untuk menenangkan dirinya sejenak sebelum kembali berkonsentrasi pada data-data penyelidikan yang telah diberikan oleh Kiku via email. Cukup banyak juga dari apa yang mereka dapatkan disana, terutama Kiku. Tentu saja, karena pemuda Jepang itu berkali-kali melakukan rapat bersama dengan Vash Zwingli tersebut. Semua informasi yang ia berikan pada Antonio adalah hasil rapat yang diadakan oleh Vash bersama para calon penjualnya.
Suara pintu ditutup mengalihkan perhatian Antonio dari layar laptop ke arah datangnya suara. Rupanya Gilbert baru saja selesai mandi. Rambut putihnya sedang ia usap dengan handuk putih. Tubuh bagian bawahnya tampak mengenakan celana piyama yang ia pakai tadi malam untuk tidur, sementara pinggang ke atas tidak mengenakan satupun penutup tubuh, membiarkan perut hingga dadanya terekspos. Bulir-bulir air masih membasahi tubuhnya yang pucat.
Antonio segera mengalihkan perhatiannya dari tubuh Gilbert yang masih basah, kembali berkonsentrasi pada kasus. Entah kenapa, sejak pengakuan cinta Gilbert beberapa hari lalu, ia mau tak mau mulai memperhatikan sahabatnya itu lebih sering dan lebih mendetail dari biasanya.
"Ada berita apa dari Kiku?" tanya Gilbert santai. Kedua tangannya masih sibuk mengusap-usapkan handuk, mengeringkan rambutnya yang basah kuyup. Ia berjalan menuju tempat tidur dimana Antonio duduk bersandar pada headboard dengan laptop di pangkuan.
"Dia baru saja mengirimiku email tentang rapat yang ia lakukan bersama Zwingli." sahut Antonio sekedarnya. "Ia melaporkan kalau Zwingli kali ini tampak lebih pemilih dari yang sebelumnya. Biasanya, ia membeli semua barang yang ditawarkan tanpa melihat spesifikasinya dahulu, tapi entah kenapa kali ini ia lebih teliti dari sebelumnya."
"Mungkin ia mulai ahli dalam membeli barang-barang?" tebak Gilbert. Sekarang, ia duduk pada tepi tempat tidur tak jauh dari posisi Antonio duduk.
"Bisa jadi. Kemungkinan lainnya adalah Zwingli mulai memperhitungkan penjual mana yang bisa ia jadikan supplier tetap dengan kualitas senjata terbaiknya." kata Anotnio. "Melihat seperti ini, aku mulai curiga kalau Zwingli ingin membuat sebuah organisasi mafia dengan dirinya sebagai pemimpin."
Terdengar dengus kesal dari arah Gilbert. "Mafia lagi. Tidak kah cukup Commedia dell'Arte sebagai satu organisasi mafia di dunia ini? Terlalu penuh mafia bisa membuat polisi awesome sepertiku kelelahan. Dan itu sangat tidak awesome."
Antonio tersenyum kecil mendengar perkataan Gilbert. Ia mulai tahu kalau sahabatnya itu mulai melupakan insiden yang terjadi kemarin saat mendengar celotehan awesome keluar dari mulutnya. Semoga saja kejadian waktu itu tidak merusak hubungan pertemanan mereka, meski bekas dan lebam akibat pukulan Antonio masih tampak jelas di sekujur tubuh Gilbert.
"Lalu? Bagaimana mengenai Zwingli sendiri?" tanya Antonio. Ia ingat betul kalau tugas untuk mencaritahu sebanyak-banyaknya tentang Vash Zwingli dan masa lalu pemuda Swiss itu sudah diemban oleh Gilbert.
"Soal itu," Gilbert beranjak dari tempat duduknya dan berjalan santai mengambil laptopnya sendiri. Ia sampirkan handuk putih mengelilingi bahunya sebelum kembali ke tempat duduknya semula. "Vash Zwingli, seorang pemilik bank besar di Swiss. Kedua orang tuanya sudah tiada. Ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya, Lily Zwingli, sementara ayahnya meninggal karena serangan jantung. Bank tersebutlah yang menjadi warisan dari sang ayah kepada dua bersaudara itu. Zwingli berhasil mengembangkan bank itu menjadi bank nomer satu dunia. Terkenal akan keramahan para petugasnya, suku bunganya yang tinggi, penawaran pinjamannya yang tidak memberatkan, serta—yang paling utama—keamanannya yang terkenal paling aman seluruh dunia. Tak heran kalau bank ini menjadi favorit para pejabat dan pemimpin dunia."
"Dan pastinya ada beberapa mafia yang menyimpan kekayaan mereka disana." gumam Antonio.
"Tentu. Selain itu, bank ini tidak mempertanyakan asal muasal harta benda yang mereka simpan. Yang mereka ketahui hanyalah siapa yang menitipkan, apa jenis barangnya, dan kode penyimpanan. Yang lainnya tak mereka pedulikan. Itulah sebabnya bank ini mempunyai kemanan tertinggi dan paling digemari. Bukan hanya barang berharga yang terjaga, tapi juga kerahasiaannya."
Antonio mengangguk-angguk mengerti. Dahinya berkerenyit, berusaha berpikir keras. "Sekarang pertanyaannya adalah mengapa ia ingin membeli banyak senjata? Apa profesinya sebagai direktur bank paling sukses dunia tidak cukup? Apa ia bosan dengan hidupnya sebagai pemimpin bank, sehingga ia ingin memacu adrenalinnya dengan mencoba peruntungan menjadi mafia?"
Tampak Gilbert menaikan kedua pundaknya, tak tahu. "Entahlah. Aku tak pernah mengerti jalan pikiran orang-orang kaya sejak kecil seperti itu. Yang aku tahu, orang-orang seperti mereka itu."
Tawa kecil dikeluarkan Antonio, sementara Gilbert hanya tersenyum simpul dan kembali membuka data-data yang berhasil ia dapatkan. "Oh. Ada satu datum yang menarik."
"Apa?"
"Sekitar tiga tahun yang lalu, bank ini dirampok. Perampoknya terdiri dari tiga orang. Mereka berhasil menggasak uang tunai sejumlah satu juta dollar dan kabur dengan menyamar sebagai anggota medis yang datang untuk menyelamatkan para sandera. Satu buah mobil ambulance menjadi sarana transportasi mereka untuk membawa tas-tas berisi uang itu." kata Gilbert.
"Perampokan?" ulang Antonio. Sang polisi berdarah Spanyol itu tampak tertarik dengan informasi baru itu. "Lalu? Apa pelakunya sudah tertangkap?"
"Belum." sahut Gilbert. Jemarinya masih sibuk mengetik, mencari data serupa yang telah ia kumpulkan. "Polisi selalu berakhir pada jalan buntu mengenai kasus itu. Uangnya lenyap, pelakunya, semuanya lenyap tak berbekas. Setelah perampokan itu, sang direktur bank saat itu ditemukan tewas karena sakit jantung. Sepertinya terlalu shock mendapat berita bahwa bank yang ia bangga-banggakan akan keamanannya itu berhasil dibobol tiga orang perampok."
Antonio mengangguk-angguk pelan. "Begitu. Dan sejak saat itu, Vash mengambil alih tampuk pemerintahan bank dari ayahnya."
"Semacam itu, lah. Ia juga perlu berusaha keras membangkitkan kembali kepercayaan dunia pada banknya. Karena perampokan kontroversial tersebut, banyak nasabahnya yang menarik harta mereka dari bank tersebut dengan alasan takut dirampok. Para penyimpan deposito juga melakukan tindakan yang sama, begitu pula dengan mereka yang menitipkan barang-barang dan surat berharga mereka di bank tersebut. Hampir setengah dari nasabah bank tersebut pergi."
"Apa menurutmu ini bisa jadi sebuah propaganda dari saingannya supaya para pelanggan bank tersebut beralih?"
"Bisa jadi, tapi masih belum cukup bukti untuk menyimpulkan kejadian tersebut sebagai tindakan konspirasi dari saingannya."
"Semakin aneh saja kasus ini..." gumam Antonio lesu.
"Aku setuju..." tambah Gilbert, tak kalah lesu.
Di tengah kebisuan dua orang tersebut, terdengar suara 'PING' pelan, menandakan sebuah email baru saja masuk ke inbox Antonio. Dari Francis rupanya. Sang pemuda Prancis itu sudah mengirimkan laporannya sendiri mengenai kasus itu. Laporan yang berhasil ia dapatkan setelah melakukan penyelidikan menyeluruh pada rumah Zwingli.
Antonio membaca dengan seksama tiap detail informasi yang diberikan oleh Francis hingga ke titik-koma. Ia tak mau ketinggalan satupun detail, supaya bisa mendapatkan jawaban yang pasti akan kasus itu. Ia ingin segera mengakhiri kasus ini lebih cepat dari yang ia harapkan.
Dan betapa terkejutnya ia dengan datanya yang baru saja ia baca.
"... Gil, coba kau baca ini." gumam Antonio dan menyodorkan laptopnya pada Gilbert.
Sedikit penasaran, Gilbert langsung menerima laptop tersebut dan membaca dengan seksama laporan yang diberikan Francis. Sama dengan Antonio, ia juga sangat terkejut dengan laporan tersebut.
"Apa-apaan ini? Vash sudah sering membeli senjata dari dulu dalam jumlah sedikit?" kata Gilbert tak percaya.
"Yang lebih aneh lagi, ia dulu membeli senapan-senapan kuno dan langsung kepada penjual berlisensi resmi. Dengan kata lain, ia dulu tidak pernah membeli senapan lewat perdagangan gelap." sambung Antonio, masih bingung memikirkan alasan yang masuk akal mengenai sikap Vash yang berubah ini.
"Lalu, kenapa sekarang ia malah membeli senjata ilegal dalam jumlah banyak? Lagipula, senjata yang ia beli dulu adalah senjata kuno, untuk koleksi. Sedangkan senjata-senjata yang ia beli dalam jumlah banyak ini adalah senjata pasaran, produksi sekarang. Sangat tidak cocok untuk dijadikan koleksi barang antik!" kata Gilbert.
Antonio mendesah panjang. Terlihat sekali kalau detektif satu itu kurang tidur dan kelelahan. Selain itu, entah kenapa tiap data yang mereka dapatkan mengenai kasus itu bukannya menjadi titik terang, malah memperkeruh penyidikan. Entah apa hasil akhir dari kasus ini. Yang bisa mereka harapkan hanyalah jawaban jelas atas teka-teki ini.
Francis baru saja menekan tombol send saat pintu kamar dibuka dan masuklah Willem. Wajah pemuda berambut jabrik itu tampak sedikit pucat dan kecewa, entah karena apa. Baru saja Francis hendak menanyakan sesuatu pada Willem, Kiku terlanjur melontarkan pertanyaan.
"Darimana, Willem-san?" tanyanya sopan.
Willem mendongakkan kepalanya saat pertanyaan Kiku terdengar. "Aku... Baru saja menyelidiki rumah ini sementara kalian berada di ruang tamu. Bagaimana rapatnya?"
"Berjalan cukup lancar." balas Kiku sambil tersenyum manis. Mata cokelatnya menatap lekat setiap gerak-gerik Willem. "Kau terlihat sedikit gelisah. Ada apa?"
"Tidak. Hanya saja—"
"Mana Rangga-san?"
"Itu..."
"Apa dia kabur dengan ayahnya?"
Kalimat tersebut berhasil membuat Willem terpaku dengan mata membelalak lebar, tak percaya. Bukan hanya Willem yang bereaksi seperti itu, tapi juga Francis. Meskipun Francis lebih terkejut pada kenyataan bahwa ayah Rangga ada di tempat itu.
"Bagaimana—" Willem berusaha mengeluarkan suaranya yang tercekat. Ia dan Rangga sudah begitu waspada dan berhati-hati di sekitar dua orang rekan mereka, supaya tak timbul kecurigaan. Bagaimana mungkin bisa Kiku mengetahui hal ini? Apa jangan-jangan ia salah satu komplotan ayah Rangga?
Terdengar tawa renyah dari Kiku. "Anda ini aneh. Sudah berapa bulan terakhir ini, aku menyelidiki Vash dan juga para penjual lainnya. Jelas saja aku tahu kalau ada seorang anak buah Kohler dengan nama belakang Wicaksono. Nama belakang yang sama dengan milik Rangga. Jadi, secara otomatis aku mengaitkan bahwa dua orang itu punya hubungan darah. Tadinya aku tak menebak sebagai hubungan ayah dan anak, tapi melihat kemiripan di antara dua orang itu, rasanya tak perlu diragukan lagi."
Kembali Willem terdiam. Memang benar apa yang diungkapkan oleh Kiku. Agak aneh kalau Kiku tidak mengenali sosok ayah Rangga. Sebagai kaki tangan Kohler, ia pasti sudah sering dibawa kesana kemari oleh Kohler untuk berbagai misi.
"Tunggu sebentar." potong Francis. Satu-satunya orang di kamar itu yang dibuat bingung hanyalah sang pemuda berambut pirang sebahu itu. Mata birunya berkali-kali mengerling ke dua sosok rekannya yang berdiri berhadap-hadapan dengan aura penuh ketegangan menguar di sekitar mereka. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksudnya pergi bersama ayahnya? Dan... Kau bilang ayah Rangga adalah salah satu dari pengikut Kohler? Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" tanyanya, bingung.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Willem harus menceritakan semuanya. Mulai dari ketakutan Rangga, hingga saat ketika ia terpisah dari pemuda itu. Semuanya, demi mendapatkan bantuan menemukan kembali Rangga di dalam rumah yang luas itu.
Sudah semalaman Rangga menghilang dan tak jelas kemana ia pergi. Sudah semalaman suntuk Willem dan tiga orang rekannya mengitari rumah besar Zwingli untuk menemukan Rangga, namun pencarian itu nihil, tak menghasilkan apapun. Hingga akhirnya Kiku memutuskan untuk mengakhiri pencarian sebelum ada orang yang mencurigai mereka.
Pagi harinya, ketiga polisi ini bangun dengan suasana hati yang tak nyaman. Entah mengapa, mereka bertiga bisa merasakan adanya firasat buruk. Sesuatu yang buruk seperti akan terjadi. Dan perasaan itu semakin menguat setiap kali mereka mendekat ke ruang makan.
Begitu ketiganya sampai di ruang makan, terlihatlah pemandangan yang aneh. Seorang Mathias Kohler tampak sibuk berteriak-teriak penuh kekesalan tepat di depan muka Lopez. Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Sementara itu, Vash hanya terduduk di kursinya, terdiam memperhatikan perdebatan sengit yang terjadi antara Mathias dengan Lopez.
"Brengsek! Pasti kau yang menghasut mereka untuk pergi, kan!"
"Menghasut apa? Mendekati mereka barang sesenti saja aku tidak sudi!"
"Jangan banyak bicara! Jelas sekali kau ini tidak suka dengan keberadaanku dan ingin menyingkirkanku, kan? Hanya karena mutu jualanku lebih baik daripada kau!"
"Jangan sembarangan bicara kau, ya! Sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak mendekati anak buahmu!"
Mendengar dari perseteruan Mathias dan Lopez bisa membuat Kiku dan yang lainnya menyimpulkan bahwa anak buah Mathias sudah tak ada. Pergi, entah kemana. Hal itu dibuktikan dengan tak ditemukannya empat sosok pria-pria bertubuh besar yang biasanya ada di belakang Mathias, mengawal bos mereka ke tiap pertemuan di rumah tersebut.
"Apa yang terjadi, Vash-san?" tanya Kiku sopan pada sang tuan rumah.
Vash menoleh dan dengan santainya menyahut, "Anak buah Mathias pergi begitu saja, entah kemana. Sekarang, Mathias menuduh Lopez sudah menghasut anak buahnya untuk kabur meninggalkannya. Berkhianat, semacam itu."
Mendengar berita ini membuat panik Willem. Pergi? Berarti mereka berempat sudah membawa kabur Rangga entah kemana, jauh dari rumah itu. Ia harus segera menemukan mereka sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Rangga. Harus!
Melihat perseteruan antara Mathias dan Lopez yang tak kunjung reda membuat Vash terpaksa turun tangan. Ia menggebrak meja makan dengan begitu keras, sehingga perhatian semua orang di ruang makan tertuju padanya. Ruangan pun menjadi hening dengan seketika.
"Kalau kalian terus memperdebatkan hal itu dan tidak segera pergi mencari, mana bisa kalian tahu apa yang menyebabkan mereka pergi?" kata Vash tegas.
"Maunya begitu." ucap Mathias. Ia memutar kedua bola matanya, jengah. "Tapi, aku tak tahu sama sekali kemana mereka pergi. Tempat tinggal mereka saja aku tidak tahu."
"Hah. Pemimpin macam apa kau ini? Tempat tinggal anak buah sendiri tak tahu. Memalukan." ejek Lopez.
"Kau!"
"Sudahlah. Kalian berdua berhenti!" tegur Vash disertai tatapan tajam ke arah dua orang yang berseteru itu. "Kalau hanya itu masalahnya, aku sudah punya solusinya." Ia kemudian mengambil senapan kesayangannya dan mengokangnya.
"Eh?"
"Aku sudah menempelkan alat pelacak pada pakaiannya, jadi kita tinggal mengikuti saja kemana alat pelacak itu menunjuk."
"Tunggu sebentar. Alat pelacak? Apa kau menempelkan alat semacam itu pada kami semua?" tanya Francis, sedikit panik. Kalau iya, berarti gerak-geriknya dan yang lain terlihat jelas, terutama saat menggeledah rumah tersebut, mencari bukti.
"Tidak. Hanya ada padanya."
"... Siapa?"
Vash menatap Mathias dengan tatapan tajam. Dan dengan tegas, ia menyahut, "Hanya anak buahmu yang bernama Wicaksono itu."
"Apa? Rangga diculik? Lagi?"
"Euh... Antonio, bisa tolong kurangi kata 'lagi' itu? Kok, kesannya Rangga itu sering sekali diculik..."
"Lho? Memang iya, kan? Baru saja beberapa minggu yang lalu ia diculik dan nyaris tewas terbakar. Sekarang ini." gumam Antonio tak percaya. Ia baru saja mendapat pemberitahuan dari Francis kalau Rangga kembali terjerat masalah. Sungguh, polisi satu itu benar-benar umpan yang sempurna untuk menarik masalah. "Lalu, bagaimana sekarang?"
"Kami semua sedang mengikuti mobil Zwingli yang melaju ke tempat yang ditunjukkan oleh alat pelacak." jawab Francis. "Kami tak tahu dimana, jadi kami hanya bisa mengikuti saja."
"Sebentar. Alat pelacak? Apa maksudnya?" tanya Gilbert bingung. Ia mendengarkan melalui speaker phone yang sengaja dipasang oleh Anotnio supaya rekannya itu bisa ikut mendengarkan.
"Ternyata tujuan Vash selama ini membeli begitu banyak senapan-senapan ilegal untuk memancing ayah Rangga keluar." kata Francis. "Kalian ingat artikel yang diberikan Gilbert ketika kau ingin menyelidiki tentang kehidupan keluarga mereka? Saat kau mencurigai Razak sebagai anggota Commedia?"
"Ya. Lalu, kenapa?"
"Kalian ingat kalau sekitar tiga tahun lalu ayah Rangga mengalami luka tembak dan dilarikan ke rumah sakit untuk dioperasi, tapi tak lama kemudian kabur dari rumah sakit dan meninggalkan satu koper penuh berisi uang tunai?"
"... Ya? Lalu?"
"Uang tunai itu adalah uang hasil rampokan dari bank milik Zwingli. Ingat perampokan bernilai satu juta dollar? Nomer seri pada uang-uang tersebut cocok dengan uang seri yang dibayarkan pada rumah sakit tempat ayah Rangga dirawat. Kemungkinan besar tiga orang yang merampok itu adalah rekannya yang juga ikut bergabung bersama untuk mengawal Kohler.
"Vash terus melacak siapa saja yang pernah memakai uang-uang itu dan akhirnya menemukan nama-nama mereka berempat serta profesi mereka sebagai penjual senjata ilegal. Itulah sebabnya Vash mulai membeli senjata-senjata ilegal dalam jumlah besar. Itu semua untuk menarik perhatian para perampok bank yang telah merenggut nyawa ayahnya dan setengah dari nasabahnya."
"Begitu rupanya..." gumam Gilbert. Semuanya mulai terlihat jelas dan menyatu. "Jadi, itu alasan Vash membeli barang-barang itu. Ia mau menjebak para perampok bank yang sekarang telah menjadi pedagang senjata ilegal agar ia bisa membalaskan dendamnya."
"Kira-kira."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Antonio. "Apa kami perlu menyusul kemari?"
"Iya. Kalau bisa, sekalian bawa pasukan. Tempatnya akan kuberitahu lagi nanti. Kita tak mau kehilangan kesempatan ini. Kita bisa menangkap Lopez dan Kohler sekaligus!"
"Baiklah. Tunggu kami disana, Francis."
Maka, Antonio dan Gilbert bergegas mengumpulkan semua perlengkapan mereka dan menghubungi pasukan mereka. Dalam waktu kurang dari setengah jam, mereka sudah siap untuk memulai pengejaran.
Tubuh Rangga terhempas dengan begitu keras, menghantam tembok semen di belakangnya. Suara kepala yang bertabrakan dengan konkret menggema di ruangan yang kosong tersebut. Erangan pelan keluar dari mulut Rangga saat tabrakan terjadi.
Ia sudah tak tahu berapa lama ia berada di tempat itu. Bahkan, ia sendiri tak tahu tempat apa itu sebenarnya. Secara visual, tempat Rangga berada seperti sebuah basement. Pengap dan lembab. Hanya sedikit sinar mentari yang masuk melalui sela-sela jendela di atas kepalanya. Sisanya, ia tak terlalu memperhatikan. Ia lebih membutuhkan konsentrasi untuk menghalau serangan berikutnya.
Ya. Sejak ia dibawa paksa ke tempat itu, pukulan demi pukulan telah Rangga terima. Perut, dada, bahkan kedua kaki dan tangan serta wajahnya menjadi bulan-bulanan ketiga pria bertubuh besar di depannya. Darah berceceran dimana-mana, hasil dari luka gores yang kadang ditorehkan mereka bertiga ke tubuh kurus Rangga. Tak peduli dengan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Rangga, mereka terus melukai pemuda itu. Lagi, dan lagi. Ingin rasanya Rangga menghalau semua serangan bertubi-tubi itu, tapi tak berdaya. Dengan kedua tangannya terikat erat oleh tali-tali kasar di belakang punggungnya, ia tak sanggup berbuat banyak selain meringkuk, menjauhkan bagian-bagian vitalnya dari serangan.
Sementara itu, satu sosok pria yang Rangga kenali sebagai ayahnya hanya berdiri dalam bisu di sudut ruangan. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan wajahnya menyiratkan kebencian yang amat sangat.
"... Ayah..." bisik Rangga. Mulutnya terasa kering dan sakit. Darah tampak menetes pelan dari luka gores pada bibir bagian bawahnya. Mata abu-abunya menatap penuh iba pada sosok ayahnya yang masih berdiri angkuh di sudut ruangan. "... Ayah, kumohon..."
Ratapan Rangga malah dianggap oleh ketiga orang lainnya sebagai lelucon, sebuah gurauan yang sangat menarik.
"Kau lihat itu? Ia memohon-mohon untuk diampuni!" seru salah satu dari pria yang memukulinya. Sebilah pisah ia genggam. Pisau yang daritadi menghujam tanpa ampun ke bagian tubuh Rangga dan mengukir luka-luka baru.
"Hah! Sadarlah, nak! Justru ayahmu itu yang ingin kau dipukuli sampai seperti ini!" Kali ini giliran seorang pria lainnya. Ia menggenggam sebuah tongkat pemukul yang memiliki bercak darah di beberapa tempatnya. Sudah berkali-kali ia menghantam kepala ataupun bagian lainnya dari tubuh Rangga menggunakan batang kayu tersebut.
"Setelah apa yang kau lakukan padanya, kau masih berharap ia untuk mengampunimu? Mimpi saja kau, nak!" seru pria terakhir sambil menendang perut Rangga.
Rangga meringis kesakitan saat tendangan tersebut mengenai perutnya. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana ia bisa mengakhiri ini semua. Tiap pukulan makin terasa menyakitkan tiap menitnya. Ralat. Tiap detiknya. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah terluka para seperti itu, serangan berikutnya hanya akan membuatnya semakin kesakitan saja.
"... Kenapa..." desis Rangga pelan di sela pukulan-pukulan yang ia terima. "Kenapa... Kenapa..."
"Kenapa, tanyamu?" Baru kali itu ayahnya berbicara sejak mereka datang ke ruang bawah tanah itu. Mata abu-abunya berkilat mengerikan, tanda bahaya. "Tanyakan pada tanganmu sendiri, Rangga. Apa yang sudah kau lakukan, hah? Apa yang sudah kau perbuat pada ayahmu yang sudah membesarkanmu ini."
Rangga hanya terdiam. Ia tahu pasti apa yang dimaksudkan oleh ayahnya. Ia pasti ingin mengungkit-ungkit saat ia dan Razak kabur dari rumah, juga membawa serta kedua adik mereka yang masih sangat kecil.
"Kau bukan hanya membuat malu ayahmu ini dengan meniduri adikmu sendiri. Ralat. DITIDURI adikmu sendiri! Pelacur pun tidak akan mau pada posisi serendah dirimu, Rangga! Gay, dan rela ditiduri oleh adiknya sendiri! Dan yang lebih menjijikan lagi, kau kabur membawa adik-adikmu dan sebelumnya menembak ayahmu sendiri!" bentak sang ayah, murka.
Rangga hanya terdiam. Ia tak tahu harus bicara apa. Mengelak, pasti akan memberikan hasil yang tak menyenangkan. Membela diri apalagi. Untuk saat seperti ini, diam memang menjadi pilihan yang terbaik.
"Kau yang berusaha membunuhku dan sudah mempermalukanku ini mau memohon ampun? Hah! Sudah terlambat puluhan tahun untuk itu! Kalau kau mau meminta maaf, lebih baik kau tidak pernah dilahirkan saja!"
Perih rasanya hati ini ketika mendengar perkataan itu.
"Mati! Kau dengar aku? Anak sepertimu seharusnya mati!"
Begitu perih sampai air matanya tak sanggup dibendung, mengalir perlahan menuruni pipinya.
Melihat tak ada reaksi dari putra sulungnya itu, sang ayah kembali menatap para rekannya. "Lakukan apa yang kalian inginkan. Aku sudah tak peduli dengannya. Ia sudah tak kuanggap sebagai anakku lagi. Ia hanya sampah."
"Begitu?" gumam pria yang membawa pemukul kayu. Diayunkannya pemukul tersebut dengan santai sambil menatap dua rekan lainnya. "Apa yang kalian ingin lakukan sekarang? Aku mulai bosan kalau harus terus memukulinya. Toh, ia tampaknya sudah sangat lemah."
"Huh. Bocah seperti ini pasti tak akan sanggup menerima pukulan sebanyak itu." sambung pria lainnya yang membawa pisau. "Aku juga sudah mulai bosan menusuknya terus. Lama-lama aku akan terpikir untuk mengulitinya saja."
Pria terakhir, pria yang tak membawa peralatan apapun untuk menyiksa Rangga, tampak berpikir keras. "Hei," katanya. "Seingatku, dia menginginkan kita untuk melakukan yang terburuk padanya, kan?"
Raut wajah dua orang lainnya tampak sumringah saat mendengar hal itu.
"Benar juga. Dia bahkan meminta khusus pada kita untuk membuat hidupnya semakin merana. Terlalu merana, sampai menghancurkan harga dirinya."
Tiga orang itu melihat tubuh Rangga yang tergolek lemas tak berdaya di atas lantai. Kemeja putihnya sudah kumal dan lusuh, terkotori oleh noda dan darah dari tubuh pemakainya. Beberapa kancing kemejanya terlepas dan rusak karena tindak brutal para penyiksanya, membuat bukaan yang cukup besar. Tampilan torso dan perut rata Rangga tampak mengintip dari sela-sela kemeja yang rusak tersebut. Bahkan sebagian tersingkap hingga batas lengan, menampilkan pundak yang mulus dengan noda darah menghiasinya. Tak dapat mereka pungkiri bahwa Rangga mempunyai tubuh yang begitu menggoda, memanggil untuk dicicipi.
"Rasanya aku tahu 'penyiksaan' macam apa lagi yang bisa kita lakukan padanya."
A/N : WARNING! MULAI DARI SINI ADA LEMON!RAPE. BUAT YANG GAK SUKA, SKIP SAMPE PEMBERITAHUAN LEBIH LANJUT!
Dengan kasar, tiga orang itu menjambak rambut hitam Rangga, membuat pemuda itu berteriak kesakitan. Tanpa basa-basi, dua orang lainnya melucuti pakaian Rangga dengan tak kalah kasarnya, membuat pemuda itu ketakutan.
"Apa... Apa yang akan kalian lakukan...?" tanya Rangga, panik. Ia berusaha memberontak dari tiga orang ini, tapi apa daya. Cengkeraman pada rambutnya begitu erat dan menyakitkan, memaksanya untuk terus menengadah.
"Oh, kau pasti akan menyukai ini. Bukankah ini yang biasa kau lakukan bersama adikmu di atas ranjang, Hm?" bisik pria yang mencengkeram rambutnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Rangga dan menjilati darah yang mengalir dari luka di pipi pemuda itu. "Ooh~ Mungkin kau tidak akan terlalu menikmatinya, tapi aku yakin aku dan teman-temanku ini pasti akan menikmatinya."
Kedua mata Rangga membelalak lebar saat mengetahui maksud dari perkataan pria itu. Mereka bertiga akan memperkosanya, sekarang, saat itu juga!
Entah darimana sebuah kekuatan baru merasuk pada diri Rangga. Dengan segenap tenaganya yang baru, ia memberontak. Lebih sengit dan lebih beringas. Ia meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman tiga orang itu, bahkan mencoba untuk berdiri. Sayang, tenaganya tetap tak bisa menandingi kekuatan tiga orang pria bertubuh besar itu.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" jerit Rangga putus asa ketika ia melihat salah satu dari pria itu mulai membuka retsleting celananya. Gerakan tersebut mulai diikuti oleh dua orang lainnya. "Aku tidak mau! Lepaskan aku!"
"Diam saja kau! Lebih baik gunakan mulutmu itu untuk hal yang lebih berguna!" bentak pria yang berada di depan Rangga, masih mencengkeram rambut Rangga dengan kasar. Tanpa basa-basi, ia langsung mengarahkan kepala Rangga ke selangkangannya, dimana batang kejantanannya berada sejurus dengan mulut Rangga. Karena gerakan yang begitu tiba-tiba, Rangga tak sempat menutup mulutnya, tak sempat menghalangi.
"Bagus. Ayo. Tunjukan padaku kalau mulutmu itu tidak hanya pintar untuk menjerit kesakitan, bocah."
Tak sanggup berbuat apa-apa, Rangga hanya bisa diam diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya ia menarik kepalanya, menjauh dari laki-laki ini. Menjauh sejauh mungkin. Sayangnya, tangan kekar laki-laki ini masih berada di kepalanya. Ia bahkan menekan kepala Rangga lebih dalam.
Selama mulut Rangga disibukkan, dua orang lainnya mulai mengambil alih bagian belakang. Sama brutal dan kasarnya dengan pria yang telah mencekoki Rangga secara paksa, mereka memasukkan kenjatanan mereka tanpa persiapan apapun ke rektum Rangga, membuatnya menjerit kesakitan sampai meneteskan air mata. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus menembus liang duburnya.
Ingin lari, tapi tak sanggup Rangga lari. Kemana memangnya ia ingin lari? Semua pintu telah mereka kunci. Ia berada di ruang bawah tanah, dimana suara jeritannya yang paling keras saja tak mungkin kedengaran hingga atas.
Di tengah kejadian tersebut, Rangga melirik ayahnya yang masih berdiri mematung di sudut ruangan. Tangannya masih terlipat di depan dada, sama persis dengan posisi sebelum ia diperkosa seperti itu. Wajahnya masih memancarkan kedinginan yang sama. Kebencian.
Sebegitu bencinya, kah, ia sampai tak ingin menolong darah dagingnya sendiri?
Sebegitu memalukannya dirinya sampai-sampai tak layak untuk diperjuangankan? Tak layak untuk ditolong?
'Tolong aku... Kumohon, tolong aku...' jerit Rangga pelan dalam hati.
'Tolong aku, Willem...'
A/N : Selesai. Silakan buka mata lagi, kawan-kawin. Hehehe.
Seorang pria berambut pirang tampak duduk di sebuah taman yang luas. Secangkir teh beserta kue-kue dan kudapan ringan tertata rapi di atas mejanya, siap untuk disantap. Teko teh dari keramik tampak tergenggam di tangannya yang sibuk menuang cairan cokelat mengkilap itu ke dalam cangkir teh. Satu, dua, dan tiga sendok gula ia tuangkan ke dalam cangkir sebelum ia aduk dan minum. Sebuah desahan napas penuh kenikmatan terdengar keluar dari mulutnya.
Sang pemuda beralis tebal itu, Arthur Kirkland, tersenyum puas sambil menikmati pemandangan yang terhampar indah di depannya.
"Sayang, kau sudah tak bisa menikmati pemandangan ini lagi, Alfred." bisiknya lirih ketika menyebutkan nama kekasihnya yang telah tiada. "Sayang sekali kau tak bisa menikmati afternoon tea bersama denganku yang selalu mati kebosanan mendengar celotehanmu tentang burger."
Hembusan angin sepoi-sepoi hanya menjadi balasan dari perkataan Arthur.
Sang Il Capitano kembali mendesah. Kali ini terdengar lebih sedih dari sebelumnya.
Arthur meletakkan cangkir teh yang ia pegang sebelumnya dan kembali memandang sendu taman indah di sekitarnya. "Tapi, tenang saja. Aku akan membalaskan kematianmu, Alfred. Aku bahkan sudah memulainya dari Brighella. Aku yakin saat ini ia pasti sedang kesakitan, tersiksa, dan sangat menderita. Kau tahu? Aku berhasil melacak dimana ayahnya berada. Ayahnya yang telah bertahun-tahun menyimpan dendam padanya. Ya. Aku menemukannya, dan aku beritahu ia dimana bisa menemukan Brighella. Beruntung Il Dottore meminta Brighella, si bodoh itu, untuk melaporkan tiap misinya yang diberikan oleh kepolisian kepadaku. Terlalu mudah, sampai aku ingin tertawa dibuatnya."
Arthur tertawa pelan sambil mengambil sebuah kue cokelat yang tersaji pada nampan dan memakannya. "Ironisnya, ia adalah anak buah Scaramuccia, salah satu pembela Brighella. Haha. Dunia itu sempit, ya, Alfred?" Ia kembali menjulurkan tangannya dan mengambil kue yang sama. "Ironis..."
Kembali ia terdiam dalam kesunyian, menatap pilu bunga-bunga yang mekar. "Sayang kau tak ada disini, Alfred. Kalau kau disini, mungkin kita bisa menikmati pemandangan indah ini sambil mendengarkan jerit kesakitan Brighella sekarang. Menikmati apa saja yang mereka lakukan pada tubuh Brighella. Hmh."
Sang Il Capitano kembali mengambil cangkir tehnya dan menyeruput sedikit demi sedikit hingga habis.
"Kuberikan padamu hadiah, Arlecchino. Jeritan kesakitan, luka mental dan juga fisik Brighella untukmu di alam baka. Mari kita doakan semoga Brighella akan melakukan tindakan bodoh dan gegabah setelah ini.
"Tindakan bodoh yang akan membuat topengnya sebagai anak baik-baik terbongkar. Mati, kalau perlu."
Senyum puas tersungging di bibir Il Capitano. Puas, atas rencana jahatnya yang mulai berjalan perlahan-lahan. Sebuah rencana awal untuk melenyapkan Brighella. Selamanya.
To Be Continued
A/N : Oke. Ini update terakhir sebelom saya beneran mau hiatus selama desember. Tangan gatel pengen bikin ini. Maaf, kalo ada typo. Hehehe. Oh, iya. Sebenernya update ini juga pengen ngasih pengumuman, sih. Ada ide dari Raikou dan NakamaLuna buat bikin lomba fanart! Betul banget! Jadi, siapa aja yang mau bikin fanart dari fanfic ini, silakan! Buat kalian yang bikin fanart, bakal saya kasih bocoran satu karakter Commedia dell'Arte yang belom kebongkar identitasnya, dan itu terseah kalian mau nanyai siapa. Mau tau siapa itu Il Dottore, Pantalone, atau Burrattino boleh. Tapi, cuma satu—sekali lagi—satu karakter Commedia dell'Arte aja, ya. Dan kalo udah tau, jangan kasih tau yang lainnya, ya. Hehehe. Batesnya sampe akhir Desember, ya. Hehehe. Kalo mau tanya-tanya, silakan kirim PM aja kalo gak sempet nanya via review. Oh, iya. Buat kalian yang udah buat dan mau nagih jawabannya, silakan. Hehe.
Bales review anon, aaah.
Minazuki Zwei : Hello! Lemon ada disini. Tapi raep. Mau? #plak ahaha! Willem masih belom berani agresif ngadepin anak labil macem Rangga. Haha. Makasih reviewnya!
Debi : Yep. Tantemu ini tau kalo ini dirimu, nak. Iyaaa! Itu pruspa ada dikit di chapter ini. Tinggal dikit yang nganggur? Masih banyak ituuu! TTATT bokapnya Rangga bukan nation, pokoknya. Silakan berimajinasi sendiri. Hahah. Makasih reviewnya, pon! Oh, iya. Maaf kalo raep disini gak sesuai harapan dirimu yang udah begadang nungguin. Hahaa.
Awesome : Il Dottore Australia? Hmm... Liat aja nanti. Hehehe. Makasih reviewnya!
HetaLover : Ahaha. Itu udah lama, mungkin. Sering dipake di jalanan sore. Hohoho. IndoMalay dikurangin dikit. Eh, tapi ada sedikit hint, tuh, di atas. Hahah. Makasih reviewnya. Dan maaf, kalo lemonnya ancur seancur-ancurnya...
Sip. Dan saya bakal kembali menggalau sama denah...
