Sembilu Terindah

Chapter 10

Chara milik MK.

Pair: Sasunaru, sedikit Sasusaku

Genre: mpreg, yaoi, hurt, romantis.

Rate:M

Warning: bahasa berantakan, typo bertebaran dapat menyebabkan pusing dan mual. Jika sakit berlanjut datang ke Apotek terdekat :D

Selamat membaca ~~

Kedua Uchiha ini terdiam, mereka melihat keluarga Uchimaki yang hilang di tikungan. Apalagi panggilan dari si sulung Uchimaki, membuat mereka terkejut. Tetapi ada rasa hangat yang menjalar di dalam tubuh mereka.

"Sasuke, bisa kau jelaskan maksud semua ini?" tanya Fugaku yang menoleh ke arah anak bungsunya. Tapi apa? Sasuke masih terdiam, ia mematung seraya memandang perginya Naruto dan kedua anaknya.

Terpancar jelas penyesalan di kedua mata Sasuke, Fugaku mengerti itu! Ia mengepuk pundak Sasuke, berniat menguatkan hati anak bungsunya. Tapi usaha Fugaku gagal, tanpa disadari Sasuke menintihkan air matanya. Refleks ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Kenapa dirinya lemah jika menyangkut dengan Naruto? Ingin rasanya ia memeluk mantan kekasihnya, dan minta maaf atas kesalahannya. Tidak akan semudah itu, Sasuke! Masih ada Hikaru, yang harus kau luluhkan dulu.

Fugaku memandang anak bungsunya yang rapuh. Tradisi dan Clan, rasanya ia ingin juga menentang itu. Tapi sudah terlambat, ia sudah kehilangan orang yang dicintainya. Setidaknya ia tidak seperti Sasuke, bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Tunggu tanggal mainnya Fugaku! ( Author tertawa evil )

"Mereka anakku Tou-chan... Aku meninggalkan mereka... Coba saja, aku mempertahankan Naru. Akan hidup bahagia dengan mereka," ucap Sasuke seraya merundukan kepalanya. Sungguh bahagia dia, bila yang diucapkannya terjadi. Tapi itu cuma ilusi semata. Nasi sudah menjadi bubur, kebahagiaannya kandas seusai ia melepaskan si blonde.

"Sasuke, kamu juga bisa bahagia dengan Sakura!"

"Bagian mana yang disebut bahagia? Keturunan yang diagungkan Clan Uchiha? Mana? Sampai sekarang, kami belum memilikinya. Bahkan sudah 5 tahun Tou-chan!"

"Mungkin seben-"

"Jika aku dengan Naruto sudah punya keturunan Tou-chan. Bahkan langsung dua sekaligus, hiks!" Sial! Setiap ia mengingat Naruto membuatnya rapuh seperti ini. Sasuke menghapus kasar air matanya, ia mencoba untuk tenang karena ingat. Uchiha tidak boleh menunjukkan ekspresinya. Biarkan ia ooc untuk sekarang ini.

"Jangan mempermalukan Uchiha, anak muda!" Fugaku mengacak rambut raven Sasuke. Tou-chan 2 anak ini, mencoba menenangkan anak bungsunya. Ternyata berhasil, Sasuke sudah mulai baikan.

"Tou-chan, juga pernah seperti kamu Sasuke."

Refleks Sasuke menoleh ke arah Fugaku, sepertinya Tou-channya mau cerita soal masa lalunya. Apakah kelam seperti dirinya?

"Ceritakan Tou-chan?"

"Hn, dulu Tou-chan juga pacaran dengan seorang pria. Ta-"

"Apa?" Sasuke terkejut mendengar perkataan Tou-channya. Bagaimana tidak? Orang yang ikut ambil dalam perpisahan dengan Naruto, ternyata dulu pernah seperti dirinya. Tetapi, kenapa tega memisahkan ia dengan Naruto?

"Tetapi Tou-chan putus dengan dia karena tradisi dan juga Clan. Sama sepertimu."

"Terus dimana dia sekarang, Tou-chan?"

"Tou-chan tidak tahu, kami sudah lost kontak."

"Tou-chan tidak mencoba untuk mencarinya?"

"Sudah."

"Trus?"

"Ternyata dia sudah menikah dengan seorang wanita. Hatiku sakit, Sasuke!" Fugaku meremas dadanya. Entah mengapa, dada menjadi sesak dan kenangan masa lalu terputar kembali. Ini salah! Ia harus merelakan Minato! Harus!

Apakah ada yang salah di sini? Ya, para Uchiha yang memutuskan hubungan mereka sepihak. Tapi apa? Seakan mereka bisa mengambilnya lagi. Ck, Uchiha egois. Itukah sifat mereka.

"Sekarang, Tou-chan pernah bertemu dengan dia lagi?"

Fugaku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Sasuke. Jujur, ia kangen bahkan rindu sama mantan kekasihnya dulu. Orang yang ceria dan bisa membuat dirinya keluar dari sifat aslinya. Seseorang yang ia cintai sampai sekarang.

~~ Fugaku pov~~

Mina-chan, ketika melihat Naruto. Kenapa aku selalu ingat padamu? Apa kalian berhubungan?

Mina-chan, kamu dimana? Kenapa aku nyari keberadaanmu susah banget? Seakan di telan bumi.

Mina-chan, Apa kamu merindukanku sama seperti aku merindukanmu? Sukidayo Mina-chan.

~~ Author pov ~~

Sakura berjalan ke arah sang suami, ia langsung menghampit lengan Sasuke. Ia merasa beruntung memiliki Suami seperti si bungsu Uchiha. Setidaknya semua yang diinginkan pasti terpenuhi.

Seperti sekarang, ia memakai pakaian mewah dan perhiasan banyak yang terpajang manis di tubuhnya. "Sayang, nanti aku mau pergi dengan Ino."

"Hn, trus?"

"Aku minta uangnya, di Atmku habis. Mau belanja, boleh kan?"

"Hn, nanti ku transfer."

"Arigatou sayang," Sakura mengecup pelan pipi Sasuke. Kenapa si raven baik dengan Sakura? Tidak, ia terlalu cuek untuk mencampuri kehidupan istrinya. Tidak bisa dipungkiri, Sakura banyak menghabiskan uangnya. Dan pernah ditegur oleh Tou-channya. Tapi, bukan kah ini yang mereka mau? Menikahi Sakura, yang ternyata Sakura. Ckckck

"Daripada uangnya dihabiskan untuk belanja. Lebih baik untuk memeriksa kesuburan kalian! Tou-chan ingin menimang Cucu!"

#Deg

'Kenapa Tou-chan tiba-tiba berbicara soal cucu? Aku harus kabur nih!' batin Sakura yang mulai gelisah. Misal mereka memeriksa ke dokter bisa ketahuan dia tidak bisa memberikan momongan. Bisa langsung diceraikan.

"A-aku ada acara nanti Tou-chan... Tidak bisa ke dokter." ucap Sakura gugup, ia gelisah dan berencana untuk kabur dari sana. Dewi keberuntungan masih memihak kepada Sakura, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata Ino yang menelepon, ingatkan ia untuk berterima kasih kepada sahabatnya itu.

"Gomen ne Tou-chan, sayang. Aku harus pergi dulu," pamit Sakura seraya mengecup singkat pipi suaminya. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumahnya. Ada tidak beres di sini! Fugaku dapat melihat itu.

"Sasuke, cepat cari tau apa yang disembunyikan istrimu. Kalau tidak kau akan menyesal," ucap Fugaku seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya. Yang sebelumnya, ia menepuk pundak Sasuke. Sedangkan si raven cuma diam sejenak, memikirkan yang perkataan Tou-channya.

"Ck, sebenarnya apa yang disembunyikan Sakura? Siapa yang peduli!" gumam Sasuke yang masih tidak memedulikan istrinya itu. Setidaknya yang disembunyikan istrinya tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Ia tidak peduli. Sasuke kembali masuk ke dalam rumahnya, ia akan bersiap-siap pergi ke kantor.

== Restoran Shikibaru ==

Seusai mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, Naruto pergi ke tempat kerjanya. Sampai di sana ia tidak bergairah untuk bekerja. Pada akhirnya ia mendudukkan diri di kursi dan menyenderkan kepalanya di meja.

Kiba yang kebetulan lewat, tidak menyadari ada Naruto di sana. Namun tiba-tiba tangan Kiba ditahan seseorang, membuat si pencinta anjing itu terkejut. "Kyyyyyyaaaaaaaaaa."

"Puppy, kau kenapa?" tanya Shikamaru khawatir, ia keluar dari dapur dan berjalan menghampiri kekasihnya. Yang dilihat apa? Kiba menutup kedua matanya dengan tangan ditahan oleh Naruto.

"Mendokusai na..."

"Kenapa kelihatan lesu, Naruto?"

'Eh Naru?' batin Kiba yang membuka kedua matanya. Ternyata sahabatnya yang menahan tangannya. Wajahnya merah merona karena malu, ia histeris seperti tadi. Shikamaru yang melihat itu, segera mengecup pelan bibir Kiba. Sekalian morning kiss, dasar modus si rusa!

"Kalian kalau mesra-mesraan jangan di sini! Bikin orang iri saja."

"Makanya Nar, cari yang baru! Sekalian juga menjadi Tou-chan untuk anak-anakmu."

"Tidak akan! Cukup aku saja! Aku bisa jadi Tou-chan dan Kaa-chan mereka!"

"Tapi Naru..."

"Puppy sudah! Naruto sudah besar, ia tau mana yang baik untuk dia dan kedua anaknya."

"Ada yang lebih penting dari itu..." ucap Naruto terhenti, ia bingung akan menceritakan ini ke sahabatnya atau tidak? Pasalnya, ia sudah menyembunyikan ini 1 bulan penuh.

"Apa Naru?"

"Sasuke dan keluarganya tinggal di samping rumah-"

"Apaaa?" teriak Kiba yang terkejut saat mendengar perkataan si blonde. Kenapa orang yang menyakiti Naruto bisa tinggal di samping rumah si blonde?

"Terus anak-anakmu?"

"Hikari sangat dekat dengan Sasuke-ttebayou. Apa dia sadar kalau Sasuke adalah Tou-channya?" ucap Naruto dengan lemas. Ia menaruh kepalanya di meja seraya mengacak rambut blondenya. Tidakkah si blonde sadar, yang mengetahui bahwa Sasuke adalah Tou-channya itu bukan Hikari, tetapi Hikaru.

Shikamaru tidak butuh waktu lama untuk menangkap apa yang dibicarakan oleh kedua uke ini. Ia menjadi penasaran, seperti apa orang yang bernama Sasuke? Kenapa tega menyakiti uke manis seperti Naruto?

"Tenang Naru! Tenang!"

"Mana bisa aku tenang? Aku takut, Kiba! Aku takut para Uchiha merebut kedua anakku!"

"Tidak akan, Naru! Masih ada kami yang akan membantumu. Jangan lupakan itu!"

"Benar Naruto. Tidak akan ada yang bisa merebut kedua anakmu."

"Arigatou Kiba, Shikamaru. Aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian," ucap Naruto seraya tersenyum manis. Setidaknya senyum itu, bisa membuat kedua sahabatnya kembali lega. Karena si blonde sudah seperti dahulu kala.

"Sekarang, waktunya kalian bekerja!" ucap Shikamaru berniat untuk menyemangati kedua uke tersebut. Kebetulan ada pelanggan yang masuk ke dalam restoran mereka.

"Siap bosss!"

Mereka kembali bekerja, Naruto masuk ke dalam dapur dan menunggu permintaan makanan dari pelanggan tersebut. Kiba yang sebagai pelayan, mendatangi pelanggan itu dan menulis pesanannya. Sedangkan Shikamaru? Karena dia bos, ia melihat kedua pegawainya yang semangat melayani pelanggan. Ternyata membuka bisnis restoran, tidak salah juga.

==Taman Kanak-kanak==

Hikaru terdiam sejenak, memikirkan permainan apa yang akan ia lakukan untuk Tou-channya? Yang paling utama, ia tidak akan menyetujui sang Tou-chan mendekati Kaa-channya. Ia harus menghalangi. Fufufu ~~

"Halu-nii."

"..."

"Halllu-nii."

"..."

"Hikallluu-nii," teriak Hikari tepat di telinga Hikaru. Gaki blonde ini sebel, melihat Anikinya dipanggil tidak juga menjawab, Ia mengembungkan pipinya. "Kalau dipanggil itu, kata Kaachan halus dijawab! Jangan dinyam aja!"

"Hn," gumam Hikaru seraya mengelus telinga yang menjadi

korban melengking suara Hikari, a pun menoleh ke arah adiknya. Melihat pipi si blonde mini dikembungkan, Hikaru mencubit gemas pipi adiknya.

"Kata Kaachan, Hikali kenapa masih saja bicala cadel? Sudah besar, lho!" ejek Hikaru dengan suara cadel yang dibuat-buat. Ia sangat senang menggoda adik manisnya. Kadang ia iri dengan Hikari, kenapa memiliki rambut bahkan wajah seperti kaachannya? Kenapa ia tidak? Malah seperti Tou-channya itu.

"Biaalllinnn! Halu-nii ataall. Hikali benci!" teriak Hikari yang menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya. Bahkan, ibu guru berjalan mendekat ke arah duo Uchimaki.

"Hikari tidak boleh berbicara seperti itu. Ingat! Hikaru itu adalah Anikimu."

"Dan Hikaru, kenapa kamu itu selalu menggoda adikmu? Tidak kasihan dengan Kaachan kalian. Dia pasti pusing melihat kalian bertengkar terus!" ucap ibu guru dengan lembut seraya mengelus rambut duo Uchimaki. Dan kemudian ibu guru itu berdiri, memandang ke seluruh muridnya.

"Anak-anak... Berhubung sekarang hari ibu, kalian menulis kartu ucapan untuk Kaachan kalian, ya? Ibu guru kasih kartunya." ucap Hinata, nama ibu guru tersebut. Ia mengambil kartu ucapan dan dibagikan ke seluruh anak didiknya.

"Ingat! Buat itu adalah hadiah terindah untuk Kaa-chan kalian."

"Iya, ibu guru / gulu," teriak semua murid dengan antusias. Tidak terkecuali si raven yang terkenal dingin ini. Ia pun semangat membuat hadiah untuk Kaachannya.

Hikari mengetuk-ngetuk bibirnya dengan pensil, ia berpikir akan nulis dan gambar apa di kartu itu. Ia pun menoleh ke arah anikinya yang sibuk menulis daritadi. Ia penasaran, dong. Apa yang ditulis oleh Hikaru? Ia pun mengintip kartu anikinya.

"Tidak boleh nyontek Hikari!" ucap Hikaru yang merasakan ada yang melihat ke arahnya. Feelingnya ternyata benar, adik tersayangnya sedang melihat hasil karyanya.

"Hikali tidak menyontek, Halu-nii! Cuma mau lihat doang," ucap Hikari seraya kembali fokus ke kartu ucapan miliknya. Setelah mendapatkan ide, gaki blonde ini segera menulis dan menggambar apa yang ada di kepalanya.

Selang beberapa menit, anak-anak pada fokus ke kartu ucapan masing-masing. Hinata melihat-lihat hasil karya anak didiknya. Ternyata ada rasa tersendiri saat menjadi seorang guru. Melihat muridnya antusias dengan pelajarannya dan fokus ke tugasnya. Membuat dirinya senang.

"Yoshh! Hikali cudah celecaaii. Kaachan pasti cuka punya Hikali, daripada punya Halu-nii," pamer Hikari yang menunjukkan hasil karyanya ke arah Hikaru. Akan tetapi ia harus menelan kenyataan pahit. Bahwa, karya milik Anikinya sangat bagus. Bahkan lebih baik daripada miliknya.

Hikari mempoutkan bibirnya lucu, ia kembali menyembunyikan hasil karyanya dari sang aniki. Hikaru mendengus geli melihat aksi ngambek Hikari. "Punya Hikari bagus! Ada ramennya itu. Ramen kan kesukaan Kaachan," hibur Hikaru

"Benar itu perkataan Hikaru, Kartu ucapan Hikari bagus. Pasti Kaachan kalian suka. Apalagi kalian membuatnya dengan hati kalian. Maksudnya perasaan sayang kalian kepada Kaachan," hibur Hinata yang ikut membantu Hikaru menghibur Hikari.

Wajah Hikari yang pertama murung, tiba-tiba menjadi cerah kembali. Ia memandang hasil karyanya dengan mata berbinar. Kaachannya pasti suka dengan ini, apalagi ia membuatnya dengan perasaan sayangnya ke Kaachan.

"Kaa-chan pasti cuka hacil kalya Hikali... Xixixi ~~ kenyeenn."

Hikaru tersenyum tipis melihat adiknya kembali ceria. Ia juga melihat hasil karyanya. Ia menggambar buah jeruk, yang merupakan buah kesukaan Naruto. Tidak lupa gambar Kaachan, Hikari dan dirinya di sana. "Semoga Kaachan juga suka punyaku."

Mereka melanjutkan hasil karyanya. Menghiasi supaya terlihat lebih menarik. Tapi, sepertinya ada yang kurang kalau cuma kartu ucapan seperti ini. Tapi apa?

Kita tinggalkan duo Uchimaki, yang sedang antusias membuat kartu ucapan untuk Kaachan mereka. Kita balik ke si raven yang sibuk dengan dokumen-dokumen di kantornya.

#Tok Tok Tok

"Masuk."

"Selamat siang Uchiha-san. Istirahat nanti saya ijin untuk menjemput anakku di TK. Karena istri saya baru sakit, sehingga ia tidak bisa menjemputnya," ucap Asuma, salah satu pegawai teladan di kantornya ini.

Sasuke meletakkan kembali dokumen ke meja, ia memandang ke arah pegawainya itu. Kalau diingat-ingat, seragam anak Asuma sama seperti seragam Hikari dan Hikaru tadi.

"Hn, aku antar."

"Tapi Uchiha-san, saya tidak enak sampai diantar oleh anda."

"Tidak ada penolakan! Ayo!" ucap Sasuke tegas, ada nada memerintah disana dan tidak ada penolakan. Kesempatan! Siapa tahu ia bisa bertemu dengan kedua anaknya, kan? Anakmu? Yang benar saja Teme! Kau bahkan tidak ada di sana saat Naruto melahirkan!

Sasuke dan Asuma akhirnya menjemput anak Asuma bersama. Sesampainya mereka di sana, Asuma turun dari mobil dan mencari anaknya. Begitu pula dengan Sasuke, ia juga turun untuk mencari duo Uchimaki.

"Uke jisaaannnn!" teriak Hikari yang melihat Sasuke di pintu gerbang. Gaki blonde ini segera berlari ke arah Sasuke dan tentu saja diikuti oleh anikinya. Refleks Sasuke berjongkok dan langsung mendapatkan pelukan maut dari Hikari.

"Uke jisan, kenapa kemali? Mau menjemput Hikali dan Halu-nii, ya?" tanya Hikari dengan antusias, ia tersenyum manis ke arah Sasuke. Berbeda dengan Hikaru, ia melipat kedua tangannya di dada seraya memalingkan wajahnya.

"Iya Hikari, kalian senang?" tanya Sasuke seraya tersenyum. Senyum yang jarang ia perlihatkan, bahkan Asuma terkejut melihat senyum hangat Sasuke.

"Akhirnya kau mendapatkan anak yang didambakan Uchiha, Sasuke. Selamat adikku" gumam Itachi dari kejauhan, ia tersenyum akhirnya adiknya bisa tersenyum hangat seperti itu. Ternyata sudah ada yang mencairkan hati beku adiknya.

"Tou-chan, ayo pulang!" ucap anaknya Itachi seraya menarik-narik ujung baju Tou-channya. Anak Itachi menoleh ke arah yang dilihat Tou-channya. Ternyata Hikaru dan Hikari. Teman sekelasnya yang membuat ia penasaran. Bagaimana tidak? Mereka kembar, tapi kenapa sifat mereka bertolak belakang?

"Yuk kita pulang, sebelum Kaachanmu mengamuk!"

"Hahaha... Mau aku aduin atau Tou-chan bilang sendiri?"

"Tou-chan bilang sendiri saja," ucap itachi yang merinding membayangkan mendapat amukan dari istri tersayangnya.

"Yuk pulang," Itachi menggenggam tangan anaknya dan berjalan ke mobil mereka. Mereka pun melajukan mobil melewati Sasuke dan duo Uchimaki.

"Uke jisan, kami bunyat kaltu ucapan untuk Kaachan. Cakalang kan hali Kaachan." ucap Hikari dengan bahasa cadelnya. Ia menunjukkan hasil karyanya. Sasuke mengacak rambut blonde Hikari. "Anak pintar."

"Tapi sepertinya kalau cuma kartu kurang jisan. Kami ingin memberi kejutan kepada Kaachan," ucap Hikaru yang menekan egonya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk sang Kaachan. Minta bantuan Tou-channya tidak masalah, kan?

Sasuke merasakan lega saat Hikaru tidak lagi dingin kepada dirinya. Ia mengelus rambut raven Hikaru. " Menurut kalian, apa yang disukai Kaachan kalian?"

"Uchiha-san," panggil Asuma yang merusak momen ayah dan anak ini. Seolah mengerti maksud pegawainya, Sasuke berdiri dan menyerahkan kunci mobilnya ke Asuma. "Pakai ini, antar anakmu pulang terus balik kerja. Tenang saja, aku akan naik taksi nanti."

"Haik, Arigatou Uchiha-san. Kami permisi." Asuma dan anaknya pergi naik mobil Sasuke. Ia meruntuki bosnya dalam hati. 'Uchiha-san kan juga harus bekerja, ehh malah bolos' batin Asuma.

"Kaa-chan cuka lamennn, kita belikan itu saja?"

"Itu kamu yang ingin makan, cari yang lain!"

"Halu-nii nyebenyinnnn."

"Hn."

"Sudah-sudah. Jangan bertengkar! Bagaimana kalau kita memberikan Kaachan kalian boneka? Jarang kan dia mendapatkan boneka?"

"Iya, kami cetujuuu!" teriak Hikari yang menyetujui ide Sasuke. Hikaru cuma menganggukkan kepalanya seolah juga menyetujui perkataan Tou-channya.

Sesampainya mereka di toko boneka, untung saja dekat dengan sekolah mereka. Sasuke berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan kedua anaknya. "Sekarang, kalian cari boneka yang menurut kalian Naruto suka."

"Siap Uke jisan... Ciappp," ucap Hikari dan Hikaru bersamaan. Mereka pun berpencar untuk mencari boneka yang menurut mereka kaachannya suka. Sasuke juga melihat-lihat boneka di sana. Matanya tertuju ke boneka katak yang berwarna hijau. Entah mengapa, ia teringat katak hijau peliharaan Naruto dulu.

Akhirnya Sasuke mengambil boneka katak tersebut. Selang beberapa menit, Hikaru dan Hikari datang dengan membawa boneka masing-masing. Si sulung membawa boneka tomat, ia berharap kaachannya suka. Sedangkan si bungsu, mengambil boneka rubah ekor sembilan. Ia berharap kaachannya juga suka.

Sasuke yang melihat kedua anaknya hanya bisa menghelakan nafasnya. Anak-anak tetaplah anak-anak, walaupun bersikap seolah orang dewasa. Lihatlah mereka, seperti sangat menyayangi boneka yang mereka ambil. "Yakin boneka tomat dan kitsune akan dikasih ke Kaachan kalian? Atau mau buat kalian?"

Mereka bingung akan pilihan yang diberikan oleh Sasuke. Mereka memandang boneka yang dipeluknya dan juga Sasuke bergantian. Mereka bimbang mau memilih yang mana. "Buat kami, tapi Kaachan?" ucap duo Uchimaki dengan suara mengecil.

Sasuke gemas melihat kedua anaknya, ia mengelus rambut yang berbeda warna itu. Kenapa ia senang sekali saat bersama Hikari dan Hikaru? Serasa hatinya menjadi hangat. "Kalian kasih saja Kaachan, boneka katak. Pasti dia suka, percaya deh sama jisan."

Mereka menggangguk menjawab perkataan Sasuke. Akhirnya mereka ke tempat kerja Kaachan, tidak cuma dengan kartu ucapan. Mereka semangat untuk bertemu dengan kaachannya. Sesampailah mereka di depan restoran Shikibaru.

~~ Sasuke pov~~

Ternyata ini tempat kerjamu, dobe.

Akhirnya tahu juga! Tenang Naru, besok kapan-kapan aku akan mampir. Tapi tidak untuk sekarang.

Aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku lagi, Naru.

Dan kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita.

Bahkan aku siap untuk kabur seperti baka Anikiku.

Naru, daisuki dobe.

~~ Author pov ~~

"Maafkan jisan ya? Jisan ada rapat sekarang. Ini hadiah untuk Kaachan kalian. Titip salam ya untuk Kaa-chan kalian," ucap Sasuke yang meruntuki rapat penting siang hari seperti ini. Coba kalau tidak ada rapat, ia bisa pdkt lagi dengan Naruto.

"Iya Uke jisan, Aligatou kalna mau mengantalkan kami. Jaa matta ne jisan," ucap Hikari seraya menerima hadiah yang diberikan oleh Sasuke. Gaki blonde manis ini langsung masuk ke dalamrestoran tersebut.

"Arigatou untuk hari ini, Tou-chan."

"Douita Hikaru, Tou-chan senang kau mau meneri-"

"Bukankah kalau ingin mendapatkan sesuatu harus bersikap lembut, ya? Tapi kalau tidak? Ya seperti Hikaru biasanya."

"Hikaru tidak berencana memisahkan Tou-chan sama Kaachanmu, kan?"

"Itu ide yang bagus! Terima kasih rencananya, Uke jisan," ucap Hikaru yang mendayu, tak lupa seringai terpantri di wajahnya.

"Oii, bukan itu maksudnya!"

"Jaa matta ne, Touchan~. Taklukkan Hikaru sebelum mendekati Kaachan."

Hikaru pun masuk ke dalam restoran meninggalkan Sasuke yang terkejut melihat anak sulungnya. Apa yang akan di rencanakan mininya itu? Kenapa bulu kuduknya berdiri. Ia harus berhati-hati dengan Hikaru. Harus!

Sasuke pergi dari tempat itu dengan naik taksi. Ia berencana besok akan datang ke sini lagi. Sekalian untuk mengincipi masakan Naruto. Kenapa ia bisa tau? Tentu saja dari Hikari yang cerita tadi.

Hikari dan Hikaru masuk ke dalam restoran. Untung saja baru sepi, cuma ada dua atau tiga pelanggan, itu pun sudah dilayani. Duo Uchimaki langsung masuk ke dalam dapur, Kiba yang melihat anak Naruto masuk, akhirnya mengejarnya. Kaachan dan anak sama saja, seenaknya sendiri.

"Kaachaaannn!" teriak Hikari dan Hikaru bersamaan, lebih tepatnya Hikaru. Pasalnya Hikaru cuma bergumam. Naruto yang lagi berbicara dengan Shikamaru akhirnya menoleh ke arah kedua anaknya. Naruto berjongkok untuk menyamakan tinggi anaknya.

"Kalian kemana saja? Lihat sekarang jam berapa, Hn? Jangan buat Kaachan khawa-"

#Cup

Perkataan Naruto terhenti saat kedua anaknya mengecup pipi chubbynya. Kedua anaknya seakan tau, cara membuat Kaachan mereka berhenti mengomelinya.

"Selamat harli Kaa-chan, ini hadiah untuk Kaa-chan kami terlcayang," ucap mereka serempak seraya menyerahkan bingkisan kado ke arah Naruto. Tanpa sadar si blonde meneteskan air matanya terharu, ia mendapatkan kejutan dari kedua anaknya.

Kiba yang baru saja masuk pun terasa tersentuh batinnya. Ia tersenyum melihat pemandangan ibu dan anak ini. Shikamaru yang melihat Kiba, akhir mendekat dan memeluk pinggang kekasihnya. Si pencinta anjing pun menyenderkan kepalanya di bahu Shikamaru.

"Arigatou sayang."

"Hn, janji Kaachan, ingat? Tidak boleh nangis!" ucap Hikaru seraya menghapus air mata Naruto dengan ibu jarinya. Si blonde tersenyum dan segera mengecup singkat kening kedua anaknya.

"Ini air mata bahagia Hikaru."

"Kaachan, cepat buka hadiahnya!"

"Iya Hikari," ucap Naruto seraya membuka hadiah yang diterimanya. Ia terkejut mendapati hadiah boneka katak yang berwarna hijau. Seperti kataknya dulu, yang ia rawat di rumah bersama Sasuke. Apa Sasuke yang memberikannya? Tidak mungkinlah.

Tidakkah si blonde tahu bahwa tas sekolah Hikaru sedikit mengembung dan tas sekolah Hikari keluar ekor bonekanya. Pasti yang ngajak seseorang, kan?

Naruto mengambil kartu ucapan, yang ada di boneka kataknya. Sungguh, ia melihat kartu ucapan ini, ia sangat terharu. Ia sangat beruntung memiliki dua malaikat manis yang menemani harinya.

"Arigatou Hikaru dan Hikari, Kaachan suka dengan hadiah kalian. Dan terimakasih telah datang di hidup Kaachan," ucap Naruto yang mencium pipi chubby Hikaru dan Hikari bergantian. Dan kemudian ia memeluk kedua anaknya.

"Kami sayang Kaachan" ucap duo Uchimaki bersama, seraya mengecup pipi chubby kaachannya.

'Arigatou Tou-chan, setidaknya Tou-chan hari ini bisa sedikit meluluhkan hati Hikaru, tetapi kalau membuat Kaachan nangis seperti kemarin! Tunggu saja permainan Hikaru yang sebenarnya!"

.

.

.

.

.

.

.

Tbc (Tampai Beltemu Cembali)

Gomen ne telat update, soalnya sibuk di duta dan baru sakit kemarin.

Selamat hari ibu (^-^)/ telat!

Kalau ada Typo, gomen ne. blm sempat di edit. Selesai nulis langsung publik soalnya.

Minta usul dong, nama untuk anaknya itakyuu. Soalnya bingung, ini saja aku tayangin adegan keluarga itakyuu cuma dikit. Sempilan, bsk akan banyak kok^^

Sekali lagi gomen minna-san~~

jangan bosen minna-san ^^

Arigatou oniichan telah jadi editorku :D dan arigatou minna-san sudah membaca, ditunggu komennya dan mohon votenya ^^