Stella menatap lurus pantulan wajahnya di kaca kamarnya. Hari ini dia pulang ke rumah orangtuanya yang berada disalah satu pulau tersendiri. Rumah super mewah dan satu-satunya yang berdiri di tengah pulau. Tempat pelarian paling aman untuknya.
Bathrobe hitam yang membungkus tubuhnya turun perlahan menunjukan sisi bahunya dan tato itu muncul tanpa permisi. Rambutnya yang basah tidak membantu sama sekali dalam menyembunyikan nama di bahunya itu.
Stella tersenyum sinis. Saat nama itu muncul di kepalanya hanya ada rasa marah dan kehilangan besar yang dirasa. Stella merasa kekosongan yang benar-benar nyata dan hanya dia yang bisa merasakan seperti apa rasanya kehilangan orang itu.
Saat sibuk memperhatikan pantulan wajahnya di kaca, seseorang mengetuk pintu kamarnya, Stella berjalan malas dan memasang wajah datar dan angkuhnya yang selalu di tunjukannya di depan umum. Salah satu pelayan rumahnya tersenyum dan membungkuk sopan pada Stella.
"Apa?" Stella berdiri bersandar di samping pintu.
"Bunga untuk anda, Nona Princess"
Stella menaikkan alisnya. "Dari siapa? Aku yakin ini bukan dari Papa, mana mungkin Papa membelikanku hal tidak berguna seperti ini" Stella menatap lurus pada pelayannya.
"Tamu tuan besar yang memberikannya, Nona"
"Siapa?" Stella mengambil bunga dari tangan pelayannya. "Papa sudah tau soal ini?"
"Maaf, saya kurang tau, Nona. Tapi di dalam bunga itu ada memonya. Dan tuan besar sudah tau soal bunga ini"
"Oh, ya sudah. Terimakasih. Oh, ya, antarkan jus sayur ke kamarku" perintah Stella dan menutup pintu kamarnya.
Stella membuang bunga itu kedalam tong sampah begitu saja. Bunga itu terpental sedikit dan memo yang berada di dalam bunga itu tikut terpental dan terjatuh kelantai kamarnya. Sebuah kertas kecil berwarna merah muda yang sangat kontras dengan warna lantai kamar Stella yang berwarna hitam.
Stella melirik sekilas dan mulai tertarik. Rasa penasaran membuat Stella rela membungkukkan badannya hanya untuk mengambil kertas berwarna merah muda itu dari lantai.
'uangmu tidak cukup untuk perbaikan mobilku' – BYG.
Stella mendengus kesal. "Apa-apaan si brengsek ini" geram Stella.
Stella akhirnya mengingat kalau beberapa hari yang lalu dia menabrak seseorang . Seorang namja berkaca mata hitam yang bertanya dimana otaknya.
"Si brengsek ini akan tau dengan siapa dia berurusan! Kalau perlu aku akan membelikan tujuh mobil baru seperti miliknya itu!" Stella berjalan bergegas, menyambar card berwarna hitam di atas tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar dengan rasa kesal yang menumpuk.
.
.
.
KOI NO YOKAN- 2
.
.
.
Ini pertama kalinya Jimin muncul di kantor Yoongi semenjak menikah dengan Yoongi dan memiliki anak. Hari ini Yoongi meminta Jimin ke kantornya bersama Mino karena mereka akan pergi ke dokter untuk cek bekas oprasi Jimin. Kalau Yoongi harus pulang ke rumah dulu, akan sangat merepotkan, mereka bisa-bisa tidak tepat waktu karena jalanan Seoul di sore hari sudah pasti macet total.
Jimin masih berdiri di depan pintu lobi dengan Mino di dalam gendongannya. Seorang bodyguard berdiri di belakang Jimin membawakan sebuah tas dengan aksen lucu khas anak-anak yang cukup besar. Jangan Tanya apa isinya, isinya hanya barang-barang milik Mino.
Sekertaris Yoongi sudah menunggu di lobi dan kedatangan Jimin jelas menyedot perhatian seluruh karyawan yang berada di lobi, mereka berbisik-bisik satu sama lain untuk memastikan apakah itu benar-benar Park Jimin.
"Sebelah sini, tuan" Sekertaris Yoongi mengarahkan Jimin pada lift VIP yang hanya bisa dipakai tamu Yoongi dan Yoongi sendiri. Jimin terseyum ramah dan mengangguk kecil mengikuti jalan sekertaris Yoongi.
"Itu Park Jimin?" seorang gadis dengan rambut yang di gulung rapi menatap Jimin dengan antusias dan sesekali mencuri pandang pada sesuatu yang ada di pelukan Jimin. Mino.
Jimin melirik saat namanya disebut dan tersenyum ramah. Pintu lift terbuka dan Jimin buru-buru masuk bersama sekertaris Yoongi dan seorang bodyguard.
"Kecilkan suaramu, bodoh" karyawan Yoongi yang berdiri di samping gadis dengan rambut di gulung itu menyiku tangannya. "Kau tau, aku kasihan padanya. Yang ku dengar, pernikahannya dengan bos kita karena di paksa dan mereka sering cekcok di rumah. Ada juga yang bilang karena Park Jimin sudah hamil, dia memaksa boss kita untuk bertanggung jawab. Kau tau, mau sekaya atau setenar apapun Park Jimin itu, tetap saja dia punya sisi kelam tersendiri. Dia sangat pintar menjaring lelaki kaya raya seperti boss."
"Kau tau darimana soal itu?" gadis bername tag Luda itu menatap tak percaya pada temannya.
"Kabarnya sudah banyak di internet. Fans Park Jimin sendiri yang bilang begitu. Setiap ada fans yang menangkap mereka jalan berdua, fansnya selalu bilang kalau boss kita terlihat tidak senang setiap bersama Park Jimin. Wajahnya selalu datar dan dingin. Aku kasihan padanya"
"Jangan mengarang cerita! Lalu, kenapa sekarang Park Jimin datang ke kantor kita? Selama ini dia tidak pernah mucul"
"Tentu saja untuk pencitraan, kau tidak lihat banyak kamera diluar sana" gadis itu menunjuk pada arah depan kaca lobi yang memang terlihat cukup ramai dengan beberapa orang memegang kamera.
" Kalau memang benar Park Jimin tidak bahagia, aku kasihan sekali padanya. Lagian,dari semua pengusaha sukses di Seoul, kenapa dia memilih boss galak seperti Min Yoongi, sih?"
.
.
.
Bunyi klik terdengar tanda pintu sudah tidak terkunci. Bodyguard Jimin berjalan kedepan dan mendorong pintu ruangan Yoongi dan mempersilahkan Jimin dan Mino masuk. Bodyguar itu meletakkan tas milik Mino diatas meja tamu dan membungkuk untuk permisi keluar meninggalkan Jimin dan Yoongi.
"Appa…" sapa Jimin ceria dan berjalan pelan menuju Yoongi.
Yoongi berdiri dan tersenyum kecil, berjalan kearah Jimin dan Mino, kemudian mengecup dahi Jimin dan Mino yang masih tertidur di gendongan Jimin.
"Bagaimana Mino hari ini?" Yoongi merangkul bahu Jimin dan mendudukan Jimin di kursi kerjanya.
"Tadi dia bangun cukup lama. Mungkin ada sampai satu jam, dia hanya bermain sendiri di tempat tidur" Jimin terkekeh.
"Sayang sekali aku tidak bisa pulang saat makan siang tadi" sesal Yoongi. Tangannya bergerak mengelus pipi Mino yang sudah merasa terganggu dengan elusan di pipinya. Anaknya bergerak gelisah dan membuka matanya.
"Bagaimana luka di tubuhmu, hyung? Masih sering sakit?" Jimin mengelus dada sampai perut Yoongi untuk memastikan tubuh Yoongi baik-baik saja.
"Tidak sakit lagi. Jangan khawatir" Yoongi menggusak rambut Jimin dan mulai sibuk bermain dengan Mino yang sudah bangun. Jarang sekali anaknya ini membuka mata hanya untuk bermain. Biasanya Mino hanya bangun kalau dia haus atau popoknya basah.
Jimin menatap lurus pada Yoongi, rasanya cukup ajaib melihat Yoongi yang kemarin masih babak belur parah dan hanya dalam beberapa hari, Yoongi sudah sembuh seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada tubuhnya.
"Kenapa menatapku begitu?" Yoongi memutar sedikit kursi kerjanya agar berhadapan tepat pada Jimin. Matanya menatap lurus pada Jimin yang masih saja menatap matanya.
"Hyung, kau manusia, kan?"
Yoongi tertawa. "Yah, Park Jimin, kenapa kau meragukanku sebagai manusia? Kau habis menonton film apa di rumah?"
"Aku serius, hyung" Jimin memutar bola matanya.
Yoongi menarik tangan Jimin dan meletakkannya diatas jantungnya. "Bagaimana? Masih berdetak tidak?" Yoongi terkekeh.
"Menyebalkan!" Jimin mencubit dada Yoongi main-main.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku bukan manusia, Hm?"
"Hanya takjub saja dengan masa pemulihan hyung yang sangat cepat"
"Bagus kan? Kau ingin aku sakit-sakitan terus?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Tentu saja tidak mau"
Mino bergerak dipangkuan Jimin, tangannya terangkat keatas dan terkepal, matanya melirik lurus pada Jimin dengan tatapan polos khas bayi. Jimin mengecup kepalan tangan kecil milik Mino dan terkekeh saat anaknya mengangkat satu lagi tangannya keatas dan mengarahkannya pada Yoongi yang berdiri di depan Jimin.
Bukannya mencium, Yoongi malah melakukan 'tos' kepalan tangan pada tangan kecil Mino. Jimin tertawa.
"Hyung, kau harus bekerja. Aku dan Mino akan di sofa saja." Jimin berdiri dari duduknya.
"Pekerjaanku sudah selesai" ucap Yoongi dan ikut berjalan kearah sofa.
"Benarkah? Kalau begitu hyung harus belajar sekarang" Jimin menaik turunkan alisnya.
"Belajar apa?"
"Menggendong Mino" Jimin tertawa melihat wajah panic Yoongi. "Duduk hyung" Jimin melirikkan matanya kearah sofa meminta Yoongi untuk duduk.
"Jim, aku rasa…"
"Tidak boleh nanti-nanti. Harus sekarang!" paksa Jimin.
Yoongi menelan ludahnya kasar dan menurut untuk duduk di sofa.
"Nah, tangannya" perintah Jimin agar Yoongi membuat tangannya berbentuk seperti menggendong.
Pelan-pelan Jimin membungkuk dan meletakkan tubuh kecil Mino di gendongan super kaku Yoongi. Sangkin takutnya, Yoongi tanpa sadar duduk sangat tegak. Tangannya tidak bergerak sama sekali, tetap kaku seperti robot yang dipaksa menggendong bayi.
Setelah memastikan posisi Mino nyaman, Jimin melepas tangannya dan tertawa cukup keras melihat Yoongi yang terlalu kaku.
"Jim, jangan jauh-jauh, nanti kalau Mino menggelinding bagaimana?" Yoongi berucap panic.
"Aku perlu ke toilet, hyung. Sebentar ya" pamit Jimin. Tawanya terdengar sangat lepas hingga pintu kamar mandi tertutup dari dalam.
"Mino jangan bergerak-gerak, nanti kau jatuh. Appa bisa kena marah" guman Yoongi sambil menatap lurus pada mata Mino yang hanya berkedip sesekali. Mana mungkin Mino mengerti apa yang di ucapkan Appa-nya.
Tangan kiri Yoongi yang bertugas sebagai bantalan kepala Mino mulai terasa kebas karena Yoongi yang terlalu kaku. Jimin yang dengan sengaja memperlama diri di kamar mandi benar-benar membuat Yoongi pasrah untuk dikerjai.
Saat kaki Mino bergerak terangkat ke atas, Yoongi bergerak kaku. Dia hanya bisa meningkatkan kewaspadaannya dalam menggendong Mino. Tangan kanannya yang berdungsi untuk menahan bahu Mino mulai berani mengangkat tubuh kecil anaknya untuk mendekat kearahnya. Wajahnya tertunduk untuk menempelkan hidungnya di pipi bayi-nya dan ajaibnya, bayi kecil itu membuat Yoongi ketagihan menduselkan hidungnya di pipi anaknya.
"Pantas saja Papa suka sekali menciummu. Wangi begini…" Yoongi kembali mengganggu ketentraman hidup anaknya dengan mencium pipi bayinya dengan gemas.
"Kemajuan yang sangat pesat, Appa" Jimin terkekeh dan berjalan kearah Mino dan Yoongi yang duduk di sofa. Jimin menekuk lututnya di sofa dan memeluk bahu Yoongi dari belakang, meletakkan dagunya diatas bahu Yoongi sambil melirik anaknya yang sedang menggerakkan tangannya keatas.
"Rasanya seperti punya mainan baru kan, Appa" Jimin mempererat pelukannya dibahu Yoongi, menumpukan seluruh berat badannya di punggung suaminya itu.
"Aku tidak tau kalau bayi semenyenangkan ini untuk di gendong. Dia kecil sekali…"
Jimin terkekeh lagi. "Kalau bayi besar yang sedang Appa gendong di belakang, bagaimana?" goda Jimin.
Yoongi melirik kesamping dan mengecup pipi Jimin sekilas. "Jangan menggodaku, Jim."
"Aku kan hanya bertanya, Appa. Bukan menggoda…." Bisik Jimin tepat di telinga Yoongi.
"Kau akan mendapatkan masalah besar nanti malam, sayang" ancam Yoongi. "Lihat Papa, Mino. Dia mulai nakal" Yoongi mengadu pada anaknya.
"Masalah seperti apa, hyung?" bisik Jimin lagi.
"Kau berani seperti ini karena kau tau aku tidak boleh menyentuhmu, kan? Licik sekali"
Jimin tertawa dan menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi. "AKu tidak licik"
"Tunggu sampai dokter Gyuri memberikan izin, aku akan mengurungmu di kamar selama satu minggu." Ancam Yoongi. "Mino, nanti kau akan Appa titipkan pada Nenek dan Kakek. Jangan protes, oke?"
Jimin tertawa lebar dan memukul pelan bahu Yoongi. Bisa-bisanya dia mengajak anaknya bernego masalah ini.
Keduanya berjalan dilobi dengan Jimin yang kembali menggendong Mino, Yoongi berjalan disamping Jimin, sementara boduguard mereka berdiri dibelakang. Keadaan lobi yang cukup ramai karena memang sudah jam pulang kantor, terlihat semakin ramai saat mereka melihat Jimin yang berjalan bersisian dengan Yoongi yang berwajah datar dan dingin.
Bisik-bisik kembali terdengar dan hanya sekali lirikan yang Yoongi layangkan, keadaan mendadak tenang dan mereka membungkuk sopan. Saat mobil yang akan mereka gunakan muncul, bodyguard mereka dengan sigap membukakan pintu, mempersilahkan Jimin lebih dulu masuk dan kemudian di susul oleh Yoongi. Pintu di tutup dan keadaan lobi mulai ramai kembali.
"Apa ku bilang, pernikahan mereka tidak bahagia" komentar salah satu karyawan Yoongi.
.
.
.
"Kami punya surat perintah penggeledahan" Changmin meletakkan surat perintah itu diatas meja kerja Namjoon yang duduk sangat tenang di kursi kerjanya.
"Atas dasar apa kalian menggeledah kantorku?" Namjoon mengambil surat diatas mejanya dan membaca sekilas kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau diduga terlibat dalam kasus pembunuhan 22 orang di gudang tempat Park Jimin di sekap" jelas Changmin. Dibelakang Changmin sudah berdiri sedikitnya empat orang bawahan yang siap untuk menggeledah kantor Namjoon.
"Kalian juga berniat menggeledah rumahku?" Namjoon menaikkan alisnya tak percaya dan terkekeh. Dia terlalu tenang dan Changmin kesulitan menangkap emosi apapun di wajah Namjoon.
"Kami akan memeriksa keseluruhan. Aku harap kau bisa bersikap koperatif dalam pemeriksaan ini" ucap Changmin.
"Lakukan saja. Hanya pastikan kau tidak menimbukan suara yang bisa mengganggu konsentrasiku selama bekerja" Namjoon menaikkan alisnya dan tersenyum remeh.
Changmin balas menatap Namjoon dan berusaha mencari emosi yang tersembunyi di wajah Namjoon dan lagi-lagi tidak ada emosi apapun disana. Yang ada hanya sikap tenang dan meremehkan.
"Kami akan memeriksanya sekarang" Changmin berdiri dan mulai memeriksa ruangan kerja Namjoon.
Nyaris satu setengah jam mereka menggeledah dan tidak ada satupun hal yang mencurigakan di ruangan Namjoon. Tiba saat meja kerja Namjoon yang diperiksa, Namjoon berjalan menuju sofa dan hanya menatap Changmin dan bawahannya yang sedang bekerja. Tidak hanya laci meja, isi computer milik Namjoon pun ikut diperiksa, tapi lagi-lagi nihil. Tidak ada yang mencurigakan. Isi computer itu hanya data dan laporan pengelolaan hotel miliknya.
"Kami sudah memerika seluruhnya. Terimakasih sudah bersikap koperatif. Kalau anda berniat ikut, kami akan kerumah anda untuk melanjutkan pemeriksaan disana" ucap Changmin.
"Aku sibuk. Kau bisa kerumahku. Disana ada pasanganku. Oh, ya, jangan membuatnya stress atau takut, dia sedang hamil. Oh, aku juga akan memantau kalian dari CCTV di rumahku."
Changmin menaikkan alisnya menatap Namjoon. Lagi-lagi Namjoon bersikap terlalu santai. Ini diluar perkiraannya. Dengan sikap Namjoon yang seperti ini membuat pekerjaannya menjadi semakin sulit.
"Kalau begitu, kami permisi" pamit Changmin.
Namjoon mengangguk dan tersenyum, mengantar tamu tidak diundang itu sampai ke lobi hotel. Namjoon kembali ke ruangannya dan tertawa kencang. "intel apanya." Ejek Namjoon.
"Bahkan Seokjin lebih jeli dari pada kalian" Namjoon terkekeh dan menurunkan lukisan kecil disamping jendela kaca besar, menekan naik paku yang bertugas menahan lukisan yang baru saja di turunkannya dan terpampanglah koleksi Namjoon yang tersembunyi. Seluruh jejak kejahatannya tersembuyi di balik dinding. Lengkap dengan senjata-senjata illegal miliknya.
"Sayang, ada polisi yang akan ke rumah kita. Jangan takut, bersikaplah yang ramah pada mereka. Aku akan pulang sekarang untuk memantau mereka" Namjoon mematikan sambungan teleponnya pada Seokjin yang hanya berlangsung beberapa detik. Tangan Namjoon bergerak mengambil laser didalam dinding dan sebuah senapan angin miliknya yang biasa dipakainya untuk bermain dengan binatang kecil dihutan.
"Karena hanya kucing yang masuk sarang, ada baiknya aku juga harus bermurah hati kali ini" Namjoon terkekeh, matanya mengelam.
.
.
.
Setelah memeriksa rumah Namjoon dan tidak menemukan apapun disana, Changmin akhirnya mucul di rumah Jimin dan Yoongi dengan alasan ingin mengetahui kronologi kejadian. Pemeriksaan terpaksa di undur karena keduanya dalam keadaan tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan saat hari kejadian itu.
Changmin agaknya cukup senang karena dia memiliki alasan untuk datang lagi kerumah mewah ini. Saat menunggu Jimin turun, mata Changmin bergerak liar untuk memindai ruang tamu Jimin. Hal pertama yang dicarinya adalah kotak kaca berisi pistol pink itu, tapi pistol itu sudah tidak ada disana. Yang ada hanya foto seorang bayi yang sedang tertidur di dalamnya.
"Lama tidak bertemu, Changmin-ssi?" Sapa Jimin.
Changmin berdiri dan membungkuk sopan. Ditangan Jimin ada seorang bayi yang terlihat tertidur.
"Selamat atas kelahiran anak kalian" ucap Changmin.
"Walaupun terdengar basa-basi, tapi, terimakasih" ucap Jimin sinis. "Silahkan duduk"
Changmin mendudukan diri didepan Jimin. Disamping Changmin ada tiga orang bawahannya yang berseragam polisi ikut membungkuk sopan pada Jimin.
"Aku sudah mendapat telepon dari kantor kalian, mereka bilang kalian ingin mengetahui kronologi kejadiannya" mulai Jimin.
"Ne. Kami butuh informasi yang detail soal kejadian disana" ucap Changmin.
"Kejadian awalnya terjadi di rumah ini, Changmin-ssi. Kenapa kau hanya penasaran kejadian yang terjadi di gudang?" Jimin menatap lurus pada Changmin.
Changmin terdiam dan balas menatap pada Jimin. "Maksudku, kejadian dari awal"
Jimin tertawa kecil. "Baiklah, tolong dengarkan dengan baik dan ketik dengan benar. Sebenarnya ada hal yang membuatku penasaran, kenapa kalian meminta melakukan introgasi di rumahku? Kenapa tidak memintaku datang ke kantor kalian saja?" Jimin menatap lurus pada seorang polisi yang memangku laptop dan berakhir menatap Changmin sinis.
"Ini perintah dari kantor" jawab Changmin.
"Sepertinya aku menjadi warga Negara yang special" Jimin terkekeh sinis. "Kalian kesini bukan untuk memata-matai rumahku, kan?"
Changmin terdiam.
"Ah, sepertinya aku banyak bicara. Kita mulai saja" Jimin berucap santai dan mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya. Tidak banyak mereka dapat, karena Jimin memang tidak sadarkan diri saat di bawa dari rumah dan dia baru siuman saat sudah di rumah sakit.
Tepat saat Jimin selesai memberi keterangan, Yoongi muncul di depan pintu. Jimin tersenyum menang saat melihat tubuh Changmin yang tegak kaku.
"Itu suamiku" ucap Jimin dan berdiri menyambut Yoongi.
"Aku pikir kalian akan mengintrogasi Jimin di kantor kalian, ternyata di rumah kami, ya." ucap Yoongi dan merangkul pinggang Jimin. "Mencari sesuatu, Changmin-ssi?" Tanya Yoongi tajam.
"Maaf?" Tanya Changmin sambil menatap Yoongi. Tidak beda jauh dengan Namjoon. Pria pucat ini sangat tenang. Bedanya, Yoongi adalah orang yang sinis dengan kesan arogan yang kental.
Pertemuan pertama dengan kesan yang buruk.
"Bisa langsung saja? Kalian juga butuh informasi dariku kan?" Yoongi mendudukan diri di sofa tempat Jimin duduk. "Sayang, naik keatas." Perintah Yoongi pada Jimin.
"Tapi, hyung?"
"Naik sekarang" perintah Yoongi tak terbantah.
Jimin menatap lama pada Yoongi, berharap namja pucat itu merubah pikirannya dan meminta Jimin untuk tetap tinggal, tapi Yoongi tetap dengan keputusannya. Jimin berlalu bersama Mino menuju kamar mereka.
"Apa informasi yang kalian butuhkan?" mulai Yoongi.
"Apa anda mengenal orang yang menculik Jimin-ssi?" Tanya Changmin.
"Tentu. Dia orang yang terobsesi dengan Jimin-ku" jawab Yoongi santai.
"Apa kau terlibat dalam pembunuhan sadis itu?"
"Aku babak belur di pukuli oleh orang-orang-nya. Bagaimana bisa aku mencabik-cabik tubuhnya?" Yoongi tidak memutuskan kontak mata dengan Changmin. Bawahan Changmin yang berada disana mulai merasa terintimidasi. Ada aura berbahaya yang keluar dari namja pucat ini meskipun dia hanya duduk tenang di sofa.
"Darimana kau tahu tubuhnya di cabik?" Changmin bertanya lagi.
"Aku lihat foto-nya. Itu menjijikan" Yoongi terkekeh.
"Apa yang kau lakukan selama disana?"
"Tidak ada. Aku hanya tidur dilantai tanpa bergerak karena aku dipukuli puluhan orang"
"Lalu, bagaimana Jimin bisa bebas? Dan bagaimana bisa puluhan orang itu mati begitu saja?" kejar CHangmin.
"Kau bicara seolah kau sedang menuduhku yang melakukannya" Yoongi terkekeh. "Mana aku tau" Yoongi memutar bola matanya.
"Kau ada disana, mana mungkin kau tidak tau"
"Itu tugasmu sebagai penyelidik. Aku ini korban"
"Orang-orangmu pasti membantumu, iya kan?" kejar Changmin.
"Orang apa yang kau maksud?" Tanya Yoongi tenang.
"Orang yang bekerja untukmu di bawah tanah" Changmin terkuasai emosi dengan sikap Yoongi yang terlihat menyebalkan, tanpa sadar dia membuka fakta kalau dia sudah tau banyak soal Yoongi. Yoongi menyeringai.
"Apa maksud ucapanmu, Changmin-ssi? Kau menuduhku jadi bagian dari bisnis illegal bawah tanah? Bagaimana bisa kau menuduhku yang bukan-bukan seperti itu? Apa kau pernah terlibat? Kasus apa yang kau sembunyikan? Penyelundupan obat-obatan terlarang?" Yoongi tersenyum remeh.
Changmin terdiam. Apa yang Yoongi ucapkan adalah fakta.
"Itu diluar konteks. Kembali kemasalah di gudang. Dan mana mungkin aku terlibat hal-hal seperti itu. Kau justru makin mencurigakan karena tau hal seperti itu" ucap Changmin.
Yoongi tertawa sinis. "Sepertinya kita sama. Sama busuknya" ejek Yoongi.
Changmin terdiam lagi. Dia sudah tidak bisa bersembunyi karena Yoongi jelas tau keterlibatannya di bisnis illegal. "Cukup keterangannya. Kami akan datang lagi kalau kami memerlukan informasi tambahan" Changmin berdiri.
Tepat saat Changmin berdiri dan ingin berjalan bersama bawahnnya menuju pintu rumah Yoongi, pintu rumah itu terbuka dan menunjukan sosok Stella yang sedang menatap lurus padanya.
"Daadddyyy…." Wajah dingin Stella berubah dalam sedetik saat melihat Changmin. Dia berlari kearah Changmin dan memeluk erat tubuh Changmin yang kaku.
"Stella rindu sekali pada Daddy…" rengek Stella. "Ternyata daddy sudah sembuh, seperti janji ku, aku akan kembali bermain saat kau sudah sembuh" bisik Stella.
"Lepas!" Changmin mendorong keras tubuh Stella yang memeluknya.
"Jahat…" rengek Stella. "Apa karena ada teman-teman Daddy, aku tidak boleh manja?!"
Changmin berusaha mengabaikan Stella. Dia butuh menyelamatkan wibawanya di depan bawahannya sekarang. "Kita pergi sekarang" perintah Changmin dan berjalan melewati Stella begitu saja.
"Daddy hati-hati di jalannn" teriak Stella.
"Kau sudah gila?" Yoongi berjalan menuju pintu rumahnya dimana ada Stella sedang melambaikan tangan pada Changmin.
"He's my toy" Stella terkekeh.
"Dia sudah tau aku cukup banyak sepertinya" ucap Yoongi.
"Terserah. Dia hanya boleh mati di tanganku. Aku akan melenyapkannya segera karena aku sudah ada mainan baru"
"Apa maksudmu?"
"Wait and see." Ucap Stella sok misterius. "Dan soal Changmin. Aku berencana bermain sedikit lagi dan akan melenyapkannya"
"Aku harap kau lakukan dengan cepat karena dia mulai terlalu banyak tau soal aku" ucap Yoongi. "Kalau kau tidak cepat, aku yang akan lebih dulu melenyapkannya"
"Santai sedikit. Kerajaan mu tidak akan terusik. Dimana kitten?"
"Di kamar bersama Mino"
"Aku akan ke atas" ucap Stella dan berlalu meninggalkan Yoongi.
Yoongi kembali keruang tamu untuk memerika sofa yang tadi di duduki Changmin dan bawahnnya. Tangannya merogoh sudut sofa dan terkekeh sinis saat melihat alat penyadap suara yang terpasang disudut sofa miliknya.
Yoongi berjalan ke kamar tamu sambil membawa alat penyadap ditangannya. Pelan-pelan Yoongi menyalakan TV dan dengan sengaja mencari-cari Flashdisk milik Jackson yang isinya adalah viceo dewasa. Jangan heran kenapa Yoongi bisa tau soal FD milik Jackson. Selain karena Jackson sering menginap disana, semua benda asing yang masuk rumah ini akan diperiksa oleh Yoongi, tanpa terkecuali.
Yoongi menyalakan TV dan memasukan flashdisk itu kesamping TV, memainkan remote dan memilih-milih video dewasa yang akan dia putar, dengan sengaja Yoongi meletakkan alat penyadap yang tidak jauh dari speaker dan menyeringai saat video dewasa itu mulai terpampang di layar.
Yoongi keluar kamar, menutup pelan pintu itu dan mengunci dari luar. Matanya berkilat jahil dan tertawa puas membayangkan Changmin yang akan mendengarkan desahan-desahan murahan dari wanita yang ada di dalam video.
Sementara itu….
"P-pak, aku rasa…" salah satu bawahan Changmin yang bertugas mengoprasikan alat penyadap itu terlihat memerah malu. Apa yang didengarnya dari earphone yang terpasang di telinganya membuatnya tidak nyaman dan salah tingkah.
"Apa?" Tanya Changmin bingung.
"A-aku rasa, tuan Min dan gadis itu…"
Changmin melepas earphone dari telinga bawahannya dan memasang ketelinganya. Changmin membeku. Desahan ribut yang masuk ketelinganya membuatnya memerah padam.
"Biarkan saja seperti itu" ucap Changmin sambil melepas earphone dari telinganya.
.
.
.
"Appa, kakiku sudah pegal. Kalian dimana? Kenapa tidak menjemputku di bandara?" Hyungwon mengomel dengan ponsel tertempel ditelinganya. Hyungwon, si anak manja, kembali kerumah.
.
.
.
TBC
