Blue Ribbon

Disclaimer: Fate Series milik Kinoko Nasu dan Takashi Takeuchi. Saya hanya meminjam karakternya saja.

Warning: gaje, typo (maybe), agak ooc, alur sedikit kecepatan atau kelambatan, pokoknya banyak kekurangannyalah.

Happy reading :)

Setelah dari kantornya Gilgamesh, Arturia pergi ke toko kue langganannya untuk membeli kue tiramisu. Ia terpaksa membeli kue karena kondisinya tidak memungkinkan untuk membuat kue. Apalagi sekarang ada si kecil di dalam perutnya. Sampai di toko kue, Arturia langsung disambut oleh sang pelayan.

"Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya memesan satu kue tiramisu berukuran sedang. Kalau bisa dari lemari es," jawab Arturia tersenyum.

"Baik nona," ucap gadis itu lalu membuka lemari es untuk mengambil kue tiramisu berukuran sedang.

"Apakah ada lagi yang ingin diminta?" tanya gadis ini.

"Hmm bolehkah saya menulis sendiri di kuenya?' tanya Arturia.

"Silahkan nona," jawab gadis ini lalu menaruh kue di atas meja dan menyerahkan butter cream kepada Arturia.

Perlahan-lahan, Arturia menuliskan kalimat "Selamat Ulang Tahun, Brengsek!" ke atas coklat.

"Lama tak bertemu, Suster Arturia."

Arturia menoleh ke belakang. Ia langsung terkejut melihat Irisviel dan Illyasviel dengan seorang pria paruh baya bertubuh tinggi tegap itu. Arturia menebak kalau pria itu adalah suami sekaligus ayah bagi mereka berdua.

"Irisviel, Illya? Bagaimana kabar kalian?" tanya Arturia tersenyum lebar.

"Semakin baik," jawab Illya tersenyum lebar.

"Oh ya perkenalakan ini Kiritsugu, suamiku," ucap Irisviel memperkenalkan suaminya.

"Arturia Pendragon," kata Arturia lalu mengulurkan tangan kanannya.

"Emiya Kiritsugu," ucap Kiritsugu lalu menjabat tangan Arturia.

"Jadi ini suaminya Irisviel? Tidak seperti seorang pembunuh," batin Arturia.

"Suster, kue itu untuk siapa?" tanya Illya tersenyum lebar.

"Untuk temanku yang hari ini berulang tahun," jawab Arturia berbohong. Tidak mungkin mengatakan kalau ia memberi kejutan ulang tahun untuk seseorang yang pernah menyakiti mereka.

"Yaah sayang sekali," kata Illya kecewa. "Padahal kami ingin mengundangmu ke acara ulang tahunnya onii-san," lanjutnya.

"Jangan khawatir, Illya. Kan bisa lain hari," ucap Irisviel sembari membelai rambut panjang Illya.

"Aku menyesal sekali," kata Arturia bersedih.

"Tidak apa-apa, Arturia," ucap Irisviel tersenyum.

"Tetapi sebagai gantinya kau harus datang ke acara ulang tahunku," kata Illya.

"Oke," jawab Arturia tersenyum kepada gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu.

"Permisi nona. Apakah sudah selesai?" tanya pelayan ini.

"Sudah. Terima kasih," jawab Arturia lalu menyerahkan butter cream kepada sang pelayan itu.


Di kafe...

"Pasti berat menjalankan kehidupan sebagai istri seorang bos mafia," kata Irisviel sembari menuangkan gula ke dalam secangkir teh lalu mengaduknya.

"Benar sekali. Maka dari itu aku sering menyuruhnya untuk berhenti menjadi seorang mafia. Ini juga perintah dari ibunya," jawab Arturia sembari memotong steik daging sapi lalu memakannya dengan lahap. "Akan berdampak buruk pada masa depan anaknya apabila Gilgamesh masih bertahan menjadi seorang mafia," lanjutnya.

"Tunggu? Jangan bilang kalau kau tengah mengandung anaknya?" tanya Irisviel terkejut.

"Iya. Aku sedang mengandung anaknya," jawab Arturia sembari mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut.

Mata merah Irisviel langsung melebar setelah mendengar pengakuan dari Arturia bahwa dirinya tengah hamil.

"Bukankah itu hal yang bagus supaya suamimu berhenti menjadi mafia?" tanya Irisviel.

"Kuharap seperti itu," kata Arturia tersenyum.

"Kalau boleh tahu, berapa usia kandunganmu?" tanya Irisviel.

"Baru tiga minggu," jawab Arturia.

"Masih muda sekali. Kalau begitu kau tidak boleh terlalu banyak pikiran dan juga kecapekan. Usia kandunganmu masih rawan jadi...kau harus jaga kesehatanmu. Kau tahu? Berat sekali menjalankan kehamilan pada trimester pertama. Dulu aku selalu khawatir melakukan sesuatu pada saat hamil muda. Tetapi kau harus menikmatinya jika ingin anakmu kelak tumbuh sehat dan juga pintar," kata Irisviel panjang lebar.

"Terima kasih atas masukannya, Irisviel," ucap Arturia tersenyum.

Secara refleks Arturia menoleh kepada sepasang ayah dan anak itu yang sedang asyik mengobol setelah mendengar tawa renyah Illaysviel. Seketika Arturia membayangkan dirinya yang sedang asyik mengobrol sekaligus bermain bersama anaknya kelak. Wanita ini sangat tak sabar sekali melakukan momen manis seperti itu.

"Illya begitu mirip dengan Kiritsugu. Tiap kali aku menatap mata Illya, aku selalu teringat dengannya. Apalagi sifatnya. Aku sangat beruntung sekali telah memiliki mereka. Dan juga Shirou-kun," kata Irisviel tersenyum.

"Kau benar-benar wanita yang beruntung, Irisviel," puji Arturia.


Gilgamesh mengernyit melihat rumahnya yang terlihat gelap. Pria ini berjalan menuju dapur sembari memanggil nama istrinya dan para pembantunya namun tak ada satu pun yang merespon panggilannya. Ketika berada di dapur, Gilgamesh dikejutkan dengan lampu dapur yang tiba-tiba menyala dan munculah seoorang wanita cantik bertubuh pendek yang berjalan menghampirinya dengan membawa kue ulang tahun.

"Selamat ulang tahun," kata Arturia dingin.

Gilgamesh membelalakkan matanya. Bagaimana tidak? Istrinya yang selama ini membencinya telah memberikan kejutan ulang tahun untuknya. Bahkan Arturia adalah orang pertama yang telah mengucapkan ulang tahun kepadanya.

"Ayo ditiup lilinnya, brengsek!" desak Arturia dengan mengumpat.

Gilgamesh menyeringai menatap wajah marah istrinya lalu ia meniup lilinnya hingga semuanya padam.

"Terima kasih, istriku. Kau adalah kado terindah yang sangat berharga bagiku," ucap Gilgamesh lalu mengecup singkat bibir Arturia.

"Duduklah dan makan kuenya," kata Arturia lalu menaruh kuenya di atas meja makan.

"Arturia," panggil Gilgamesh.

"Ada apa?" tanya Arturia.

"Ayo kita foto bersama," ajak Gilgamesh tersenyum.

Arturia menghelakan nafasnya dengan berat. "Baiklah," jawab Arturia lalu duduk di kursi meja makan.

Gilgamesh menduduki kursi meja makan di sebelah istrinya lalu mengambil ponsel dari saku celananya.

"Foto selfie?" tanya Arturia.

"Iya," jawab Gilgamesh tersenyum lalu menghadapkan layar ponselnya kepada dirinya dan juga Arturia. Ia pun juga menampakkan kue ulang tahunnya dalam fotonya sebagai momen ulang tahunnya bersama istri tercintanya.

Setelah berhasil memotretnya, Gilgamesh menunjukkan hasil fotonya kepada Arturia.

"Bagus," kata Arturia singkat. "Kirim fotonya di WhatssApp-ku," perintahnya.

"Oke," ucap Gilgamesh lalu mengirimkan fotonya ke akun WhatssApp istrinya.

"Gilgamesh, ini hadiah untukmu," kata Arturia sembari menyerahkan kado berukuran sedang kepada Gilgamesh.

"Apa ini?" tanya Gilgamesh memegang kadonya.

"Buka saja," jawab Arturia dingin.

Gilgamesh membuka kado yang diberikan oleh istrinya. Seketika Gilgamesh membelakakkan matanya melihat syal berwarna merah yang mirip dibuatkan oleh istrinya. Ia tak menyangka kalau syal merah ini hasil rajutan ini untuknya. Seperti yang diketahuinya kalau Arturia selalu merajut syal setiap saat dan di mana pun ia berada. Bahkan sampai menahan kantuk. Gilgamesh sampai tidak tega melihatnya seperti itu walaupun kegiatan itu merupakan salah satu hobinya

Perlahan-lahan Gilgamesh mengambil syal berwarna merah ini lalu mencium aroma syalnya yang seperti aroma tangan Arturia. Mulai detik ini, Gilgamesh bersumpah untuk tidak akan membiarkan syal ini rusak sedikit pun dan akan menghabisi siapapun yang telah merusak syalnya walau tidak sengaja.

"Maaf kalau hasilnya jelek," kata Arturia dengan menundukkan kepalanya.

"Bicara apa kau ini? Ini bagus sekali," kata Gilgamesh lalu melingkarkan lehernya dengan syal ini. "Dan sangat cocok untukku," lanjutnya.

"Apakah kau serius?" tanya Arturia dengan membelalakkan matanya.

"Tentu saja," jawab Gilgamesh.

"Kupikir kau tidak akan menyukainya. Terima kasih, Gilgamesh," ucap Arturia tersenyum.

Tiba-tiba, Arturia teringat dengan kehamilannya. Entah mengapa Arturia merasakan firasat yang kurang enak apabila dirinya memberitahukan kehamilannya kepada Gilgamesh.

"Gilgamesh," panggil Arturia.

"Ada apa?" tanya Gilgamesh sembari memotong kue.

"Apakah kau ingin memiliki anak secepatnya atau menunda dulu?" tanya Arturia.

"Apakah kau hamil, Arturia?" tanya Gilgamesh hingga Arturia membelalakkan matanya.

"I-iya...aku hamil," jawab Arturia.

Gilgamesh langsung memasang wajah tak suka begitu mendengar istrinya telah mengandung.

"Usia kandunganku baru tiga minggu. Meskipun begitu, aku akan tetap bekerja sampai usia kandunganku mencapai tujuh bulan," jelas Arturia.

"Gugurkan kandunganmu, Arturia," perintah Gilgamesh.

Dada Arturia bagaikan ditikam belati mendengar Gilgamesh memerintahkannya untuk menggugurkan kandungannya. Ternyata firasatnya benar kalau Gilgamesh tidak akan menerima kehadiran darah dagingnya sendiri. Seketika Arturia menyiramkan air putih ke wajah suaminya lalu melemparkan gelas ke arahnya.

"Apa-apaan kau?!" bentak Gilgamesh.

"Kau benar-benar pria bajingan, Gilgamesh! Kupikir kau akan berubah jika aku akan melahirkan anakmu! Ternyata kau semakin parah," bentak Arturia.

"Aku tidak siap menjadi seorang ayah, Arturia!" bentak Gilgamesh.

"Kau pikir aku sudah siap menjadi seorang ibu, hah?!" kata Arturia masih membentak suaminya.

"Ya sudah digugurkan saja," kata Gilgamesh.

"Sayangnya aku tidak sepertimu, bajingan."

"Jika kau tak segera menggugurkannya, biar aku saja yang melakukannya," ucap Gilgamesh dengan tatapan menyeramkannya yang membuat tubuh Arturia bergetar karena ketakutan.

Tanpa pikir panjang, Arturia langsung berlari dengan cepat untuk keluar dari rumah ini. Sebisa mungkin ia harus menyelamatkan janinnya dari suaminya yang berusaha membunuhnya.

"Kau tak akan bisa lari dariku, Arturia," kata Gilgamesh lalu ia berlari mengejar istrinya.

Arturia mempercepat larinya. Tak peduli kakinya mulai sakit dan tubuhnya melemah asalkan jaraknya semakin jauh dari jangkauan Gilgamesh. Arturia terus berlari sampai ia menabrak seorang pemuda bertubuh tinggi tegap yang memakai mantel panjang dan juga topi berwarna hitam.

"Maafkan saya," ucap Arturia.

"Arturia!" panggil Gilgamesh dengan berteriak.

Seketika Arturia membelalakkan matanya karena dibopong oleh pemuda yang habis ia tabrak dengan berlari hingga ia dimasukkan ke dalam mobil taksi. Pemuda itu juga memasuki mobilnya lalu menutup pintu mobilnya.

"Selamat malam, tuan dan nona. Anda ingin kemana?" taanya sang sopir taksi.

"Cepat bawa kami ke distrik Southwark," jawab pemuda berambut pirang pendek ini.

"Baik tuan," ucap sopir taksi ini lalu melajukan mobilnya dengan kencang menghiraukan Gilgamesh yaang berteriak memanggil nama Arturia seperti orang kesetanan.


Di Apartemen...

Sungguh hal yang mengejutkan bagi Arturia karena ia telah diselamatkan oleh seorang pemuda yang memiliki wajah yang mirip dengan dirinya. Keterkejutannya semakin menjadi lantaran pemuda itu mengaku sebagai kakak kembarnya.

"Kenapa kau baru mencariku?" tanya Arturia.

"Karena sulit sekali mencarimu selama delapan tahun," jawab Arthur. "Ditambah lagi ada seseorang yang selalu berusaha menghalangiku untuk menemukannya. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Padahal kau juga kerabatnya," tambahnya.

"Maksudmu Vortigern?" tanya Arturia hingga Arthur mengernyit.

"Vortigern? Paman Vortigern?"

"Iya. Kau tahu? Aku sudah lama tinggal dengannya sejak aku berusia 12 tahun sampai berusia 16 tahun," jelas Arturia.

"Apa? Yang benar saja?" Arturia menganggukkan kepalannya.

"Sial! Ternyata dia juga menipuku. Tega sekali dia. Padahal aku sudah menganggapnya sebagai ayahku sendiri," kata Arthur kecewa lalu memegang kedua tangan Arturia. "Maafkan aku, Arturia. Aku sudah membuatmu menderita selama ini dengan mempercayai orang itu dan juga tidak segera menemukanmu," ucap Arthur dengan wajah yang sedih.

Hati Arturia terasa lebih tenang ketika Arthur memegang kedua tangannya. Secara refleks Arturia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan saudara kembarnya.

"Jadi ini rasanya memiliki keluarga?" batin Arturia.

"Jika kau tidak memafkanku, aku tidak masalah. Aku maklumi itu karena selama ini kau menderita karena aku," kata Arthur.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Arthur. Kau tak bersalah. Kita sama-sama korban. Yang terpentng sekarang kita sudah bersatu dan membangun kembali kehidupan kita," kata Arturia hingga Arthur membelalakkan matanya dengan tersenyum.

"Terima kasih, Arturia. Aku menyayangimu," ucap Arthur lalu memeluk Arturia dengan erat.

"Aku juga menyayangimu, Arthur," ucap Arturia lalu membalas pelukan Arthur.

Tak lama kemudian, ada seseorang yang membuka pintu apartemen hingga Arthur dan Arturia melepaskan pelukannya. Arturia terkejut sekali dengan keberadaan Rin di apartemen Arthur. Kedua perempuan itu langsung berpelukan satu sama lain dengan girang.

"Arturia, aku sangat merindukanmu," ucap Rin.

"Aku juga merindukanmu, Rin," ucap Arturia lalu melepaskan pelukannya. "Omong-omong, sejak kapan kau dan Arthur saling kenal?" tanya Arturia.

"Sejak Arthur ke apartemenmu dulu. Iya 'kan Arthur?" jawab Rin lalu menatap Arthur.

"Dulu kau hampir menghabisiku, Rin," kata Arthur.

"Kupikir kau bawahannya si brengsek itu. Sampai sekarang aku masih trauma dengan kejadian itu," kata Rin lalu kembali menatap Arturia. "Oh ya, jangan bilang kau kabur darinya tanpa membawa barang apapun?" tanya Rin.

"Bagaimana aku bisa memikirkan barangku kalau Gilgamesh terus mengejarku?" tanya Arturia.

"Omong-omong, kenapa kau kabur dari suamimu?" tanya Arthur.

Arturia kembali duduk di sofa. Ia menghelakan nafasnya sembari mengelus perutnya. "Dia berusaha membunuh darah dagingnya sendiri dengan alasan tidak siap menjadi seorang ayah," jelas Arturia hingga Arhur dan Rin terkejut.

"Kau...hamil?" tanya Rin. Arturia memganggukkan kepalanya.

"Apa yang ada di dalam otaknya itu? Jika dia belum siap menjadi seorang ayah, tak seharusnya dia menikahi adikku dan juga menidurinya," kata Arthur lalu menggelengkan kepalanya.

"Namanya juga penjahat," kata Arturia.

"Oh ya, terus bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau sama sekali tidak membawa apapun," tanya Rin.

"Aku meninggalkan sebagian seragamku, atm pribadiku dan ponselku yang satunya di rumah sakit," jawab Arturia.

"Kau seperti sudah lama mempersiapkan ini," kata Arthur dengan menggarukkan kepalanya.

"Tidak juga. Secara tiba-tiba aku kepikiran mempersiapkan itu. Soal ponsel, aku memiliki dua ponsel karena yang satunya hanya untuk berhubungan dengan teman priaku. Gilgamesh selalu memeriksa ponselku setelah pernah ketahuan berhubungam dengan teman priaku," jelas Arturia.

"Dia kekasihmu?" tanya Arthur tersenyum.

"Dia sahabatku. Tetapi aku mencintainya," jawab Arturia dengan pipi yang bersemu merah.

"Kau tahu Arthur, mereka adalah sepasang sahabat yang serasi. Andai saja waktu itu aku tidak disandera, pasti Arturia akan menjadi istrinya," kata Rin dengan menundukkan kepalanya.

"Sudahlah Rin jangan menyalahkan dirimu sendiri," kata Arturia.

"Pria itu...siapa dia?" tanya Arthur.

"Dia adalah seorang dokter di tempatku bekerja. Dia juga berada di panti asuhan yang sama denganku. Selisih usia kami tujuh tahun. Namanya Diarmuid," jelas Arturia tentang Diarmuid.

"Tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah menjagamu selama ini," kata Arthur tersenyum.


Puluhan pria berpenampilan sangar ini berkumpul menghadap sang bos besar di halaman rumah mewah ini. Mereka menelan ludahnya masing-masing melihat tampang sang bos besar seperti ingin memakan orang. Mereka khawatir sekali kalau dijadikan pelampiasan amukan dari pria bertubuh jangkung dan berambut emas pendek itu mengingat selama ini ia selalu menghabisi bawahannya tiap kali sedang kesal. Bahkan ada yang sampai terbunuh karenanya.

"Apapun caranya kalian harus menangkap istriku. Cepat!" perintah Gilgamesh dengan membentak.

"Baik bos!" ucap para bawahannya lalu mereka bergegas menjalankan perintah dari Gilgamesh dengan berpencar.

Setelah itu, Gilgamesh melangkahkan kakinya memasuki rumahnya lalu menutup pintunya dengan keras.

"Siduri! Ambilkan dua botol anggur. Cepat!" perintah Gilgamesh dengan berteriak lalu merebahkan tubuhnya ke sofa.

"Baik tuan," ucap wanita cantik berkulit eksotis ini lalu bergegas melaksanakan perintah dari majikannya.

Lima menit kemudian, Siduri datang dengan membawa dua botol anggur serta satu buah gelas kaca.

"Ini tuan," ucap Siduri sembari menaruh dua botol anggur dan satu gelas kaca di atas meja.

"Terima kasih," ucap Gilgamesh lalu menuangkan anggur ke dalam gelas.

Siduri membungkukkan badannya kepada Gilgamesh lalu berjalan kembali ke kamarnya.

"Kau kira bisa kabur dariku, hah? Lihat saja Arturia. Aku akan membuatmu menderita sampai kau berlutut di hadapanku dan bersedia menggugurkan kandunganmu," gumam Gilgamesh sembari meneguk anggur.

"Kau pikir menjadi orang tua itu mudah? Emang kau ingin aku seperti si bajingan itu yang tak bisa mendidik anaknya dengan baik? Tega sekali kau!" gumamnya lagi.


Seluruh staff beserta para dokter dan perawat rumah sakit St. Thomas menyambut kedatangan Diarmuid setelah cuti selama lebih dari dua minggu. Diarmuid sangat terkejut dengan kejutan yang dilakukan oleh mereka. Keterkejutannya semakin menjadi lantaran Sola-Ui memberikan bunga sekaligus melakukan cipika-cipiki kepadanya. Bagi Diarmuid, sambutan seperti ini sangatlah berlebihan. Apalagi sekarang ia dipelototi oleh sang kepala dokter yang tak lain adalah suaminya.

"Terima kasih, Nyonya Sola-Ui," ucap Diarmuid lalu melirik Arturia yang sedari tadi tersenyum kepadanya. Pria ini langsung membalas senyuman dari wanita yang dicintainya ini.

Lima menit kemudian, acara menyambut kedatangan Diarmuid telah selesai. Mereka semua kembali ke tempat asalnya dan melakukan tugasnya masing-masing.

"Arturia," panggil Diarmuid hingha Arturia membalikkan badannya menghadapnya.

"Ada apa Diarmuid?" tanya Arturia.

"Aku mendapatkan kabar dari Rin bahwa kau telah kabur dari Gilgamesh sejak dua minggu yang lalu dan sekarang kkau tinggal bersama saudara kembarmu," kata Diarmuid. "Kenapa kau tak bilang kepadaku?" tanyanya.

"Karena aku tidak ingin merepotkanmu. Kau sudah terlalu banyak berjasa dalam hidupku," jawab Arturia.

"Hei, aku ini sahabatmu. Sudah sepantasnya aku bersikap seperti itu. Jika kau tidak bilang apapun kepadaku, sama saja kau tak menghargaiku sebagai sahabatmu," kata Diarmuid sembari memegang kedua bahu Arturia.

"Maafkan aku," ucap Arturia.

"Lain kali kau harus cerita kepadaku jika kau sedang kesulitan," kata Diarmuid. Arturia menganggukkan kepalanya.

"Omong-omong, sudah berapa usia kandunganmu?" tanya Diarmuid.

"Satu setengah bulan," jawab Arturia sembari mengelus perutnya.

"Si bajingan itu...benar-benar ingin kubunuh. Tega sekali dia dengan darah dagingnya sendiri," kata Diarmuid geram.

"Jaga emosimu, Diarmuid. Aku tidak ingin kau terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan," kata Arturia berusaha meredam emosi sahabatnya.

"Dia sudah keterlaluan. Jika dia tidak ingin memiliki anak, tak seharusnya dia menyetubuhimu. Kalaupun ingin memilikimu seutuhnya, pakailah kondom," kata Diarmuid.

"Kau tahu sendirilah kalau penjahat itu tidak memiliki otak," kata Arturia. "Semenjak aku kabur darinya, aku jadi lebih sering memakai masker jika diluar ruangan pasien. Untung saja banyak yang pengertian. Di jalanan pun juga pakai masker dan terkadang pakai payung," kata Arturia lagi.

"Tapi setidaknya bisa mengelabuinya. Kau tahu sendirilah kalau di lingkungan kita banyak mata-mata yang menyebalkan," kata Diarmuid.

"Benar sekali," kata Arturia.

"Arturia," panggil Diarmuid.

"Hn?"

Akhirnya Tuhan telah mengabulkan permohonanmu selama ini. Kuharap kau selamanya bahagia bersama keluarga kandungmu," kata Diarmuid tersenyum kepada Arturia.

"Amin. Tuhan memang baik. Walaupun kedua orang tuaku telah meninggal, tetapi aku sangat senang telah memiliki saudara yang baik seperti Arthur," ucap Arturia tersenyum.

"Omong-omong, bagaimana awal mula kau bertemu dengannya?" tanya Diarmuid.

"Kami bertemu di tengah jalan waktu aku berusaha lari dari Gilgamesh. Dia langsung menyelamatkanku denhan membawaku ke apartemennya," jawab Arturia. "Untung saja aku bertemu dengannya. Coba kalau tidak, sudah pasti aku akan tertangkap oleh si bajingan itu."

"Tuhan begitu menyayangi anakmu, Arturia," kata Diarmuid.

"Iya," kata Arturia lalu mengelus perutnya dengan lembut.


Sudah dua minggu Arturia pergi dari rumah Gilgamesh. Sampai saat ini tak ada satu pun dari anak buahnya yang dapat menemukan Arturia. Bahkan di tempat kerjanya pun anak buahnya tak dapat menangkapnya. Padahal Arturia masih aktif bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu berdasarkan informasi yang ia dapat dari rekan kerja istrinya. Hal inilah yang membuat Gilgamesh harus turun tangan sendiri untuk mencari istrinya. Ia benar-benar tak tahan hidup tanpa istrinya. Gilgamesh rindu akan omelannya, perhatiannya, rasa masakannya, dan pastinya tubuhnya yang mungil nan seksi.

"Gil, jika kau ingin Arturia segera pulang, kau harus menerima darah dagingmu sendiri. Apa salahnya menjadi seorang ayah? Soal khawatir akan bernasib sama dengan ayahmu, perlu kau ketahui bahwa kau sangat berbeda dari ayahmu," kata Enkidu berusaha menasehati Gilgamesh.

"Tetapi aku tidak bisa menerima kehadirannya. Selain tidak ingin menjadi seorang ayah, aku masih ingin berduaan dengan Arturia. Anak-anak itu sungguh merepotkan," kata Gilgamesh.

"Justru ini menjadi kesempatanmu untuk dicintainya. Bukankah kau ingin sekali dicintai olehnya?" kata Enkidu tegas hingga Gilgamesh terdiam.

"Apakah kau yakin kalau aku menerima anak itu akan membuat Arturia mencintaiku?" tanya Gilgamesh mengangkat satu alisnya.

"Aku yakin," jawab Enkidu mantap.

"Sudahlah Enkidu jangan membohongi. Emang aku ini bodoh apa?" kata Gilgamesh lalu mengambil jaket biker berwarna hitam dan syal berwarna merah di gantungan. Ia mengenakan jaketnya lalu melingkarkan syalnya ke lehernya.

"Gil, syalmu bagus. Kau beli di mana?" tanya Enkidu.

"Istriku yang membuatnya. Syal ini adalah hadiah ulang tahunku," jawab Gilgamesh.

"Enkidu, do'akan aku berhasil menangkapnya," kata Gilgamesh.

"Akan kudo'akan. Semoga berhasil, Gil," kata Enkidu dengan menganggukkan kepalanya.


Arturia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit setelah waktu bekerjanya telah habis. Arturia mengeratkan mantelnya karena telah terjadi hujan salju sehingga udaranya semakin dingin. Meskipun begitu, Arturia sangat menyukai salju. Itulah sebabnya ia rela berjam-jam berada di tengah jalan hanya demi menikmati indahnya salju.

"Seharusnya kau berteduh dulu di rumah sakit."

Arturia menoleh ke kanan lalu mendongakkan kepalanya ke atas menatap Arthur yang telah memayunginya.

"Arthur. Kupikir kau Gilgamesh," kata Arturia.

Arthur hanya tersenyum saja lalu mereka berdua berjalan berdampingan.

"Arthur, pastikan kau benar-benar aman dari Gilgamesh maupun antek-anteknya. Dia pria yang licik," kata Arturia.

"Aku selalu memeriksa sekelilingku. Kuharap kita benar-benar aman," kata Arthur.

"Arthur," panggil Arturia.

"Ada apa, adikku?" tanya Arthur.

"Pasti berat sekali memiliki bos yang sangat menyebalkan seperti Gilgamesh," kata Arturia.

"Awalnya memang berat. Tetapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa karena telah memahami kondisi psikisnya dengan bantuan dari Tuan Enkidu dan Mashu," kata Arthur.

"Apakah dia makan dengan teratur?" tanya Arturia.

"Kurasa tidak. Selama aku memasuki ruangannya, aku selalu melihat bekal makananya yang masih banyak," jawab Arthur.

"Omong-omong, siapa yang selalu membuatkan bekal untuknya?" tanya Arturia.

"Mashu. Dia sering membawakan bekal untuk suamimu karena perintah dari Tuan Enkidu," jawab Arthur.

"Oh begitu," kata Arturia.

Ketika menoleh ke kanan, Arthur langsung terkejut melihat seorang pria misterius yang mengarahkan pistolnya ke Arturia. Arthur langsung melindungi adiknya dengan memeluknya sampai ia memekik kesakitan karena pelurunya mengenai punggungnya. Sementara pria misterius itu langsung pergi begitu saja.

"Arthur!" teriak Arturia lalu menekan luka Arthur dengan syalnya. Setelah itu ia menelepon pihak rumah sakit.


Arturia melangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti Arthur yang telah berada di atas ranjang dorong dengan didorong oleh para suster menuju ruangan operasi. Sedari tadi Arturia menekan luka tembak Arthur dengan syal. Ia pun juga menggandeng tangan kekar saudara kembarnya dengan maksud menguatkannya.

"Bertahanlah, Arthur," kata Arturia lirih.

"Aku...tidak akan...meninggalkanmu," ucap Arthur dengan nada serak. Ia berusaha menahan rasa sakitnya supaya Arturia tidak terlalu mengawatirkannya.

Sampai di depan ruang operasi, Arturia menyuruh Florence untuk menggantikannya. Florence segera mengganti posisi Arturia yang sedari menekan luka Arthur lalu mereka mulai memasuki ruang operasi dengan diikuti oleh kedua dokter yang sudah siap untuk melakikan operasi.

"Diarmuid, tolong selamatkan Arthur," pinta Arturia.

"Jangan khawatir. Aku akan menyelamatkan Arthur," ucap Diarmuid mantap lalu memasuki ruang operasi.

Begitu ruang operasi telah tertutup, Arturia langsung terduduk lesuh. Kemudian ia menyatukan tangannya dengan lalu berdo'a untuk kesembuhan saudaranya. Ia tidak ingin kehilangan saudaranya yang sangat dicintainya.

"Akhirnya aku menemukanmu, sayangku."

Arturia mendongakkan kepalanya dan langsung terkejut melihat Gilgamesh berada di depannya.

To be continue...