Chapter 10 : Upacara Pernikahan
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Selamat Membaca :)^^
.
Semua orang yang berada di aula terdiam melihat kedatangan Hinata. Mereka tidak mempercayai bahwa Menma akan menikahi Hinata. Terlebih mereka tahu jika keduanya tidak dekat satu sama lain, dan tiba-tiba saja Menma memberitahukan pernikahan tersebut. Ada yang bertanya-tanya, ada yang tidak ambil pusing dan ada juga yang menganggap bahwa pernikahan itu hanya sebatas permainan.
"Hinata"
"Hyuuga-sama"
"Hinata"
Shikamaru, Ino, serta Sakura juga tidak menyangka jika ternyata Hinatalah akan menikah dengan Menma dalam waktu dekat ini. Namun sedetik kemudian sebuah senyuman hadir diwajah Sakura.
"Yokatta, akhirnya Menma akan menikah. Aku yakin Hinata bisa membahagiakannya. Aku tidak menyangka jika ternyata Hinata jatuh cinta pada Menma" ujarnya seraya melirik Naruto. Namun sang raja tidak bergeming, hanya menatap tajam pada kedua sosok yang berdiri disana.
.
1 jam setelah pengumuman tersebut, semua maid nampak sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang akan terselenggara beberapa hari lagi. Hinata yang masih berstatus jendral tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa berlatih bersama prajurit yang lain.
"Hinata-san, apakah anda benar akan menikah dengan Yang Mulia?" tanya Kiba disaat mereka tengah beristirahat.
Hinata mengangguk seraya tersenyum.
"Tapi kenapa itu mendadak sekali? Apakah ada sesuatu hal diantara kal_" belum sempat Ino menyelesaikan ucapannya Hinata buru-buru memotongnya.
"Tidak ada apapun Ino, kami hanya akan menikah. Baiklah karna latihannya sudah selesai aku permisi dulu" ujar Hinata dan berlalu meninggalkan mereka semua.
Sedangkan ditempat lain, Naruto yang telah berada di ruang kerjanya nampak berpikir keras dengan pengumuman yang sangat mengagetkannya itu. Tidak satu pun kertas yang menjulang tinggi dimejanya ia sentuh. Pikirannya tengah kacau sekarang.
"Apakah Hinata benar-benar jatuh cinta pada Menma? Sejak kapan, aku tidak pernah melihat mereka bersama" gumamnya, "lebih baik aku tanyakan saja pada dia" lanjutnya lagi seraya pergi dari sana.
.
Naruto tengah berjalan dilorong untuk mencari Hinata. Langkahnya terhenti saat menangkap bayangan orang yang sangat miripnya tengah berjalan mendekat.
Menma menyunggingkan senyuman hangat padanya "yo Nii-san jangan lupa datang ke pernikahanku nanti ya. Kalau bisa kau jadi waliku okey" ucap Menma begitu saja dan pergi meninggalkan Naruto.
Namun belum sempat ia pergi menjauh, Naruto lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya untuk mencegah Menma pergi.
Menma pun otomatis kembali berpaling padanya "ada apa?" tanyanya.
Naruto menunduk, hatinya sangat geram dengan kelakuan kembarannya itu. Tapi ia bisa apa? "sejak kapan kalian menjalin hubungan? Apakah kau yakin akan menikahinya?"
Menma kembali tersenyum kearahnya "tentu, tidak perlu menjalani hubungan yang lama untuk menikah, bukankah begitu? Sudah ya aku banyak urusan untuk mempersiapkan pernikahanku" balas Menma seraya melepaskan cengkraman tangan Naruto.
Menma kembali berjalan dengan seringan yang kini hadir diwajahnya 'hahaha aku senang melihatmu seperti ini. Tapi ini masih permulaan, nii-san'
Sepeninggalan Menma, Naruto masih berdiam diri disana. Merasakan hatinya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Dia mencengkram dadanya kuat 'ada apa denganku? Disini terasa sakit sekali' batinnya 'aku harus bertemu dengan Hinata' setelah itu dia pun kembali melangkahkan kakinya.
Tokk! Tok!
Pintu ruangannya diketuk brutal oleh seseorang. Hinata yang tengah beristirahat merasa terusik dengan kelakuan seseorang yang mengetuk pintunya kasar. Hinata pun beranjak dari kursi untuk melihat siapa gerangan orang yang datang ke tempatnya.
Cklek! Pintu dibuka "Kau mengganggu istirahatku_ Eh Yang Mulia" ujar Hinata setelah tahu yang datang kesana adalah Naruto.
Naruto menatapnya dengan pandangan dingin. Dia pun masuk kedalam ruangan Hinata dan menariknya kasar.
Brughh! Pintu dibanting keras olehnya.
Hinata yang tidak mengerti dengan kelakuan Naruto yang seperti itu hanya mengerutkan dahinya bingung "ada perlu apa Yang Mulia datang kesini?" tanya Hinata terlihat masih biasa-biasa saja.
Naruto semakin kuat mencengkram tangan Hinata tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hinata melepaskan tangannya yang mulai terasa sakit itu "Kau kenapa Naruto-kun?" tanyanya lagi dengan nada suara yang mulai meninggi.
Mendengar namanya disebut seperti itu oleh Hinata, akhirnya Naruto menatap kearah lavender itu "Apakah kau akan benar-benar menikah Hinata?" tanya Naruto mengatakan tujuannya datang kesana.
"Iya aku akan menikah" balas Hinata langsung melepaskan kontak mata dengannya.
"Tapi… kenapa?"
"Hah? Maksud anda Yang Mulia?"
Mendengar Hinata yang kembali berbicara formal padanya membuat hati Naruto seakan sakit dan tidak nyaman. Ia ingin marah tetapi dia tidak sanggup untuk melampiaskannya pada Hinata.
"Sejak kapan kau menyukainya? Bukankah kalian baru bertemu beberapa bulan yang lalu? Itu pun karna dia menyerang istana ini. Jadi kenapa kau jatuh cinta padanya HINATA? BATALKAN PERNIKAHAN KALIAN AKU TIDAK AKAN MENGIZINKANNYA" teriak Naruto tepat didepan Hinata.
Hinata menyeringai "jatuh cinta atau pun tidak aku padanya, kami tetap akan menikah tanpa atau seizinmu. Lebih baik sekarang Yang Mulia pergi dari sini, karna aku tidak ingin calon suamiku salah paham" balas Hinata dengan nada suara dingin.
Hinata kembali duduk dikursinya mengacuhkan Naruto yang berdiri mematung disana. Tanpa Hinata ketahui kedua tangan Naruto mengepal kuat. Emosinya sudah tidak terbendung lagi, ucapannya sudah tidak diperdulikan Hinata lagi. Dia pergi dengan perasaan marah.
Sepeninggalan Naruto, pertahanan Hinata roboh. Air mata kembali mengalir dipipinya. Perasaannya hancur setelah Naruto mengatakan hal itu "Naruto-kun no bakaaaaa" gumam Hinata sarat akan kesakitan disana.
Naruto berjalan dengan langkah berat. Mendengar jawaban Hinata yang membantahnya membuat ia tidak bisa melakukan apapun selain menerima semua keputusan Hinata. Dia pun berjalan menuju latihan pedang.
Sett! Naruto mengambil pedang yang tersedia disana untuk latihan.
Dia mulai mengayun-ngayunkan pedangnya dengan kasar. Naruto tidak peduli dengan aturan yang selalu Hinata berikan untuknya sebelum latihan, yang terpentig sekarang ia bisa mengenyahkan perasaan sakit yang belum ia mengerti.
Bayangan demi bayangan wajah Hinata muncul dalam pikirannya. Disaat ia tertawa, bercanda, marah, dan berbagai ekspresi wanita yang selama ini sudah ada dalam kehidupannya kini kembali berputar ulang dalam kepalanya.
'Sebenarnya aku kenapa? Ada perasaan tidak rela saat mendengar jika Hinata akan menikah dengan Menma. Bukankah dia kembaranku? Aku yakin dia akan membahagiakannya. Tetapi aku tidak ingin dia menikah'
.
.
.
2 minggu setelah pengumuman itu, pada akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Istana Uzumaki telah disulap menjadi tempat yang paling indah untuk melaksanakan pernikahan mereka. Dekorasi bunga-bunga hidup menghias setiap rungan. Semua tamu undangan dari kerajaan lain mulai berdatangan.
Hinata yang berada didalam kamar rias nampak cantik dengan baju pengantin tradisional. Namun ekspresi yang ia pancarkan sulit untuk ditebak.
"Hinata ayo sebentar lagi upacara pernikahan kalian" ujar Sakura yang datang keruangan itu, Hinata mengangguk dan mulai berjalan pergi.
Hinata sudah tiba dikarpet merah bertabur bunga-bunga kecil disana ia tengah menggandeng Shikamaru sebagai walinya. Riuh tepuk tangan mulai terdengar saat Hinata dan Shikamaru berjalan untuk mendekat kearah Menma yang sudah menunggu dialtar.
Sesampainya disana Shikamaru menyerahkan Hinata pada Menma. Mereka mulai mengucapkan janji suci itu. Suasana terlihat damai dan sakral, semua tamu yang hadir merasakan kebahagiaan kedua mempelai. Tapi apakah mereka benar-benar bahagia?. Itu hanya merekalah yang tahu. Namun diantara tamu-tamu yang ikut menyaksikan upacara pernikahan Hinata dan Menma disana ada seseorang yang terlihat tidak ikhlas dengan pernikahan yang terjadi. Hatinya benar-benar merasakan sakit. Kedua tangannya mengepal kuat menekan semua perasaan yang terus memberontak dirinya. Pandangannya menyiratkan ketidaksukaan pada Hinata dan Menma, ya dia adalah Uzumaki Naruto yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua. Dia bertugas sebagai wali Menma. Mau tidak mau Naruto harus menjalankan tugas itu demi pernikahan kembarannya.
Ucapan janji mereka sudah selesai, kini Menma memasangkan cincin dijari manis Hinata, begitu pun sebaliknya.
"Kau bisa mencium istrimu sekarang" ujar pendeta yang membantu pernikahan mereka.
Menma tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya pada Hinata "jangan coba-coba kau bisa menciumku" gumam Hinata dengan dingin.
Menma yang mengerti pada akhirnya hanya bisa mencium kening Hinata saja. Kembali tepuk tangan terdengar riuh. Para undangan yang hadir mulai memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Namun berbeda dengan Naruto, dia meninggalkan keramaian itu dan memilih untuk sendiri.
Naruto sekarang berada didalam kamarnya. Duduk di kursi seraya melihat sebuah album yang ia bawa dari perpustakaan waktu itu. Perlahan-lahan Naruto melihat isi foto tersebut. Pandangannya terhenti pada seorang gadis kecil tengah tersenyum manis yang berdiri disampingnya. Ingatan bersama Hinata dimasa kecilnya kembali berputar. Dimana wanita itu telah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Disaat ia sedang bersedih Hinata selalu ada dan menghiburnya. Disaat ia senang Hinata ikut tertawa bersamanya. Bahkan disaat ia akan kehilangan nyawa akibat saudara kembarnya sendiri Hinata rela mengorbankan nyawa untuk dirinya. Semua tentang sosok Hinata tengah memenuhi pikiran dan hatinya sekarang. Namun apakah ia menyadari perasaan apa yang ada didalam hatinya? Sampai saat ini dia sendiri pun masih tidak tahu akan hal itu.
"Hinata memang selalu ada untukku. Dari dulu hingga sekarang kami berkembang bersama. Dia tidak pernah mengecewakanku. Harusnya aku ikut senang saat dia menikah hari ini. Tapi aku masih tidak rela melihatnya menikah seperti itu. Apa yang sebenarnya aku rasakan? Kehilangan orang yang sangat berharga bagikukah? Atau kehilangan seorang jendral? Atau kehilangan orang yang paling aku cintai? E…eehhh apa yang aku katakan?" gumam Naruto yang tidak lepas memandang potret Hinata kecil.
Air mata jatuh tanpa ia sadari. Hatinya merasakan sangat sakit saat bayangan kedua orang tadi mengucapkan janji pernikahan. Darahnya memanas tidak rela jika Hinata memiliki seseorang disampingnya dan itu bukan dia.
"Apakah aku mencintai Hinata? Sejak kapan? Tapi perasaan sakit ini tidak biasanya aku rasakan. Bersama dengan Hinata aku merasakan nyaman dan tidak ingin kehilangannya berbeda disaat aku bersama dengan Sakura. Aku memang menyukainya tapi kalau dibilang aku mencintainya? Perasaan itu tidak pernah aku rasakan. Namun dengan Hinata… apakah ini cinta? Dari dulu perasaan seperti inilah yang aku rasakan untuknya. Apakah karna kami sudah lama bersama-sama jadi perasaan seperti ini biasa saja?"
Jatuh cinta memang tidak semudah apa kata orang. Pada akhirnya Naruto menyadari perasaan apa yang selama ini ia rasakan. Bahwa rasa cinta itu sudah ada sejak ia berumur 17 tahun, waktu itu dia melihat Hinata bukan lagi sebagai seorang sahabat tetapi sebagai gadis yang ia cintai. Ketidakpekaannyalah yang membuat Naruto tersiksa sendiri dengan perasaannya yang dia anggap hanya sebatas rasa nyaman saja.
Bughh! Naruto memukul meja didepannya dengan keras.
"Kuso, semua sudah terlambat" sesalnya.
.
Malam telah menjelang tetapi pesta pernikahan Hinata dan Menma masih berlangsung. Sekarang mereka berada di aula untuk berdansa. Hinata nampak cantik mengenakan gaun merah marunnya dengan rambut panjangnya ia biarkan digerai dan sedikit di curly. Sang jendral yang kini sudah resmi menjadi seorang putri itu tengah berbincang-bincang dengan Ino, Sakura dan beberapa putri lainnya.
"Hinata selamat ya sekarang kau sudah resmi menjadi istrinya Menma" ujar Sakura yang tidak henti-hentinya menyalami Hinata.
Dengan wajah datarnya Hinata menjawab perkataan Sakura "iya arigato"
"Hinata bagaimana awal mula kamu bisa bersama dengan Menma?" tanya Ino penasaran.
"Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian, tetapi kami memang sudah sepakat untuk menikah"
"Emang ya kalau jodoh tidak akan kemana" ujar Tenten membuat perhatian beralih padanya.
'Jodoh ya? Apakah jodohku memang benar-benar Menma? Keh menggelikan' batin Hinata saat mendengar penuturan dari salah satu prajuritnya itu.
Tidak jauh dari kerumunan mereka, Naruto telah kembali ke pesta. Memandang Hinata tanpa mengalihkannya sedikit pun.
"Kau akan jatuh cinta pada istriku jika terus memandangnya seperti itu" ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri disampingnya.
Naruto tersentak kaget mendengar hal itu "Me..menma? Sejak kapan kau ada disini?" tanya Naruto gugup.
"Sudah lama aku ada disini. Inikan pestaku, bagaimana wanita pilihanku bagus bukan?" tanya Menma sengaja.
Naruto mengepalkan tangannya kesal, namun ia harus bersikap baik-baik saja dihadapan kembarannya itu.
"Ya bagus, sangat bagus"
"Hahaha, kalau begitu aku mau berdansa dulu dengannya. Jaa, nii-san"
"Dia sangat menyebalkan" gumam Naruto setelah Menma pergi darisana dan mendekati Hinata.
Menma yang datang mendekati istiranya itu membuat semua perhatian beralih padanya.
"Hime, ayo kita berdansa" ajak Menma seraya berlutut dihadapan Hinata dengan tangan kanan ia ulurkan padanya.
Tanpa ragu-ragu Hinata membalas uluran tangan Menma. Melihat hal itu pemain musik mulai memainkan musiknya. Satu persatu pasangan mengikuti suami istri baru itu untuk berdansa.
Melihat Hinata dan Menma yang sudah berdansa membuat para wanita yang tadi bersama dengan Hinata merasa terkesan. Tidak jauh dari sana Sakura melihat Naruto dan berjalan mendekatinya.
"Naruto-kun ayo kita berdansa" ajak Sakura. Naruto yang tidak bisa menolak akhirnya mulai mengikutinya juga.
Perlahan-lahan lampu mulai meredup, Setiap pasangan terbuai dengan lantunan musik romantis yang dimainkan.
"Kau akan bahagia menikah denganku Hime" gumam Menma yang tengah memeluk pasangannya dan berbisik tepat ditelinga kanan Hinata.
Namun tidak ada jawaban yang diberikan oleh Hinata. Sejak upacara pernikahan tadi ia tidak pernah sedikit pun menyunggingkan senyumannya.
"Baiklah minna, sekarang saatnya untuk mengganti pasangan dansa kalian" ujar MC yang memandu acara pesta dansa tersebut.
Suasana disana terlihat gelap hanya ada cahaya remang-remang yang membantu mereka untuk mengganti pasangan. Hinata melepaskan diri dari Menma begitu saja. Niatnya untuk pergi dari sana pupus sudah ketika seseorang menarik dan memeluknya. Tanpa Hinata tahu siapa dia, mereka pun mulai berdansa.
Tidak lama setelah itu, aroma citrus yang sangat menenangkannya mulai tercium. Hinata terbuai dengan aroma itu.
'Nyaman sekali. Seperti wangi Naruto-kun… ehh apa Naruto-kun?' batin Hinata tersadar dengan siapa dia berdansa sekarang.
Perlahan Hinata melepaskan pelukan itu. Merasa jika orang yang tengah ia peluk melepaskan peluakannya, Naruto pun beralih memegang kedua bahunya.
"Hinata?" tanya Naruto lembut.
Tatapan mereka kembali bertemu, dalam pencahayaan yang minim keduanya melihat wajah satu sama lain lagi. Hinata yang sudah tahu jika orang yang tengah berdansa dengannya adalah Naruto segera melepaskan diri dari hadapannya.
Melihat Hinata yang berontak dari hadapannya membuat Naruto semakin kuat mencengkram bahu Hinata.
"Tenang Hinata aku tidak akan menyakitimu. Kali ini saja izinkan aku berdansa denganmu, untuk yang terakhir kalinya" kata Naruto dengan nada suara yang begitu lembut, namun tidak bisa dipungkiri tersirat ketidakrelaan disana.
Hinata tidak lagi memberontak, bahunya sudah kembali rileks. Merasakan hal itu Naruto kembali memeluk Hinata begitu saja.
'Baka, apa yang aku lakukan?' ujar Hinata dalam hati.
Dia pun tidak bisa menolak dengan apa yang Naruto lakukan sekarang padanya. Hinata merasa nyaman dan aman dalam pelukan itu, tanpa sadar dia juga membalasnya.
Hinata POV
Seharusnya, aku yang ada disampingmu. Dari dulu, akulah yang selalu ada disisimu saat kau senang, sedih, bahagia dan marah. Sekarang semua itu sudah tidak berarti, ada orang lain yang telah menggantikanku. Kau pergi bersamanya begitu jauh, tidak bisa aku gapai lagi.
Aroma ini yang membuatku nyaman berada didalam pelukanmu. Jadi apa sebenarnya aku dalam hidupmu? Kita sudah hidup bersama 17 tahun lamanya. Apakah selama itu aku tidak berarti apapun untukmu?
Pelukan ini, apakah untuk yang terakhir kalinya? Kau tidak mengucapkan apapun. Masih belum terlambat untuk mengatakan 'aku mencintaimu' bukan? Tapi kenapa kau tidak mengatakannya. Apakah wanita itu yang kau cintai? Hahaha kau bicara apa sih Hinata, tentu saja dia. Tapi aku berharap kau mengatakan itu padaku.
Namun semua sudah terlambat, aku telah menjadi seorang istri dari kembaranmu. Berharap dia untuk mengatakan satu kalimat itu, tapi sepertinya tidak akan keluar dari mulutnya untukku. Terima kasih Naruto-kun kau telah memberikan berbagai warna dalam kehidupanku.
Air mata kembali mengalir membasahi bajumu, terasa hangat. Ya kau sekarang berada dekat denganku, tetapi hatimu sangat jauh.
Aku sangat mencintaimu, mungkin itu dulu tapi sekarang…..
Aku akan melupakanmu
Hinata POV End.
Hinata melepaskan pelukannya, mendorong dada Naruto untuk menjauh. Namun sebelum Hinata pergi dari hadapannya, Naruto kembali mencengram pergelangan tangan Hinata.
"Lepaskan aku" ujar Hinata tanpa menatapnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu"
"Apa maksudmu. Aku sudah menjadi seorang istri dari saudaramu, kau tidak pantas seperti ini padaku"
Plas! Hinata menghempaskan genggaman Naruto.
Ditengah keramaian itu Hinata pergi meninggalkan pesta yang seharusnya membuat dia lebih bahagia lagi. Tapi sepertinya Hinata sama sekali tidak menikmatinya.
Sepeninggalan Hinata, Naruto masih terdiam ditempatnya. Merasakan ada yang hilang disana. Pelukan hangat yang terjadi beberapa saat telah membuat Naruto tersadar akan sesuatu yang sudah hilang dalam genggamannya. Kehangatan itu sampai pada hatinya. Jantungnya berdegup kencang tanpa ia sadari.
Bajunya yang basah akibat air mata Hinata mulai mendingin. Musik romantis yang diputar tak sedikitpun memberikan efek kehangatan padanya. Semua itu telah hilang bersamaan dengan kepergian Hinata.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Naruto seraya mencengram dadanya kuat.
Tidak jauh dari tempatnya berada sepasang mata memperhatikannya sedari tadi. Seringaan kembali muncul diwajahnya, terlihat senang karna rencananya telah berjalan dengan lancar.
'Bagus, sebentar lagi nasibmu akan segera dimulai' batinnya, setelah itu iapun pergi meninggalkan pesta itu.
.
Hinata sudah berada didalam kamarnya. Bukan ruangan yang biasa ia tinggali, namun sebuah kamar baru yang nampak asing untuknya. Kamar besar itu di penuhi dengan dekorasi bunga yang terlihat romantis dan anggun. Terdapat banyak bunga bertabur di king size besar itu. Hinata sama sekali tidak nyaman dengan semua yang dilihatnya. Ia pun duduk dimeja rias melihat pantulan dirinya dicermin. Terlihat berantakan, make up luntur akibat air mata yang kembali mengalir. Tatanan rambut sudah tidak berbentuk lagi, pandangan matanya sama sekali tidak menyiratkan akan kebahagiaan.
Cklekk! Pintu dibuka oleh seseorang, Hinata tidak bergeming sama sekali.
Orang itu pun masuk berjalan dan berdiri dibelakang Hinata.
"Jika kau menangis dihari pernikahanmu semua akan sia-sia saja" ujarnya yang sedikit menyadarkan Hinata.
"A…ahh gomen aku tidak bermaksud seperti ini" balas Hinata lirih.
Suaminya tersenyum, mengusap-usap kepala Hinata dengan lembut "sudahlah, lebih baik kamu istirahat saja"
"Eum" Hinata mengangguk dan beranjak dari sana.
Ia pun mulai membaringkan dirinya diatas ranjang, namun Hinata tersadar akan sesuatu "kau jangan macam-macam padaku. Meskipun kita sudah menikah aku tidak mau melakukan hal itu dengan seseorang yang tidak aku cintai"
Mendengar Hinata berbicara seperti itu, membuat Menma tersenyum "tenang saja, aku sudah memikirkan hal itu. sekarang kau tidurlah aku akan mengurus pesta" jawab Menma dan kembali meninggalkan Hinata sendirian dikamarnya.
.
Menma sudah kembali ke tengah-tengah pesta. Ia melihat semua tamu undangan begitu menikmati perayaan pernikahan mereka. Sebuah senyuman hadir diwajahnya, dengan tangan dibelakang ia berjalan diantara mereka.
Puk! Seseorang menepuk pundaknya.
Dia pun terdiam, dan segera menengok kebelakang. Senyumannya kembali mengembang melihat siapa orang yang menepuknya.
"Nii-san" panggilnya riang.
Naruto menatap serius padanya "ikut denganku" ajaknya.
Tidak ada penolakan, Menma pun mengikuti kemana Naruto pergi.
Disini mereka sekarang, berada ditaman istana. Suasana sungguh sepi, hembusan angin malam terasa dingin menyentuh wajah mereka. Naruto dan Menma berdiri saling berdampingan. Menma tidak berkata apapun. Dia masih menunggu Naruto yang berbicara.
"Taman ini adalah tempat favorite Tou-san dan Kaa-san. Banyak kenangan yang tertinggal disini. Dan sekarang kau juga telah kembali, kita sudah bersama lagi" ujar Naruto kemudian.
Menma hanya tersenyum mendengarnya "Aku harap bisa melihat mereka"
'Dan kenangan indah itu tidaklah untukku. Kau telah melakukan banyak hal menyenangkan bersama Tou-san dan Kaa-san'
Diam kembali, Naruto menikmati pemandangan indah disana. Sudah lama taman itu juga telah menjadi tempat ternyaman untukknya. Kenangan indah bersama kedua orangtuanya hanya tertinggal disana. Namun bukan itu tujuan utama Naruto membawa Menma kesini ada hal lain yang ingin ia tanyakan padanya.
"Apakah kamu serius menikah dengan Hinata?" tanya Naruto setelah menetapkan hatinya.
Lagi-lagi Menma hanya tersenyum "Inikah intinya kau membawaku kesini?" tanya balik Menma.
Naruto mengangguk mengiyakan.
"Aku serius tentang pernikahan ini. Ada seorang pria yang sangat ia cintai, tetapi pria itu tidak peka terhadap perasaannya. Dia lebih memilih orang lain dari pada dia yang jelas-jelas sudah bersamanya bertahun-tahun. Jadi aku tidak suka melihatnya bersedih hati, maka dari itu aku menikahinya akan ku buat dia bahagia"
Deg….. mendengar ucapan Menma barusan membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Pria yang disebutkan tadi mungkinkah dirinya?
'Kenapa aku merasa tersindir? Apakah pria itu aku? Kenapa ucapannya seolah mengarah padaku?'
"Apakah kamu mencintainya?"
"Pernikahan ini bukan atas dasar cinta. Tetapi aku ingin membuat dia bahagia"
'Dan tentunya membuatmu menderita'
"Jadi buat apa kalian menikah jika tidak saling mencintai?" nada bicara Naruto meninggi sekarang.
"Jika aku tidak menikahinya apakah kau akan membuatnya bahagia?"
"Tentu, dia adalah anggota keluargaku juga. Sudah lama kami hidup bersama-sama"
"Khe" Menma berdecik, "kau akan membahagiakannya? Justru yang kau lakukan itu adalah sebaliknya. Haha tapi percuma bicara denganmu, semua itu tidak akan mengubah apapun. Lebih baik sekarang kau urusi saja putrimu itu dan jangan ganggu Hinata lagi jika tidak ingin melihatnya lebih menderita" setelah berkata seperti itu Menma pun pergi meninggalkan Naruto yang terdiam disana.
Perasannya kembali merasakan sakit disana. Semua perkataan Menma memang sepenuhnya mengarah padanya. Jadi apa yang harus dia lakukan? Menerima Hinata dimiliki olehnya?
"Selama ini aku memang tidak menyadarinya. Semua perbuatan yang aku lakukan pada Hinata, aku merasa itu adalah hal biasa. Namun nyatanya aku telah menyakitinya begitu dalam. Dan sekarang aku harus apa? Memaksa Hinata untuk membatalkan pernikahan mereka? Khe, jangan konyol. Mereka telah resmi menjadi suami istri sekarang. Benar apa yang kau katakan Menma, bahwa aku tidak bisa membahagiakannya"
Tbc….
Terima kasih banyak yang udah baca semoga tidak mengecewakan :D silahkan reviews ya ^^v jaa, sampai jumpa lagi :D
.
Balasan reviewss :
ranmiablue : haha sudah sadar mungkin :D iya dia terlambat satu langkah wkwk :D :D arigato udah ngereviews :)
LuluK-chaN473 : hahaha iya pastinya :D arigato udah ngereviews :)
Tsukasa : heheh iya, udah lanjut semoga suka :D arigato udah ngereviews :)
FVN-Hime : heheh udah lanjut semoga suka :D arigato udah ngereviews :)
