REMAKE 'BROKEN HART' by ELLA FOX
BAB 9
Senin adalah hari yang sangat sibuk. Kami harus menghadiri pertemuan setelah pertemuan sebelumnya untuk tetap berada di gedung yang berada di Pyeongchang-dong. Kami tidak mempunyai pilihan lain selain bekerja hingga makan siang, makan bersama Mingyu dan Wonwoo diruang kerja sambil memeriksa revisi-revisi blueprint.
Bangunan yang tahan akan gempa bumi selalu menantang permintaan dari pembeli. Aku menemukan dua masalah dalam revisi yang kupikir tidak akan bisa kami lakukan dengan aman. Wonwoo setuju untuk menggambar ulang bagian itu, dan kupikir itulah keputusannya ketika kulihat Mingyu berkedip padaku.
"Kau tahu, Kyungsoo mungkin tidak cocok untuk menjadi asisten eksekutifmu. Kupikir mungkin kita perlu mengangkatnya sebagai seorang project manager. Dia menyelesaikan sesuatu yang bahkan kita tidak menyadarinya."
Itu sangat manis ketika Mingyu mengucapkannya dan aku tersenyum padanya. Jongin terlihat tidak setuju, karena dia memukulkan tangannya di atas meja dan membentak, "Persetan denganmu, Mingyu. Kyungsoo milikku dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya."
Kepalaku terayun kebelakang, melihatnya dan mataku melebar.
Sialan, apa maksudnya itu?
Mingyu memberikan tatapan mengejek, alisnya terangkat. "Sialan, tenanglah. Tidak ada yang ingin mengambil Kyungsoo. Aku hanya mengatakan bahwa jika dia ingin, dia akan menjadi seorang project manager yang hebat. Dan kau ingin menolaknya dengan mengatakan'dia milikku'. Kau terdengar seperti seorang psycho."
Aku menepukkan kedua tanganku untuk mendapatkan perhatian mereka. "Oke, boys. Masukkan kembali anu kalian ke dalam celana. Ini bukan kontes ukuran. Santailah." Aku menoleh ke kanan dan menatap Jongin ketika mengatakan. "Hentikan itu."
Kedua orang itu saling melotot selama beberapa detik, dan kemudian Mingyu mendongakkan kepalanya dan tertawa. "Kyungsoo, kau selalu tahu apa yang harus kau katakan untuk tetap meletakkan kami di tempat yang seharusnya."
Jongin ikut tertawa, dan mereka bersalaman dan saling menepuk punggung, dan begitulah situasinya mereda.
Sisa hari lewat begitu saja. Pegawai kantor pulang sekitar jam enam, Mingyu dan Wonwoo pergi setelah jam tujuh, Jongin dan aku akhirnya membereskan semuanya sebelum jam delapan.
Duduk di kursiku, aku memberikan sentuhan terakhir pada email untuk pegawai ketika Jongin berkata "Kyungsoo. Bisakah kau membantuku?"
Aku menekan send pada email dan meninggalkan kursiku. Aku tahu ini hanya masalah komputer. Jongin tidak menikmati program baru kami dan aku menghabiskan paling tidak sepuluh menit setiap harinya untuk membereskan masalah yang dia buat. Untuk seseorang yang sudah ahli dengan teknologi, ini sangat lucu untuk melihat rasa frustasinya.
Aku terkekeh ketika sampai di pintunya. "Apa yang kau perbuat kali ini, bodoh—" Aku mendadak berhenti ketika melihatnya duduk dibelakang meja kerja, sepenuhnya telanjang, tangannya bergerak naik turun di kejantanannya.
Dia menyeringai melihatku terkejut. "Kyungsoo, tutup pintu itu dan kunci. Kemarilah."
Aku berbalik dan meninggalkan ruangan, berlari ke kantor depan. Aku mengunci pintu ruangan kantor kami lalu masuk kembali ke ruangannya, mengunci pintu di belakangku.
Air liurku menetes ketika aku mulai berjalan melewati ruangan. Aku melepas sabukku dan mengangkat dress biru navy yang kupakai melewati kepalaku. Aku melepaskan thong dan bra ku, lalu membungkuk untuk menanggalkan sepatuku.
"Oh tidak Kyungsoo, aku telah membayangkan kau menggunakan sepatu itu sementara kita bercinta di mejaku selama satu tahun. Jangan lepaskan."
Aku mengangguk dan menegakkan tubuhku, kembali berjalan menuju ke arahnya. "Kebetulan sekali. Aku juga telah berfantasi untuk bercinta denganmu di meja selama satu tahun ini. Aku kira impian kita berdua akan segera terlaksana."
Aku mengitari sisi mejanya dan duduk di pangkuannya, kejantanannya keras dan panas. Mengalungkan lenganku di lehernya dan melilit rambutnya dengan jari-jariku, aku maju untuk memagut bibirnya.
Ciuman kami sangat bergairah dan mengejutkan karena kami melakukannya dengan pelan, saling menikmati. Jongin menjalankan tangannya naik turun di punggung dan sisi tubuhku, sensasinya nyaman dan manis, tapi sangat merangsang.
Aku menggeliat di pangkuannya dan menggosok kejantanannya. Melepaskan mulutnya yang berada di mulutku dan kemudian berdiri."Kyungsoo, aku akan meletakkanmu di meja. Berbaringlah."
Aku berbaring di mejanya yang besar, kayunya terasa dingin dan keras di bawahku. Jongin berdiri di atasku, menatapku. "Sweetheart, kau terlihat luar biasa. Melihatmu berada di mejaku, aku merasa seperti baru saja memenangkan lotre."
Aku menjadi sulit bernafas sekarang karena kata-katanya menyentuhku. Dia berkata tidak pernah menjalin suatu hubungan, tapi kata-katanya menaburkan benih harapan di hatiku. Mungkin ini benar-benar bisa menjadi sesuatu yang lain.
Aku berhenti berpikir ketika dia duduk di kursi kerjanya dan mendorong kedua kakiku membuka. "Sayang, letakkan tanganmu di bawah lutut dan tarik kakimu. Jangan lepaskan."
Aku melarikan tanganku turun ke paha dan menaikkan kakiku agar aku bisa menarik lututku ke atas. Aku sepenuhnya terbuka untuknya dan dia tidak membuang waktu untuk membungkuk dan mulai mencium dan menjilat, dimanapun, tapi tidak di clit-ku.
Kepalaku bergerak, menggeleng di atas meja. Setiap ciuman dan jilatan membuatku semakin terangsang, tubuhku menegang seperti tali busur.
Ini seperti surga ketika dia menyelipkan lidahnya masuk ke dalam kewanitaanku, bersenandung dan bergoyang di dalam. Perasaan ini tidak bisa digambarkan, dan aku dapat merasakan cairanku mengalir di lidahnya.
Jantungku berdetak sangat kuat, dan aku memohon padanya untuk menjilat clit-ku. "Kumohon, Jongin. Kumohon. Aku sangat ingin keluar."
Dia menyiksaku sangat lama, membiarkanku hampir orgasme lagi dan lagi, menghentikannya ketika aku hampir orgasme.
Aku hampir gila karena kebutuhan, terengah dan menggeliat ketika dia melanjutkan usahanya menyiksaku.
Akhirnya, akhirnya, dia mulai menjilati clit-ku. Berputar ke satu sisi lalu turun ke sisi lain. Cairanku semakin bertambah banyak dalam sekejap.
Dia memasukkan jari tengahnya ke dalam tubuhku, tapi itu hampir membuat ujung kenikmatanku menjauh. Aku menarik kakiku semakin jauh dan senang ketika dia memasukan satu jari lagi ke dalam.
Aku dapat merasakan dia membuat gerakan 'ayo kemari' dengan jari-jarinya di dalamku. Rasanya sangat intens membuatku pusing.
"Oh kumohon, kumohon, kumohon—Sial! Jongin, kumohon buat aku klimaks. Kumohon. Aku akan mati jika kau tidak melakukannya."
Dia melanjutkan gerakan 'ayo kemari' nya dan menyelipkan lidahnya di sisi lain clit-ku, dan aku merasakan diriku berusaha keras untuk orgasme yang besar. Aku terengah-engah dan sudah sangat siap untuk datang, tidak pernah lebih siap dari saat ini.
Tanpa peringatan dia menghisap clit-ku di mulutnya. Seperti roket yang jatuh di tubuhku. Menjerit, aku melengkungkan punggungku dan mengangkat tubuh bawahku dari meja ketika aku meledak dalam orgasme.
Tanpa memberikan jeda waktu untukku, Jongin berdiri dan mengambil tanganku dari belakang lutut, menciumi telapak tanganku sebelum meletakkannya di sisiku, di atas meja. Mengambil pergelangan kaki ku, dia mensejajarkan kejantanannya dengan celahku dan mulai memasukkannya.
Sebasah dan se-bergairahnya aku ini terasa sangat sulit karena otot kewanitaanku masih berdenyut dan menegang dari orgasme gila yang baru saja kudapatkan. Akhirnya tubuhnya sepenuhnya masuk ke dalam tubuhku dan kami mengerang merasakan sensasinya.
"Letakkan sepatu hot itu di bahuku dan bersiaplah." Menahan tangannya di sisi pahaku, dia mulai bergerak keluar masuk dengan perlahan. Tekanan di clit-ku meningkat ketika dia membungkuk, membuat bibir kami bertemu kembali. Aku merasakan cairanku di lidahnya dan membuatku semakin basah.
Bibirnya meninggalkanku ketika dia menegakkan tubuhnya dan mempercepat gerakannya.
"Oh, ya sayang. Jepit kejantananku dengan milikmu. Ambillah. Rasanya sangat luar biasa berada di dalam mu. Aku belum pernah berada di dalam sepanas, ketat dan sebasah ini. Seperti memukul milikku."
Setiap kata-katanya membuatku semakin basah. Aku bisa sepenuhnya mendengar suara bagaimana basahnya aku ketika pinggulnya masuk dan keluar. Aku hampir meracau dengan kebutuhan.
Kecepatannya bertambah, gerakannya semakin cepat dan semakin cepat. Dia membungkuk, mengait putingku, hisapan pertama di ujungnya lalu menggigitnya semakin turun. Hanya seperti itu, aku meledak, menggores punggungnya dengan kuku jariku ketika meledak di sekelilingnya.
Jongin melanjutkan gerakannya, tidak memberikanku waktu untuk bersantai sejenak. Kami adalah sebuah simfoni dari suara percintaan, mengerang dan merintih.
Dia menyandarkan dahinya di dahiku sementara dia terus bergerak. "Letakkan kakimu di pinggangku sayang."
Mengangkatku dari atas meja, dia mundur dan duduk. Oh Tuhan, ini luar biasa. Aku sepenuhnya tertusuk olehnya. Dia membantu mengambil kakiku melewati lengannya di kursi dan kami mulai bergerak lagi. Berada di atasnya dan pembukaan ini adalah sebuah sensasi yang luar biasa.
Kepalaku mendongak ketika aku menaikinya. Naik turun dan naik turun. Kejantanannya memukul titik di rahimku dalam setiap gerakannya membuatku gila.
Tangannya memegang pinggangku dan menggerakkanku naik turun semakin cepat dan semakin cepat. "Sayang, aku hampir keluar—tidak pernah sebaik ini. Tidak pernah."
Aku mengangguk menyetujuinya karena aku tidak bisa berkata-kata.
Aku hampir orgasme. Dia mendorong ke dalam tubuhku empat kali dan aku mendongakkan kepalaku ke belakang dan meneriakkan orgasmeku. Dia mengikutiku, menarikku ke bawah dengan keras ketika dia datang di dalamku.
Menyandarkan kepalaku di dadanya, aku mendengarkan detak jantungnya sementara aku menenangkan nafasku.
Kami bersandar seperti itu selama beberapa menit sampai kami bisa bernafas kembali. Aku merasakannya menjalankan jari-jarinya di punggungku naik dan turun sisi tubuhku ketika kami berbaring bersama setelah orgasme. Sangat menenangkan.
Akhirnya, aku harus turun. Selangkanganku perih karena terbuka sangat lebar di kursi dan kakiku sakit karena tertahan ketika dia bergerak masuk ke tubuhku. Dia membantuku berdiri dan mendudukkanku di atas meja.
Aku bertumpu pada sikuku dan menikmati pemandangan dari pantat telanjangnya ketika dia berjalan ke kamar mandi yang terdapat di ruangannya.
Dia kembali beberapa menit kemudian dengan celananya yang sudah terpakai dan beberapa handuk basah. Kembali kepadaku, dia membersihkanku dengan handuk basah, menanamkan sebuah ciuman di mulutku ketika dia selesai.
Melihat jam, sudah jam sembilan, waktu berjalan sangat cepat. Aku melompat turun dan berpakaian dengan cepat, bersamaan dengan Jongin yang telah selesai berpakaian.
Kami membereskan semuanya dan pergi keluar. Seperti seorang gentleman, dia mengantarkanku ke mobil. Mendorongku masuk ke kursi penumpang, dia meletakkan tangannya di belakang leherku dan menarikku ke arahnya untuk sebuah ciuman.
Kami melakukannya selama beberapa menit, menikmati pengalaman ini. Menyandarkan dahinya di dahiku. "Apa yang terjadi di sini sangat—aneh. biasanya intensitas akan hilang dengan segera. Sedangkan ini menjadi semakin baik."
Aku mengangguk menyetujui. "Itu pengecualian Jongin. Apa yang terjadi di sana—Ini terlalu intens. Sangat luar biasa."
Aku mencium bibirnya cepat. "Aku harus pergi. Soohyun akan curiga jika aku tidak sampai di rumah secepatnya. Aku akan menemuimu besok."
Mundur ke belakang, dia menjalankan ibu jarinya di bibir bawahku. "Aku ingin mengantarkanmu pulang dan kembali ke ranjang. Aku senang jatuh tertidur bersamamu."
Aku mencium ibu jarinya dan mengangguk, tersenyum padanya. "Aku akan menemuimu besok pagi," aku berkata sambil menghidupkan mobilku.
Menyetir pulang ke rumah, aku berhenti untuk membeli satu Big Mac dan sebuah coke besar, makan dan minum sebelum sampai di rumah. Soohyun akan curiga jika aku sampai di rumah di jam ini dan belum makan sama sekali, dan aku tidak ingin memancing perhatiannya tentang apa yang terjadi.
Aku mengatur untuk masuk ke dalam rumah tanpa melihatnya dan melompat ke dalam shower. Aku menarik sepasang boxer dan kaus, kemudian naik ke ranjang.
TBC
02-01-2017
caramel-hun
