Maaf atas keterlambatan Hurt, dan terima kasih atas semua review yg masuk. Akun resmi sudah dibalas lewat pm ya? Hehe~ tapi menurut pembaca semua, enakan balas review lewat pm atau ga?

Oke tanpa berlama-lama silahkan dinikmati :)

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto-Sensei

Sebelumnya

"Aku tahu aku salah Neji-nii. Tapi aku tidak bisa kehilangan Hinata. Aku tidak bisa menerima kalau Sasuke dan Hinata..." Naruto menggantungkan kalimatnya. "Neji, apa kau yakin Sasuke akan membahagiakan Hinata? Dia memperkosanya!"

Neji tidak langsung membalas ucapan Naruto. Dirinya hanya bisa menatap Naruto dengan perasaan yang bahkan Neji sendiri tak dapat mengerti.

"Memangnya apa yang akan kau lakukan bila aku membantumu?"

Hurt

Neji tersenyum saat melihat punggung Naruto menjauh dari pandangannya, kakak Hinata Hyuuga itu menghela nafas.

"Apa yang aku lakukan ini benar?"

...

Bunga-bunga berwarna putih itu dirangkai dengan baik oleh tangan lentik Hinata. Memberikan sebuah pita besar berwarna merah sebagai pelengkap karangan bunganya.

Hinata tersenyum puas, dengan gerakan halus Hinata menaruh bunga itu di atas meja.

"Berangkat sekarang?"

Hinata mengangguk, menanggapi pertanyaan Sasuke yang ia punggungi. Segera Hinata mengambil karangan bunganya, dan berjalan ke arah Sasuke yang menunggu di ambang pintu.

...

"Aku baru pertama kali mengunjungi makam ibumu." Ucap Sasuke di dalam mobil. Mengendarai mobil mewahnya menuju makam keluarga Hyuuga.

"Kau gugup?" Hinata sedikit terkikik.

Sasuke menggendigkan bahu, "Sedikit."

Kini Hinata benar-benar tertawa, tawa lepas yang membuat Sasuke mengernyitkan alisnya.

"Hahahahaha..." Hinata mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata. "Astaga..." ada jeda. "Tidak pernah aku sangka bahwa seorang Uchiha Sasuke bisa gugup."

"Hentikan itu." Sasuke terdengar sinis. "Itu bukanlah hal lucu."

Hinata menggeleng. "Tentu saja lucu Sasuke-kun. Ini hal langka."

Wajah Sasuke tampak sebal, agak kesal karena Hinata menertawainya sepuas itu. Tapi mungkin bukanlah hal buruk, bisa melihat Hinata tertawa karenanya. Karena Uchiha Sasuke.

Hurt

Naruto menautkan penampilannya di depan cermin besar. Mengagumi pakaian jas resminya yang berwarna hitam dengan kemeja bergaris dan dasi kupu-kupu berwarna hitam.

"Apakah ini sudah cukup?" Tanya Naruto pada dirinya sendiri. "Bunga, tentu saja. Aku akan mampir ke toko Ino dulu."

Lalu pria blonde itu membawa kunci mobilnya, mengendarai mobil oranye nyentriknya di jalanan kota Tokyo.

Suara deringan bel membuat Ino menoleh, ia sedikit mengernyit melihat Naruto masuk dengan penampilan cukup formal baginya. Naruto orang yang urakan, dan pakaian itu jelas bukanlah gayanya.

"Yo, Ino!" Sapa Naruto dengan cengian khasnya.

"Wah, ada acara khusus Naruto? Tak biasanya kau memakai pakaian seformal itu."

Naruto terkekeh di depan meja kasir tempat Ino berdiri. "Aku pesan bunga krisan, tolong bungkus dengan apik."

"Untuk orang tuamu?" tanya Ino.

Naruto menggeleng. "Bukan, tapi untuk Ibu Hinata."

"Begitu?" Ino mengangguk-ngangguk sambil melenggang melewati Naruto, menggapai beberapa tangkai bunga krisan di rak tokonya bersama peralatan lainnya.

Gadis dengan rambut pirang itu merangkaikan bunga sambil tersenyum. "Seharusnya kau ke sini bersama Hinata tadi."

Mendengar nama Hinata disebut membuat Naruto cepat bereaksi. "Hinata kemari?"

Ino mengangguk. "Ya, tadi pagi." Ino melirikkan pandangannya pada Naruto. "Apa kalian bertengkar? Maksudku, hubungan kalian baik-baik saja kan?"

Naruto terdiam mendengar pertanyaan Ino padanya. Benar juga, Ino tidak satu kampus dengan mereka. Pasti Ino ketinggalan kabar bahwa hubungan Naruto dan Hinata sudah berakhir sejak lama.

"Aku sedang berusaha memperbaikinya."

Ino mendengus mendengar jawaban Naruto. "Jangan pernah kau sakiti Hinata, Baka. Kau tahu bagaimana dia sangat menyukaimu sejak lama." Ucap Ino sebal sambil memberikan buket bunga pesanan Naruto.

Naruto tersenyum tipis. "Ya, aku tahu."

Hurt

Hinata meletakkan dua buah buket bunga di atas makan ibundanya. Dirinya berlutut di dekat makam saling berhadapan dengan Sasuke. Berdoa dalam keheningan.

Setelah selesai Hinata jalan bersisian dengan Sasuke meninggalkan makam.

"Doa apa yang kau panjatkan Sasuke?" Tanya Hinata dengan senyum, sejujurnya Hinata memang penasaran karena Sasuke ternyata berdoa lebih lama darinya.

"Aku berdoa supaya Ibumu tidak marah padaku." Ucap Sasuke pelan. Mendadak Sasuke menghentikan langkahnya, menarik tangan Hinata untuk berhenti juga. "Aku berdoa atas restunya untuk kita. Sama seperti Ayahmu, Hinata."

Oh tidak! Kata-kata Sasuke membuat Hinata merona hebat. Ukh! Tidak aneh bila Sasuke menjadi cassanova, betapa lihai Sasuke berkata-kata. Atau Hinata yang terlalu pemalu?

Tapi nyatanya Hinata malah tersenyum, senyuman dengan wajah merona yang sangat disukai Sasuke. Jangan lupakan tangan Hinata yang meremas lembut tangan Sasuke.

"Kau ternyata benyebalkan." Kata Hinata malu-malu. "Kau tidak sependiam yang orang lain katakan ya?" Hinata terkikik.

Sasuke hanya menggindigkan bahu, menarik tangan Hinata lembut untuk berjalan bergandengan dengannya.

"Aku lapar."

Hinata mengangguk. "Kita buat kare, bagaimana?" Usul Hinata.

"Selama itu buatanmu."

Hinata terkekeh, entah kenapa ia merasa Sasuke memanglah orang baik. Menyesampingkan bagaimana Sasuke dulu, toh nyatanya Sasuke benar-benar mencintainya. Jadi rasanya Hinata benar-benar tidak menyangka bahwa menantikan dirinya menikahi Sasuke akan semenyenangkan ini.

"Dobe."

Hinata terkejut ketika Sasuke mendesiskan nama yang membuat Hinata tidak nyaman. Ia mendongak dan melihat wajah Sasuke yang mengeras. Lalu arah pandangan Hinata mengikuti arah mata Sasuke.

Hinata beringsut bersembunyi di belakang Sasuke ketika ia melihat Naruto yang menatap tajam pada dirinya.

"Sa-Sasuke..." Hinata memanggil takut.

Sasuke tidak mengalihkan pandangannya pada Naruto, tapi Sasuke mengeratkan genggamannya pada tangan Hinata. Berharap bahwa hal itu dapat menenangkannya.

"Apa maumu, Dobe?" Tanya Sasuke ketus.

Sedangkan pandangan Naruto terus tertuju pada Hinata yang kini ada di balik tubuh Sasuke. Ini menyakitkan untuk Naruto, bagaimana dulu Hinata selalu mengikutinya seperti anak ayam. Tapi kini Hinata malah bersembunyi darinya.

"Hinata..." Ingin rasanya Naruto segera maju dan menarik Hinata dari Sasuke. Amarah kecemburuannya sudah menumpuk di ubun-ubun. Lalu apa? Setelah Hinata direbut dengan paksa, apa yang akan terjadi? Hinata akan membencinya seumur hidup. Naruto tidak menginginkan hal itu.

Hubungan antara dirinya dan Hinata kini seperti musuh bebuyutan. Ironis sekali, betapa cepat hubungan mereka berbalik seperti ini. Naruto merindukan senyum Hinata, bagaimana gadis itu selalu ada untuknya. Bagaimana Hinata benar-benar begitu mencintainya. Andai waktu bisa diputar lagi, Naruto rela memberikan apa pun untuk memperbaikinya.

"Pergilah Dobe, jangan ganggu kami."

Naruto menggertakkan giginya dalam diam. Dengan amarah dan rasa kecewa yang menjadi, Naruto berjalan lurus dengan menahan dirinya untuk sedikit saja menoleh pada Hinata ketika ia melewati Sasuke.

Sakit. Untuk Naruto ini benar-benar menyakitkan. Hinata begitu dekat dengannya, tapi tidak sedikit pun Naruto bisa menggapainya.

.

.

"Lama tidak berjumpa, Kaa-san." Ucap Naruto ketika ia berlutut untuk meletakkan bunga di atas makam ibunda Hinata. Naruto tersenyum kecut, "Masih bolehkah aku memanggilmu begitu ketika aku telah melakukan dosa pada Hinata?"

Sudah jelas tidak, Naruto tahu itu. Mungkin bila ibunda Hinata masih hidup, Naruto akan dimaki habis-habisan.

Naruto berucap lirih, "Aku ingin minta maaf atas semua dosa yang kuperbuat pada Hinata. Aku telah mengecewakannya dan aku sungguh menyesal atas segala yang kulakukan." Ada jeda. "Tolong doakan aku supaya bisa memperbaiki segalanya. Restui upayaku Kaa-san. Kumohon..."

Doa yang terpanjat dari hati Naruto terdalam, sungguh pria bodoh itu sangat berharap Dewa mau mengabulkannya, dan Ibunda Hinata juga mendukungnya di alam sana.

"Aku memang bodoh, tapi aku juga tidak bisa merelakannya."

Tahukah kau Naruto? Kau sangat egois...

Tbc

Terima kasih atas review yg masuk~ terus dukung Ritsu ya~ SeeU :3