Title: Karakura Hospital

Pairing: IchiRuki

Disclaimer: Tite Kubo


Apakah aku benar tuk memulai cinta kembali? Kenapa cinta datang kembali? Padahal aku sudah tidak mempedulikan cinta lagi… Tapi, apakah kubisa memulainya kembali?


KARAKURA HOSPITAL

"Rukia! Bangunlah!" kata Ichigo dengan cemas. Wajahnya berkeringat. Tangannya memegangi wajah Rukia. Wajah Rukia yang panas dan berkeringat dingin. Rona merah tampak jelas di wajah Rukia. Rukia pun perlahan membuka matanya.

"Ichigo? Aku,… aku-" Rukia terlihat kebingungan. Air matanya mengalir. Tapi, Rukia sendiri bingung kenapa air matanya dapat mengalir. Dia seperti kehiliangan sesuatu. Dia kehilangan ketenangan.

"Shhsh… Tenanglah Rukia, jangan takut, aku ada disini." kata Ichigo yang menggegam tangan Rukia. Tangan yang dingin. Rukia mengubah posisi berbaringnya menjadi posisi duduk. Ichigo membantunya duduk. Suasana di sana masih gelap. Memang tak begitu gelap setelah Ichigo menghidupkan lampu tidur Rukia yang berada di samping ranjangnya.

"Aku akan mengambil air putih dulu," kata Ichigo yang hendak pergi ke dapur. Akan tetapi, Rukia telah menahan Ichigo terlebih dahulu dengan cara menarik tangannya.

"Jangan pergi Ichigo, aku takut, jangan pergi," kata Rukia memohon. Ichigo yang melihat Rukia seperti itu langsung memeluk tubuh kecil Rukia.

"Jangan menangis lagi Rukia, aku ada disampingmu sekarang," kata Ichigo sambil mengelus-elus rambut Rukia.

Jam masih menunjukan pukul setengah satu malam. Ichigo tetap memeluk Rukia. Setelah beberapa menit kemudian Rukia melepaskan pelukan Ichigo.

"Aku sudah baikkan Ichi, kau bisa tidur lagi," kata Rukia yang tersenyum kepada Ichigo. Ichigo hanya menghela nafasnya.

"Kau bermimpi apa?" tanya Ichigo. Ichigo tahu jika Rukia mimpi buruk. Tapi, mimpi buruk apakah yang dialami gadis itu,

"Aku hanya bermimpi film tadi kok. Hahaha harusnya aku-"

"Bohong, di film itu tidak ada yang bernama Kaien. Siapa dia, Rukia Kuchiki?" tanya Ichigo yang sangat berharap jika Rukia akan menjawab pertanyaanya.

"Dia bukan siapa-siapa kok. Dia hanya seniorku saja,"

"Aku tidak percaya Rukia! Kenapa kau tak jujur padaku?!"

"Baiklah… Kaien adalah cinta pertamaku, Ichigo. Kau puas?" mata Ichigo melebar. Rukia tertunduk.

"Kami bertemu beberapa tahun yang lalu…"

FLASHBACK

"Kaien-senpai! Tunggu aku!" kata seorang siswi SMU berlari mengejar seorang pria berambut hitam jabrik di depannya.

"Kuchiki, kau lambat sekali sih?! Ayolah!" teriak pria itu. Pria yang bernama Kaien Shiba. Akhirnya gadis itu, Rukia Kuchiki dapat mengejarnya.

"Kaien-senpai itu langkahnya lebar sedangkan aku!? Bagaimana?"kata Rukia.

"Iya-iya, my lovely junior, ayo kita makan siang. Aku yang teraktir!" kata Kaien sambil tersenyum.

"Ok!"kata Rukia girang. Sangat indah masa itu. Masa remaja memang tak akan pernah terlupakan. Masa dimana kita beranjak dewasa.

Sesampainya di sebuah kafe, mereka pun segera mencari tempat duduk. Mereka duduk di dekat dapat melihat salju yang perlahan turun. Orang-orang tetap berjalan menjalani kesibukannya sendiri walau salju turun. Salju memang indah. Itulah yang ada dipikiran Rukia. Dingin dan lembut. Bagaikan snow angel yang sedang menemani Rukia. Rukia tersenyum.

"Ada apa Kuchiki?" Tanya Kaien.

"Tidak kok Kaien-senpai! Hanya melihat salju turun!"

"Hahaha, kau menyukai salju, ya?" Tanya Kaien.

"Ehm… Iya. Aku suka. Mereka lembut, dingin, dan aku merasa nyaman dengan mereka," kata Rukia sambil tersenyum. Rukia melanjutkan memandangi salju sambil menunggu pesanan datang.

"Kuchiki, Kuchiki, hahaha kau lucu sekali. Kau tahu, kau mirip sekali dengan salju," kata Kaien yang tidak bisa menahan tawa.

"A-Apa?! Apa maksud Kaien-senpai?" Tanya Rukia yang gugup mendengar kata-kata Kaien tadi.

"Sejenak orang pasti menganggapmu dingin, seperti banyak orang yang merasa kedinginan saat salju turun. Mereka pasti tidak ingin menyentuhnya karena mereka akan tambah kedinginan. Apalagi mereka yang belum pernah merasakannya, pasti mereka akan beranggapan bahwa salju itu kasar. Tapi, jika orang mengenalmu lebih dekat, mereka pasti akan tahu jika kau adalah gadis yang lembut seperti salju, dan tanpa mereka sadar, mereka akan merasa nyaman berada didekatmu. Aku pun merasakannya," kata Kaien sambil tersenyum kepada Rukia.

"Be-Benarkah? Aku lembut?" Tanya Rukia.

"Yah, begitulah. Wah, makanan sudah datang! Mari makan Kuchiki!"seru Kaien ketika melihat makanan datang.

"Selamat menikmati!" kata pelayan itu dengan ramah setelah meletakan makanan di meja Kaien dan Rukia.

"Selamat makan!" ucap Kaien.

"Selamat makan," kata Rukia pelan.

"Aku masih sangat ingat waktu itu. Kaien benar-benar mengatakan suatu hal yang membuatku bahagia. Bahkan, kata-katanya masih terngiang di kepalaku. Suaranya pun masih tetap aku ingat walau sekian tahun lamanya," kata Rukia yang seperti masih dibayangi oleh pria yang bernama Kaien.

Ichigo mungkin merasa sangat cemburu karena gadis yang kini dicintainya menceritakan tentang pria lain. Apalagi pria itu adalah cinta pertama Rukia. Tapi, mendengar Rukia bercerita, Ichigo merasa jika Rukia memang sangat merindukan pria itu.

Terdengar suara handphone Kaien berbunyi. Kaien pun segera mengangkatnya. Diterimanya telpon itu.

"Halo?" kata Kaien.

"Miyako? Aku ada di kafe bersama Kuchiki," kata Kaien lagi yang sedang berbicara pada seseorang.

"Menjemputmu? Baiklah tunggu aku," Kaien pun menutup telponnya.

"Kuchiki, ayo cepat. Setelah ini aku antarkan kau ke stasiun," kata Kaien.

"Tidak usah Kaien-senpai! Aku bisa-"

"Tak apalah! Aku tidak mau terjadi sesuatu pada junior kesayanganku," kata Kaien.

"Pada saat itu sempatku merasa aneh. Aku merasa seperti terbakar. Mungkin aku cemburu pada Miyako-senpai, kekasih Kaien-senpai sejak SMP. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya diam saja," kata Rukia yang tersenyum pahit. Ichigo menatap wajah Rukia lekat-lekat.

Ketika Kaien dan Rukia dalam perjalanan menuju stasiun, mereka di halangi oleh preman jalanan.

"Kalian mau kemana?" Tanya seorang pria dengan tindik dimana-mana serta tato bergambar naga menghiasi tangannya.

"Ijinkan kami pergi, tuan," kata Kaien.

"Wow, gadis ini manis sekali. Rasanya ingin menyayangnya," kata teman pria itu yang melihati Rukia. Dipegangnya tangannya. Rukia pun merasa risih langsung melepaskan tangan dari pria itu.

"Jangan malu, gadis manis," kata pria itu lagi.

"Kau manis sekali," kata pria yang lain.

"Jangan sentuh gadis itu!" teriak Kaien.

"Pegang dia! Lebih baik kita perkosa gadis manis ini, hahaha,"

"Lepaskan aku!" kata Rukia.

"Jangan sentuh Kuchiki, kau pria iblis!!" kata Kaien sambil menendang seorang pria yang memegang tangannya.

"Kuchiki!" Kaien berlari kearah Rukia. Ditendangnya pria yang memegang Rukia, kemudian ditariknya Rukia.

"Kuchiki! Ayo kita segera pergi!" Rukia pun hanya mengikuti Kaien.

"Tunggu kau brengsek!" teriak pria yang ditendang Kaien. Pria itu menyuruh anak buahnya memegang Kaien. Kaien berusaha melepaskan diri. Kaien pun berhasil lepas kemudian memukuli pria-pria jalanan itu. Rukia di pegang pria bertindik itu.

"Kaien-senpai!!" teriak Rukia. Kaien dipukuli dengan keras. Rukia yang tidak tega berusaha melepaskan diri. Rukia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Kaien melawan preman-preman itu mengeluarkan belati.

"Kita bunuh anak ini!" kata salah satu pria yang menghajar Kaien. Rukia melihat belati tersimpan dipinggul pria bertindik yang sekarang memegangnya. Dengan sekuat tenaga, Rukia berusaha melepaskan diri dan akhirnya dia lepas. Dia berlari dan memejamkan mata dan berusaha mensuk belati ke pria yang akan membunuh Kaien.

"HYAAAA!"

JLEB

Rukia membuka matanya. Yang Rukia tusuk bukanlah preman-preman itu, tapi melainkan Kaien . Mata Rukia melebar. Rukia menjatuhkan belati yang dibawanya.

"Ku-Kuchiki…" Kaien terjatuh lemas. Para preman itu ketakutan karena melihat Kaien yang berdarah di bagian perutnya. Semua preman itu berlari dan berlari menjauh dari Rukia dan Kaien.

"Kaien-senpai!!!!" teriak Rukia sekencang-kencangnya.

"Aku tidak apa-apa, Kuchi-" Kaien jatuh pingsan karena kehilangan banyak darah.

"KAIEN!!"

RUMAH SAKIT

Rukia menunggu kondisi Kaien. Rukia menangis. Dia tidak tahu jika yang ditusuknya adalah Kaien. Rukia gadis dengan rambut hitam panjang datang. Dia adalah Miyako.

"Bagaimana Kaien?!" tanyanya pada Rukia.

"Dia ada di dalam. Aku tak tahu bagaiamana keadaannya.." kata Rukia sambil menangis.

"Permisi, siapakah yang bernama Miyako?" Tanya seorang dokter yang keluar dari UGD.

"A-Aku Dokter! Bagiamana dengan Kaien!?"

"Dia ingin bertemu denganmu," kata Dokter itu.

Miyako pun segera masuk ke UGD. Rukia pasti sudah memastikan jika yang ingin ditemui Kaien untuk pertama kali adalah Miyako. Rukia sempat sedih, sangat sedih pastinya.

15 menit sudah lewat. Miyako tak kunjung keluar. Rukia pun memaksakan dirinya untuk masuk ke UGD. DIlihatanya tubuh sudah tak bergerak. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh selimut. Dalam hati Rukia tak percaya jika itu adalah tubuh senior kesayangannya. Miyako yang menangis kencang ada di samping tubuh Kaien. Kaien hanya diam. Diam. Tak mengeluarkan sapaan hangatnya lagi. Kaien tidak akan pernah menyapa Rukia lagi.

"Oi, Kuchiki!"

Tak akan mengucapkan saelamat pagi pada Rukia lagi.

"Selamat pagi, Kuchiki!"

Rukia menangis lagi.

"Miyako-senpai! Ada apa dengan Kaien-senpai!! Tidak mungkin!! Dia hanya bercanda bukan!! Miyako-senpai!!!" teriak Rukia.

"Sedang apa kau disini!! Kau lah yang membunuh Kaien!! Kau tak pantas di sini!! Ini semua salahmu Rukia Kuchiki! Kau pembunuh!! Kau seorang pembunuh!!! Pergi! Pergi! Pergi!!!" teriak Miyako yang meledak ketika melihat Rukia masuk.

Rukia yang sangat merasa bersalah langsung memutuskan untuk pergi. Rukia berlari sekuat tenaganya. Rukia memutuskan untuk pergi ke atap rumah sakit. Rukia sudah tidak tahan lagi harus hidup tanpa Kaien. Rukia sangatlah sadar jika yang membunuh Kaien adalah dirinya.

"Kenapa Kami-sama!! Kenapa kau mengambil Kaien Dia sangat baik Kami-sama!!" teriak Rukia petugas kebersihan bernama Hanatarou Yamada melihat Rukia yang ingin meloncat dari atap rumah sakit.

"N-Nona! Ja-Jangan!!" teriak petugas itu sambil menahan Rukia.

"Biarkan aku mati!! Biarkan! Aku ingin mati!! Aku pembunuh!!" teriak Rukia.

"Nona! Jangan!"

"Aku ingin mati! Aku pembu-" Rukia jatuh pingsan. Untung saja Hanatarou sudah menggapai tangannya duluan.

"Aku… aku seorang pembunuh Ichigo! Aku seorang pembunuh!! Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi! Aku gadis pembawa sial!! Kau akan bahagia tanpaku Ichigo! Kumohon, menjauhlah dariku…" Rukia menangis kembali. Dia kembali histeris.

"Aku tak pedulu jika kau pembunuh atau tidak! Aku tetap mencintaimu Rukia! Sadarlah!" kata Ichigo memeluk erat Rukia.

"Ichigo…" kata Rukia yang masih menangis.

"Hei, pemalas, ayo bangun," kata Ichigo yang membangunkan Rukia. Rukia yang matanya masih bengkak karena tadi malam menangis pun bangun.

"Ichi?! Jam berapa sekarang?!" tanya Rukia. Sebenarnya Rukia takut terlambat ke rumah sakit. Mulai hari ini Rukia tidak lagi bekerja sebagai asisten dokter, tapi bekerja sebagai perawat biasa. Memang itu membuat Ichigo kecewa, tapi bagaimana lagi, Rukia yang menginginkan itu.

"Tenanglah, masih jam setengah tujuh. Kau sudah sehat?" tanya Ichigo kembali. Rukia bangun dari ranjangnya. Ichigo keluar dan pergi menuju dapur. Dia ternyata sudah memasak sarapan. Rukia pun mengikuti dari belakang.

"Tentu," Rukia tersenyum kepada Ichigo. Dia duduk di kursi makan.

"Soal tadi malam…"

"Huh, jangan ungkit itu lagi Rukia. Aku sedih melihatmu seperti itu. Tenanglah dan lupakan semua itu," kata Ichigo sambil mengambilkan Rukia nasi lalu menaruhnya ke dalam mangkuk Rukia.

"Arigataou, Ichigo," ucap Rukia. Kini mata mereka saling bertatapan.

"Kau…" kata Rukia.

"Apa?" tanya Ichigo.

"Kau bisa memasak! Oh! Dr. Kurosaki bisa memasak!! Dan…" Rukia pun merasakan masakan Ichigo menggunakan sumpitnya.

"Enak! Kau hebat. Kau tak sebodoh yang kubayangkan," kata Rukia yan tertawa. Sejenak, tawa Rukia membuat Ichigo lega.

"Cebol, kau memuji atau menghinaku? Heh?" tanya Ichigo kesal. Rukia mendekatinya kemudian mengecup pipi Ichigo.

"Memuji bisa, menghina pun bisa. Aku mau mandi dulu." kata Rukia yang hendak ergi meninggalkan ruang makan.

"Lalu, kau tak memakan semua yang kubuat dengan susah payah?" tanya Ichigo lagi.

"Aku mandi dulu. Nanti aku akan memakannya baka," kata Rukia kemudian pergi dengan senyuman. Wajah Ichigo yang kini berada di ruangan sendiri berubah merah. Bagaimana tidak, kini dia bisa merasakan lembutnya bibir Rukia yang menyentuh pipinya.

Beberapa menit kemudian, Rukia kembali. Pakaianan sudah ganti dan wajahnya menjadi lebih segar. Rukia berjalan menuju kursinya dimana dia duduk tadi.

"Kau tidak mandi?" tanya Rukia kepada Ichigo.

"Tidak, sebelum ke rumah sakit, nanti kita ke rumahku dulu," kata Ichigo.

"Kita? Kau sajalah, aku tidak mau menunggu pria mandi. Aku naik bus saja," kata Rukia sambil makan.

"Terserah, kau harus ikut denganku! Titik." kata Ichigo yang kemudian berdiri lalu berjalan menuju sofa. Ichigo duduk lalu menghidupkan televisi.

"Ok, Jeruk Baka. Huh," Rukia pun melanjutkan makan paginya.

"Ichigo, di mana sih rumahmu?" tanya Rukia yang dari tadi mengeluh karena tidak sampai-sampai.

"Sabarlah, Cebol! Aku jadi tak bisa konsentrasi menyetir jika kau mengeluh terus!" seru Ichigo yang menjadi kesal.

"Cepatlah! Aku takut terlambat nanti!" kata Rukia sambil mengalihkan pandangan dari Ichigo. Kini Ichigo tidak menghiraukan Rukia.

Sesaat kemudian, sampailah mereka di sebuah kawasan. Terlihat sebuah gedung apartemen yang besar dan tinggi. Nama apartemen itu adalah Shin. Apartemen Shin, apartemen paling mewah di Karakura.

"Hah? Kau tinggal di sini Ichigo!?" tanya Rukia kaget.

"Iya, memangnya kenapa? Kelihatannya biasa saja," kata Ichigo santai.

"Biasa saja apanya baka! Apartemen ini mewah sekali!" kata Rukia yang masih terkagum-kagum.

"Terserah apa katamu, ayo, aku mau segera mandi," kata Ichigo yang beranjak keluar dari mobi diikuti Rukia.

Ichigo dan Rukia memasuki pintu masuk apartemen mewah itu. Di pintu sudah ada security yang berjaga kemudian security itu menyapa Ichigo.

"Ohayou Ichigo!" sapa security itu.

"Yo! Ikakku! Ohayou!" balas Ichigo. Rukia dan Ichigo melanjutkan langkahnya kemudian melewati resepsionis. Disana ada tiga gadis yang berjaga. Mereka semua menyapa Ichigo bersamaan.

"Ohayou Kurosaki-san!" sapa mereka bertiga.

"Ohayou Kotetsu-san, Ise-san, dan Homura-san!" balas Ichigo ramah. Kemudian Ichigo dan Rukia telah sampai di lift yang akan membawa mereka ke apartemen milik Ichigo.

"Wow, kau mengenal security yang botak tadi? Dan para gadis di resepsionis kelihatannya mengenalmu juga," komentar Rukia.

"Jangan sampai Ikakku mendengarmu, dia bisa mengamuk. Aku sering bermain catur dengannya malam-malam saat dia berjaga. Yah kau tahu, tak ada yang bisa kulakukan karena semuanya membosankan," jawab Ichigo. Ichigo memencet tombol angka 15 yang berarti bahwa apartemenya berada di lantai 15.

"Apartemen semewah ini kau bilang membosankan?! Dasar bodoh, lihat, banyak sekali fasilitas disini. Supermarket, pusat perbelanjaan, restoran, game center, kolam renang, dan lain-lain bisa kau dapatkan disini! " kata Rukia kesal.

"Hei, hei, iya jangan marah begitu dong. Aku akui memang banyak fasilitas di sini yang tidak membosankan bagimu. Tapi bagiku lebih nyaman berada di apartemenmu bersamamu. Di apartemenmu aku tidak merasa bosan sama sekali," kata Ichigo sambil memegang bahu Rukia. Rukia diam saja.

"Hei, kau marah?" tanya Ichigo.

"Tidak. Kapan sampainya? Nanti terlambat bagaimana?" kata Rukia.

"Tenanglah! Jika kau terlambat aku akan tanggung jawab kok!"kata Ichigo yang gantian kesal. Kemudian lift pun berhenti dan membuka pintunya.

"Lihat sudah sampai. Ayo tersenyumlah Rukia," bujuk Ichigo.

"Baiklah…" kata Rukia sambil tersenyum setelah menghela nafasnya. Ichigo menarik Rukia keluar dari lift. Ichigo tetap mengenggam tangan Rukia.

Ichigo berjalan menuju sebuah pintu apartemen dengan nomor 115. Rukia yang mengikutinya hanya melihat-lihat betapa mewahnya gedung itu. Ichigo hendak membuka tapi pintunya ternyata tak terkunci.

"Heh? Siapa yang masuk ke apartemenku?" kata Ichigo.

"Ada apa Ichigo?" tanya Rukia. Ichigo membuka pintu lalu masuk. Dilihatnya seluruh ruangan apartemen. Bersih, itulah yang ada dipikiran Ichigo. Ada apa sebenarnya. Ichigo berjalan menuju dapur diikuti Rukia. Ada sesosok gadis disana. Kemudian gadis itu yang merasa adanya kehadiran orang lain pun membalikan tubuhnya.

"Ohayou Kurosaki-kun!!" sapa gadis itu.

"Inoue?! Kenapa kau bisa di sini?!" teriak Ichigo kaget.

"Kemarin Kurosaki-san memberikanku kunci apartemenmu agar aku bisa bertemu denganmu! Tapi, ternyata pagi tadi kau tak ada, Kurosaki-kun. Aku inginnya menunggumu disini. Jika Kurosaki-kun tak datang-datang juga aku akan ke rumah sakit," kata gadis itu sambil tersenyum manis.

"Oh…"

"Siapa itu Kurosaki-kun? Temanmu ya! Hai! Namaku Orihime Inoue! Salam kenal!" kata gadis yang bernama Orihime sambil tersenyum ramah. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Eh, namaku Rukia Kuchiki, salam kenal," kata Rukia sambil berjabat tangan dengan Orihime.

"Aku mandi dulu, kalian bisa ngobrol di sofa kalau mau," kata Ichigo yang meninggalkan dapur menuju kamarnya.

"Kuchiki-san, sudah berapa lama kenal dengan Kurosaki-kun?" tanya Orihime sambil tersenyum. Gadis yang memiliki wajah cantik dan tubuh yang didambakan setiap pria. Gadis itu tak hanya cantik saja tapi juga baik hati. Rukia ingat jika gadis itu adalah gadis yang ada di foto bersama Ichigo.

"Satu bulan, aku sempat menjadi asistennya di rumah sakit," jawab Rukia.

"Oh! Eh, Kuchiki-san, aku punya kejutan untuk Kurosaki-kun,"

"Kejutan apa Inoue-san?" tanya Rukia.

"Kakakku dan ayah Kurosaki-kun akan mentunangkanku dengan Kurosaki-kun, tapi Kuchiki-san jangan bilang-bilang dulu ya? Mungkin nanti sore kami akan membicarakannya. Aku senang sekali! Kuchiki-san, bagaimana pendapatmu?" tanya Orihime. Sejenak Rukia terdiam karena kaget. Hati Rukia seperti tersayat-sayat. Baru kemarin saja Ichigo dan Rukia saling menyatakan perasaan masing-masing. Tapi, begitu cepatkah keadaan menjadi seperti itu?

"Kuchiki-san?"

"Ah! Berita yang bagus!" kata Rukia sambil memaksakan tersenyum,

"Benarkah?! Syukurlah," Orihime tersenyum dengan bahagianya. Tapi, tanpa dia sadari, perkataannya tadi telah menyakiti hati Rukia. Memang bukanlah salah Orihime.

'Bertunangan?'

Apakah yang direncanakan Kami-sama? Begitu cepatkah hatiku hancur? Kenapa? Padahal aku baru merasakan lagi indahnya cinta…

Bersambung…


A/N: Kelihatannya telat lagi ni Nica updet. Gomen ya. Wah, Ichigo akan bertunangan dengan Orihime*sambil angguk-angguk*. GOMENNASAI MINNA-SAN! Tapi, tenang ini fic IchiRuki. Ichigo mau ga ya tunangan ma Hime padahal dia sudah mempunyai cewek yang dicintainya!? Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian! Hahahahahahaha*Di lempar sandalnya Urahara*. Maaf jika tambah gaje, semoga kalian masih mau membacanya, huhuhuhuhu~ Satu kata dari Nica, Fic ini tetaplah IchiRuki!! Well, thx for read!

Reply:

Kuchiki Rukia-taicho: Palingan dibunuh kwkwkwkwk^^

Violeta Haru: Gomen deh^^ Hehehehe klo ada saya mah juga mau! :D

Aine Higurashi: Thanks!

aya-na rifa'i: Thanks yaa

'Ruki-chan'pipy: UN na? Yah do'a in aja biar sukses yay! ^^

Zheone Quin: Sorry ya klo kelamaan Updet!! Ok deh!

Ichirukiluna gituloh: Yah yah maaf^^ Thanks ya Luna ampe tiga kali nih review na^^

Yurisa Shirany Kurosaki: Nope!:D Bukan kekasih, tyah hubungan mereka sudah dijelasin di atas^^ What?! Emang sama ya?! Ku ga tahu~

Micon: Wah!! Bener!! Thanks ya! Ehm, mungkin saja begitu. Ok deh saya tak akan menghilang-emang jin?- Tahu lah kan author fav ku^^ Nica suka Love, Work, and Promise! Dah baca mpe tamat! Thanks yaa

Ichikawa Ami: Wah! Gomen ya~ ampe terharu gitu... Kalo ada Nica juga mau! Tapi sayang hanya dalam hayalan Nica...

Jess Kuchiki: Si Byakkun mah kini ada jauh di mato!wkwkwkwk

: Gomen! Adegan Ichi nonton ntu film kepotong kwkwkwkwkwk

Chappynk: Dah ada dicerita! Thanks yaa hahahaha

See Ya Nex Chap! Review ya?