- For You –

Cast: Hunhan slight Sulay

Genderswitch, Typos, No bash and plagiarism

Dengan berbalutkan dress berwarna putih, Luhan mematut dirinya di kaca. Ia ingin memastikan bahwa tampilannya sudah cukup baik untuk berjalan-jalan bersama Sehun. Ya, sesuai dengan janji Sehun, hari ini ia mengajak Luhan dan Haowen untuk berjalan-jalan bersama.

Tentang usul Sehun yang mengajak Luhan berjalan-jalan ke Loveland, Sehun hanya bercanda. Sehun hanya bercanda, ia memang berencana mengerjai Luhan karena Sehun suka muka polos Luhan.

"Wow kau sungguh sudah mempersiapkan ini rupanya?" ucap Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos putih dan celana jeans. Luhan tampak mrnunduk malu karena ucapan Sehun.

"Tidak Tuan" jawab Luhan malu-malu dan Sehun terkekeh melihat tingkah lucu Luhan.

"Apakah keperluan Haowen juga sudah siap Luhan?" tanya Sehun yang melihat anakknya sedang anteng duduk di kasur.

"Sudah Tuan, semua sudah saya masukan ke dalam tas" ucap Luhan sambil menunjuk sebuah tas bayi yang berisikan semua keperluan Haowen. Luhan kemudian duduk di samping Haowen dan mempersilahkan Sehun untuk sekedar berkaca bagaimana keadaannya sekarang.

Sehun kemudian membantu Luhan membenarkan carrier baby yang sedikit miring karena tingkah Haowen yang lincah. Setelah memastikan anaknya nyaman dalam gendongan Luhan, Sehun segera menyambar tas bayi dan jaket denim miliknya. "Biar aku saja yang membawa tas keperluan Haowen" ucap Sehun ketika tau Luhan akan mengambil tas bayi itu dari pundak Sehun.

"Ayo berangkat"

.

Jika Luhan sedang bertamasya dengan majikannya, beda lagi dengan Yixing yang harus melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya. Selangkah lebih berani, kini Junmyeon berani untuk membawa pulang si rambut merah. Bahkan kemarin Yixing sudah harus melihat sang suami memasukkan wanita itu ke dalam kamar Junmyeon yang bahkan ia sebagai istrinya belum satu kalipun tidur disana.

Sebenarnya Yixing sudah menolak akan sarapan bersama ini, namun Junmyeon menariknya. Sepertinya Junmyeon memang sengaja memaksa Yixing ikut sarapan bersama agar Yixing bisa melihat bagaimana besar rasa cintanya pada kekasihnya itu. Sang wanita pun seolah tak keberatan dengan keberadaan Luhan sama sekali. Ia tetap bermesraan dengan Junmyeon meski Yixing menatapnya dengan jengah.

Yixing sama sekali tak menyentuh makanannya, ia memilih melihat semua tingkah laku suaminya dengan kekasih suaminya itu. menikmati semua pemandangan yang menyakitkan demi memastikan bahwa ia memang harus berakhir bersama Junmyeon.

Hingga Junmyeon mengangkat alisnya melihat Yixing berdiri dari duduknya, begitu pula wanita berambut merah itu. "Ada apa?" tanya Junmyeon sambil tetap membelai rambut panjang milik kekasihnya.

"Aku sudah selesai" ucap Yixing sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan.

"Tunggu!" langkah Yixin terhenti ketika sang suami dengan murkanya berteriak dan mencekal tangannya.

"Apa?" tanya Yixing dengan dingin. Entah kenapa Yixing sama sekali tak takut dengan tatapan Junmyeon yang dingin itu. ia bahkan membalas tatapan Junmyeon dengan tatapan malas dan datarnya.

"Mau kemana kau? Dimana sopan santunmu?" Yixing menghempaskan begitu saja tangan Junmyeon.

"Mau kemanapun aku, itu bukan urusanmu. Dimana sopan santunku pun bukan urusanmu, kau hanya perlu mengurus sopan santunmu juga wanita itu" jari Yixing dengan tegas menunjuk wanita berambut merah yang menatapnya terkejut.

"Turunkan tanganmu!" Yixing menurunkan tangannya dan memandang Junmyeon dengan remeh.

"Kim Junmyeon, aku rasa urat sabarku telah putus. Sepertinya tak ada gunanya aku menjadi istri yang baik untukmu, jadi biarkan sekarang dan seterusnya kita kembali menjadi Kim Junmyeon dan Xi Yixing yang seperti dulu. Seperti sebelum kita saling mengenal" ucap Yixing dengan nada rendah. Ya, ia kini telah lelah dengan semua sikap suaminya yang sama sekali tak menghargai kehadirannya meski ia telah berusaha yang terbaik untuk Junmyeon.

"Mau kemana kau?" tanya Junmyeon yang melihat berbalik dan mulai melangkah pergi.

"Bukan urusanmu" jawab Yixing tanpa menoleh sedikitpun.

.

Baru saja mereka sampai, mereka sudah disapa dengan berbagai property bernuanda teddy bear. Entah itu patung, buku hingga lukisan. Luhan memandang semua itu dengan mata berbinar. Bagaimanapun ia juga seorang wanita yang masa kecilnya senang bermain dengan boneka, jadi ia dengan senangnya berjalan kesana kemari untuk melihat berbagai barang yang dipajang disana. Sehun yang mengekori Luhan dan Haowen hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luhan yang gesit dimatanya.

Mereka kemudian menuju ke ruangan pameran yang dihias menjadi ruang khusus yang menampilkan diorama kota Seoul. Sedikit banyak Luhan juga belajar sejarah kota Seoul dari ruangan ini.

"Woah" ucap Luhan dengan takjub. Ia begitu takjub dengan semua boneka teddy bear yang disimpan di tempat ini. Kini ia dan Sehun berada di Museum Teddy Bear. Sehun memang sengaja mengajak kesini karena Haowen juga akan senang.

"Lihatlah Luhan disana ada boneka Teddy Bear yang sangat besar. Ayo kita kesana" ajak Sehun sambil berjalan menuju ke sepasang boneka teddy bear besar yang berdandan ala orang yang sedang menikah.

"Berdirilah disitu, aku akan memotretmu" Luhan menurut, ia berdiri di antara boneka teddy bear sambil menggendong Haowen. Ia mengangkat jarinya yang membentuk simbol peace ke sebelah matanya. Sedangkan Sehun mulai mengeluarkan ponselnya dan mulai mengarahkan pada Luhan.

"Senyum ya. Satu dua tiga" titah Sehun lalu memencet sebuah tombol yang digunakan untuk memotret. Setelah ia memotret, Sehun mengamati hasil fotonya. Bila ada yang tak sesuai makan ia akan mengulanginya. Ia sedikit tersenyum melihat sisi kekanakan Luhan yang muncul saat itu juga.

"Apakah Tuan juga ingin di foto?"

"Bagaimana jika kita bertiga. Wefie?" tawar Sehun yang segera di iyakan oleh Luhan. Sehun akhirnya berjalan mendekat ke arah Luhan. ia mengangkat ke atas ponselnya hingga menampakkan dirinya yang sedang disamping Luhan. dengan berlatar pasangan boneka teddy bear, Luhan dan Sehun berfoto bersama. Luhan dengan pose yang menggemaskan sedangkan Sehun berpose dengan tampang yang cukup tampan namun menguarkan aura dinginnya.

.

Entah apa yang membuat Yixing kemari, yang pasti Yixing ingin ia lebih tenang. Ya ia kini berada di sebuah taman di pusat perkotaan. Beberapa orang bahkan memandang Yixing dengan tatapan aneh karena Yixing ke pusat kota hanya dengan menggunakan daster hamil dan sandal rumah. Rambutnya ia biarkan tergerai dan wajahnya ia biarkan tanpa polesan apapun, bahkan tanpa bedak dan lipstick.

Satu air mata turun setelah sebelumnya menggenang di pelupuk matanya. Ia membiarkan air mata itu tanpa berniat menghapusnya. Ia menikmati semua air matanya yang turun bersama beribu sakit dan sesak di hatinya. Angin semilir yang menyapu wajah Yixing membuat wanita itu menutup matanya. Rambut coklat panjangnya seolah menari mengikuti arah angin saat itu.

Hidupnya, kenapa seperti drama yang menyakitkan? Dulu ia tak pernah menanti dimana ia akan berakhir dengan Junmyeon. Tapi kali ini ia menanti hal itu agar cepat terjadi. Ia tak mengapa jika Junmyeon akan melalaikan anaknya kelak, yang pasti ia hanya butuh nama Junmyeon di akta kelahiran. Ia hanya butuh hidup tentram dengan anak dan orang tuanya di Cina. Korea memang tak menjadi tempat keberuntungannya.

Yixing terkejut ketika melihat seorang lelaki dengan rambut tegak berwarna kuning keemasan berjalan di seberangnya. Lelaki bermata tajam yang sedang menelpon itu sedang menanti lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Yixing menyipitkan matanya untuk sekali lagi memastikan bahwa lelaki itu memang benar mantan kekasihnya.

Lelaki itu mulai berjalan mendekat ke arah Yixing saat lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau. Sepertinya konsentrasi lelaki itu memang sedang pada panggilannya hingga ia melangkah begitu saja tanpa melihat sekelilingnya.

Meyakini bahwa lelaki itu memang mantan kekasihnya, Yixing akhirnya mengikuti langkahnya. Yixing membuntuti lelaki itu dengan begitu dekat hingga beberapa pasang mata melihatnya dengan tatapan curiga. Dan entah keberanian dari mana, Yixing mempercepat langkahnya lalu memeluk lelaki itu dari belakang.

Lelaki itu tersentak lalu berbalik untuk melihat siapa yang sedang memeluk tubuhnya. Ketika ia akan memaki orang yang dengan seenak jidat memeluknya di depan umum, lelaki itu terkejut dengan tampilan orang yang memeluknya.

"Hei" panggil lelaki itu yang membuat Yixing mendongak.

"Yixing" ucap lelaki itu kaget, apalagi melihat perut Yixing yang sedikit menggembung. Tanpa pikir panjang ia kembali merengkuh tubuh kecil Yixing yang bergetar karena menangis. Lelaki itu kemudian memapah Yixing menuju ke sebuah bangku taman untuk menenangkan.

"Yifan Ge" cicit Yixing sambil menatap Yifan dengan penuh kesedihan.

"Ada apa? Kenapa kau menangis? Aku sengaja ke Korea dan bekerja disini karena ingin melihat keadaanmu. Ceritakan semuanya, aku tau ada apa-apa denganmu" dengan tergagap Yixing menceritakan semua yang terjadi padanya setelah berada di Korea. Terlihat lelaki bernama Yifan ini rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.

"Bajingan! Jangan kembali padanya Yixing. Pergilah ke apartemenku dan hiduplah disana" ucap Yifan yang dijawab dengan anggukan dari Yixing. Yifan kemudian memapah kembali tubuh Yixing ke kantornya untuk mengambil mobilnya yang terparkir disana.

"Hallo, sepertinya hari ini aku tak akan pergi ke kantor. Aku sedang ada urusan penting" ucap Yifan dengan seseorang yang ia hubungi melalui telpon.

.

Kini Luhan maupun Sehun sedang menikmati pemandangan di sebuah taman yang tak jauh dari Museum Teddy Bear. Sejak keluar dari Museum Teddy Bear, Luhan sama sekali tak melunturkan senyumannya. Ia tampak senang melihat-lihat berbagai boneka teddy bear yang dipamerkan disana. sedangkan Haowen tampak terlelap di depakan Luhan, sepertinya bayi itu begitu lelah dengan tamasyanya kali ini.

"Kau terlihat begitu senang Luhan" ucap Sehun yang sedari senang melihat bagaimana bibir imut Luhan menampilkan senyumannya. Senyuman yang menurutnya manis. Bahkan Sehun pernah berpikir bahwa suatu saat ia akan melihat lebih lama lagi senyum Luhan, dan hanya untuknya.

"Iya Tuan, baru kali ini aku melihat begitu banyak boneka teddy bear disana" jawab Luhan dengan antusias.

"Sepertinya kita harus lebih sering menghabiskan waktu bersama" Luhan sontak melihat ke arah Sehun dengan tatapan bingung.

"Ma – maksudku aku, kau dan Haowen. Mungkin juga Ibu dan Ayah" ralat Sehun yang mendapat anggukan dari Luhan.

"Benar Tuan, aku bahkan baru-baru ini memiliki cita-cita untuk membawa Ibu dan Ayahku ke Korea untuk liburan" Sehun merasa kali ini cara yang tepat untuk mengambil hati Luhan, mungkin.

"Apakah kita harus memesankan tiket ke Korea untuk Ayah dan Ibumu sekarang?" tanya Sehun yang dijawab gelengan dari Luhan.

"Uangku belum mencukupi Tuan, yang terpenting sekarang adalah aku harus menabung untuk menyewa jasa pengacara untuk kakakku"

"Aku ingin membantumu Luhan, jadi bisakah kita memesankan tiket untuk Ayah dan Ibumu sekarang?" tawar Sehun lagi, namun Luhan kembali menggeleng.

"Tidak Tuan. Jika Ayah dan Ibu tau tentang kondisi Yixing Jie saat in, mungkin mereka akan terkena penyakit jantung secara bersamaan" jelas Luhan yang kemudian memandang langit biru di atasnya.

"Andai saja semua berjalan dengan baik. Yixing Jie mendapat pekerjaan di Korea, aku mengelola kebun di Cina bersama kedua orang tuaku, pasti menyenangkan dan tak serumit ini" gumam Luhan sambil mengelus surai lembut Haowen yang ada di dekapan dadanya.

"Dan aku tak akan bertemu denganmu" jawab Sehun lirih.

"Kau bicara sesuatu Tuan?"

"Tidak" jawab Sehun gugup. Tak lama kemudian Sehun mendapat sebuah panggilan yang membuatnya mau tak mau menjawab panggilan itu.

"Ya ada apa Joo – Hyun?" Luhan memperhatikan Sehun dengan seksama. Luhan melihat bagaimana tampannya Sehun meski kedua alisnya bertaut seolah sesuatu sedang terjadi.

"Tidak, hari ini aku memang sengaja tidak ke tanahmu. Aku sedang berlibur sedikit, bisa dibilang aku sedang mencari inspirasi untuk villamu" jawab Sehun yang kemudian Luhan tak mau mencampuri urusan kerja majikannya itu.

"Tentu, aku akan membuatkan villa yang sesuai dengan keinginanmu" mendengar percakapan itu Luhan jadi berpikir bahwa majikannya itu sedang berbicara dengan client-nya atau dengan kekasihnya. Sedikit hati Luhan tak bisa menerima kenyataan jika Sehun memiliki kekasih.

"Baiklah, sampai bertemu esok hari" jawab Sehun lalu mematikan panggilannya.

"Memiliki client wanita memang sedikit memuakkan. Mereka cerewet, suka sekali menelpon dengan topic yang sama sekali tak penting" keluh Sehun sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. Luhan tertawa renyah mendengar keluh kesah majikannya itu.

"Mungkin mereka melakukan itu hanya untuk mendapatkan perhatianmu. Bagaimanapun kau itu tampan Tuan, pasti client wanitamu juga ingin mendapatkan perhatianmu. Jadi mereka menelponmu" jelas Luhan yang membuat Sehun tersenyum lebar.

"Hei, apa itu berarti kau baru saja memujiku tampan?" Luhan membelalakan matanya lalu menggeleng cepat mencoba menyangkal godaan dari Sehun.

"Ayolah, kau jangan berbohong. Aku berterima kasih jika kau memujiku tampan Luhan" ucap Sehun diselingi dengan tawa yang tak bisa dikatakan pelan itu. karena malu, Luhan akhirnya ia berdiri dari duduknya.

"Aish, ayo kembali ke hotel Tuan" Luhan kemudian berdiri dari duduknya.

"Luhan tunggu"

"Ada apa lagi Tuan? Kalau kau menganggap aku memujimu tampan maka kau –"

"Gaunmu berubah merah"

"Apa?" ucap Luhan kaget sambil melihat ke arah gaunnya yang masih berwarna putih.

"Bagian belakang" dan betapa terkejutnya Luhan melihat gaun bagian belakang tepatnya bagian pantatnya berubah menjadi merah. Sehun dengan cepat berdiri tepat di belakang tubuh Luhan guna menutupi bercak merah yang ada di gaun belakang Luhan. Wajah Luhan juga berubah merah karena malu dan juga gugup karena Sehun berada dekat dengan tubuhnya untuk kesekian kalinya.

"Kau sedang datang bulan ya?" tanya Sehun dengan gamblangnya dan tepat di telinga Luhan. Ingin sekali Luhan menyumpal mulut Sehun yang bertanya hal pribadinya secara terbuka.

Tak mendapat jawaban dari Luhan, akhirnya Sehun berinisiatif membuka jaket jeansnya dan memberikan kepada Luhan. "Pakailah, lilitkan di pinggangmu" Luhan tak bergerak, ia ragu mengambil jaket dan menuruti perintah Sehun. Karena itu sama saja ia akan mengotori jaket Sehun.

"Tak usah takut kotor, itu tak apa daripada kau harus malu karena orang-orang melihat darah haidmu" kembali Luhan dibuat memerah dengan ucapan Sehun. Berhentilah membuat Luhan seperti kepeting rebus Tuan Oh.

karena tangan Luhan tak juga mengambil jaketnya, akhirnya Sehun memasangkan jaketnya di pinggul Luhan. dengan posisi yang seakan sedang memeluk Luhan dari belakang, beberapa orang memandangi mereka dengan tatapan menggoda. Luhan yang merasakan lengan Sehun melingkar di pingganya hanya bisa menunduk sambil melihat bagaiman cekatannya Sehun menali bagian tangan jaket itu.

"Nah ini lebih baik"

"Terima kasih"

.

.

.

Ini sudah tiga hari Yixing kabur dari rumah. Junmyeon awalnya tak ambil pusing dengan perginya Yixing. Ia memilih membawa kekasih berambut merahnya itu ke rumahnya. Namun tidak hari ini, Junmyeon merasa bahwa ia akan kesepian setiap kekaishnya itu kembali ker apartemen. Biasanya Yixing akan memasakkan sarapan saat pagi dan ketika ia pulang ia sudah mendapat sapaan selamat datang. Jujur saja ia merindukan.

Selain kesepian, Junmyeon juga memikirkan Yixing dan bayinya. Yixing keluar dari rumahnya bahkan tanpa jaket, uang, ataupun ponsel. Sisi lain hati Junmyeon khawatir bagaimana wanita berketurunan Cina itu hidup di luar sana. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakui kekhawatirannya sehingga ia hanya diam saja.

Malam ini pintu rumah Junmyeon diketuk secara brutal oleh seseorang. Dengan sedikit perasaan penasaran Junmyeon membuka pintu itu. Kening Junmyeon berkerut melihat seorang lelaki berambut pirang berada di depannya, ditambah lagi kini ada Yixing yang berada di samping lelaki itu.

"Tiga hari kabur kau sudah menemukan pria lain?" tanya Junmyeon yang diselingi tawa remehnya. Rahang Yifan mengeras dan tubuhnya sedikit maju seakan akan menonjok Junmyeon. Namun semua itu tak terjadi karena tangan Yixing menahan lengan Yifan.

"Maaf karena aku tak memberimu kabar. Aku datang kesini hanya untuk mengemasi barang-barangku" ucap Yixing dengan senyum yang menurut Junmyeon ini adalah senyum tulus.

"Kau mau kemana?" kali ini Junmyeon bertanya dengan nada yang begitu lirih. Matanya memandang Yixing dengan tatapan bingung.

"Dia akan hidup bersama denganku selama di Korea" kali ini Yifan yang menjawab pertanyaan Junmyeon. Dua lelaki ini berpandangan seolah sama-sama melempar tatapan tajam.

"Ya Junmyeon, aku akan pergi dari rumahmu. Aku yakin kau akan merasa bahagia karena kau lepas dariku. Kau bisa dengan bebas membawa kekasihmu ke rumahmu" ucap Yixing mencoba berbesar hati. Istri mana yang dengan ikhlasnya membiarkan sang suami bermesraan dengan wanita lain.

"Jadi bolehkah Yixing mengemasi barangnya sekarang?" tanya Yifan yang tak mau berbasa basi lagi. Ia mulai jengah dungan suami Yixing yang menurutnya telah salah menyia-nyiakan wanita sebaik Yixing.

"Masuklah, tapi tidak dengan lelaki ini" jawab Junmyeon yang memangdang Yixing namun tangannya mengacung ke arah Yifan. Ketika tau jika Yifan akan berbicara, Junmyeon terlebih dahulu menyelanya.

"Aku pemilik rumah ini, aku berhak melakukan apapun"

Yixing mengangguk lalu mengangguk ke arah Yifan untuk tidak memperpanjang masalah ini. akhirnya Yixing masuk ke dalam rumah Junmyeon, terlebih dahulu menutup pintu lalu menyusul Yixing yang berjalan tertatih ke arah kamarnya.

"Kenapa kau pergi?" tanya Junmyeon yang berada di ambang pintu kamar Yixing. Tanpa menoleh Yixing mempersiapkan tasnya dan mulai membuka almarinya.

"Karena kau yang menginginkannya" jawab Yixing sembari memasukkan bajunya secara rapi ke tasnya.

"Aku tak pernah mengusirmu"

"Tapi sikapmu yang mengatakan aku harus pergi!" ucap Yixing dengan nada tinggi. Karena ia telah jengah dengan Junmyeon ia dengan tergesa memasukkan semua pakaian dan kebutuhannya. Persetan jika tak muat di tasnya, yang penting ia cepat pergi dari sini.

"Tapi kau mengandung anakku, kau tak bisa pergi" ucap Junmyeon sambil mencekal tangan Yixing yang lewat di depannya. Yixing kemudian melihat cekalan tangan Junmyeon lalu mengarahkan pandangannya untuk memandang Junmyeon sengit.

"Sekian lama, akhirnya kau mengakui jika anakku yangku kandung ini anakmu?" kemudian Yixing tertawa sambil menyentakkan tangan Junmyeon.

"Tak perlu dan tak usah, aku tak ingin anakku memiliki Ayah yang terpaksa harus mengakui dirinya sebagai darah dagingnya" entah kenapa Junmyeon merasa ia melihat sisi lain dari Yixing yang biasanya lembut dan akan mengalah padanya.

"Dan satu lagi, aku tak akan memaksamu untuk mencantumkan namamu di akta lahir anakku"

"Kenapa? Apakah pria itu yang akan mencantumkan namanya?" tanya Junmyeon geram.

"Itu bukan urusanmu" Yixing kemudian berjalan menjauh dari Junmyeon. Ia memang tak tega jika harus berkata kasar seperti itu pada Junmyeon. Tapi ia rasa, ia harus melakukan hal ini agar Junmyeon tak memperlakukannya rendah.

Yixing membuka pintu rumah Junmyeon dan memperlihatkan Yifan yang segera merebut tas Yixing dari tangannya. "Sudah selesai?" tanya Yifan yang dijawab anggukan oleh Yixing. Junmyeon terlihat tergopoh ketika melihat Yifan yang menggandeng tangan Yixing dan berjalan ke mobil Yifan.

"Tunggu, kau tidak bisa membawa istri seseorang seenaknya"

"Sudahlah, ini bahkan keinginan istrimu sendiri. Kau lebih baik masuk dan menghubungi kekasihmu itu agar menemanimu di rumah seperti yang kau lakukan beberapa hari yang lalu" jawab Yifan dengan ketus.

"Aku pergi Junmyeon. Maafkan aku dan Luhan yang pernah merepotkanmu" ucap Yixing lalu berjalan bersama Yifan menuju ke mobil Yifan. Mereka menyisakan Junmyeon yang memandang kepergian dengan kilatan marah pada matanya.

"Arrrghh"

.

.

Jika sebelumnya Sehun ingin Luhan menemaninya selama satu minggu, ternyata ia hanya harus berada di Pulau Jeju selama enam hari. Tepatnya sore nanti Sehun dan Luhan akan kembali ke Seoul karena urusan Sehun telah selesai.

Terlihat siang ini Luhan sedang memasukkan semua pakaian Sehun ke dalam koper setelah sebelumnya ia telah membenahi segala pakaiannya dan pakaian Haowen. Sedangkan Sehun sendiri sedang menerima telpon di balkon kamar hotelnya, sedangkan Haowen sedang tidur siang setelah Luhan membiarkan Haowen meminum habis susu yang ada di dotnya.

"Luhan" Luhan menoleh ke arah Sehun yang baru saja masuk kembali ke kamar hotelnya.

"Ada apa Tuan?"

"Apa kau hanya membawa satu gaun saja?" Luhan mengernyit bingung dengan pertanyaan majikannya itu.

"Aku membawa dua Tuan. Ada apa?" mata Sehun berbinar mendengar jawab Luhan. ia seolah sedang menampilkan ekspresi puasnya kali ini.

"Segeralah mandi dan bersiap. Jangan lupa pakai gaunmu itu. urusan bajuku, aku akan merapikannya sendiri" perintah Sehun yang membuat Luhan kebingungan.

"Tapi Tuan, ini masih pukul sebelas. Sedangkan pesawat kita pukul empat sore. Lagi pula aku membawa celana –"

"Sekali lagi kau membantah, akan kupecat kau" mendengar ancaman Sehun, Luhan segera berdiri dan kembali membuka kopernya untuk mencari dimana letak gaunnya itu. tangannya meraih sebuah gaun lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi.

Sehun tertawa terbahak melihat begitu lucunya Luhan ketika tergopoh seperti itu. entah dimana letak lucunya tapi Sehun suka membuat Luhan tergopoh, Sehun suka saat Luhan mulai membantah setiap perkataannya, terlebih sepertinya Sehun mulai jatuh hati pada Luhan.

Sehun kemudian menggantikan Luhan untuk memasukkan semua pakaian dan keperluannya ke dalam koper. Namun sepertinya Sehun menyisakan sebuah jeans biru dan juga kemeja putihnya. Ia memang berniat memakai itu untuk bertemu seseorang bersama Luhan.

Sesekali ia melirik ke arah Haowen yang sedang tertidur. Mulut kecilnya sedang mengemut jempolnya seolah ia sedang menyusu. Dengan hati-hati, Sehun menjauhkan jempol Haowen sehingga bayi itu sedikit menggerakkan mulutnya lucu.

Dada Sehun terasa sesak ketika ia mengingat mendiang istrinya yang meninggal karena bertaruh nyawa saat melahirkan Haowen. Sehun sempat tak menyangka jika istri yang merupakan korban dari perjodohan antara ayahnya dan rekan kerja ayahnya itu meninggal dengan cepat. Sehun memang tak mencintai istrinya, namun ia juga tak membenci istrinya. Merasa bersalah karena ia pernah tak memperlakukan dengan baik istrinya semasa mereka menjadi pasangan suami istri, akhirnya Sehun membalas budi dengan cara menyayangi putra mereka sepenuh hati. Memberikan segala keperluan dan fasilitas terbaik untuk Haowen. Atau bahkan mencari ibu yang baik untuk Haowen.

Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Luhan yang sudah menggunakan gaunnya yang berwarna peach. Gaun tak berlengan milik Luhan memang sederhana, gaun polos dengan motif bunga di bawahnya. Namun tetap saja itu terlihat pantas di tubuh Luhan. Rambut panjang Luhan pun ia cepol karena ia tak ingin mengenai rambutnya saat mandi. sedikit terpana akan kecantikan alami yang Luhan miliki, Sehun memandang Luhan tanpa berkedip. Tangannya bahkan masih diam menggenggam jempol Haowen.

"Tu – tuan, sekarang giliran Tuan yang mandi" ucap Luhan yang gugup karena majikannya itu melihatnya tanpa berkedip. Tersadar akan panggilan Luhan, Sehun mengalihkan pandangannya lalu melepaskan jempol Haowen.

"Ba – baiklah. Kau bersiaplah dan aku akan mandi terlebih dahulu"

"Apakah kita sekalian pergi ke bandara Tuan?"

"Ya, maka siapkan pula semua koper dan tas yang akan dibawa"

.

Luhan sedikit berjengit kaget saat Sehun merengkuh pinggangnya mesra ketika masuk ke dalam sebuah restoran yang bergaya Eropa. Luhan berulang kali memandang tangan Sehun lalu berganti memandang ke arah Sehun secara bersamaan. Ia tak mengerti kenapa majikannya itu melakukan hal ini di depan public.

"Tuan, kenapa Tuan berlaku seperti ini?" bisik Luhan sambil satu tangannya berusaha menjauhkan tangan Sehun. Namun apa daya, meskipun Sehun sedang menggendong Haowen, tenaga pria ini masih saja kuat. Hingga Sehun semakin mengeratkan tangannya bertengger di pinggang Luhan.

"Diamlah, dan berpura-puralah menjadi kekasihku. Dan panggil aku Sehun" bisik Sehun sambil mengajak Luhan berjalan ke sebuah meja yang sudah terdapat seorang wanita yang menunggunya. Luhan terbelalak kaget dengan ucapan Sehun.

"Selamat siang Joo – Hyun" wanita yang dipanggil Joo – Hyun itu mendongakkan kepalanya dan melihat Sehun berdiri di depannya. Namun matanya memicing saat melihat Luhan yang ada di sebelah Sehun.

"Maaf aku sedikit terlambat, kekasihku ini terlalu lama untuk berdandan" ucap Sehun sambil tangannya mencubit pelan pipi Luhan. mata mereka bertemu, namun mata Sehun melotot seolah memberi sebuah kode agar Luhan mengiyakan ucapannya.

"Kenalkan dia Xi Luhan" Sehun mengenalkan Luhan pada Joo – Hyun.

"Joo – Hyun imnida"

"A – ah maafkan aku, aku tak tau jika kekasihku ini akan mengajakku bertemu dengan seseorang" ucap Luhan sambil mencoba menghilangkan gugupnya.

"Tak apa, duduklah" ucap Joo – Hyun dengan nada yang sedikit tak rela karena Sehun membawa Luhan dalam acara makan siangnya ini. Sehun kemudian menarik sebuah kursi untuk Luhan, lalu beralih kursi untuk dirinya.

"Aku juga minta maaf karena aku hanya memesankan makanan untuk Sehun karena Sehun tak mengatakan bahwa akan mengajak kekasihnya" tangan Joo – Hyun mennonjok pelan bahu Sehun yang ada di sampingnya. Sehun tertawa melihat tingkah Joo – Hyun. Tapi tidak dengan Luhan yang melihat dengan tatapan cemburu.

"Sepiring berdua, hmmm sepertinya ide yang sangat bagus" baiklah sepertinya Luhan mulai menikmati aktingnya sebagai kekasih Oh Sehun. Bahkan ia kini tersenyum manis ke arah Sehun.

"Sebenarnya kenapa kau mengundangku makan siang Joo – Hyun?"

"Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat"

"Kau tak ingin mengenalku juga?" kini Luhan bertanya kepada Joo – Hyun dengan polosnya. Namun Joo – Hyun membalasnya dengan memutar bola matanya bosan.

"Mungkin lain kali"

"Ah ya Luhan-ssi, aku akan mengucapkan ini agar tak terjadi kesalah pahaman di antara kita"

"Ada apa?" jawab Luhan sedikit ketus.

"Aku akan lebih sering berhubungan dengan Sehun karena proyek villa – ku. Entah aku menelpon, mengirimnya pesan singkat dan email. Jadi aku harap kau bisa memakluminya" Joo –Hyun tertawa menang melihat tampang Luhan yang berubah terkejut.

"Tenang saja, Luhan bukan tipikal orang yang pencemburu" bela Sehun.

"Asal kau tau waktu dan kondisi saja. Dan jika Sehun tak membalas pesanmu dengan cepat, berarti ia sedang kencan denganku dan Haowen" ucap Luhan yang kini juga memasang senyum kemenangannya. Sepertinya Luhan terbawa suasana hingga melakukan acting dengan sempurna. Sehun hanya bisa menggaruk tengkuknya melihat kedua wanita ini yang saling melempar ucapan pedas satu sama lain.

"Ah kebetulan sekali, makanannya sudah datang" sela Sehun yang melihat seorang pelayan menghidangkan makanan di meja mereka. Luhan dan Joo – Hyun pun akhirnya iku mengarahkan pandangan mereka pada pelayan itu.

"Kau bisa memesan lagi Luhan-ssi. Dan biarkan Sehun memakannya" ucap Joo – Hyun.

"Tidak, aku bahkan bisa menyuapi Sehunku" jawab Luhan dengan penuh penekanan pada kata 'Sehunku'. Luhan mulai menyendokkan makanan itu ke mulut Sehun. Dan dengan cepat Sehun menerima makanan itu.

'Sehunku' batin Sehun seakan bersorak senang

TBC

Sudah panjang ya, baru kali ini aku bisa ngetik hampir 4k word dalam satu chapter hehe. jangan lupa review ya temen-temen, aku seneng banget pas tau lambang exo buat comeback mereka. Sedikit baper juga sih, jadi ga sabar baut comeback mereka

Oh ya buat yang ga tau Joo – Hyun itu sipa, dia itu mbak Irene hehe.

Trus yang tanya aku kelas berapa, aku sudah mahasiswa ilmu komunikasi semester 5 di sebuah univ swasta hehe

Kalo gitu jangan lupa review lagi ya para readers tersayangku :*