Hola.. I missed you, guys…
Ada yang tau paket internet apa yang enak dipakai? Aku mau daftar paket yang ulimited tapi bingung. Sementara modemku yang biasa aku pakai untuk paket unlimited belum ketemu dan aku masih pakai modem temanku. Kemarin udah daftar paket satu bulan. Tapi belum ada satu minggu quotanya sudah abis. L
Anw, this is the next chapter. Hope you like. Enjoy.. J
The Sweetest Mistake
Tony POV
Aku tidak tau bagaimana ini bisa terjadi. Sepertinya aku benar-benar kehilangan kendali.
Kulihat Bella dengan gaun warna biru yang melekat ditubuhnya dengan leher terbuka, memperlihatkan kulih putih mulusnya. Warna itu juga sangat cocok dikulitnya. Yang aku rasakan saat itu adalah ingin menyentuhnya, menguburkan kepalaku di pundaknya.
Dan sekarang aku disini, berdansa dengan Bella. Gadis yang selama pesta ini berlangsung telah menyita seluruh perhatianku. Bahkan aku tidak bisa memusatkan perhatian pada gadis yang tadi ada disebelahku. Jane. Aku merasa bersalah, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.
Aku menyentuh bibirnya yang lembut, dengan bibirku. Detik pertama aku merasa Bella terkejut sehingga tidak bisa merespon ciumanku. Dan saat itu aku berpikir—sebenarnya tidak benar-benar berpikir—bahwa Bella akan mendorongku jauh-jauh, tapi ternyata dugaanku salah. Bella membalas ciumanku, bingung tapi bersedia. Bibirnya terasa sangat lembut dibibirku. Ku paksa bibirnya untuk terbuka agar aku bisa memasukkan lidahku. Dan aku juga bisa merasakan tangannya yang meremas lembut rambutku.
Aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa menghindarinya. Bahkan sebenarnya, aku tidak mau menghindarinya. Aku menginginkan ini—menginginkan Bella.
Lidahku masih bermain dengan lidahnya selama beberapa detik sebelum akhirnya dia melepaskan diri dari ciuman dan dekapanku. Aku terkesiap dan nafasku sedikit memburu. Bisa kuperhatikan kalau nafas Bella juga begitu. Kutatap mata Bella. Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?
"Bella. . ." Aku berusaha meraih tangannya. Tapi Bella menghindar dan lari meninggalkanku dilantai dansa.
Tony, apa yang telah kau lakukan? Mungkin kau memang mirip Edward, tapi kau bukan Edward. Dan aku berani bersumpah, saat membalas ciumanku tadi, Bella pasti berpikir bahwa aku adalah Edward. Aku telah melukainya.
Ku remas-remas tanganku dan merasakan sesuatu melingkar di jari manisku. Sebuah cincin. Dear God, kenapa aku melakukan ini. Kulihat kesekeliling untuk mencari Jane. Ternyata dia masih asyik berdansa dengan Alec. Dan anehnya, kenapa aku tidak merasa cemburu, padahal mereka berdansa begitu dekat dan mengobrol dengan akrab? Jane bahkan bisa tertawa lepas dan bahagia. Sesuatu yang tidak pernah bisa kulakukan untuknya.
Selama setengah menit yang terasa begitu panjang, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan saat ini. Dan akhirnya kuputuskan untuk mencari Bella dan meminta maaf padanya. Tapi aku tidak tau sekarang Bella ada dimana.
Kuputuskan untuk mencari Bella di sekitar ruang dansa. Tidak ada. Lalu aku pergi kedepan toilet. Lama kau berdiri disana, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda orang yang ada di dalam. Jadi kuputuskan untuk keluar. Aku berjalan dari koridor satu ke koridor lain. Kujulurkan kepalaku ditiap pintu yang terbuka, tapi aku masih belum menemukan dimana Bella berada.
Hampir saja aku menyerah saat aku melihat sosok gadis memakai gaun biru yang sedang duduk di depan piano di salah satu ruangan, gadis yang sedang kucari-cari. Mulanya kukira Bella sedang memainkan piano, tapi saat aku perlahan masuk, tidak ada suara piano disana. Bahkan terlalu sunyi. Kututup pintu dibelakangku secara perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara atau apapaun yang bisa membuat Bella terkejut.
Saat berjalan menghampiri Bella aku berpikir apa yang seharusnya aku katakan padanya. 'Bella, aku minta maaf karena telah lancang menciummu.' Ah, tidak seperti itu, aku sama sekali tidak merasa menyesal telah menciumnya.
'Bella, aku mengerti kalau tadi kau menganggapku sebagai Edward.' Tidak, aku tidak mau mengatakannya, aku tidak mau kalau itu memang benar-benar alasan sesungguhnya dia membalas ciumanku. Walau memang benar itu alasannya, tidak diragukan lagi.
Kulihat Bella yang terus memandangi tuts-tuts piano itu, tangannya berada dipangkuannya. Dan aku yakin bahwa Bella sama sekali tidak berniat untuk memainkannya. Aku sempat melihat sesuatu yang berkilau keluar dari mata coklatnya yang hangat, terus mengalir membasahi pipinya. Oh tidak, dia menangis.
Kuberanikan diri untuk mendekat kearah Bella lalu duduk disampingnya didepan piano, bahkan sekali ini Bella tidak menoleh ataupun melirik kearahku.
"Aku minta maaf." Suaraku terdengar kacau. Bella masih diam di tempatnya. "Aku tidak meminta maaf karena telah menciummu. Aku meminta maaf karena telah menbuatmu menangis. Jujur, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku juga merasa bersalah karena telah menciummu, dan membuatmu ingat pada. .nya. Tapi aku sama sekali tidak menyesal telah menciummu, mesti nyatanya memang aku yang bersalah." Aku tidak tau kemana arah pembicaraanku ini, setiap kata keluar begitu saja, berantakan.
Bella mengangkat kepalanya—tapi masih belum melihatku—dan memandang kedepan. "Tidak, kau tidak salah. Aku lah yang bersalah." Katanya lalu berusaha berdiri.
Kucegah dia beranjak dengan menggenggam lengannya. "Bagaimana bisa?" Bella masih duduk disebelahku. Aku benar-benar tidak punya ide mengenai apa yang dibicarakannya.
"Karena telah membiarkanmu menciumku dan membalas ciumanmu." Katanya lagi, berusaha untuk bangkit.
Aku masih menggenggam lengannya. "Tidak, aku tidak ingin kau seperti itu. Aku tidak ingin kau menyesal karena telah menciumku. "
"Tapi kenyataannya memang seperti itu." Sela Bella, berusaha untuk bangkit lagi, tapi aku tidak mengijinkannya bergerak.
"Kau sudah memiliki Jane. Kau tidak bisa melakukan ini padanya." Lanjut Bella. "Dia orang yang baik, Tony, kau tidak boleh menyakitinya ataupun menyia-nyiakannya. Dia juga tunanganmu."
Satu kata itu seolah menyadarkanku. "Benar, dia memang tunanganku. Tapi aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak aku cin. ."
"Hentikan, Tony! Apa yang kau bicarakan?" Kali ini Bella menatapku dengan air mata yang mengalir deras. Aku membuatnya menangis lagi. "Kalian sudah bertunangan, dan aku yakin sekali kalau Jane begitu mencintaimu. Kenapa kau lakukan ini padanya? Kenapa kau lakukan ini padaku?!" Bella mulai sedikit berteriak. Air matanya semakin deras.
Aku berusaha menghapus air matanya tapi Bella menolaknya. "Aku juga tidak tau. Yang aku tau bahwa saat ini aku suka pada. ."
"Hentikan! Hentikan! Aku mohon hentikan!" Teriak Bella sambil menutup telinganya. "Jangan bicara lagi! Jangan ucapkan kata-kata itu padaku!" Bella sekarang berdiri dan mundur satu langkah.
"Tapi ini kenyataan, Bella. Bahkan aku sudah merasakannya saat pertama kali melihatmu, saat kau tergeletak pingsan didepan mobilku." Aku berhenti sebentar, mengambil nafas. "Yang sangat disayangkan adalah, aku tidak bisa memahami perasaanku saat itu. Aku menyadarinya saat tadi aku berdansa denganmu. Merasakan hangat tubuhmu dalam pelukanku. Merasakan lembut cinta dalam ciumanmu."
"Diam!" Kata Bella sembari mengacungkan jari telunjuknya kearahku. Kali ini Bella benar-benar berteriak dengan suara lantang yang memilukan. "Kau tidak boleh mengatakan itu! Demi Tuhan, kau bahkan bukan Edward!" Lalu Bella keluar meninggalkanku yang masih mematung setelah mendengar perkataannya.
Kata itu benar-benar menohokku. Aku memang bukan Edward.
Tapi apakah aku salah kalau memiliki rasa ini padanya? Apakah aku salah karena aku bukan Edward? Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Aku hanya ingin melihat senyumannya setiap saat. Aku ingin menghapus gurat kesediham diwajah dan matanya. Aku ingin mengembalikan sinar dimata cokelatnya yang hangat dan lembut. Apa aku salah?
Pertanyaan itu terus berputar-putar dibenakku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang akan terjadi setelah ini?
Selama beberapa menit aku memikirkan semua itu. Tapi aku tetap tidak menemukan jawabnya. Aku tidak tau harus bagaimana.
Aku juga tidak mungkin menikah dengan Jane. Aku menyadari bahwa rasa yang kumiliki untuk Jane bukanlah cinta. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang menarikku begitu kuat seperti ini selain pada Bella. Tapi kenapa ini semua datang pada saat yang salah dan pada orang yang salah? Kenapa aku harus memiliki rasa ini disaat aku sudah terikat dengan seseorang?
Terdengar suara orang membuka pintu. aku tidak tau sudah berapa lama aku ada disini. "Hei, kau disini rupanya." Suara Jane terdengar memecah pikiranku. "Kau baik-baik saja?" Tanya Jane sambil mendekatiku lalu menyentuh pundakku.
Kupalingkan wajahku padanya, berusaha terlihat senormal mungkin. "Aku tidak apa-apa." Kataku lalu tersenyum kearah Jane. "Kau menikmati dansanya?"
"Ya. Aku berdansa dengan Alec tadi. Dia benar-benar orang yang menyenangkan." Ucap Jane sambil tersenyum lebar.
"Kau menyukainya?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Jane tercengang. "Apa?" Raut wajahnya benar-benar terkejut. Butuh waktu sedikit lama baginya untuk mencerna pertanyaanku. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Tony?"
Aku berusaha tersenyum. "Tidak apa-apa." Aku bangkit dan berjalan menuju pintu. "Ayo kita pulang, pasti kau sangat lelah." Kataku sambil menggandeng tangan Jane.
"Tony?"
Aku berhenti sebentar sebelum berpaling pada Jane.
Jane memandangku dengan tatapan khawatir yang sedikit aneh. "Kau tidak apa-apa, kan?"
"Aku tidak apa-apa." Kataku, berusaha menenangkannya. "Dan kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" Aku balik bertanya.
Jane berkedip beberapa kali. "Tidak apa-apa. hanya perasaanku saja, kurasa." Jane tersenyum dan menggandeng tanganku lebih erat.
Tidak, Jane, kau benar. Ada sesuatu yang terjadi padaku.
Hmm. Dilema dan dilema. Setelah Tony tau perasaannya pada Bella lebih dari sekedar teman, apa yang akan dia lakukan? Lalu Bella? Dan Jane?
Wahh, makin rumit.. ;)
Give me some love.. (review)
Love
B
