NOTE : SUDUT PANDANG DIUBAH JADI SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA. AKASHI'S POV. POV DIUBAH MENJADI POV AKASHI. SEDANGKAN "AKU" DISEBUT SEBAGAI "DIA".
WARNING : CHAPTER INI GATOT! GAGAL TOTAL! SILAHKAN DI TEKAN TOMBOL CALL, MAKSUDNYA CALL RUMAH SAKIT JIWA, SAYA STRESS!
I'm Yours?
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi-san
I'm Yours kupersembahkan sebagai wujud kecintaanku pada Sang Pangeran Merah
Chapter 10 : The Beginning
-Akashi Seijuuro's POV-
.
.
Aku adalah Akashi Seijuuro.
Dan, kau—?
Siapa?
Bukan siapa-siapa.
.
.
.
Akashi Seijuuro, sang kapten tim basket Teikou yang disegani. Memiliki kemampuan di segala bidang, akademis maupun sport.
Itulah yang sebagian orang katakan mengenai diriku. Bagiku sendiri, semua itu tidaklah menarik. Kemenangan adalah suatu hal yang pasti bagiku, dan bagi timku. Kemenangan bagaikan kebutuhan pasti, seperti bernafas. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mencapai kemenangan itu sendiri. Kemenangan dalam segala hal.
Aku dibesarkan di keluarga dengan ideologi seorang pemenang yang sangat kuat. Tidak, sama sekali, aku tidak membencinya. Justru sebaliknya, diriku memanglah pantas menerima semua hal itu. Didikan keluarga Akashi memanglah keras, tetapi hal itu tidaklah buruk—semuanya berhasil membentuk seorang Akashi Seijuuro yang seperti ini—dihormati, disegani, berinteligensi dan selalu menjadi nomor satu di segala bidang.
Segala sesuatunya selalu menjadi jelas di hadapanku, yaitu suatu kemutlakan. Aku tidak pernah sekali pun mengucapkan hal sembarangan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Apa yang aku ucapkan selalu menjadi kebenaran, semua itu disokong oleh praduga tanpa batas yang dipikirkan secara matang. Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan. Semua yang aku ucapkan adalah benar dan aku akan menepatinya. Hal ini sedikit banyak membuat lingkunganku menegang. Ya, karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana diriku bertindak dan berkata. Oleh karena itu, tidak ada satu pun dari mereka yang membantah pernyataan dan perintahku. Aku berkuasa. Ya, akulah penguasa. Kenapa? Tidak salah kan? Aku pantas untuk itu, setelah melewati semua usaha yang aku lakukan.
Berpasang-pasang mata selalu menatapku segan. Beberapa diantaranya bahkan tidak berani menatap mataku—terlebih lagi karena anugerah yang diberikan padaku, sepasang mata yang berbeda warna dengan kemampuan bernama Emperor's Eye. Sebagian dari mereka berkata, diriku cukup mengerikan hingga mereka tidak berani berhadapan langsung padaku. Terlalu mengerikan karena kebenaran yang aku ucap. Tetapi, hal itu tidak menjadi masalah, ya, karena memang seharusnya begitu. Mereka tidak sama denganku—bukan berarti mereka tidak ada apa-apanya, aku tidak pernah menganggap remeh orang lain dan aku tidak suka dianggap remeh oleh orang lain. Tidak ada yang kurang dari diriku di mata mereka.
Sempurna.
Itulah yang mereka pikirkan pada pandangan pertama. Semua sudah kumiliki—kemampuan, cara pikir, dan bahkan dari segi paras dan fisik. Apa yang kurang dari diriku? Ya, tidak ada sedikit pun terbesit pikiran bahwa aku memiliki kelemahan. Tidak, sama sekali. Aku akan mencapai kesempurnaan dalam apapun.
Walaupun begitu, banyak pula berpasang tatapan aneh menyoroti diriku setiap saat. Dimana pun. Di saat apapun. Tatapan aneh bukanlah suatu hal yang dapat menjadi gangguan dalam aktivitasku. Asalkan mereka tidak melakukan tindakan gila yang menggangguku maka semua tidaklah berarti. Dari semua tatapan penuh arti itu, beberapa orang memandangku dengan tatapan yang tidak biasa. Ya, salah satunya dari anggota tim basket Teikou—terutama first string—Atsushi, Ryouta, Daiki, Shintarou dan juga Tetsuya. Aku mengakui mereka sebagai rekan yang sempurna. Ya, rekan dan juga teman. Tentu saja teman. Aku berteman baik dengan mereka meskipun ada beberapa momen penuh tragedi jika mereka membuatku marah.
Jika dalam basket, rekan timku adalah orang-orang yang menatapku penuh tantangan, tetapi dalam hal lain ada pula beberapa orang yang menatapku dengan berani. Tidak ada yang seberani dia menatapku. Ya, Gadis itu.
Dia merupakan salah satu gadis yang menatapku penuh tantangan. Entahlah, sorot matanya berbeda dari gadis-gadis biasanya saat melihatku. Memang, dia adalah tipe orang yang menatap lawan bicaranya dengan berani. Dia juga berkelakukan baik, tenang dan tidak gegabah. Terkadang aku benci dengannya, karena dia selalu saja berusaha memperlihatkan sosoknya yang kuat. Apa yang ia tantang dariku adalah suatu hal yang disebut eksistensi dalam bidang akademis. Aku bisa melihatnya dengan jelas, ia menganggapku rivalnya. Tetapi, bagiku, kerivalan ini tidak ada artinya—ya, karena aku pasti akan memenangkannya.
Sebagai seseorang yang mengerti, aku mengakui kemampuannya. Dia adalah gadis yang pintar. Dia selalu disebut sebagai gadis paling pintar di sekolah kami. Seorang gadis cerdas yang tenang. Ya, dalam hal akademis, dia selalu saja bisa menyusul ketertinggalannya dariku. Bukankah itu hebat? Gadis yang penuh dengan semangat. Anggun dan pintar. Anggapan semua orang tidak mempengaruhi kacamata pandanganku terhadapnya. Dia memang cerdas dan pintar, tapi bagiku, ia masih memiliki sesuatu yang lebih, dan menurutku, tidak ada yang bisa melihatnya jika tidak bicara langsung padanya. Kecerdasannya tidak sekedar dalam bidang akademis tetapi untuk hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Ya, mungkin sulit untuk dijelaskan namun itulah pendapatku.
Tetapi, seperti yang aku bilang sebelumnya, aku pasti akan tetap menjadi pemenangnya. Dia tidak akan bisa mengalahkanku dalam hal apapun. Jadi, keberadaannya disekitarku adalah tidak menjadi suatu ancaman. Tidak terlalu berarti. Bukan rekan, bukan teman. Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang kukenal dan kebetulan harus belajar di ruangan yang sama. Hanya itu.
Namun, akhir-akhir ini, sorot matanya berubah. Dia menatapku dengan tatapan yang lain. Aku tidak mengerti. Tatapan itu. Ya, sangat familiar. Aku tidak bisa mengingat tatapan mata seperti apa yang dia berikan padaku. Tetapi, tatapan itu sangat aku kenali. Beberapa orang menatapku seperti itu, namun dia tidak pernah menatapku seperti itu sebelumnya. Entah, apa yang terjadi padanya. Asalkan tatapannya itu tidak memberikan efek buruk pada tindakannya sehingga merugikanku, maka semua itu tidak menjadi masalah.
Sorot matanya berubah, menjadi aneh. Tak disangka, kelakuannya pun berubah. Setiap aku berusaha menatapnya, ia pasti akan berpaling dari pandangan mataku—walaupun hanya sebuah pandangan yang tidak sengaja terjadi. Biasanya, apapun yang terjadi, dia akan menatapku dengan berani tetapi sekarang tidak. Beberapa kali juga ada kejadian dia bengong di kelas hingga dimarahi oleh Sensei. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku hanya merasa janggal dengan tindak tanduknya. Hah. Terserah saja. Dia tidak menjadi penghalang meskipun begitu.
Nyatanya, dugaanku melebihi apa yang kuperkirakan terjadi.
Jika diingat, masalah memang benar datang sejak saat itu, ya, sejak tiba-tiba saja, sahabat baiknya—Shinagawa Kana—mendatangiku.
"Bisa bantu aku?" tanyanya padaku.
"Bantu?"
"Aku tidak bisa matematika dan fisika, bisa ajarkan aku? Sebentar lagi akan ada ujian, aku ingin dapat nilai yang lebih baik. Kau kan peringkat satu, pasti diajari olehmu akan lebih mudah bagiku."
Awalnya, aku sedikit heran. Aku jarang berbincang dengannya apalagi dengan Shinagawa-san, tetapi tiba-tiba saja ia meminta tolong padaku. Bukankah ada hal mencurigakan di balik semua itu? Tetapi, aku tidak memusingkan apa yang terjadi. Aku bukanlah orang pelit ilmu. Hingga akhirnya, aku menjawab permintaannya dan berkata, "Baiklah."
Namun, aku tidak menyangka, Shinagawa-san mengajaknya juga, "Benarkah? Kalau begitu, kita belajar bersama ya. Dia juga ikutan." Saat kata-kata itu keluar dari Shinagawa-san, tiba-tiba saja dia berdiri dan berteriak panik. Ya, benar. Memang ada yang aneh dengan kelakuannya, terutama tatapannya. Saat aku memandanginya, ia hanya membuang wajahnya dari hadapanku. Melihat reaksinya yang janggal, aku bermaksud untuk menolak permintaan Shinagawa-san demi menyaksikan lanjutan dari reaksinya, tetapi jawaban yang kudapatkan adalah reaksi yang membuatku kesal.
Dia berkata demikian dengan suara lantang, "HANYA aku saja yang bisa mengajarimu, tidak perlu Akashi-kun." Dengan menekankan kata 'HANYA'. Apa maksud ucapannya? Ya, dia meremehkanku. Jadi, dia pikir aku tidak bisa mengajari Shinagawa-san dan HANYA dia saja yang bisa? Aku selalu menang dan aku selalu benar! Aku bisa melakukan apapun. Aku tidak suka seseorang meremehkanku dan dia melakukannya tepat di hadapanku. Gadis yang kurang ajar. Aku tidak suka orang lain menyalah artikan perkataan dan keberadaanku. Demi membuktikan kesalahan pada ucapannya, pada akhirnya, aku menerima ajakan belajar bersama. Saat itu, aku menatap tajam maniknya yang entah kenapa terlihat gusar.
Heh. Lihat saja nanti, akan aku buktikan, bahwa dia salah dan akan menyesal telah mengatakan demikian.
.
.
.
Pelajaran olahraga sedang berlangsung.
Siswa laki-laki dan perempuan bergabung untuk membuat kelompok-kelompok kecil beranggota cukup untuk bertanding bola voli. Walaupun, spesialisasiku adalah basket, bukan berarti aku lemah dalam olahraga lain. Ingat, aku selalu menang, jadi apapun bisa aku lewati dengan mudah.
Saat sedang istirahat setelah mendapatkan giliran main, aku berdiri di pinggir lapangan memperhatikan. Saat itu, aku mendengar suara teriakan yang tidak asing. Kurasa, aku pernah mendengar suara itu. Di sisi lain, aku melihat beberapa orang berkumpul, setelah itu bubar. Aku anggap tidak ada masalah yang serius hingga pada akhirnya, saat aku bicara dengan salah satu teman sekelas, aku merasa seseorang menabrak punggungku. Aku menoleh dan mendapati dirinya dengan rona merah di sekitar wajah dan keningnya.
"Ah, summimasen. Aku tidak sengaja."
Dia meminta maaf tanpa sadar siapa yang dia tabrak, dan aku hanya memandangi wajahnya yang mendongak dan terkaget-kaget melihat aku berada tepat di hadapannya. Melihat wajahnya itu, membuatku mengingat caranya meremehkanku, sungguh anak yang kurang ajar. Mungkin, tanpa sadar, aku menatapnya dingin namun aku berusaha untuk menahan diri hingga saatnya tiba untuk dia merasakan penyesalan.
"Tidak apa-apa," aku mengatakan itu. Reaksi lain aku dapatkan. Entah kenapa, wajahnya yang merah tanpa sebab malah semakin memerah. Tangannya meremas seragam olahraga tepat di dada dengan kencang. Dia berlari keluar gym tanpa mengatakan apa-apa. Ada apa dengannya kali ini?
Salah satu teman yang berada di dekatku berseru, "Kasihan sekali wajahnya merah begitu. Tadi, terkena pukulan bola voli."
Oh, jadi karena bola voli.
.
.
.
Aku ingat, hari ini, ada latihan ekstra untuk anggota first string. Setelah melakukan diskusi bersama Shintarou di kelasnya saat makan siang, aku kembali ke kelas. Saat berbelok di koridor dekat kelasku, tiba-tiba saja, aku berpapasan dengannya. Berpapasan dengan dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan Ryouta.
Apa hubungan mereka berdua?
"Ah. Akashicchi."
Ryouta menatapku dengan iris mata kuning yang selalu penuh dengan keceriaan berlebihan. Terkadang, aku tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi orang yang terlalu hiperaktif begitu. Sedangkan dia—apa efek bola volinya masih ada? Wajahnya masih merah. Entahlah.
Aku memandangi mereka sesaat sebelum kembali berjalan. Kedua tangan yang saling bertautan itu terlepas karena dirinya tiba-tiba saja menarik tangan miliknya dari genggaman tangan Ryouta secara terburu-buru. Kenapa dia melakukan itu terburu-buru begitu? Hah. Bukan urusanku.
"Ryouta, hari ini ada latihan. Jangan terlambat," aku mengingatkan pemuda hiperaktif itu. Agar, ia TIDAK terlambat. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Semoga ia TIDAK terlambat. Hm.. kadang, Ryouta dan Daiki SUKA sekali terlambat. Kalau Ryouta, mungkin karena ia harus menghindari kejaran fans-fans ributnya sedangkan Daiki, apa yang menghalanginya?
.
.
.
[Sepulang sekolah, di gym]
Aku memperhatikan jalannya pemanasan sebelum latihan. Beberapa anggota sudah datang. Bel pulang memang baru sekitar tiga puluh menit yang lalu berbunyi. Dalam waktu sepuluh menit lagi, semua anggota harus hadir. Shintarou, Tetsuya, dan Daiki nyatanya sudah hadir. Bagus. Tak lama, Ryouta hadir bersama Satsuki sedangkan Atsushi sejak awal ia sudah datang, hanya saja sejak tadi ia masih sibuk di loker dengan cemilan favoritnya. Sesaat sebelum aku ingin mengumumkan tentang menu latihan hari ini, Shintarou menginterupsi.
"Akashi."
"Ada apa, Shintarou? Aku baru saja ingin memanggil semuanya."
Ia menaikkan kacamatanya yang bahkan tidak merosot dengan tangan berbalut kain, "Seorang gadis tadi menitipkan pesan padaku, untukmu, Akashi. Aku tidak sengaja bertemu dengannya nanodayo."
"Apa itu?"
"Ia menunggumu di belakang gedung sekolah. Ia ingin bicara sesuatu."
"Hm.. bicara apa?"
Bicara? Seorang gadis? Siapa? Aku sedang sibuk disini.
"Aku tidak tau. Aku tidak mengenalnya."
Hah? Menggelikan. Siapa yang berani mengganggu kali ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menemuinya? Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa gadis itu mungkin ingin membicarakan hal penting. Aku berharap, bukan hal itu yang akan dibicarakannya. Jika pembicaraan itu ada manfaatnya, maka tanpa basa-basi aku akan mendatanginya, namun informasi ini tidak jelas dan aku yakin justru hal yang ingin dibicarakannya adalah hal yang tidak berguna bagiku. Tapi, sebagai orang yang paham tatakrama, tentu saja, aku tidak bisa membuat seorang gadis menunggu tanpa mengusirnya.
"Baiklah. Aku akan menemuinya sebentar. Shintarou, kau saja yang menjelaskan menu latihan hari ini."
Rekan berambut hijau itu hanya mengangguk dan mulai mengumpulkan masa. Aku beranjak pergi menuju belakang sekolah. Disana, aku melihat seorang gadis berdiri merengkuh tas sekolahnya. Aku tidak mengenal gadis ini. Siapa?
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Aku bertanya saat bola matanya menangkap sosokku. Tatapannya berubah dan ia mulai gelisah. Pipinya merona merah. Aku menatapnya dalam. Dengan maksud, menilik arti tatapan dan ekspresinya itu padaku. Untuk beberapa lama, ia hanya diam mematung. Sungguh, ini menghabiskan waktu.
"A-Aku—suka padamu!"
Ternyata benar. Hal tidak berguna ini.
Apa dengan mudahnya kau mengumbar rasa suka seperti itu? Mengenal dirimu saja aku tidak! Tapi, kau sudah berani menatapku dan mengatakan suka padaku? Apa yang kau tau tentang diriku? Hah. Beberapa gadis memang menatapku seperti itu. Aku tidak tertarik dengan hal seperti ini. Lagipula, apa untungnya jika kau melakukan ini? Hal ini, hanya menggangu aktifitasku.
Aku mendengar sebuah suara—seperti langkah kaki. Dari mana asalnya? Mataku melirik berbagai arah tanpa menoleh. Bersikap waspada. Dari tempatku berdiri, aku melihat sesuatu yang kukenal di balik tembok disana. Ah, seseorang sedang berdiri disana. Menguping. Jika melihat postur tubuh yang sempat menyumbul di balik tembok itu, aku bisa mengenali betul bahwa seseorang yang berdiri di sana adalah sosok dirinya. Dia. Sekarang, dia berani menguping?
Tunggu dulu.
Aku kembali menatap gadis di hadapanku. Sesekali matanya itu melirik ke arahku. Gadis dihadapanku ini mengaku kalau ia suka padaku. Ah.. begitu kah?
Ya, tatapan itu. Pandangan mata itu. Jadi, tatapan seperti itu yang disebut 'menyukai'? Tatapan berbinar penuh harap seakan terpesona? Sangat fokus bahkan tidak bisa lepas. Semakin dipandang semakin merona. Semakin dipandang dalam semakin berusaha disembunyikan. Emperor's eye milikku memang tidak bisa dibohongi. Awalnya, aku pikir hal seperti ini tidak mengganggu tetapi dengan adanya pernyataan gadis ini, aku menyadari sesuatu. Ya, ini akan berubah menjadi sesuatu yang mengganggu jikalau perasaan suka seperti itu tetap disimpan dan berkembang.
Akhirnya, aku mengerti apa yang terjadi padanya selama ini. Baiklah, aku akan mulai bertindak.
"Jadi, hanya untuk mengatakan itu kau memanggilku ke sini?"
Gadis ini makin kelihatan gelisah. Tentu saja, perasaannya sedang digantungkan, terlebih lagi, aku merespon pernyataan cintanya dengan kata-kata dingin bahkan menyiratkan ketidaktertarikan. Tetapi, maaf, kau memilih orang yang salah.
"Jika kau menginginkan kehidupan percintaan manis layaknya film-film, kau memilih orang yang salah."
Aku tidak membutuhkan hal seperti ini. Kau harus tau itu. Resapi tiap kata yang aku ucap. Suatu kebenaran.
"Jika kau menginginkan jawaban pasti yang membuatmu bahagia, jangan melakukannya padaku. Perasaan semacam itu tidak ada gunanya—hanya menganggu. Aku tidak butuh hal seperti itu,"
Oleh karena itu, jangan menggangguku dan hentikan. Hentikan mengembangkan perasaan menyukai itu.
"Hentikan menyukaiku. Lupakan segera. Jika tidak menuruti perintahku, kau akan tau akibatnya."
Dan, turuti perintahku, segera. Sekarang juga. Detik ini juga.
Aku pergi meninggalkan si gadis. Ia tidak bergeming sama sekali dari posisi awal ia bicara.
Hey, seseorang yang berdiri di balik tembok! Apa kau mendengar ucapanku tadi? Kurasa iya. Jadi, kau mengerti apa yang harus kau lakukan 'kan? Ya, kau mengerti. Pasti. Kau adalah gadis pintar, benar begitu? Jadi, turutilah perintahku. Lupakan perasaan suka seperti itu. Aku tidak memerlukannya. Jangan menatapku seperti itu lagi. Jika, aku menangkap basah dirimu masih menatapku dengan pandangan mata seperti itu, maka, habislah kau.
Aku harus menyingkirkan para pengganggu.
Dan, jangan buat dirimu menjadi seorang pengganggu.
.
.
.
TBC..
Nih, update. Teror aja terus gue! Hahahahaha! Tapiiiiiiii...
Maaf. Maaf. Gue gak bisa menguasai karakter seorang Akashi Seijuuro disini. Maafkan akuuuuuu… mana bahasanya belibet bgt.
Selama pake POV "Aku", gue berusaha mendalami jadi si "aku" dan sekarang berganti POV, ini sulit sekali. Bangget sulitnya. Sampe2 gue berteriak di depan laptop kyk gini, "GUE ADALAH AKASHI SEIJUURO! GUE ADALAH AKASHI SEIJUURO!" tapi, hasilnya, nihil. Ganti POV rasanya kayak ganti Genre, tau gak.
Entahlah. Gue cuma mau nunjukin 2 kepribadian Akashi sebenarnya. Kelihatan gak ya nanti? Tp, di POV Akashi ini bakalan ada adegan yg bikin senyam senyum kok, jadi santai aja ya~
Gue jd inget, ketika mengetik "Apa yang kurang dari diriku?" Gue langsung buyar dan ngakak trus tereak2 gini, "KURANG TINGGI, BROH!"
Gimana nasib fic gue yg laen yak? Kena WB nih. Kehabisan ide. Ada yg bisa ngasih ide? *DUAR* Kalo ini mah, udah ane rancang. Huahahaha!
Udah ah. Baybee.. Makasih buat supportnya, gue gak sempat bales. Chapter ini memang mengecewakan, kan? Maaf ya. Klo ada yg gak ngerti, tanyakan saja...See yaaa…
