WHEN REVENGE BECOME LOVE
Chapter Ten
Yunjae's Apartement
"Selamat pagi Nona Jaejoong."
Jaejoong yang baru saja keluar dari kamarnya mencari asal suara yang memanggilnya.
"Kamu tidur di apartement ini semalam ?"
"I..iya, Yunho oppa yang menyuruhku."
"Oh."
Jaejoong terkesan sangat dingin pagi ini, perasaan marah, jengkel dan sebal menjadi satu. Bisa-bisanya Yunho menyuruh Yuri yang merupakan orang asing untuk menginap di apartementnya.
"Anda mau kemana sepagi ini Nona ?"
"Bukan urusanmu ! Anyeong."
Yuri hanya bisa menatap pintu ruang tamu itu dibanting, dirinya merasa bersalah yang teramat. Memasuki rumah tangga orang lain.
"Yuri-ssi, ayo ikut aku sekarang !" Jaejoong kembali lagi ke apartementnya, dengan nada memerintah menyuruh Yuri.
"Ne, Nona. Saya ambil tas dulu."
.
.
.
At Coffee Shop
"Apa kamu benar-benar akan menggugurkan anak itu eoh ?"
"I..iya..aku tidak ingin menanggung malu, Nona."
Jaejoong meminum kopinya, black kopi kegemarannya.
"Kamu ternyata seorang wanita bodoh Yuri-ssi,."
"Mwo ? Ma..maksud anda Nona ?"
"Panggil namaku saja. Disaat dirimu bisa memiliki anak, tapi kamu hendak membuangnya, membunuh sebuah nyawa tak berdosa."
Yuri menundukkan kepalanya, memegang cangkir kopinya.
"Ta..pi..anak ini tidak memiliki seorang Appa, Jaejoong-ssi."
"Apa kamu tidak pernah mendengar istilah single mom huh ?"
"Aku tahu Jaejoong-ssi, tapi aku..maksudnya bagaimana aku menjelaskan ini kepada kedua orangtuaku."
"Aku akan membantumu."
Yuri mengangkat kepalanya, menatap Jaejoong penuh arti.
"Ke..kenapa Jaejoong-ssi ?"
"Yuri-ssi, apa tadi malam kamu tidak mengerti maksud Yunho yang ingin mengambil anakmu hingga dia membentakku hanya demi anak yang tidak kamu inginkan itu ? Itu karena aku tidak bisa memiliki keturunan Yuri-ssi ! Aku tidak bisa hamil ! Apa kamu mengerti bagaimana rasanya !"
Tubuh Yuri seakan terhempas begitu kuatnya, tubuhnya bergetar, memberanikan dirinya menggenggam tangan Jaejoong. Menghormati wanita yang terlihat kuat itu.
"Ma..maafkan aku, Jaejoong-ssi."
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku hanya tertekan saja saat ini. Jagalah anakmu Yuri-ssi. Aku..tidak ingin anakmu, kamu harus tahu itu. Aku yakin suatu saat Tuhan akan berbaik hati kepadaku."
"Jae..joong-ssi.."
"Apabila kamu tidak memiliki biaya, aku akan membantumu hingga anakmu melahirkan."
"Jaejoong-ssi, aku..gomawo, Jaejoong-ssi. Maafkan aku, maafkan kebodohanku Jaejoong-ssi."
"Ne, rawatlah anakmu dengan baik."
Jaejoong berusaha tersenyum, setidaknya wanita dihadapannya tidak berpikiran bodoh lagi.
"Gomawo Jaejoong-ssi, aku akan memberanikan diri untuk bicara kepada keluargaku, semoga mereka memakluminya."
"Ne, tawaranku masih berlaku. Aku akan membantumu bila kamu memerlukannya."
.
.
.
Yunjae's Apartement
Yunho baru saja bangun dari tidurnya, tubuhnya terasa sakit. Walaupun semalam Jaejoong memperbolehkan ia masuk ke kamar mereka, tapi Yunho tidur di lantai.
Yunho mendapati rumahnya dalam keadaan sepi, tidak ada Jaejoong yang memasak di dapur, tidak ada juga sarapan.
Yunho mengecek ponselnya sesaat.
Aku sudah pergi kerja bersama Yuri, kamu tidak usah mengkhawatirkan kami Yunho-ah.
Sebuah pesan singkat dari Jaejoong, ia mengetahui Jaejoong masih jengkel kepadanya, terlihat dari pesan singkat itu.
Yunho langsung mengambil kunci mobilnya, dan tentu saja ia menuju kantornya.
Setiba di kantor, ia melihat Yuri yang sudah duduk manis di ruang kerjanya.
"Yu..yunho oppa, bisakah kita bicara sebentar ?"
"Ne, di ruanganku saja."
Yunho berjalan duluan memasuki ruang kerjanya, dirinya langsung duduk di meja kerjanya, dan Yuri duduk di hadapannya.
"Ada apa Yuri-ah ?"
"Maafkan aku Oppa."
"Untuk apa eoh ?"
"Aku tidak akan memberikan anakku untuk Oppa, aku akan membesarkannya seorang diri."
"Mwo ? Apa yang Jaejoong katakan kepadamu ?"
"Jaejoong-ssi telah membuatku berpikir dengan jernih, aku tahu Jaejoong-ssi wanita yang kuat. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Dia adalah wanita yang sangat baik, Oppa sangat beruntung memilikinya."
"Hm ? Baiklah, rawatlah anak-mu dengan baik, Yuri-ssi."
"Go..gomawo Oppa, aku kembali ke ruanganku dulu."
"Ah..tunggu dulu, ada yang ingin aku bicarakan."
"Ada apa Oppa ?"
"Mulai hari ini aku tidak menjadi atasanmu lagi, karena aku akan menggantikan posisi Appa-ku. Tapi nanti akan ada seorang namja dari Distrik Dobong-gu yang akan menggantikan posisiku. Mungkin setelah istirahat siang ia baru kemari."
"Ne Oppa. Aku sangat berterimakasih atas bantuan Oppa selama ini."
Yuri membungkukkan badannya sesaat.
"Hm, berkerjalah dengan baik Yuri-ah, aku akan membantumu bila kamu memerlukannya. Aku sudah menganggapmu sebagai adik perempuanku sendiri."
"Go..gomawo Oppa."
"Sama-sama, bisakah kamu membantuku membersihkan barang-barangku ?"
"Dengan senang hati Oppa !"
.
.
.
Jung's House
"Selamat pagi Appa, cuaca pagi ini sepertinya sangat cerah."
"Ah, Jaejoong-ah ? Duduklah disini."
"Ini aku buatkan Imsam-cha untuk Appa. Bagaimana keadaan Appa ? Apa sudah sehat ?"
"Ne, gomawo Jaejoong-ah. Iya, setelah makan bubur buatanmu, Appa kembali sehat. Dirimu mengingatkanku kepada mendiang istriku Jaejoong-ah. Apa kamu tidak kerja ?"
"Istri Appa pasti wanita yang sangat baik. Aku akan berkerja setelah istirahat siang Appa, aku akan ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit Jaejoong-ah ?"
Jaejoong berdiri dari duduknya, menatap cerahnya langit, ia sudah berada disini, ia tidak akan mundur kali ini. Setelah ia memberitahu kedua orangtuanya tadi pagi, ia harus mengatakannya juga kepada Appa Jung. Ia hanya bisa berharap Appa Jung menerima keadannya seperti orangtua angkatnya.
"Appa, aku ingin membicarakan sesuatu kepada Appa."
"Hm ? Apa itu ?"
Appa Jung mengikuti Jaejoong, berdiri disampiingnya.
"Apakah seorang cucu sangat berharga untuk Appa ?"
"Tentu saja Jaejoong-ah, kenapa menanyakan itu ?"
"Aku…memiliki kemungkinan…" Jaejoong menggantung kalimatnya, tiba-tiba Appa Jung menepuk pundaknya.
"Apa seberat itu menceritakannya kepada Appa ?"
"Mungkin ini sangat berat bagiku, tapi aku tidak ingin mengecewakan Appa. Ah, apa Appa ingin menemaniku ke rumah sakit ?"
"Tentu saja, apa kita pergi sekarang ?"
"Ne, aku akan menunggu Appa di mobil."
Entah apa yang direncanakan Jaejoong saat ini, pikirannya berputar menjadi satu, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya, ia hanya berharap Appa Jung tidak kecewa.
.
.
.
At Hospital
"Selamat pagi Dokter Ahn."
"Selamat pagi Jaejoong-ssi, silahkan berbaring disana, aku akan memeriksa anda."
Jaejoong segera berbaring, Dokter Ahn dengan seorang perawat mulai memeriksanya dengan alat USG.
"Apa haid-mu masih tidak lancar Jaejoong-ssi ?"
"Ne, sudah 2 bulan aku tidak haid."
"Apa anda sudah menikah ?"
"Ne, kira-kira 3 bulan yang lalu."
"Baik, saya sudah selesai memeriksa-nya, silahkan duduk. Saya akan menjelaskan beberapa hal."
"Tunggu sebentar Dokter, saya ingin memanggil Appa mertua saya. Ia harus mendengar ini."
"Silahkan."
Lalu Jaejoong keluar dari ruangan itu, memanggil Appa Jung yang berada di ruang tunggu, sedikit kebingungan bagi Appa Jung ketika dia berada di ruangan dokter kandungan itu.
"Baiklah, saya akan menjelaskannya. Saya harap anda dapat menerimanya."
"Apa yang terjadi dengan menantu saya dokter ?"
Dokter Ahn tersenyum, ia mengambil hasil usg tadi, menaruhnya di meja kerjanya.
Jaejoong terlihat panik, tangannya mengenggam rok kerjanya, ia harus siap mendengar ini, ia melirik Appa Jung yang terlihat serius.
"Jaejoong-ssi, seperti yang pernah saya bilang dulu, sangat kecil kemungkinannya untuk mempunyai keturunan. Rahim anda tidak subur."
Wajah Appa Jung menjadi datar, ia belum mengerti sepenuhnya akan ucapan dokter itu.
"Maksud anda menantu saya tidak dapat memiliki keturunan ?"
"Untuk saat ini saya bisa mengatakan seperti itu. Tapi saya akan memberikan obat penyubur rahim. Semoga bermanfaat."
.
.
.
At Nissan's Restaurant
Setelah dari rumah sakit, Appa Jung mengajak Jaejoong untuk makan siang bersama, Appa Jung tidak berbicara hingga saat ini, membuat Jaejoong merasa cemas. Ia takut bila Appa Jung tidak menyukainya lagi. Appa Jung menyantap makan siangnya dalam diam, begitu juga dengan Jaejoong.
"Jadi hal itu yang ingin kamu bicarakan Jaejoong-ah ?" Tanya Appa Jung kemudian membuka pembicaraan.
Jaejoong menaruh sumpitnya, mengelap bibirnya.
"Iya Appa, maafkan aku."
"Tidak perlu meminta maaf Jaejoong-ah, Appa tidak apa-apa apabila kamu tidak bisa memberiku seorang cucu."
"Be..benarkah Appa ?" Tanya Jaejoong tidak percaya, ucapannya sedikit bergetar.
"Appa tidak akan memaksamu, cukup kamu telah membuat Yunho bahagia saja Appa sudah senang. Kalian bisa mengadopsi seorang anak bukan ?"
"Um..tapi aku tidak ingin adopsi anak Appa, aku takut aku tidak bisa menyayanginya."
Appa Jung tersenyum sekilas, kemudian meminum habis imsam-cha kesukaannya.
.
.
.
Nissan's Group Distrik Gangnam-gu
Seorang namja yang lumayan tampan menyusuri lantai dimana ruang kerjanya terletak. Dia melihat sekilas ruang kerja yang berada di depan ruangan yang bertuliskan wakil direktur itu. Dia meyakini bahwa itu adalah ruang sekretaris-nya.
"Permisi."
"Ne, silahkan masuk Tuan. Ada yang bisa saya bantu ?"
Namja tadi terpesona akan wajah cantik yeoja itu, hingga ia merasa gugup untuk saat ini.
"Tuan ?"
"Oh..perkenalkan saya Kim Yesung, saya wakil direktur baru disini."
"Saya Kwon Yuri, Tuan Yesung. Saya adalah sekretaris anda, mari saya antar ke ruangan anda Tuan."
Yuri tersenyum ketika berjabat tangan dengan Yesung, saat itu juga Yesung mengalami sesuatu yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama.
Di lain lantai, Jung Yunho terlihat sangat sibuk, pekerjaan sebagai Direktur Utama lebih memeras otak-nya. Tapi, dia masih beruntung karena mantan asisten Appa-nya yang kini menjadi asisten-nya sangat membantunya. Yunho cukup menyukai pemikiran yang disampaikan oleh Hyunjoong. Dia mengakui kepintaran namja itu.
"Hyunjoong-ssi, terimakasih telah membantu. Kamu boleh pulang kerja sekarang, sudah jam 5 bukan ?"
"Terimakasih Tuan Yunho atas pengertian anda."
"Sama-sama."
Hyunjoong meninggalkan Yunho seorang diri di ruang kerjanya yang lebih besar dari ruang kerjanya yang dulu, tidak berapa lama terdengar suara pintu terbuka.
"Yunho-ah, apa kamu masih sibuk ?"
Yunho melihat seseorang yang baru saja masuk ke ruang kerjanya, bibirnya tersenyum melihat orang tersebut.
"Ada apa Joongie ?"
"Apa kamu sudah makan Yunho-ah ?"
"Belum, aku tadi tidak sempat makan siang, pekerjaanku sangat banyak."
"Ayo kita makan malam di restaurant Appa-mu Yunho-ah, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Hm ? Sebentar."
Yunho mematikan laptop-nya, kemudian merapikan berkas-berkasnya.
.
.
.
At Nissan's Restaurant
"Apa kamu senang makanan disini Joongie ?"
"Ne, tadi siang aku makan bersama Appa."
"Mwo ? Kenapa tidak mengajakku eoh ?"
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu pasti sibuk."
"Aku selalu ada waktu untukmu Jaejoongie."
"Enak sekali kopi ini Yunho-ah, apa kamu mau mencobanya ?"
"Tidak, kopi tidak bagus untuk kesehatan."
Jaejoong mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan sekaligus sindiran dari Yunho. Cherry lips itu semakin menggoda Yunho.
CUP
Yunho mencuri sebuah kecupan. "Aku akan menciummu bila kamu mengerucutkan bibir seperti itu."
"Huh ! Apa kamu lupa ! Aku itu masih marah kepadamu Jung Yunho !"
"Mwo ? Karena Yuri itu ? Ck, aku hanya tidak tega aja bila ia menggugurkan bayi tidak berdosa itu."
"Huh, tapi dia tidak akan menggugurkannya lagi."
"Aku tahu, Yuri sudah menceritakan betapa hebatnya istriku ini."
Jaejoong tersipu malu disaat Yunho menggodanya seperti saat ini.
"Ah Yunho-ah, Appa Jung sudah mengetahui tentangku, dan kedua orangtua angkatku juga sudah mengetahuinya, mereka menerima keadaanku ini. Aku sedikit merasa lega saat ini."
"Benarkah ? Syukurlah Jaejoongie."
"Iya, ayo Yunho kita pulang. Aku lelah sekali."
"Ne."
.
.
.
Yunjae's Apartement
Malam ini, Yunho dan Jaejoong terlihat lelah sekali. Napas mereka sama-sama terengah-engah, aktivitas bercinta yang baru saja mereka lakukan sangat menguras tenaga mereka.
Yunho kembali mencium lembut bibir Jaejoong, melumatnya, menghisap bahkan menggigit bibir bawah Jaejoong. Tangannya perlahan turun, meremas dengan lembut payudara Jaejoong.
"Yun..ho..hentikan..ahh.."
"Engh.."
"Hentikan ! Aku lelah !" sontak Jaejoong mendorong Yunho untuk menghentikan kegiatannya, Jaejoong terlalu lelah untuk melanjutkannya lagi.
"Wae ? Bukankah kita harus sering bercinta agar memiliki anak eoh ?"
Jaejoong membelakangi Yunho, ia menarik selimutnya hingga menutupi sampai lehernya. Selangkangannya terasa perih, tentu saja karena Yunho yang bersemangat.
"Tadi Dokter Ahn memberiku obat penyubur."
"Oh, semoga berhasil."
Yunho memeluk Jaejoong dari belakang, mengelus-elus perut Jaejoong. Berharap keajaiban menghampiri keluarga kecilnya.
To be continued
Give me some review ~
*Gomawo buat yang sudah nge-review FF Ze dari Chap 1 - Chap 10 ini *bow ~
Mind to reading my new FF 'Sweet Dreams Kim Jaejoong.'
*promosi*
Balikpapan, 17 Juni 2013
ZE.
