Unforgiven Hero Bab 10
Kyungsoo termenung di dalam kamarnya, masih bingung memikirkan perkataan Krystal tadi, perempuan itu bilang kalau Jongin selalu membayangkannya ketika bercinta, selalu menyebut namanya... bagaimana mungkin? Kyungsoo kan tidak mengenal Jongin sebelum ini?
Apakah Kyungsoo yang dibayangkan oleh Jongin adalah Kyungsoo yang lain?
Jantung Kyungsoo serasa diremas. Mungkinkah itu? Mungkinkah pernikahan impulsif, dan semua hal yang dilakukan dengan terburu-buru ini disebabkan Jongin menginginkan seorang pengganti untuk Kyungsoo yang dicintainya. Toh kalau dengan Kyungsoo, dia tidak perlu repot-repot seperti dengan Krystal, karena namanya sama. Jadi Jongin tidak perlu menjelaskan apa-apa dan Kyungsoo juga tidak akan tahu kalau dia digunakan sebagai pengganti.
Kyungsoo mendongak ketika Jongin memasuki kamar, mengernyit ketika melihat Kyungsoo duduk melamun di ranjang.
"Sayang, kenapa? Aku menunggumu di bawah untuk makan siang, tetapi kau tidak turun."
Jawaban Kyungsoo hanya berupa desahan napas yang berat, bingung apakah dia harus menanyakan hal ini kepada Jongin atau tidak.
Jongin ikut menghela napas, dengan lembut dia melangkah dan berlutut di depan Kyungsoo yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Tentang Krystal lagi? Apakah dia mengganggumu?"
Kyungsoo menatap Jongin, mencoba mencari kedalaman hati suaminya itu di balik tatapan matanya yang lembut. Apa sebenarnya yang ada di benak Jongin? Kenapa dia tidak pernah tahu?
"Krystal mengatakan kepadaku, bahwa kau selalu memanggil nama 'Kyungsoo' ketika bercinta...bahwa kau selalu membayangkannya sebagai Kyungsoo..." Kyungsoo mendesah, "Dan aku berpikir, tentu Kyungsoo yang kau bayangkan itu bukan aku, karena kita baru saling mengenal..."
Ekspresi Jongin tidak terbaca. Tetapi lelaki itu dengan lembut merengkuh tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Kau lebih percaya Krystal atau kepadaku Sayang? Aku suamimu."
Kyungsoo mencoba percaya. Sungguh dia mencoba. Tetapi cara Krystal mengucapkannya tadi, perempuan itu sungguh-sungguh tampak terluka. Mungkinkah Krsytal hanya berakting untuk menyebabkan kesalahpahaman di antara Jongin dan dirinya?
"Percayalah kepadaku dan jangan hiraukan apa yang dikatakan oleh Krystal. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa apapapun yang terjadi seburuk apapun yang dikatakan orang, kau bisa pegang satu hal yang pasti, bahwa aku mencintaimu. Amat sangat mencintaimu..."
Jongin menundukkan kepala dan mengecupi jemari Kyungsoo, "Rasanya sangat sakit, ketika kau mencintai seseorang tetapi tidak dipercaya. Rasanya seperti cintamu ini sampah dan dibuang begitu saja."
"Jongin... tidak... bukan begitu..."
Kyungsoo menggenggam jemari Jongin "Aku tidak akan membuang cintamu. Aku, maafkan aku mungkin aku sedikit terpengaruh karena cara Krystal mengungkapkannya tadi begitu meyakinkan."
Kyungsoo menghela napas panjang, "Mulai sekarang aku tidak akan mendengarkannya lagi."
"Terimakasih Kyungie." Kedua mata mereka sejajar, Jongin yang berlutut dan Jongin yang duduk di atas ranjang, lalu mereka berciuman dengan lembutnya.
Bibir Jongin melumat bibir Kyungsoo dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sudah lama dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya.
Kyungsoo mendesah ketika Jongin mendorongnya terbaring di ranjang, dengan kaki menjuntai di bawah dan Jongin yang berdiri membungkuk di atasnya.
"Kita tidak bisa melakukannya sekarang. Ini waktunya makan siang. Alfred akan mencari-cari kita..." Kyungsoo berbisik dalam napasnya yang sedikit tersengal.
"Alfred sudah mencari sejak tadi, lebih tepatnya mencarimu. Itu sebabnya aku menyusulmu kemari, karena kau tidak turun untuk makan siang." Jongin mencumbu leher Kyungsoo yang menyimpan aroma khasnya yang manis, "Aku rasa Alfred akan mengerti, kita kan sedang berbulan madu."
Jemari Jongin membuka resleting gaun Kyungsoo dan menurunkannya, dia menarik gaun itu melewati pinggul Kyungsoo dan membuangnya ke lantai. Pakaian dalamnya menyusul kemudian, hingga Kyungsoo berbaring telanjang dan pasrah di bawahnya.
Jongin tidak terburu-buru, lelaki itu dengan pelan membuka kancing kemejanya dan melepasnya, memamerkan tubuh indah dan kerasnya yang bahkan masih membuat Kyungsoo merasa kagum setiap melihatnya, bahkan setelah berkali-kali jemarinya menyentuhnya di sana, menikmati kehalusannya.
Lalu Jongin menurunkan celananya dan kemudian telanjang sepenuhnya di depan Kyungsoo, kejantanannya mengeras dan sudah siap. Lelaki ini amat bergairah.
Dengan lembut lelaki itu menunduk di atas Kyungsoo, jemarinya bergerak menelusuri tubuh Kyungsoo dan menemukan kewanitaan Kyungsoo yang sudah hangat dan basah.
"Aku belum menggodamu, tetapi kau sudah basah di sini..." Jongin menggerakan jemarinya lembut, "Kau pasti sangat merindukanku di sana."
Dengan Lembut Jongin mengangkat kedua kaki Kyungsoo dan menyandarkan masing-masing di pundaknya, membuat posisi Kyungsoo begitu pas untuk dia masuki.
Lelaki itu melakukan penetrasi dan mengerang parau. "Astaga... kau begitu sempit sayang, begitu sempit dan nikmat..."
Kyungsoo mengikuti semua ritme yang dibawa oleh Jongin. Posisi ini membuat titik-titik sensitive yang tidak disadarinya ada tersentuh dan bangun, membuat seluruh tubuh Kyungsoo menggelenyar dalam kenikmatan yang luar biasa, jemari Jongin bergerak dan menyentuh titik nikmat di atas kewanitaannya, memainkannya. Membuat Kyungsoo seakan dihantam olehdua kenikmatan bertubi-tubi.
"Jonngiin..." Kyungsoo mengerang, menyebut nama suaminya, karena sudah tidak bisa menahan diri.
"Ya sayang, ya..." Jongin membalas erangan Kyungsoo dengan suara parau tertahan, ritmenya semakin cepat, semakin tak tertahankan membuat Kyungsoo tidak mampu lagi, sehingga akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh arus deras kenikmatan yang memenuhi seluruh sarafnya. Jongin mengerang di sana dan mereka mencapai orgasme bersamaan.
.
.
.
"Apakah dengan begini kau yakin bahwa aku mencintaimu?" Mereka masih berbaring telanjang dan puas di atas ranjang. Kyungsoo meringkuk membelakangi Jongin dan Jongin memeluknya dengan posesif dari belakang, kaki mereka saling bertautan. Kulit mereka saling menghangatkan.
"Tanpa sekspun aku yakin bahwa kau mencintaiku." Kyungsoo menjawab pelan, setengah mengantuk.
Sesaat hening, dan Kyungsoo merasakan jantung Jongin berdebar, lelaki itu menghela napas sebelum bertanya.
"Apakah... apakah kau juga mencintaiku, Kyungsoo?"
Kyungsoo tertegun dengan pertanyaan itu. Jauh di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya.
Ya. Dia mencintai Jongin, dia sangat mencintai suaminya ini. Dan Jongin sudah berkali-kali menyatakan mencintai Kyungsoo. Amat sangat tidak adil kalau Kyungsoo tidak mau mengungkapkan perasaannya kepada suaminya. Mungkin inilah saat yang tepat...
"Ya..." Kyungsoo menjawab pelan, jantungnya berdebar, "Ya... Aku juga mencintaimu, Jongin..."
Jongin mendesah pelan, menyebut nama Kyungsoo dengan khidmad, "Kyungsooo..." Lalu lelaki itu memalingkan muka Kyungsoo supaya menoleh menghadapnya, dan menciumnya dengan sangat bergairah.
Kyungsoo merasakan kejantanan Jongin mengeras lagi di sana, menyentuh bagian belakang tubuhnya. Jemari lelaki itu sudah menangkup payudaranya dan memainkannya dengan lembut, menggoda putingnya, merayunya, jemarinya lalu turun dan memainkan titik sensitive di pusat kewanitaan Kyungsoo, dengan lembut dan menggoda.
Kyungsoo mendesah dan mencoba membalikkan tubuhnya, tetapi Jongin menahannya.
"Jangan, kita akan mencoba seperti ini." Dengan lembut Jongin mengangkat sebelah kaki Kyungsoo yang masih berbaring miring membelakanginya, kemudian dari belakang, Jongin menyelipkan kejantanannya yang terasa keras dan panas, memasuki pusat kewanitaan Kyungsoo yang lembut dan basah.
Kyungsoo setengah menjerit merasakan penetrasi Jongin ini. Gaya bercinta Jongin ini membuat titik-titik yang biasanya tidak tersentuh oleh kejantanan Jongin menjadi tersentuh semua, membangunkan sarafnya dan merangsangnya.
Jongin membimbing Kyungsoo supaya mengikuti ritmenya, mereka bergerak dengan lembut, tidak terburu-buru, menikmati setiap detiknya dengan bahagia. Dan kemudian mencapai orgasme bersama.
.
.
.
Suamiku. Kyungsoo menelusurkan jemarinya di alis Jongin, membuat alis itu sedikit berkedut.
Barusan Kyungsoo terbangun dan mendapati Jongin masih tidur pulas di sebelahnya, sesuatu yang jarang terjadi, karena selama ini lelaki itulah yang selalu terjaga sebelum Kyungsoo kemudian menggoda Kyungsoo dengan kecupan-kecupan kecil untuk membangunkannya.
Kyungsoo mengamati wajah kokoh suaminya itu. Darah spanyol sangat kental di sana, menciptakan wajah latin yang khas dengan mata yang dalam dan tajam, dan bibir yang luar biasa menggairahkan. Alis dan rambutnya berwarna gelap.
Suaminya ini luar biasa tampan, bagaikan pangeran dari negeri antah berantah. Dan lelaki ini mencintainya.
Dada Kyungsoo dipenuhi oleh perasaan hangat. Mengingat bagaimana mereka semua bisa mencapai titik saling mencintai di pernikahan ini. Kyungsoo juga mencintai suaminya. Dan dia bertekad. Mulai sekarang, apapun yang terjadi, dia akan mempercayai suaminya. Jongin begitu mencintainya, dan yang pasti tidak akan membohonginya. Kyungsoo percaya itu.
.
.
.
"Jadi dia jatuh dari tangga dan terkilir, lalu kau tidak jadi mengusirnya dan malahan merawatnya?" Minji hampir berteriak di seberang sana. Membuat Jongin sedikit menjauhkan ponselnya.
"Ya, dia setuju untuk pergi dan akan berkemas, ketika kecelakaan itu terjadi."
"Terdengar seperti kesengajaan bagiku." Nada suara Minji tampak mencela, "Apa kau yakin dia sungguhan? Jangan-jangan dia berakting sakit."
"Kakinya benar-benar bengkak dan dokterkulah yang memeriksanya, jadi dia memang benar-benar terkilir." Jongin mendesah, "Walau aku tidak bisa menebak apakah dia sengaja menjatuhkan dirinya atau tidak."
"Mengingat sifat Krystal, dia mungkin saja melakukannya." Minji tampak cemas, "Lalu bagaimana dengan kau dan Kyungsoo?"
Jongin tersenyum mengenang ketika nama Kyungsoo disebut. Kyungsoo, Kyungsoonya. Perempuan itu mengatakan mencintainya, dengan begitu lembut. Do Kyungsoo mencintainya! Oh astaga. Rasanya seperti semua bebannya terlepas dan tubuhnya menjadi ringan. Begini rasanya ternyata ketika mencintai seseorang sepenuh hati, ketika cinta itu terbalas, seluruh tubuhnya terasa melayang.
"Kami bisa menghadapinya." Jongin masih tersenyum ketika berbicara, mengenang percintaan mereka yang panas dan bertubi-tubi setelah pengakuan cinta itu. "Dan dia mengatakan dia mencintaiku."
"OMO?!" Minji tampak tertegun, "Selamat oppa, meskipun aku meragukan ada perempuan yang tahan menolak cintamu kalau kau sudah mengerahkan segala pesonamu." Minji terkekeh, "Kau pasti sangat bahagia."
"Sangat." Jongin tersenyum. "Aku sudah memikirkan cara untuk mengatasi Krystal, kau harus datang ke sini."
"Aku?" Minji mengeluarkan nada memprotes, "Bagaimana mungkin aku bisa kesana? Kau meninggalkan tanggung jawab atas perusahaan di tanganku ketika kau pergi."
"Aku akan memegangnya kembali. Aku akan mengajak Kyungsoo pulang."
"Dan meninggalkan Krsytal di pulau itu sendirian dan sakit?"
Jongin mengangkat bahunya, "Karena itulah kau harus datang kemari, pura-pura mengatakan bahwa ada hal urgent di perusahaan yang harus kau urus. Lalu kau yang tinggal di sini sampai Krsytal pulih, demi kesopanan."
"Aku kau tinggal di pulau itu dengan perempuan jahat seperti dia?" Minji menaikkan nada suaranya, "Kau memang tidak pernah tanggung-tanggung memanfaatkan kasih sayang adikmu, oppa."
Jongin terkekeh, "Suatu saat nanti, kalau kau sedang terlibat masalah cinta yang pelik, aku berjanji akan membantumu sekuat tenaga."
"Aku akan mencari pasangan yang tidak pelik." Sahut Minji segera, lalu mendesah dan menghela napas, "Aku akan berangkat besok."
"Terima kasih Uri Minnie."
.
.
.
Mereka sedang makan malam ketika suara perahu boot terdengar mendekat. Kyungsoo mengernyit, tamu lagi? Diliriknya Jongin, lelaki itu tampak tenang-tenang saja.
Mereka makan malam bertiga, Jongin, Kyungsoo dan Krystal yang sudah mulai bisa berjalan meskipun masih harus mengenakan penyangga badan. Suasana makan malam dingin dan kaku, Krsytal tak banyak bicara seperti biasanya. Meskipun Kyungsoo sempat melihat perempuan itu berkali-kali menyentuh Jongin seolah tanpa sengaja.
Seorang pelayan masuk, mengantarkan tamu yang baru tiba itu,
"Minnie?!" Jongin berseru dan meletakkan makanannya, "Kejutan tak terduga, kenapa kau datang kemari?" lelaki itu berdiri, mengajak Kyungsoo dan memeluk adiknya.
Minji mengibaskan rambutnya yang sedikit berantakan, dia memeluk Kyungsoo dengan hangat, lalu melirik ke arah Krystal sambil lalu dan melangkah duduk di kursi di meja makan itu. Jongin dan Kyungsoo kembali duduk.
Para pelayan dengan sigap langsung mengantarkan hidangan untuk tamu tambahan mereka itu.
Minji melirik ke arah Krsytal dan tersenyum kaku. Mereka memang saling mengenal, tetapi tidak begitu akrab.
"Hai Krsytal, kudengar dari Jongin oppa kau sudah di sini beberapa hari dan mengalami kecelakaan, bagaimana kondisi kakimu?"
Krsytal mengangkat alisnya dan tersenyum manis, "Masih sakit dan bengkak, aku tidak bisa berjalan kalau tidak pakai penyangga."
"Wah sepertinya penyembuhanmu akan memerlukan waktu lama." Minji sekuat tenaga menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.
Krsytal mengangguk, melirik Jongin, seolah ingin menebak apa rencanya Jongin dengan kedatangan Minji yang mendadak ini. Apakah Jongin menyuruh Minji datang untuk melindungi Kyungsoo dari serangannya?
"Ya. Kakiku sepertinya memerlukan waktu lama untuk sembuh." Krystal menyentuh lengan Jongin dengan lembut dan tersenyum penuh arti, "Maaf Jongin, sepertinya aku harus berada di rumah ini lebih lama, aku tidak bisa kemana-mana."
"Tidak masalah." Jongin menjawab datar.
Kyungsoo yang sedang mengamati Jongin mengernyitkan alisnya, Jongin tampak berusaha sekuat tenaga untuk fokus kepada makanannya dan menahan diri untuk tidak tertawa. Kenapa suaminya tampak begitu geli? Apa yang ada di dalam benaknya?
Minji sendiri tampak menahan senyum, dia menyendok satu suap penuh sup krim asparagus kental dengan kepiting di dalamnya, dan memutar bola matanya senang.
"Wow, masakan Alfred yang luar biasa. Aku merindukannya, kurasa ini sepadan dengan tinggal di sini beberapa lama sementara Oppa pergi."
"Apa maksudmu?" Krsytal langsung menyela, merasa waspada.
Minji melirik Krystal tidak peduli, lalu menatap Jongin.
"Oh aku belum mengatakan maksud kedatanganku kepada kalian ya? Oppa, aku mengalami masalah dengan negosiasi dengan pihak Jepang. Mereka tidak percaya kepadaku, dan ingin pelaksanaan nego diwakili oleh kau langsung."
Minji menghela napas panjang, "Itu tender yang yang besar dan mereka menahannya sampai kau pulang. Kita akan rugi besar kalau sampai proyek itu tertahan lama, karena itu dengan baik hati, aku menawarkan diri untuk menggantikanmu menjadi tuan rumah di rumah ini untuk tamu kita."
Minji melirik Krystal dengan sinis. "Sementara kau dan Kyungsoo pulang untuk mengurus tender itu."
"Apa?" Krystal hampir menjerit, lupa akan sikap datar dan menahan diri yang dipertahankannya, "Tidak! Kau tidak bisa melakukannya kan Jongin? Kau tega meninggalkan aku yang sedang sakit sendirian di sini?"
Minji mengedipkan matanya nakal kepada Krsytal, "Kau kan tidak sendirian, ada aku di sini menemanimu."
Krsytal melirik Minji dengan marah, lalu mengalihkan pandangannya kepada Jongin, "Jongin... aku ... "
"Aku terpaksa harus pergi Krsytal. Dan sementara kau masih sakit. Minnie akan menunggu di sini, memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi dan kau baik-baik saja."
"Aku...aku akan ikut pulang denganmu...aku sudah merasa agak baikan..."
"Tadi kau bilang kau tidak bisa kemana-mana dan harus tinggal lama di sini." Minji menyela gemas, "Sudahlah Krys, kau tinggal di sini denganku. Para pelayan dan aku akan memastikan kau pulih dengan baik sebelum pergi dari sini."
"Minnie benar." Jongin melanjutkan sebelum Krystal sempat membantah, "Aku dan Kyungsoo akan berkemas untuk pergi nanti malam. Maafkan aku atas keadaan ini. Semoga kau lekas sembuh dan sehat kembali."
Dan pembicaraanpun ditutup. Kali ini Kyungsoo yang menelusuri piringnya dengan sikap geli. Mendadak dia mengerti kenapa Jongin tadi sepertinya menahan tawa. Lelaki itu sengaja, dia sudah merencanakan semua ini bersama Minji. Membuat Krystal tidak dapat berkutik lagi.
.
.
.
Mereka meninggalkan pulau itu siang harinya, dan setelah mendarat di pulau dewa, mereka melanjutkan dengan pesawat untuk pulang.
"Kau pasti senang." Jongin menggenggam tangan Kyungsoo yang duduk disebelahnya, tersenyum jahil.
Kyungsoo menatap Jongin dan tertawa, "Kau sangat licik Kim Jongin."
Jongin ikut tertawa bersama Kyungsoo dan mengecup dahi Kyungsoo dengan sayang.
.
.
.
Mereka mendarat di bandara dan langsung dijemput oleh supir pribadi Jongin. Tengah malam mereka baru tiba di rumah Jongin. Rumah itu masih sama, seindah ingatan Kyungsoo dulu ketika pertama kemari di pesta itu. Pesta yang menghasilkan sebuah insiden yang mendorong Kyungsoo dan Jongin akhirnya bersatu ke dalam pernikahan.
Mungkin sekarang Kyungsoo akan mensyukuri insiden itu. Karena sekarang dia menemukan kebahagiaan bersama suaminya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menatap Jongin dengan serius.
"Malam itu malam setelah pernikahan kita adalah malam pertama kita. Aku tahu karena rasanya sakit."
Jongin tersenyum lembut, "Aku juga tahu karena aku harus menembus penghalang yang kuat, sebelum bisa memasukimu."
Pipi Kyungsoo memerah mendengar kata-kata vulgar Jongin yang diucapkan dengan santai.
"Kalau malam itu adalah malam pertama kita, berarti waktu itu kita tidak berbuat apa-apa di sini."
Jongin mengangkat bahu, "Aku memang tidak ingat. Tetapi mungkin kita hanya mabuk dan tertidur di ranjangku."
"Tetapi waktu itu kita telanjang bulat." Kyungsoo mengerutkan dahinya.
Jongin tertawa, "Mungkin kita bercumbu sedikit lalu tertidur." Ingatannya melayang kepada Kyungsoo yang meninggalkannnya tidur ketika dia mencumbunya waktu itu. Yah setidaknya Jongin tidak sepenuhnya berbohong.
"Padahal kejadian itu adalah alasan kita menikah." Kyungsoo menghela napas, "Kalau kau tahu kita tidak berbuat apa-apa, kau bisa tidak menikahiku."
"Hei aku tidak peduli apa alasan yang mendorongku menikahimu. Kalau bukan karena isiden di malam itu, kurasa aku akan menemui cara untuk menikahimu pada akhirnya."
Jongin mendekap Kyungsoo ke dapam pelukannya, "Dan aku selalu mensyukuri karena aku menikahimu. Kau adalah sumber kebahagiaanku Kyungsoo."
Kyungsoo membalas pelukan Jongin sambil tertawa, "Kau juga Jongin, Aku mencintaimu dan aku mempercayaimu sepenuh hati."
.
.
.
Bagaimana kalau kepercayaan Kyungsoo tiba-tiba dihancurkan olehnya?
Jongin terbangun di tengah malam. Karena mimpi buruk yang menghantuinya. Mimpi itu datang lagi. Kecelakaan itu. Lalu anak perempuan yang mengusirnya dari rumahnya dengan tatapan mata penuh kebencian. Kebencian yang menghujam dan masih tetap membuat jantung Jongin berdenyut perih sampai sekarang. Dan kemudian mimpi itu berlanjut dengan dia kehilangan Kyungsoo. Kyungsoo hilang begitu saja dan dia tidak dapat menemukannya di mana-mana.
Membuatnya menggila, membuatnya seperti ingin mati saja.
Napasnya sedikit terengah dan dadanya terasa sesak oleh mimpi yang menakutkan itu. Dengan lembut diliriknya perempuan yang terbaring manis di sebelahnya. Kyungsoonya. Isterinya. Yang mencintainya dan mempercayainya... Mempercayainya.. Kyungsoo sangat mempercayainya, dengan tanpa prasangka, perempuan itu meletakkan hatinya di tangan Jongin, pasrah dan percaya kepadanya.
Sementara Jongin membangun sebuah pernikahan yang didasarkan pada kebohongan.
Cintanya kepada Kyungsoo bukanlah suatu kebohongan, dia sungguh-sungguh mencintai Kyungsoo, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kyungsoo adalah sumber kebahagiaannya yang paling dalam, begitupun dia ingin menjadi sesuatu yang sama bagi Kyungsoo. Tetapi semua selain cinta itu adalah sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan yang terjalin dan membentuk dinding rapat yang menutup rahasia masa lalu mereka.
Rahasia itu, rahasia tentang kematian ayah Kyungsoo. Jongin tidak pernah bisa lari dari masa lalunya, dia adalah pembunuh ayah Kyungsoo. Bagaimana dia menjelaskannya kepada isterinya itu, kalau suatu saat Kyungsoo mengetahui kebenarannya? Akankah cinta yang mereka bangun saat ini hancur begitu saja?
Jongin tidak mau kehilangan Kyungsoo, dia akan mati kalau sampai itu terjadi.
.
.
.
"Aku sudah pulang." Kyungsoo menelepon Baekhyun segera keesokan paginya, dia sedang di sendirian karena Jongin sedang bekerja untuk mengurus proyeknya. Minji ternyata tidak berbohong tentang yang satu itu.
Baekhyun memekik senang di seberang sana, "Kau harus datang ke sini."
"Ya aku akan datang ke rumahmu siang ini." Kyungsoo tertawa, dia tadi sudah bilang kepada Jongin akan mengunjungi Baekhyun siang ini, dan Jongin mengizinkannya dengan syarat Kyungsoo harus mau diantar jemput oleh supir pribadinya, dan Kyungsoo tidak keberatan dengan syarat itu.
.
.
.
"Jadi begitu ceritanya." Kyungsoo menyelesaikan ceritanya, dari awal sampai akhir, dari insiden malam pesta itu sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Kyungsoo sedang menggendong puteri kecil Baekhyun yang masih bayi, dia membuai anak perempuan cantik yang sedang terlelap itu dengan penuh kasih sayang.
"Wow sebuah kisah yang tak terduga tapi sangat indah." Mata Baekhyun berbinar-binar. "Dari ceritamu, aku yakin Mr. Kai sangat mencintaimu Kyung. Sudah sekian lama aku menjadi asistennya, dan dia begitu dingin, begitu menutup diri. Aku dulu membayangkannya akan menjadi penyendiri seumur hidupnya, aku tidak menyangka dia akan menikah dan jatuh cinta kepada seseorang." Baekhyun tersenyum lembut, "Aku turut bahagia untuk kalian berdua."
Kyungsoo tersenyum juga, "Yah aku sendiri tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Tetapi aku bahagia." Senyumnya melebar, membuat Baekhyun tertawa.
Tetapi kemudian ekspresi Baekhyun berubah serius, "Kau tidak mencari tahu kabar Taehyun akhir-akhir ini?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Buat apa? Setelah insidennya dengan perempuan bernama Alice di kamar waktu itu, aku sudah melupakannya. Dia tak pantas untuk kupikirkan."
"Kau bilang nama perempuannya Alice?" Baekhyun menyela cepat, rupanya Kyungsoo lupa menyebutkan informasi itu di ceritanya tadi.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, "Ya. Taehyun memanggilnya dengan nama Alice."
"Alice adalah sahabat Mr. Kai, dia juga keturunan Korea-Spanyol, dia juga sahabat Minji. Tetapi dari yang kutahu, Taehyun dulu pernah mengejar Alice dan perempuan itu menolaknya mentah-mentah. Alice sendiri dengan tegas mengatakan bahwa Taehyun bukan tipenya, dan dia tidak tertarik sama sekali dengan Taehyun."
Kyungsoo termenung. Dari kenangannya waktu itu, mengingat begitu bergairahnya Alice mencumbu Taehyun di kamar, tidak kelihatan kalau Alice tidak tertarik kepada Taehyun, perempuan itu malahan tampak bersemangat dan menggoda.
"Mungkin mereka berdua sedang mabuk malam itu."
"Mungkin juga." Baekhyun menimpali, "Tetapi Taehyun jadi berubah sejak dia kau tinggalkan. Dia tidak ceria lagi, menjadi pemarah dan pemurung. Terakhir dia selalu mencari-cari informasi tentangmu. Kapan kau pulang dan sebagainya. Bahkan dia menelepon ke rumahku."
"Benarkah?" Kyungsoo mengernyit,benarkah Taehyun masih belum menyerah terhadapnya? Bagaimana mungkin? Tetapi kemudian setelah menelaah Kyungsoo menyadari bahwa itu mungkin saja terjadi. Perpisahannya dengan Taehyun waktu itu berakhir buruk, dan penuh permusuhan.
Taehyun mencoba menjelaskan dan Kyungsoo tidak mau mendengarkan, lalu Taehyun mulai menuduh Jongin dan sebagainya. Mungkin sekarang Taehyun tidak terima karena pada akhirnya, Kyungsoo menikah dengan Jongin. Mungkin jika ada kesempatan bertemu nanti, Kyungsoo bisa berbicara dengan Taehyun dari hati ke hati, Mengurai kesalahpahaman di antara mereka dan saling memaafkan.
Ya... mungkin dia akan mencari kesempatan untuk menemui Taehyun.
.
.
.
Presiden sudah pulang. Itulah yang dikatakan para pegawai sejak tadi. Semula Taehyun masih tidak percaya, tetapi kemudian Jongin muncul dan membiarkan beberapa pegawai menyalaminya, memberinya selamat atas pernikahannya dengan Kyungsoo.
Taehyun melihat lelaki itu tertawa ramah, sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya dan menjanjikan acara pesta pernikahan yang mengundang para pegawainya.
Taehyun mendengus kesal. Lelaki itu telah mengatur segalanya seakan-akan dia itu Tuhan. Taehyun telah melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan dia menemukan bahwa semua sisi kehidupan Kyungsoo setelah kematian kedua orangtuanya terkoneksi dengan Jongin.
Jongin yang mengatur segalanya untuk Kyungsoo, dari fasilitas pendidikan, tempat tinggal bahkan pekerjaannya. Kyungsoo diarahkannya ke sini, masuk perusahaannya bagaikan sebuah mangsa tidak berdaya siap disantap untuk kesenangan Jongin. Taehyun menahan kemarahan di dalam dadanya, dia tidak akan membiarkan Jongin berjaya. Kyungsoo harus tahu kalau selama ini dia dibodohi dan dimanfaatkan oleh lelaki yang menjadi pembunuh ayahnya. Jongin telah merencanakan semuanya, dia menjebak Taehyun dan kemudian entah dengan cara apa dia menjebak Kyungsoo untuk menikahinya.
Lelaki itu lelaki sempurna dan yakin bisa mendapatkan apa saja yang dia mau. Taehyun mencibir. Tetapi kali ini, dia akan memastikan Jongin menerima ganjarannya. Dia hanya harus mencari tahu dimana Kyungsoo, dan mengatur pertemuan dengannya. Setelah itu dia akan melemparkan semua bukti yang dimilikinya tentang rahasia gelap yang disimpan Jongin selama ini.
Mata Kyungsoo akan terbuka. Dan Taehyun akan menawarkan diri menjadi penopangnya. Kyungsoo akan kembali ke dalam pelukannya lagi, Taehyun yakin itu. Dan Jongin... seluruh rencana lelaki itu akan hancur. Taehyun tersenyum jahat, membayangkan seluruh rencananya. Jongin akan menyesal telah main-main dengannya.
.
.
.
.
ToBeContinue
