Yo... Frozen Clouds nongol lagi! Maaf lambat update-nya, bagi yang nunggu. Lagi ada beberapa proyek, dan minggu lalu serta sekarang masih dalam minggu ujian.


Bukan Lagi Uzumaki - Chapter 10

Cerita Tentang Gadis Biru dan Hitam! – Part 2 [ The Black Girl ]


Hitam, mempresentasikan ketidakhadiran warna ataupun cahaya dalam ruang yang gelap. Tidak sedikit orang mengasosiasikan warna hitam dengan sesuatu bernilai negatif, bahkan ada yang mengidentikkan warna hitam dengan kejahatan.

Namun dibalik itu semua, hitam justru merupakan warna yang mampu memperlihatkan suatu isarat ketegasan. Hitam juga memiliki sifat kuat, sehingga tidak mudah dikotori atau digantikan oleh lainnya saat tertimpa. Yah, warna hitam adalah warna paling dominan tetapi juga bermakna kegelapan. Warna hitamlah yang mampu menyerap cahaya, tetapi tetap menampakkan keasliannya sekalipun diabaikan maupun disinari.

Tinta hitam mampu memperindah kertas putih yang kosong, sehingga memperkuat kesan yang akan disampaikan. Dalam psikologis, orang mendeskripsikan bahwa hitam memiliki karakteristik penuh misteri, berwibawa, berkelas, konservarif, kegelapan, kukuh dalam pendirian, merupakan seseorang yang lebih senang dengan situasi formal dan terbiasa pada struktur yang kuat.

Semua karakteristik pada bagian psikologis yang dimiliki warna hitam ini sangat kuat tertuju pada salah satu anggota dari Keluarga Klan Shinra. Seorang gadis yang dikenal dengan nama Tsubaki Shinra, gadis yang terlahir dari kalangan Klan Shinra. Klan yang terbilang telah lama menempati Jepang ini, merupakan Klan yang memiliki tugas untuk membasmi/mensucikan roh jahat (evil spirits). Kalangan luas mengenal anggota Klan ini sebagai orang-orang terhormat, tetapi dibalik itu semua, tersenbunyi dari mata publik, Klan ini justru tega mengabaikan, mengacuhkan dan mengucilkan seorang gadis dari anggotanya sendiri hanya karena memiliki perbedaan dengan anggota yang lainnya. Gadis yang dianugerahi Sacred Gear ini, harus menanggung derita batin akibat sesuatu yang berada diluar kendalinya.

"Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" Batin seorang gadis yang berumur tidak lebih dari 14 tahun. Buliran bening dapat terlihat mulai terjatuh membasahi pipi penuh debu gadis kecil itu.

Gadis dengan rambut yang dulunya terlihat begitu indah, berwarna hitam. Kini harus meringkung di sudut bangunan perumahan seorang diri dengan rambut yang nampak acak-acakan. Diselimuti oleh dinginnya angin malam, ditemani oleh sunyinya orang-orang yang ingin mengulurkan pertolongan, dia menyembunyikan dirinya dari kejaran beberapa anggota Keluarga Klannya sendiri. Keluarganya yang dulu dia kenali sebagai keluarga hangat, penuh kebahagian, kini semua nampak dipenuhi oleh orang-orang yang menyerupai monster. Monster yang siap menerkam dan menghabisi anak kecil karena dianggap sebagai aib keluarga akibat berbeda dari lainnnya. Huh, sungguh ironis! Klan yang bertugas untuk mensucikan roh jahat justru tidak bisa membedakan kejahatan yang dilakukan oleh anggota Klan itu sendiri dengan keadaan yang dialami oleh seorang gadis polos yang tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada dirinya.

"Heh, kau di sini rupanya Anak Iblis?" Bentak seorang pemuda yang wajahnya terlihat tidak asing lagi bagi gadis bersurai hitam tadi. "Hei! Aku menemukan persembunyian sang Gadis Aneh!" Pemuda yang memakai kimono biru itu berteriak kearah teman seperjuangnya, mereka sedari tadi telah bersusah payah mencari keberadaan sang Gadis.

"Sial, mereka sudah menemukanku. Apa yang harus aku lakukan?" Gadis itu kini mulai panik, harapannya untuk terlepas dari kejaran anggota keluarganya yang ingin menyiksa dan membunuhnya kini sirna dengan diketahuinya tempat persembunyiannya.

"Benarkah?" Tanya pemuda lain kepada temannya setelah medengar teriakan pemuda sebelumnya. "Baguslah, aku tadi hampir saja memutuskan untuk kembali karena sulitnya menemukan tempat persembunyiannya." Lanjut pemuda itu.

"Apa yang akan kita lakukan padanya Kenjuro?" Tanya pemuda yang memakai kimono biru tadi kepada temannya yang sudah dianggap sebagai ketua digenerasinya pada keluarga Shinra.

"Hem... Kenapa kita tidak memberikan pelajaran kepadanya terlebih dahulu? Aku ingin tahu seberapa kuat Anak Kutukan ini!" Tukas Kenjuro dengan sinisnya. Pemuda ini memiliki tubuh kekar yang terbalut oleh kimono tradisional putih. Rambut jabrik pendek berwarna hitam, dan mata dengan iris biru yang memancarkan kedinginan.

"Apa kau yakin Ken?" Ungkap teman Kenjuro yang lain. "Bukannya Toshiro-sama meminta agar kita segera membawa gadis ini kepadanya, begitu kita menemukannya."

"Paman?" Tsubaki membatin begitu mendengar nama pamannya disebutkan.

"Tch..." Kenjuro berdecih, sambil memandang tajam temannya. "Memangnya masalahnya apa, kalau kita memberi gadis ini sedikit pelajaran? Toh, nantinya kita juga akan menyerahkannya kepada Toshiro-sama." Jelas Kenjuro kepada temannya, dan diikuti seringaian yang mengerikan dari wajahnya. "Jika kau tidak mau, diamlah saja disitu Dan! Aku ingin tahu seberapa kuat gadis yang dikatakan memiliki kutukan dan dianggap aib bagi keluarga kita." Lanjut Kenjuro.

Dan, pemuda yang memakai kimono biru itu hanya diam mengangguk melihat keseriusan yang terpancar dari mata Kenjuro. Dia melihat 2 temannya yang lain juga memiliki pandangan sama dengan sorot mata yang dipancarkan Kenjuro.

"Kenapa kalian melakukan hal ini?" Tsubaki memberanikan diri untuk menyampaikan pertanyaannya. Selama ini yang diketahuinya, semenjak dia memiliki perbedaan dengan anggota Klan yang seumurannya, dia mulai dikucilkan. Tetapi tidak memahami kenapa harus dikucilkan meskipun berbeda, bukannya dia juga anggota dari keluarga Klan Shinra? Dan bukannya keluarga bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan anggota keluarganya?

"Heh... HAHAHAHA..." Kenjuro tertawa lepas begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tsubaki. "Kau tidak mengetahuinya?"

"Heh?" Tsubaki semakin bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan pemuda di depannya.

"Kau memiliki kekuatan yang seharusnya tidak dimiliki oleh anggota Klan kita... Bukan, Klan kami. Kekuatan yang kau miliki hanya dimiliki oleh orang-orang dari pengikut yang kita anggap kotor. Jadi jangan pernah berpikir kalau kami akan menerimamu, selaku orang yang telah mengotori nama Klan! Dan kami di sini memastikan bahwa tidak ada orang luar yang akan mengetahui hal itu." Kenjuro menyeringai sinis begitu menyelesaikan perkataannya.

"Ta-tapi aku sama sekali tidak meminta ini semua terjadi padaku! Aku sendiri bahkan tidak tahu kenapa aku memiliki kekuatan ini." Tukas Tsubaki mencoba menjelaskan kepada Kenjuro dan yang lainnya.

"HAHAHA... siapa yang ingin kau tipu Gadis Kutukan? Kau memiliki kekuatan itu..." Kenjuro bergerak cepat, dan dalam sekejap sudah berada beberapa centimeter di hadapan Tsubaki. "...Dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau menghianati Klan." Dia melepaskan pukulan keras tepat di perut Tsubaki yang masih shok dengan penjelasannya.

"Ugh..." Gadis bersurai hitam itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.

BLAMMM

Tsubaki terlembar dan menghantam dinding bangunan perumahan yang berada di belakangnya.

"Tch... di sini aku berharap bisa merasakan pertarungan hebat, tapi justru dia tumbang hanya dengan satu pukulan." Gumam Kenjuro penuh kekecewaan.

BRAK

Terdengar suara pintu rumah terbuka dengan keras, dan menampakkan pemilik rumah dengan wajah penuh kemarahan. Dia memperhatikan sejenak apa yang ada di halaman rumahnya, empat orang laki-laki yang membawa senjata tajam, seorang gadis yang bersandar di dinding rumahnya dengan tangan memeluk pot bunga. Lalu dia memutuskan untuk meraih sesuatu dari saku celana boxer-nya.

"Halo! Tolong segera hubungkan saya dengan Kepolisian Devisi 1, Bagian Pencurian! Ada 5 orang pencuri di depan rumah saya, mereka sudah menjebol pagar rumah dan bersiap membawa lari pot bersama tanaman bonsai yang berada di halaman rumah saya."

"Uhuk..." Tsubaki terbatuk kembali, pandangannya mulai merabun. Tetapi dia sempat melihat seseorang yang asing baginya, pemuda dengan rambut pirang, dan hanya memakai celana boxer untuk menutupi bagian tubuhnya. Setelah itu, pandangannya mengelap.

~*Bukan Lagi Uzumaki*~


"Tsubaki, kenapa kau mengikutiku? Kau harusnya tetap mengikuti pelajaran di kelas. Aku sendiri sudah cukup untuk mengurus si Dantalion itu... Ugh" Urat-urat tebal muncul di pelipis Sona begitu selesai menyebutkan nama Dantalion.

"Huh?" Tsubaki menatap punggung Raja-nya dengan pandangan kosong. "Apa kau mengatakan sesuatu Kaichou?" Dia mengangkat alisnya sebelah. Sedari tadi dia sama sekali tidak memperhatikan perkataan Raja-nya, dia tengah sibuk mengingat kali pertamanya bertemu dengan Naruto-ny... seniornya.

"Ugh..." Urat-urat tebal yang muncul di pelipis Sona semakin bertambah, lalu melirik Tsubaki dengan tatapan tajam. "Tsubaki, diam!"

Tsubaki langsung menghentikan langkahnya begitu melihat lirikan tajam dari mata Sona. "Y-ya."

Tsubaki melepaskan napas lega begitu melihat Raja-nya melanjutkan jalannya untuk membuka pintu pagar rumah. Mereka harus berjalan melalui halam rumah jika ingin memasuki rumah milik Sona dan Naruto. Hal itu terjadi karena tidak ada yang bisa langsung berteleport (menggunakan sihir perpindahan) masuk kedalam rumah. Naruto telah memasang segel anti sihir disekitar dan dalam rumah, sehingga siapapun yang ingin masuk harus melalui pintu.

"SONA, TUNGGU!" Terdengar suara yang meneriakkan nama Sona dari belakang keduanya.

TWICH

TWICH

Urat-urat tebal yang tadi sudah hilang kini muncul kembali. "Ugh... Kenapa mereka harus mengikutiku kesini? Apa mereka tidak ada urusan lain?" Geram Sona sambil mempercepat langkahnya dan mengindahkan teriakan dari temannya yang berlari menyusulnya.

Tsubaki hanya bisa memperbaiki letak kacamatanya begitu melihat Sona yang masih begitu marah dengan Naruto. "Aku harap nanti kau baik-baik saja setelah menerima hukuman dari Kaichou, Naruto-kun." Batin Tsubaki sambil berjalan kembali mengikuti Raja-nya.

Tsubaki tidak ingin melihat seorang yang pernah menyelamatkannya berada dalam keadaan bahaya. Tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena baik Raja-nya maupun Naruto sama-sama salah. Tsubaki telah lama mengagumi Naruto, yah... semenjak dirinya diselamatkan oleh lelaki penggila ramen itu. Tetapi beberapa bulan terakhir, dia merasa ada yang aneh pada dirinya saat melihat interaksi penuh keakraban antara Sona dan Naruto. Yah, aneh!

~*Bukan Lagi Uzumaki*~


-Beberapa saat sebelum kedatangan Sona-

Xenovia kini terlihat tengah menyusuri trotoar jalanan Kota Kuoh, dia baru saja kembali dari bandara. Dia sempat mengantarkan Irina ke bandara, temannya yang satu itu langsung beranjak mengemasi semua barang-barangnya begitu mendengar keputusan Xenovia untuk meninggalkan pihak Geraja. Xenovia kini hanya bisa menyembunyikan kesedihannya melihat teman satu-satunya membencinya, tetapi dia juga tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya demi melindungi temannya.

Rencana untuk menyusuri kota terpaksa dibatalkan karena Irina sama sekali tidak tertarik lagi begitu Xenovia menambahkan bahwa dirinya akan meminta Gadis dari Klan Gremory untuk membangkitkannnya menjadi seorang Iblis. Tetapi Xenovia tidak ingin menyembunyikan keputusannya kepada temannya, sekalipun dia tidak menjelaskan keseluruhan ceritanya, terutama tentang kematian Tuhan.

"Huff..." Xenovia melepaskan napas panjang, sambil dengan kelesuan tubuhnya terus menggerakkan kakinya menuju tempat seseorang yang sempat menolongnya. Meskipun dia merupakan gadis yang memiliki harga diri tinggi, tetapi dia juga tahu di mana harus mengucapkan terimakasih setelah menerima pertolongan. "Pirang sialan!" Umpat gadis bersurai biru itu.

Tidak berselang lama, Xenovia sudah berada di depan pintu sebuah rumah mewah. Menurut informasi yang diberikan gadis bernama Himejima, kediaman seseorang yang ingin ditemunya didepan di mana dia berdiri.

TING

TONG

Dia menunggu jawaban dari penghuni rumah setelah menekan tombol bel.

Dia menunggu...

1 menit

2 menit

5 menit

"Apa aku salah rumah ya?" Xenovia mulai ragu.

KRIEK

"Aoi-san, ada yang bisa ku bantu?" Pemilik rumah menyambut Xenovia dengan wajah penuh kemalasan, bahkan matanya terlihat penuh kantuk.

"Aku ingin berbicara denganmu, Naruto-san."

"Heh? Kau sudah melakukannya." Tukas Naruto dengan santai, tetapi dibalas dengan tatapan kosong oleh lawan bicaranya. "Baiklah-baiklah, silahkan masuk dulu!" Lanjut Naruto sambil berjalan masuk dan membimbing tamunya menuju ruang tamu.

Keduanya duduk berlawan arah. Nymph datang membawakan minuman kaleng dingin dan menyuguhkannya pada Xenovia.

"Jadi?" Ucap Naruto membuka kesunyiaan diantara keduanya.

"A... ehm. Mengenai kejadian beberapa malam yang lalu..."

"Untuk apa kau kesini? Bukannya aku tidak suka kau berada di sini, tetapi aku sedang sibuk mengawasi gerak-gerik So-chan. Jadi kalau tidak terlalu penting, kita bisa berbicara sambil menonton." Jelas Naruto.

"Terima kasih..."

"Heh?"

"...Terima kasih telah menolongku di malam itu..."

"Nah, tidak perlu dipikirkan." Naruto mengibaskan tangannya sambil beranjak dari kursi.

"...Jadi, apa yang kau inginkan untuk membalasnya?" Xenovia melihat wajah Naruto dipenuhi kebingungan. "Aku tidak suka berhutang budi. Kau sudah menolongku sebelumnya, jadi sekarang aku ingin membalasnya."

Naruto memandang lucu Xenovia, dia sama sekali tidak berpikir kalau gadis di depannya akan mengatakan hal semacam itu. "Kalau begitu, telanjanglah untukku!"

"Huh?"

"Telanjanglah untukku, aku bisa menggunakan tubuhmu sebagai raferensi untuk buku baruku." Tukas Naruto dengan santai, dan nada penuh canda.

Xenovia memandang tajam Naruto untuk sejenah, lalu berdiri dan tangannya mulai bergerak untuk melepaskan pakaiannya.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto dengan ekspresi wajah penuh ketidakpercayaan.

"Heh? Bukannya ini yang kau inginkan?" Tanya Xenovia dengan mengangkat alisnya sebelah.

"A... secepat itu kau menyetujuinya?" Naruto menutupi wajahnya dengan kedua tangnnya, tetapi matanya masih tetap bisa melihat tubuh Xenovia yang hanya memakai pakaian dalam, karena jari-jari tangannya sama sekali tidak saling berhimpitan.

"Tch... Fishcake Mesum. Mulutnya bilang tidak mau, tapi matanya tidak berkedip." Tukas Nymph dengan nada dingin.

"A-apa yang kau bicarakan Nymph?" Wajah Naruto kini terlihat memerah karena malu begitu mendengar komentar salah satu Familiarnya. "Aku sama sekali tidak melihatnya." Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Xenovia.

"Jadi kau tidak..."

BOMMM

Xenovia tidak bisa menyelesaikan perkataannya begitu melihat pintu rumah Naruto hancur.

Naruto menggunakan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya begitu melihat pintu masuk rumahnya hancur berkeping-keping. Terlihat dua cahaya ungu dari kepulan debu kepingan pintu.

GLUP

Naruto hanya bisa meneguk lidahnya. "Sial!" Umpatnya begitu menyadari siapa yang berada dipintu masuk rumahnya. Dia terlalu sibuk dengan tubuh telanjang Xenovia, sehingga tidak menyadari kedatangan orang yang ingin mengambil nyawanya.

"Ho... jadi kau hanya tertarik dengan gadis berdada semangka! Seperti gadis di belangmu itu?" Sekujur tubuh Naruto tiba-tiba saja merinding, dan entah kenapa dia bisa melihat kedua cahaya ungu tadi semakin terang seiring selesainya perkataan dengan suara berat dari pintu masuk rumah.

"A-u... KYAAA." Teriakan keras terdengar dari kediaman Naruto.


Cerita Berakhir...


Saya usahakan untuk segera meng-update, chapter selanjutnya sudah setengah jadi.

Jangan lupa tinggalkan review!

Frozen Clouds.