"Ne, Shisui-nii." Sang bocah dengan surai raven itu kini sedang memajukan bibirnya sambil menatap Kakak kembarnya bosan. "Shisui-nii!" Merasa tidak ada jawaban, Obito memanggil nama Kakak kembarnya kembali.

Shisui yang sedari tadi di panggil oleh Adik kembarnya, sama sekali tidak menggubris. Matanya masih terfokus pada televisi yang menayangkan acara kartun favorit Shisui, si sponge kotak kuning yang tinggal di rumah nanas dasar laut itu.

Merasa kesal karena sama sekali tidak di pedulikan oleh Kakaknya, Obito mengambil remot televisi yang tergeletak di meja, lalu dengan jahil dia mengganti channel televisi secara acak.

"Hei!" Shisui protes. "Aku sedang menonton, Obito!" Shisui mencoba mengambil kembali remot televisi yang di pegang oleh Obito, namun sepertinya Obito tidak mau Kakak kembarnya itu mendapatkan remot.

"Tidak mau!" Obito memeluk remot itu dengan kedua tangannya, sehingga membuat Shisui kesulitan untuk merebutnya.

"Obito, kembalikan cepat!" Shisui tidak mau kalah. Dia menarik tangan Adiknya untuk mengambil kembali apa yang ia inginkan. "Tangan kamu cepat lepaskan!"

"Tidak mau, tidak mau!" Obito menggeleng keras. Kali ini kakinya ikut berperan, mendorong tubuh Kakaknya menjauh dari dirinya—tentu saja berhasil membuat Shisui mengerang kesakitan dan memundurkan tubuhnya menjauh dari sang Adik. "Shisui-nii gak mau main sama Obito kalau nonton telus!"

Shisui mengerang kesal. "Obito, jangan seperti anak kecil begitu!" Shisui dengan usaha keras kembali mendekati Obito. "Kau main sendiri 'kan bisa. Aku mau menonton, Obito!" Serunya. "Obito, berhenti menendangku. Sakit tahu!"

"TIDAK MAU! OBITO MAU SHISUI-NII—"

'Kau sungguh mencintaiku?'

"—MENCINTAIKU—eh?"

"Heh?"

Si kembar saling menatap bingung satu sama lain. Acara rebut-rebutan remot televisi di tunda sesaat—padahal Shisui sudah berhasil menyentuh remot yang diinginkannya.

Mungkin, karena acara rebutan tadi, tanpa sengaja channel televisi terganti dan volume suara kini menjadi lebih besar, sehingga membuat Obito salah fokus.

"Obito, kau tadi bilang apa?" Shisui tampaknya gagal paham dengan ucapan adiknya yang—agak—aneh. "Maksudnya apa?"

Obito sendiri bingung. Maksudnya tadi, Obito ingin agar Kakak kembarnya itu bermain dengannya di hari libur ini, bukan menonton televisi. Tapi, karena seseorang di televisi itu mengatakan hal itu, jadi Obito tanpa sadar mengikuti. "Maksudnya, Obito mau Niitan main sama Obito." Dengan polosnya, Obito mengerjapkan matanya lucu.

"Hah?" Shisui menjauh sedikit dari Adiknya, menyandarkan tubuhnya di sofa. "Lupakan saja. Gara-gara kamu, aku jadi malas menonton televisi."

"Uh, gomen." Obito memajukkan bibir bawahnya, ia mendekati kakaknya sehingga duduk tidak jauh dari Shisui.

'Tapi, kau tahu sendiri bagaimana aku bukan?'

'Aku sangat tahu! Tidak peduli apapun, aku tetap mencintaimu.'

'Tapi, anak-anakku? Aku sudah memiliki anak. Kau rela menerima mereka?'

'Ya, tentu! Aku juga sangat menyayangi anak-anakmu.'

'Kauyakin?'

'Tentu. Asalkan kau juga mencintaiku, aku tidak keberatan menerima semua dalam dirimu.'

Bola mata Shisui juga Obito terfokus apa yang sedang di tayangkan di televisi. Sayangnya yang kini mereka tonton adalah drama yang memang di khususkan untuk remaja dan orang dewasa. Mereka melihat seorang pria dan wanita di televisi itu kini sedang berpelukan.

"Ini maksudnya apa sih, Shisui-nii?" Obito bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

"Mana aku tahu." Sahut Shisui—juga tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

'Aku mencintaimu. Aku sangat sayang padamu.'

'Aku juga menyayangimu.'

'Bolehkah aku menciummu?'

Sayangnya lagi, yang di tonton kedua bocah ini drama picisan. Tanpa ada orang dewasa di sekitar mereka, tontonan ini sangatlah berbahaya untuk anak kecil. Terutama mereka, anak kecil dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Ih, kenapa dia bibilnya di tempelkan, Shisui-nii?" Obito bertanya dengan nada kaget. Dua pasang onyx itu menatap tontonan yang tidak sepatutnya mereka tonton.

"Kau tidak dengar tadi? Itu namanya mencium, tanda sayang Obito." Shisui menjawab walau matanya masih terfokus pada televisi.

Obito mengernyit, "Touchan sama Nalu-tan juga 'kan pelnah cium kita kalena sayang, tapi bukan tempelin bibil begitu 'kan?"

"Itu karena orang sebesar Tousan dan Naru-chin yang boleh begitu." Jawab Shisui dengan sok tahu—walaupun memang tidak salah. "Kalau kita tidak bisa."

Obito mengangguk seolah mengerti. Tanpa bicara lagi Obito dengan tenang melanjutkan menonton drama itu bersama kakak kembarnya.

'Jadilah Ibu dari anak-anakku.'

"Ne, Shisui-nii." Obito kembali penasaran karena dialog yang baru saja dia dengar. "Shisui-nii!"

Shisui menggeram sambil memukul sofa. "Apa lagi Obito? Kau berisik sekali, menontonlah dengan tenang."

Tidak menggubris Kakak kembarnya yang kesal, Obito malah menarik ujung lengan baju Shisui. "Kalau sudah menempelkan bibil itu, pelempuan disana—" Obito menunjuk layar televisi, "—bisa jadi Mama?"

Shisui menatap Adiknya sesaat. Bingung ingin menjawab apa, karena iya juga sebetulnya tidak mengerti apa-apa. "Iya."—mungkin. Tambahnya dalam hati.

Mata Obito seolah bersinar. "Belalti kalau Touchan begitu ke Nalu-tan, telus Nalu-tan bisa jadi Mama kita?"

"Mana aku tahu." Jawab Shisui langsung. "Tanya saja sama Tousan, bukan padaku."

"Ne, Shisui-nii," Obito makin mendekatkan tubuhnya pada Shisui, naik keatas tubuh Kakak kembarnya. Anak yang enerjik itu mendekatkan wajahnya pada wajah Shisui dengan mata berbinar dan menepuk pipi Kakak kembarnya, membuat Shisui kaget dan mengerang kesal. "Kata Neji Ojiichan 'kan kalau Nalu-tan jadi Mama itu bisa telus sama kita selamanya. Niitan mau 'kan Nalu-tan sama kita telus?"

"Iya, mau." Shisui mendorong wajah Adik kembarnya menjauh. "Sana, jangan dekat-dekat, kau berat tahu."

"Yatta!" Obito berteriak girang. Tanpa mempedulikan Kakaknya yang kesal, Obito menarik tangan Kakak kembarnya. "Ayo sekalang kita bilang sama Touchan."

"Hei—Obito! Pelan-pelan!"

Tidak mendengarkan Kakaknya, Obito terus menarik tangan Shisui untuk ikut berlari bersamanya menuju Ayah mereka yang berada di ruang kerjanya.

"TOUCHAN!" Obito membanting pintu kerja Ayahnya dan berteriak. "Touchan, Touchan!"

Sang Ayah yang terkaget mendengar suara anaknya yang nyaring hampir saja menjatuhkan dokumen yang sedang di pegang olehnya. "Obito, Shisui." Sasuke memanggil nama anaknya dengan setengah terkaget. "Kalian kenapa berlari?"

Obito langsung memeluk Ayahnya, "Touchan, aku dan Shisui-nii ingin tanya sesuatu sama Touchan." Ujar Obito. Sasuke berjongkok berhadapan dengan sang anak dan balas memeluknya, telapak tangan Sasuke berayun memanggil Shisui secara isyarat, otomatis Shisui yang tadi masih tertinggal di belakang kini juga ikut menghampiri sang Ayah dan memeluknya.

Dengan lembut, Sasuke membelai surai kedua puteranya. "Bilang saja kalau begitu." Ujarnya diiringi dengan senyum kecil.

Untuk sesaat, Shisui dan Obito saling berpandangan, setelahnya mereka mengangguk. "Touchan sayang kami tidak?" Tanya Obito sebagai permulaan.

Sasuke menautkan alis mendengar pertanyaan puteranya. "Tentu saja. Tousan sangat sayang pada kalian berdua."

"Lalu, Tousan sayang juga dengan Naru-chin?"

Pertanyaan dari Shisui lah yang membuat Sasuke kaget. "Kenapa kalian bertanya seperti itu?" Entah ajaran dari mana, mereka bisa bertanya seperti itu.

"Tousan jawab saja dulu." Desak Shisui.

Sasuke menelan ludahnya sendiri. "Tentu saja sayang. Naruto 'kan yang menjaga kalian, dia juga baik bukan? Karena dia sayang pada kalian, maka dari itu Tousan juga sayang pada Naruto."

"Bohong!"

Lho? Pria itu menautkan alisnya heran. Sasuke semakin heran ketika kedua anaknya mengatakan jika ia berbohong secara serempak. "Kenapa kalian bilang kalau Tousan berbohong?"

"Tentu saja Touchan bohong." Jawab Obito. "Kalau yang kita lihat di televisi tadi, kalau sayangnya olang dewasa itu dia tempelin bibilnya ke olang yang dia sayang. Tapi, Touchan enggak begitu."

Detik itu juga, Sasuke merasa tubuhnya seperti tersambar petir dan tertimpa beban ratusan ton. "Ka—kalian kenapa bicara seperti itu?" Ayah dari dua anak itu benar-benar terkejut ketika salah satu anaknya dapat berbicara hal seperti itu. Apa kata Obito tadi? Menempelkan bibir—maksudnya berciuman? Sasuke tidak habis pikir bagaimana Obito bisa mengetahui hal macam itu. "Kalian tahu darimana hal itu?" Tanya Sasuke kalap.

"Dari televisi." Jawab Shisui dan Obito bersamaan dengan tanpa berdosa. "Kalau Tousan mau lihat, sepertinya acaranya masih mulai."

Sasuke ingin sekali membenturkan kepalanya pada dinding atau tidak meja kerjanya. Anak-anaknya menonton drama? "Naruto tidak menonton bersama kalian?" Kemana pengasuh Shisui dan Obito itu, sehingga membuat si kembar mononton tayangan yang bukan untuk usia mereka.

"Nalu-tan 'kan ada di dapul Touchan, buat beleskan makan malam tadi." Jawab Obito. Sasuke lupa, bahwa memang kebiasaan Naruto yang akan ada di dapur bersama pelayan yang lain untuk membereskan meja makan seusai mereka semua makan bersama.

Sasuke merutuki dirinya sendiri yang malah datang ke ruang kerjanya setelah makan malam untuk membereskan berkas-berkas yang belum ia selesaikan dan meninggalkan anak-anaknya menonton televisi tanpa pengawasan.

Sasuke menghela nafas untuk menenangkan dirinya, "Shisui, Obito, Tousan beritahu satu hal," Ayah dari Shisui dan Obito itu menatap si kembar serius. "Hal seperti yang kalian lihat di televisi tadi itu, tidak boleh kalian tonton."

"Lho, memangnya kenapa?" Tanya Obito protes.

"Itu hanya boleh di lihat oleh orang sebesar Tousan, atau juga Naruto. Untuk kalian belum boleh." Sasuke berusaha memberikan pengertian pada anak-anaknya. "Okay?"

Shisui dan Obito saling berpandangan, lalu mengangguk. "Okay!"

Sasuke tersenyum, "Pintar." Dengan sayang, telapak tangannya membelai pipi kedua anaknya. "Kalau begitu sekarang Tousan temani kalian menonton saja. Ayo." Sasuke berdiri, kemudian membawa kedua puteranya dalam gendongannya, berjalan menuju ruang keluarga.

"Tousan, kalau Naru-chin, apa dia bisa terus di rumah ini selamanya bersama kita?" Shisui bertanya pada sang Ayah.

Sasuke yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Shisui hampir menghentikkan langkahnya. "Mungkin saja. Jika Naruto mau tinggal disini terus, itu akan lebih bagus."

Sesampainya di ruang keluarga, Sasuke menurunkan Shisui dan Obito dari gendongannya, dan mendudukkan mereka di sofa. Matanya menangkap televisi yang masih menyala dan menayangkan drama yang membuat urat muncul di pelipis Sasuke. Dengan cepat, tangannya meraih remot televisi dan mematikan televisi.

"Yah, kenapa di matikan televisinya Touchan?" Obito protes kepada sang Ayah. Tanpa mempedulikan protes dari anaknya, Sasuke berjalan menuju rak yang ada di ruangan itu, mengambil buku cerita dan puzzle.

"Kalian main puzzle ini saja atau baca buku cerita." Sasuke mendudukkan dirinya di tengan anak-anaknya. "Atau kalian mau Tousan membacakan cerita untuk kalian?"

"Tidak mau." Shisui langsung membantah ide Ayahnya. "Tousan kalau membacakan kami cerita datar sekali."

Obito mengangguk setuju dengan kakaknya, "Benal. Nanti saja bial Nalu-tan yang bacakan celita buat kita."

Rasanya, Sasuke seperti tertusuk benda tajam tepat di dadanya ketika anak-anaknya berkata seperti itu—sakit. "Kalau begitu, kalian bermain puzzle saja, Tousan bantu nanti."

Tidak menyetujui perkataan sang Ayah, Shisui dan Obito malah menyandarkan tubuh mereka pada sang Ayah. "Ne, Touchan. Nanti kalau kita tidul temani ya? Baleng sama Nalu-tan."

Sasuke tersenyum dengan tingkah anak-anaknya yang manja. "Iya." Jawabnya sambil membelai surai Obito.

"Tousan temani saja Obito, kalau aku tidak apa-apa di temani oleh Naru-chin."

"Shisui-nii tidak adil! Obito juga mau di temani sama Nalu-tan."

Sasuke dalam diam memperhatikan anak-anaknya yang beradu mulut tentang di temani Naruto dan juga dirinya saat tidur nanti. Dengan senyum tipis yang kini terukir di bibirnya, Sasuke membelai sayang pucuk kepala putera kembarnya.

Sasuke tahu, Shisui dan Obito sangat menyayangi Naruto yang sudah lumayan lama menjadi pengasuh mereka. Begitupula dengan Sasuke yang juga sudah menyayangi Naruto—dalam artian yang berbeda—Sasuke jatuh cinta pada pemuda pirang itu.

Sasuke juga menyadari bahwa anak-anaknya ingin Naruto tinggal disini seterusnya dengan mereka. Begitupun dengan Sasuke, dia tidak mau Naruto pergi dari rumah ini. Di pikiran Sasuke, ia tahu bahwa suatu saat, entah cepat ataupun lambat, Naruto pasti akan pergi meninggalkan rumah ini. Dia masih muda, tidak mungkin selamanya ia akan menjadi pengasuh dari anak-anaknya, juga Shisui dan Obito nanti yang akan bertambah dewasa dan tidak memerlukan seorang pengasuh lagi.

Jika saat itu tiba, dimana Naruto harus pergi dari rumah ini, yang bisa Sasuke lakukan hanya melepaskan Naruto saja bukan?

Atau setidaknya jika tidak ingin Naruto pergi, Sasuke harus membuat jalan lain agar membuat pemuda itu tetap tinggal. Membuat Naruto terikat dengannya, juga anak-anaknya, sehingga Naruto tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.


.

.

.

Perfect Nanny Candidate

.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pairing:

SasuNaru

WARNING!

Boys Love a.k.a Shonen-Ai! Metrosexual-Naruto, Alternative Universe, typo(s), etc..

So if you don't like, Please Don't Read.

.

.

.

Yukirin

.

Happy Reading ^o^

.

.


.

.

Chapter 10 : The Embrace of Love

.

.


Aku kini berjalan menuju ruang keluarga, tempat dimana—biasanya—si kembar sedang menungguku setelah aku selesai dengan urusan di dapur dengan para pelayan yang lain.

Sedikit merenggangkan bahuku yang kaku, aku masih melanjutkan berjalan. Pekerjaan seperti ini melelahkan sekali. Setelah membereskan bekas makan malam, aku masih harus meladeni si kembar yang nakal itu. Aku merasa beban hidupku ini berat sekali.

Aku terdiam di depan pintu ruang keluarga. Ugh, rasanya aku malas masuk, aku ingin tidur saja, entah kenapa hari ini tubuhku merasa tidak enak. Tapi tentu saja aku tidak boleh begitu. Aku baru boleh tertidur saat Shisui dan Obito telah terlelap—oh, ini kenyataan yang membuatku ingin menangis sambil menjerit.

Saat aku membuka pintu, aku mendapatkan pemandangan yang sangat—err, entahlah, namun pemandangan itu sangat membuatku senang. Shisui dan Obito sedang berada di pangkuan Ayah mereka.

Oh, Sasuke-san, sungguh kau tampan sekali. Tapi aku masih belum bisa percaya jika kau adalah seorang duda dan memiliki anak kembar yang nakal. Aku merasa masih tidak bisa mempercayai itu. Juga tidak ingin mempercayainya, sebetulnya.

"Sumimasen." Ujarku memberi salam. Tadinya mereka yang terlihat sedang asik bercanda satu sama lain kini melihat padaku. "Sasuke-san, aku kira Sasuke-san ada di ruang kerja?" Langkahku membawa untuk mendekati mereka.

"Nalu-tan!" Obito memanggilku dengan nada bersemangat, seperti ada bunga-bunga dalam nadanya—oh, lupakan, bicaraku aneh sekali.

"Duduklah, Naruto." Aku mengangguk mendengar perintah Sasuke, aku mendudukkan tubuhku di karpet. "Bukan disana. Di atas, Naruto." Huh? Sasuke menghela nafasnya, menepuk sofa di sebelahnya.

Sebetulnya aku ragu sih, rasanya tidak sopan sekali jika aku duduk bersampingan dengan Sasuke yang notabene adalah orang yang menggajiku. "Oh, ha'i." Namun, aku menurut saja.

Aku memperhatikan Shisui dan Obito yang ada di pangkuan Ayah mereka. Belakangan ini mereka memang menjadi manja dengan Ayah mereka—ini bukan berarti aku cemburu atau apa. Bagus bukan jika anak dekat dengan orangtua mereka?

Agak aneh sih, biasanya mereka hanya begitu denganku—dulu.

Haah, sudahlah, aku malah terdengar seperti, umm, cemburu? Ah, tidak mungkin. Hanya perasaan alam bawah sadarku yang aneh saja. Sebetulnya aku bersyukur kok.

"Kau—melamun?" Aku terlonjak mendengar suara Sasuke, tangan miliknya melambai di hadapan wajahku. "Ada apa, Naruto?"

"Eh? Ah!" Aku sampai tidak menyadari jika aku terlarut dalam pikiranku sendiri. Mereka menatapku cemas. Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu yang tidak penting, ahaha." Aku tertawa di paksakan.

Aku terkaget ketika merasakan beban pada pahaku. Ternyata Shisui kini duduk di pangkuanku dengan seenaknya saja. "Naru-chin, ayo kita ke kamar. Aku mengantuk."

He? Mengantuk katanya? Aku melihat kearah jam dinding. Pukul delapan lewat dua puluh lima menit. Biasanya Shisui baru mau tidur setelah pukul sembilan malam. "Shisui-chan, kau merasa tidak enak badan?" Tentu saja aku merasa aneh. Habis, ini bukanlah kebiasaan Shisui dan Obito, jika mereka minta tertidur lebih cepat, atau menolak makan—menurut pengalamanku—mereka itu sakit.

"Tidak. Aku cuma ingin tidur saja." Jawabnya sambil menggeleng. Sejujurnya aku masih tidak bisa percaya.

"Kau ingin minum susu dulu sebelum tidur?" Pertanyaanku kembali di jawab gelengan oleh Shisui, aku menghela nafas. Tapi sepertinya Shisui memang tidak sakit. "Ya sudah, aku temani Shisui-chan tidur."

Aku kembali menghela nafas ketika Shisui malah melingkarkan lengannya pada leherku—artinya dia ingin di gendong. Tidak tahu 'kah dia jika dirinya itu berat? Oh, tentu tidak, Shisui tidak pernah menggendong dirinya sendiri.

"Sasuke-san, aku mengantar Shisui ke kamar terlebih dahulu." Berdiri dari dudukku, aku meminta izin pada Sasuke. "Sepertinya Shisui-chan sudah mengantuk."

"Obito juga mau tidul sekalang!" Obito merengek sambil menarik baju Ayahnya. "Touchan, Obito mau tidul. Katanya tadi Touchan juga mau temani Obito tidul 'kan?"

Sebelah alisku terangkat. Wow, Sasuke ingin menemani anak-anaknya tidur. Aku melihat Sasuke yang juga berdiri dari duduknya. "Ayo, Tousan temani kalian tidur."

Sasuke, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Aura dari Sasuke mulai berbeda. Seperti—aura seorang Ayah? Dia 'kan memang seorang Ayah, memiliki dua anak lagi. Aku ini aneh sekali.

"Kau tidak mau mengantar Shisui ke kamar, Naruto?" Woah, aku melamun! Kini Sasuke sudah ada jauh di depanku, sudah di dekat pintu sana. Sadarlah, Namikaze! Aku ini terlalu banyak melamun.

Dengan langkah cepat, aku mengimbangi langkah Sasuke, menuju kamar si kembar untuk menidurkan mereka.

.


.

"Mereka lelap sekali." Bisikku. Setelah membacakan mereka dongeng sebelum tidur—aku di paksa oleh Shisui dan Obito, juga Sasuke yang menjadi provokator—mereka langsung tertidur dengan pulas. Kini aku berdiri di sebelah ranjang Obito. Seperti yang pernah aku bilang dulu, dia ini—dengan berat hati aku katakan—menggemaskan. Jika sedang diam dan tidak nakal.

Di seberang ranjang Obito, tempat dimana Shisui tidur, dia juga sudah terlelap. Sasuke sedang terduduk di pinggir ranjang Shisui dang membenarkan letak selimutnya.

Sial, kenapa aku malah badhump begini? Memang aku ini apa? Karakter wanita dalam Shoujo Manga? Hell no!

"Um, Sasuke-san." Setelah menenangkan diriku yang mendadak aneh, aku memanggil Sasuke pelan. "Mereka sudah tidur. Sasuke-san tidak ingin keluar?" Tanyaku sambil menunjuk pintu.

"Tidak. Aku masih mau menemani mereka sebentar saja." Sasuke tersenyum tipis. Sial! Kenapa dia harus tersenyum sih? Membuat badhump dalam diriku muncul kembali. Oh, tidak, aku aneh! "Jika kau ingin keluar duluan, tidak apa."

Aku menelan ludah. Aku ingin sekali keluar dari kamar si kembar. Berada disini dengan Sasuke aku sudah tidak kuat lagi, sungguh. Sasuke itu aneh, aneh sekali. Aku ingin keluar saja. "Kalau begitu, aku keluar terlebih dahulu, Sasuke-san." Aku membungkukkan tubuhku sesaat.

"Ya." Setelah ada jawaban dari Sasuke, aku langsung melangkah keluar ruangan ini. Sesaat, aku memperhatikan Sasuke yang masih asih mengusap kepala Shisui, sebelum akhirnya aku menutup pintu kamar itu dengan perlahan.

Aku menyandarkan tubuh pada daun pintu, aku menghembuskan nafas perlahan. Telapak tanganku bergerak, berhenti pada dadaku yang terasa aneh. Sudah aku bilang, Sasuke itu berbahaya, dia itu aneh. Jika aku terlalu lama bersamanya, mungkin saja aku bisa terkena serangan jantung.

Lagipula apa itu badhump? Memang aku ini apa? Karakter Shoujo Manga? Atau malah karakter BL Manga? AKU INI BERPIKIR APA?

Tidak ingin berlama berdiam disana, aku melangkahkan kakiku, tapi tidak langsung menuju ke kamarku sih. Aku berjalan ke dapur, aku rasa aku butuh minum untuk menenangkan diriku ini.

Sesampainya di dapur, aku melihat sudah hampir tidak ada orang disana. Ah, aku ingat, Iruka sedang flu, tadi dia di suruh lebih cepat beristirahat. Tapi yang lain kemana? Biasanya Ayame dan Karin juga para pelayan wanita yang lain sedang bergosip.

Aku melihat Shion yang sedang menuang air dingin ke dalam gelas. Hanya Shion, tadi sebelumnya aku melihat Sasame bersama Guren sedang berjalan sambil mengobrol, pasti ke kamar mereka. "Shion, yang lain sudah tertidur semua?"

"Ah, Naruto!" Shion sepertinya terkaget. Aku tertawa meminta maaf. "Semua hanya masuk ke kamar saja, karena Iruka sudah tertidur sih mereka jadi berani. Aku juga ingin masuk."

Aku mengangguk mendengar penjelasan Shion. Setelahnya, gadis itu pamit padaku untuk masuk ke kamarnya. Memang iya, jika Iruka masih belum istirahat atau kembali ke kamarnya, kami semua juga tidak berani masuk ke dalam kamar kami. Kami menghormati Iruka—lagipula, Iruka terkadang kejam dan membuat kami segan. Tapi sebetulnya kami tahu dia itu sangat baik. Dia juga sayang pada keluarga ini.

Aku meneguk air dingin yang aku ambil. Ah, lumayan untuk menenangkan tubuhku yang tadi aneh karena Sasuke.

Mataku mengelilingi tempat ini—dapur dan tempat makan para pelayan. Sepi sekali, karena hanya aku yang ada disini. Setelah ini, aku ingin masuk ke dalam kamarku juga, lumayan bisa tidur lebih cepat. Delapan belas tahun usiaku namun aku menanggung beban berat ini, kasihannya diriku.

Lampu ruangan ini masih menyala, namun lampu ruang makan utama sudah mati. Sungguh, ini membuatku takut! Suasana sepi, penerangan yang minim, membuat aku merasakan sakit di perutku.

Aku memegang gelas dengan kedua tanganku. Gelas ini masih berisi air dingin, membuat tanganku semakin dingin. Oh, ayolah, Naruto. Sekarang kau ini pemuda, delapan belas tahun, aku tidak mungkin 'kan masih takut pada mitos soal hantu? Ahaha, mereka itu tidak ada!—aku rasa.

"Naru—"

"HUWAAA!" Ada yang menepuk pundakku, hantu! Aku langsung menyiramnya dengan air dingin yang aku pegang. "Hantu, hantu, jangan dekati aku, aku mohon pergi, pergi!" Aku memejamkan mataku, terus mengulang kalimat itu seperti mantra. Berharap hantu itu pergi.

"Naruto, hei!"

"Hantu per—eh?" Aku membuka mataku ketika mendengar suara yang sangat aku kenal. "SA—Sasuke-san!"

Oh, tidak. Sasuke yang berdiri di belakangku, wajahnya basah, termasuk rambut juga sedikit pada bajunya. "Sa—Sasuke-san." Aku memanggil namanya lirih. "Kau—basah?"

"Tentu saja aku basah." Aku terlonjak ketika nada suara Sasuke meninggi. "Kau baru saja menyiramku dengan air dingin, Naruto."

Ah, matilah aku. Bahkan untuk menelan ludahku sendiri saja sulit. Dia pasti marah sekali padaku. "Sasuke-san, maaf." Aku mengusap wajah Sasuke yang basah karena tersiram air, dingin sekali wajahnya. "Ayo kita ganti baju, Sasuke-san!"

Aku langsung menarik tangan Sasuke keluar dari ruangan ini, niatku langsung membawa Sasuke ke kamarnya untuk berganti baju. Jika terlalu lama menggunakan pakaian basah, Sasuke bisa demam.

"Saa, Sasuke-san, cepat-cepat ganti bajumu." Aku mendorong Sasuke untuk masuk kamarnya. "Tunggu, aku akan mencari handuk untukmu!"

Dengan tergesa, aku mencari letak dimana Sasuke menaruh handuk kecil. Tunggu, tunggu! Biasanya aku tahu dimana tempat handuk itu, kenapa sekarang aku bisa lupa? Aku tidak mungkin lupa, tapi dimana handuknya?

"Naruto." Huh? Aku melihat Sasuke yang memegang kedua pundakku, membuat aku menatap dirinya. "Tenangkan dirimu, tidak perlu panik. Kau seperti orang kerasukan begitu."

"Tapi, aku mencari—itu! Handuk untuk Sasuke-san." Semua karena aku, Sasuke bisa demam.

Sasuke mendorong tubuhku pelan, membuat aku terduduk di pinggir kasurnya. Empuk. "Kau tunggu disini. Aku akan ganti baju." Aku mengangguk menurut. Mataku mengikuti Sasuke yang masuk ke dalam satu ruangan di kamar ini, itu kamar mandi.

Aku menepuk pipiku. Ya, Tuhan, Naruto! Aku ini terlalu berlebihan. Pasti Sasuke merasa kesal dengan sikapku barusan. Aku ini memalukan sekali, sungguh.

Sambil menunggu, telapak tanganku mengusap sprei kasur kingsize yang aku duduki. Dingin, mungkin karena hawa dari pendingin udara yang di nyalakan. Disini tempat Sasuke tidur 'kan? Disini terlalu besar, dan juga ini harumnya seperti Sasuke—aku ini berpikir apa sih?

Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Mataku terbelalak ketika melihat Sasuke keluar dari kamar mandi. "Sa—Sasuke-san?"

"Hn?" Sasuke malah dengan santainya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang melingkari lehernya. Aku menelan ludah sulit. "Ada masalah?"

Aku menggigit bibir bawahku, "Ti—tidak, sih." Memang tidak ada masalah.

Hanya saja masalahnya itu, "Sasuke-san tidak pakai baju?" Tanyaku gugup. Sasuke tidak menggunakan apa-apa untuk menutupi bagian atasnya.

"Oh." Aku melihat Sasuke yang wajahnya tampak santai-santai saja. "Aku lupa mengambil baju."

Wajahku memanas entah mengapa. Padahal aku juga masih bisa merasakan udara dari Air Conditioner yang menerpa kulitku.

Sasuke berjalan menuju lemari besar yang ada di sudut seberang ruangan. Butuh waktu yang tidak lama untuknya mencari baju untuk di pakainya. V-neck sweater berwarna hitam yang terlihat pas dengan tubuhnya—aku ini berpikir apa lagi sih?

Aku menahan nafas ketika Sasuke berjalan mendekat kearahku yang masih setia duduk di pinggir kasurnya. Dia mendudukkan diri di sebelah kananku. "Hah, dingin sekali."

Benarkah? Sasuke mungkin bilang bahwa hawanya dingin, namun yang aku rasakan disini sangat panas. Sungguh, atau aku yang sakit?

Aku memperhatikan Sasuke yang mengambil remot pendingin udara, menekan tombol untuk menaikkan suhu—menjadi lebih hangat.

"Anou, Sasuke-san." Aku memanggil Sasuke lirih. "Soal yang tadi, maafkan aku." Aku menundukkan wajahku merasa bersalah.

Sesuatu yang hangat aku rasakan di kepalaku. Dengan sudut mataku, aku melihat Sasuke yang tersenyum—sangat tipis—dan juga mengacak rambutku. "Tidak masalah." Aku tersenyum lega mendengar Sasuke berkata begitu. "Paling, aku bisa sedikit terkena demam. Itu karena kau. Jadi, kau harus bertanggung jawab."

Senyumku langsung lenyap begitu saja. "Sasuke-san." Aku memanggilnya dengan nada memelas. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyiram Sasuke-san dengan air. Aku kira tadi Sasuke-san itu—hantu." Jujurku.

Uh, memalukan sekali, sungguh. Aku menyiramnya hanya karena mengira dia itu hantu. "Jadi, aku mohon maafkan aku."Aku kembali meminta maaf, setulus hatiku.

"Dobe." Eh? Aku terbelalak melihat Sasuke yang terkekeh. "Tidak perlu serius seperti itu, aku hanya bercanda. Wajahmu konyol sekali." Setelahnya, tawa Sasuke meledak.

EH? DIA MEMPERMAINKANKU? Teme! "Jangan panggil aku seperti itu!" Protesku. "Sasuke-san, itu tidak lucu. Aku khawatir kalau kau demam!" Tidak terima di bohongi, aku mencubit lengan Sasuke.

"Ahaha, salahkan wajahmu yang terlihat konyol—aduh! Usurotonkachi, sakit. Hei, hentikan!" Tidak menghentikannya, aku terus mencubiti Sasuke—tidak keras kok. Sasuke terus menjauhkan dirinya dariku, sementara aku terus berusaha mencubitinya. "Naruto, hei, hentikan—ouch!"

"Sasuke-san, membuat orang khawatir adalah suatu yang tidak baik." Tanpa peduli Sasuke yang malah terlihat seperti kegelian bukan kesakitan, aku masih melanjutkan aksiku.

"Hei—sudah Naruto." Dengan ucapannya barusan, dan tawa Sasuke yang terhenti, aku juga menghentikan gerakanku. Semua terasa terhenti saat itu, dimana tanganku juga terkunci oleh Sasuke.

Aku berada di di bawah Sasuke. Huh?

"Eh?" Tapi, bagaimana bisa? Oh, Sasuke mengunci tanganku dan membuatku berbalik hingga berada di bawahnya kini. Wow, Sasuke hebat sekali. Mungkin dia ahli bela diri?

"Bukankah seharusnya kita tidak berisik." Aku merasakan bulu kudukku berdiri ketika Sasuke berbisik tepat di telingaku. "Kita bisa membangunkan Shisui dan Obito."

Ugh, aku tidak tahan. Dengan posisi begini, membuat dadaku sesak. "Sasuke-san yang memulai duluan." Jawabku lirih. "Tolong, jangan membuat suara seperti itu di telingaku, Sasuke-san." Suaranya yang berat, berbisik di telingaku, membuat aku sesak nafas.

"Hn, kenapa?" Sasuke malah mengulanginya kembali. Hembusan nafasnya menerpa tengkukku, suaranya yang rendah, membuat aku menahan nafasku. "Kau tidak menyukainya?" Kali ini, wajahnya tepat berada di atas wajahku, hidung kami nyaris bersentuhan. Sebelah tangannya terulur untuk menangkup pipiku.

Aku sudah tidak bisa bicara apapun lagi. Dadaku berdetak terlalu keras, nafasku tidak teratur. Aku tidak tahu apa tujuan Sasuke. Sasuke yang ada di atas tubuhku kini menenggelamkan wajahnya pada tengkukku. Tunggu dulu!

"Sa—Sasuke-san?" Aku mulai membuka suara. Tanganku mencoba menyentuh wajahnya. Suhu tubuh Sasuke naik dari sebelumnya. "Tubuhmu panas!"

"Aku baik-baik saja, Dobe." Tidak, dia tidak baik-baik saja. Aku berusaha mendorong Sasuke yang masih berada di atasku. Percuma, dia terlalu berat. Bukannya menyingkir, Sasuke makin menenggelamkan wajahnya pada tengkukku.

"Sasuke, minggir dulu." Aku mendorong pundaknya. Teme, manusia yang satu ini keras kepala sekali. "Kau demam, Sasuke! Minggir dulu, aku akan mengambilkan obat sebentar."

"Dobe, jangan berisik." Sasuke menyingkirkan tubuhnya dari atasku, namun tetap saja, aku tidak dapat bergerak. Sasuke kini berbaring di sebelahku, menghadap padaku. Kedua tangannya seolah mengunci tubuhku, sebelah kakinya juga mengunci kakiku.

Aku jadi seperti guling untuknya.

"Sasuke, kalau tidak di obati sekarang, besok mungkin demamnya semakin parah." Aku mencoba memberi pengertian. Kini, aku merasa seperti menghadapi Shisui dan Obito namun dalam versi dewasa. Dia seperti anak kecil.

Dia semakin membawaku merapat pada tubuhnya. "Aku hanya perlu tidur." Suaranya rendah, matanya terpejam walaupun ia berbicara. "Aku tidak akan sakit. Kau temani aku tidur disini."

Dia menyamankan letak tidurnya. Surai hitam Sasuke menyentuh kulit wajahku. Kelopak mata itu terpejam tanpa beban. "Kau hangat, Naruto." Dia tersenyum, pucuk hidungnya menyentuh pipiku. "Arigatou."

Aku tidak tahu untuk apa Sasuke berterimakasih padaku. Namun yang jelas, aku tidak dapat menenangkan gemuruh di dadaku ini. Wajah tidurnya damai sekali. Aku juga dapat mendengar hembusan nafas Sasuke yang teratur, hangat.

Aku menatap dalam wajahnya. Sasuke sangat dekat, aku sangat dekat dengan Sasuke saat ini. Aroma ini, penuh dengan aroma Sasuke, seperti memenuhi dadaku. Aku menyamankan posisiku, menyandarkan kepalaku dengan kepalanya—membuat kepala kami saling bersandar satu sama lain.

Haah, Sasuke, kau ini betul demam, harusnya aku memberimu obat terlebih dahulu.

Mataku semakin lama semakin berat. Suhu tubuh Sasuke, hembusan nafasnya yang teratur, lengannya yang merangkulku, semuanya membuat aku mengantuk.

Sasuke, menenangkan sekali.


.

.

To be Continued

.

.


Ciaossu~

Semoga chapter ini gak mengecewakan dan gak membingungkan minna-sama *bow*

SPECIAL THANKS FOR

SNlop, kirei- neko, , blair, Guest(1), Akasuna no Akemi, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Kagaari, RisaSano, Ifu Uchiha, hanazawa kay, Cherry blosoom, wildapolaris, rikarika, Dewi15, Guest(2), Yun Ran Livianda, zadita uchiha, saphire always for onyx, kim . ariellink, Arum Junnie, choikim1310, guardian's feel, mifta cinya, Harpaairiry, Aiko Michishige, AprilianyArdeta, yohey57, lisfornar, yami, Ryuusuke583, oka, Jasmine DaisynoYuki, Vianycka Hime, Sayuri, FairyFaith, krisTaoPanda01, intan . pandini85, bubble bunny, Chinatsu Hideaki Fujoshi, sebutsajabegitu, Guest(3), poropororo, Guest(4), Arruka Terlucky-nanodayo, seijuuro mika, efi. astuti. 1, mikamika kaede, cherry, Fuuin SasuNaru, kimjaejoong309, versetta, miss horvilshy, Kucing Gendut, alta0sapphire, Reika Heika, Guest(5), SuzyOnix, B-Rabbit Ai, Guest(6), big bunny, dame dame no ko dame ku chan, Guest(7), ChubbyMinland, kazekageashainuzukaasharoyani, sam hatake ajja, BLUEFIRE0805, Blueonyx Syiie, alysaexostans, R-chan, aicute, istiartika, Guest(8)

Juga buat semua yang sudah menyempatkan baca, fav atau follow fic ini, terimakasih banyak :'3 *bow*

Saya terharu banyak yang respon fic ini walau terkadang lama update OTL

Saya juga gak nyangka fic ini udah 10 chap XD Maaf jika fic ini masih mengecewakan OTL

* Alur fic ini lambat ya?

Saya juga maunya gak begitu, tapi gak sreg rasanya kalau saya cepetin OTL

* Minato sama Kushina gak peduli sama anaknya?

Saya cuma bisa jawab, maybe YES, or maybe NO

* Naruto disini jadi aneh, Sasuke juga OOC?

GOMENASAIII T^T

* Scene SasuNaru sedikit?

Iya. Saya cari timming pas buat mereka *kicked*

* Yang disuka sama Naruto?

Nanti bakal kejawab :)

Itu semua ringkasan dari pertanyaan dalam 10 chapter ini :)

Sekali lagi maaf jika fic ini masih mengecewakan *bow*

Dan scene si kembar itu, gara-gara nulis fic ini saya jadi suka Shisui x Obito OTL

Scene SasuNaru sebagian saya ambil dari salah satu scene dari No. 6.

Ciao~ see you in next chap :)

Semoga tidak mengecewakan *bow*


.

.

Mind to Review?