Kita adalah satu

Satu bayangan, dan satu jiwa

Kau terbagi denganku

Sanggupkah kau membunuh bagian dari dirimu sendiri?


Game of Death: Time is Return

Chap 9: The Real Battle [Part 1]

Disclaimer: Eyeshield 21 from Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Warning: OO, OC, typo. Deskripsi jurus ada di tiap kali setelah mengucapkan. Ada bloody kali ini. Sembarangan menghubungkan tokoh dengan para Phantom. Maaf kalo pembagian jatah tempur ga merata. Ide terbatas, gomen. A/N nyelip.

Don't Like Don't Read

Game of Death: Time is Return | 2010 | M. Gabriella


~00TDG00~

"Kami di sini karena perintah.

Bukan berarti kami adalah budakmu."

~00TDG00~


DARK TOWER 1ST GROUND::

BRAAAK!

"KAKEI!"

"Uagh!"

BUUM!

Begitulah suasana tempat ini. Pertempuran antar pihak yang berlangsung seru. Kenapa seru? Lihatlah, betapa 'hancurnya' tempat ini kini. Dan yang lebih penting, pihak Kyoshin terdesak…

"Shibuya-san, AWAS!" teriak Kakei begitu melihat pedang dari kumpulan daun maple tepat di belakang kepala Maki. Ia segera memeluk Maki sambil ber-sliding cepat di lantai untuk tiarap. Mizumachi sendiri masih berusaha melawan dengan air yang ia keluarkan menggunakan jurus swim andalannya yang tambah kuat dengan Digi Rou.

"Huh, sepertinya kalian lemah, atau memang peringkatku yang terlalu kuat, hmm?" tanya Kaito dengan tampang menerawang sambil memegang dagunya. Berdiri tak jauh dari tiga orang yang ia hadapi. Memandang meremehkan pada orang-orang yang sudah mulai terciprat darah. Namun, dirinya sendiri selalu menghindarkan semua dedaunan yang beterbaran itu dari jurus-jurus mematikan lawan. Seperti tak membiarkan barang sedikitpun dari dedaunan itu merasakan sakit. Aneh.

"Holy Swim!" teriak Mizumachi pada Kaitou. Memunculkan lingkaran suci di atas kepala sang Quatre. Yang tetap tak bergeming tak peduli. Air yang turun dari lingkaran itu datang tiba-tibaseperti tsunami. Datang dan dengan mudah dihindari dengan menyebarnya seluruh bagian tubuh Kaitou yang menjadi dedaunan. Membuat Mizumachi mendecah kesal.

Sementara Maki masih berusaha menyembuhkan Kakei dengan gelembung air di tangannya. Kyoshin kini sudah seperti tim dengan personil pengendali air…

"Sudah kubilang berkali-kali, kalian tak akan melukaiku sama sekali dengan air. Aku dapat menyebar dengan mudah. Huh," ucap Kaitou sambil membenarkan kacamatanya.

"Tapi… Pasti ada cara mengalahkan monster itu…," lirih Kakei pada Maki yang sedang sibuk mengobati Kakei. Di otaknya kini telah terbagi dua. Menyembuhkan Kakei dan menganalisis kelemahan lawan.

"Ya, aku tahu. Rasanya ada yang aneh, Kakei," ucap Maki pada Kakei sambil terus serius berkutat dengan otak analisis cepat miliknya. Sementara Mizumachi masih mengahalangi jurus-jurus yang ditembakkan oleh Kaitou agar tidak mengganggu dua orang yang sedang sibuk di belakang.

"Ngha, Kakei! Cepat kau temukan solusinya! Aku mulai kehabisan tenaga!" teriak Mizumachi sambil terus melancarkan serangan balas pada lawan.

"Shibuya-san, rasanya ada yang aneh dengan gerakannya selama ini," ucap Kakei yang lukany sudah mulai tertutup oleh penyembuhan intensif Maki.

"Ya, aku merasakannya. Yang aneh… Ah! Daun! Kenapa tak terpikir sedari tadi!" ucap Maki tiba-tiba. Ia menjetikkan jarinya begitu ide di kepalanya keluar. Sesaat kemudian, Kakei sudah dapat menggerakkan tubuhnya. Bersamaan dengan Mizumachi yang mendapat ide.

"Kakei, kutahan dia sebentar! Dari analisaku mengenai 'Kakei yang rajin', kau telah menemukan solusinya! Iya, kan?" tanya Mizumachi yang ditanggapi senyum kecil Kakei. Ditanggapi dengan anggukan yang mengiyakan apa yang akan dilakukan Mizumachi kemudian.

"Wave Wall!" teriak Mizumachi. Seketika kemudian, muncul gelombang besar yang menjadi dinding penghalang bagi Kaitou. Yang kembali meremehkannya dan mencoba menerjang.

"Ini terlalu mudah, bukan?" ucap Kaitou meremehkan. Ia segera menerjang dengan mengarahkan tombak dari kumpulan dedaunan coklat itu. Malangnya, seketika, daun itu robek semua. Ternyata dinding itu bukan dinding biasa yang dapat tersentuh dengan mudah. Melainkan ada semacam besi tancap yang menghancurkan jurus lawan.

"Shit!" teriak Kaitou begitu melihat dedaunannya rusak dan koyak. Lalu kemudian, dedaunan yang lumpuh mengeluarkan darah. Mencengangkan trio Kyoshin. Membuat Maki menyeringai.

"Sudah kubilang. Itu anehnya. Aneh dari Quatrevalon. Ia selalu menghindarkan anggota daunnya dari serangan kita. Ternyata itu maksudnya," ucap Maki yang mulai berdiri memikirkan rencana.

"Ngha, aku masih tak mengerti," ucap Mizumachi dengan mulut yang maju ke depan ditambah tangannya yang seenaknya mengorek telinganya. Membuat sudut-sudut kepala Maki mulai berkedut menahan emosi.

"Sabar, Shibuya-san. Mizumachi, maksudnya adalah dedaunan itu saling terhubung dengan lawan kita. Singkatnya, apa yang dirasakan dedaunan itu, dirasakan pula oleh tubuh Kaitou," ucap Kakei panjang lebar. Entah mengerti atau tidak, Mizumachi mengangguk asal. Sebelum dihajar Maki.

"Kalau begitu, kita bisa susun strategi," ucap Maki pada Kakei dan Mizumachi dan member masing-masing instruksi. Sebelum akhirnya dinding Mizumachi jebol karena tak kuat lagi dan rencana mereka dimulai.

"Sekarang!" teriak Kakei dan mereka bertiga pun menyebar. Mengagetkan Kaitou dan membuatnya waspada. Ia tahu, ada yang berbeda dari ketiga lawannya sekarang.

"Anchor Cain!" teriak Kakei dengan tangan yang mengeluarkan rantai jangkar yang menuju ke tubuh Kaitou. Membuat sang musuh menyebarkan seluruh tubuhnya menjadi daun. Ups—itu yang ditunggu Kakei. Rantai itu terus mengejar dedaunan yang menyebar dari Kaitou.

"Wave Wall!" teriak Mizumachi dengan jurus yang sama. Membuat Kaitou gusar dan menutupi kegusarannya dengan teriakan balik.

"Jurus yang sama tak akan mempan!" teriak Kaitou pada Mizumachi. Menutupi kegusarannya.

"Ya. Itu memang tak akan berhasil dua kali. Karena itu hanya untuk umpan," ucap Maki sambil memiringkan badannya dan mengucapkan jurus.

"Needle Water!" teriak Maki dengan menyampingkan badannya dan mengeluarkan jarum-jarum dari tangannya. Oh, itu bukan jarum biasa. Jarum dari gelembung air yang menipis menjadi jarum karena tekanan udara saat dilempar. Dan karena tekanan udara pula, jarum itu terpisah-pisah dan menjadi banyak. Menerjang semua daun maple yang berkeliaran. Untuk kemudian memuncratkan darah.

"GRAAAH!" teriak Kaitou seketika. Daun-daun yang terpisah langsung menyatu menjadi tubuhnya kembali. Memperlihatkan sekujur tubuhnya yang berlumuran darah. Dan berlutut satu kaki menahan sakit.

"Kau kalah. Akuilah. Kau kalah dari kami, para amatir," ucap Kakei dingin dengan mengarahkan tangan kanannya yang rapat. Siap meluncurkan jurus terakhirnya. Jurus yang setajam mata pedang pada tangannya. Level 3 miliknya.

"Heh. Siapa yang bilang aku kalah, hmm?" tanya balik Kaitou yang kemudian mendongak melihat Kakei dari posisi tertunduknya. Memperlihatkan senyum sarkastik. Yang membuat tubuh Maki bergetar sesaat.

"A-ada apa, Shibuya?" tanya Mizumachi melihat Maki yang bergetar hampir jatuh dan disangga Mizumachi.

"Tidak… A-aku tidak ap—" ucap Maki terpotong dengan merosotnya ke bawah yang langsung ditahan Mizumachi. Kakei yang mendengar debum jatuh Maki segera menoleh dan dimanfaatkan oleh Kaitou.

"Shibuya-san!" teriak Kakei dan seketika, tangannya dihempaskan oleh Kaitou ke samping. Quatrevalon itu segera mundur cepat ke belakang.

"Well, well. Kau lengah, manusia," ucap Kaitou membenarkan kacamatanya—yang lebih terlihat seperti mencoba melepasnya ketimbang membenarkan posisinya.

"Ngha, memangnya kau bukan manusia?" tanya Mizumachi spontan. Yang mendapat lirikan tajam Maki yang tengah ia tahan.

"Dulu," ucap Kaitou singkat. Mendapat tolehan Maki seketika. Merrasa ada sesuatu di antara mereka.

"Kau… Ja-jangan-jangan?" tanya Maki terbata-bata. Mencuri perhatian Kakei seketika.

"Ya," ucap singkat Kaitou lagi. Ia melepas kacamata miliknya. Memperjelas mata warna oranye miliknya. Yang mengerjap singkat dan menatap tajam lurus pada sosok di pandangannya.

"Ka-kakak?" tanya Maki terbata dan mendapat tatapan dari Kakei dan Mizumachi yang lagi konek.

"Kau… Shibuya Kanade? Kakak Shibuya-san yang dikabarkan hilang mendadak dua tahun lagi?" tanya Kakei pada sosok di depannya. Yang kemudian membuang muka dan seperti mempertegas hipotesis Kakei.

"Akan kutunjukkan pelepasan kalung Phantom, Maki," ucap Kaitou pada Maki. Menghiraukan pertanyaan Kakei. Lalu kalung berbentuk daun maple milik Kaitou pun bereaksi.

"Digital Release."


DARK TOWER 2ND GROUND::

"Yeah, Julie! Ayo buat bola anginnya!" teriak Kotaro antusias pada Julie yang sedang sibuk-sibuknya membentuk bola dari angin yang dipadatkan untuk ditendang Kotaro... Erh, ya... Begitulah. Susah dijelaskan...

"Compact Wind!" balas Julie. Seketika, muncullah angin di tangan Julie yang segera ia padatkan seperti bola Amerian Football. Kotaro bersiap-siap mengambil posisi.

"Terima kedahsyatan sisirku! *Emm... ==a Lupakan!* Combat Kick!" teriak Kotaro sambil menendang bola padat itu. Seketika, bola itu langsung terbakar api ungu ke arah musuh mereka. Phantom. Sixvalon Phantom.

SET!

"Ah, tak mungkin," ucap Akaba sambil membenarkan kacamatanya dengan mata sedikit membelalak melihat Yuuki dengan mudah menghindarinya.

"Ba-bagaimana bisa?" kejut Julie. Jelas ia terkejut. Kick akurat Kotaro dipatahkan dengan mudah oleh musuh mereka. Namun, yang jadi pertanyaan adalah... Ke mana bola padat itu? Setelah melewati bahu musuh, bola itu hilang. Yang seharusnya dapat menabrak tembok.

"Moving Illutio," ucap Yuuki cepat. Terkesan seperti mengetahui pikiran tiga orang lawannya.

"Kemampuan khusus ahli ilusi Phantom. Kemampuan khususku. Melakukan ilusi ruang dengan gerak. Memindahkan benda yang kuanggap mengancam ke ruang dan waktu khusus," lanjutnya lagi. Membuat Kotaro hanya bisa mangap sejenak. Sedangkan Julie sweatdop dengan keadaan rekannya itu. Bisa dibilang, hanya Akaba yang nyambung.

"Jadi intinya, tiap serangan dapat kau patahkan dengan membuka distorsi ruang itu?" tanya Akaba yang hanya dijawab dengan putaran bola mata lawannya.

"Aku rasa tak perlu dijelaskan. Karena kau mempunyai bakat ilusi. Lawan seimbang. Menarik," ucap Yuuki sambil menampilkan seringai kecil di akhir kalimatnya. Menyentak Akaba.

"Yah, rasanya aku harus mengeluarkan jurus gabunganku dengan Isabel tersayang," ujar Akaba sejenak. Entah berniat melawak, atau memang serius. Menimbulkan kedutan di pelipis salah satu temannya.

"Hei, jangan bilang kau akan bermusik di sini!" omel Kotaro dari belakang. Hanya ditanggapi sejenak.

"Fuh, maaf. Ritme kita tak sama. Dan lagipula seranganmu tak efektif," ucap Akaba lagi sambil menaikkan kacamatanya dan mulai melancarkan serangannya. Membiarkan Julie menahan Kotaro yang mencak-mencak dengan tak elitnya.

"Song of Illutionist," ucap Akaba sambil memetik gitarnya. Memainkan lagu syahdu. Lagu yang mengalir dan melantun dengan irama senada. Menghanyutkan. Menggema di seluruh ruangan. Namun tentu telah diantisipasi agar tak menyerang balik pengguna dan kedua temannya.

SYUT! ZLEP!

Mata Akaba sontak membelalak. Terkejut. Ilusi suara miliknya dengan mudah ditangkis. Lebih tepatnya ditangkap dengan tangan sang musuh dan dibawa ke dunia distorsi ruang. Tempat pembuangan. Menakjubkan.

"Karena sesama pengguna ilusi, itu dapat dengan mudah kutangkis. Namun, tingkat kesulitan jurus itu tinggi. Aku tahu itu. Apalagi bila dibandingkan jurus dari lelaki yang memakai sisir di ujung sana," ucap Yuuki santai namun cukup untuk membuat orang di belakang mengamuk lagi.

"Julie, kuserahkan maniak sisir itu padamu," ujar Akaba pada Julie yang hanya bisa mengangguk ria.

"Terlalu bising," ucap Yuuki pelan. Mengusik Akaba yang terhenyak sesaat saat musuh di depannya mejulurkan telapak tangannya. Telapak yang tergerak seperti menghentikan atau istilahnya menyetop orang-orang.

"Illution Sounatic," ucap Yuuki. Tiba-tiba hening. Ya, hening. Sesaat kemudian, Akaba menyadari sesuatu.

"K-A-U!" teriak Akaba geram pada sosok di depannya. Yang ia anggap telah memasukkan kedua temannya ke dalam ruang distorsi.

"Tenanglah. Aku bukan orang tak beretika. Mereka hanya kuhentikan sejenak. Menghentikan waktu mereka. Bukan membunuh mereka," ujar Yuuki lagi. Meluruskan pandangan Akaba yang salah. Sambil kemudian menyeringai tertahan pada sosok di depannya. Ya. Seringai.

"Tapi bukan berarti kau bisa lolos, sayang," ucap Yuuki lagi. Mengherankan Akaba. Sang musuh segera menutup matanya dan membukanya kembali tepat setelah ia mengambil sesuatu dari lubang distorsi di belakang pundaknya.

"Ba-bagaimana bisa?" tanya Akaba tersentak. Melihat musuh di depannya mengeluarkan kembali serangan miliknya beberapa saat lalu yang tertelan distorsi.

"Ah, iya. Aku lupa. Itu kemampuanku yang lain. Sejujurnya, ruang distorsi tak berarti kegelapan sempurna. Hanya ruang ilusi yang kuciptakan. Dan apa yang masuk ke sana dapat kuambil dan kupergunakan lagi, tuan mata merah," jawab Yuuki pada Akaba. Hanya dalam hitungan seperseribu detik, kini gadis itu sudah ada di belakang Akaba dan bersiap menggunakan jurus yang seharusnya milik Akaba. Tangannya sudah menahan leher Akaba. Sambil mendesiskan kalimat di leher putih Ace Bando Spiders itu.

"Flip Illutionatic," ucap sang Sixvalon pada Akaba. Tepat di telinganya. Menimbulkan rona merah samar di wajah Akaba. Yang segera hilang oleh reflek pemuda itu.

SET!

"Hah... Hah... Hah...," nafas Akaba. Nafasnya menderu cepat dengan tegang dirinya yang hampir menikmati maut. Ketakutan kuat sesaat—yang juga tercampur sedikit desir hatinya.

PLOK! PLOK! PLOK!

Tepuk tangan dari Yuuki menggelegar. Membahana di ruangan yang mendiam sejak Kotaro dan Julie mengalami penghentian waktu. Tepat dengan dilancarkannya tepukan itu, otak Akaba langsung berputar cepat. Walau kemampuan spy miliknya tak sebanding dengan Hiruma, namun ia dapat mencerna sesuatu. Mencerna keadaan. Membentuk rencana.

"Sword Tune," ucap Akaba sambil meletakkan Isabel yang mengambang di depannya. Gitar kesayangannya itu ia raba dari ujung ke ujung dengan tangan kanannya. Bersamaan dengan tiap bagian yang ia raba berubah menjadi pedang.

"Hebat. Tapi kau tak akan menandingiku," ucap Yuuki lagi. Ia segera mempersiapkan ruang distorsi untuk menangkap pedang yang telah Akaba pegang kali ini. Pedang dengan gagang semerah darah dengan aksen berupa senar kuat seruba batu ruby.

Sedetik kemudian, Akaba segera melemparkan pedangnya ke arah Yuuki. Yang entah kesengajaan atau bukan, ia buat langsung melenceng ke arah ruang distorsi. Menimbulkan tatapan mengejek dari Yuuki.

"Bersabarlah, Isabel," lirih Akaba yang bersiap dengan apa yang akan lawannya lancarkan.

"Flip Illutionatic," ujar Yuuki lagi. Yang mulai menyadari keanehan dengan gerak-gerik Akaba kini. Tapi terlambat—seringai Akaba telah keluar.

"Itu yang kuinginkan, loh," ujar Akaba dengan nada menggoda yang sanggup membolakan mata Yuuki. Tapi terlambat—sungguh terlambat.

HUP! SET!

Yuuki salah. Akaba melakukannya dengan sengaja. Agar pedang itu justru dipakai Yuuki. Dan dipegang kembali gagangnya oleh Akaba yang lebih tahu dan lebih dipatuhi oleh pedang itu sendiri. Isabel.

"Ini baru kusebut, Flip Illutionatic," ujar Akaba dengan senyum penuh kemenangan sambil membalik keadaan dengan gagang yang telah terpegang di pertarungan udara mereka.

CRASH!

Darah mengalir. Bukan Akaba. Yuuki. Gadis yang menjuluki dirinya ahli ilusi. Sixvalon Phantom. Tergores pingganggnya. Melahirkan luka lebar dengan darah yang tak henti mengalir.

"Sial," ucap Yuuki. Ia segera menutup lukanya dengan tangan kanannya. Luka di pinggang kirinya. Menggumamkan mantra yang tak terdengar Akaba dan darah itu hilang sekejap. Namun Akaba sadar—ia tak tertipu. Ya, tak tertipu.

"Itu hanya ilusi. Ilusi sejenak sampai batas waktu penggunaan jurus tersebut selesai. Ilusi agar darah itu berhenti hingga waktu yang kau tentukan. Ilusi agar kesakitan itu berhenti sejenak. Ya, bukan," tanya Akaba penuh kemenangan. Oh, belum. Pertempuran belum berakhir. Jam masih bergerak, Akaba.

"Ya," ujar Yuuki dengan senyum termanis dan terlembut yang ia sunggingkan di depan Akaba. Membuat pemuda itu menerima rona merah menjalar di wajahnya sekejap. Hanya sekejap. Yang langsung terganti dengan ekspresi lain.

"Kalau begitu, akan kuhancurkan kau sebelum waktu itu habis," ucap Yuuki lagi dengan pandangan tajam sedingin es. Membuat aura hitam yang memang hanya khusus dimiliki Phantom.

"A-apa ini?" tanya Akaba pada Yuuki yang telah menggenggam ponselnya seraya menekan salah satu sisi kalung bulan sabit perak miliknya. Yang Akaba dapat lihat, kalung itu berkilat. Kilat tajam.

"Inilah pelepasan kalung Phantom. Jangan kau kira kalung ini hanya sekedar dipakai kami saja," ucap Yuuki lagi yang sekarang menunduk. Menggenggam ponsel miliknya sangat-sangat erat. Yang dengan keajaiban, ponsel itu perlahan berubah menjadi pedang panjang yang berwarna perak mengkilap dengan gagang hitam sekelam malam dengan pemisah antara gagang dan tubuh pedang yang berbentuk sabit. Sekaligus mengeluarkan aura hitam menekan sekitar.

Sekejap, insting Akaba mengatakan, semua akan berbalik. Ia segera mengeratkan pegangannya pada pedangnya sendiri. Waspada dan bersiap terhadap segala kemungkinan. Hingga bagian dari tubuhnya sedikit tersentak dengan kalimat yang keluar dari bibir musuhnya.

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM 2ND FLOOR::

"Hahaha! Nikmatilah neraka darah dari indahnya bunga-bunga ini!" teriak pemilik mata biru keunguan yang tengah tertawa dengan begitu bersahabatnya.

SYAT! CRASH!

Lagi. Penyuka ladang bunga matahari ini kembali tertawa riang. Tertawa layaknya anak umur 12 tahun normal. Tertawa lepas. Menikmati sensasi darah yang mencuat dari tubuh wanita di hadapannya dengan gembira. Seolah tanpa beban. Innocent.

"K-ka—u...," rintih Himuro dibalik tubuhnya yang berusaha menghindar dari sayatan tajam berbagai arah. *Lebih lengkapnya, cek bankai Kuchiki Byakuya [Bleach by Tite Kubo]—dilempar Miharu-san yang ngirim OC nya*

Ia bukan tak bisa apa-apa. Himuro kuat. Ya, dia kuat. Itulah alasannya membiarkan tubuhnya tersakiti sejauh ini. Menunggu. Menganalisa. Dan akhirnya membalikkan keadaan. Ia menanti saat tepat mengeluarkan tenaganya—jurus rahasia miliknya. Ia bukanlah tipe gegabah bodoh dan lemah –sesungguhnya—yang asal serang membabi buta...

.

.

"BUNUH MEREKA, MARCO!"

Well, lupakan ini. Ini hanya teriakan senang Gaou yang bersemangat menghajar prajurit bayangan—anak buah Phantom—bersama Marco. Yah, dengan... Err—membabi buta. Setidaknya ia hanya gegabah—mungkin sedikit bodoh—tapi ia tak lemah. Oh, tentu.

Abaikan ini. Biarkan mereka mengurus mangsa mereka. Kembali ke pertarungan utama.

.

.

Dia. Wanita itu. Yang masih berjuang bertahan dalam tegarnya kedua kaki yang ia miliki. Himuro Maruko. Yang tengah mengutak-atik otaknya yang terbiasa dengan rentetan evaluasi video lawan—walau sudah pasti mereka menang—pengecualian pada Deimon Devil Bats.

"Kakak tidak seru, nih. Kenapa tidak menyerang? Sudah pasti kalah, eh?" seringai Miharu pada Himuro. Sedangkan yang ditatap hanya menetap dalam kadar dingin yang terpancang di wajahnya.

"Ya. Untuk apa aku menyerang? Kalau semua bisa kukembalikan," ucap Himuro santai. Hanya dengan mengusap bagian tubuhnya yang tersayat. Dan kembali seperti semula. Tetap putih mulus. Tanpa cacat sehabis bertempur. Mendapat tatapan kelegaan dari balik kaca pemisah ruangan.

"Ke-kekuatan apa itu? Pasti penyembuh. Kenapa, ya, setiap manajer tim selalu punya kekuatan penyembuh?" tanya Miharu berpura-pura bingung dengan wajah ala anak kecil miliknya. Well, Troisvalon itu pun tak salah. Mengingat kedua manajer dari tempat tempur lain juga mengobati rekannnya yang terluka—dengan cara dan kekuatan masing-masing.

"Tapi kalau hanya itu, kau tak akan menang," ucap Miharu sembari tersenyum manis. Namun Himuro tak memperdulikan senyum itu. Tubuhnya sudah kebal. Kebal dari senyum itu. Senyum khas wajah tempur Phantom. Namun, hipotesa cepat yang diambil Miharu menuai sedikit kesalahan. Himuro tersenyum.

"Ya. Tentu. Aku tak mungkin menang bila senjataku hanya penyembuhan. Tapi, sejujurnya ini bukan jurus untuk menyebuhkan," ujar Himuro santai. Rasanya ia sudah mendapat waktunya. Kata kunci pertarungan arena ini.

"Hah?" tanya Miharu bingung—yang tak butuh jawaban sebenarnya. Namun, tetap kata itulah yang ia lontarkan dari mulutnya dengan kepala yang ia miringkan sedikit. *Gak semiring kepala Zommari Lireoux waktu Rescureccion [Bleach by Tite Kubo]*

"Time Turner," ujar Himuro terang-terangan. Dari sisi Himuro, ia melihat gerakan super duper cepat dari benda-benda sekitarnya. Hanya warna-warna yang berganti cepat yang ia lihat. Namun, dari sisi Miharu, ia merasakannya. Merasakan sensasi kekuatan dari tubuhnya bergejolak. Kadang merangsek keluar, kadang menyiksa.

Keadaan berhenti di posisi Himuro. Sama dengan Miharu. Semua normal. Normal ditambah dengan minus darah bercipratan.

"A-apa yang kau lakukan?" sentak Miharu menyaksikan semua seakan tidak terjadi apa-apa. Ia mencerna yang sedang terjadi.

"Hanya bermain. Bermain dengan suara. Tik. Tok. Tik. To~k," ucap gadis berambut pendek ini. Himuro memainkan jari telunjuknya yang bergerak ke kiri dan kanan sangat mengucapkan empat kata terakhir. Mencekat Miharu.

"Kau...," desis Miharu. Entah itu karena ia sudah mengerti kemampuan Himuro atau tidak.

"Kemampuanku sederhana saja. Memutarbalikkan waktu. Hmm... Kemampuan yang mungkin kudapat dari pendalaman masa-masa berhargaku untuk menghargai waktu," jawab Himuro seakan mengerti apa yang akan sang lawan lontarkan.

"Huh, bagus," jawab Miharu pendek. Membuat Himuro menautkan alisnya. Berpikir dan mencerna.

"Dengan ini, aku dapat menunjukkan kebanggan kami, Phantom. Pelepasan kalung Phantom," jawab Miharu sambil tersenyum tanpa beban. Seolah mengatakan dengan ini kemenangan telah ditentukan.

"Silahkan. Dan apa yang akan kau lakukan akan kuputarbalikkan," jawab Himuro singkat. Walau di dalam dirinya, ia telah bersiap. Menyaksikan kalung berbentuk bunga matahari milik Miharu berpendar.

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM'S DOOR::

"Yeah! Aku paling menyukai ada makhluk hidup yang menarik menderita!" teriakan dari Karura menggelegar di pintu masuk istana. Dengan begitu brutalnya, ia menyerang dengan mengerahkan armada dedaunan miliknya.

"Ukh!" rintih Ikkyu yang sedari tadi terus terintimidasi oleh Karura. Entah karena memang ia belum mengerahkan kemampuannya, atau malah ia memang berbeda kekuatan dengan sang lawan.

"Tendo Barrier!" ucap Ikkyu sambil menodongkan telapak tangannya layaknya orang menyetop kendaraan. Mengeluarkan jurus untuk membuat barrier yang mengelilingi dirinya untuk melindungi dirinya dari serangan tsunami dari dedaunan Karura sedemikian rupa.

"Cih, sial! Kau ini tidak seru! Sedari tadi hanya bertahan. Mana offense milikmu?" seru Karura sambil terus meluncurkan sulur dari dedaunan miliknya ke arah Ikkyu. Tanpa ampun. Yang tentunya terus berusaha ditangkis Ikkyu.

"Ah, cerewet! Kau yang tidak berhenti-berhenti menyerang justru membuatku tidak bisa menyerang!" protes Ikkyu dibalik usahanya menangkis serangan bertubi-tubi dari lawan di depannya.

"Heh, protes saja! Kau ini bermulut besar, ya! Ini adalah bentuk eksistensi kami, para Phantom! Hidup kami adalah bertempur! Sudah tidak ada lagi yang dapat kami perjuangkan selain eksistensi kami yang ditemukan dalam bertempur!" bentak Karura balas pada Ikkyu. Mencengangkan mantan receiver Shinryuji Naga itu sejenak.

"Tunggu," jawab Ikkyu sejenak dalam pertempuran gila-gilaan di depan pintu istana yang err—tak dapat dibilang hancur—malah semakin hijau oleh kemampuan Karura. Untuk kali ini, Ikkyu menggunakan tangan kosong dan menahan semua serangan segala sisi dari Karura. Membuat sang Dix membiarkannya bicara.

"Kau bilang, bahwa bertempur adalah eksistensi para Phantom. Jadi sekarang aku mau bertanya, kalian—Phantom—adalah apa?" tanya Ikkyu sambil memandang serius pada Karura yang telah berhenti bermain di udara untuk menyerang Ikkyu.

"Kau mau tahu?" tanya Karura singkat. Membuat Ikkyu tercekat pada perubahan suara sang Phantom peringkat 10. Dari yang tadi sengaja dibuat-buat manis tapi berkesan dingin, menjadi suara aslinya. Berat dan tajam.

"Tu-tunggu! Apa itu? Su-suaramu berubah? Kau ini sebenarnya laki-laki atau perempuan?" tanya Ikkyu dengan wajah yang tak dapat diekspresikan. Namun sayang, tak tahukah ia bahwa kata-katanya barusan dapat membangkitkan amarah Phantom di hadapnnya.

"Wah, wah, wah. Pertanyaan bagus, sayang," ujar Karura dengan senyum termanis miliknya. Membuat Ikkyu bergidik dengan penampilan Karura yang mulai berubah. Dari ujung kakinya, gaunnya bertransformasi menjadi jubah hitam pekat dengan celana pendek selutut hitam disertai jas hitam dibalik kemeja putih miliknya. Sepatu boots hitamnya kini terasa sangat pas dengan penampilannya. Rambut dark blue milik Karura yang sedari tadi berkibar langsung memendek ala anak laki-laki. *Yang mau liat, bayangin aja Ciel Phantomhive pake baju hitam ala Sebastian Michaelis XD [Kuroshitsuji by Yana Toboso]*

"Jadi... Kau adalah anak laki-laki?" tanya Ikkyu takut-takut menyaksikan kekelaman macam ini. Ia yang merupakan ace Shinryuji baru kali ini merasakan ketakutan mendalam. Lebih menusuk daripada di lapangan.

"Kau akan tahu kebih pasti setelah pelepasan kalung Phantom," jawab Karura atas pertanyaan Ikkyu. Mempersingkat pembicaraan konyol menurut sang Dixvalon Phantom.

"Hah?" tanya Ikkyu yang semakin penasaran akan misteri kekuatan Phantom di hadapannya.

"Sebenarnya, waktu pertempuran kita dengan pelepasanku terlalu cepat. Apalagi bila dibandingkan dengan para peringkat di atasku. Walau aku malas mengakuinya. Kau tidak terlalu menarik. Namun karena kau mengucapkan hal menarik padaku, maka aku memutuskan untuk membuat pertempuran ini menarik. Bagaimana?" tanya Karura lagi pada Ikkyu. Tetap dalam sosok lelaki miliknya.

"Kalau begitu, aku juga. Kau semakin kuat di mataku. Sudah lama aku tak merasakan atmosfir ini sejak melawan monyet itu," ucap Ikkyu dengan seringai kecil. Memanaskan suasana.

"Baiklah. Kuberi hadiah kecil bila kau menang. Aku akan menjawab pertanyaanmu mengenai apa kami ini," jawab Karura sambil melipat tangannya di dada. Menunggu jawaban sang lawan.

"Deal," ucap Ikkyu singkat. Semoga saja itu berarti ia telah siap dengan segala kemungkinan.

"Kita lihat, apakah kau mampu bertahan dengan pelepasan kalung Phantom pertama yang akan kau lihat," ucap Karura dengan senyumnya. Mempersiapkan tangannya menggenggam kalung berbentuk sehelai daun miliknya.

GLEK

Sekalipun Ikkyu mengatakan telah siap, ludah yang ia telan menunjukkan jasmaninya mengatakan yang sebaliknya. Namun, rasanya ia akan mengantisipasinya. Bagaimanapun, murid Saikyoudai itu sudah terbiasa dengan arena tempur lapangan.

Namun, matanya tetap tak dapat mempengaruhi keterpanaannya dengan perubahan sosok di hadapannya. Apalagi saat sang musuh telah mengucapkan dua kata perubah. *Tunggu! Kenapa jadi deskripsi pasangan Shou-ai? ==a*

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM 3RD FLOOR::

"Nyam... Nyam... Nyam... Kelihatannya Baby Rura-chan sudah bertransformasi menjadi Hazegawa-kun," ucap Huitvalon yang sedang duduk memakan kripik dari bungkusan yang ia pegang di pipa-pipa atas ruangan yang sedang didiami oleh alumni Ojo White Knights. Lantai tiga istana.

"BAHAHA! Siapa itu Rura-chan dan Hazegawa-kun?" tanya Otawara yang ternyata menanggapi ucapan iseng Seina. Mendapat delikan dari Takami yang seakan berkata kenapa-kamu-malah-berbicara-dengan-musuh yang tentunya tak dihiraukan Otawara. Poor Takami.

"Kalau mau tahu, tanya saja pada teman berkacamatamu. Rasanya dia ingin sekali menjawab," ujar Seina santai pada Otawara. Seakan melemparkan segalanya pada Takami.

"Hmm... Menurut analisaku, yang dimaksud musuh adalah temannya yang bernama Hazegawa Karura sang peringkat sepuluh dari Phantom. Dan peringkat sepuluh itu—"

"Sedang bertarung dengan teman Receivermu dari Shinryuji dalam mode penuh," potong Seina pada ucapan Takami. Membuat yang terpotong ucapannya menaikkan kacamatanya.

"Apa maksudmu dengan mode penuh?" tanya Shin tiba-tiba pada Seina. Mendapat tolehan dari Wakana yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Mendapat putaran bola mata dari Seina.

"Itu artinya Hazegawa-kun sudah melepaskan kekuatan kalungnya. Kalung yang ini, lho!" ucap Seina sembari menunjuk kalung lonceng bening dengan bel yang sedari tadi bergemerincing di dalam.

"Kalung semacam itu ada sepuluh buah dengan kemampuan sama 'kah?" tanya Wakana pada Seina. Khawatir kalau ternyata semakin tinggi peringkat, semakin hebat kemampuannya. Boleh 'kan kita berpikiran seperti itu, eh?

"Tentu saja ada sepuluh untuk masing-masing Phantom. Tapi bentuk liontin masing-masing dan kemampuannya berbeda satu sama lain. Dengan peringkat dan kekuatan yang berbeda pula," jawab Seina seakan mengerti pikiran Wakana. Ia sudah berhenti makan rupanya.

"Lalu, kapan kau akan melepaskan kemampuanmu? Kami sudah siap," ucap Shin pada Karura. Ia segera memperketat sarung tangan amefuto yang biasa ia pakai untuk men-tackle lawan. Diikuti dengan Takami yang menaikkan lagi kacamatanya serta Otawara yang menabuh dadanya. Wakana pun telah terlihat siap.

"Tsk. Kalian terlalu bersemangat, ya? Kalung itu hanya dipakai kami di saat kami benar-benar terdesak dan membutuhkannya. Khusus kasus Rura-chan yang telah berubah menjadi Hazegawa-kun itu karena memang ada yang memancing perubahan wujudnya," jelas Seina panjang lebar pada Shin.

"Kalau begitu, kami akan membuatmu terdesak untuk menggunakannya," ucap Takami pada Seina. Menantang Huitvalon bertempur.

"Ha~h. Kalian tak mengerti. Baru kali ini ada yang menantang pelepasan kalung Phantom secara langsung. Dari sekian banyak lawan kami, malah kami yang dimohon-mohon oleh mereka agar tidak melakukannya," ucap Seina lagi kini sembari melompat turun dari pipa ke lantai. Ke hadapan para pejuang Ojo.

"Kalau begitu, kami juga yang akan menjadi lawan pertama yang mengalahkanmu," tantang Shin lagi. Tak memperdulikan ucapan panjang lebar Seina tadi.

"Huh, seharusnya kalian menjadi lawan Hazegawa-kun saja," ucap Seina lagi sambil mengerucutkan bibir miliknya.

"Kenapa sedari tadi kau mengubah-ngubah nama temanmu itu? Bukankah namanya Hazegawa Karura?" tanya Wakana lagi pada Seina. Rasanya, mereka belum bertempur sama sekali...

"Karena sebelum berubah, wujudnya adalah Rura-chan yang serupa anak perempuan seperti yang kalian lihat. Sedangkan setelah pelepasan, ia bertransformasi ke wujud anak lelaki dengan pakaian abad 18. Makanya aku memanggilnya Hazegawa-kun karena sekali melawannya dalam wujud itu, sang musuh pasti akan dikalahkannya tanpa ampun," ujar Seina lagi pada Wakana. Benar-benar penuh pembicaraan.

"Ikkyu tak mungkin kalah mudah. Karena itu, kami juga akan menyerangmu dan memaksa kondisi pelepasanmu," ujar Shin lagi. Sudah bersiap merapalkan jurusnya.

"Yah, kalau itu mau kalian," ucap Seina lagi. Mengakhiri pembicaraan. Karena sesi pertempuran akan segera dimulai.

"Trident Tackle!" ucap Shin sambil mengeluarkan tombak emas dari tangannya. Dan dengan kecepatannya, ia menerjang ke arah Seina sambil membawa trisula miliknya. Semua menanti dengan waspada, apa reaksi sang musuh.

SET!

Kabut merah tipis secepat kilat menghalau trisula yang dibawa Shin. Dan dengan secepat kilat menghindar dari tombak Shin yang juga bergerak secepat cahaya mengejar Seina.

"Tidak mungkin!" teriak Takami yang mendapat tolehan dari seluruh temannya.

"Sudah tahu 'kan kalau menantangku bukan hal baik?" senyum Seina sinis dan dengan nada menusuk pada tim di depannya.

"Kalau senjatamu adalah kecepatan, aku akan menandingimu," ujar Shin yang mengeratkan lagi sarung tangan Amefuto miliknya. Bersiap layaknya bertarung dengan Sena dahulu.

"Pilihan buruk, sayang. Hmm... Karena aku tak mau kalah dengan Hazegawa-kun, jadi kulawan saja kalian. Tidak menyesal bukan?" tanya Seina dengan wajah imutnya lagi. Tanpa perlu dijawab, rasanya ia sudah tahu arti kesiapan dari lawan-lawannya.

"Ingat, ini tak akan mudah," peringat Seina lagi. Kini dengan tatapan serius miliknya. Bersiap dengan kalung lonceng bening miliknya. Yang bergemerincing sekali begitu kata pelepasan dimulai.

"Digital Release."


SHINRYUJI'S WAY::

DHUAR! DHUAR! DHUAR!

Suasana hutan yang tadinya damai telah hancur oleh amukan Agon dan Usui—walau Agon lebih berperan sebenarnya—hanya dalam tempo setengah jam. Padahal, musuh mereka, sang Phantom nyaris tak melakukan apapun selain menghindar dan melancarkan serangan kecil.

Lalu, apa yang memicu keporak-porandaan ini?

Tanyakan pada Agon. Atau kau bisa melihat kisah berikut.

"Dragon Fire!" teriak Agon lagi yang memunculkan api berbentuk naga dari tangan kanannya. Menerjang tubuh Manda. Walau kau tahu apa yang terjadi

CTIK!

SET!

Ya. Dengan mudah Manda menghindarinya. Ia menjentikkan jari dan menghindari serangan Agon dengan mudah. Masih ingatkah dengan kemampuan telekinesis miliknya?

"Ha~ah. Tak seru. Kau ini banyak omong dan emosi, gimbal," ujar Manda tanpa takut resikonya. Well, ini juga faktor amukan Agon sedari tadi.

"Agon, sudahlah!" perintah Unsui sambil memegang lengan Agon yang bersiap menyerang lagi. Agon memandang tajam ke arah mata saudara kembarnya itu. Beberapa saat kemudian, gerakan sang naga liar berhenti. Unsui berhasilkah? Tapi yang jelas, mereka telah menemukan rencana.

"Oh, berhentilah bisik-bisik. Aku ingin melawan kalian, tahu!" teriak Manda sembari berkacak pinggang dengan tampang gusar.

"Tenanglah. Kau akan menyukainya, gadis kecil!" ujar Agon dengan muka meremehkannya. Membuat inner Manda mencak-mencak dikatai 'gadis kecil'.

TEP!

"Huh?" tanya Manda bingung kala Agon bergerak secepat kilat dengan impuls kecepatan dewa miliknya. Meneriakkan satu jurus.

"Level 1: Dragon Fly!" teriak Agon sembari mengeluarkan naga ungu besar miliknya. Tak dapat dihindari Manda dengan mudah. Tentu. Walau bagaimanapun, ini Level 1 bukan? Bukan hanya jurus biasa.

Terpaksa, Manda mengeluarkan jurus serius miliknya.

"Lightning Red!" teriak Manda sambil memgarahkan tangan kanannya ke atas dan meluncurkan petir dari balik awan. Petir berwarna merah yang menerjang sang naga ungu. Membelitnya sementara. Tapi itu cukup –cukup untuk kombinasi Agon dan Unsui—yang tak disadari sang Phantom.

"Itu yang kuinginkan," seringai Agon kemudian. Menanti. Menunggu langkah selanjutnya.

"Dan itu yang tak kau waspadai, Phantom!" ucap Unsui sambil langsung memasang kuda-kuda layaknya orang bersemedi.

"First Step: One Thousand God's Hand!" teriak Unsui mengusik konsentrasi menahan naga milik Agon. Mengusik dan merusak konsentrasi Manda. Membuatnya terpental jauh akibat serangan seribu tangan Buddha yang menyerangnya.

"Cih!" ucap Manda saat berusaha bangun dari jatuhnya. Bagaimanapun, terpental sejauh itu akibat serangan mematikan sungguh menyusahkan, bukan?

"Dan rasanya inilah saat yang tepat," ujar Manda dengan seringai kecil. Membuat Agon menautkan alisnya. Hal yang jarang ia perbuat.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Unsui lagi. Bingung dengan Manda yang mengarahkan tangan kirinya pada kalung petir merah miliknya.

"Oh, hanya sedikit perbaikan suasana. Dan kalian tentu akan senang," ucap Manda dengan wajah termanis yang ia miliki. Membuat insting berbahaya milik kedua bersaudara di depannya aktif. Mereka tak lagi main-main.

"Apapun itu, kami siap," ujar Unsui mewakili pikiran sang saudara juga. Oh, sabar, Unsui! Ini tak akan mudah!

"Baiklah kalau begitu. Ini akan sedikit menyakitkan," ujar sang Septvalon. Gesturnya memperlihatkan ia menjulurkan lidahnya. Melepas sarung tangan putih miliknya dari tangan kanannya. Melepasnya dengan gigitan. Melemparnya entah ke mana dan menjilati tattoo petir merah di punggung tangannya. (*)

"Huh?" ucap Agon melihat pemandangan menjijikkan baginya. Hal asing bagi dirinya, mungkin?

"Oh-oh. Kau akan suka ini," ujar Manda lagi. Setelah prosesi menjilat miliknya, menggigit pelan tattoo itu seraya berkata kecil, "You'll like this, My Lord.(**)"

Segera setelahnya, muncullah petir merah di sekujur tangannya. Mulai dari pergelangan tangan hingga ke ujung jari. Petir sewarna darah itu membungkus tangan sang peringkat tujuh. Untuk kemudian tangan kirinya menggenggam kalung miliknya. Langkah terakhir.

"Selamat menikmati pelepasan kalung Phantom. Kalian salah kalau aku telah kalah."

Seusai perkataan itu, Manda mengaktifkan kalungnya. Membuat kedua musuh sang Phantom mulai mencerna apa yang terjadi. Lupakah anda pada faktor kepintaran mereka?

Dan setelahnya, apa yang akan diucapkan sang musuh pasti dapat anda tebak.

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM 1ST FLOOR::

"London Bridge is falling down!

Falling down! Falling Down!

London Bridge is falling down!

My Fair Lady!" (***)

BLARR!

"Ugh!" erang Yamato untuk kesekian kalinya. Setiap lagu tadi terlantun dari munuh Neufvalon sang lawan, setiap serangan dari pihaknya dikembalikan dengan berlipat ganda. Seperti tembang mantra.

"Laser Sonic!" ucap Taka sambil berjalan di udara. Memudahkannya menangkap fokus kordinat lawan. Menyerang Kana dengan sia-sia. Tentu sang Phantom mampu menolaknya.

BLAR!

Sekali lagi, serangan itu ditolak. Memang tidak dikembalikan—keadaan khusus bila yang menyerang adalah Taka.

"Kemampuanku bagus, bukan? Kalian tak akan menang bila tak tahu kelemahanku," ucap Kana angkuh dengan dinginnya. Membuat Yamato mendecak kesal.

"Karin-chan, kau telah menemukan kelemahannya?" ujar Yamato sambil mengarahkan serangan-serangan pada Kana yang sukses dihindari oleh Phantom itu. Ralat. Ditambah pengembalian.

"Be-belum, Yamato-kun! Aku masih butuh waktu," ucap Karin di dalam barrier yang dibuat Yamato. Tembok kaisar. Sambil yang berada di dalamnya mengamati serius jalannya pertempuran.

"Karin, ini mendesak! Cepatlah!" ujar Taka lagi sambil terus berusaha menyerang dan menghindar. Ia berpikir juga, namun tak fokus. Siapa yang akan fokus menemukan jejak kecil kelemahan lawan di tengah serangan berwarna-warni berpendar?

"Yah, tak seru, nih! Energiku bisa diisi lagi, padahal kalian tak dapat menguranginya. Jadi, hanya begini kekuatan dari tim Kansai?" tanya Kana dengan ekspresi mencemooh namun tetap stay cool.

"Ah!" ujar Karin pelan. Ia menangkap secuil jejak di perkataan Kana. Anda tahu?

"London Bridge is falling down!

Falling down! Falling down!

London bridge is falling down!

My Fair Lady!"

BLAR!

Lagi. Kana kembali melantunkan lagu tersebut. Yang sialnya telah member Karin ilham. Tahukah anda?

PIP!

Digi Rou milik mantan Eyeshield 21 ini berbunyi. Memunculkan pesan singkat dari Karin. Kalian mau membaca? Tapi sayangnya skenario tak memberi celah bocoran pada kalian. Maaf, ya. Nikmati saja sendiri!

Yamato tersenyum. Puas. Bahkan terkesan menyeringai sambil membalas arigatou pada Karin dengan teriakan. Membuat Taka menoleh puas. It's time for turn back the game!

"Terima kasih atas lagunya, nona," ujar Taka dingin. Mencuri perhatian sang lawan yang mulai menaikkan tingkat siaga miliknya.

"Boleh kuminta besimu, Karin? Aku tahu kemampuan lemparmu sungguh indah," ucap Yamato dengan senyum absolut darinya. Well, percaya diri tepatnya.

"B-baik! Double Flame Sword!" ucap Karin sambil melesatkan dua pedang sepasang dengan api merah dari tangannya. Dilempar dengan tepat tentunya.

Yang tentunya dihindari mudah oleh Kana. Tapi, rasanya trio Teikoku ini punyak rencana lain. Ha~ah, semua pertarungan kali ini selalu dipenuhi trik rahasia, ya? Virus Hiruma sudah tertanam rupanya.

"Coordinate Check Mate!" ujar Taka lagi. Ia mengunci kordinat sang lawan. Dan melancarkan satu panah dengan ujung setajam tukikan elang.

"Cih!" umpat Kana sambil menolak panah yang sangat sulit itu. Panah yang terus menerjang tanpa ampun. Elang memang tajam.

"Aha! Level 2: Offensive Caesar Charge!" ucap Yamato sambil membuat dinding penahan dengan tekanan absolut ke sekeliling jarak pandang Phantom lawannya. Membuatnya tak berkutik sejenak. Melancarkan prosesi eksekusi dari panah Taka yang sukses menubruk tubuh peringkat Sembilan itu.

JLEB!

Sukses. Panah itu sukses mendarat di dada musuh. Coba tebak, apa selanjutnya yang akan terjadi!

"Yeah! Kita berhasil! Terima kasih, Karin-chan!" ujar Yamato dengan senyum absolut miliknya. Meronakan pipi Karin dan membuat Taka memutar bola matanya.

"Kau hebat, Karin. Mengetahui waktu interval jurus dari penolakan serangan lawan kita kali ini," ujar Taka yang membuat Karin salah tingkah karena dipuji.

"Ah, bukan begitu, Taka. Aku hanya mencerna apa yang terjadi. Dengan kebetulan, kok," bantah Karin yang mendapat tawa ringan Yamato.

"Tak ada kebetulan. Hanya pernyataan absolut kemenangan kita," ujar Yamato dengan tegas lagi. Namun terhenti oleh…

"Ckckck. Kau kira semudah itu? Oh, kalian salah besar," ujar Kana yang dengan hebatnya bagkit seperti tak terjadi apa-apa. Melepaskan panah itu dan membuangnya sembarang. Dan lubang yang tercipta akibat tembusan anak panah itu kembali ke semula.

"A-apa?" tanya Karin tak percaya. Salah perhitungankah, mereka?

"Ingat kekuatanku? Menolak serangan. Dan tubuhku sendiri telah mematrinya. Apapun serangan itu, tak menghancurkan tubuhku. Yah, walau kuakui darah yang keluar cukup membuang waktu," ucap Kana enteng. Mencengangkan, pemirsa!

"Tapi kalian tetap harus membayar darah yang keluar," ucap Kana lagi. Membuat Yamato mendecak kesal.

"Kau akan melakukan pelepasan, bukan?" tebak Taka. Mendapat senyum dingin sang lawan. Well, as usual.

Dan kalian dapat menebaknya. Kalung mawar hitam yang terpegang oleh Kana segera ia tekan dengan mengalunkan dua kata.

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM 4TH FLOOR::

"MUKYA!"

"HIEE!"

"Ha?"

"Haa?"

"Haaa?"

"Eh?"

"YA~!"

"Berisik."

Well, terlihat tempat ini masih bersih bersinar, Sun*ight! Tak tampak wujud pertarungan di sini. Mungkin karena Phantom peringkat lima ini sedang malas? Padahal setahu kita, dia cukup brutal seperti Grimmjow Jagerjaques [Bleach by Kubo Tite].

"Apa lihat-lihat? Aku tambah tak mood bila tak ada yang mau menjadi lawanku. Kupilih saja, ya?" ucap Seinji. Membuat satu ruangan melongo kaget. Jadi ini, Kuinvalon Phantom?

"A-apa?" tanya Kurita terbata. Phantom yang aneh.

"Kubakar saja tempat ini," ucap Seinji santai. Mendapat teriakan sama seperti di atas? Ah, author pun ikut malas karena sifat Phantom ini.

"Flame Thrower!" ujar Seinji sambil menjentikkan jari. Membentuk semacam 'alat Hiruma' dari api di tangannya.

Saat akan melancarkan tembakannya, Sena secepat kilat menciptakan perisai menahan Flame Thrower dari Seinji.

"Devil Stun Gun!" Senjata kali ini anda sekalian pun sudah tahu. Hanya diperbesar saja. Ah, author ikut malas, nih!

"Hoo… Bagus-bagus! Aku jadi bersemangat lagi, Eyeshield 21!" ucap Seinji lagi. Moodnya sudah membaik rasanya. Isi semangat author dulu!

"Karena aku sedang malas, bagaimana kalau langsung ke edisi pelepasan?" tawar Seinji sambil menguap. Yah, mengurangi semangat…

"YA~! Seru!" ujar Suzuna yang mendapat pelototan Ha-Ha Bross. Tak bisakah anak ini membaca suasana?

Seinji tak membuang waktu—atau karena ia memang malas—jadi ia segera menekan lambang bintang merah di kalungnya. Dan kalian pun bisa menebak. Maaf atas keterbatasan Seinji yang pemalas ini.

"Digital Release."


CHESS DRAGON HELL KINGDOM 5TH FLOOR::

~Mamori's side~

Pertarungan telah berjalan setengah. Sudah terlalu hancur tempat ini. Well, hancur karena es?

"Blue Crystalization!" ucap Ayukaze sambil membentuk segitiga dari kedua tangannya. Mengeluarkan semacam prisma biru di hadapannya. Membuat Mamori yang sudah mulai mengerti bentuk-bentuk serangan sang lawan berjengit sambil berlari. Atau terbang?

"White Angel!" teriak Mamori dengan memunculkan sayap putih yang ia gunakan untuk terbang pergi di ruangan yang hampir beku ini. Menghindari prisma biru yang terus mengejarnya. Sekali kena, bekulah manajer cantik ini.

Tak perlu banyak omong, kita tengok pertempuran lainnya.

~Hiruma's Side~

"Kau kenapa, Youichi? Tak sanggup melawan mantan kakakmu?" ujar Yuuichi dengan seringai sama persis dengan sang adik. Ha~ah… Keluarga ini…

"Siapa yang takut?" ujar Hiruma. Kepalanya berputar cepat memprediksi keadaan. Yah, serangan-serangan sama persis membuat masalah, bukan?

Mari kita tunggu dan lihat. Akhir dari segala pertempuran ini.


CHESS DRAGON HELL KINGDOM FINAL FLOOR::

"Ini akan semakin menarik. Satan akan menyukai penyerangan ke dunia perantara nanti. Keh… Keh… Keh…,"

~suite~


A/N: (*) terinspirasi dari cara Sebastian Michaelis membuka sarung tangannya di anime Kuroshitsuji.

(**) hasil otak-atik kata-kata Sebastian Michaelis: "Yes, My Lord."

(***) nyanyian Ciel Phantomhive di salah satu FanFict Xover KSJ dengan Naruto.

Dua chapter lagi dan saya tak akan banyak komentar. Maaf atas keterlambatan sangat ini. 22 lembar Word 2007 membuat saya stress. Sekedar info, chapter kali ini kubuat dari Desember dan baru kelas sekarang. Maaf membuat menunggu. 'HIDUP' saya makin sulit. Saya saja mengetik sambil mencari bahan tugas sejarah: Akulturasi budaya Asia Timur. Ada yang mau bantu XD?

.

Saya rasa satu bulan ke depan anda tak akan menemui nama saya di archive Es21I. Kesibukan, bro! Semester 2 ini adalah saat tugas membandel. Akibat waktu libur untuk ujian anak kelas atas, makan tugas dibuat dengan tenggat mepet satu sama lain. Mungkin Fict award Es21 nanti adalah yang terakhir dari saya bulan ini. Gomen. Sebab kalo ga dapat nilai bagus dan juara 1 lagi semester ni, saya harus mengucapkan good bye to FFn. Untung semester 1 target tercapai XD.

.

Promosi: We are A Team. Fict pertama di Fandom Tron Legacy Indonesia. Yang suka dengan film ini dan pernah menontonnya, wajib RnR! XD

Maid-sama Championship Cup. Akan resmi dibuka bulan Februari 2011. Siapkan diri anda, para pecinta Maid-sama! Follow twitter-nya: maidsamaCC!

.

Saya minta banyak review kali ini. Sebelum saya makin stress.

Thanks to: Salmahimahi • Miharu Koyama • undine-yaha • HirumaManda • Iin cka you-nii • SeiNa Hanagata • Yuuki hirumamurata girls • Hiruma youichi • sakura lovers • lovers • riana • Scarlett Yukarin • Ranshez

Yang log-in kubalas via PM. Bagi yang gak:

Yuuki hirumamurata girls: Udah ku-pairin, Yuuki-chan! Ditunggu reviewnya lagi! Akaba emg imut! #plak!

Hiruma youichi: nah, udah berlanjut! Review lagi! #plak!

sakura lovers: nah, ini lanjut! Maaf lama!

Lovers: jangan heboh, mbak! Udah kanjut! #plak!

riana: uwwooo! Jangan bawa golok! Tp, thx en RnR yuk!

.

Brb nonton Ciel in Wonderland di Animax dulu! Demam KSJ! XD

Akhir kata, REVIEW!