Hai minna-san...Nacchan kembali dengan membawa chap 10...hope you like it...

Ryouta: Kenapa lo Nacchan? *bingung+penasaran*

Nacchan: Laper...

Ryouta: *sweatdrop* ya sana lah, cari makan

Nacchan: Kulkasnya kosong *nunjuk kulkas*

Ryouta: *sweatdrop* kalo gitu, nyuri aja deh

Nacchan: Oke, thx atas usulnya! Buka ceritanya, ya~ *langsung kabur*

Ryouta: *sweatdrop* dasar...oke, ini dia minna, Yuuhi wo Miteiru ka?

JKT48: Yuuhi wo Miteiru ka?

Chapter: 10 - We're Ready?

Rated: T

Genre: Adventure/Fantasy/Friendship/Romance sedikit aja/dll.

WARNING(!): OOC, TYPO, GAJE, ABAL, HANCUR BERANTAKAN, DE EL EL.

.

.

Ya, kegiatan rutin member-member JKT48 setiap pagi, latihan dan latihan... (Ryouta: Kalo gak niat nulis, mending nyuri makanan dulu deh sana!|Nacchan: Itu bisa menunggu, dan, lebih baik elo diam dan ngurusin anak didik elo!)

"Hah! Capek!" tutur Shanju.

"Aku juga, Shanju-sama~" tutur Viny.

"Kami juga!" tutur Netha dan Rave ikut-ikutan.

Ke-empatnya tidur-tiduran di atas rumput sambil guling sana-sini.

"Wee...ayo, jangan tiduran disitu! Mandi kita!" panggil Ve.

"Nanti~ Malas~" jawab keempatnya.

Ve memasang wajah datar, "Nat, Vanda, Lia, bantuin sini ngangkat mayat-mayat ini!".

"Wokeh~!" Natalia, Vanda, dan Lia setuju dan langsung nyeret-nyeret 4 serangkai yang lagi tidur-tiduran di rumput menuju kamar mandi, dan, itu sangat penuh perjuangan karena 4 serangkai itu berat dan letak kamar mandi jauh.

[Dan, mari kita skip saja karena Nacchan lagi malas nulis #plak]

Sudah waktunya makan siang, dan, tentu saja, siapa yang tak akan hadir pada jam-jam seperti ini? Kecuali untuk putri kecil kita, si pencinta couple lesbi tingkat akut.

Tapi, makan siang kali ini serasa berbeda, bagi Melody dan Dyle. Mereka dapat merasakan hawa Runa senang seperti bebas, takut seperti bertemu setan, dan sekitarnyalah.

"Ehm," Runa beranjak dari kursi makannya dan berdehem.

"Ehm, ehm, ehm," yang lain ikutan berdehem.

Runa menatap datar teman-temannya yang ikut makan siang, "Gak usah ikutan batuk keles.."

"Batuk beneran atuh! Keselek tulang sapi ini!" seru Ryouta terbatuk-batuk.

"Ah..." Runa hanya sweatdrop berat melihatnya, "Gini, jadi, menurut ku, kita sudah bisa pergi."

"Pergi? Maksudnya?" tanya Nabilah penasaran.

"Pergi meninggalkan istana dan bertarung melawan Dark Sounds," jawab Runa singkat, padat, dan jelas.

Seketika yang lain menyemburkan makanan, dan minuman yang mereka lahap. Viny malah keselek garpu yang ia pegang. Dan, tulang sapi yang nyangkut di tenggorokan Ryouta langsung nyasar menimpa Simon, "WUAPPA!? Be te we, makacih Run-run."

"Ohok ohok," Shanju terbatuk-batuk, "Pergi meninggalkan istana untuk mati!?"

Runa ber-sweatdrop ria, "Bukankah itu tujuan kalian kesini? Untuk menuju kematian?"

"Maksudnya untuk melawan Dark Sound," bisik Ryouta.

"T-t-t-tapi...nanti, kalau kita mati gimana..?" tanya Cindivia.

"Well, itu DL kalian," jawab Runa.

"PARAH!" sorak semuanya kecuali Melody dan Dyle.

Kret...Melody bangkit dari tempa duduknya, dan membawa makanannya pergi bersama Dyle.

"EH, ikut dong Melody!" tutur Nabilah mengikuti jejak Melody.

"Viny! Tunggu disini! Jangan ikut! Ayen, Naomi, tahan dia!" perintah Shanju yang ingin ikut namun tahu bahwa Viny akan mengikutinya.

"Apa!? Ti-tidak! Aku ingin bersamamu Viny-sama!" rengek Viny.

"Tidak bisa! Ayen, Naomi, pegang yang kuat! Jangan sampai dia kabur!" tutur Shanju mengawasi, lalu berlari mengikuti Melody dan Nabilah.

"TIDAK! Tidak...tidak...SHANJU-SAMA~!" teriak Viny histeris. Ayen dan Naomi yang bersweatdrop tidak tampak di raut wajah mereka karena bersusah payah menahan yang lain sweatdrop kecuali Haruka dan HaruNaka.

"Kisah yang tragis," komentar Haruka menghapus air matanya.

"Apa...?" tutur Cindivia menoleh ke arah Haruka.

"Dasar," tutur Yupi.

"SANGAT TRAGIS, HUAA~" teriak HaruNaka sekencang mungkin.

"Hoi, hoi, bising," tutur Yupi menoleh ke arah HaruNaka.

[Mari kita beralih ke tempat Melody, Nabilah, dan Shanju, juga ketiga peri mereka~]

Ternyata mereka sedang berada di halaman belakang istana. Mereka menikmati angin siang yang sejuk, karena siang ini mendung.

Ke-enamnya melihat ke arah langit. "Mau hujan, ya?" tanya Shanju. "Enggak, mau badai," jawab Netha. "Yang betul..?" Shanju menatap datar ke arah Netha. "Nggak, memang mau badai," jawab Dyle. Shanju hanya cengo mendengarnya.

Melody bangkit, "Ayo, aku udah selesai makan nih! Juga harus bersiap, kan?" tutur Melody. "Aku juga udah," Nabilah ikutan bangkit. "What the...!? Jadi, maksudnya, lo lo lo pada bakal ninggalin gue sendirian di tengah badai!?" seru Shanju yang belum selesai makan. "Masih mendung," celetuk Netha. "Iya, maksudku sebentar lagi mau badai!" tutur Shanju.

"Kan ada Netha," jawab Melody, "Ayo Nabilah, Dyle, Nilla," ajak Melody.

"Ayo~" ucap semua orang yang dipanggil.

"Apa...!?" Shanju dan Netha hanya cengo, "PAYAH!"

[Skip time ke pagi aja]

Melody mengambil tasnya. Ia memeriksa sekali lagi tasnya. Ia tersenyum puas, "Sudah lengkap." Ia lalu memakai tasnya dan berpaling menuju Dyle, "Hei, Dyle."

"Hn?" Dyle yang sedang menikmati rotinya menoleh ke arah Melody.

"Seperti apa dunia luar istana?"

"Mengerikan! Sangat menakutkan! Berbahaya!" jawab Dyle sejadi-jadinya, "Namun, di sisi lain, dunia itu begitu indah dan menakjubkan."

Melody hanya manggut-manggut.

"Kau akan tahu nanti," tutur Dyle, "Ayo, daripada kita dibunuh oleh Runa!"

"Oke," Melody mengikuti Dyle menuju gerbang istana.

Di gerbang istana...

"Oke, kami akan pergi sekarang," ujar Runa, "Ryouta, Simon, jaga Arisu baik-baik, mengerti?"

"Ngerti..." jawab Ryouta malas. "Dimengerti," jawab Simon. "Bagus, kami pergi sekarang, ayo semua!" seru Runa memimpin. Semuanya melambaikan tangan dan mengikuti Runa.

"Huh," Ryouta mendengus kesal. Ia ingin sekali pergi ikut bersama ke-11 cewek itu. Namun, pertanyaan 'mengapa ia disini?' adalah untuk menjaga Arisu, bukan untuk bermain-main di luar sana.

"Hai, Ryouta!" sapa seseorang.

Ryouta melihat ke arah siapa yang menyapanya, "Ta-Takamina!"

"UWAA! Mariko-sama! Juri-chan! Kalian disini juga!?" seru Arisu berbinar.

"Ya, begitulah," Mariko tersenyum.

"Ayo masuk main!" Arisu segera menyeret Mariko dan Jurina untuk bermain bersamanya.

"Uwaa! Pelan-pelan Arisu!" tutur Jurina.

"Heh," Takamina tertawa kecil, "Ayo, kita masuk juga, Ryouta, Simon," ajaknya.

"Baiklah," Ryouta dan Simon menurut. Ketiganya memasuki istana lagi. Ryouta menoleh ke belakang, lalu masuk dan menutup pintu istana.

~{End of Chapter 10}~


Nacchan: AKHIRNYA! SELESAI JUGA! BERARTI BISA BIKIN CHAPTER 1 DARI KOKO NO SENSO! WUHUUU!

Ryouta: (sweatdrop) kenapa harus bikin sesuai chapter-chapter gitu?

Nacchan: Biar gak terlalu banyak cerita yang harus dilanjutin~

Ryouta: Tapi, ada 4 (termasuk ini) fic yang harus kau selesaikan, tahu!

Nacchan: Aku gak suka tahu!

Ryouta: (sweatdrop) maksudku bukan itu...

Nachan: Gomen ne minna-san updatenya lama! Soalnya modemnya baru diisi pulsa~! Dan, seperti biasa, fic ini sangat hancur!

Arisu: Jika anda berkenan, silahkan tinggalkan review sebelum menutup fic ini

Nacchan+Ryouta+Arisu: ARIGATOU GOZAIMASU~!


~{Arigatou Gozaimasu}~