Chap 10
MAAF!
Saya mohon maaf karena telah tidak me-update fic ini…
Tolong maklum. Sekarang saya sudah terlalu sibuk dengan urusan sekolah
Mohon dimaafkan dengan sangat….
NARUTO © Mashashi Kishimoto
Story © Me
Warning∶ Yaoi/ shonen-ai/ Blood
Rated M ∶ Bloody scene/ Almost sadistic/ Romance... almost in rape scene
A/N : masih dalam flashback jadinya menggunakan text miring
Dark Blood
Di depan rumah Yamato, Obito berdiri di sana memandang ke arah langit gelap.
"Obito..." panggil seseorang. Obito menoleh dan menatap orang itu datar. Namun lebih cocok bila dikatakan mahluk. Mahluk betina di depannya yang cantik dan anggun. "Kita tidak punya banyak waktu lagi," katanya.
"Aku mengerti Rin. Tapi... bagaimana dengan Kakashi?"tanya Obito kepada Rin. Wanita yang tubuhnya sedikit lebih pendek dari Obito. Rambutnya coklat sepunggung, matanya berwarna sedikit gelap dan ada 2 tato segi panjang di kedua pipinya.
"Aku tidak tahu... Madara akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Yamato. Ritualnya akan segera dimulai beberapa hari lagi," kata Rin terlihat sangat pucat. Obito terdiam dan mengeluarkan botol yang terbungkus kain hitam.
"Aku punya permintaan padamu. Menyusuplah ke rumah sakit dan letakan botol ini di rak yang ada di gudang penyimpanan serum," Obito menyerahkan botol itu kepada Rin. "Ini adalah ramuan yang kubuat sendiri. Dalamnya adalah racun. Setetes saya dapat menghancurkan vampire. Tapi jangan sampe mereka mendapatkannya." Obito menggemgam tangan Rin erat. "Kupercayakan ini kepadamu,"Rin mengangguk lalu segera berlari menjauh dari Obito.
Di tengah jalan, ketika Rin akan sampai di rumah sakit, ia diserang oleh 2 ekor warewolf. Untungnya ia bisa menghindar. Mata Rin yang awalnya coklat berubah menjadi emas dan menatap tajam pada kedua warewolf yang ada di depannya.
"Mau apa kau!" teriak Rin geram. Kedua warewolf itu segera berubah menjadi manusia. Seorang bocah laki-laki remaja dan seorang wanita dewasa. Keduanya memilki tato segitiga di masing-maisng pipi mereka.
"Kami diperintahkan untuk menangkapmu... kalau tak mau terluka lebih baik jangan melawan!" teriak Hana. Adiknya, Inuzuka Kiba sudah bersiap untuk menyergap Rin. Rin sendiri mundur sedikit. Ia juga adalah warewolf dan ia tahu ia bukan tandingan keduanya.
"Ini sih terlalu lama! Kita langsung saja kak!" teriak Kiba kembali menjadi serigala dan menyerang Rin yang berhasil menghindar dan segera kabur dari sana. Tapi kali ini Hana dalam wujud serigalanya berhasil mementalkan Rin hingga jatuh berguling di tanah. Rin khawatir jika botol itu sampai pecah.
'Aku tidak ingin mengambil resiko melawan mereka... bagaimana ini?' batin Rin menggigit bibirnya sendiri. Tapi Kiba tidak tinggal diam dan menyerang Rin lagi. Rin telah menghindar dari cakaran Kiba sehingga melukai pipinya. "Baiklah... kali ini aku sudah tidak bisa mundur lagi!"
Sementara itu, Obito berbicara dengan Kakashi kecil tentang kejadian ini di dalam rumah Yamato. Yamato sudah terlelap di dalam kamarnya dan mereka berbicara di meja makan bersama sebuah lilin.
"Kau tidak bisa begitu!" teriak Kakashi menggebrak meja ketika ia mendengar semua penjelasan dari Obito.
"Aku tidak akan menyerahkan Yamato padanya. Tapi kita juga harus bisa melawan mahluk itu... Karena itu Kakashi, untuk sementara kita bawa Yamato ke tempat yang tidak bisa ia datangi," kata Obito membuat Kakashi terdiam. Ia tak mau Yamato tersayangnya diambil oleh orang lain dan ia ingin melindungi Yamato dengan semua kemampuan yang ia miliki. "Kakashi... selama aku belum diketahui sebagai Vampire Uchiha, sebelum aku terbunuh... kau harus percayakan Yamato padaku."
"Apa maksudmu sebelum kau terbunuh!?" tanya Kakashi terkejut.
"Informasi tentang Vampire Uchiha yang menyusup ke dalam sebuah organisasi hunter telah sampai di telinga para ketua. Ku dengar juga, mereka akan melakukan pembasmian terhadap vampire tersebut. Siapa lagi bila bukan aku," jelas Obito. Keduanya terdiam sesaat. Kakashi masih belum percaya apa yang sudah ia dengar. Sampai akhirnya, Kakashi mengepal tangannya dengan kuat untuk membangkitkan kepercayaannya kepada Obito.
"Kapan kau akan membawa Yamato?" tanya Kakashi mantap.
"Sekarang."
Kembali lagi ke pihak Rin. Ia sudah berhasil mengalahkan Hana dan Kiba dan ia sendiri juga terluka berat akibat pertarungan tersebut. Hana yang masih memiliki tenaga, bangkit untuk melihat adiknya yang sudah tak bergerak lagi. Melihat itu, Hana menangis meraung-raung sambil memeluk tubuh Kiba.
"Kiba! KIBA!"teriak Hana menangisi tubuh tak bernyawa Kiba.
"Aku sudah memperingatkanmu..." ucap Rin juga berusaha berdiri. Sepertinya ada beberapa tulang di tubuhnya yang patah. Tak kalah, tubuhnya yang kini penuh dengan daranya sendiri dan cipratan darah musuhnya. Rin sudah tidak punya waktu lagi untuk bertarung dan segera berlari menuju rumah sakit yang dimaksud. Mendobrak masuk lalu menuju ruangan penyimpanan serum.
Sementara itu Hana yang masih menangisi Kiba di jalanan tadi terhenti sebentar ketika melihat seorang pria yang kini berdiri di dekatnya. Pria yang kulitnya cukup gelap, memakai kemeja putih dengan rompi coklat dan celana hitam panjang. Rambutnya coklat dan di kuncir ekor kuda tinggi. Di wajahnya ada bekas luka melintang di atas hidungnya.
"Ke mana dia pergi?" tanya pria itu.
"Ke rumah sakit..." jawab Hana pelan. Pria itu segera pergi melesat untuk mengejar Rin. "Tuan Iruka... bunuh anak itu! Keparat!" ucap Hana di sela isak tangisnya.
Rin yang kini telah meletakan botol itu di dalam rak, terhenti sejenak ketika ada seseorang di belakangnya. Ketika Rin akan membalikkan badannya dan melihat orang itu, lehernya lebih dulu di cekik oleh orang tersebut.
"K-kau...!" gertak Rin dengan suaranya yang parau akibat lehernya yang kini terasa sangat sakit dan seperti akan remuk saja. Mata orang – mahluk itu berwarna merah darah, sebuah mata sharinggan milik keluarga Uchiha. Sedetik kemudian, Rin merasakan bagian dadanya yang terasa sakit. Ia juga dapat merasakan asinnya darah yang keluar dari mulutnya. Mahluk itu telah menancapkan tangannya menembus dada Rin.
"Mahluk rendahan..." ucap mahluk itu ketika menjatuhkan tubuh Rin yang sudah tak bernyawa lagi di lantai. Darah yang sangat kental mengalir keluar dengan deras dari dalam tubuhnya, membanjiri seluruh lantai gudang penyimpanan serum tersebut.
"Sepertinya aku terlambat..."ucap Iruka yang baru datang ke sana kemudian melihat Itachi mengambil botol tersebut dari rak. "Tak kusangka, Hana bisa kalah dari warewolf seperti dia... Apa itu?" kata Iruka melihat botol tersebut.
"Entahlah... aku hanya diperintahkan oleh Madara untuk mengambil ini..."
"Dan...?"
"Untuk mengambil anak yang terpilih itu..."
Sementara itu, Obito menggendong Yamato bersama Kakashi yang ada di sampingnya berlari menembus hutan yang sangat gelap menuju 1 bangunan gereja tua yang ada di tengah hutan. Obito cepat-cepat membawa Yamato yang masih tertidur lelap dan menyembunyikannya di ruangan yang ada di bawah altar.
Pintu itu kemudian di siram menggunakan air suci oleh Kakashi dan ia juga menguncinya. Ukiran di pintu itu adalah sebuah salib dan terbuat dari perak sehingga Vampire dan Warewolf tidak akan bisa membukanya ataupun menyentuhnya.
"Kakashi, kau tetap ada di sini..." pesan Obito. "Sampai aku kembali kaulah yang harus menjaga Yamato. Aku juga akan mengunci pintu gereja ini dan pastikan kau menyirami semua pintu dan jendela dengan air suci," lanjutnya.
"Kau akan kemana?" tanya Kakashi.
"Menyelesaikan masalah... kurasa bila Madara tahu apa yang terjadi ia akan turun tangan... Jaga dirimu baik-baik Kakashi," Setelah itu, Obito segera pergi dari sana. Kakashi juga melakukan semua yang diperintahkan oleh Obito lalu duduk di depan pintu yang ada di bawah altar tempat Yamato berada.
"Kakashi-nii..." panggil Yamato dari dalam.
"A-ada apa?" jawab Kakashi yang sedikit terkejut dan gagap.
"Sebenarnya... apa yang sedang terjadi?" tanya Yamato dari dalam. Kakashi terdiam. "Apa nanti... aku tidak bisa bersama Kakashi-nii?" lanjut Yamato. Kakashi masih terdiam. Perasaannya campur aduk saat itu, dan ia juga tidak mau menjawab semua itu karena ia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi. "Kakashi-nii?"
"Kita akan selalu bersama... pasti..." jawab Kakashi akhirnya.
"Janji?"
"Janji..." bisik Kakashi. "Janji..." Tanya kakashi mulai mencakar pintu tersebut. Seakan semua itu menjadi penghalangnya dengan Yamato. Kakashi tentu merasa takut, tentu saja merasa gelisah, tentu saja ia sekarang merasa tak berdaya. Hanya berdua bersama Yamato di tempat yang asing, seperti menunggu maut, dan dengan keduanya yang dihalangi oleh sebuah pintu. Sesak rasanya.
Kakashi duduk di sana. Suasana hening sudah sangat lama berada di sekitar mereka, dan semakin malam, semakin mencekam. Keirngat dingin mulai mengucur dari kening Kakashi, jantungnya berdekup sangat cepat dan tidak bisa ditenangkan. Napasnya menderu dengan hebat dan tubuhnya bergetar.
PRANG
Sesaat, pandangan Kakashi terahlikan ke arah suara benda jatuh di samping kirinya. Tapi ia tak melihat apa-apa karena terlalu gelap. Semakin gelisah, ia segera berdiri dan mempersiapkan senjatanya yang berupa pedang pendek dan berjaga-jaga.
Yamato-pun merasakan sesuatu yang tak enak dari dalam sana tapi perasaan dan instingnya mengatakan untuk tidak bergerak dan bersuara sama sekali. Keheningan yang semakin menakutkan meliputi keduanya. Dan ketika Kakashi akan memutar kepalanya, sesosok tubuh yang lebih besar dari Kakashi sudah ada di sana.
CRASH!
Yamato tidak tahu apa yang terjadi tapi tangannya kini menyentuh cairan kental. Ia tidak bisa melihatnya kemudian mencium cairan itu dan terkuak bau amis darah. Yamato sangat terkejut terutama ketika ruangan itu mulai dibanjiri darah yang masuk di sela-sela pintu bagian bawah.
"HUAAAAAAA!" teriak Yamato memecah malam.
XXXX
Obito terdiam ketika menemukan wayat Rin sudah terbujur di lantai rumah sakit. Dan saat ini, ia tahu bahwa para vampire suruhan Madara sedang mencari di mana Yamato berada. Saat ini, Obito hanya berharap Kakashi dan Yamato akan baik-baik saja. Obito kemudian mengeluarkan botol yang sama dari dalam sakunya.
"Mereka sudah mendapatkan yang palsu... Maafkan aku Rin. Ku harap kau bisa tidur dengan tenang," ucap Obito kemudian meninggalkan rumah sakit tersebut. 'Mereka sudah mendapatkan botol yang palsu. Ku harap, semuanya sesuai dengan rencana.'
Obito kembali ke gereja tua itu dan menemukan tidak ada yang aneh dari luarnya. Ia berteriak memanggil Kakashi dan tak ada sahutan dari dalam. Obito merasa janggal dan berusaha membuka pintu tersebut namun tangannya segera melepuh akibat air suci yang melumuri seluruh pintu. Obito mencari cara lain dan akhirnya mengangkat batang pohon yang amat besar lalu melemparkannya ke pintu sehingga pintu itu jebol.
Betapa terkejutnya Obito ketika ia melihat ruangan gereja itu. Bercak darah merah yang mulai mengering dan berubah menjadi warna hitam atau coklat berceceran di mana-mana bahkan mengotori dinding dan perabotan yang ada di dalamnya. Semuanya sangat kacau dan gelap. Obito segera berlari ke altar dan menemukan bahwa pintu tersebut terbuka dan Yamato tidak ada di dalam sana.
"MADARAAAAA!"
Dan Madara terkekeh-kekeh ringan di dalam ruangan yang gelap bersama dengan 2 orang bocah yang diikat tangan dan kakinya serta mulutnya ditutup dengan plester. Kakashi dan Yamato, keduanya tertangkap dan kini berada di ruangan itu. Di dalam ruangan tersebut juga ada Uchiha Itachi, dan para vampire yang lain dan Iruka yang adalah wirewolf.
Yamato sudah sangat ketakutan sekali dan hampi menangis. Sementara Kakashi berusaha untuk tetap berani dan mencari cara untuk keluar dari tempat itu. Tubuh Kakashi bersimbah banyak darah. Bukan darahnya, melainkan darah vampire-vampire yang ia bantai di dalam Gereja.
"Anak ini... bisa membunuh vampire kita sebanyak itu... memang tidak bisa diremehkan anak manusia ini," ucap Itachi berkomentar tentang Kakashi. Kakashi hanya menatap penuh kebencian kepada Itachi. Di saat terakhir ia harus dikalahkan oleh vampire keparat itu.
"Hoo... memang hebat. Kau bisa membaca pergerakan Obito dengan begitu tepat dan mengambil apa yang kita perlukan," kata Madara menatap Yamato dan membuat anak itu bergidik ngeri dan ketakutan. Itachi-pun memperhatikan Yamato lalu melihat botol yang ia ambil dari Rin itu. Isinya hanya sebotol air bening biasa.
"Bagaimana dengan Obito... ia akan ke sini dalam hitungan menit," kata Iruka. "Dan apa yang akan kita lakukan terhadap anak yang satunya lagi?"
"Bunuh saja anak itu. Ia hanya akan menjadi ancaman saja," kata Madara cepat mengejutkan Kakashi dan juga Yamato. Iruka menyeringai sedikit dan menarik Kakashi keluar dari ruangan tersebut. Kakashi tentu meronta-ronta dengan kuat membuat Iruka kesusahan dan akhirya memukul tengkuk Kakashi sehingga pingsan. "Kita mulai ritualnya."
Itachi mendekati Yamato lalu membuka plester yang menutupi mulutnya. Yamato mulai berteriak memanggil Kakashi yang masih setengah sadar. Kakashi juga tidak bisa berbuat apa-apa dan berusaha menahan kesadarannya agar utuh.
"Kakashi-nii! KAKASHI-NII!" teriak Yamato yang mulutnya dibukam oleh tangan Itachi. "Tolong aku! Kakashi-nii!"
"Hoo... dia orang yang sangat berharga untukmu sepertinya... Bagaimana kalau kita lihat sedikit ritual ini.. bagaimana?" kata Iruka memposisi dudukkan Kakashi.
"Ten..zou..." panggil Kakashi lemah.
Itachi kini sudah membuka pakaian atas Yamato yang terus meronta-ronta. Ia dibaringkan di atas lantai dan kedua tangan dan kakinya diikat menggunakan rantai lalu ditarik ke empat ara secara keras agar ia tak bergerak sama sekali. Dan ini membuatnya berteriak kesakitan bukan main. Kemudian, Uchiha Itachi dan ke-lima vampire lain yang tidak memegangi Yamato berdiri agak jauh dari Yamato dan kemudian melukai tangannya sendiri sehingga darah merah segar dapat mengalir lalu membentuk pola hexagram mengelilingi Yamato. Dan kemudian Madara berdiri di dekat kepala Yamato lalu melukai tangannya, darah itu mengalir di wajah Yamato dan buruknya masuk ke dalam mulut Yamato.
"Khehehe... anak baik..."
To Be Continue
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya... chap ini agak saya perpendek 200 kata aja kok...
Setelah mengetahui bahwa Tobi adalah Obito bukan Madara, saya sempat bingung meneruskan chap yang sudah 80% hampir selesai ini. Tapi ya sudah lah... sudah terlanjur maju gak boleh mundur.
Mohon maaf sudah tidak mengupdate fic... (udah kesekian kali minta maaf)
RnR please
