Extra Casts:

EXO as Emerald Descendants:

Kim Joonmyun as Francis
Park Chanyeol as Richard
Byun Baekhyun as Bernard
Do Kyungsoo as Thomas
Kim Jongin as Alex
Oh Sehun as Stephen
Wu Fan as Kevin
Zhang Yixing as William
Lu Han as Leonard
Kim Minseok as Michael
Kim Jongdae as Donald
Huang Zitao as Edison

Kwon Boa as Evelyn Shaw


History – Sejarah (tidak akan) berulang kembali.

Seorang pemuda berompi hitam berkulit pucat dilempar ke dalam sebuah kereta barang yang ditarik kuda. Kereta barang itu ditutup begitu saja dengan kasar. Pria kasar yang menutup pintu kereta kuda itu lalu melompat ke kursi kusir dan memacu keretanya dengan cepat.

"Ukh!" Pemuda berompi hitam tadi mengerang ketika gerakan kereta kuda tiba-tiba melemparnya dengan keras ke dinding kayu kereta. Karena tali yang melilitnya, pemuda itu tak bisa bebas bergerak.

"Francis..."

Familiar dengan suara itu, si pemuda berompi hitam—Francis—mencari asal suara. Sinar bulan yang tak stabil kurang mencukupi untuk dijadikan penerangan. Francis tak menyerah, ia gerakkan tubuhnya sebisanya. "Stephen? Stephen... kaukah itu? Kau baik-baik saja?"

Suara lemah yang memanggilnya menyahut kembali. "Sakit, Francis... D-dingiiin..."

Sinar bulan akhirnya memihak Francis. Pemuda itu menemukan Stephen, adik sepupunya, tersudut dengan tangan dan kaki terikat, sama sepertinya. Tubuh Stephen gemetar karena harus menghadapi suhu dingin ekstrem tanpa pelindung lebih—saat itu, salju memang turun dengan derasnya. Francis sendiri sedang kedinginan, tetapi melihat adik sepupunya menggigil seperti itu, ia melupakan dirinya sendiri. "Sialan!" umpat Francis ketika berusaha melepaskan diri dari tali yang melilitnya. Semua menjadi semakin sulit ketika Francis merasakan nyeri yang tajam menusuk kakinya—yang ditembak sebelum ia diikat.

"Tidak ada gunanya melepas ikatan kita sekarang!" Seorang pemuda lain dengan kontur wajah yang sangat tajam beralih pada pemuda bermata panda yang dekat dengan Stephen, "Eddy, cepat himpit anak di sebelahmu itu untuk menghangatkannya! Leo, kau juga, himpit anak itu!"

Anak bermata panda itu—Edison—menghimpit Stephen dengan segera. Asap putih melayang dari mulutnya, tanda dia juga kedinginan. Stephen agak takut ketika si mata panda menatapnya, tetapi ketakutan itu hilang ketika suara gemetar Edison menyapanya.

"Hosh... hosh... jangan takut... A-aku... akan...me-menolongmu..."

Stephen menatap Edison dengan bingung. Padahal si mata panda itu juga butuh kehangatan, tetapi ia bisa bertahan, kenapa?

"D-dasar bodoh... Eddy... Kau...huh... kau itu malah mem-membuatnya ta...kut..." Leonard, pemuda dengan lengan atas berdarah, tersenyum getir. Dia juga menggigil. Perlahan, ia berpaling pada Francis. "T-tenang... A...aku akan... tolong... hosh... adik...mu..."

Francis berkedip-kedip cepat, berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia tak boleh pingsan di sini, atau dia akan mati beku.

Duak!

"Augh!" pekik Francis ketika pemuda yang mengomando Edison dan Leonard tadi—Kevin—menendang wajahnya.

"Jangan pingsan di sini, bodoh! Bertahanlah untuk adikmu!"

Francis bernapas pendek-pendek. Ia bersyukur sedikit karena Kevin telah menolongnya tetap sadar, tetapi... "Hei, itu sakit..." Francis meludahkan darah di mulutnya setelah mengatakan itu, lalu menyunggingkan sedikit senyum untuk Kevin, berterima kasih. Yang disenyumi mengerutkan dahi. "Kau mau sakit atau mau mati?"

"Dua-duanya aku tak mau!" jerit seorang pemuda dengan darah mengaliri pelipis, "Aku ingin pulang!"

"Bodoh, siapa yang bertanya padamu, Richard?!" teriak seorang pemuda di sebelah pemuda tadi yang mulai mimisan karena tak kuat dingin.

Suasana di dalam kereta itu sangat ramai hingga terdengar satu letusan pistol.

"Jangan berisik!"

Rupanya, si kusir menembakkan satu peluru yang pasti akan menembus kepala Richard—si pemuda dengan pelipis berdarah—kalau pemuda yang mimisan itu tidak bergerak ke samping dan melindunginya. Lengan pemuda yang mimisan itu ditanami peluru dan darah langsung bermuncratan ke mana-mana. Pemuda yang menjerit tadi kaget. "B-Bernie... kau..."

"Aku akan melindungi temanku sampai akhir... Itu... pesan terakhir ibumu padaku, tau..." Bernard, pemuda yang lengannya tertembak, berusaha untuk tetap tersenyum. Ia tahu pemuda di sampingnya sangat payah, jadi dia berusaha untuk menguatkannya.

Kereta berhenti. Pintu kereta dibuka dan tampaklah dua belas pemuda belia di dalam sana—terluka, menggigil, dan terikat. Mereka semua terkejut ketika banyak orang berbadan kekar menjatuhkan mereka dengan kasar keluar kereta.

Stephen mengerang ketika ia dijatuhkan dari bagian belakang kereta. Ia terkapar di samping Francis. "Apa yang akan mereka lakukan pada kita, Francis?" tanyanya pada sang kakak sepupu. Francis hanya menggeleng. "Kuatkan dirimu sebentar lagi saja, Stephen..." Pemuda tampan itu tersenyum untuk mengukuhkan hati adiknya. Stephen hanya mengangguk lemah.

Selagi orang-orang kasar itu terus menjatuhkan para pemuda dari kereta mereka ke atas salju, Francis bergerak mendekati Stephen dengan susah payah dan meniup-niup tangan Stephen yang mulai biru, berharap bisa memberi sedikit kehangatan. "Bertahanlah... sedikit lagi saja..." Suara Francis mulai terdengar sama gemetarnya dengan Stephen, tetapi senyum yang tak pernah meninggalkan wajahnya mampu memberikan sedikit harapan pada sang adik sepupu.

Tiba-tiba, salah satu orang kasar itu menyeret Francis dan Stephen di atas salju. Orang-orang yang lain pun sama, mereka menyeret pemuda-pemuda itu ke sebuah gedung tua. Yang diseret tak bisa melawan karena mereka yang melawan akan ditembak.

Pintu gedung teater itu didobrak dengan kasar oleh salah seorang pria kekar. Francis terbatuk ketika para pria kekar mulai menyeret 'hasil buruan' mereka ke dalam gedung teater. Debu di mana-mana. Udara gedung itu juga sangat lembab, membuat Francis susah bernapas. Diseret di lorong panjang dengan pilar-pilar tinggi itu saja begitu menyiksa—ia tak tahu apa yang akan dilakukan para pria kekar itu untuk menyiksanya lebih lanjut.

Satu pintu lagi didobrak. Kali ini, Francis dan sebelas orang korban penculikan lainnya dibawa ke dalam sebuah ruangan yang sangat besar. "Ini... teater?" gumam Bernard sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya bulan yang masuk dari langit-langit tidak terlalu membantu penglihatan, tetapi kursi penonton yang sudah tak tersusun rapi, tirai panggung yang robek, dan panggung kayu yang sudah lapuk dan berlubang di sana-sini tetap terlihat.

"Memangnya untuk apa mereka membawa kita ke sini?" tanya pemuda berpipi tembam, Michael, pada Bernard. Yang ditanya hanya bisa menggeleng takut.

Para penculik berbadan kekar melemparkan tangkapan mereka begitu saja di depan panggung. "Jaga mereka, aku akan keluar untuk menunggu Montagne ke sini dan membayar." kata pria yang berbadan paling besar di antara semuanya, mungkin dia bosnya.

"Huh, pekerjaan ini sangat menyusahkan. Kalau orang itu sudah datang dan membayar, maka tugas kita selesai, 'kan?"

Francis menelan ludah dengan sulit. "Apa... orang yang membayar kalian itu akan menjual kami? Ataukah dia akan melakukan sesuatu yang lain?"

"Memangnya penting bagi kami untuk tahu? Dia hanya meminta kami mengumpulkan anak-anak yang berbakat dan pantas dijadikan seniman di seantero kota. Peduli apa kami pada nasib kalian selanjutnya?"

"Hehehe... mungkin kalian akan berakhir tragis di tangan orang itu, ya. Kalau begitu, sebaiknya kami berjaga agak jauh dari kalian, jadi kalian bisa bebas bersenang-senang untuk terakhir kalinya!"

Para pria kekar itu sekali lagi menembaki dua belas korban mereka di kaki dan tangan supaya mereka benar-benar lumpuh (plus untuk menyakiti mereka). Darah sekali lagi terpercik dengan brutal membasahi lantai depan panggung. Setelah puas melukai pemuda-pemuda belia yang tak bersalah sama sekali itu, para penculik melangkah dengan tawa jahat.

"Ukh... sa...ki...t..."

Tetes demi tetes air mata mengalir turun dari mata seorang pemuda mungil di dekat Francis—Thomas. Dia menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan rasa sakit, begitu dalam sampai di bibirnya mulai keluar darah lagi. "Jangan gigit bibirmu... akan makin banyak darah yang keluar..." Francis memajukan sedikit lengannya, "Ini... Gigit saja lenganku..."

Thomas dengan mata berkaca-kaca memandangi pemuda yang tak dikenalnya itu. "Lukamu bahkan lebih besar daripada aku... Aku akan menambah... sakitmu..."

"Tidak akan..." Francis sekali lagi tersenyum, "Itu akan meringankan sakitmu sedikit... Tak apa, gigit saja lenganku..."

Agak ragu, Thomas mulai menggigit lengan atas Francis, tepat di saat nyeri menusuknya dari luka tembak di pahanya. Thomas refleks menggigit lengan atas Francis. Napas Francis sedikit tertahan karena rasa sakit itu, tetapi ia biarkan saja rasa sakit menderanya. Francis tak bisa membiarkan siapapun sakit, jadi lebih baik, dialah yang menanggung rasa sakit itu.

Melihat kakaknya ditolong Francis, Alex menyeret tubuhnya menuju Stephen. "K-kau... hosh... kedinginan?"

Stephen hanya mengangguk. Alex mengangkat tubuhnya sebisa mungkin, lalu meletakkan kepalanya di perut Stephen dan menggesek-gesekkan kepala itu di sana. "Bagaimana... hosh... hangat, tidak?"

Alih-alih merasakan hangat, Stephen malah kegelian. Ia tertawa. "Sudah cukup... Aku.. hosh... sudah baik..."

Bukannya menghentikan kegiatannya, Alex malah menggila dan terus mengusap-usapkan kepalanya ke perut Stephen. "Hehehe, ...hosh.. rasakan... ini..."

Stephen tertawa semakin keras, sesekali terbatuk, tetapi rasa sakit tidak mengganggunya lagi. Melihat itu, Richard dan Bernard—yang ternyata adalah duo iseng—mengikuti perbuatan Alex. Mereka mengeroyok satu orang—William—yang sejak tadi hanya diam sambil meringis menahan sakit. Berhasil! "Ge-geli... Sudah... Hahaha... tolong aku..." rintih pemuda itu.

"Kami tak akan berhenti... Ini... hosh... asyik..." Richard terengah di sela-sela kegilaannya menggosok-gosokkan kepala ke perut pemuda yang lukanya paling parah itu. William akhirnya lupa pada rasa sakitnya dan tertawa.

Satu persatu, anak-anak itu mulai menggosokkan kepala mereka ke perut yang lainnya. Mereka sadar bahwa ulah yang gila bisa menjadi obat penahan sakit yang bagus, walaupun bertingkah gila bisa 'memperlebar luka mereka'—seperti kata Kevin ketika berusaha mengelak dari 'gelitikan' sepupunya, Leonard dan Edison. Mereka tak peduli lagi apakah luka mereka melebar atau tidak. Mereka bisa saja mati malam ini dan mereka tidak ingin mati dalam keadaan menangis. Atas dasar itu, Thomas mulai menggelitiki Francis dan Michael menggelitiki Donald. Tawa kekanakan memenuhi ruang teater. Hal itu tentu saja memancing perhatian para penculik yang berjaga; bagaimana mungkin anak-anak yang sudah terluka benar-benar 'bersenang-senang' seperti yang mereka katakan? Entah kenapa, tawa para buruan mereka terdengar mengerikan di telinga para penculik. "Diam!" bentak para penculik itu, tetapi tidak digubris oleh para korban mereka, "Diam kubilang!"

Tawa terdengar semakin lemah, tetapi itu bukan karena mereka takut pada penculik. Itu karena mereka semua sudah mulai kehabisan darah dan tenaga untuk tertawa, hingga akhirnya, anak-anak itu tak sadarkan diri semuanya.

Seorang penculik menatap nanar dua belas tubuh korbannya yang berlumur darah. "Mereka tersenyum."

"Lalu?"

"Ini aneh... Selama bertahun-tahun kita menculik, kita tak pernah melihat korban sebahagia ini... menurutmu itu tidak aneh?" tanya penculik lainnya yang sudah mulai ketakutan, "Di gedung ini, 'kan sering ada kejadian yang aneh... Jangan-jangan..."

"Hentikan omong kosong itu. Cerita-cerita horor hanya bualan orang iseng."

"Bagaimana kalau mereka mati di sini? Kita tak akan mendapat bayaran dari Montagne." Seorang penculik yang memiliki bakat psikopat (karena lebih mementingkan uang di atas nyawa anak-anak itu) mengalihkan pembicaraan.

"Biarkan saja. Pria itu punya bakat tak terbatas seperti iblis. Dia bisa melakukan apapun supaya anak-anak itu bisa tetap hidup dan menghasilkan uang untuknya. Sudah, kembali berjaga."

Setelah mendapat komando dari pemimpin mereka, para penculik melangkah untuk berjaga di luar gedung teater.

"With my eyes closed, I paint you

I've seeked for you in my heart with the light shining inside."

Denting piano terdengar tiba-tiba dalam gedung teater. Mulanya, orang-orang itu mengira mereka salah dengar karena bunyi itu begitu pelan, tetapi...

"I can't let go the eternal happiness

Can you see me? Please call me anytime."

Salah satu dari para penculik itu menoleh dan sangat terkejut melihat lima belas pemuda dengan jubah opera dan Venetian mask muncul di panggung. Mereka menyanyikan lagu itu dengan perlahan ketika menghampiri korban penculikan yang sudah bersimbah darah.

"Open your heart, I'm here, call me to your side."

Salah satu dari mereka yang memakai jubah opera putih tulang menyentuh lembut puncak kepala Francis.

"I will stand by you. I love you. Let's be together, forever..."

Para penculik itu terpaku di tempat. Lima belas pemuda itu memang tak pernah mereka lihat sebelumnya, tetapi mereka tetap tahu.

Lima belas pemuda tampan. Jubah opera. Venetian mask.

Sudah mati lima puluh tahun yang lalu.

Pemuda dengan jubah putih tulang mengangkat wajahnya ke arah para penculik. Senyum angelic yang tadi terpasang di wajahnya saat menghampiri Francis kini berganti menjadi seringai mengerikan.


Tengah malam, gemuruh badai salju membangunkan Francis. Satu kehangatan yang nyaman menyapanya. Pikirannya yang baru saja tersadar segera mencari seseorang. Untunglah, Stephen yang ia cari terbaring di sampingnya, berselimutkan...

...jubah opera?

Francis mengalihkan pandang ke atas tubuhnya sendiri. Ia juga terselimuti jubah opera, hanya dalam warna yang berbeda.

"Wah, Dennis, lihat ke sini!" Seorang pemuda mungil menghampiri Francis. Ia tersenyum ramah dan secara otomatis, Francis membalasnya dengan cara yang sama. "Anda... siapa?"

Pemuda berwajah kekanakan dan (sedikit) cantik itu menggenggam telapak tangan Francis dengan dua telapak kecilnya. "Namaku Nathan. Salam kenal."

"Dan aku Henry!" Tiba-tiba saja, muncul seorang lain yang berkulit lebih cerah dari Nathan, dengan wajah yang jauh lebih manis dan pipi tembam.

"Huh, memang penting ya berkenalan dengan orang baru?"

Komentar pedas itu berasal dari si rambut ikal yang duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di panggung. Henry cemberut. "Jangan sok. Kau memang menyebalkan," ejek Henry, lalu kembali lagi pada Francis, "Maafkan dia, ya. Dia itu setan kecil kami, namanya Marcus. Kalau setan yang besar namanya Casey, tetapi dia... hm... ke mana Casey?"

"Oi, aku dengar apa yang kau katakan!" Ada suara asing lagi yang memasuki pendengaran Francis, tetapi tak terlihat siapa yang bicara. Nathan tergelak. "Dia pasti ada di backstage, berdandan!"

"Aku tidak menghabiskan hidupku cuma untuk berdandan! Dasar kalian anak kecil yang hobi mengejek!"

"Kalian ini... umur sudah banyak, kelakuan tetap saja seperti anak-anak." Tawa renyah terdengar semakin dekat. Francis mengalihkan matanya pada pemuda yang memakai kemeja putih dan pantalon warna pudar. Nathan dan Henry sedikit salah tingkah karena dinasehati pemuda dengan lesung pipit itu. Sekilas, Francis bisa merasakan kharisma orang yang baru datang ini. Dia pastilah pemimpin dari semua orang yang telah menolongnya.

"Anda siapa?" tanya Francis ketika pemuda berlesung pipit itu mendatanginya.

"Namaku Dennis. Salam kenal," jawab pemuda itu, lalu membantu Francis duduk, "Kau tidak apa-apa? Merasa pusing? Minumlah, tenggorokanmu pasti kering."

Setelah minum dari gelas yang dibawa Dennis, Francis mulai bisa mengamati keadaan sekitarnya dengan jelas. Anak-anak yang diculik dengannya, termasuk Stephen, banyak yang masih belum sadarkan diri, tetapi bocah tinggi dengan mata elang itu—Kevin—dan sepupunya, Leonard, sudah tersadar. Mereka sedang berbicara dengan seorang pemuda tampan yang berkaki panjang, juga seorang lagi yang hampir sama tinggi, tetapi memiliki wajah yang lebih teduh.

Menyadari Francis sudah sadar, Kevin mengalihkan pandang dari lawan bicaranya. Ia menatap Francis dengan tatapan dinginnya yang biasa, tetapi di balik tatapan dingin itu, tersembunyi suatu kelegaan. Entahlah, penculikan ini membuat keduanya cukup terikat secara batiniah.

"Hai." Francis memecah kesunyian yang menggantung di antara ia dan Kevin. Awalnya, Francis khawatir ia tak mendapat respon dari pemuda yang menyeramkan itu, tetapi yang mengejutkan, Kevin membalas senyumnya. "Jadi, kau sudah sadar."

"Ah, kau ini benar-benar seperti Bryan. Tampan, tetapi tersenyum hanya sesekali saja." kata pemuda berwajah teduh di depan Kevin. Yang dipuji hanya memalingkan muka, sedang Leonard menertawakannya. "Dia memang seperti itu, Joshua. Keponakan-keponakan kami selalu lari kalau bertemu dengannya karena takut dimarahi."

"Benarkah? Kau tak boleh bersikap begitu pada anak kecil. Kau tahu, di sini kami punya empat anak kecil: Nathan, Marcus, Henry, dan Bryan." Pemuda berkaki panjang dengan kontur wajah yang sama tajam dengan Kevin menunjuk satu persatu orang yang disebutkannya.

"JOSEPH!" teriak Nathan, Marcus, dan Henry bersamaan, tak terima disebut anak kecil. Pemuda berkaki panjang tadi, Joseph, terjajar mundur saking kagetnya. "Aku mengatakan hal yang benar. Apa salahnya?"

"Iya. Kau benar kok. Kalian jangan protes," tiba-tiba saja, seorang pemuda berambut hitam pekat berkulit cerah muncul dari backstage, suara beratnya menelan gaung teriakan teman-temannya, "Kita ini memang yang paling muda, 'kan?"

"Bryan, kau kok mendukungnya sih?" Marcus terlihat kesal saat menunjuk Joseph. Bryan hanya mengangkat bahunya santai. "Apa salahnya jadi anak-anak? Bukankah anak-anak tak punya keriput? Lihat saja Dennis, Casey, Joshua, dan Jerome. Sudah kisut semuanya."

Suasana hening selama beberapa detik, lalu...

"BRYAN!"

Seorang pemuda cantik keluar dari backstage dan langsung 'menerkam' Bryan. Joshua, masih tersenyum kegelian, mengepalkan tangannya ke arah Bryan, sambil mengancam, "Ayo bilang lagi!" Dennis pun protes dengan bilang, "Apa maksudmu 'kisut'? Dasar bocah nakal; Casey, hukum dia!" Sedangkan Jerome hanya tersenyum sambil memandangi Bryan dari jauh. Dia tidak keberatan dibilang tua kalau Bryan yang bilang. Karena Bryan... adalah adik yang sangat dirindukannya. Begitu pula dengan Nathan, Marcus, dan Henry yang mendukung Bryan habis-habisan dan meminjam istilah Bryan untuk mengejek 'pria-pria tua' mereka: kisut.

Akhirnya, setelah semua kekacauan itu disudahi, semua korban penculikan terbangun. Trio bodoh Spencer-Aiden-Matthew membantu beberapa anak untuk berkumpul di depan panggung. Mereka menyuruh anak-anak itu saling berkenalan terlebih dahulu supaya mereka lebih akrab. Dengan kikuk, Francis memulai perkenalannya, lalu diikuti teman-teman yang lainnya.

"Kami sudah memperkenalkan diri kami. Sekarang, giliran kalian." tuntut William yang sejak tadi penasaran dengan orang-orang yang menolongnya. Dengan lancar, Dennis memperkenalkan satu persatu anggotanya. Semua terkagum-kagum dengan Dennis yang mampu memperkenalkan empat belas orang secara akurat. "Kalian pasti sudah lama sekali dekat." kata Alex.

"Begitulah kira-kira." Andrew tersenyum. Para korban penculikan bisa merasakan atmosfer persaudaraan yang kental di antara lima belas orang itu. Francis mengedarkan pandangannya ke arah korban yang lainnya, berharap bisa menjalin suatu kedekatan yang sama.

"Penculik-penculik itu sudah tidak ada lagi."

Francis terkesiap. Pernyataan Kevin yang tiba-tiba itu menyadarkannya. "Benar juga. Ke mana mereka pergi? Dan... kenapa malah kalian yang ada di sini?"

Vincent mengerjap cepat. "Penculik? Siapa?"

"Kalian sungguh tidak melihat mereka?" tanya Thomas, "Kami diseret ke sini oleh beberapa pria kekar. Pria-pria itu menyiksa kami sampai kami pingsan."

"Benarkah? Jadi kalian ini diculik?" Casey menanyakan sesuatu yang di luar dugaan. Para korban terheran-heran. Harusnya, kalau orang-orang itu sudah lama berada di sini, peristiwa penculikan dan penyiksaan itu akan terlihat jelas.

"Jelaskan kenapa kalian yang ada di sini." Kevin meminta penjelasan. Tatapannya tajam dan penuh kecurigaan.

"Santai, bocah tinggi. Kami tidak sama dengan orang-orang yang telah menyakiti kalian. Kami memang sering ke sini lewat pintu belakang teater, jadi kami tidak melihat para penculik itu," jelas Casey, "Sejujurnya, kami ingin berlatih di sini untuk teater kami, tetapi kami malah menemukan kalian terluka, jadi kami merawat kalian sampai sembuh."

"Kalian pemain teater?" tanya Leonard dengan mata berbinar. Ia sangat menyukai pertunjukan, tetapi orang tuanya tidak pernah mengajaknya menonton teater lagi sejak ia beranjak remaja.

"Ayo, tunjukkan keahlian kalian!" Stephen kelihatan tak sabar. Dennis dan Casey saling bertatapan, lalu tersenyum pada anak-anak yang mereka tolong. "Hm, mungkin apa yang akan kami tampilkan agak berbeda dari apa yang biasa kalian saksikan di teater kota. Apa tak masalah bagi kalian?" tanya Dennis.

"Iya, tidak apa-apa! Kami ingin nonton! Ayo, cepat, cepat!" Richard dan Bernard melonjak-lonjak di duduknya sambil bertepuk tangan. Jerome geleng-geleng kepala. "Ah, kita punya duo bersemangat pengganti Spencer-Aiden, rupanya. Aku akan putar gramofon, semoga saja bunyi benda tua itu masih cukup keras." kata si pemuda berkepala besar sambil berjalan ke belakang tirai.

Musik diputar. Para penolong sibuk mencari jubah opera mereka, mengenakannya dengan agak sembarang, lalu bersiap di posisi.

"I found the treasure in love and you are the treasure that I am searching for
You keep stirring my world
Even the ice will burn if it meets you

It is not right to be too urgent and if you push too hard the love will be broken
It is not right to be too slow. I back off with my heart

oh too perfect! I appear in your eyes.
I will not let anyone else stay with you instead of me"

Para korban menyaksikan pertunjukan dadakan yang disuguhkan dengan hampir tak berkedip. Apa ini? Ini bukan drama, bukan juga suatu pertunjukan tari, pertunjukan musik pun bukan. Semua digabungkan! Tari, lagu, musik, ekspresi, dan kostum megah, semuanya berpadu!

"Francis, kalau ini namanya pertunjukan apa, ya?" tanya Stephen dengan polosnya. Francis hanya mengangkat bahunya. "Nikmati saja pertunjukannya, baru setelah itu kita tanya pada mereka."

"Your brows and eyes, your side face, your neck, your charm
your everything from head to heel
I have already fallen for you.

My heart has become one side of the pocket
Just for you, continuously giving and giving (this love).

Is it right to love you like this?
I wonder that and become more and more infatuated with you at the same time.

It is not right to be too urgent and if you push too hard the love will be broken
It is not right to be too slow. I will back off with my heart

oh too perfect! I appear in your eyes.
I will not let anyone else stay with you instead of me!"

Tarian ini terlalu enerjik, bahkan untuk para penampil muda jaman sekarang. Musik berdentam, tidak melembut sama sekali seperti lagu-lagu teater jaman itu. Kostum yang dikenakan sangat konvensional—berlapis-lapis dan hanya berhias rantai, bulu burung gagak,atau sebuah batu cameo pada brosnya, tidak seperti jubah jaman sekarang yang hanya selapis dan terlalu banyak hiasan. Baritone dan tenor berpadu dengan sempurna, membuat jiwa-jiwa apresiator seni yang sesungguhnya berdegup tak karuan, seperti anak-anak itu misalnya.

Pertunjukan selesai. Lima belas pemuda itu membungkuk dalam. Sebelas dari dua belas orang itu memberikan standing applause (Kevin yang cool bertepuk tangan juga, sama kagum, tetapi tidak berdiri). Richard dan Bernard yang paling bersemangat. "Wooow! Kereeen!"

Aiden mengusap-usap tengkuknya canggung. "Hehe, padahal kami sudah lama tidak melakukannya, lho. Masih bagus, ya?"

"Tentu saja! Orang yang tidak menganggap itu keren adalah orang bodoh!" komentar Richard.

"Bagaimana kalian melakukan itu? Kenapa kalian sampai terpikir menggabungkan konsep drama, tari, dan nyanyian secara bersama-sama? Itu benar-benar luar biasa!" tambah William.

"Kami ingin melakukan yang seperti itu juga! Kami mohon, ajari kami juga, ya!" pinta Alex.

"Kalian mau seperti kami juga? Bagus! Ayo, kita latihan ber—"

Tiba-tiba, telinga Bryan yang peka menangkap derak kereta kuda. Ia menoleh ke arah jendela besar teater. Bryan berdecih pelan. "Spencer, latihannya bisa kita tunda dulu?" potong Bryan.

"Eh? Kenapa?"

Bryan melirik ke jendela besar dan seketika, Spencer serta yang lain paham apa yang harus mereka lakukan. "Maaf sekali, Alex, sepertinya latihannya harus kita tunda besok," kata Matthew sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, "Kami akan mencarikan kalian kereta untuk pulang."

Ah, benar. Status mereka saat ini adalah sebagai orang yang diculik. Edison tertunduk. Ia sedikit rindu rumah, rupanya, tetapi ia masih enggan meninggalkan teater ini. Paham hal itu, Joshua menghampirinya. "Jangan khawatir. Kalau kalian ingin kembali, kembali saja besok. Kami akan selalu menunggu kalian," katanya, "Nah, sekarang, beberapa dari kami akan mengantarkan kalian kembali ke rumah."

Jerome dan Marcus membimbing dua belas orang itu menuju persewaan kereta kuda terdekat. Anehnya, mereka berdua tidak mengantarkan sampai dekat persewaan.

"Kalian tak mau menyewakan kereta untuk kami juga?" tanya Stephen. Francis menyikut lengan Stephen sedikit, sungkan pada Jerome dan Marcus karena terlalu banyak meminta.

"Ada tamu yang harus kami sambut, jadi kami harus cepat-cepat kembali." kata Jerome sambil menepuk puncak kepala Stephen.

"Kalian bisa 'kan menyewa kereta sendiri?... Ah, benar, uangnya," Marcus merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa keping emas pada Francis, "Segini cukup, 'kan?"

Francis mengangguk, lalu membungkukkan tubuhnya dalam. "Terima kasih banyak sudah menjaga kami."

"Tak usah terlalu dipikirkan. Hati-hati pulangnya. Kuharap kalian tidak bertemu orang jahat lagi di jalan," Jerome menatap intens Francis dan Kevin, "Jaga teman-teman kalian."

"Baik. Anda tak perlu mengkhawatirkan hal itu." Kevin meyakinkan Jerome. Senyum Marcus akhirnya terkembang setelah sekian lama ia bersikap tak ramah. "Bagus. Jadilah seperti Dennis, Casey, Joshua, dan si kepala besar ini yang bertanggung jawab pada adik-adiknya." katanya saat menunjuk Jerome dengan ibu jari. Kontan Jerome mendaratkan jitakan ke kepala Marcus.

Tak lama kemudian, Francis dan sebelas anak lainnya sudah naik ke kereta menuju manor mereka masing-masing. Francis dan Kevin sepakat untuk menjaga anak-anak yang lebih muda, jadi mereka meminta kusir untuk mengantarkan sepuluh orang lainnya terlebih dahulu. Sebelum kereta berangkat, Jerome dan Marcus melambaikan tangan mereka pada anak-anak itu. Stephen dan Francis yang melihat itu melambaikan tangan mereka balik. Francis kembali fokus ke jalan di depan, waspada kalau-kalau si kusir tidak mengantarkan mereka ke rumah dan malah menculik mereka. Stephen masih melihat ke arah Jerome dan Marcus. Pemuda itu sangat kaget karena ketika Jerome dan Marcus berbalik, tubuh mereka berdua memudar bersamaan.


Sebuah kereta kuda berhenti di depan bekas gedung Sapphire Theatre. Kusir membukakan pintu untuk seorang bangsawan yang naik keretanya. Pria berjubah hitam keluar dari kereta itu, membayar si kusir, dan menyuruh kusir itu pergi bersama keretanya. Angin yang sangat kencang, juga salju yang turun dengan deras tidak menghalangi orang itu untuk menyunggingkan senyumnya.

"Lama sekali aku tidak ke sini. Aku jadi penasaran, apa yang dibawakan orang-orang itu untukku?"

Pria tua itu berjalan tenang ke dalam gedung teater yang telah lapuk itu. Dibukanya pintu menuju hall pertunjukan, tempat di mana para penculik itu berjanji akan menunjukkan hasil tangkapan mereka.

Ketika pintu itu terbuka, anehnya, tak ada siapa-siapa di sana. Ia hanya mendengar musik yang sayup-sayup dari sebuah gramofon tua.

Musik yang berdentam ini... rasanya tak asing di telinga pria tua itu.

Tiba-tiba saja, sepuluh orang pria berbadan kekar menari dengan asal di atas panggung. Lebih tepatnya sepuluh mayat. Ya, para penculik itu sudah tewas. Tangan dan kaki mereka dikendalikan oleh tali yang melilit mereka. Tali-tali itu terhubung ke langit-langit panggung, entah siapa yang mengendalikannya. Mulut mereka terbuka dan lidah mereka sudah tidak ada.

Pria tua itu terpaku. Ia sering mendengar masalah kutukan dan semacamnya, tetapi ia tak mempercayai itu semua.

Mau tak mau, kali ini, ia harus percaya.

Orang suruhannya telah tewas. Anak-anak yang dimintanya tak ada di tempat.

Hingga musik selesai dan tubuh sepuluh pria kekar itu terangkat ke langit-langit panggung oleh tali pengendali, pria itu masih terpaku di tempatnya. Ia tidak takut. Seorang psikopat tak memiliki rasa takut, tetapi ada suatu getaran aneh yang bangkit dari dalam dirinya.

"Mencari kami, Sir Montagne?"

Pria tua itu terbelalak. Lima belas pemuda muncul dari balik tirai.

"Hm, atau haruskah kami memanggilmu... Sir Elven? Manusia yang tak pernah bisa dikalahkan manusia lain, begitu julukanmu, bukan?" tanya si pemuda dengan jubah opera putih tulang.

"Kau mencari anak-anak baru yang akan kau perbudak? Maaf saja, mereka sudah pulang barusan." Pemuda dengan jubah biru tua menyeringai lebar. Mengerikan.

Sir Montagne, orang yang membayar para penculik untuk menangkap dua belas anak dari kota, ternyata adalah Sapphire Elven yang sudah lama menghilang. Sapphire Elven sang omniscient devil, memiliki kemampuan yang begitu luas. Orang yang tak pernah bisa dikalahkan manusia paling berkuasa sekalipun, sehingga ia bisa menemukan dan 'menolong' anak-anak yang sekarat, memoles mereka hingga berubah menjadi pangeran yang tampan tiada tanding, dan merencanakan pertunjukan berdarah yang tak tanggung-tanggung menyakitkannya. Orang itu kini jatuh terduduk. "Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian harusnya sudah mati!"

"Kami memang sudah mati," lead dancer tinggi tampan menekankan kalimatnya, "Kami sudah bukan manusia lagi saat ini, omniscient devil, sehingga kami bisa mengalahkanmu."

"Sejarah kami tak akan berulang kembali pada anak-anak yang masih murni itu.

Kami akan menghentikanmu sampai di sini, Sapphire Elven."

Jrak!


Keesokan harinya, berita tentang kembalinya anak-anak yang diculik menjadi besar. Orang tua mereka sangat lega karena hal itu dan mengetatkan peraturan keamanan untuk anak-anak mereka. Padahal, hari itu, Francis dan sebelas anak lainnya ingin pergi ke Sapphire Theatre untuk latihan seperti yang dijanjikan. Dengan usaha yang keras, akhirnya mereka menemukan celah sepulang sekolah dan berjalan bersama menuju Sapphire Theatre setelah semuanya berkumpul.

"Jadi, di rumah kalian pun, kalian mengalami kesulitan?" tanya Francis pada Richard. Pemuda yang tinggi tak karuan itu mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tahu mereka mengkhawatirkan kita, tetapi kalau pengamanan untuk kita diketatkan sampai seperti itu, susah juga sih..."

"Benar. Padahal, 'kan ada kau dan Kevin yang menjaga kami."

Francis sedikit salah tingkah karena dianggap sebagai penjaga kelompok. Ia merasa apa yang dikatakan Leonard tadi terlalu berlebihan, tetapi memang, sejak keluar dari tempat penculikan, Kevin dan Francis-lah yang mengusahakan jalan bagi mereka berdua belas untuk bertemu plus mengamankan jalan itu.

Tiba-tiba, ketika mereka sampai di pusat kota, mereka terhalang oleh keramaian. "Ada apa ini? Banyak sekali orang..." keluh Edison. Karena banyak orang di kerumunan itu menengadah dan berteriak-teriak ketakutan, Edison hendak menoleh ke atas juga, tetapi Kevin cepat menutup mata adik sepupunya itu. "Semuanya, jangan lihat ke atas!"

Patuh, semuanya menunduk. Francis tahu apa alasan Kevin berteriak seperti itu. Ia refleks menutup mata Stephen ketika ia melihat boneka yang aneh menari-nari dari atas sebuah bangunan tua.

Boneka itu terlihat seperti manusia yang tangan dan kakinya dikelupas sedemikian rupa hingga hanya menyisakan tulang. Persendian tangan dan kaki boneka itu terliliti tali panjang seperti pada boneka marionette. Tubuh bagian tengah yang tak dikuliti sudah tak berbentuk lagi, tepi-tepinya sudah membusuk. Wajah boneka itu sangat mengerikan. Matanya terbuka lebar, begitu pun mulutnya, dan lidahnya sudah terpotong. Boneka itu bergerak-gerak terus oleh tali yang mengendalikannya, membuat semua orang ketakutan dan bertanya-tanya, siapa yang tega melakukan hal seperti itu.

"Whoops!"

Francis dan Kevin terkesiap ketika mata mereka tertutupi oleh telapak tangan yang hangat.

"Kalian juga tidak boleh melihat! Bukan hanya adik-adik kalian saja yang tak boleh melihat itu!"

"Siapa?" tanya Francis, suaranya agak gemetar karena takut.

"Menolehlah langsung padaku, dan kau akan tahu."

Telapak tangan itu terlepas dari mata Francis dan Kevin. Keduanya menoleh ke belakang dan mendapati Dennis di sana. Jordan juga ada. "Ah, ternyata hanya kalian. Kami kaget sekali." Francis mengelus-elus dadanya yang bergemuruh.

"Kalian lama sekali datangnya, jadi kami menjemput kalian," jelas Jordan, "Ternyata, kalian terhalang keramaian ini. Ada jalan pintas menuju teater; untuk apa repot-repot lewat sini?"

"Y-ya sudah, pokoknya antarkan kami saja. Aku mulai takut nih..." Bernard mengusap-usap tengkuknya sambil terus menunduk. Dennis menggamit tangan Bernard. "Baiklah, ayo kita pergi."

Sesampainya di gedung teater tua, dua belas anak itu disambut dengan delapan orang yang sedang latihan di atas panggung: lima orang penari dan tiga orang penyanyi.

"Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.
Heartless, mindless. No one. who care about me?

I guess I have no choice but to tolerate who was lost outside
Even though I close my eyes"

"Wow, itu lagu yang keren." Michael refleks berkomentar.

"Itu lagu untuk kalian." kata Dennis tenang.

"APA?!"

Gara-gara teriakan kaget dua belas anak yang baru datang, kegiatan delapan orang di atas panggung terhenti. "Wah, kalian sudah datang? Ah, Dennis, mestinya kau tahan dulu mereka di luar!" keluh Aiden.

"Ya, kau merusak kejutannya, Dennis." tambah Henry. Dennis hanya meleletkan lidahnya. "Biarkan saja. Toh akhirnya mereka juga tahu."

"Karena kalian semua sudah datang, ayo mulai latihannya!" Nathan menarik Francis dengan semangat menuju ke atas panggung.

"Wouldn't we face our eyes anymore?
Wouldn't we communicate? Wouldn't we love?
Tearing up to the reality that hurts
Say if you can change it! Say it!"

Senja menjelang. Francis dan kawan-kawan sudah menguasai separuh koreografi, tetapi Casey menghentikan latihan mereka. "Kita sudahi saja latihan hari ini. Kalian pulanglah."

"A-apa? Kenapa? Apa kami tidak bisa menarikannya dengan bagus? Ataukah suara kami yang tidak merdu?" Thomas kelihatan panik. Ia tidak mau langkahnya untuk menjadi sehebat para penolongnya terhenti begitu saja. Casey bisa membaca ketakutan itu. Sedikit trauma bangkit dalam hatinya. Perasaan yang sakit ketika sang pelatih membentak dan menyuruhnya berhenti karena kesalahannya. Melanjutkan perjuangan sendirian dengan lebih keras dan menyakitkan. Casey tak ingin seorang pun dari mereka merasakan apa yang ia rasakan dulu, jadi ia melunakkan nadanya ketika berkata, "Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya saja, hari sudah gelap, orang tua kalian pasti khawatir kalau kalian tak pulang-pulang juga."

"Lagipula, tak baik berlatih terlalu keras hingga kelelahan." kata Joseph.

"Tapi bukankah... kelelahan hanya satu-satunya jalan menuju kesuksesan? Guruku pernah bilang begitu padaku." kata Leonard. Bryan menggeleng cepat. "Kesungguhanlah jalan meraih kesuksesan itu, bukan kelelahan dan energi yang diperas habis. Kalian tak perlu terlalu memaksa, mengerti, 'kan?"

"Sebagai penampil, kalian juga harus sayang pada diri kalian sendiri, baru setelah itu, kalian akan disayangi oleh para penggemar." Jerome menambahkan.

Stephen hendak protes lagi, tetapi Kevin mencegahnya. "Baik kalau begitu. Kami akan pulang dan beristirahat. Jika kami ingin berlatih besok, kami hanya harus kembali ke sini, 'kan?"

Dennis mengangguk. "Kami tak akan pergi ke mana-mana."

Akhirnya, setelah dibujuk sedemikian rupa, anak-anak yang masih excited itu mau pulang juga. "Oh ya, supaya kalian lebih semangat lagi, bagaimana kalau kalian kami beri nama?" kata Spencer sebelum 'anak didiknya' pulang.

"Eh? Namaku Willam, lho." William menunjuk dirinya sendiri. Donald ikut-ikutan, ia bahkan menyebut nama lengkapnya. "Kalau aku Donald J. Sutherland."

Vincent menepuk dahinya. "Ternyata, ada yang lebih payah daripada Spencer dan Aiden di dunia ini," keluhnya, "Maksud kami, nama bersama, bukan nama kalian masing-masing, jadi setelah kalian terkenal nanti, kalian tidak akan lagi dipanggil Francis, Kevin, Richard, Bernard, dan yang lainnya. Kalian akan dipanggil dengan satu nama—nama tim kalian."

"Oh? Jadi kami berdua belas memiliki nama panggung sendiri yang melambangkan bergabungnya diri kami?" Francis mengkonfirmasi. Joshua mengangguk. "Nama yang cocok untuk kalian itu apa, ya?"

"Kalau masalah pencarian nama, serahkan saja pada Dennis. Hei, kau punya ide?"tanya Jordan.

Dennis mengernyitkan dahinya, lalu menjentikkan jari. "Aku dapat! Nama panggung kalian nanti adalah Emerald Descendants!"

"Wow! Kedengarannya keren sekali! Tapi apa artinya?" Richard melongo.

"Emerald itu melambangkan jiwa muda kalian, seperti daun-daun di musim semi yang baru berkembang. Descendants melekat pada diri kalian karena kalian adalah penerus kami dalam seni panggung ini!" jawab Dennis sambil mengangguk-angguk cepat.

"'Penerus'? Itu artinya, kalian sudah membentuk nama panggung kalian sendiri?" tanya Kevin, "Kalian sudah debut terlebih dahulu sebelum kami?"

"Mungkin kalian tak pernah melihat kami di teater kota karena kami tak pernah tampil di sana lagi, tetapi ya, kami memang debut duluan."

"Apa nama panggung kalian dan apa artinya?"

"Sapphire Miracle," senyum Dennis terkembang lebar, "artinya keajaiban dengan kilau safir yang turun dari langit biru."


"Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.

Heartless, mindless. No one. who care about me?

I guess I have no choice but to tolerate who was lost outside
Even though I close my eyes

Answer me, why did the people change
Did they notice the existence of that time
I have forgotten how to just hear, love and care, no longer but lost
Turning their backs while working while living

Full of envy behing that anonymous mask
Even after seeing the end, you're still full with hunger
Are you satisfied now?

Wouldn't we face our eyes anymore?
Wouldn't we communicate? Wouldn't we love?
Tearing up to the reality that hurts
Say if you can change it! Say it!"

Dua belas remaja belia menyanyi dan menari di atas panggung Royal Opera, menyihir berpasang-pasang mata duke dan duchess yang ada di sana. Mereka, penikmat seni generasi baru, tak pernah melihat seni yang seperti ini. Pantas saja harga tiket untuk menikmati pertunjukan ini sangat mahal karena pertunjukan yang disajikan pun sepadan. Tak ada satupun dari penonton yang menyesal sudah membeli tiket itu, malah mereka merasa beruntung menikmati seni panggung sehebat itu.

Setelah berlatih selama beberapa lama, Emerald Descendants dilepaskan dari pengajaran para seniornya, Sapphire Miracle, untuk berkarir sendiri. Mulanya, mereka berdua belas tampil di sebuah ball yang sedang in di kota, lalu karena bakat mereka yang luar biasa, banyak orang mulai menawari mereka pekerjaan di sana-sini. Walaupun sibuk, para personel selalu kembali lagi ke teater tua tempat mereka ditempa untuk menjadi seorang seniman, menghormati para senior mereka dan tak jarang meminta mereka untuk tampil bersama. Dengan rendah hati, para personel Sapphire Miracle menolak ajakan itu. Ini bukan jaman kami lagi, tetapi jaman kalian, jadi rebutlah siraman cahaya panggung itu untuk kalian semuanya, itu yang sering diungkapkan para personel Sapphire Miracle pada Emerald Descendants.

Evelyn Shaw, seorang jurnalis yang sangat terobsesi dengan fenomena baru ini, sangat tertarik untuk menulis tentang Emerald Descendants. Ia yakin, ada hal yang belum terungkap dari kehebatan Emerald Descendants ini, jadi ia memutuskan untuk mewawancara mereka lebih dalam lagi. Setelah penampilan di Royal Opera, Evelyn mengejar para personel ke backstage.

"Mewawancarai kami?" Francis sedikit kikuk saat Evelyn yang tampak menggebu-gebu datang ke backstage.

"Aku ingin tahu rahasia latihan kalian. Boleh, 'kan?" Evelyn mengangkat kameranya, menjepret beberapa foto personel yang membuat mata para personel berkunang-kunang.

"Kalau ingin mewawancarai kami, nanti saja, temui kami di gedung teater sebelah utara kota. Untuk saat ini, mohon maaf, kami harus tampil lagi di Palace of Theatre." tegas Kevin.

"Jam berapa aku bisa menemui kalian?"

"Pertunjukan itu selesai pukul lima. Perjalanan dari Palace of Theatre sekitar satu jam, jadi jam enam Anda baru bisa menemui kami." kata Francis.

Evelyn mengangguk. Ia senang anak-anak muda ini tidak begitu sulit diwawancarai, bahkan tidak keberatan diwawancara secara pribadi.

Pukul enam petang, Evelyn menyewa sebuah kereta untuk mengantarkannya ke gedung teater tua yang dikatakan Kevin. Sang kusir terkejut ketika Evelyn bilang mau pergi ke gedung teater itu. "Maksud Anda Sapphire Theatre?"

"Kalau itu adalah sebuah gedung teater tua di sebelah utara kota, maka ya, aku ingin pergi ke sana."

"Apakah Anda tak tahu bahwa di situ banyak cerita seram?"

"Bangunan tua memang identik dengan cerita seram yang dikarang-karang. Sebagai jurnalis, saya sudah tahu tentang itu. Sapphire Theatre tidak berbeda dengan yang lain," jawab Evelyn dengan angkuh, "Aku akan bayar berapapun, pokoknya antarkan saja aku ke sana. Ada hal penting yang ingin aku liput."

"Tentang bangunan itu?"

"Ish, memangnya penting untukmu, Pak Tua? Pokoknya jalan saja!"

Sikap Evelyn yang tidak sabaran ini membuat kusir tua sedikit kesal. Ia memacu kereta kudanya dengan cepat, sedikit mengganggu untuk Evelyn yang tidak suka derak kereta kuda yang berisik. Akan tetapi, rasa tegang akan mewawancarai artis terkenal menguasai jiwa jurnalis muda yang cantik itu. Ia tak peduli dengan berbagai legenda yang ia anggap omong kosong.

"Tempat ini tidak terlalu buruk, sebenarnya. Hanya tempatnya saja yang agak terpencil." batin Evelyn sesampainya ia di Sapphire Theatre. Ia melangkahkan kakinya memasuki teater. Semakin dekat dengan hall pertunjukan, bunyi musik semakin jelas. "Aku tak pernah mendengar lagu ini. Apakah di dalam, Emerald Descendants sedang berlatih? Ah, kenapa juga mereka memilih tempat sekotor ini untuk berlatih?"

Evelyn mendorong pintu hall pertunjukan. Pintu itu berderit. Evelyn takut pintu yang rapuh itu akan hancur, tetapi ternyata tidak. Ketika Evelyn melangkah masuk, ia sangat terkejut. Ruangan ini sangat berbeda kesannya dengan yang di luar. Hall ini sangat terawat, seolah-olah ada penampil yang secara rutin tampil di sana. Cahaya dari lampu-lampu kristal secara intens menerangi ruangan. Keadaan hall besar itu begitu bersih. Di kursi penonton baris terdepan, dua belas pemuda duduk menghadap panggung. Wajah mereka begitu serius, begitu terkagum-kagum. Evelyn sedikit bingung melihat itu. "Apa yang mereka lihat? Di atas panggung itu tak ada apa-apa... Hm, tunggu, kok musiknya menghilang?"

"Oh, Ms. Shaw sudah datang!" seru Edison ketika menyadari derit pintu. Evelyn tersenyum. "Aku tidak sedang mengganggu kalian, 'kan?"

"Tidak sama sekali," Francis lalu menoleh ke panggung, hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian, mulutnya terkatup dan ia menoleh kembali pada Evelyn, "Baik, Ms. Shaw, langsung saja kita mulai wawancaranya."

Evelyn mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia ajukan kepada artis-artis baru. Personel Emerald Descendants menjawab dengan jujur, kadang diselingi celetukan khas anak muda. Suasana wawancara kali itu santai saja hingga akhir.

"Kami juga ingin berterima kasih pada pelatih kami sekaligus senior kami, Sapphire Miracle. Mereka berlima belas melatih kami tanpa kenal lelah dan memberi kami semangat, pun tidak terlalu memaksa kami untuk jadi sempurna." ucap Stephen setelah sesi wawancara ditutup. Evelyn melebarkan matanya sedikit. "Sapphire Miracle?"

Leonard mengangguk. "Mereka itu adalah orang-orang yang tadi tampil di atas panggung ini. Mereka hebat, 'kan? Tetapi mereka mungkin terburu-buru pergi ke suatu tempat, sehingga pergi tanpa pamit dulu."

Seketika jantung Evelyn melompat. Ia ingat kisah neneknya yang penggemar opera. Sapphire Miracle memang sangat terkenal di jamannya, tetapi ketenaran mereka diiringi rasa sakit dan luka yang tak bisa sembuh hingga akhir hayat mereka. Sapphire Miracle juga terkenal karena penampilan mereka yang total untuk para penontonnya, mengesampingkan segala rasa sakit yang mereka dapat. Lima puluh tahun sudah berlalu dan berita yang sempat mencuat di permukaan itu pun hilang, tak pernah dibahas lagi. Bukan mustahil jika Emerald Descendants tak mengetahui tentang Sapphire Miracle.

Tak disangka, Evelyn mendengar nama itu lagi di sini.

"Oh ya, jika kau mau tahu, Dennis dari Sapphire Miracle-lah yang memberi kami nama 'Emerald Descendants'. Katanya itu melambangkan diri kami sebagai seniman-seniman berjiwa muda yang akan meneruskan kisah Sapphire Miracle." tambah Francis.

"O-oh," Evelyn mengulas sebuah senyum tipis, berusaha menahan bibirnya untuk tidak mengatakan apa-apa tentang Sapphire Miracle, "kalau begitu, sebagai penutup, bisakah aku mengambil foto kalian di atas panggung ini?"

"Tentu! Kami selalu siap difoto kapan saja!" Alex dengan percaya diri melompat ke atas panggung. Supaya mudah, Evelyn meminta mereka untuk duduk di kursi. Dasar wajah artis yang amat senang difoto, beberapa personel Emeral Descendants bahkan menata sendiri kursi mereka di atas panggung dan duduk manis di atasnya selagi Evelyn memotret mereka.


Dua belas pemuda korban penculikan pada Sabtu, 15 Juni kembali dengan selamat ke rumah masing-masing di hari yang sama, dini hari. Menurut keterangan para orang tua, anak-anak mereka kembali dengan kereta sewaan tanpa terluka sedikit pun.

16 Juni, konseptor pertunjukan terkenal pada masanya, Sapphire Elven ditemukan tewas secara tak wajar. Mayatnya yang digantung dan dimainkan dengan tali menarik perhatian warga kota yang melintas dekat Brick Motel. Tali pengendali mayat Elven yang dimainkan seperti boneka berasal dari salah satu jendela Brick Motel, tetapi ketika polisi menyisir kamar dari mana tali tersebut berasal, tidak ada jejak-jejak seseorang pernah tinggal di sana.

"Anak-anak yang diculik saat itu sekarang menjadi personel Emerald Descendants. Kematian Sapphire Elven yang tak wajar juga mendukung satu teori tentang 'kembalinya' Sapphire Miracle ke panggung mereka. Ah, tapi aku tidak bisa menyuguhkan berita tidak logis begitu," Evelyn memijat tangannya sendiri yang dari tadi menari di atas mesin ketik, "Apa yang harus kutulis? Kalau aku hanya menyuguhkan profil Emerald Descendants, artikelku tak akan menarik perhatian pembaca..."

"Eve, nih, aku sudah mencetakkan foto artikelmu," seorang pria berkumis putih masuk membawa setumpuk foto untuk artikel Evelyn, "Aku pulang dulu. Kau juga cepatlah pulang; jangan terlalu tenggelam dalam pekerjaanmu. Kau itu perempuan."

"Yes, Dad." Evelyn mengiyakan dengan nada mengejek. Pria tua yang tadi menyerahkan foto memutar bola matanya. "Kau memang keras kepala. Ya sudah, aku pulang."

Pintu ruang kerja Evelyn ditutup dari luar. Evelyn kembali mengetik artikelnya dengan serius, mengungkapkan analisisnya tentang beberapa berita terkait Emerald Descendents. "Fuh, selesai. Begini saja deh. Kuharap mereka tidak menganggap ini nonsense." Evelyn menyentil kertasnya, lalu mengambil dan menempelkan foto satu demi satu untuk melengkapi artikelnya.

Namun, ketika sampai pada foto terakhir, Evelyn berhenti.

"Tunggu... Ini, 'kan..."

Evelyn cepat-cepat menutupkan foto terakhir ke meja. "Tidak mungkin." Dada Evelyn bergemuruh saat mengucapkan itu. Sial. Dia hanya sendiri di kantor percetakan yang sudah gelap ini. Sekali lagi, Evelyn melihat foto yang terakhir itu. Foto yang ia ambil saat Emerald Descendants berada di Sapphire Theatre.

Foto itu harusnya hanya berisi dua belas orang yang sedang duduk.

Akan tetapi, di dalam foto itu, ada 27 orang.

Lima belas orang berdiri di belakang dua belas orang yang duduk; terbalut jubah opera, melepas Venetian opera mask mereka, menunjukkan wajah-wajah tampan tanpa cela yang akan melumpuhkan hati setiap wanita...

...kecuali Evelyn. Jurnalis muda itu meletakkan foto terakhir di dalam laci kerjanya, segera membereskan artikelnya, dan lari pulang.


Penderitaan para penampil tak akan lagi kami saja yang merasakannya.

Karena rasa sakit hati kami sudah pergi, kami akan terus tersenyum untuk menghibur semua orang yang menderita.

Datanglah ke teater kami. Anda tak akan kecewa.

Datanglah ke teater kami dan tersenyum selamanya bersama kami semua.


TAMAT

Okee, dengan ini berakhirlah pertunjukan dan tirai tertutup setelah para personel Sapphire Miracle memberi salam ^^ Terima kasih buaaaanyak buat semua-mua yang sudah nyempetin baca FF abal ini, dengan cerita yang sok-sok dibikin rumit padahal sama sekali nggak, hehe *apalagi yang mau ngreview, follow, dan nge-fav, terima kasih ^^*. Dengan berakhirnya FF ini pula, real person fiction saya akan pindah ke AO3 (Archive of Our Own) di Fandom 'Music and Bands' dengan nama akun yg sama (Liana_DS), tetapi karena saya belum sepenuhnya kuat mental menghadapi pembaca sedikit *halah* mungkin saya masih akan posting teaser di sini untuk FF perdana saya (yang benar-benar cuma akan diposting di AO3) yang akan launching di sana.

Special thanks to: Veeclouds, BluePrince14, sparkyu amore, Rilianda Abelira, anggitaeka2315, Bryan Andrew Cho, , Rinrin 910909, XiuZi, kim, Rynkyu, Hanamizuki, PANDA2515, BabyPanda, sissy, Rilakkyuming97, Tenshi 39, dyayudya, fifahaslinda, Klara, marina3424, blackautumn24, Ppuing ppuing, BunnyKyunnie, Sherry Cho, Aisah92, pandagame, riekyumidwife, Eunmie sung, Meonk and Deog, lee ikan, ryeohyun, meotmeot, Ri Yong Kim, Min'wife,blackcloudies, hanazawa kay, Park Shinju, SheronKim.98, Yuzuki Chaeri, chocodeer, MilaShalala, dan beberapa nameless guest. Berkat kalian review FF ini tembus 100 XD

Upcoming project on AO3:

1. Simple Thanatology: The Art of Death

Summary: Kris Wu, anggota dari sebuah boy group terkenal di Korea, ditemukan tewas bunuh diri di apartemennya. Shen Yayin yang merupakan fansnya kini harus gemetaran menghadapi jenazah Kris karena ia adalah calon dokter forensik yang turut serta menangani kasus Kris. Di bawah pengawasan dokter forensik Zhang Yixing, Shen Yayin mencoba mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi dari kematian si tampan Kris. "Aku bukan pengidap necrophilia hanya karena aku jatuh cinta pada Kris bahkan sesudah ia mati, Dokter Zhang." AU, no pairing, just fan.

2. Istana Naga

Summary: Song Qian hidup di Istana pada masa pemerintahan Kaisar ketiga belas hingga Kaisar keempat belas Lóng-píngyuán. Selama itu, ia menemukan beberapa keindahan kecil yang selama ini diabaikan di tengah kekelaman Istana. Dengan tangannya yang lembut, ia membesarkan satu Kekaisaran dari balik layar, juga menjalin kerja sama regional pertama antar kekaisaran. "Ibunda Permaisuri mengatakan bahwa Istana harus dibesarkan dengan kehormatan, bukan darah." SMEnt's China-line, straight romance! AU, tetapi beberapa nama daerah dan setting budaya diambil dari Kekaisaran Cina.

3. Fangirling

Summary: Idola juga bisa mengidolakan orang lain. Ini adalah sebuah fakta tak terungkap dari girl group f(x) tentang hobi mereka yang—ternyata—sama dengan cewek-cewek lain di hampir seluruh bagian dunia. Straight pair, no bash!

Sampai ketemu di AO3 ^^